Misi Kemanusiaan MER-C Wanadri Fokuskan Barat Kathmandu

Kepala RS Kanthipur sedang memberikan arahan kepada tim MER-C WANADRI.(Foto: Widi/MINA) Kathmandu, 22 Rajab 1435/11 Mei 2015 (MINA) – Lembaga kemanusiaan untuk medis dan kegawatdaruratan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) bersama dengan organisasi penjelajah gunung dan rimba WANADRI, akan melanjutkan misi medis ke Desa Capakot, Distrik Pokhara, barat ibukota Kathmandu. “Hari ini, kita sudah mendapat rekomendasi dari Kepala RS Kanthipur, dr. Buddhi Man Shrestha untuk melanjutkan misi kita ke Desa Capakot. Semoga misi kita berhasil,” kata Ketua Tim Saleh Soedrajat kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di Kathmandu, Senin (11/5). Desa Capakot terletak di sebelah barat kota Kathmandu. Desa tersebut berjarak 60 km dari desa wisata Pokhara, atau tujuh jam perjalanan darat dari Kathmandu dengan mengggunakan mobil pribadi. Tim MER-C dan WANADRI terdiri atas sembilan orang dengan satu dokter umum, dr Ratih Citra Sari, dokter spesialis Hadiki Habib, Sp. PD, dua perawat, Rita Tambunan dan Islamiyah Samaun, empat tim rescue, Saleh Soedrajat (ketua tim), Adriansyah Purwasunu, Rohmat Sopian dan Dadang Muhammad serta tim media dan dokumentasi, Widi Kusnadi (MINA). Sementara itu, dr. Buddhi Man menegaskan, kabar rencana datangnya tim medis dari Indonesia yang akan melakukan misi kemanusiaan di Capakot dan Pokhara serta sekitarnya, telah disiarkan melalui radio kepada pihak berwenang di dua daerah itu. Buddhi Man menyediakan fasilitas mobil dinas rumah sakit beserta tim pemandunya untuk mengantar dan menemani tim MER-C WANADRI sampai ke tempat tujuan hingga misi selesai. Dari penuturan Buddhi Man yang merupakan putra daerah Capakot, menyatakan, warga desa kelahirannya itu sampai saat ini masih mengalami trauma akibat gempa pekan lalu. “Ada delapan warga desa yang meninggal dan 255 rumah rusak berat akibat gempa. Warga desa mengirimkan surat permohonan agar ada tim medis yang masuk ke sana,” kata Buddhi Man. Sebelumnya, Kamis (7/5) lalu, MER-C WANADRI berhasil menjangkau dua desa di puncak pegunungan Ganesh, Kaurani dan Lapgaun di Distrik Halembu, wilayah Sindupalcowk untuk memberikan pengobatan medis. “Warga sangat antusias menyambut kedatangan tim medis kita. Untuk desa Kaurani jumlah pasien mencapai 170 orang, sedangkan di Lapgaun mencapai 120 orang,” kata dr Ratih Citra Sari, salah satu relawan yang mengikuti misi medis MER-C Wanadri itu. Sementara itu, pemandu tim MER-C dan WANADRI yang juga warga asli Kaurani, Ramba Ba mengatakan, warga desa sangat senang dengan kehadiran tim medis Indonesia itu. Bahkan salah seorang warga menyembelih seekor kambing saat malam pertama kedatangan tim. Desa Kaurani merupakan sebuah desa di Sindhupalcowk, tujuh jam perjalanan darat arah barat laut dari ibukota Kathmandu. Sementara desa Lapgaun ditempuh selama satu jam perjalanan darat dari Kaurani. Dari pantauan MINA yang ikut terjun langsung ke lapangan, hampir 100 persen rumah warga hancur total. Warga pegunungan Ganesh itu kini tinggal dengan tenda sederhana terbuat dari dahan-dahan dan daun. (L/R03/R05-P2) Sumber : http://mirajnews.com/id/indonesia/nasional/kemanusiaan-merc-wanadri-untuk-nepal-fokuskan-barat-kathmandu/
Warga Korban Gempa Nepal Antusias Datangi Posko Pengobatan MER-C WANADRI

