Banjir Bandang Melanda Garut, MER-C Turunkan Tim Medis

Setelah mengumpulkan informasi dan berkoordinasi dengan jaringan MER-C di wilayah bencana Garut, Jawa Barat, Jum’at pagi/23 September 2016 MER-C segera mengirimkan relawannya sebagai Tim Advance untuk melakukan penilaian dan pemetaan serta memberikan bantuan pengobatan kepada para korban. Tim yang diturunkan dari Jakarta sebanyak 8 relawan, sementara relawan tambahan, diantaranya Dokter Spesialis Anak langsung bergabung dengan Tim di lokasi bencana. Dalam bencana banjir bandang di Garut, MER-C kembali bekerjasama dengan Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung (Wanadri). Ini bukan yang pertama, MER-C dan Wanadri sebelumnya pernah bekerjasama pada misi kemanusiaan medis untuk korban bencana gempa bumi di Nepal pada tahun 2015 lalu. Setelah berkoordinasi dengan relawan Wanadri yang sudah tiba di lokasi bencana lebih awal, Sabtu pagi/24 September 2016, relawan MER-C dan Wanadri melakukan penyisiran ke wilayah terdampak banjir di Garut yang belum mendapat bantuan medis. Wilayah yang dituju tim adalah desa Banjarsari, kecamatan Bayongbong, salah satu wilayah yang terdampak banjir. Jembatan yang terputus membuat Tim harus melalui jembatan sementara yang ada untuk mencapai lokasi bencana. Melihat kondisi desa Banjarsari dan informasi dari warga setempat, maka Tim memutuskan untuk mengadakan pengobatan bagi warga korban banjir di RW 03 Kampung Pasantren dan RW 05 Kampung Rancamidin yang berada di Desa Banjarsari, Kec. Bayongbong. Warga yang berobat pada hari ini berjumlah 75 orang. Minggu/25 September 2016, tim kembali melakukan penyisiran ke wilayah banjir lainnya. Pada hari ke-3 misi, Tim menuju desa Mekarjaya, kecamatan Cikajang dan menggelar pengobatan bagi warga di wilayah ini. Hasil pengamatan dan evaluasi dari Tim Advance ini akan didiskusikan untuk menentukan langkah lebih lanjut bagi korban bencana banjir bandang Garut.
MER-C Akan Turunkan Tim Relawan ke Poso Bantu Evakuasi 16 DPO

MER-C yang pernah menurunkan Tim Medisnya ke Poso ketika wilayah ini dilanda konflik pada tahun 2000 silam, kini akan kembali mengirimkan relawannya ke Poso. Hal ini dinyatakan salah satu Presidium MER-C, dr. Joserizal Jurnalis, SpOT saat menghadiri pertemuan dan konferensi pers dengan Tim 13 yang digelar di Kantor Komnasham, Selasa/9 Agustus 2016. Sebelumnya Komisioner Komnasham yang juga merupakan anggota Tim 13, Siane Indriani menawarkan MER-C untuk ikut terlibat dalam proses evakuasi 16 orang sisa kelompok Santoso, Presidium MER-C langsung merespon hal ini karena MER-C memiliki pengalaman melakukan misi kemanusiaan di wilayah konflik di Poso. “Kita menganggap persoalan terorisme bukan lagi persoalan up to date. Program war on terror sudah banyak dipakai oleh si pembuatnya sendiri di Timur Tengah. Kita ingin di Indonesia persoalan ini juga selesai. Jangan sampai ini menjadi program yang dianggap penting di NKRI, karena di dunia lain juga sudah redup. Makanya kami ingin terlibat di sini. Ketika Ibu Siane menawarkan hal ini, kami langsung merespon ya,” tutur Joserizal. MER-C berencana akan menugaskan 3 hingga 4 orang relawan ke Poso. Relawan yang dipilih untuk ditugaskan dalam misi kali ini adalah para relawan wanita yang akan terdiri dari dokter, perawat dan relawan non medis. MER-C akan membuka posko di Poso untuk jangka waktu 1 sampai 2 bulan sesuai dengan kondisi di lapangan. Presidium MER-C Joserizal menjelaskan bahwa fungsi relawan MER-C adalah masuk ke hutan dan menjemput 16 orang yang masih ada di hutan untuk kemudian membawanya turun. Hal ini dilakukan seandainya proses-proses operasi yang lain mengalami kebuntuan. Tim MER-C akan melakukan perawatan medis terhadap mereka jika ada yang mengalami hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan. Berdasarkan informasi, dari 16 orang tersebut juga terdapat 2 orang wanita sehingga Tim MER-C akan menyiapkan juga masalah-masalah yang berhubungan dengan kesehatan wanita. Hal lainnya yang penting dalam proses ini menurut Joserizal adalah jaminan amnesti bagi para DPO. “Kita perlu jaminan kalau mereka bisa diberikan amnesty. Kalau mereka tidak bisa diberikan amnesti mungkin kelompok ini bisa kita amankan tapi yang lain akan tumbuh lagi dan tingkat kepercayaan akan hilang.” Selain mengirimkan relawan ke Poso, MER-C juga akan membantu operasi salah satu korban konflik Poso yang sampai saat ini masih terdapat peluru di badannya. Salah satu saksi hidup konflik Poso ini rencananya akan didatangkan ke Jakarta oleh Komnasham untuk menjalani pemeriksaan dan tindakan medis yang diperlukan.
