Program Yankes dan Trauma Healing untuk Korban Longsor Banjarnegara

Yogyakarta – Sabtu, 17-18 Januari 2015, MER-C Cabang Yogyakarta kembali menurunkan Tim relawannya untuk memberikan bantuan medis kemanusiaan bagi korban bencana longsor di Banjarnegara. Relawan yang diturunkan berjumlah 10 orang yang terdiri dari 3 medis, 2 mahasiswa psikologi dan 5 relawan non medis dari berbagai disiplin ilmu lainnya. Ini adalah tim kedua untuk Banjarnegara, sebelumnya Tim pertama sebanyak 7 relawan yang merupakan gabungan dari MER-C Cabang Yogyakarta dan MER-C Cabang Semarang telah memberikan bantuan medis bagi korban longsor di wilayah ini pada tanggal 15 – 17 Desember 2014 lalu. Pada misi kemanusiaan pertama, bantuan difokuskan kepada pelayanan medis. Wilayah yang didatangi Tim MER-C adalah desa Pandansari kecamatan Wanayasa dan Dusun Pencil Desa Karang Tengah. Hal ini dikarenakan wilayah bencana di Jemblung saat itu sudah banyak relawan dan bantuan yang datang, sehingga Tim MER-C mencari wilayah lain yang masih minim bantuan khususnya medis. Berdasarkan informasi, Desa Pandansari adalah daerah yang pertama kali terjadi longsor, seminggu sebelum bencana longsor di Jemblung. Namun karena tidak ada korban jiwa, para relawan kemudian berpindah ke Jemblung karena longsor di sana lebih dahsyat. Pelayanan di kedua wilayah ini dilakukan oleh Tim MER-C dengan sistem mobile dengan mengunjungi rumah-rumah warga yang menjadi posko-posko pengungsian serta kunjungan ke rumah pasien yang tidak dapat datang ke posko karena sakit. Dengan berjalan kaki tim mencoba mencapai lokasi pengobatan, khususnya di Dusun Pencil Desa Karang Tengah yang terisolasi akibat dampak longsor bukit Bulu yang terjadi pada hari Jum’at/5 Desember 2014, tepatnya seminggu sebelum terjadinya longsor di Jemblung. Setelah terjadinya longsor bukit Bulu tersebut, akses jalan menuju dusun Pencil menjadi sangat sulit karena longsoran tanah membuat jalan menjadi licin dan susah untuk dilewati. Padahal jalan ini merupakan satu-satunya akses menuju dan keluar dari dusun. Aktivitas warga pun lebih sulit lagi, selain dikarenakan jalan yang tertutup, tiang listrik rubuh dan listrik pun mati total. Setelah berkoordinasi dengan Pihak Puskesmas setempat, program pengobatan dilakukan bertempat di rumah Kepala Dusun bersamaan dengan kegiatan posyandu. Jumlah pasien yang ditangani mencapai 71 orang dari anak-anak, ibu hamil hingga lansia. Adanya amanah bantuan dari donatur, maka MER-C kembali mengirimkan Tim relawannya ke Banjarnegara. Selain program pengobatan, Tim kedua ini juga merencanakan program trauma healing bagi anak-anak korban bencana. Wilayah sasaran Tim kali ini adalah Desa Pasuruan, Sukawera Kabarangkobar, Banjarnegara. Setelah berkoordinasi dengan Perangkat Desa setempat, Tim mendapat informasi bahwa Desa Pasuruan termasuk Desa yang dikelilingi oleh area longsor dan tanah bergerak. Di Desa ini terdapat 2 Dusun yaitu Dusun 1 dan Dusun 2. Kegiatan pengobatan dilaksanakan pada pagi hari di dusun 1 dengan jumlah pasien mencapai 107 orang. Kemudian siang harinya, pengobatan dilanjutkan didusun 2 dengan jumlah pasien sebanyak 55 orang. Bersamaan dengan pengobatan, Tim relawan dari mahasiswa psikologi dan tim relawan non medis lainnya mengadakan Trauma Healing bagi anak-anak setempat mulai dari balita sampai dengan SMP. Trauma healing diberikan dalam dua sesi, yaitu permainan indoor dan outdoor. Jumlah peserta trauma healing menjadi bertambah banyak saat mulai permainan outdoor. Kegiatan ditutup dengan pembagian hadiah kepada anak-anak berupa tempat makan, tempat pensil, tempat minum, buku bergambar dan pensil warna.
