MER-C dan Pemerintah Myanmar Sepakati Lokasi RS Indonesia

Rakhine – MER-C dan Pemerintah Myanmar sepakati lokasi untuk pembangunan RS Indonesia, yaitu di desa Muaung Bay, Mrauk U, Rakhine State, Myanmar. Lokasi ini dipilih setelah Tim Pembangunan RS Indonesia yang terdiri dari Drs. Ichsan Thalib, Dr. Ir. Idrus M. Alatas dan Ir. Faried Thalib melakukan kunjungan langsung ke lapangan, Kamis/18 Mei 2017. Kunjungan didampingi oleh dr. Swei Tein (Kepala Kesehatan Rakhien State), Bonifatius A. Herindra (Pelaksana Fungsi Politik KBRI Yangon) dan tiga kontraktor yang berminat mengikuti tender pembangunan RS Indonesia. “Lokasi berjarak sekitar 2,3 km dari lokasi lama yang telah Tim MER-C kunjungi pada Agustus 2015 lalu,” ungkap Ichsan Thalib yang sudah tiga kali mengunjungi Rakhine State, Myanmar. Ketua Tim Pembangunan RS Indonesia di Myanmar ini menyatakan bahwa lokasi disepakati karena dilihat dari strategisnya sama dengan lokasi yang lama. Bahkan di lokasi baru mobilisasi warga di RS akan lebih memungkinkan. Di sini lebih ramai dan lebih dekat ke pemukiman warga baik muslim maupun Budha. Lahan RS Indonesia yang diberikan pemerintah Myanmar sekarang juga lebih luas, yaitu sekitar 7.000 meter persegi, terletak di pinggir jalan raya Sittwe – Yangon.” Hal penting lainnya, tambah Ichsan, lokasi ini juga tetap mudah diakses dan dapat memberikan pelayanan bagi warga Rakhine State dari kedua belah pihak baik Muslim maupun Budha. Di samping lahan RS Indonesia saat ini ada rumah sakit tua (station hospital) yang dibangun tahun 1972 yang sudah mengalami beberapa kerusakan. Pada kesempatan kunjungan tersebut Tim memberikan santunan pada para pasien yang terbaring di bangsal RS yang sekitar 70% adalah warga Muslim. Tim memberikan santunan kepada pasien baik muslim maupun budha dan kepada paramedis. Rumah sakit (station hospital) inilah yang selama ini menjadi tumpuan warga sekitar dikala sakit. Apabila RS Indonesia telah selesai, maka operasional pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan yang ada akan dipindahkan ke RS Indonesia. Pembangunan RS Indonesia adalah program kerjasama MER-C (medical Emergency Rescue Committee) bersama PMI (Palang Merah Indonesia) dengan dukungan Pemerintah RI. MER-C kembali mengajak berpartisipasi masyarakat Indonesia dalam mewujudkan program ini. RS Indonesia di Myanmar diharapkan dapat menjadi salah satu diplomasi kemanusiaan dalam bidang kesehatan yang dapat mendorong terciptanya perdamaian bagi warga Muslim dan Budha di negara ini.