MER-C Turunkan Tim Medis Bantu Korban Banjir dan Longsor di Carita dan Anyer

Musibah banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah Carita dan Anyer membuat MER-C menurunkan Tim Medisnya untuk memberikan bantuan pasca bencana kepada para korban. Rabu malam/27 Juli 2016, sebanyak 5 personil relawan berangkat dari kantor Pusat MER-C di Jakarta menuju lokasi bencana dengan membawa bantuan obat-obatan dan peralatan medis. Dengan kekuatan personil satu relawan dokter dengan spesialisasi penyakit dalam, satu perawat bedah dan relawan logistik serta relawan pendukung lainnya, Tim akan mencari lokasi bencana yang belum tersentuh bantuan medis. Sistem mobile clinic akan ditempuh guna menjangkau para korban bencana yang masih terisolir. Bekerjasama dengan TAGANA Kabupaten Pandeglang, esok paginya Kamis/28 Juli 2016, Tim langsung melakukan koordinasi dengan Kecamatan dan Puskesmas Carita. Dari hasil koordinasi, Tim mendapat informasi bahwa ada 4 desa yang terendam banjir, yaitu Desa Sukanegara, Banjarmasin, Sukajadi dan Carita. Diantara ke empat desa tersebut, desa yang paling parah terkena dampak bencana adalah desa Sukajadi. Dengan didampingi oleh relawan TAGANA, Tim melakukan suvai langsung ke desa ini dan memutuskan untuk membuka posko pengobatan di Kampung Pagedongan dan Kampung Sukun. Dari dua kampong, total jumlah pasien yang ditangani Tim MER-C mencapai 201 orang dengan perincian 141 pasien di kampong Pagedongan dan 60 pasien di kampong Sukun. Dikarenakan ada korban bencana yang tidak mampu datang ke posko untuk berobat, Tim MER-C kemudian mendatangi rumah pasien (home visit) dengan arahan dari warga. Dari 201 pasien tersebut, sebanyak empat pasien harus dirujuk ke sarana kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Dari pengamatan Tim, pemerintah Pandeglang cukup sigap dalam menangani bencana ini. Secara umum, tidak ada korban yang dalam kondisi gawat dan sebagian besar penyakit yang ditemui adalah penyakit pasca bencana dalam kategori ringan sedang. Tim MER-C juga memprediksi tidak akan terjadi kejadian luar biasa untuk penyakit pasca bencana di wilayah Carita. Untuk itu, Jum’at pagi/29 Juli 2016, Tim kembali bergerak mencari wilayah lainnya yang masih membutuhkan bantuan medis. Kali ini Tim menuju kecamatan Mancak di kabupaten Serang. Bersama dengan relawan dari BNPB Provinsi, Tim melakukan koordinasi dengan Puskesmas Mancak. Kepala Puskesmas Mancak mengarahkan tim untuk menuju ke Kampung Cikedung yang merupakan lokasi terjadinya bencana. Pukul 13.00, tim turun ke lokasi longsor dan banjir bandang dengan menggunakan sepeda motor yang ditempuh selama 30 menit. Perjalanan kemudian harus dilanjutkan dengan berjalan kaki selama 2 jam karena akses ke lokasi bencana yang tidak bisa dilalui oleh kendaraan. Sepanjang berjalan kaki, tim melihat kerugian material yang sangat besar dari bencana ini walau semua penduduk dapat diselamatkan. Dua jam berjalan kaki dengan medan yang luar biasa berlumpur, tim akhirnya tiba di lokasi dan langsung membuka posko pengobatan di kampung Baru. Kampung Baru merupakan kampung yang terisolir karena semua akses ke dunia luar tertutup lumpur. Selain memberikan pelayanan medis bagi 76 pasien korban bencana alam, di kampung ini Tim juga melakukan 2 kunjungan ke rumah pasien (home visit) yang tidak dapat datang ke