Tiba di distrik Sindhupalcowk pada Kamis (7/5) sore, Jum’at (8/5) paginya Tim MER-C dan WANADRI langsung menggelar posko pengobatan bagi warga korban gempa. Pada hari pertama, posko pengobatan diadakan di wilayah Keurini. Keurini berada di ketinggian 1.800 mdpl. Gempa dahsyat yang menerjang Nepal membuat sembilan puluh persen bangunan di wilayah ini hancur. Kegiatan pengobatan pun diadakan di sebuah bangunan sekolah yang sebagian bangunannya sudah hancur karena gempa. Warga Keurini sangat antusias mendatangi posko pengobatan yang diadakan Tim MER-C dan WANADRI. Sejak posko dibuka, warga sudah terlihat antri untuk mendapat pengobatan bagi penyakit dan luka-luka yang mereka derita akibat terkena atau tertimpa reruntuhan bangunan. Banyak tindakan medis yang dilakukan Tim pada hari ini. Jumlah pasien tercatat mencapai 140 orang dengan kasus terbanyak adalah Neglected Lacerated Wound, Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), dan diare infeksi. Selama berada di Keurini, gempa susulan kerap terasa. Setidaknya ada tiga kali gempa susulan yang terjadi seperti yang dilaporkan Islamiyah Samaun, salah satu relawan dalam Tim ini, “Gempa susulan terus-terusan terjadi. Hari ini saja sudah tiga kali. Malam besar sekali, pagi tidak terlalu besar, dan siang kembali besar sekali.” Tim MER-C WANADRI berencana menetap satu hari di Keurini dan akan menginap dalam tenda yang telah dibangun di tanah lapang depan bangunan sekolah tempat posko pengobatan. Besok Tim akan bergerak pindah ke daerah lain di Sindhupalcowk yang belum tersentuh bantuan medis. “Besok kami akan pindah lagi ke daerah lain yang lebih tinggi, kira-kira di ketinggian 2.000 mdpl,” tutur Islamiyah, anggota Tim yang bertugas di bagian logistik medis. “Mohon doakan kami semoga selalu diberi kemudahaan dan kesehataan semuanya untuk membantu warga korban gempa di sini,” tambahnya.
Tim MER-C WANADRI Bergerak ke Wilayah Gempa Terparah Lainnya di Nepal

Setelah Dhunche yang telah ditangani medisnya oleh militer setempat, Kamis (7/5), Tim MER-C WANADRI yang terdiri dari sembilan orang relawan bergerak ke wilayah gempa terparah lainnya di Nepal, yaitu Sindhupalcowk. Tim mulai bergerak ke Sindhupalcowk sejak Kamis pagi dengan membawa bantuan obat-obatan, alat medis dan juga tenda besar untuk pengobatan. Sindhupalchok adalah kota yang terletak di barat laut Kathmandu. Untuk mencapainya dibutuhkan waktu enam jam perjalanan darat (mobil) dari Kathmandu, dan untuk mencapai desa-desa di wilayah ini diperlukan waktu tempuh tiga jam lagi perjalanan mobil dari Sindhupalcowk. Wilayah Sindhupalcowk menjadi tujuan Tim MER-C WANADRI berikutnya dalam misi kemanusiaan ini atas hasil koordinasi dan negosiasi tim dengan Kepala Rumah Sakit Kantipur di Kathmandu. Info dari Kepala RS Kantipur, dr. Budhiman, distrik Sindhupalcowk merupakan salah satu wilayah korban gempa terparah. Dokter asli Nepal ini mengarahkan tim MER-C WANADRI untuk menuju desa Helembu, salah satu desa di wilayah Sindhupalcowk. Di desa inilah tim akan dapat melakukan aktifitas medis dan menjangkau desa-desa sekitar, meliputi; Gumba vos, Golche vos, Parangtang, desa-desa di distrik Sindupalcowk yang belum tersentuh bantuan medis. Untuk mempermudah kegiatan tim di lapangan nanti, Kepala RS Kanthipur telah mengeluarkan izin tertulis bagi tim MER-C WANADRI melakukan aktifitas medis di Sindhupalcowk. Satu orang lokal sebagai guide juga disiapkan untuk mendampingi dan membantu tim berkomunikasi dengan warga setempat.
