MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Banjir Bandang Melanda Garut, MER-C Turunkan Tim Medis

Setelah mengumpulkan informasi dan berkoordinasi dengan jaringan MER-C di wilayah bencana Garut, Jawa Barat, Jum’at pagi/23 September 2016 MER-C segera mengirimkan relawannya sebagai Tim Advance untuk melakukan penilaian dan pemetaan serta memberikan bantuan pengobatan kepada para korban. Tim yang diturunkan dari Jakarta sebanyak 8 relawan, sementara relawan tambahan, diantaranya Dokter Spesialis Anak langsung bergabung dengan Tim di lokasi bencana.   Dalam bencana banjir bandang di Garut, MER-C kembali bekerjasama dengan Perhimpunan Penempuh Rimba dan Pendaki Gunung (Wanadri). Ini bukan yang pertama, MER-C dan Wanadri sebelumnya pernah bekerjasama pada misi kemanusiaan medis untuk korban bencana gempa bumi di Nepal pada tahun 2015 lalu. Setelah berkoordinasi dengan relawan Wanadri yang sudah tiba di lokasi bencana lebih awal, Sabtu pagi/24 September 2016, relawan MER-C dan Wanadri melakukan penyisiran ke wilayah terdampak banjir di Garut yang belum mendapat bantuan medis. Wilayah yang dituju tim adalah desa Banjarsari, kecamatan Bayongbong, salah satu wilayah yang terdampak banjir. Jembatan yang terputus membuat Tim harus melalui jembatan sementara yang ada untuk mencapai lokasi bencana. Melihat kondisi desa Banjarsari dan informasi dari warga setempat, maka Tim memutuskan untuk mengadakan pengobatan bagi warga korban banjir di RW 03 Kampung Pasantren dan RW 05 Kampung Rancamidin yang berada di Desa Banjarsari, Kec. Bayongbong. Warga yang berobat pada hari ini berjumlah 75 orang. Minggu/25 September 2016, tim kembali melakukan penyisiran ke wilayah banjir lainnya. Pada hari ke-3 misi, Tim menuju desa Mekarjaya, kecamatan Cikajang dan menggelar pengobatan bagi warga di wilayah ini. Hasil pengamatan dan evaluasi dari Tim Advance ini akan didiskusikan untuk menentukan langkah lebih lanjut bagi korban bencana banjir bandang Garut.                     

MER-C Akan Turunkan Tim Relawan ke Poso Bantu Evakuasi 16 DPO

MER-C yang pernah menurunkan Tim Medisnya ke Poso ketika wilayah ini dilanda konflik pada tahun 2000 silam, kini akan kembali mengirimkan relawannya ke Poso. Hal ini dinyatakan salah satu Presidium MER-C, dr. Joserizal Jurnalis, SpOT saat menghadiri pertemuan dan konferensi pers dengan Tim 13 yang digelar di Kantor Komnasham, Selasa/9 Agustus 2016. Sebelumnya Komisioner Komnasham yang juga merupakan anggota Tim 13, Siane Indriani menawarkan MER-C untuk ikut terlibat dalam proses evakuasi 16 orang sisa kelompok Santoso, Presidium MER-C langsung merespon hal ini karena MER-C memiliki pengalaman melakukan misi kemanusiaan di wilayah konflik di Poso. “Kita menganggap persoalan terorisme bukan lagi persoalan up to date. Program war on terror sudah banyak dipakai oleh si pembuatnya sendiri di Timur Tengah. Kita ingin di Indonesia persoalan ini juga selesai. Jangan sampai ini menjadi program yang dianggap penting di NKRI, karena di dunia lain juga sudah redup. Makanya kami ingin terlibat di sini. Ketika Ibu Siane menawarkan hal ini, kami langsung merespon ya,” tutur Joserizal. MER-C berencana akan menugaskan 3 hingga 4 orang relawan ke Poso. Relawan yang dipilih untuk ditugaskan dalam misi kali ini adalah para relawan wanita yang akan terdiri dari dokter, perawat dan relawan non medis. MER-C akan membuka posko di Poso untuk jangka waktu 1 sampai 2 bulan sesuai dengan kondisi di lapangan. Presidium MER-C Joserizal menjelaskan bahwa fungsi relawan MER-C adalah masuk ke hutan dan menjemput 16 orang yang masih ada di hutan untuk kemudian membawanya turun. Hal ini dilakukan seandainya proses-proses operasi yang lain mengalami kebuntuan. Tim MER-C akan melakukan perawatan medis terhadap mereka jika ada yang mengalami hal-hal yang berhubungan dengan kesehatan. Berdasarkan informasi, dari 16 orang tersebut juga terdapat 2 orang wanita sehingga Tim MER-C akan menyiapkan juga masalah-masalah yang berhubungan dengan kesehatan wanita. Hal lainnya yang penting dalam proses ini menurut Joserizal adalah jaminan amnesti bagi para DPO. “Kita perlu jaminan kalau mereka bisa diberikan amnesty. Kalau mereka tidak bisa diberikan amnesti mungkin kelompok ini bisa kita amankan tapi yang lain akan tumbuh lagi dan tingkat kepercayaan akan hilang.” Selain mengirimkan relawan ke Poso, MER-C juga akan membantu operasi salah satu korban konflik Poso yang sampai saat ini masih terdapat peluru di badannya. Salah satu saksi hidup konflik Poso ini rencananya akan didatangkan ke Jakarta oleh Komnasham untuk menjalani pemeriksaan dan tindakan medis yang diperlukan.