posko untuk berobat. Hari mulai beranjak gelap ketika tim MER-C selesai memberikan bantuan pengobatan kepada warga. Karena perjalanan yang cukup berbahaya untuk ditempuh pada malam hari, Tim memutuskan dan meminta izin menginap di rumah Ketua Kampung Cikedung. Seperti halnya di kecamatan Carita, walaupun tidak ditemui korban jiwa di wilayah bencana ini, namun Tim melihat kerugian material yang sangat besar dan merugikan banyak pihak. Meskipun longsor dan banjir bandang hanya terjadi di 4 desa, namun dikarenakan akses menuju 12 desa hanya melalui satu jalur sehingga bencana ini menyebabkan 8 kampung lainnya juga terisolir.
MER-C Cabang Jogja Turunkan Tim Medis Bantu Korban Longsor Purworejo

Yogyakarta – Sabtu malam/18 Juni 2016, bencana tanah longsor melanda kabupaten Purworejo, Jawa Tengah menyebabkan korban jiwa sedikitnya 47 orang. Menyusul bencana yang terjadi, MER-C Cabang Jogjakarta segera mempersiapkan relawannya untuk melakukan misi kemanusiaan ke wilayah ini. Senin/20 Juni 2016, Tim yang terdiri dari 7 orang relawan dengan komposisi 3 personil medis dan 4 personil non-medis berangkat ke lokasi bencana. Setelah sebelumnya melakukan koordinasi dengan IOF (Indonesian Offroad Federation) Purworejo, Tim MER-C memutuskan untuk menuju ke desa Jelok, salah satu titik dari 4 titik bencana longsor di kabupaten Purworejo. Setibanya di lokasi, tim dibagi menjadi dua. Tim pertama melakukan pelayanan medis di pos pengungsian Balai Desa Jelok dan tim kedua melakukan assessment di wilayah Jelok, kemudian dilanjutkan ke wilayah Caok dan Donorati sambil memberikan bantuan medis awal. Pengungsian di Balai Desa Jelok mencapai 211 jiwa. Seluruh dusun yang berada di atas Jelok termasuk wilayah terdampak longsor. Tim MER-C yang bertugas ke desa ini segera melakukan assessment dan pelayanan medis bagi warga korban longsor yang mengungsi di Balai Desa Jelok. Setelah melakukan asesmen dan pelayanan medis diwilayah Jelok, Selasa subuh/21 Juni 2016, Tim MER-C bergerak ke wilayah Caok dan Donorati yang merupakan dua lokasi terparah akibat bencana longsor Sabtu lalu. Di desa Caok ternyata tidak ada pengungsi yang tinggal di posko, kegiatan masih difokuskan pada evakuasi korban di titik longsor Caok. Di desa ini, Tim hanya membantu medis bagi beberapa relawan yang luka-luka ketika melakukan evakuasi. Karena beberapa lembaga sudah nampak standby di titik ini, maka Tim MER-C memfokuskan pelayanan kesehatan ke wilayah Dororati dikarenakan wilayah ini masih terisolir dan belum tersentuh bantuan medis secara maksimal. Warga desa pun sudah mulai terserang penyakit seperti diare, muntah/mual, flu dan gangguan kesehatan lainnya. Pelayanan kesehatan dilakukan di dua titik, yaitu di Balai Desa Donorati dan di dekat dapur umum. Selain memberikan pelayanan kesehatan di posko, dengan bantuan warga dan menggunakan sepeda motor, Tim MER-C juga melakukan mobile ke wilayah-wilayah di Donorati yang masih terisolir. Hal ini dilakukan agar distribusi pelayanan medis dapat merata dan menjangkau warga yang kesulitan akses mencapai posko kesehatan. Info lebih lanjut : Website: mercjogja.org Facebook: MER-C Jogjakarta FP: MER-C Jogjakarta Twitter: @JogjaMERC Ig: merc_jogja Jl kaliurang km 6,7 Gg Timor-timur no E4B, Sono, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogya 0821-3525-8145
