MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Tim MER-C Medan Tiba di Lokasi Bencana Sinabung

Medan – Alhamdulillah Tim Advance Tanggap Bencana Medical Emergency Rescue Committee Cabang Medan yang terdiri dr 3 dokter, 3 perawat & 1 relawan kesehatan masyarakat telah sampai di Kabanjahe (pkl.19.30 tadi malam) kira-kira 5km dari Gunung Sinabung. Tim sampai di Mesjid Agung Kabanjahe. Banyak warga muslim yang mengungsi di mesjid. Sampai sekarang ada 60an warga di Mesjid Agung Kabanjahe dan akan bertambah. Terdapat 5 titik pengungsian lagi di Jambur. Jumlah pengungsi di Berastagi dan Kabanjahe sekitar 2500an orang. Mohon doanya utk para korban & Tim yang bertugas. Smg selalu diberi kemudahan & perlindungan. Amiin Contact MER-C Cab. Medan untuk info dan penyaluran bantuan: Hp 0877 68591522 Pin BB 28C45767 BSM, Rek No. 701.989.5167 a/n MER-C Cabang Medan

MER-C Medan Turunkan Tim Medis Untuk Korban Sinabung

Medan – Gunung Sinabung meletus Minggu dini hari (15/9) pukul 02.00 Wib. MER-C Cabang Medan akan menurunkan Tim Advance untuk assessment dan pertolongan medis darurat.  Insya Allah tim akan berangkat hari ini pukul 16.00 Wib. MER-C Medan membuka posko untuk mernerima bantuan yang akan di salurkan ke para korban Sinabung, berupa pakaian layak pakai, makanan siap saji, dan dana. Bantuan dapat disalurkan ke kantor MER-C Medan  di Jl. Setiabudi Komp Ruko Milala Blok C 6.   Contact MER-C Cab. Medan untuk info dan penyaluran bantuan: Hp 0877 68591522 Pin BB 28C45767 BSM, Rek No. 701.989.5167 a/n MER-C Cabang Medan