MER-C Turunkan Tim Medis Bantu Korban Banjir dan Longsor di Carita dan Anyer

Musibah banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah Carita dan Anyer membuat MER-C menurunkan Tim Medisnya untuk memberikan bantuan pasca bencana kepada para korban. Rabu malam/27 Juli 2016, sebanyak 5 personil relawan berangkat dari kantor Pusat MER-C di Jakarta menuju lokasi bencana dengan membawa bantuan obat-obatan dan peralatan medis. Dengan kekuatan personil satu relawan dokter dengan spesialisasi penyakit dalam, satu perawat bedah dan relawan logistik serta relawan pendukung lainnya, Tim akan mencari lokasi bencana yang belum tersentuh bantuan medis. Sistem mobile clinic akan ditempuh guna menjangkau para korban bencana yang masih terisolir.   Bekerjasama dengan TAGANA Kabupaten Pandeglang, esok paginya Kamis/28 Juli 2016, Tim langsung melakukan koordinasi dengan Kecamatan dan Puskesmas Carita. Dari hasil koordinasi, Tim mendapat informasi bahwa ada 4 desa yang terendam banjir, yaitu Desa Sukanegara, Banjarmasin, Sukajadi dan Carita. Diantara ke empat desa tersebut, desa yang paling parah terkena dampak bencana adalah desa Sukajadi. Dengan didampingi oleh relawan TAGANA, Tim melakukan suvai langsung ke desa ini dan memutuskan untuk membuka posko pengobatan di Kampung Pagedongan dan Kampung Sukun. Dari dua kampong, total jumlah pasien yang ditangani Tim MER-C mencapai 201 orang dengan perincian 141 pasien di kampong Pagedongan dan 60 pasien di kampong Sukun. Dikarenakan ada korban bencana yang tidak mampu datang ke posko untuk berobat, Tim MER-C kemudian mendatangi rumah pasien (home visit) dengan arahan dari warga. Dari 201 pasien tersebut, sebanyak empat pasien harus dirujuk ke sarana kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Dari pengamatan Tim, pemerintah Pandeglang cukup sigap dalam menangani bencana ini. Secara umum, tidak ada korban yang dalam kondisi gawat dan sebagian besar penyakit yang ditemui adalah penyakit pasca bencana dalam kategori ringan sedang. Tim MER-C juga memprediksi tidak akan terjadi kejadian luar biasa untuk penyakit pasca bencana di wilayah Carita. Untuk itu, Jum’at pagi/29 Juli 2016, Tim kembali bergerak mencari wilayah lainnya yang masih membutuhkan bantuan medis. Kali ini Tim menuju kecamatan Mancak di kabupaten Serang. Bersama dengan relawan dari BNPB Provinsi, Tim melakukan koordinasi dengan Puskesmas Mancak. Kepala Puskesmas Mancak mengarahkan tim untuk menuju ke Kampung Cikedung yang merupakan lokasi terjadinya bencana. Pukul 13.00, tim turun ke lokasi longsor dan banjir bandang dengan menggunakan sepeda motor yang ditempuh selama 30 menit. Perjalanan kemudian harus dilanjutkan dengan berjalan kaki selama 2 jam karena akses ke lokasi bencana yang tidak bisa dilalui oleh kendaraan. Sepanjang berjalan kaki, tim melihat kerugian material yang sangat besar dari bencana ini walau semua penduduk dapat diselamatkan. Dua jam berjalan kaki dengan medan yang luar biasa berlumpur, tim akhirnya tiba di lokasi dan langsung membuka posko pengobatan di kampung Baru. Kampung Baru merupakan kampung yang terisolir karena semua akses ke dunia luar tertutup lumpur. Selain memberikan pelayanan medis bagi 76 pasien korban bencana alam, di kampung ini Tim juga melakukan 2 kunjungan ke rumah pasien (home visit) yang tidak dapat datang ke posko untuk berobat. Hari mulai beranjak gelap ketika tim MER-C selesai memberikan bantuan pengobatan kepada warga. Karena perjalanan yang cukup berbahaya untuk ditempuh pada malam hari, Tim memutuskan dan meminta izin menginap di rumah Ketua Kampung Cikedung. Seperti halnya di kecamatan Carita, walaupun tidak ditemui korban jiwa di wilayah bencana ini, namun Tim melihat kerugian material yang sangat besar dan merugikan banyak pihak. Meskipun longsor dan banjir bandang hanya terjadi di 4 desa, namun dikarenakan akses menuju 12 desa hanya melalui satu jalur sehingga bencana ini menyebabkan 8 kampung lainnya juga terisolir.  