MER-C DIY Kirim Tim ke-2 ke Gunung Lawu

Selasa (27/10), MER-C DIY kembali memberangkatkan Tim Medis ke gunung Lawu, Cemorosewu, Magetan. Tim terdiri dari 7 orang relawan, yaitu : 1. dr. Kurniawan Harya 2. dr. Naila Amalia 3. Nanang Khoirino 4. Aji Widyatmoko 5. Ikhsan Adi Kurniawan 6. Mega Rizkawati 7. Sakti Mutiara Evitasari Pada misi kali ini, Tim MER-C DIY berencana melakukan mobile clinic pasca terjadi lagi kebakaran hebat di Gunung Lawu hari Minggu sore lalu. Berdasarkan laporan SAR UNS, masyarakat di sekitar lokasi kejadian mulai terserang penyakit seperti batuk-batuk dan muntah akibat terpaan asap pembakaran. Sebelumnya, pada hari Selasa (20/10), MER-C DIY bersama MER-C Solo juga telah mengirimkan Tim Pertama yang merupakan Tim pendampingan medis untuk BPBD, SAR, para relawan dan juga para korban dalam proses pengevakuasian korban kebakaran di gunung Lawu, Cemorosewu, Magetan. Dukungan dan bantuan bagi program ini dapat disalurkan melalui: Bank Syariah Mandiri a/n. MER-C DIY No. Rek. 700.4995818 Info lebih lanjut: Markas MER-C DIY Jl. Kaliurang Km. 6,7 Gg. Timor Timur No. E 4 B, sono, Sinduadi, Mlato, Sleman, Yogyakarta Endah, Humas MER-C DIY (085758065994) Sekretariat MER-C DIY (082135258145)
MER-C Kirim Tim Konstruksi ke Tolikara, Papua

Minggu malam (26/7), MER-C memberangkatkan Tim Konstruksi ke Tolikara, Papua. Tim terdiri dari tiga orang relawan yang diketuai oleh Ir. Nur ikhwan Abadi, relawan yang pernah memimpin dan terlibat aktif dalam proses pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. Pengiriman tim ini adalah langkah awal dari program “Satu untuk Papua” yang dicanangkan oleh MER-C, pasca insiden yang terjadi di Tolikara, Papua. Dengan pengalaman membangun sarana kesehatan di Aceh, Yogyakarta, Galela (Maluku Utara) dan Jalur Gaza, Palestina serta membangun sarana pendidikan di Padang Pariaman (Sumatera Barat), maka melalui program “Satu untuk Papua”, MER-C pun menetapkan program rehabilitasi jangka panjang untuk wilayah ini. Pengiriman tim relawan ke Tolikara yang merupakan Tim Advance bertujuan untuk melakukan initial assessment dan evaluasi kebutuhan sarana yang diperlukan warga setempat. “Apa yang akan kita bangun di Tolikara menunggu hasil assessment Tim ini,” ujar dr. Henry Hidayatullah, Ketua Presidium MER-C saat mengantar Tim di Bandara Soekarno Hatta Minggu malam (26/7). Turut melepas keberangkatan Tim adalah dr. Joserizal Jurnalis, SpOT dan Ir. Faried Thalib, anggota Presidium MER-C. Kiprah MER-C di Papua sendiri sudah dimulai sejak 9 tahun silam, tepatnya Februari 2006 melalui program Klinik Sosial yang berada di Timika (Papua) dan Sorong (Papua Barat). Program Klinik Sosial di Timika dan Sorong masih terus berjalan hingga saat ini melalui pelayanan kesehatan di klinik dan pelayanan secara mobile clinic untuk menjangkau desa-desa dan wilayah-wilayah yang jauh dari lokasi klinik. Dukungan dan Donasi program “Satu untuk Papua” dapat disalurkan melalui: BCA, 686.06666.08 BNI Syariah, 08.111.92962 An. Medical Emergency Rescue Committee
Program Yankes dan Trauma Healing untuk Korban Longsor Banjarnegara