Misi Kemanusiaan MER-C untuk Suku ‘Gipsi Laut’

Suku Bajau Palau atau ‘gipsi laut’, begitu mereka disebut oleh masyarakat internasional, adalah masyarakat yang hidup secara nomaden di laut. Cakupan daerah pengembaraan mereka cukup luas, mulai dari perairan Malaysia, Indonesia, Filipina, sampai kepulauan di Samudera Pasifik. Budaya mengembara mereka sudah berlangsung lama jauh sebelum ada negara dan batas-batas wilayah. Dan seperti nasib suku-suku pengembara lain yang hidup menghindari peradaban, masyarakat suku Bajau Palau masih sangat sederhana sistim hidupnya, dan kepercayaan terhadap nenek moyang adalah religi mereka. Melalui surat bertanggal 12 Desember 2014, Kementerian Kelautan dan Perikanan RI menyampaikan permohonan dukungan bantuan untuk nelayan suku Bajau di Tanjung Batu, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur kepada MER-C. Masalah berawal dari ditangkapnya sekelompok perahu yang berisi suku ‘gipsi laut’, mereka yang selama ini banyak tinggal di Malaysia dan Filipina ternyata sudah memasuki perairan Indonesia tanpa izin, mengambil ikan secara ilegal, merusak terumbu karang dengan metode mencari ikan yang tidak memahami konsep konservasi. Sebanyak 676 masyarakat Bajau Palau di’amankan’ pemerintah Indonesia dan di tempatkan di darat, lalu dilakukan pendataan dan penyelidikan. Proses ini memakan waktu 30 hari lebih karena ternyata banyak masalah administrasi terkait kewarganegaraan. Atas dasar kemanusiaan dan menjawab surat permohonan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, maka MER-C mengirimkan Tim Relawannya untuk memberikan bantuan medis kepada warga Bajau Palau yang sudah mulai terserang penyakit. Tim berjumlah 8 orang yang terdiri dari 1 orang Dokter Spesialis Penyakit Dalam, 6 orang Dokter Umum dan 1 orang Koordinator Logistik. Tim melakukan kegiatan kemanusiaan selama satu minggu, mulai tanggal 30 Desember 2014 sampai tanggal 3 Januari 2015. Kegiatan yang dilakukan terutama adalah Rapid Health Assesment, pemeriksaan antropometri, pengobatan kesehatan, promosi kesehatan, dan Blanket Treatment Ascariasis. Kendala bahasa adalah tantangan terbesar yang dihadapi Tim MER-C karena suku Bajau Palau ini banyak yang tidak paham bahasa Indonesia, sehingga pemerintahan setempat seperti Puskesmas dan lembaga seperti PMI turut membantu dan mendampingi tim MER-C dengan seorang penterjemah. Penyakit yang banyak diderita adalah ISPA, dyspepsia, diare, infeksi kulit bakteri, infeksi kulit jamur, iritasi kulit. Kasus diare mengalami peningkatan signifikan selama berada di penampungan karena masyarakat Bajau Palau yang tidak terbiasa hidup di darat. Tidak hanya memberikan tindakan pengobatan, Tim MER-C juga mengajarkan kepada anak-anak cara mandi yang baik untuk menjaga kebersihan dan kesehatan diri. Karena kendala bahasa dan warga Bajau Palau yang tidak bisa baca tulis, maka penyuluhan tata cara mandi pun langsung dicontohkan oleh para relawan dengan memandikan beberapa anak dihadapan warga. Esok harinya, beberapa anak-anak terlihat sudah mempraktekkan cara mandi karena terlihat lebih bersih. Di Akhir kegiatan, Tim MER-C memberikan presentasi mengenai hasil Rapid Health Assesment Tim yang diselenggarakan oleh Departemen Kelautan dan Perikanan RI dan di hadiri pihak-pihak terkait seperti Departemen Kelautan, Dinas Kelautan, Kapolres, dan pimpinan daerah setempat.