MER-C Cabang Jogja Turunkan Tim Medis Bantu Korban Longsor Purworejo

Yogyakarta – Sabtu malam/18 Juni 2016, bencana tanah longsor melanda kabupaten Purworejo, Jawa Tengah menyebabkan korban jiwa sedikitnya 47 orang. Menyusul bencana yang terjadi, MER-C Cabang Jogjakarta segera mempersiapkan relawannya untuk melakukan misi kemanusiaan ke wilayah ini. Senin/20 Juni 2016, Tim yang terdiri dari 7 orang relawan dengan komposisi 3 personil medis dan 4 personil non-medis berangkat ke lokasi bencana.   Setelah sebelumnya melakukan koordinasi dengan IOF (Indonesian Offroad Federation) Purworejo, Tim MER-C memutuskan untuk menuju ke desa Jelok, salah satu titik dari 4 titik bencana longsor di kabupaten Purworejo. Setibanya di lokasi, tim dibagi menjadi dua. Tim pertama melakukan pelayanan medis di pos pengungsian Balai Desa Jelok dan tim kedua melakukan assessment di wilayah Jelok, kemudian dilanjutkan ke wilayah Caok dan Donorati sambil memberikan bantuan medis awal. Pengungsian di Balai Desa Jelok mencapai 211 jiwa. Seluruh dusun yang berada di atas Jelok termasuk wilayah terdampak longsor. Tim MER-C yang bertugas ke desa ini segera melakukan assessment dan pelayanan medis bagi warga korban longsor yang mengungsi di Balai Desa Jelok. Setelah melakukan asesmen dan pelayanan medis diwilayah Jelok, Selasa subuh/21 Juni 2016, Tim MER-C bergerak ke wilayah Caok  dan Donorati yang merupakan dua lokasi terparah akibat bencana longsor Sabtu lalu. Di desa Caok ternyata tidak ada pengungsi yang tinggal di posko, kegiatan masih difokuskan pada evakuasi korban di titik longsor Caok. Di desa ini, Tim hanya membantu medis bagi beberapa relawan yang luka-luka ketika melakukan evakuasi. Karena beberapa lembaga sudah nampak standby di titik ini, maka Tim MER-C memfokuskan pelayanan kesehatan ke wilayah Dororati dikarenakan wilayah ini masih terisolir dan belum tersentuh bantuan medis secara maksimal. Warga desa pun sudah mulai terserang penyakit seperti diare, muntah/mual, flu dan gangguan kesehatan lainnya. Pelayanan kesehatan dilakukan di dua titik, yaitu di Balai Desa Donorati dan di dekat dapur umum. Selain memberikan pelayanan kesehatan di posko, dengan bantuan warga dan menggunakan sepeda motor, Tim MER-C juga melakukan mobile ke wilayah-wilayah di Donorati yang masih terisolir. Hal ini dilakukan agar distribusi pelayanan medis dapat merata dan menjangkau warga yang kesulitan akses mencapai posko kesehatan.   Info lebih lanjut : Website: mercjogja.org Facebook: MER-C Jogjakarta FP: MER-C Jogjakarta Twitter: @JogjaMERC Ig: merc_jogja Jl kaliurang km 6,7 Gg Timor-timur no E4B, Sono, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogya 0821-3525-8145  