Tim MER-C WANADRI Tiba di Sindhupalcowk

Jum’at (8/5), seorang anggota tim MER-C WANADRI untuk Nepal, Dadang Mokhamad Rizal mengabarkan bahwa tim telah tiba Sindhupalcowk pada hari Kamis pukul 5 sore. Namun informasi ini baru diterima MER-C Pusat Jakarta pada hari Jum’at pagi tadi dikarenakan sulitnya sinyal di wilayah tersebut. “Kita tim sudah sampai Sindhupalcowk kemarin sekitar jam 17.00, camp kita tidak bersignal untuk dapat singnal harus berjalan sejauh 1 km naik ke atas bukit,” info Dadang dalam pesan singkatnya. Rencananya, tim MER-C WANADRI yang terdiri dari Sembilan orang relawan medis dan rescue akan melakukan aktifitas medis di Sindhupalcowk dan sekitarnya selama tujuh hari ke depan hingga tanggal 14 Mei 2015. Tanggal 15 Mei 2015, Tim direncanakan kembali ke Kathmandu karena izin aktifitas untuk pelayanan medisnya ini efektif selama tujuh hari.
Tim I MER-C WANADRI Bergerak ke Lokasi Gempa Terparah di Nepal

Hari ini, Selasa (5/5) pukul 10.00 waktu setempat, Tim MER-C WANADRI mulai bergerak ke lokasi gempa terparah di Nepal. Untuk efektifitas kerja, tim dibagi menjadi dua. Tim pertama yang terdiri dari 5 relawan, yaitu 1 dokter spesialis, 1 perawat bedah, 1 logistik, 1 rescue dan 1 pendata, hari ini bergerak ke wilayah Lalitpur yang berjarak sekitar 1,5 jam dari kota Kathmandu. Mereka akan melakukan assessment dan pelayanan medis bagi para korban gempa di wilayah ini. Sementara Tim kedua yang terdiri dari 4 relawan, yaitu 1 dokter umum dan 3 rescue bergerak menuju Dhunche yang terletak di sebelah utara Kathmandu. Dhunche merupakan wilayah terparah akibat gempa dengan jumlah korban lebih dari 3.000 jiwa. Dhunche terletak di Distrik Rasuwa, Zona Bagmati, Nepal. Kota ini berjarak sekitar 90 km dari Kathmandu yang biasanya ditempuh dalam waktu sekitar 5 jam perjalanan darat . Dhunche dipilih sebagai salah satu wilayah kerja Tim MER-C WANADRI karena berdasarkan informasi yang diterima Tim, di wilayah ini terdapat empat desa yang hancur total akibat gempa, yaitu Ramche, Gerang, Thade dan Bokehunda yang berjarak sekitar 10 km sebelum Dhunche. Desa terparah terkena dampak gempa adalah desa Ramche dan di desa ini belum terdapat listrik. Bahkan sampai saat ini dikabarkan belum ada bantuan medis yang masuk ke desa-desa tersebut. Di Dhunche juga terdapat Rumah Sakit Tentara dan Sarana Kesehatan milik Pemerintah, namun belum beroperasi karena tidak adanya tenaga medis dan obat-obatan. Selain itu, letak Dhunche berdekatan dengan Lantang, kota yang terkubur oleh reruntuhan gunung Everest akibat gempa dahsyat pada Sabtu (25/4) lalu. Untuk itu, selama 2 – 3 hari ke depan, Tim MER-C WANADRI akan melakukan mobile clinic (pelayanan medis keliling) dan juga assessment untuk mempelajari apakah di wilayah ini memungkinkan untuk dilakukan tindakan operasi bedah bagi para korban gempa sekaligus mengidentifikasi korban-korban yang ada. Informasi ini sangat penting untuk mempersiapkan kedatangan Tim berikutnya yang akan terdiri dari para Ahli Bedah. Bantuan untuk korban bencana gempa bumi di Nepal dapat disalurkan melalui: BNI Syariah, No. Rek. 08.111.92995 BCA, No. Rek. 686.028.0009 An. Medical Emergency Rescue Committee