Tim MER-C Susuri Wilayah Terpencil di Aceh Bantu Korban Banjir

Aceh – Banjir dan longsor kembali melanda sejumlah wilayah di Aceh. Pemerintah Daerah setempat menetapkan bencana banjir dan longsor kali ini sebagai bencana provinsi. Selasa (11/11), MER-C sebagai sebuah lembaga kegawatdaruratan medis mengirimkan Tim Relawannya yang terdiri dari 2 dokter dan 1 logistik, yaitu dr. Prabowo Himawan, dr. Tri Rahma Janumantika dan Islamiyah Samaun untuk memberikan bantuan medis kepadapara korban. Sementara untuk tenaga perawat dan relawan non medis lainnya dibantu oleh relawan lokal MER-C yang berada di Aceh. Lama misi awal ini direncanakan 1 minggu atau lebih sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Setibanya di Banda Aceh, Tim MER-C mendatangi BPBD setempat didampingi relawan lokal untuk berkoordinasi dan mencari informasi terkini mengenai wilayah bencana yang benar-benar masih membutuhkan dan minim bantuan medis. Wilayah seperti inilah yang menjadi fokus tujuan Tim MER-C. Rabu (12/11), wilayah pertama yang dikunjungi Tim MER-C adalah desa Lamsujen Kecamatan Lhoong. Masih ada beberapa warga yang mengungsi akibat longsor, walaupun sebagian besar memilih pulang ke rumah. Di daerah ini, Tim MER-C melayani pengobatan 15 warga dan 2 tindakan medis, salah satunya kepada seorang kakek yang kakinya terkena balok kayu rumahnya yang hancur akibat longsor. Kemudian diantar staf BPBD, Tim MER-C bergerak ke lokasi bencana lainnya yang direkomendasikan yaitu Kecamatan Sampoiniet, Kabupaten Aceh Jaya. Ada sekitar 12 desa di kecamatan ini yang dilanda banjir dan longsor. Jalan menuju daerah ini cukup jauh membutuhkan waktu sekitar 3 jam dari Banda Aceh apabila lancar. Di beberapa bagian jalan terlihat masih ada longsor dan jalan dibuka tutup. Tampak juga ada jalan-jalan longsor yang sedang diperbaiki. Sesampainya di Puskesmas Sampoiniet, Tim bertemu dengan Sekretaris Camat (Sekcam) setempat. Dari Informasi Sekcam, di wilayah ini banjir mencapai 1-2 m. Dari 12 desa, sebanyak 6 desa sudah dapat dijangkau oleh Pelayanan Puskesmas, sementara 6 desa lagi belum. Tim MER-C yang diketuai oleh dr. Prabowo Himawan memutuskan untuk menetap sementara di wilayah ini untuk memberikan bantuan medis bagi para korban banjir yang belum terjangkau bantuan medis. Walaupun banjir dan longsor sudah mulai surut, namun hujan masih kerap turun. Bekas-bekas bencana banjir juga masih terlihat di desa ini. Desa-desa yang belum terjangkau bantuan medis letaknya cukup jauh dan berada di pegunungan. Kamis (13/11), dua dokter, 1 relawan logistik dibantu relawan lokal berprofesi perawat memulai pengobatan di kecamatan Sampoinet, tepatnya di Meunasah desa Ligan. Mengetahui ada bantuan pengobatan, masyarakat setempat sangat antusias. Tercatat sebanyak 160 warga korban banjir dari beberapa desa yang datang berobat dengan berbagai keluhan penyakit khas pasca banjir. Keesokan harinya, Jum’at (14/11) pengobatan masih dilakukan di Kecamatan Sampoiniet tepatnya di Meunasah Desa Cot Punti dengan jumlah pasien yang masih cukup banyak, mencapai lebih 100 orang. Pasien yang berobat juga datang dari beberapa desa sekitar. Tim bahkan sempat mendatangi rumah pasien yang lumpuh yang tidak dapat datang berobat. Berdasarkan