MER-C dan Kemenkes Myanmar Tandatangani Kesepakatan Pembangunan Rumah Sakit

Selasa/16 Mei 2017 menjadi salah satu hari bersejarah dalam rangkaian proses pembangunan RS Indonesia di Myanmar. Pada hari ini, dilakukan penandatanganan kesepakatan jenis rumah sakit yang akan dibangun oleh MER-C bekerjasama dengan PMI di Mrauk U, Rakhine State, Myanmar. Penandatanganan dilakukan antara Ketua Tim Pembangunan RS Indonesia di Myanmar, drs. Ichsan Thalib dengan Wakil Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan dan Olahraga Myanmar, dr. Myat Wunna Soe, di Naypyidaw. Penandatanganan turut disaksikan oleh Faried Thalib (Presidium MER-C), Idrus M. Alatas Ketua Divisi Konstruksi MER-C serta Pelaksana Fungsi Sosial Budaya KBRI Yangon, Yasfitha Febriany Murthias. Menurut Ichsan Thalib, RS Indonesia akan berjenis station hospital sesuai standar nasional yang berlaku di Myanmar. Untuk itu, disain yang sudah dibuat oleh Divisi Konstruksi MER-C akan disesuaikan dengan jenis Rumah Sakit yang sudah disepakati. “Detail disain akan dinegosiasikan lagi besok” tambahnya. Lebih lanjut Ketua Tim Pembangunan RS Indonesia menyampaikan bahwa Pemerintah Myanmar sangat mengapresiasi bantuan rumah sakit dari rakyat Indonesia yang akan dibangun di wilayah Muslim dan Budha. RS Indonesia nantinya akan dioperasionalkan oleh pemerintah Myanmar. Tenaga kesehatan dari Indonesia bisa membantu sebagai relawan di rumah sakit ini. Mengenai teknis pembangunan, Ketua Divisi Konstruksi MER-C, Idrus M. Alatas menjelaskan bahwa sebagai wilayah dengan iklim monsoon, maka perlu dilakukan pengurugan lahan RS Indonesia. Pengurugan akan dibuat setinggi dua meter untuk mengantisipasi banjir. “Dalam kunjungan sepekan ini kita harapkan dapat deal untuk pengerjaan tahap infrastruktur, yaitu pagar dan pengurugan lahan rumah sakit.” Hari Rabu ini tim pembangunan RS Indonesia bersama KBRI dijadwalkan bertolak ke Sittwe, Ibukota Rakhine State untuk bertemu dan berkoordinasi dengan pemerintah dan kontraktor lokal. Dukungan dan donasi untuk program Pembangunan RS Indonesia di Myanmar: Bank Mandiri, 124.000.8111.982 BSM, 700.1306.833 BCA, 686.028.0009 Semua rekening a/n. Medical Emergency Rescue Committee Info: www.mer-c.org 0811990176
Diplomasi Kemanusiaan, MER-C berangkatkan Insinyur untuk Bangun RS Indonesia di Myanmar

Jakarta – Hari ini, Senin/15 Mei 2017, MER-C melepas keberangkatan tiga relawan teknis yang akan menindaklanjuti rencana pembangunan sarana kesehatan di wilayah konflik Rakhine State, Myanmar. Ketiga relawan teknis dari Divisi Konstruksi MER-C tersebut adalah Drs. Ichsan Thalib (Project Manager RS Indonesia di Myanmar), Dr. Ir. Idrus Muhamad Alatas, M.Sc (Ketua Divisi Konstruksi MER-C) dan Ir. Faried Thalib (Presidium MER-C yang memiliki pengalaman sebagai Ketua Tim Pembangunan RS Indonesia di Gaza, Palestina). Tim bertolak ke Myanmar untuk bertemu dan berkoordinasi dengan pemerintah dan pihak-pihak terkait di negara ini. Tim teknis MER-C dijadwalkan akan berada di Myanmar selama 6 hari hingga tanggal 21 Mei 2017. Sejumlah agenda untuk bisa segera merealisasikan program ini seperti pertemuan dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, konsultan dan kontraktor pembangunan telah diagendakan atas bantuan dan fasilitasi Kemenlu RI dan KBRI Yangon. Diharapkan dalam waktu satu minggu tim berada di Myanmar, seluruh agenda misi dapat terlaksana. MER-C tidak sendiri, lembaga PMI (Palang