Tim Pertama MER-C WANADRI Tiba di Nepal

Sembilan orang relawan yang tergabung dalam Tim Pertama MER-C dan WANADRI telah tiba dengan selamat di Kathmandu (Nepal), Senin (4/5) siang waktu setempat. Sempat mengalami dua kali transit, yaitu di Kuala Lumpur (Malaysia) dan Dhaka (Bangladesh), Tim akhirnya bisa mendarat di Kathmandu, Ibukota Nepal. Dari Bandara, Tim langsung bertemu dengan Duta Besar RI untuk Bangladesh dan Nepal, Iwan Wiranataatmadja guna mendapatkan informasi terkini mengenai pemetaan medan dan penyaluran bantuan. “Alhamdulillah Tim sudah sampai di Kathmandu. Dijemput oleh Konjen RI. Dari Bandara kami bertemu dengan Dubes RI untuk Bangladesh dan Nepal. Alhamdulillah sudah banyak info yang kami terima untuk penyusunan rencana kerja Tim besok,” ungkap Saleh Sudradjat, Ketua Tim Pertama MER-C dan WANADRI via pesan singkat yang diterima pada hari Senin (4/5) pkl 15.44 wib. Pada hari yang sama, Tim juga melakukan koordinasi dengan BNPB (Badan Nasional Penaggunglangan Bencana) yang sudah berada di Nepal mengenai daerah mana saja yang mampu terjangkau dan memungkinkan Tim Medis MER-C bekerja dengan efektif di lokasi. Tim Pertama MER-C dan WANADRI bertolak ke Nepal pada hari Senin (4/5) pukul 04.40 pagi. Tim yang terdiri dari dokter spesialis penyakit dalam, dokter umum, perawat bedah, logistik, SAR dan dokumentasi ini mempunyai target kegiatan untuk melakukan assessment Rumah Sakit yang masih bisa digunakan untuk operasi dan identifikasi korban gempa yang memerlukan tindakan operasi. Halini dalam rangka mempersiapkan kedatangan Tim Kedua yang akan terdiri dari para Ahli Bedah. Selain assessment, tim pertama ini juga akan melakukan pengobatan dengan sistem mobile clinic untuk menjangkau wilayah gempa terpencil yang belum mendapatkan bantuan medis. Bantuan untuk korban bencana gempa bumi di Nepal dapat disalurkan melalui: BNI Syariah, No. Rek. 08.111.92995 BCA, No. Rek. 686.028.0009 Atas Nama Medical Emergency Rescue Committee Info : Call Center MER-C 0811 99 0176
MER-C Siapkan Tim Bedah untuk Korban Gempa Bumi di Nepal

Jakarta – Sabtu (25/4), gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,9 SR mengguncang Nepal. Hingga saat ini jumlah korban jiwa sudah mencapai lebih dari 3.300 orang, sementara ribuan lainnya mengalami luka-luka. Jumlah korban tewas diperkirakan akan terus bertambah karena masih banyak daerah yang belum terjangkau serta jaringan komunikasi di negara tersebut yang terputus. Melihat besarnya dampak bencana, MER-C sebagai sebuah lembaga kegawatdaruratan medis, tengah mempersiapkan relawannya untuk turut memberikan bantuan guna meringankan penderitaan para korban. Tim yang dibentuk MER-C akan berfokus pada Tim Bedah, yang terdiri dari dokter spesialis bedah