rekomendasi dari Dinas Kesehatan Aceh Jaya, ada wilayah bencana di Kabupaten Aceh Jaya yang masih belum terjangkau bantuan medis. Untuk itu, hari Sabtu (15/11), Tim MER-C mencoba untuk mencapai daerah ini, yaitu Teupin Asan, Kecamatan Darul Hikmah, Kabupaten Aceh Jaya. Wilayah Teupin Asan memang terpencil diunjung kampong dan berada di pegunungan namun saat banjir kemarin sempat terendam setinggi 1 meter. Jumlah pasien di desa ini juga mencapai lebih dari 150 orang. Beruntung Tim MER-C bisa sampai ke daerah ini dan memberikan bantuan pengobatan bagi masyarakat korban banjir yang membutuhkan. Aceh dan MER-C Sepanjang jalan yang dilalui Tim MER-C dari Banda Aceh hingga ke Kabupaten Aceh Jaya, masih banyak masyarakat yang mengenali MER-C. Memang jalur ini adalah jalur Posko dan wilayah cakupan klinik keliling MER-C pada misi kemanusiaan pasca bencana tsunami dahsyat beberapa tahun lalu. Banyak masyarakat yang menanyakan kabar relawan dokter yang dulu pernah mereka kenal karena bertugas memberikan bantuan pengobatan di wilayah mereka. Bahkan sejumlah relawan perawat dan non medis MER-C ada yang menikah dengan gadis setempat dan memilih menetap di Aceh. Di Aceh Jaya, tepatnya di Desa Keude Panga salah satu wilayah terparah akibat terjangan tsunami, MER-C bahkan membangun sebuah Klinik Rawat Inap yang kini sudah diserahkan kepada Pemerintah Daerah untuk dikelola dan dikembangkan lebih lanjut bagi kemaslahatan warga setempat. Meskipun kerap diuji dengan berbagai bencana namun warga Aceh adalah warga yang peduli terhadap sesama. Ketika agresi Israel beberapa bulan lalu, segenap masyarakat dan Pemerintah Daerah Aceh mengumpulkan bantuan untuk membantu saudara mereka di Gaza. Bantuan yang terkumpul mencapai lebih dari 6 Milyar rupiah hanya dalam jangka waktu kurang dari 1 bulan. Seluruh bantuan diserahkan kepada MER-C untuk membantu pengadaan Alat Kesehatan Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Sebagai ucapan terima kasih dan apresiasi MER-C kepada masyarakat Aceh, dua ruangan di Rumah Sakit Indonesia akan diberi nama dengan nama dua pahlawan terkenal asal Aceh, yaitu Cut Nyak Dien atau Teungku Cik Di Tiro.
Laporan Sinabung dari MER-C Cabang Medan

Medan – Info dari Wirsal, relawan MER-C Medan yang berprofesi sebagai perawat, Senin (13/10), MER-C Medan melakukan pengobatan untuk warga di desa Simpang Guru Kinaya, Sinabung, Sumatra Utara. Adapun tim yang berada di lokasi terdiri dari 2 tenaga dokter, 1 tenaga perawat dan 5 relawan dari Fakultas Kedokteran. Saat ini kondisi Sinabung masih mengeluarkan hujan debu yang menyebabkan gangguan ISPA dan juga penglihatan bagi warga sekitar. Berdasarkan laporan akhir Tim Assessment MER-C Medan, Kamis (9/10) untuk bencana alam Gunung Sinabung, terdapat 16 posko pengungsi dengan kebutuhan di antaranya masker, susu untuk balita, popok balita, serta pemeriksaan kesehatan dan pengobatan untuk pengungsi dan masyarakat sekitar. Donasi kemanusiaan untuk bencana Sinabung dapat disalurkan melalui MER-C Cabang Medan, Bank Syariah Mandiri No.Rek 7074585099 a.n Medical Emergency Rescue Committe Cabang Medan atau secara langsung ke Kantor MER-C Cabang Medan di Jl. Setiabudi, Komplek Ruko Milala Mas Blok C No. 6 Kec. Tanjung Rejo Medan.