Yogyakarta – Sabtu, 17-18 Januari 2015, MER-C Cabang Yogyakarta kembali menurunkan Tim relawannya untuk memberikan bantuan medis kemanusiaan bagi korban bencana longsor di Banjarnegara. Relawan yang diturunkan berjumlah 10 orang yang terdiri dari 3 medis, 2 mahasiswa psikologi dan 5 relawan non medis dari berbagai disiplin ilmu lainnya. Ini adalah tim kedua untuk Banjarnegara, sebelumnya Tim pertama sebanyak 7 relawan yang merupakan gabungan dari MER-C Cabang Yogyakarta dan MER-C Cabang Semarang telah memberikan bantuan medis bagi korban longsor di wilayah ini pada tanggal 15 – 17 Desember 2014 lalu. Pada misi kemanusiaan pertama, bantuan difokuskan kepada pelayanan medis. Wilayah yang didatangi Tim MER-C adalah desa Pandansari kecamatan Wanayasa dan Dusun Pencil Desa Karang Tengah. Hal ini dikarenakan wilayah bencana di Jemblung saat itu sudah banyak relawan dan bantuan yang datang, sehingga Tim MER-C mencari wilayah lain yang masih minim bantuan khususnya medis. Berdasarkan informasi, Desa Pandansari adalah daerah yang pertama kali terjadi longsor, seminggu sebelum bencana longsor di Jemblung. Namun karena tidak ada korban jiwa, para relawan kemudian berpindah ke Jemblung karena longsor di sana lebih dahsyat. Pelayanan di kedua wilayah ini dilakukan oleh Tim MER-C dengan sistem mobile dengan mengunjungi rumah-rumah warga yang menjadi posko-posko pengungsian serta kunjungan ke rumah pasien yang tidak dapat datang ke posko karena sakit. Dengan berjalan kaki tim mencoba mencapai lokasi pengobatan, khususnya di Dusun Pencil Desa Karang Tengah yang terisolasi akibat dampak longsor bukit Bulu yang terjadi pada hari Jum’at/5 Desember 2014, tepatnya seminggu sebelum terjadinya longsor di Jemblung. Setelah terjadinya longsor bukit Bulu tersebut, akses jalan menuju dusun Pencil menjadi sangat sulit karena longsoran tanah membuat jalan menjadi licin dan susah untuk dilewati. Padahal jalan ini merupakan satu-satunya akses menuju dan keluar dari dusun. Aktivitas warga pun lebih sulit lagi, selain dikarenakan jalan yang tertutup, tiang listrik rubuh dan listrik pun mati total. Setelah berkoordinasi dengan Pihak Puskesmas setempat, program pengobatan dilakukan bertempat di rumah Kepala Dusun bersamaan dengan kegiatan posyandu. Jumlah pasien yang ditangani mencapai 71 orang dari anak-anak, ibu hamil hingga lansia. Adanya amanah bantuan dari donatur, maka MER-C kembali mengirimkan Tim relawannya ke Banjarnegara. Selain program pengobatan, Tim kedua ini juga merencanakan program trauma healing bagi anak-anak korban bencana. Wilayah sasaran Tim kali ini adalah Desa Pasuruan, Sukawera Kabarangkobar, Banjarnegara. Setelah berkoordinasi dengan Perangkat Desa setempat, Tim mendapat informasi bahwa Desa Pasuruan termasuk Desa yang dikelilingi oleh area longsor dan tanah bergerak. Di Desa ini terdapat 2 Dusun yaitu Dusun 1 dan Dusun 2. Kegiatan pengobatan dilaksanakan pada pagi hari di dusun 1 dengan jumlah pasien mencapai 107 orang. Kemudian siang harinya, pengobatan dilanjutkan didusun 2 dengan jumlah pasien sebanyak 55 orang. Bersamaan dengan pengobatan, Tim relawan dari mahasiswa psikologi dan tim relawan non medis lainnya mengadakan Trauma Healing bagi anak-anak setempat mulai dari balita sampai dengan SMP. Trauma healing diberikan dalam dua sesi, yaitu permainan indoor dan outdoor. Jumlah peserta trauma healing menjadi bertambah banyak saat mulai permainan outdoor. Kegiatan ditutup dengan pembagian hadiah kepada anak-anak berupa tempat makan, tempat pensil, tempat minum, buku bergambar dan pensil warna.