MER-C Susuri 25 Desa di Wilayah Gempa Aceh Tengah

Jakarta – Beberapa hari menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, tepatnya tanggal 2 Juli 2013, masyarakat Nanggroe Aceh Darussalam kembali diuji dengan musibah bencana gempa bumi. Gempa melanda 2 kabupaten di provinsi ini, yaitu Kabupaten Bener Meriah dan Kabupaten Aceh Tengah. Kamis (4/7), MER-C Cabang Medan sebagai cabang yang terdekat dengan lokasi gempa segera menurunkan Tim medisnya yang terdiri dari 3 perawat, 1 psikolog dan 1 supir. Tim menempuh jalur darat dengan menggunakan kendaraan operasional MER-C Medan berupa ambulans menuju Aceh. Sementara Tim dari MER-C Pusat Jakarta yang terdiri dari 3 dokter, 1 perawat bedah, 1 tenaga logistik dan 1 supir menyusul ke Aceh pada hari Sabtu (6/7).   Perjalanan jalur darat ke lokasi gempa baik dari Medan maupun Banda Aceh harus ditempuh selama belasan jam. Hal ini diakibatkan oleh kondisi jalan yang rusak dan terjadi longsor di sejumlah titik akibat getaran gempa. Terletak di wilayah dataran tinggi membuat kondisi jalan menuju lokasi cukup berbahaya, jurang di satu sisi dan tebing yang rawan longsor di sisi yang lain. Untuk itu, supir kendaraan tim MER-C harus ekstra hati-hati. Lokasi gempa yang pertama dilalui adalah Bener Meriah. Tim MER-C Medan langsung menyusuri dan memberikan pelayanan medis kepada para korban gempa yang ditemui di wilayah ini. Pada hari Minggu siang (7/7), Tim MER-C Medan dan Jakarta telah bertemu dan berkumpul di lokasi gempa dan berkoordinasi dengan pihak terkait. Berdasarkan hasil koordinasi tersebut, Tim MER-C dari Medan dan Jakarta sepakat untuk berfokus memberikan bantuan medis bagi korban gempa di Kabupaten Aceh Tengah. Hal ini dikarenakan Kabupaten ini mengalami dampak yang luas akibat gempa.  Dari informasi resmi yang dikeluarkan oleh Bupati Aceh Tengah, gempa melanda 12 kecamatan dari 14 kecamatan di wilayah ini atau sekitar 85,71%. Jumlah kampung yang mengalami dampak kerusakan akibat gempa mencapai 232 kampung dari 352 kampung yang ada atau sekitar 65,50%.  Jumlah warga yang mengungsi diperkirakan 5.000 jiwa, belum termasuk warga yang mengungsi di depan atau halaman rumah mereka dengan membuat tenda sederhana. Tim MER-C diberi kewenangan dan tanggung jawab oleh Pemda dan IDI (Ikatan Dokter Indonesia) wilayah Aceh Tengah untuk memberikan bantuan medis bagi korban gempa di wilayah kecamatan Kute Panang. Di kecamatan ini, sebanyak 25 desa terkena dampak gempa. Dengan kekuatan 11 personil, MER-C menyanggupi tanggung jawab ini dan segera membuka posko utama tepatnya di Desa Ratawali, Kecamatan Kute Panang, Kabupaten Aceh Tengah.   Ketua tim langsung dibagi menjadi dua. Tim Pertama memberikan bantuan pengobatan di posko, sementara Tim kedua melakukan mobile clinic dengan menggunakan kendaraan operasional untuk mencari wilayah yang belum terjangkau bantuan. Luasnya wilayah cakupan membuat Ketua Tim Misi Gempa Aceh pada keesokan harinya memutuskan agar pada siang seluruh tim difokuskan pada kegiatan mobile clinic. Sedangkan untuk pengobatan di posko jadwalnya diubah menjadi pagi hari sebelum tim melakukan mobile dan malam hari sepulang Tim dari kegiatan mobile. Dengan sistem ini, diharapkan lebih banyak desa-desa yang terkena dampak gempa bisa terjangkau bantuan medis dengan lebih cepat. Bagi relawan MER-C yang sudah beberapa kali mengikuti misi kemanusiaan ke wilayah bencana lain baik di dalam maupun di luar negeri, misi kali ini termasuk cukup berat. Hal ini dikarenakan cuaca yang dingin dan lokasi gempa yang merupakan dataran tinggi. Gempa membuat jalan banyak yang rusak dan terbelah, sehingga para relawan harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki meskipun tengah berpuasa agar dapat mencapai korban gempa yang berada di desa-desa.   Alhamdulillah, pada hari ke-5 Tim berada di lokasi gempa Aceh Tengah, sebanyak 25 desa wilayah cakupan Tim MER-C yang diamanahkan oleh Pemda dan IDI setempat sudah berhasil dikunjungi oleh Tim. Selain memberikan pengobatan, Tim Medis MER-C juga memberikan edukasi kepada para korban untuk merawat dan membersihkan luka. Dari hasil assessment dan pelayanan kesehatan di kedua puluh lima desa tersebut, Tim MER-C memutuskan tidak diperlukan Tim lanjutan berupa Tim Bedah karena pasien korban gempa yang memerlukan operasi lebih lanjut sudah dapat ditangani oleh Pemda setempat.