umum, spesialis bedah orthopedi, spesialis anastesi dan dokter umum serta perawat bedah. Hal ini berdasarkan pengalaman MER-C pada penanganan bencana gempa bumi serupa baik di Yogyakarta maupun di Padang (Sumatera Barat) misalnya, bahwa korban hidup yang akan banyak ditemui adalah korban dengan kasus patah tulang akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Bantuan bagi korban bencana gempa bumi di Nepal dapat disalurkan melalui: BNI Syariah, 08.111.92995 BCA, 686.028.0009 Atas nama Medical Emergency Rescue Committee
MER-C Berikan Bantuan untuk 55 Nelayan Indonesia yang Ditahan di Myanmar

Selain menyalurkan bantuan kepada korban konflik dan pengungsi di Rakhine State, Tim ke-2 MER-C untuk Myanmar juga mengunjungi nelayan Indonesia yang saat ini ditahan di Yangon. Nelayan Indonesia yang berjumlah 55 orang ditahan otoritas Myanmar karena melanggar batas wilayah perairan Myanmar. Sudah satu tahun lebih para nelayan ini ditahan dan KBRI di Yangon tengah mengupayakan pembebasan mereka. Kunjungan ini dimungkinkan setelah Kedutaan Besar RI di Yangon memfasilitasi izin bagi Tim MER-C. Awalnya Tim MER-C berharap dapat melakukan juga pemeriksaan kesehatan kepada para nelayan asal Indonesia tersebut. Namun ternyata hal ini belum memungkinkan karena diperlukan waktu lebih lama untuk pengurusan izin untuk pemeriksaan kesehatan. Rabu (25 Februari 2015), sekitar pukul 2 siang, didampingi staf KBRI Yangon, Tim MER-C menuju lokasi penahanan 55 nelayan Indonesia. Pada kesempatan tersebut, Tim MER-C juga membawa bantuan berupa 70 paket tikar dan kaos kaki yang akan dibagikan kepada para nelayan. Bantuan ini diharapkan dapat sedikit membantu para nelayan Indonesia ini melawan dinginnya ruang tahanan. Sekitar satu jam, Tim MER-C yang diketuai dr. Meaty Fransisca bertemu dan berbincang dengan para nelayan asal Indonesia. “Sebenarnya para nelayan tersebut tidak mengetahui kalau mereka telah melanggar batas perairan,” ujar dr. Meaty yang telah dua kali mengikuti Misi Kemanusiaan MER-C ke Myanmar. “Kami turut prihatin dan berharap Pemerintah Indonesia melalui KBRI Yangon dapat segera membantu proses pembebasan para nelayan ini,” lanjut dr. Meaty. Dr. Meaty juga menambahkan bahwa pada pertemuan tersebut para nelayan meminta bantuan buku-buku bacaan berbahasa Indonesia, khususnya buku-buku yang dapat meningkatkan keimanan mereka. “Bahan bacaan sangat diperlukan untuk mengisi waktu selama dalam tahanan. Sudah setahun lebih ini mereka tidak menemukan bahan bacaan berbahasa Indonesia. Selama dalam tahanan juga nyaris tidak ada yang bisa dikerjakan. Apabila hal ini terus berlanjut mereka khawatir bisa menjadi stress,” ungkap dr. Mea, sapaan akrab dr. Meaty. Untuk itu, usai kepulangan Tim dari Myanmar, MER-C langsung mengirimkan satu paket buku-buku melalui staf Kemenlu RI yang akan berangkat ke Myanmar. Menurut info dari KBRI Yangon, paket buku-buku tersebut sudah diterima oleh para nelayan Indonesia di Yangon.