Misi Kemanusiaan MER-C untuk Suku ‘Gipsi Laut’

Suku Bajau Palau atau ‘gipsi laut’, begitu mereka disebut oleh masyarakat internasional, adalah masyarakat yang hidup secara nomaden di laut. Cakupan daerah pengembaraan mereka cukup luas, mulai dari perairan Malaysia, Indonesia, Filipina, sampai kepulauan di Samudera Pasifik. Budaya mengembara mereka sudah berlangsung lama jauh sebelum ada negara dan batas-batas wilayah. Dan seperti nasib suku-suku pengembara lain yang hidup menghindari peradaban, masyarakat suku Bajau Palau masih sangat sederhana sistim hidupnya, dan kepercayaan terhadap nenek moyang adalah religi mereka. Melalui surat bertanggal 12 Desember 2014, Kementerian Kelautan dan Perikanan RI menyampaikan permohonan dukungan bantuan untuk nelayan suku Bajau di Tanjung Batu, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur kepada MER-C. Masalah berawal dari ditangkapnya sekelompok perahu yang berisi suku ‘gipsi laut’, mereka yang selama ini banyak tinggal di Malaysia dan Filipina ternyata sudah memasuki perairan Indonesia tanpa izin, mengambil ikan secara ilegal, merusak terumbu karang dengan metode mencari ikan yang tidak memahami konsep konservasi. Sebanyak 676 masyarakat Bajau Palau di’amankan’ pemerintah Indonesia dan di tempatkan di darat, lalu dilakukan pendataan dan penyelidikan. Proses ini memakan waktu 30 hari lebih karena ternyata banyak masalah administrasi terkait kewarganegaraan. Atas dasar kemanusiaan dan menjawab surat permohonan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, maka MER-C mengirimkan Tim Relawannya untuk memberikan bantuan medis kepada warga Bajau Palau yang sudah mulai terserang penyakit. Tim berjumlah 8 orang yang terdiri dari 1 orang Dokter Spesialis Penyakit Dalam, 6 orang Dokter Umum dan 1 orang Koordinator Logistik. Tim melakukan kegiatan kemanusiaan selama satu minggu, mulai tanggal 30 Desember 2014 sampai tanggal 3 Januari 2015. Kegiatan yang dilakukan terutama adalah Rapid Health Assesment, pemeriksaan antropometri, pengobatan kesehatan, promosi kesehatan, dan Blanket Treatment Ascariasis. Kendala bahasa adalah tantangan terbesar yang dihadapi Tim MER-C karena suku Bajau Palau ini banyak yang tidak paham bahasa Indonesia, sehingga pemerintahan setempat seperti Puskesmas dan lembaga seperti PMI turut membantu dan mendampingi tim MER-C dengan seorang penterjemah. Penyakit yang banyak diderita adalah ISPA, dyspepsia, diare, infeksi kulit bakteri, infeksi kulit jamur, iritasi kulit. Kasus diare mengalami peningkatan signifikan selama berada di penampungan karena masyarakat Bajau Palau yang tidak terbiasa hidup di darat. Tidak hanya memberikan tindakan pengobatan, Tim MER-C juga mengajarkan kepada anak-anak cara mandi yang baik untuk menjaga kebersihan dan kesehatan diri. Karena kendala bahasa dan warga Bajau Palau yang tidak bisa baca tulis, maka penyuluhan tata cara mandi pun langsung dicontohkan oleh para relawan dengan memandikan beberapa anak dihadapan warga. Esok harinya, beberapa anak-anak terlihat sudah mempraktekkan cara mandi karena terlihat lebih bersih. Di Akhir kegiatan, Tim MER-C memberikan presentasi mengenai hasil Rapid Health Assesment Tim yang diselenggarakan oleh Departemen Kelautan dan Perikanan RI dan di hadiri pihak-pihak terkait seperti Departemen Kelautan, Dinas Kelautan, Kapolres, dan pimpinan daerah setempat.