MER-C Turunkan Tim Medis dari Medan dan Jakarta untuk Bantu Korban Gempa Aceh

NAD – Menyusul gempa bumi yang beberapa kali mengguncang Nanggroe Aceh Darussalam, MER-C menurunkan Tim Medisnya dari Cabang Medan dan Pusat Jakarta untuk memberikan bantuan pengobatan bagi para korban. MER-C Cabang Medan, sebagai cabang yang terdekat dengan lokasi gempa, memberangkatkan Tim Medisnya yang terdiri dari 3 perawat dan 1 psikolog ke Aceh pada hari Kamis (4/7). Pada esok lusanya, Sabtu (6/7), MER-C Pusat Jakarta memberangkatkan 5 relawannya ke Aceh yang terdiri dari 3 dokter, 1 perawat bedah dan 1 logistik untuk memperkuat Tim yang sudah berada di lokasi bencana. Perjalanan dari Medan ke Aceh ditempuh dengan jalur darat menggunakan armada ambulans milik MER-C Cabang Medan. Kondisi jalan yang rusak dan longsor di beberapa titik membuat perjalanan membutuhkan waktu belasan jam bagi Tim MER-C Medan untuk bisa mencapai lokasi bencana. Hal yang sama juga dialami oleh Tim Medis dari Jakarta yang menempuh jalur darat dari Banda Aceh ke lokasi gempa. Meskipun demikian, kedua Tim MER-C khususnya dari Jakarta Minggu siang ini (7/7) dikabarkan sudah tiba di lokasi gempa dan berkoordinasi dengan pihak terkait. Tim MER-C saat ini berfokus memberikan bantuan medis bagi di Kabupaten Aceh Tengah. Hal ini dikarenakan Kabupaten ini mengalami dampak yang luas akibat gempa. Berdasarkan informasi resmi yang dikeluarkan oleh Bupati Aceh Tengah, gempa melanda 12 kecamatan dari 14 kecamatan di wilayah ini atau sekitar 85,71 %. Jumlah kampung yang mengalami dampak kerusakan akibat gempa mencapai 232 kampung dari 352 kampung yang ada atau sekitar 65,50 %.  Jumlah warga yang mengungsi diperkirakan 5.000 jiwa, belum termasuk warga yang mengungsi di depan atau halaman rumah mereka dengan membuat tenda sederhana. Tim MER-C Medan sudah mulai membuka posko sejak hari Sabtu (6/7) tepatnya di Kampung Ratawali, Kecamatan Kute Panang, Kabupaten Aceh Tengah. Tim dibagi menjadi dua. Tim Pertama memberikan bantuan pengobatan di posko. Tim kedua melakukan mobile clinic dengan menggunakan ambulans untuk mencari wilayah yang belum terjangkau bantuan medis. Tim MER-C Jakarta yang baru tiba Minggu siang ini (7/7), langsung diarahkan dan dipandu oleh Satkorlak setempat untuk menuju lokasi yang masih terisolir, yaitu di Kampung Jaluk, Kecamatan Ketol. Di kecamatan ini tercatat, sebanyak 31 kampung terkena dampak gempa. Selain memberikan bantuan pengobatan, Tim MER-C juga akan melakukan pendataan korban gempa yang memerlukan penanganan lebih lanjut, yaitu operasi bedah tulang. Apabila dibutuhkan, MER-C akan mengirimkan Tim lanjutan berupa Tim Bedah.