MER-C DIY Kirim Tim ke-2 ke Gunung Lawu

Selasa (27/10), MER-C DIY kembali memberangkatkan Tim Medis ke gunung Lawu, Cemorosewu, Magetan. Tim terdiri dari 7 orang relawan, yaitu : 1. dr. Kurniawan Harya 2. dr. Naila Amalia 3. Nanang Khoirino 4. Aji Widyatmoko 5. Ikhsan Adi Kurniawan 6. Mega Rizkawati 7. Sakti Mutiara Evitasari Pada misi kali ini, Tim MER-C DIY berencana melakukan mobile clinic pasca terjadi lagi kebakaran hebat di Gunung Lawu hari Minggu sore lalu. Berdasarkan laporan SAR UNS, masyarakat di sekitar lokasi kejadian mulai terserang penyakit seperti batuk-batuk dan muntah akibat terpaan asap pembakaran.   Sebelumnya, pada hari Selasa (20/10), MER-C DIY bersama MER-C Solo juga telah mengirimkan Tim Pertama yang merupakan Tim pendampingan medis untuk BPBD, SAR, para relawan dan juga para korban dalam proses pengevakuasian korban kebakaran di gunung Lawu, Cemorosewu, Magetan. Dukungan dan bantuan bagi program ini dapat disalurkan melalui: Bank Syariah Mandiri a/n. MER-C DIY No. Rek. 700.4995818 Info lebih lanjut: Markas MER-C DIY Jl. Kaliurang Km. 6,7 Gg. Timor Timur No. E 4 B, sono, Sinduadi, Mlato, Sleman, Yogyakarta Endah, Humas MER-C DIY (085758065994) Sekretariat MER-C DIY (082135258145)        