Tim MER-C Susuri Wilayah Terpencil di Aceh Bantu Korban Banjir

Aceh – Banjir dan longsor kembali melanda sejumlah wilayah di Aceh. Pemerintah Daerah setempat menetapkan bencana banjir dan longsor kali ini sebagai bencana provinsi. Selasa (11/11), MER-C sebagai sebuah lembaga kegawatdaruratan medis mengirimkan Tim Relawannya yang terdiri dari 2 dokter dan 1 logistik, yaitu dr. Prabowo Himawan, dr. Tri Rahma Janumantika dan Islamiyah Samaun untuk memberikan bantuan medis kepadapara korban. Sementara untuk tenaga perawat dan relawan non medis lainnya dibantu oleh relawan lokal MER-C yang berada di Aceh. Lama misi awal ini direncanakan 1 minggu atau lebih sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Setibanya di Banda Aceh, Tim MER-C mendatangi BPBD setempat didampingi relawan lokal untuk berkoordinasi dan mencari informasi terkini mengenai wilayah bencana yang benar-benar masih membutuhkan dan minim bantuan medis. Wilayah seperti inilah yang menjadi fokus tujuan Tim MER-C. Rabu (12/11), wilayah pertama yang dikunjungi Tim MER-C adalah desa Lamsujen Kecamatan Lhoong. Masih ada beberapa warga yang mengungsi akibat longsor, walaupun sebagian besar memilih pulang ke rumah. Di daerah ini, Tim MER-C melayani pengobatan 15 warga dan 2 tindakan medis, salah satunya kepada seorang kakek yang kakinya terkena balok kayu rumahnya yang hancur akibat longsor. Kemudian diantar staf BPBD, Tim MER-C bergerak ke lokasi bencana lainnya yang direkomendasikan yaitu Kecamatan Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya. Ada sekitar 12 desa di kecamatan ini yang dilanda banjir dan longsor. Jalan menuju daerah ini cukup jauh membutuhkan waktu sekitar 3 jam dari Banda Aceh apabila lancar. Di beberapa bagian jalan terlihat masih ada longsor dan jalan dibuka tutup. Tampak juga ada jalan-jalan longsor yang sedang diperbaiki. Sesampainya di Puskesmas Sampoiniet, Tim bertemu dengan Sekretaris Camat (Sekcam) setempat. Dari Informasi Sekcam, di wilayah ini banjir mencapai 1-2 m. Dari 12 desa, sebanyak 6 desa sudah dapat dijangkau oleh Pelayanan Puskesmas, sementara 6 desa lagi belum. Tim MER-C yang diketuai oleh dr. Prabowo Himawan memutuskan untuk menetap sementara di wilayah ini untuk memberikan bantuan medis bagi para korban banjir yang belum terjangkau bantuan medis. Walaupun banjir dan longsor sudah mulai surut, namun hujan masih kerap turun. Bekas-bekas bencana banjir juga masih terlihat di desa ini. Desa-desa yang belum terjangkau bantuan medis letaknya cukup jauh dan berada di pegunungan. Kamis (13/11), dua dokter, 1 relawan logistik dibantu relawan lokal berprofesi perawat memulai pengobatan di kecamatan Sampoinet, tepatnya di Meunasah desa Ligan. Mengetahui ada bantuan pengobatan, masyarakat setempat sangat antusias. Tercatat sebanyak 160 warga korban banjir dari beberapa desa yang datang berobat dengan berbagai keluhan penyakit khas pasca banjir. Keesokan harinya, Jum’at (14/11) pengobatan masih dilakukan di Kecamatan Sampoiniet tepatnya di Meunasah Desa Cot Punti dengan jumlah pasien yang masih cukup banyak, mencapai lebih 100 orang. Pasien yang berobat juga datang dari beberapa desa sekitar. Tim bahkan sempat mendatangi rumah pasien yang lumpuh yang tidak dapat datang