Myanmar Dulu dan Kini serta Peran Penting Indonesia

Setelah menunggu proses pengurusan ijin di pihak-pihak terkait selama + 3 bulan, akhirnya pada tanggal 16 Februari 2015 MER-C dapat mengirimkan Misi Kemanusiaan ke-2 ke Myanmar. Misi kemanusiaan ke-2 ini berselang lebih dari 2 tahun dari misi pertama sebelumnya pada September 2012. Tujuan dari Tim ini adalah melaksanakan penilaian ulang kondisi terkini pasca konflik di Rakhine State dan menindaklanjuti rencana pembangunan “Indonesia Health Center”. (Laporan Misi Kemanusiaan ke-2 MER-C ke Myanmar) Berbekal Nota Diplomatik dari Kemenlu RI dan bantuan dari KBRI Yangon, akhirnya Tim MER-C mendapat izin untuk bisa masuk sampai ke Sittwe, Rakhine State, dimana konflik komunal antara Muslim Rohingya dan Budha Rakhine terjadi. Tim yang dikirimkan sebanyak 7 orang relawan dengan berbagai keahlian baik medis maupun non medis. Misi berlangsung selama 10 hari mulai tanggal 16–26 Februari 2015. Karena proses perizinan yang sangat ketat bahkan harus mendapat persetujuan hingga ke Kantor Kepresidenan Myanmar, maka dari 10 hari masa tugas, Tim MER-C mendapat izin tinggal selama 3 hari untuk mengunjungi lokasi kamp-kamp pengungsian di Rakhine State. Dengan pengawalan ketat sepanjang perjalanan oleh tentara Myanmar, Tim MER-C berkesempatan mengunjungi 7 kamp pengungsian dari sekitar 15 kamp yang ada di Sittwe saja, Ibukota Rakhine State. Ketujuh kamp yang dikunjungi Tim MER-C terdiri dari 4 kamp Muslim dan 3 kamp Budha/Rakhine, sbb: Pertama, Kamp That Kay Pin (Kamp Muslim) Kedua, Kamp Kaung Doke Khar (Kamp Muslim) Ketiga, Kamp West San Pya (Kamp Muslim) Keempat, Kamp Say Tha Mar Gyi (Kamp Muslim) Kelima, Kamp Say Young Su (Kamp Rakhine/Budha) Keenam, Kamp Sad Yo Kya 1 (Kamp Rakhine/Budha) Ketujuh, Kamp Sad Yo Kya 2 (Kamp Rakhine/Budha) Tim MER-C cukup terkejut melihat sudah banyak perubahan yang terjadi di kamp-kamp pengungsian di Sittwe ini, dibandingkan saat Tim MER-C berkunjung pada September 2012 lalu. Kegiatan belajar mengajar di kamp-kamp di Sittwe sudah mulai berjalan meskipun dengan bangunan sekolah yang masih sangat sederhana (semi permanen). Sarana dan kegiatan pelayanan kesehatan juga sudah mulai berjalan. Layanan kesehatan berlangsung di klinik-klinik dalam kamp dan di Rumah Sakit emergensi dalam kamp. Pelayanan berlangsung rutin setiap Senin-Jumat mulai pukul 08.00-14.00. Diluar jam tersebut ada bidan dan perawat yang bertugas, bila terjadi kasus gawat darurat, ambulans bisa dipanggil dan pasien dapat dirujuk ke rumah sakit di pusat kota Sittwe. Selain program pelayanan kesehatan di Klinik atau RS, terdapat juga program mobile clinic rutin setiap hari, program vaksinasi di tiap-tiap klinik, layanan antenatal care oleh bidan dan pelatihan persalinan untuk tenaga kesehatan tradisional. Berdasarkan informasi dari Dinas Kesehatan setempat, terdapat juga program penyuluhan kebersihan dan program penyuluhan TB paru. Telah tampak juga toilet dan sumber air bersih di tiap-tiap kamp. Sebagian besar bantuan diberikan secara otonom dari lembaga donor internasional dengan koordinasi langsung dengan pemerintah setempat. Bantuan Indonesia dan Rencana Pembangunan “Indonesia Health Center” Tim MER-C pada misi kemanusiaan ke-2 ini menyalurkan bantuan berupa 1 unit ambulans, bantuan obat-obatan yang diterima oleh Dinas Kesehatan Rakhine State, bantuan makanan ke masing-masing kamp, bantuan sprei dan selimut sebanyak 200 paket untuk disebar ke klinik-klinik dan Rumah Sakit, serta dua unit genset. Indonesia sendiri melalui Pemerintah RI memberikan