MER-C Medan: Berjalan Kaki dan Berperahu untuk Jangkau Korban Banjir

Medan – Bencana banjir belum berlalu. Kali ini, banjir melanda wilayah Tanjung Balai, Sumatera Utara yang menyebabkan lebih dari 12.000 kepala keluarga di wilayah tersebut terendam rumahnya. Menyusul bencana tersebut, MER-C Cabang Medan kembali menurunkan tim relawan medisnya guna membantu dan meringankan penderitaan para korban. Tim harus berjalan kaki bahkan menggunakan perahu milik penduduk untuk menjangkau korban banjir yang belum terjamah bantuan. Tim berangkat pada Kamis malam (28/2) dari posko MER-C Cabang Medan dengan menggunakan ambulans. Jumat (1/3), Tim yang terdiri dari dr. Rinaldi Sani, dr. Iqbal Harziky, dr. Nanda Bagus, dr. Hanum Sesari, Alamsyah, dan M. Irsal supir ambulan memulai kegiatan pada pukul 8 pagi. Tim bergerak dari Kisaran menuju di Tanjung Balai. Pada pukul 10.00 tim tiba di Tanjung Balai dan langsung berkordinasi terlebih dahulu Kepala Dinas Kesehatan Tanjung Balai dan meminta informasi mengenai lokasi-lokasi yang masih membutuhkan bantuan. Dari informasi tersebut, Tim MER-C berencana memberikan bantuan pengobatan di beberapa titik. Tim mulai bergerak menuju arah Simpang Empat Kel. Bandar untuk memberikan bantuan pengobatan dan pakaian layak pakai. Tim kemudian menggelar pengobatan di desa Sijambi Lk1 Pasar Traktor, tepatnya di Jl. H. Adam Malik Tanjung Balai. Pengobatan dilakukan di tenda darurat di depan rumah salah satu warga. Pukul 12.00 tim menyelesaikan kegiatan pengobatan untuk beristirahat dan menunaikan ibadah sholat Jum’at. Tanpa membuang waktu, usai sholat dan istirahat secukupnya, pukul 13.30 kembali melanjutkan pelayanan kepada masyarakat korban banjir di Lk1 dan Lk2 hingga pukul 6 sore. Jumlah pasien yang ditangani sebanyak 61 orang dengan keluhan penyakit terbanyak ISPA dan penyakit kulit. Kondisi cuaca yang baik pada hari ini sangat mendukung kegiatan peengobatan bagi warga dan warga setempat pun sangat proaktif membantu kegiatan ini. Sabtu (2/3), kegiatan pengobatan tim masih berlanjut. Kali ini, Tim mencoba masuk ke wilayah banjir yang lebih dalam, yaitu menuju desa Gading. Ketinggian air di wilayah ini masih selutut orang dewasa. Ambulans pun sulit masuk, sehingga Tim memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Pengobatan dilakukan dari rumah ke rumah. Tercatat sebanyak 45 orang di desa ini yang mendapatkan pengobatan dari Tim MER-C. Usai pengobatan di desa Gading, tim kemudian menyusuri daerah kawasan sungai Kecamatan Sei Dua Hulu dengan menggunakan perahu milik penduduk. Tim berhenti di beberapa titik di mana warga dapat berkumpul dan pengobatan dapat dilakukan. Kali ini jumlah pasien mencapai kurang lebih 60 orang, yang umumnya mengeluhkan gatal di kulit. Menurut info dari warga, Tim MER-C adalah tim medis pertama yang turun, selama ini belum ada Tim yang turun sampai ke daerah tersebut.

MER-C Cabang Medan Kirim Tim ke Lokasi Banjir Bandang Mandailing Natal

Medan Musibah banjir bandang kembali melanda daerah Mandailing Natal, Sumatera Utara. Banjir terjadi karena sungai Sigija yang meluap akibat hujan yang turun terus menerus sejak hari Rabu (13/2). Sebagai cabang terdekat, MER-C Cabang Medan segera mempersiapkan Tim Advance untuk menuju lokasi bencana guna melakukan pemetaan dan memberikan bantuan medis awal. Minggu (17/2), tepat pukul 09.40 pagi, dengan menggunakan ambulans, Tim yang terdiri dari 3 relawan medis mulai bergerak dari posko MER-C menuju lokasi bencana di Kec. Panyambungan, Kab. Mandailing Natal, Sumatera Utara. Setibanya di lokasi, Tim MER-C, yaitu Dr. Andika Pradana, Dashari Ermandi, S.Ked dan Wirsal Harahap, AmK. segera berkoordinasi dengan pihak kesehatan setempat dan melakukan penyusuran ke berbagai titik lokasi yang terkena bencana banjir bandang. Wilayah yang didatangi diantaranya adalah Manyabar, Naga Juang, Pagaran Tonga, Gunung Manaon, Sabajambu, dan Sopobatu. Dari hasil penyusuran tersebut, Tim memutuskan untuk memberikan bantuan pengobatan dengan cara mobile clinic di dua titik, yaitu Manyabar dan Pagaran Tonga. Penyakit yang banyak ditemui oleh Tim adalah penyakit kulit dan ISPA. Tim juga menemui pasien yang mengalami diare yang harus diberi penanganan infus. Pengobatan yang dilakukan tim pada hari itu melayani sekitar 70 pasien, sebanyak 50 pasien di Manyabar dan sekitar 20 pasien di Pagaran Tonga. Pada hari Senin (18/2), MER-C Cabang Medan kembali menurunkan tim medis susulan ke Mandailing Natal. Tim yang ditugaskan kali ini berjumlah 5 orang yang terdiri dari 4 relawan medis dan 1 relawan non medis. Fokus wilayah kerja Tim tetap di Manyabar dan Pagaran Tonga karena wilayah ini yang masih membutuhkan bantuan medis. Dengan sistem mobile clinic, Tim mendatangi rumah para korban banjir dan mengobati para korban yang sakit. Selain bantuan obat-obatan, Tim juga memberikan bantuan berupa sembako, seragam sekolah dan peralatan ibadah yang dibeli dari hasil donasi masyarakat.