MER-C akan Bangun “Indonesia Health Center” di Mrauk U, Myanmar

Usai melakukan serah terima bantuan ambulans untuk masyarakat Rakhine State, dari Sittwe (ibukota Rakhine State), Tim ke-3 MER-C untuk Myanmar atas fasilitasi dari KBRI Yangon bergerak ke Minbya, Jum’at (28/8). Kunjungan ini dilakukan untuk meninjau dan memastikan rencana lokasi pembangunan “Indonesia Health Center” yang telah mendapat respon positif dari pemerintah Myanmar. Bahkan pemerintah Rakhine State, Myanmar telah menyediakan sebidang lahan, tepatnya di wilayah Mrauk U untuk pembangunan sarana kesehatan ini.   Selain meninjau lahan untuk “Indonesia Health Center”, Tim MER-C didampingi oleh Staf KBRI Yangon dan Staf Pemerintah Rakhine State juga akan mengunjungi bantuan sekolah yang telah dibangun oleh pemerintah Indonesia di Minbya, dimana sebelumnya pada Februari 2015 dengan donasi dari rakyat Indonesia, MER-C telah menyumbangkan dua unit genset untuk membantu kegiatan belajar mengajar di sekolah ini.   Jum’at pagi (28/8), Tim menuju pelabuhan di Sittwe, karena perjalanan ke Minbya harus melalui sungai dan delta sungai menggunakan speedboat selama kurang lebih 3 jam. Tujuan pertama Tim adalah mengunjungi sekolah bantuan dari pemerintah Indonesia. Ada dua unit sekolah yang telah dibangun pemerintah Indonesia di wilayah Minbya. Satu sekolah khusus untuk Budha dan satu sekolah khusus untuk muslim dengan jarak keduanya sekitar 500 meter. Masing-masing bangunan sekolah terdiri dari 2 lantai. Suasana pasca banjir masih terlihat di sana-sini, bahkan sekitar satu minggu lalu bangunan sekolah ini sempat terendam hingga 1 meter akibat bencana banjir yang melanda Myanmar. Anak-anak, baik di sekolah Budha maupun Muslim nampak ceria menyambut kedatangan Tim.   Menuju Mrauk U   Dari Minbya, Tim bersama Staf KBRI Yangon dan Staf Pemerintahan Rakhine melanjutkan perjalanan menuju Mrauk U yang ditempuh dengan menggunakan enam kendaraan jeep. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 1 jam, tim tiba di Mrauk U. Daerah ini pun masih terlihat porak poranda pasca terjangan bencana banjir.   Antara desa Muslim bernama Site berpenduduk sekitar 650 jiwa dan desa Budha bernama Nanja berpenduduk sekitar 1.700 jiwa, pemerintah Rakhine State telah menyiapkan sebidang lahan seluas 4.000 meter persegi untuk lokasi pembangunan “Indonesia Health Center”. Lokasi cukup strategis karena dapat diakses dengan dua sarana moda transportasi, yaitu dipinggir jalan raya Yangon – Sittwe dan di bagian belakangnya terdapat sungai besar yang berfungsi sebagai sungai transportasi.   Pembebasan Lahan untuk “Indonesia Health Center”   Di Rakhine State, seluruh tanahnya adalah milik negera. Untuk itu, setelah mempertimbangkan lokasi lahan yang cukup strategis dan wilayah ini pun adalah wilayah pasca bencana yang masih sangat membutuhkan adanya sarana kesehatan, maka Tim MER-C langsung melakukan proses pembebasan lahan dengan membayar ganti rugi kepada para petani penggarap. Saat itu juga, proses pembayaran kepada 3 orang petani penggarap lahan sebesar 1,6 juta kyat atau sebesar 17,6 juta rupiah langsung dilakukan di kantor Pemerintah Daerah setempat.   “Yang mengusulkan lokasi adalah pemerintah Rakhine State,” ujar dr. Joserizal Jurnalis, SpOT, Ketua Tim ke-3 MER-C untuk Myanmar. “Pertimbangannya adalah di Mrauk U ada komunitas Budha dan Muslim yang bisa hidup berdampingan, walaupun ada juga internal displacement,” tambahnya. Lebih lanjut Joserizal menyampaikan bahwa sekolah Indonesia di Minbya juga menjadi sarana berbaur masyarakat Budha dan Muslim. “Kita berharap Indonesia Health Center pun demikian dan akan menjadi bagian dari humanitarian politics MER-C berikutnya untuk masalah konflik di Myanmar,” imbuhnya.   Drs. Ichsan Thalib, anggota Tim dari Divisi Konstruksi MER-C memperkirakan dengan luas lahan 4.000 meter persegi, maka perkiraan biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan fisik “Indonesia Health Center” sekitar 3 Milyar rupiah, belum termasuk peralatan kesehatannya. “Biaya fix akan kami hitung kembali setelah tiba di Jakarta,” ujarnya.   Dukungan dan bantuan untuk pembangunan “Indonesia Health Center” dapat disalurkan melalui: Bank Central Asia (BCA), Rek. No. 686.028.0009  Bank Syariah Mandiri (BSM), Rek. No. 700.1306.833 Atas nama Medical Emergency Rescue Committee          