bantuan untuk pembangunan 4 unit sekolah. Lokasi pembangunan sekolah diantaranya di wilayah Minbya, masih dalam provinsi Rakhine State. Namun, karena izin kunjungan Tim yang singkat dan diperlukan izin lenih lanjut untuk mengunjungi Minbya, Tim MER-C tidak berkesempatan mengunjungi wilayah ini. Menurut informasi, wilayah pengungsian di Minbya, kondisinya belum sebaik kamp pengungsian di Sittwe. Dua unit genset bantuan dari rakyat Indonesia melalui MER-C, rencananya akan ditempatkan di sekolah Indonesia di Minbya. Untuk memberikan manfaat jangka panjang bagi korban konflik komunal di Rakhine State, atas nama dan donasi dari rakyat Indonesia, MER-C mencanangkan program jangka panjang berupa pembangunan “Indonesia Health Center”. Melihat langsung kondisi kamp pengungsian di Sittwe, Rakhine State yang sudah berkembang cukup baik, maka MER-C berencana untuk menjalankan program pembangunan “Indonesia Health Center” ke wilayah pengungsian lain yang masih minim sarana kesehatan, seperti di Minbya, dimana sekolah Indonesia berada. Perlakuan Diskriminatif Meskipun sudah banyak perubahan yang terjadi, namun berdasarkan pengamatan Tim MER-C masih berlangsung permasalahan krusial, yaitu perlakukan diskriminatif yang akan menjadi masalah utama ke depan, khususnya bagi sebagian besar warga muslim di Myanmar, tidak hanya warga muslim dari etnis Rohingya. Pertama, Stateless. Stateless adalah masalah yang dihadapi sebagian besar warga muslim di Myanmar. Sampai dengan saat ini mereka belum diakui sebagai warga negara Myanmar. Mereka tidak mempunyai kartu identitas penduduk tetap yang menjadi hak setiap warga negara. Hal ini menyebabkan warga muslim misalnya tidak dapat membuat paspor, anak-anak yang lulus sekolah tidak bisa mendapat ijazah sehingga mereka tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dsb. Kedua, Warga kamp muslim di Rakhine State tidak dapat keluar masuk Kamp dengan bebas, harus ada alasan yang sangat penting untuk bisa mendapat izin keluar dari kamp. Suasana berbeda kami temui saat mengunjungi kamp Budha. Warga kamp Budha dapat keluar masuk kamp dengan bebas dan mudah untuk bekerja, bersekolah, dsb. Peran Penting Indonesia Permasalahan stateless atau tidak diakuinya sebagian besar warga Muslim di Myanmar sebagai warga negara oleh Pemerintah setempat ditambah tidak bisanya warga muslim dalam penampungan di Rakhine State keluar masuk kamp dengan bebas adalah perlakuan yang sangat diskriminatif. Hal ini tentu sangat disayangkan di kala perubahan-perubahan terjadi lebih baik di kamp-kamp yang ada. Terlebih lagi warga muslim Myanmar sudah turun temurun tinggal di negara ini dan berjuang bersama hingga tercapai kemerdekaan Myanmar. Indonesia sebagai bangsa yang besar di Asia Tenggara kami harapkan dapat mengambil peran yang lebih besar dalam membantu menyelesaikan permasalahan ini. Rekomendasi MER-C kepada Pemerintah RI dalam membantu penyelesaian permasalahan di Myanmar sbb: Pertama, Mendorong Pemerintah Indonesia aktif melakukan pendekatan-pendekatan kepada Pemerintah Myanmar mengenai masalah kewarganegaraan bagi minoritas muslim Myanmar; Kedua, Bersama Pemerintah RI dan pihak terkait lainnya untuk mengadakan pertemuan-pertemuan/perundingan-perundingan regional dan internasional untuk mengangkat isu kewarganegaraan minoritas muslim di Myanmar disamping isu kemanusiaan yang berkembang; Ketiga, Pemerintah RI memfasilitasi program-program bantuan dari lembaga-lembaga di Indonesia untuk mewujudkan program-program jangka menengah dan panjang khususnya di Rakhine State, Myanmar.