MER-C Cabang Medan Kirim Tim ke Lokasi Banjir Bandang Mandailing Natal

Medan Musibah banjir bandang kembali melanda daerah Mandailing Natal, Sumatera Utara. Banjir terjadi karena sungai Sigija yang meluap akibat hujan yang turun terus menerus sejak hari Rabu (13/2). Sebagai cabang terdekat, MER-C Cabang Medan segera mempersiapkan Tim Advance untuk menuju lokasi bencana guna melakukan pemetaan dan memberikan bantuan medis awal. Minggu (17/2), tepat pukul 09.40 pagi, dengan menggunakan ambulans, Tim yang terdiri dari 3 relawan medis mulai bergerak dari posko MER-C menuju lokasi bencana di Kec. Panyambungan, Kab. Mandailing Natal, Sumatera Utara. Setibanya di lokasi, Tim MER-C, yaitu Dr. Andika Pradana, Dashari Ermandi, S.Ked dan Wirsal Harahap, AmK. segera berkoordinasi dengan pihak kesehatan setempat dan melakukan penyusuran ke berbagai titik lokasi yang terkena bencana banjir bandang. Wilayah yang didatangi diantaranya adalah Manyabar, Naga Juang, Pagaran Tonga, Gunung Manaon, Sabajambu, dan Sopobatu. Dari hasil penyusuran tersebut, Tim memutuskan untuk memberikan bantuan pengobatan dengan cara mobile clinic di dua titik, yaitu Manyabar dan Pagaran Tonga. Penyakit yang banyak ditemui oleh Tim adalah penyakit kulit dan ISPA. Tim juga menemui pasien yang mengalami diare yang harus diberi penanganan infus. Pengobatan yang dilakukan tim pada hari itu melayani sekitar 70 pasien, sebanyak 50 pasien di Manyabar dan sekitar 20 pasien di Pagaran Tonga. Pada hari Senin (18/2), MER-C Cabang Medan kembali menurunkan tim medis susulan ke Mandailing Natal. Tim yang ditugaskan kali ini berjumlah 5 orang yang terdiri dari 4 relawan medis dan 1 relawan non medis. Fokus wilayah kerja Tim tetap di Manyabar dan Pagaran Tonga karena wilayah ini yang masih membutuhkan bantuan medis. Dengan sistem mobile clinic, Tim mendatangi rumah para korban banjir dan mengobati para korban yang sakit. Selain bantuan obat-obatan, Tim juga memberikan bantuan berupa sembako, seragam sekolah dan peralatan ibadah yang dibeli dari hasil donasi masyarakat.