Merah Indonesia) telah berkomitmen bekerjasama mewujudkan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar. MER-C juga berharap dukungan dan partisipasi dari seluruh rakyat Indonesia untuk dapat merealisasikan RS Indonesia di wilayah ini seperti halnya yang telah kita lakukan di Gaza, Palestina. Pembangunan RS Indonesia di Myanmar diharapkan dapat menjadi salah satu diplomasi kemanusiaan rakyat Indonesia dalam bidang kesehatan, setelah Pemerintah Indonesia melakukan hal serupa di bidang pendidikan dengan membangun 4 sekolah di Rakhine State. Setelah pembangunan RS Indonesia di wilayah terblokade Jalur Gaza (Palestina), MER-C mulai berfokus pada wilayah konflik di belahan dunia lainnya. Rakhine State, Myanmar menjadi pilihan untuk program kemanusiaan jangka panjang MER-C selanjutnya. Berdasarkan hasil assessment tim medis pertama MER-C ke wilayah ini pada September 2012 lalu ke Rakhine State, MER-C memutuskan untuk melakukan pembangunan sarana kesehatan yang keberadaannya masih sangat dibutuhkan masyarakat setempat. Program ini pun mendapat apresiasi dan dukungan dari Pemerintah kedua negara. Dukungan dan bantuan bagi program Pembangunan “RS INDONESIA” di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui: Bank Mandiri, 124.000.8111.982 BSM, 700.1306.833 BCA, 686.028.0009 Semua rekening a/n. Medical Emergency Rescue Committee Info : www.mer-c.org 0811990176
MER-C Bangun TPA di Wilayah Pasca Gempa Pijay Aceh

Menindaklanjuti misi kemanusiaan sebelumnya ke wilayah pasca gempa Pijay Aceh pada Desember 2016 lalu, kini MER-C kembali mengirimkan tim relawannya. Selain melakukan kegiatan pelayanan kesehatan dan konseling bagi masyarakat korban gempa khususnya anak-anak, tim juga melakukan survey lokasi untuk penyaluran bantuan amanah dari para donatur. Tim dipimpin oleh salah satu Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad dengan beranggotakan 11 relawan yang merupakan gabungan dari MER-C Pusat Jakarta, Aceh, Medan dan Yogyakarta. Untuk memberikan manfaat jangka panjang dan dalam rangka membantu korban gempa Pijay melengkapi fasilitas umum yang dibutuhkan masyarakat setempat, MER-C akan membangun fasilitas Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA), tepatnya di desa Blangusi, kelurahan Blangusi, kecamatan Ulim, kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Wilayah ini dipilih karena merupakan salah satu wilayah terdampak gempa. “TPA akan dibangun di atas tanah wakaf seluas 20 x 10 meter. Kita telah melakukan koordinasi dengan Pemda setempat dan Pemda sangat mendukung program ini. Setibanya di Jakarta, tim kami akan segera membuat rancangan bangunan TPA. Dengan donasi yang ada, kami berharap TPA ini bisa segera terealisasi dalam waktu dekat,” papar Sarbini Abdul Murad saat kunjungannya ke Aceh. Ke depan, Tim MER-C dari Medan juga akan mengadakan program trauma healing di TPA ini. Lebih lanjut menurut Sarbini, bangunan TPA juga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan sosial atau kegiatan masyarakat lainnya. Selama misi kali ini, Tim MER-C mengadakan bantuan pelayanan kesehatan di empat lokasi di dua kecamatan di kabupaten Pidie Jaya, yaitu kecamatan Ulim dan kecamatan Bandar Baru. Selain pelayanan kesehatan, relawan MER-C juga melalukan konseling, terutama kepada anak-anak korban gempa. Metode yang digunakan adalah konseling sederhana dengan pendekatan personal terhadap pasien dengan melibatkan keluarganya.