Laporan Sinabung Dari MER-C Medan

Berdasarkan Laporan akhir Tim Assessment MER-C Cabang Medan (Kamis,09-10-14) untuk bencana alam Gn.Sinabung, terdapat 16 posko pengungsi dengan: 1. Kebutuhan saat ini adalah masker, susu untuk balita, popok balita. 2. Dibutuhkan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan untuk pengungsi dan masyarakat sekitar yang membutuhkan, khususnya pengobatan untuk saluran pernapasan. Berdasarkan kondisi diatas, MER-C Cabang Medan akan mengirimkan tim kesehatan pada Senin,13 Oktober 2014. Bagi Bapak/Ibu/Saudara/i yang ingin berpartisipasi dalam kegiatan tersebut silahkan menghubungi Wirsal (081268864753) Donasi kemanusiaan sinabung dapat disalurkan melalui MER-C Cabang Medan, Bank Syariah Mandiri No.Rek 7074585099 a.n Medical Emergency Rescue Committe Cabang Medan atau secara langsung di kantor MER-C Cabang Medan, jl.Setiabudi, Komplek Ruko Milala Mas blok C No 6 Kec.Tanjung Rejo Medan. MERC CAB MEDAN
Dikawal Militer Mesir, 15 Relawan Indonesia Akhirnya Masuk Gaza

Gaza – Melakukan perjalanan selama dua hari dari Jakarta ke Kairo sejak Sabtu (28/06), sebanyak 15 relawan Indonesia untuk program RS Indonesia sempat tertahan pada usaha pertama untuk memasuki Gaza melalui Perbatasan Rafah, Ahad (29/06). Perjalanan ke Perbatasan Rafah kali ini pun berbeda dari biasanya. Bus yang membawa relawan dikawal oleh pasukan militer Mesir dengan kendaraan dan persenjataan lengkap seperti tank, hammer dan lain sebagainya. Namun, kesabaran Tim diuji, setibanya di Perbatasan Rafah Mesir mereka belum diizinkan masuk ke Gaza dan terpaksa mencari penginapan untuk bermalam dan berusaha untuk masuk ke Gaza esok harinya. Senin (30/06) sekitar pukul 09.00 waktu setempat, kelima belas relawan kembali bergegas ke Perbatasan Rafah Mesir. Empat relawan Indonesia yang berada di Gaza, yaitu Ir. Nur Ikhwan Abadi, Moqorrobin Alfikri, Muhammad Husein dan Reza Aldilla menunggu kedatangan relawan di Perbatasan dengan tak lepasnya berdoa agar proses perizinan para relawan yang baru datang dari Indonesia pada hari ini diberi kemudahan. Setelah melalui proses pengecekan paspor hingga lepas waktu Dzuhur akhirnya kelima belas relawan Indonesia berhasil memasuki Jalur Gaza dan disambut suka cita oleh para relawan di Gaza. Kedatangan kelima belas relawan ini menambah jumlah relawan Indonesia di Gaza menjadi total 19 orang. Setelah proses penyambutan, para relawan bergegas menuju lokasi RS Indonesia. Bagi Karidi, Tata Lukita, Abdul Azis dan Luthfi Paimin ini adalah kali kedua mereka mendapat kesempatan dan dipercaya untuk bertugas di Gaza untuk program RS Indonesia. Bahkan bagi Ir. Edy Wahyudi ini adalah kesempatan ke-3 kalinya mendapat amanah memimpin Tim Relawan Konstruksi Pembangunan RS Indonesia. Sementara bagi 10 orang relawan lainnya ini adalah pengalaman pertama mereka bertugas di wilayah terblokade Gaza, Palestina yang selama ini hanya mereka dengar ceritanya. Meski bertugas di wilayah yang tidak aman bahkan beberapa hari terakhir kerap terjadi serangan yang getaran dan suara ledakannya terasa hingga RS Indonesia, namun niat dan tekad para relawan sudah bulat. Amanah tugas sudah menanti mereka untuk mengawal pengadaan alat kesehatan RS Indonesia. Tugas lainnya adalah melanjutkan proses pembangunan Wisma Rakyat Indonesia (Indonesia Guest House) yang terletak di belakang RS Indonesia dan perbaikan masjid yang berada di sebelah timur RS Indonesia. Mohon do’a dan dukungan dari seluruh rakyat Indonesia, semoga proses pembangunan ini berjalan dengan lancar meskipun di tengah-tengah situasi yang sedang genting di Gaza-Palestina.