Misi Myanmar : MER-C Serahkan Bantuan Ambulans

Menunaikan amanah donasi dari rakyat Indonesia, Kamis (27/8), MER-C menyerahkan bantuan satu unit ambulans jenis Toyota Hiace Super Long Body kepada Chief Ministy of Health of Rakhine State. Serah terima dilakukan di kantor Chief Minister of Rakhine State yang turut dihadiri oleh Duta Besar RI untuk Myanmar DR. Ito Sumardi, dan sejumlah pejabat setempat diantaranya Chief Minister of Rakhine State, Ministry of Boarder Security, Ministry of Transportation, dan Ministry of Health. Bantuan ambulans dibeli oleh Tim MER-C pada bulan Februari 2015, ketika menunaikan misi ke-2 ke wilayah ini. Ambulans senilai 44.000 US dollar didatangkan langsung dari Thailand dan baru tiba di Sittwe, Rakhine State sekitar satu minggu yang lalu. Sementara itu, hari Jum’at ini (28/8), setelah mendapat respon positif dari Pemerintah Rakhine State, Tim MER-C didampingi oleh KBRI Yangon akan berangkat ke Minbya Township untuk meninjau rencana lokasi pembangunan “Indonesia Health Center” dan akan mengunjungi bantuan sekolah yang telah dibangun oleh Pemerintan Indonesia. Dukungan dan bantuan untuk pembangunan “Indonesia Health Center” dapat disalurkan melalui: Bank Central Asia (BCA), Rek. No. 686.028.0009  Bank Syariah Mandiri (BSM), Rek. No. 700.1306.833 Atas nama Medical Emergency Rescue Committee              

MER-C Kirim Tim ke-3 ke Myanmar

Jakarta – Sebagai bagian dari komitmen jangka panjangnya, Selasa (25/8), MER-C Indonesia kembali mengirimkan Tim Relawannya ke Rakhine State, Myanmar. Tim yang dikirimkan berjumlah tiga orang relawan, yaitu dr. Joserizal Jurnalis, SpOT selaku Ketua Tim, Drs. Ichsan Thalib dari Divisi Konstruksi MER-C dan dr. Tonggo Meaty Fransisca relawan yang telah mengikuti dua kali misi kemanusiaan ke wilayah ini. Keberangkatan tim ke-3 MER-C ke Rakhine State, Myanmar dimungkinkan setelah adanya izin dari MOFA (Ministry of Foreign Affairs) Myanmar yang pengurusannya difasilitasi oleh KBRI Yangon.   Tujuan keberangkatan tim kali ini adalah melakukan serah terima bantuan satu unit ambulans jenis Toyota Hiace Super Long Body donasi dari rakyat Indonesia. Selain itu, Tim juga akan melakukan peninjauan lahan di wilayah Minbya untuk rencana lokasi program pembangunan “Indonesia Health Center”.   Dukungan dan bantuan donasi untuk pembangunan “Indonesia Health Center” dapat disalurkan melalui :   Bank Central Asia (BCA), Rek. No. 686.028.0009 Bank Syariah Mandiri (BSM), Rek. No. 700.1306.833 Atas nama Medical Emergency Rescue Committee                  