MER-C Kirim Tim ke-3 ke Bima

Rabu/28 Desember 2016, sekitar pukul 16.00, MER-C melalui cabangnya di Mataram kembali mengirimkan tim relawan ke Bima. Tim ini adalah tim ke-3 yang dikirimkan ke wilayah bencana banjir bandang Bima sejak banjir menerjang wilayah ini pada hari Rabu/21 Desember 2016. Selain melanjutkan kegiatan pelayanan kesehatan pasca bencana terhadap para korban, tim juga bertugas melakukan assessment terhadap dampak banjir bandang terutama di bidang medis. Tim yang terdiri dari tiga relawan, yaitu dr. AD Irma Ramdani (Ketua MER-C Cabang Mataram), dr. Denuna Enjana dan dr. Muhammad Nauval berangkat dari Mataram menuju Bima melalui jalur darat dengan menggunakan ambulance. Tim membawa bantuan obat-obatan, alat medis, pakaian, dan bantuan logistic lainnya. Bantuan Donasi untuk korban banjir bandang Bima dapat disalurkan ke: BCA, 686.0099.339 An. Medical Emergency Rescue Committee Info lebih lanjut: 0811990176 www.mer-c.org
Tim MER-C Susuri Wilayah-wilayah Gempa di Aceh

Aceh. Menyusul gempa berkekuatan 6,4 SR, MER-C segera menggerakkan relawannya yang berada di Aceh dan Medan untuk menuju lokasi bencana guna melakukan Early Assessment of Disaster. Rabu pagi, relawan MER-C di Aceh mulai bergerak ke lokasi bencana, disusul oleh ambulans dan tim medis dari MER-C Cabang Medan. Setelah melakukan koordinasi dan assessment, Kamis/8 Desember 2016, Tim MER-C langsung menuju posko Tampung Blang Cut, Meusa Jurung, Kecamatan Meurah Dua. Posko pengobatan di posko ini menangani pasien korban gempa sebanyak 108 orang, terdiri dari 33 pasien anak-anak dan 75 pasien dewasa dengan mayoritas lansia. Jum’at/9 Desember 2016 Tim MER-C mencari wilayah gempa lainnya yang masih minim bantuan medis. Tim melakukan pelayanan kesehatan di posko Masjid Besar At-Taqarrub Tarienggading. Jumlah pasien yang mendapatkan pengobatan sebanyak 84 orang, yang terdiri dari 28 orang anak-anak dan 56 orang dewasa. Di hari yang sama, Tim Medis MER-C melanjutkan pengobatan ke posko Desa Gampong Dee. Sesampainya di posko Gampong Dee, Tim sempat merasakan getaran gempa pada pukul 16:50 waktu setempat. Para pengungsi terlihat masih dalam keadaan trauma. Pasca gempa anak-anak dan ibu-ibu pun langsung menangis. Di posko ini, Tim MER-C juga menemukan pasien trauma pasca bencana, yaitu seorang wanita yang tidak dapat menggerakkan anggota gerak bawah. Pasien selanjutnya dirujuk ke RS Sigli untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Jumlah pasien di posko Gampong Dee sebanyak 78 orang, dengan perincian dewasa 48 orang dan anak-anak 30 orang. Sabtu/10 Desember 2016, Tim MER-C kembali menyusuri wilayah gempa lainnya di Aceh. Kali ini Tim berupaya mencapai desa Temanah, kecamatan Trienggading yang sama sekali belum mendapatkan bantuan medis disebabkan akses yang sulit dan jarak tempuh yang jauh. Tim MER-C berhasil mencapai desa ini dan membuka posko pengobatan. Pada kegiatan ini MER-C kolaborasi dengan Tim Medis dari TNI-AD, TNI-AL, dan TNI-AU. Jumlah pasien korban gempa yang mendapatkan pelayanan medis sebanyak 128 orang. Pelayanan medis yang dilakukan Tim MER-C selama di lapangan adalah pengobatan dasar, perawatan luka, ekstraksi kuku, eksisi abses, transportasi pasien trauma, serta pemeriksaan dan konsultasi kehamilan
MER-C Kirimkan Relawan dari Aceh dan Medan Bantu Korban Gempa Pidie