Tim MER-C Jemput Bola Susuri Gang-gang Sempit di Penjaringan Jakarta Utara

Jakarta Rabu (23/1) MER-C kembali menurunkan Tim Medisnya untuk memberi bantuan pengobatan bagi warga korban banjir. Tujuan tim masih ke Penjaringan, Jakarta Utara karena banjir masih menggenangi wilayahnya ini. Tim membuka pelayanan medis di Rt 3 Rw 8, Tanah Pasir. Sebanyak 4 relawan dokter dan 2 relawan non medis berpartisipasi dalam misi kali ini. Hujan masih mengguyur cukup deras ketika tim MER-C tiba di lokasi. Di pinggir jalan besar, terlihat sudah ada beberapa posko bantuan baik dari perusahaan maupun lembaga yang peduli terhadap para korban banjir. Hal ini menandakan bantuan sudah cukup memadai di sini dan Tim MER-C harus mencari wilayah lain yang belum atau masih minim bantuan khususnya kesehatan. Dengan panduan warga, Tim pun mencoba memasuki wilayah Penjaringan yang lebih dalam. Tibalah Tim di wilayah Rt 3 Rw 8, Tanah Pasir. Banjir masih merendam wilayah ini. Ada yang setinggi betis hingga setinggi paha orang dewasa bahkan ada yang mencapai 1,5 meter. Hujan juga masih terus mengguyur yang mengakibatkan pengobatan tidak memungkinkan untuk dilakukan di armada ford ranger MER-C. Tidak ada dataran tinggi yang cukup kering juga untuk menggelar pengobatan, sehingga pengobatan pun digelar di sebuah panggung kecil yang memang biasanya digunakan sebagai posko bantuan logistik bagi warga setempat. Dengan bantuan warga, obat-obatan diturunkan dari mobil dan pengobatan pun digelar di atas panggung. Satu persatu warga yang sakit berdatangan. Ada yang berjalan kaki menggunakan payung, ada juga yang diantar oleh keluarganya dengan menggunakan gerobak. Melihat kondisi hujan dan banjir seperti ini, Ketua Tim MER-C hari itu segera memutuskan untuk membagi tim menjadi 2. Tim pertama melayani pasien di posko (panggung), sementara tim ke-2 melakukan mobile clinic dan jemput bola. Hal ini dilakukan agar balita, manula dan warga sakit yang tidak mampu datang ke posko dapat mendapatkan bantuan pengobatan. Dengan menggunakan payung dan membawa tas ransel berisi obat-obatan, relawan dokter MER-C menyusuri gang-gang sempit dan padat di Rw 8 yang masih terendam banjir untuk menjemput bola mendatangi pasien ke rumah-rumah mereka. Hari ini Tim Medis MER-C melayani sekitar 200 orang pasien, sebagian besar adalah balita dan anak-anak. Penyakit yang banyak diderita oleh warga korban banjir di wilayah ini adalah penyakit kulit, diare, dan ISPA. 

Dari Atas Bak Mobil Layani Kesehatan Korban Banjir

Jakarta Setelah memberikan pelayanan kesehatan bagi warga korban banjir di Bukit Duri Jakarta Selatan, Tim Medis MER-C mencoba merambah wilayah Jakarta Utara. Senin (21/1), Tim MER-C melakukan mobile clinic lokasi banjir di Penjaringan, tepatnya di Muara Baru. Sebanyak 5 relawan dokter dan 2 non medis, berupaya melalui wilayah yang masih terendam banjir di sana sini. Dengan panduan warga setempat, armada ford ranger MER-C menembus genangan banjir. Warga terus menuntun Tim MER-C mencari jalan yang ketinggian airnya masih dapat dilalui oleh mobil untuk mencapai jalanan yang agak kering untuk menggelar pelayanan kesehatan. Karena akses yang cukup sulit, menjelang sore Tim MER-C baru tiba di lokasi. Pengobatan pun digelar di atas bak mobil MER-C, di pinggir jalan. Sementara di sejumlah wilayah banjir lainnya air sudah mulai surut bahkan kering, tidak demikian dengan Muara Baru Penjaringan Jakarta Utara. Air masih menggenangi pemukiman warga yang padat. Namun, tidak ada pengungsian di wilayah ini. Warga enggan mengungsi dan memilih tetap bertahan di rumah-rumah mereka yang masih terendam banjir dengan ketinggian beragam. Kedatangan Tim MER-C disambut antusias oleh warga Muara Baru. Begitu pelayanan kesehatan dibuka, antrian warga pun mulai mengular mendekati bagian belakang mobil MER-C yang difungsikan menjadi tempat pengobatan. Tim dokter MER-C pun segera bersiap untuk mendengarkan berbagai keluhan sakit dari warga dan berupaya mengobati mereka dengan bantuan obat-obatan yang telah dibawa dari markas MER-C di Jakarta Pusat. Sejak dibuka, pelayanan kesehatan tidak pernah sepi dari kerumunan warga. Hingga pukul 8 malam, warga Muara Baru masih terus berdatangan. Sebagian besar pasien adalah anak-anak dan balita. Penyakit yang banyak diderita adalah ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas) dan diare. Pelayanan kesehatan selesai sekitar pukul 08.30 malam dan tercatat pasien yang berobat hari ini lebih dari 400 orang. MER-C akan terus melakukan program mobile clinic ke wilayah banjir lain yang membutuhkan untuk membantu para korban dan guna menyalurkan amanah dari mayarakat yang masuk melalui rekening kemanusiaan MER-C. Donasi Rekening untuk Banjir Jakarta: Atas nama Medical Emergency Rescue Committee Bank Central Asia (BCA) Cab. Kwitang  no Rek. 686.0099.339   Bank Syariah Mandiri (BSM) Cab. Salemba  no Rek. 701.565.8899

