Relawan MER-C Terima Penghargaan dari Presiden Turki

Aktifis dan relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Nur Fitri Taher menerima penghargaan dari International Mount of Olive Peace Awards yang diserahkan oleh Istri Presiden Turki, Emine Erdogan, Senin (7/5) di Istanbul, Turki. Nur Fitri menjadi satu-satunya aktifis dari Indonesia yang menerima penghargaan tersebut bersama dengan 4 aktifis lainnya dari Palestina, Swedia, USA dan UK. Perempuan berdarah Pariaman Sumatera Barat ini adalah komandan Tim MER-C dalam misi pelayaran menembus blockade Gaza dengan kapal Mavi Marmara, Mei 2010. Nur Fitri ditugaskan menunaikan misi ini bersama dua relawan MER-C lainnya dan satu jurnalis yang bergabung dengan ratusan aktifis pembela Palestina dari berbagai negara. Bukan tanpa alasan Presidium MER-C menunjuk seorang relawan perempuan sebagai komandan Tim. Menurut Presidium MER-C, dr. Joserizal Jurnalis, SpOT, MER-C menunjuk Nur Fitri karena ingin menunjukkan bahwa perempuan Indonesia adalah perempuan yang tangguh. “Kami menunjuk Nur Fitri sebagai komandan tim karena ingin menunjukkan bahwa perempuan Indonesia adalah perempuan yang tangguh, siap syahid, mewarisi darah Siti Manggopoh dan Laksamana Malahayati,” tegasnya. Sementara itu, dalam sambutanya di hadapan Presiden dan pejabat pemerintahan Turki seketika menerima penghargaan, Nur Fitri mengatakan bahwa sebenarnya dia merasa tidak layak menerima penghargaan tersebut. “Saya sadar benar bahwa sebenarnya saya tidak layak menerima penghargaan ini, jadi saya akan mendedikasikan pengharagaan ini untuk saudara-saudara yang gugur di Mavi Marmara dan untuk seluruh syuhada yang gugur ketika mereka membela palestina” ujarnya. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada semua orang terhadap kepeduliannya terhadap Palestina. “Saya ingin berterima kasih kepada anda semua dan kepada semua orang yang memiliki kepedulian terhadap Pelestina, tapi mungkin kita harus memiliki kepedulian yang lebih lagi karena mungkin dengan begitu Allah akan menurunkan bantuan-Nya kepada kita. Dan mungkin ketika saat itu tiba, Palestina akan merdeka” ujarnya. Penghargaan tahunan yang baru pertama kali diadakan ini memberikan penghargaan kepada para penggiat kepalestinaan dari berbagai negara di dunia. Selain Nur Fitri, lembaga internasional tersebut juga memberikan penghargaan kepada orang tua dari Muhammad Abu Khader, remaja Palestina yang dibakar oleh pemukim ilegal Yahudi pada 2014. Selain itu penghargaan juga diberikan kepada orang tua Rachel Corrie, aktifis asal Amerika Serikat yang tewas dilindas sebuah buldoser milik Israel ketika hendak menghancurkan rumah warga Palestina. “Rachel datang ke Gaza sebagai warga negara dunia dalam rangka melawan ketidakadilan bagi siapapun didunia ini” kata Cindy Corrie, ibu Rachel Corrie dalam sambutannya. Selain ketiga wanita tersebut, seorang aktifis asal Swedia Benjamin Ladraa turut pula menerima penghargaan atas kepeduliannya terhadap Palestina. Ladraa berjalan sejauh 5000 km dari Swedia menuju ke Al Quds untuk mengkampanyekan kepeduliannya terhadap Palestina. Penghargaan juga diberikan kepada syahid Naji Ali, aktitif – kartunis yang terkenal dengan karakter Hanzalah. (NIA, NFT- MER-C)