Aceh, Duka kembali menoreh Aceh. Rabu, 07 Desember 2016 sekitar pukul 5 pagi, gempa berkekuatan 6,4 SR mengguncang tiga kabupaten di wilayah Aceh, yaitu Kab Pidie Jaya, Kab. Pidie dan Kab. Bireun. Relawan MER-C wilayah Aceh, yaitu Ira Hadiati, SH yang juga pernah diamanahi sebagai Project Manager MER-C untuk bencana tsunami Aceh beberapa tahun silam, bersama relawan lokal lainnya langsung menuju lokasi gempa untuk melakukan penilaian awal bencana. Sore harinya di hari yang sama, MER-C Cabang Medan sebagai cabang yang terdekat dengan lokasi bencana, juga segera mengirimkan relawan medisnya dengan menggunakan ambulans menempuh jalur darat menuju Aceh. Tim yang diketuai oleh dr. Rifwanul Basir Nst ini berencana melakukan mobile clinic untuk menjangkau korban-korban gempa yang mengalami luka ringan agar bisa langsung mendapat penanganan medis sehingga tidak perlu dirujuk ke Rumah Sakit. Laporan sementara dari Tim MER-C di lapangan, korban meninggal akibat gempa sampai sudah mencapai 96 orang, kasus luka berat sebanyak 125 orang dan kasus luka ringan sebanyak 452 orang. Total pengungsi sebanyak 3.200 orang. Saat ini sudah tersedia 21 posko yang tersebar di 5 kecamatan. Tim Medis MER-C mendapat wilayah tugas di Kampung Blang Cut, Meusa Jurung, kecamatan Meurah Dua. Pelaksanaan yang dilakukan oleh Tim Medis MER-C adalah pemeriksaan dan pengobatan dasar serta pemeriksaan dan konsultasi kandungan. Tim medis awal ini diperkirakan akan bertugas hingga satu minggu ke depan atau lebih tergantung kondisi di lapangan. Relawan dari MER-C Pusat dan cabang lainnya baik tim medis umum maupun tim bedah bersiaga dan siap diberangkatkan sewaktu-waktu apabila dibutuhkan berdasarkan hasil penilaian tim yang sudah berada di lapangan. Bantuan untuk korban bencana gempa bumi Aceh dapat disalurkan melalui : Bank Syariah Mandiri (BSM), 701.565.8937 An. Medical Emergency Rescue Committee Info : 021-3159235 / 0811990176 www.mer-c.org
MER-C Siagakan 200 Relawan Medis untuk Aksi 212

y;”> /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} Jakarta, Animo relawan medis untuk turut mengawal Aksi Bela Islam III bertambah besar. Hal ini terlihat dari jumlah relawan yang mendaftarkan diri untuk menjadi Tim Medis MER-C pada Aksi Super Damai 212 meningkat dua kali lipat lebih. Sebelumnya pada Aksi Bela Islam ke-2, Jumat (4/11) jumlah Tim Medis MER-C sebanyak 70 orang, kali ini jumlahnya mencapai hampir 200 orang. Tim terdiri dari berbagai dokter spesialis, dokter umum, dokter gigi dan perawat serta relawan pendukung lainnya. Tidak hanya menyiagakan Tim Medis di lokasi utama aksi, yaitu Monas, MER-C juga menyiagakan Tim Medis di Masjid Istiqlal, salah satu tempat menginap terbesar bagi para peserta aksi yang datang dari luar Jakarta dan di Masjid At-Tin TMII yang menjadi tempat kedatangan peserta aksi yang berjalan kaki dari Ciamis. Posko Kesehatan MER-C di Masjid Istiqlal mulai diaktifkan sejak H-2 atau Rabu sore karena seperti aksi sebelumnya, peserta aksi diperkirakan mulai berdatangan sejak dua harinya sebelumnya. Pada H-1, Kamis/1 Desember 2016, seiring makin banyaknya peserta aksi yang tiba di Istiqlal, MER-C mengaktifkan posko kesehatannya non-stop sejak Kamis hingga Jumat malam. Ratusan peserta aksi dari berbagai daerah yang kelelahan dan sakit datang ke posko kesehatan MER-C untuk mendapatkan pelayanan medis. Peserta aksi yang berjalan kaki dari Ciamis juga turut menjadi perhatian Tim MER-C. Kamis/1 Desember 2016, MER-C mengirimkan satu tim medisnya untuk mengawal para peserta aksi yang masih dalam perjalanan menuju Jakarta. Tim Medis MER-C akhirnya menuju ke Masjid At-Tin dan membuka posko kesehatan di masjid ini setelah adanya informasi bahwa peserta aksi sudah difasilitasi bus dan telah berdatangan di Masjid At-Tin TMII. Meski hari yang sudah menjelang malam, posko kesehatan tetap diserbu oleh para peserta aksi dari Ciamis untuk mendapatkan pengobatan atas keluhan kesehatan yang mereka alami. Sementara itu, mengantisipasi jumlah peserta aksi dan jumlah tim medis yang lebih besar, maka divisi bantuan dan logistic pada aksi 212 mempersiapkan lebih banyak set obat dan alat medis, yaitu sebanyak 100 paket untuk pelayanan mobile dan penanganan kasus emergency. Selain itu, MER-C juga menyiagakan 4 ambulans dan 2 kendaraan operasional untuk mengawal aksi.