Rute Menantang Jurang Menembus Tolikara

Ahad malam, 26 Juli 2015, lembaga medis kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) memberangkatkan Tim Konstruksi ke Tolikara, Papua. Tim terdiri dari tiga orang relawan yang diketua oleh Ir. Nur Ikhwan Abadi, relawan yang pernah memimpin dan terlibat aktif dalam proses pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina. Pengiriman tim ini adalah langkah awal dari program “Satu untuk Papua” yang dicanangkan oleh MER-C, pasca insiden kerusuhan yang terjadi di Tolikara, Papua.  Dengan pengalaman membangun sarana kesehatan di Aceh, Yogyakarta, Galela (Maluku Utara), dan Jalur Gaza, serta membangun sarana pendidikan di Padang Pariaman (Sumatera Barat), maka melalui program “Satu untuk Papua”, MER-C menetapkan program rehabilitasi jangka panjang untuk wilayah ini. “Apa yang akan kita bangun di Tolikara menunggu hasil assessment Tim ini,” ujar dr. Henry Hidayatullah, Ketua Presidium MER-C saat mengantar Tim di Bandara Soekarno Hatta Ahad malam (26/7). Kiprah MER-C di Papua sendiri sudah dimulai sejak Februari 2006 melalui Program Klinik Sosial di Timika dan Sorong.   Perjalanan menantang jurang Nur Ikhwan memaparkan kisah perjalanannya pada Senin 27 Juli 2015 untuk mencapai Tolikara, sebagaimana yang diterima Mi’raj Islamic News Agency (MINA) sebagai berikut: Pukul 12.20 WIT, kami bergerak dari Wamena menuju Tolikara menggunakan mobil Mitsubishi Strada. Alhamdulillah, meskipun hari sudah siang, kami masih bisa mendapat tempat duduk di dalam (bukan di bak belakang mobil), berkat bantuan Sertu Prayogi, teman Pak Abdullah (relawan MER-C yang turut dalam Tim) di Wamena. Sertu Prayogi mengantar hanya sebatas di Wamena saja. Satu mobil mengangkut 16 orang, yaitu dua di depan, empat di tengah (termasuk kami), dan sepuluh di luar. Ongkos pun berbeda, untuk di dalam harganya Rp 250.000 per penumpang dan untuk di luar harganya Rp 150.000 per penumpang. Sebelum berangkat, sopir mencari solar terlebih dahulu untuk cadangan bahan bakar. Harga solar per liter Rp 22.000, sedangkan bensin Rp 20.000 per liter. Setelah bahan bakar penuh, kami mulai berangkat keluar dari Wamena, namun sebelumnya penumpang dihentikan di sebuah rumah makan membeli perbekalan untuk selama perjalanan. Adapun Tim tidak membeli perbekalan, karena seorang sedang shaum (puasa) dan bekal dari Jakarta masih ada. Kemudian kendaraan berpenumpang 16 orang ini mulai bergerak menyusuri jalan pegunungan yang track-nya menantang. Jalan berkelok dan menanjak, ditambah lagi tidak sepenuhnya mulus atau banyak berlubang. Di kanan dan kiri adalah jurang, jika selip sedikit saja, jurang di kanan dan kiri siap menyambut. Diperkirakan, jika perjalanan lancar, akan memakan waktu 4-5 jam.   Terjebak di tengah hutan tanpa sinyal Setelah tiga jam perjalanan, mobil yang kami tumpangi mengalami masalah. Awalnya sopir menduga solar yang dipakai dicampur air oleh penjualnya, sehingga kendaraan tidak ada tenaga untuk menanjak. Namun setelah beberapa kali dicoba, ternyata kampas kopling Mitsubishi Strada ini rusak, sehingga kendaraan tidak bisa bergerak, meskipun sudah coba diperbaiki. Kendaraan dihentikan di tengah hutan pegunungan, kami mulai waspada, terlebih tidak adanya sinyal sedikit pun ditengah hutan seperti itu. Khawatir dengan situasi ini, kami terus tingkatkan kewaspadaan, mengingat ada peringatan dari Sertu Prayogi bahwa sering terjadi para penumpang dibawa ke tengah hutan oleh orang-orang OPM (Organisasi Papua Merdeka). Kendaraan terpaksa balik arah untuk mencari tempat yang ada sinyalnya. Namun sebelum mendapat sinyal, kendaraan sudah tidak dapat bergerak dan berhenti total. Sopir pun meminta semua penumpang turun dan dia akan berjalan kaki menuju ke sebuah tempat untuk menghubungi rekannya agar mengirim kendaraan cadangan. Tidak lama kemudian, sebuah mobil Toyota Hilux Double Cabin dengan bak belakang kosong melintas. Sopir Mitsubishi Strada langsung hentikan kendaraan tersebut dan meminta agar memberikan tumpangan kepada kami untuk ke Tolikara yang jaraknya masih tiga jam lagi. Setelah negosiasi, akhirnya kami dizinkan naik Toyota Hilux tadi, tapi di bak belakang karena di dalam sudah penuh. Sopir Strada memberi uang Rp 400.000 kepada sopir Hilux sebagai kompensasi untuk empat orang yang ikut di mobilnya. Kemudian ketika akan berangkat, empat orang penumpang Strada ikut juga naik ke kendaraan bersama kami. Dengan sopir orang lokal, kami pun mulai bergerak lagi, track yang kami lalui ternyata jauh lebih menantang dari sebelumnya. Jalan yang kami lalui sebelumnya ternyata belum apa-apa dari jalan yang kami lalui setelahnya. Mobil terus lanjutkan perjalanan yang terus menanjak, mobil berkali-kali berhenti untuk ambil ancang-ancang ketika akan menanjak. Jalan menanjak, berkelok, bebatuan campur tanah, jika hujan licin dan rawan longsor, kemiringan 45 derajat bahkan lebih. Ketika mobil akan menanjak ke puncak, si sopir berhenti dan meminta empat orang yang tadi naik tanpa persetujuan pemilik kendaraan untuk turun. Alasannya karena daerah tanjakan membuat mobil tidak kuat, dan juga karena mereka tidak bayar seperti kami berempat. Alhamdulillah, dengan izin Allah,  kami akhirnya tiba di Tolikara. Setelah melapor ke Koramil setempat, kami diarahkan untuk menginap di penginapan di belakang kantor Koramil, dekat pasar dan masjid yang dibakar. Keesokannya kami di minta melapor ke posko kemanusiaan yang dipusatkan di kantor bupati lama. (L/P001/P2) Sumber : http://mirajnews.com/id/artikel/feature/rute-menantang-jurang-menembus-tolikara/          