MER-C Berangkatkan Tim ke Gaza untuk Mengawal Pengadaan Alkes RS Indonesia

Menyongsong awal bulan suci Ramadhan, sebanyak 15 orang relawan Indonesia tengah bersiap dan berpamitan dengan keluarga tercinta untuk melaksanakan jihad profesional menyelesaikan pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RS Indonesia) di Gaza, Palestina. Ramadhan tahun ini akan mereka lalui di Gaza dengan masa tugas direncanakan hingga Desember 2014. Pembangunan RS Indonesia memang sudah selesai. Bangunan segi 8 yang dilapisi marmer bernuansa merah putih tampak megah dan indah berdiri di atas bumi Gaza. Namun RS ini belum dapat berfungsi karena belum memiliki alat kesehatannya. Untuk pengadaan alkes ini, masih dibutuhkan dana sebesar Rp 65 Milyar. Untuk itu, dalam rangka mengawal pengadaan alat kesehatan RS Indonesia, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) kembali mengirimkan Tim Relawannya ke Gaza. Tim yang dipimpin oleh Ir. Edy Wahyudi juga bertugas untuk menuntaskan pembangunan Wisma Rakyat Indonesia (Indonesia Guest House) dan renovasi masjid yang keduanya terletak di kawasan kompleks RS Indonesia. Tim relawan yang berjumlah 15 orang dari Divisi Konstruksi MER-C ini berangkat hari Sabtu pagi (28/6) pukul 09.00 wib dengan menggunakan maskapai Malaysia Airlines. Tim dijadwalkan tiba di Kairo, Minggu (29/6) pukul 04.55 pagi waktu setempat. Setibanya di Kairo, tim rencananya akan langsung menuju perbatasan Rafah untuk masuk ke Gaza. Sementara itu dalam sebulan terakhir ini, telah terjadi beberapa kali serangan Israel ke wilayah Gaza. Serangan-serangan ini tidak hanya menimbulkan kerusakan bangunan tapi juga korban jiwa warga Gaza. Donasi untuk Alat Kesehatan & Interior RS Indonesia dapat disalurkan melalui: •BNI SYARIAH, 08.111.929.73 •BCA, 686.0153678 •BSM, 700.1352.061 •BRI, 033.501.0007.60308 •BMI, 301.00521.15 •Mandiri, 124.0008111925 An. Medical Emergency Rescue Committee Jakarta, 28 Juni 2014 Divisi Humas MER-C www.mer-c.org
Laporan Tim MER-C Terkait Konferensi Pers Penyerangan Freedom Flotilla di Turki

Istanbul – Pada hari ini (28/3) telah diadakan konferensi press oleh koordinator Fredoom Flotilla dan pengacara yang mewakili para penuntut atas kasus di mana tentara Israel melakukan penyerangan terhadap awak Freedom Flotilla. Adnan Wirawan dari TPM ( Tim Pengacara Muslim) bertanya apa yang akan dilakukan jika peradilan Turki memutuskan untuk menutup kasus ini, dan dijawab oleh ketua IHH Bulent Yildirim bahwa sebenarnya sejak awal pihak Freedom Flotilla telah memenangkan kasus ini. Hukum yang ada di Turki pun sebenarnya sudah menyediakan landasan yang jelas bahwa dalam kasus seperti ini ke empat Jenderal Israel yang dituntut segera ditangkap. Sebuah “public case” tidak dapat ditutup menurut hukum yang berada di Turki. Setiap sidang yang dilaksanakan menunjukkan kepada dunia bahwa kasus ini masih berjalan. Jika pun kasus ini akhirnya ditutup oleh para hakim, maka ini hanya menunjukkan kekalahan dari pihak negara Turki, karena kasus ini merupakan kesempatan besar untuk menunjukkan kekuatan hukum negaranya. Dan kalaupun kasus ini ditutup, maka kapal Mavi Marmara ada, dan dapat digunakan untuk kembali berlayar menuju Gaza.