Percepat Progress Pembangunan RSI, MER-C Kirim Tim Tambahan ke Rakhine

Jakarta – Hari ini, Senin (2/4), MER-C melepas keberangkatan Tim tambahan dari Divisi Konstruksi MER-C ke wilayah konflik Rakhine State, Myanmar. Tim terdiri dari dua relawan, yaitu Karidi bin Martono Parjo dan Wanto bin Kartu Karyomejo. Tujuan keberangkatan tim adalah untuk mempercepat progress pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar. Dengan tambahan dua relawan, maka jumlah relawan Indonesia di Rakhine State, Myanmar untuk program pembangunan RS Indonesia menjadi empat orang. Mereka semua akan bertugas di wilayah ini hingga pembangunan RS Indonesia selesai. Karidi dan Wanto terpilih dalam penugasan kali ini karena memiliki pengalaman sebagai Tim Pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. Karidi pernah dua kali ditugaskan dan tinggal di wilayah terblokade ini selama total 3 tahun. Dengan keahlian khususnya dalam bidang mekanikal elektrikal, dialah yang bertanggung jawab terhadap instalasi listrik dan AC RS Indonesia di Gaza. Seperti halnya Karidi, Wanto yang memiliki keahlian dalam bidang sipil dan arsitektur juga pernah bertugas di Jalur Gaza selama 20 bulan lamanya. “Dengan pengalaman dan keahlian yang dimiliki kita berharap tambahan dua relawan bisa mengejar progress pembangunan bangunan utama RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar dan pembangunan bisa selesai sesuai jadwal pada bulan September 2018 nanti,” ujar DR. Ir. Idrus M. Alatas, MSc, Ketua Tim Pembangunan RS Indonesia. Tim bertolak dari Jakarta dengan menggunakan maskapai penerbangan Thai Airways dan diperkirakan akan tiba di Yangon pada hari ini pukul 18.00 waktu setempat. Dari Yangon, kedua relawan akan melanjutkan perjalanan ke Sittwe, Ibukota Rakhine State dengan menggunakan penerbangan lokal. Untuk mencapai lokasi pembangunan RS Indonesia masih diperlukan perjalanan darat sekitar 3-4 jam. Dukungan dan Donasi Sahabat untuk Pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui: BSM, 700.130.6833 BCA, 686.028.0009 Mandiri, 124.000.8111.982 Semua rekening atas nama : Medical Emergency Rescue Committee Ikuti kami di: Website : www.mer-c.org FB : MER-C Indonesia IG : @mercindonesia / @rsindonesia Twitter : @mercindonesia / @RSIndonesia Call Center : 0811990176 (WA) |Humanity for Peace| |Peduli untuk Kemanusiaan yang Lebih Baik|
Silaturahim ke DPP PKS, MER-C Sampaikan Rencana Pembangunan RS di Yaman