MER-C Berangkatkan Tim ke-2 ke Rohingya Myanmar untuk Tindaklanjuti “Indonesia Health Center”

Jakarta – Senin (16/2), MER-C kembali memberangkatkan Tim Kemanusiaan ke Myanmar. Ini adalah pengiriman Tim ke-2 MER-C ke Myanmar setelah sebelumnya, pada bulan September 2012, MER-C mengirimkan tim pertama sebanyak 5 orang relawan yang telah melakukan assessment dan penyaluran bantuan medis tahap awal. Pada misi kemanusiaan ke-2 ini, Tim MER-C terdiri dari 7 orang relawan dengan berbagai keahlian, yaitu 1 dokter spesialis penyakit dalam, 2 dokter umum, 2 perawat, serta 2 relawan non medis dari divisi konstruksi dan divisi bantuan logistik MER-C. Target tim adalah kembali masuk dan menyalurkan secara langsung bantuan medis dan kemanusiaan ke wilayah konflik dan pengungsian di Provinsi Rakhine (Rakhine State), Myanmar. Selain itu, dengan amanah donasi dari rakyat Indonesia, MER-C juga akan membuat program bantuan jangka panjang di wilayah ini. Salah satu program yang telah dicanangkan dan akan ditindaklanjuti oleh Tim ke-2 MER-C adalah rencana pembangunan “Indonesia Health Center”. Hal ini berdasakan hasil assessment tim pertama bahwa fasilitas di kamp pengungsian masih sangat minim, khususnya fasilitas kesehatan bagi para pengungsi. Program bantuan yang bersifat jangka panjang seperti “Indonesia Health Center” diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang dan menjadi simbol persahabatan Indonesia dan Myanmar, serta mempererat hubungan baik rakyat kedua negara. Keberangkatan Tim ke-2 MER-C ke Myanmar dimungkinkan setelah adanya izin dari Kementerian Luar Negeri dan Kantor Kepresidenan Myanmar yang sebelumnya telah melalui proses cukup panjang. Dengan adanya izin dari Kementerian Luar Negeri dan Kantor Kepresiden Myanmar ini, diharapkan misi kemanusiaan ke-2 MER-C bisa diberi kelancaran dan keamanan untuk seluruh anggota Tim. Dari Yangon, Rabu (18/2) Tim MER-C dijadwalkan akan bertolak ke Sittwe, ibukota Rakhine State dengan menggunakan maskapai penerbangan lokal. Sesuai izin, Tim akan berada di Rakhine State hingga hari Sabtu (21/2) untuk memberikan pelayanan medis kepada para pengungsi, memberikan bantuan obat-obatan dan memberikan bantuan paket alat kesehatan. Sementara relawan dari divisi Konstruksi MER-C akan fokus melakukan survei serta koordinasi dengan pihak terkait untuk rencana pembangunan sarana kesehatan yang akan diberi nama “Indonesia Health Center”. Apabila donasi dari rakyat Indonesia masih mencukupi, MER-C akan membuat program lanjutan diantaranya berupa pembuatan sarana air bersih dan MCK. Keberangkatan tim MER-C ke Myanmar pada hari Senin ini dilepas oleh dua Presidium MER-C, dr. Joserizal Jurnalis, SpOT dan Ir. Faried Thalib serta sejumlah relawan MER-C di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta. Tim akan transit di Bangkok dan diperkirakan tiba di Yangon pada Senin malam ini, pkl. 19.00 waktu setempat. Setibanya di Yangon, Tim akan langsung berkoordinasi dengan KBRI Yangon dan sejumlah pihak terkait di Myanmar. Rekening Donasi #Hand4Rohingya dapat disalurkan melalui: BSM, 700.1306.833 An. Medical Emergency Rescue Committee Info lebih lanjut: www.mer-c.org Call center: 0811 99 0176