Laporan Tim MER-C dari Sidang Lanjutan Kasus Mavi Marmara

Istanbul – Pada tanggal 27 Maret 2014 telah diadakan sidang lanjutan atas kasus penyerangan terhadap Freedom Flotilla 2010 yang menyebabkan kematian 9 aktifis di atas kapal Mavi Marmara. Sidang kali ini memanggil sebagian dari panitia penyelenggara Freedom Flotilla asal Turki, yaitu mereka yang bertanggung jawab mengawal kapal Mavi Marmara dan kapal kargo bernama Defne Y yang saat itu membawa di antaranya bahan bangunan untuk digunakan di Gaza, Palestina. Dilaver Kutluay, yang berada di atas kapal Defne Y ketika penyerangan terjadi, dalam kesaksiannya menceritakan bagaimana ia dapat melihat tentara Israel menembak tanpa henti, melempar bom gas dan mengarahkan laser senjata ke arah kapal Mavi Marmara. Ia juga mendengar jeritan dari orang-orang yang berada di atas kapal Mavi Marmara yang membuat ia yakin bahwa banyak orang yang terluka di sana. Dilaver mengingat bahwa setidaknya ada 20 orang tentara Israel yang menaiki kapal Defne Y. Dilaver juga menggarisbawahi mengenai adanya orang yang mengaku sebagai orang Yahudi yang berbicara bahasa Turki dengan sangat fasih sebagaimana orang Turki pada umumnya, yang mengaku sebagai perwakilan konsulat Turki di Israel, memaksa penumpang Defne Y untuk menandatangani sebuah dokumen sambil mengancam bahwa jika dokumen ini tidak ditandatangani maka hukumannya adalah 10 tahun penjara di Israel. Dilaver mengaku bahwa barangnya diambil, ditelanjangi beberapa kali, dipukuli beberapa kali bahkan ketika ingin membantu kawan yang terluka di penjara Ashdod. Dilaver menambahkan bisa bahwa ada tentara Israel yang berbicara kepada kapten Kapal Defne Y dengan menggunakan bahwa Turki yang sangat fasih, dan ketika ditanya, tentara Israel ini menjawab bahwa ia berasal dari Istanbul. Omer, yang berada di atas kapal Mavi Marmara ketika penyerangan terjadi mengatakan bahwa sampai saat ini ia masih trauma atas kejadian yang ia alami hampir empat tahun lalu, karena ia selalu berpikir bahwa tentara Israel akan datang dan turun dari helikopter ke teras rumahnya. Di akhir sesi kesaksian kali ini para pengacara menyatakan tuntutannya kepada pengadilan. Mereka mengatakan bahwa dalam hukum Turki kasus ini masuk ke dalam kategori penyiksaan sistematis maka para hakim harus melakukan prosedur penangkapan terhadap General Gavriel Ashkenazi, Admiral Eliezer Marom, Brigadier General Avishai Levi, dan Major General Amos Yaldin. Para pengacara juga menegaskan bahwa hak asasi manusia terletak di atas semua hukum, dan para tertuntut harus mematuhi semua perintah pengadilan dan menjelaskan alasan perbuatan mereka. Para pengacara juga menuntut para hakim untuk membekukan kekayaan ke empat orang tersebut. Para pengacara juga mempertanyakan hubungan antara kepolisian Turki dan Israel karena ketika paspor salah satu warga Turki dikembalikan setelah disita di Israel, dan ditanyakan kepada polisi, siapa yang memberikan paspor ini kepada mereka, polisi ini hanya meminta penumpang Mavi Marmara ini untuk tidak banyak bertanya. Di akhir persidangan, hakim mengumumkan bahwa keputusan untuk melakukan prosedur penangkapan akan dilakukan di sidang berikutnya yang jatuh pada tanggal 26 Mei 2014.