Tim MER-C yang dipimpin oleh dr. Sarbini Abdul Murad melakukan kunjungan ke DPP PKS di Jalan TB Simatupang untuk bersilaturahmi dengan Ketua Majelis Syuro PKS, Dr. H. Salim Segaf Al-Jufri, Selasa (05/12). Turut serta dalam silaturahmi tersebut adalah DR. Ir. Idrus M. Alatas, Ketua Divisi Konstruksi MER-C sekaligus Project Manager RS Indonesia di Rakhine Myanmar, dan Drs. Ichsan Thalib dari Divisi Konstruksi MER-C. “Ini adalah pertama kali MER-C bersilaturahmi ke DPP PKS. Kalau dengan Pak Salim sudah beberapa kali bertemu saat beliau menjadi Mensos RI. Tujuan silaturahmi kali ini adalah untuk berdiskusi masalah umat, masalah kebangsaan dan juga kemanusiaan, serta apa yang dapat disinergikan” ujar Sarbini. Selain menyampaikan mengenai program-program yang sudah dilakukan oleh MER-C, yaitu pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza (Palestina) dan pembangunan RS Indonesia yang sedang berlangsung di Rakhine (Myanmar), kesempatan silaturahim juga dimanfaatkan oleh anggota Presidium MER-C ini untuk menyampaikan mengenai rencana pembangunan RS Indonesia di Yaman yang sedang berkecamuk perang. “Dr. H. Salim Segaf Al-Jufri merespon positif rencana ini. Beliau mengapresiasi dan mendukung MER-C untuk membangun Rumah Sakit di Yaman,” terang Sarbini. “Kami mengajak kerjasama PKS dan komponen umat Islam lainnya. Mungkin nanti kita coba untuk menggalang aliansi, orang-orang Hadramaut dan masyarakat yang peduli untuk bisa membantu meringankan penderitaan saudara-saudara kita di Yaman,” tambahnya. Terkait rencana pembangunan RS di Yaman, Drs. Ichsan Thalib dari Divisi Konstruksi MER-C menyampaikan bahwa sudah ada yang menawarkan tanah wakaf untuk lokasi pembangunan RS. MER-C akan mengirimkan tim untuk melakukan survai lokasi dan assessment lebih lanjut ke Yaman. Info: www.mer-c.org 0811990176
Bahas Bantuan Medis, MER-C Audiensi dengan Dubes Myanmar di Jakarta

Kamis/23 November 2017, Tim MER-C yang diwakili oleh dr. Yogi Prabowo, SpOT, dr. Hadiki Habib, SpPD dan Rima Manzanaris bertemu dengan Duta Besar Myanmar untuk Indonesia, Mrs. Ei Ei Khin Aye. Pada pertemuan ini Tim MER-C menyampaikan mengenai sejarah dan progress pembangunan RS Indonesia di Muaung Bwe, Mrauk U, Rakhine State, Myanmar yang sudah memasuki tahap pembangunan bangunan utama rumah sakit. MER-C juga saat ini menugaskan dua insinyur untuk mengawasi seluruh proses pembangunan rumah sakit hingga rumah sakit ini selesai. Selain bantuan jangka panjang dalam bentuk pembangunan sarana kesehatan, dr. Yogi Prabowo, SpOT selaku Pendiri dan Relawan Medis MER-C juga menyampaikan rencana pengiriman tim medis MER-C ke Rakhine State, Myanmar. Dubes Myanmar untuk Indonesia memberikan apresiasi dan tanggapan postif atas pembangunan rumah sakit bantuan dari rakyat Indonesia. Seiring perjanjian repatriasi antara Myanmar dan Bangladesh, Dubes Ei Ei Khin Aye berpandangan bantuan pelayanan medis yang MER-C tawarkan juga akan sangat dibutuhkan dalam proses ini nantinya. Dubes menyatakan akan mengkoordinasikan hal ini dengan pihak-pihak terkait di Myanmar. Menanggapi hal ini, dr. Yogi Prabowo, SpOT menyatakan bahwa MER-C siap mendamping proses repatriasi. “Kami telah mempersiapkan lima relawan medis, termasuk saya sendiri dan dr. Hadiki Habib, SpPD. Sisanya adalah relawan dokter umum dan perawat. Tim ini adalah tim pertama dan kami akan siapkan tim selanjutnya sesuai dengan kondisi dan kebutuhan di lapangan nanti.”