MER-C Kirim Tim Konstruksi ke Tolikara, Papua

Minggu malam (26/7), MER-C memberangkatkan Tim Konstruksi ke Tolikara, Papua. Tim terdiri dari tiga orang relawan yang diketuai oleh Ir. Nur ikhwan Abadi, relawan yang pernah memimpin dan terlibat aktif dalam proses pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. Pengiriman tim ini adalah langkah awal dari program “Satu untuk Papua” yang dicanangkan oleh MER-C, pasca insiden yang terjadi di Tolikara, Papua. Dengan pengalaman membangun sarana kesehatan di Aceh, Yogyakarta, Galela (Maluku Utara) dan Jalur Gaza, Palestina serta membangun sarana pendidikan di Padang Pariaman (Sumatera Barat), maka melalui program “Satu untuk Papua”, MER-C pun menetapkan program rehabilitasi jangka panjang untuk wilayah ini. Pengiriman tim relawan ke Tolikara yang merupakan Tim Advance bertujuan untuk melakukan initial assessment dan evaluasi kebutuhan sarana yang diperlukan warga setempat.  “Apa yang akan kita bangun di Tolikara menunggu hasil assessment Tim ini,” ujar dr. Henry Hidayatullah, Ketua Presidium MER-C saat mengantar Tim di Bandara Soekarno Hatta Minggu malam (26/7). Turut melepas keberangkatan Tim adalah dr. Joserizal Jurnalis, SpOT dan Ir. Faried Thalib, anggota Presidium MER-C.   Kiprah MER-C di Papua sendiri sudah dimulai sejak 9 tahun silam, tepatnya Februari 2006 melalui program Klinik Sosial yang berada di Timika (Papua) dan Sorong (Papua Barat). Program Klinik Sosial di Timika dan Sorong masih terus berjalan hingga saat ini melalui pelayanan kesehatan di klinik dan pelayanan secara mobile clinic untuk menjangkau desa-desa dan wilayah-wilayah yang jauh dari lokasi klinik.   Dukungan dan Donasi program “Satu untuk Papua” dapat disalurkan melalui: BCA, 686.06666.08 BNI Syariah, 08.111.92962 An. Medical Emergency Rescue Committee          

Silahkan bertanya?