Laporan Tim MER-C dari Konferensi Mavi Marmara “Search for Justice” di Turki

Istanbul – pada tanggal 25 Maret 2014 telah diadakan konferensi Mavi Marmara Search for Justice, “Not the law of the strong but justice for all” di Ali Emiri Kultur Merkezi, Istanbul, Turki. Konferensi yang digagas oleh IHH ini bertujuan untuk menyatukan misi dan visi dalam usaha menuntut Israel atas kejahatannya di kapal Mavi Marmara khususnya dan Freedom Flotilla pada umumnya. Pada sesi pembuka, ketua IHH Bulent Yildirim mengatakan bahwa walaupun terdapat banyak sekali tantangan yang dihadapi dalam menuntut Israel, di mana bahkan para hakim di Turki menolak kasus pembunuhan atas Furkan Dogan, akan tetapi ini adalah untuk pertama kalinya Israel dituntut oleh berbagai negara untuk kasus yang sama, yang mana ini berarti bahwa Israel sedang mengalami gangguan terbesar dalam sejarah penjajahan mereka. Sementara itu, Dror Feiler, yang merupakan mantan warga negara Israel menegaskan bahwa sudah seharusnya Israel diseret ke Mahkamah yang juga telah membawa Milosevich di Den Hague. Ahmet Dogan, ayahanda dari Syahid Furkan Dogan mengatakan bahwa anaknya yang merupakan warga negara Amerika Serikat sekalipun tidak mendapatkan keadilan di Mahkamah Amerika Serikat, karena hukum di Amerika Serikat tidak memungkinkan dilakukannya tuntutan kriminal atas negara Israel, karena belum ada kesepakatan dengan negara tersebut sampai saat ini. Greta Berlin menceritakan asal mula gerakan pelayaran menembus Gaza yang dipelopori antara lain oleh Greta sendiri bersama empat orang lainnya di tahun 2008. Dimitri Plionis menjelaskan bahwa harus ada kesamaan persepsi bahwa Freedom Flotilla merupakan inisiasi internasional yang terdiri dari 36 negara, bukan hanya inisiasi negara Turki. Ziyad Patel yang merupakan pengacara dari Gadija Davids (Afrika Selatan) membandingkan sistem Apartheid yang terjadi di Afrika Selatan Adam yang sedang berlangsung di Palestina. Ziyad mengatakan bahwa kolonialisme internasional sangat dikecam oleh masyarakat internasional dan hal ini dapat diangkat dalam tuntutan terhadap Israel. Prof Dr Ali Emrah Bozbayindir menjelaskan bahwa ada dua hal yang dapat membuat kasus ini menjadi lebih strategis, yaitu bahwa penyerangan terhadap bala bantuan kemanusiaan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang serius, sementara apabila kita dapat membuktikan bahwa pembunuhan dilakukan dengan cara “excecution style”, ini dapat menghilangkan alibi Israel bahwa mereka melakukan sela defence di kapal Mavi Marmara. Hadir juga sebagai pembicara di antaranya Ismail Bilgen, anak dari Syahid Ibrahum Bilgen, Ugur Yildirim, Yasin Samli, Ahmet Turk dari Palestina, Gonzales Boye dari Spanyol, Gilles Dever dari Perancis dan Gulden Sonmez dari IHH.