berobat. Berdasarkan rekomendasi dari Dinas Kesehatan Aceh Jaya, ada wilayah bencana di Kabupaten Aceh Jaya yang masih belum terjangkau bantuan medis. Untuk itu, hari Sabtu (15/11), Tim MER-C mencoba untuk mencapai daerah ini, yaitu Teupin Asan, Kecamatan Darul Hikmah, Kabupaten Aceh Jaya. Wilayah Teupin Asan memang terpencil diunjung kampong dan berada di pegunungan namun saat banjir kemarin sempat terendam setinggi 1 meter. Jumlah pasien di desa ini juga mencapai lebih dari 150 orang. Beruntung Tim MER-C bisa sampai ke daerah ini dan memberikan bantuan pengobatan bagi masyarakat korban banjir yang membutuhkan. Aceh dan MER-C Sepanjang jalan yang dilalui Tim MER-C dari Banda Aceh hingga ke Kabupaten Aceh Jaya, masih banyak masyarakat yang mengenali MER-C. Memang jalur ini adalah jalur Posko dan wilayah cakupan klinik keliling MER-C pada misi kemanusiaan pasca bencana tsunami dahsyat beberapa tahun lalu. Banyak masyarakat yang menanyakan kabar relawan dokter yang dulu pernah mereka kenal karena bertugas memberikan bantuan pengobatan di wilayah mereka. Bahkan sejumlah relawan perawat dan non medis MER-C ada yang menikah dengan gadis setempat dan memilih menetap di Aceh. Di Aceh Jaya, tepatnya di Desa Keude Panga salah satu wilayah terparah akibat terjangan tsunami, MER-C bahkan membangun sebuah Klinik Rawat Inap yang kini sudah diserahkan kepada Pemerintah Daerah untuk dikelola dan dikembangkan lebih lanjut bagi kemaslahatan warga setempat. Meskipun kerap diuji dengan berbagai bencana namun warga Aceh adalah warga yang peduli terhadap sesama. Ketika agresi Israel beberapa bulan lalu, segenap masyarakat dan Pemerintah Daerah Aceh mengumpulkan bantuan untuk membantu saudara mereka di Gaza. Bantuan yang terkumpul mencapai lebih dari 6 Milyar rupiah hanya dalam jangka waktu kurang dari 1 bulan. Seluruh bantuan diserahkan kepada MER-C untuk membantu pengadaan Alat Kesehatan Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Sebagai ucapan terima kasih dan apresiasi MER-C kepada masyarakat Aceh, dua ruangan di Rumah Sakit Indonesia akan diberi nama dengan nama dua pahlawan terkenal asal Aceh, yaitu Cut Nyak Dien atau Teungku Cik Di Tiro.
Laporan Sinabung dari MER-C Cabang Medan

Medan – Info dari Wirsal, relawan MER-C Medan yang berprofesi sebagai perawat, Senin (13/10), MER-C Medan melakukan pengobatan untuk warga di desa Simpang Guru Kinaya, Sinabung, Sumatra Utara. Adapun tim yang berada di lokasi terdiri dari 2 tenaga dokter, 1 tenaga perawat dan 5 relawan dari Fakultas Kedokteran. Saat ini kondisi Sinabung masih mengeluarkan hujan debu yang menyebabkan gangguan ISPA dan juga penglihatan bagi warga sekitar. Berdasarkan laporan akhir Tim Assessment MER-C Medan, Kamis (9/10) untuk bencana alam Gunung Sinabung, terdapat 16 posko pengungsi dengan kebutuhan di antaranya masker, susu untuk balita, popok balita, serta pemeriksaan kesehatan dan pengobatan untuk pengungsi dan masyarakat sekitar. Donasi kemanusiaan untuk bencana Sinabung dapat disalurkan melalui MER-C Cabang Medan, Bank Syariah Mandiri No.Rek 7074585099 a.n Medical Emergency Rescue Committe Cabang Medan atau secara langsung ke Kantor MER-C Cabang Medan di Jl. Setiabudi, Komplek Ruko Milala Mas Blok C No. 6 Kec. Tanjung Rejo Medan.