MER-C Lakukan Mobile Clinic dan Jemput Bola Layani Pasien Korban Banjir

Jakarta Banjir besar kembali melanda Jakarta. Jumat (18/1) MER-C menurunkan tim medisnya yang terdiri dari 5 relawan dokter dan 1 relawan logistik serta 1 supir. Dengan menggunakan armada ford ranger double cabin, Tim menyusuri sejumlah titik bencana banjir guna mencari lokasi yang belum dan masih membutuh bantuan medis. MER-C juga menerapkan sistem mobile clinic dan jemput bola dalam memberikan bantuan medis kepada para korban banjir kali ini. Setelah menyusuri beberapa lokasi banjir di wilayah Jakarta Timur dan Selatan, Tim memutuskan untuk memberikan bantuan medis kepada korban banjir yang mengungsi di Masjid Attahiriyah Bukit Duri. Di lokasi ini belum ada bantuan medis dan jumlah warga yang mengungsi diperkirakan berjumlah lebih dari 1.900 jiwa. Kedatangan Tim MER-C disambut sangat baik oleh masyarakat. Tim yang berjumlah 6 orang dibagi menjadi dua. Tim pertama memberikan pelayanan medis bagi korban banjir di dalam Masjid Attahiriyah, sementara satu tim lagi melakukan mobile ke lingkungan sekitar bersama Tim SAR dan masyarakat setempat. Relawan dokter MER-C yang bertugas di masjid menerapkan sistem jemput bola. Mereka mendatangi satu persatu ruangan dalam lingkungan masjid yang dipenuhi oleh korban banjir yang mengungsi. Warga yang mengeluh sakit diperiksa dan diobati. Usai memberikan pengobatan di dalam masjid, tim melanjutkan pengobatan di bagian luar masjid. Kali ini pelayanan medis dilakukan di atas bak mobil ford ranger MER-C yang diparkir di depan Masjid. Warga korban banjir berdatangan menghampiri mobil berlogo MER-C ini untuk mendapatkan pengobatan dari relawan dokter yang ada. Sementara itu, tim MER-C lainnya melakukan mobile ke wilayah bantaran Ciliwung yang belum mendapat bantuan medis. Tim mobile bersama Tim SAR dengan menggunakan perahu karet. Ternyata masih banyak warga yang memilih bertahan di rumah-rumah mereka yang terendam banjir dan tidak mau dievakuasi. Salah satunya seorang Bapak tua usia 62 tahun yang memilih bertahan di rumah, sorang diri, dalam keadaan sakit. Atas informasi dari istrinya, Dokter MER-C bersama Tim SAR berusaha mencapai dan memasuki rumahnya. Setelah diperiksa, sang Bapak menderita hipertensi dan segera dievakuasi.   Usai mobile dengan menggunakan perahu karet, Tim MER-C mendapat laporan dari warga bahwa masih ada lokasi pengungsian yang belum mendapatkan bantuan pengobatan. Mereka berharap Tim MER-C bisa mengecek kondisi kesehatan warga yang mengungsi di sana. Dengan menggunakan sepeda motor, warga mengantar dokter MER-C ke lokasi pengungsian yang terletak di Wisma Tjiliwung. Pelayanan medis pun segera digelar bagi warga di wisma ini. Hari sudah mulai gelap ketika Tim MER-C selesai memberikan bantuan pengobatan. Penyakit yang banyak diderita oleh warga korban banjir yang diobati hari ini adalah ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas), penyakit kulit, hipertensi dan diare.

Silahkan bertanya?