Puluhan Relawan Medis MER-C Kawal Aksi Damai 4/11

Jum’at, 4 November 2016 telah berlangsung aksi damai rakyat terbesar sepanjang sejarah NKRI. MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) sebagai sebuah lembaga kegawatdaruratan medis untuk korban perang, kekerasan akibat konflik, kerusuhan, kejadian luar biasa, dan bencana alam menurunkan sekitar 70 relawan untuk mengawal aksi ini disertai dua ambulans dan dua kendaraan operasional. Sesuai pembagian wilayah kerja dari Panitia Pusat Bidang Medis GNPF-MUI (Gerakan Nasional Pengawal Fatwa – Majelis Ulama Indonesia), titik lokasi Tim MER-C berada di depan gedung Indosat. Untuk aksi kali ini Tim MER-C dibagi menjadi 4 kelompok besar, ada yang bertugas standby di posko tetap dan ada yang bertugas mobile menyebar menjadi tim-tim kecil lagi untuk memantau kondisi para peserta aksi yang membutuhkan pertolongan medis. Melengkapi kerja relawan, MER-C juga menyiapkan 10 set emergency kit dan beberapa perlengkapan emergency pendukung lainnya seperti tandu lipat, oksigen dan lain-lain untuk persiapan penanganan medis di lapangan sebelum korban dirujuk ke Rumah Sakit. dr. Zackya Yahya Setiawan, SpOk selaku Koordinator Lapangan Tim Medis MER-C untuk Aksi Damai 4/11 mengatakan bahwa Tim memutuskan standby hingga malam hari dikarenakan masih ada konsentrasi massa di sekitar Istana. Keputusan ini tepat karena menjelang jam 7 malam mulai terjadi kericuhan dan penembakan gas air mata yang mengakibatkan sejumlah peserta aksi menjadi korban. Dengan peralatan yang ada, Tim MER-C segera memberikan pertolongan medis kepada para korban yang saat itu dievakuasi ke area gedung RRI (Radio Republik Indonesia). Hari yang sudah mulai gelap membuat Tim MER-C harus bekerja dengan penerangan seadanya. Usai menangani pasien di lokasi aksi ini, Tim MER-C melanjutkan pengawalan peserta aksi yang bergerak ke gedung DPR/MPR RI.
Bisik Daun Ti Garut…

Bisik Daun Ti Garut adalah rangkaian program “Trauma Healing” hasil kerja bareng Relawan MER-C, WANADRI, Lima Amanah, Panti Asuhan Ibu Aledja Garut, Sumber Alam Garut, ITB’83 dan ILUNI UI. Kegiatan difokuskan di salah satu wilayah terdampak banjir bandang terparah, yaitu kecamatan Tarogong Kidul, khususnya kampung Cimacan, Sabtu/29 Oktober 2016. Bertempat di LEC, Terminal Guntur, Garut, kegiatan dibuka dengan pelayanan kesehatan oleh Tim MER-C yang dimulai sejak pukul 9 pagi – 12 siang. MER-C menurunkan 17 relawannya untuk bertugas pada kegiatan ini. Tercatat sekitar 200 warga korban banjir yang mendapat bantuan pengobatan. Ini adalah kedua kalinya Tim MER-C menyambangi Garut. Sebelumnya, pada masa tanggap darurat, 23 – 25 September 2016, MER-C mengirimkan Tim Medis pertamanya untuk memberikan bantuan medis kepada para korban. Dalam rangka menghibur warga korban banjir, usai pengobatan kegiatan dilanjutkan dengan berbagai acara, seperti persembahan Barongsay dan Taiko dari anak-anak Panti Asuhan Ibu Aledja, pembacaan puisi oleh Sha Ine Febriyanti, penampilan dari grup band Maximum Theory dan Swara Sabila. Sementara ITB’83 dan ILUNI UI memberikan bantuan berupa MCK dan sarana air bersih. Acara ditutup dengan nonton bareng (layar tancap), film Nagabonar.