Bantuan Ambulans dari rakyat Indonesia untuk rakyat Suriah Diserahterimakan

Setelah melalui proses panjang, akhirnya pada hari Rabu/26 Juli 2017, bantuan ambulans yang dibeli dari donasi rakyat Indonesia yang masuk ke rekening MER-C amanah “Ambulance(s) and Medical Aid for Syria” telah diserahterimakan. Terima kasih atas kepercayaan rakyat Indonesia, semoga bantuan ini bermanfaat untuk memberikan bantuan medis bagi rakyat Suriah yang menjadi korban perang. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Duta Besar RI untuk Suriah, Bapak Djoko Harjanto beserta seluruh jajaran staf KBRI Suriah yang telah membantu dan memfasilitasi pembelian bantuan ambulans ini. ———————– DUA AMBULANS DARI RAKYAT INDONESIA UNTUK RAKYAT SURIAH Pada hari Rabu (26/7), KBRI Damaskus telah menyerahkan dua mobil ambulans yang merupakan bantuan kemanusiaan Rakyat Indonesia dari dua organisasi kemanusiaan Indonesia yaitu: Dompet Dhuafa dan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), kepada Syrian Arab Red Crescent (SARC) bertempat di kantor Kementerian Administrasi Lokal Suriah. Serah terima ambulans tersebut dihadiri oleh Deputi Menteri Administrasi Lokal, Ketua Syrian International Rescue Committee (SIRC), para staf KBRI Damaskus dan delegasi dari SARC. Dalam kesempatan serah terima tersebut, Dubes RI Damaskus, Djoko Harjanto menjelaskan bahwa Bantuan Kemanusiaan Indonesia ini sebetulnya sudah dirintis sejak dua tahun yang lalu sebagai wujud solidaritas Rakyat Indonesia kepada Rakyat Suriah yang sedang menghadapi konflik. MER-C sesuai dengan misinya ”Giving Hope to Humanity and Help to People that Need the Most” dan misi Dompet Dhuafa yang juga perduli kepada sesama, dua unit ambulans ini kemudian dikirim dengan harapan segera dapat dimanfaatkan di Suriah dan menjadi catatan amal yang terus mengalir kepada para donaturnya. Dubes Djoko, atas nama Perwakilan Indonesia di Suriah, MER-C, dan Dompet Dhuafa menyampaikan terima kasih kepada Menteri Administrasi Lokal dan Ketua Bulan Sabit Merah Suriah serta pihak terkait lainnya yang telah membantu terselenggaranya acara serah terima Bantuan Kemanusiaan berupa ambulans dari Rakyat Indonesia untuk Rakyat Suriah. Dubes Djoko menyampaikan pula bahwa karena satu dan lain hal, Presidium MER-C, Bapak Ir. Faried Thalib dan Direktur Dompet Dhuafa, drg. Iman Rulyawan tidak dapat hadir di Suriah dan karenanya menyampaikan salam mereka kepada Bulan Sabit Merah Suriah serta semua pihak yang telah berjasa dan mengamanahkan kepada Kedutaan Besar RI di Damaskus untuk mewakili mereka dalam penyerahan Bantuan Kemanusiaan ini. Pada kesempatan yang sama, Menteri Administrasi Lokal Suriah, Hussein Makhlouf, turut menyampaikan terima kasih atas sikap dan dukungan Indonesia selama ini terhadap Suriah, baik dukungan politik di forum internasional, dukungan dalam bidang ekonomi, maupun bantuan kemanusiaan seperti ini. (Sumber: KBRI Damaskus) – https://www.facebook.com/kbri.damaskus?fref=ts
Pembangunan Infrastruktur RS Indonesia Dimulai Bulan Depan

Rakhine – Pembangunan infrastruktur berupa pengurukan dan pemagaran lahan RS Indonesia di Myanmar akan dimulai segera dalam bulan depan, Juni 2017. Hal ini disampaikan salah satu anggota Tim Pembangunan RS Indonesia, Dr. Ir. Idrus M. Alatas usai mengunjungi lokasi lahan RS Indonesia yang terletak di Muaung Bay, Mrauk U, Rakhine State, Myanmar, hari Kamis/18 Mei 2017. Prioritas utama lainnya yang harus diselesaikan adalah air bersih yang sulit didapat di wilayah ini. Padahal kebutuhan air bersih tinggi dan vital bagi sebuah rumah sakit. Idrus M. Alatas yang juga Ketua Divisi Konstruksi MER-C mengemukakan bahwa pembangunan RS Indonesia akan dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap awal infrastruktur lalu tahap pembangunan rumah sakit itu sendiri. Infrastruktur RS Indonesia mencakup diantaranya pemagaran dan pengurukan. Untuk pengurukan, lahan RS Indonesia harus diuruk setinggi dua meter untuk untuk menghindari banjir yang setiap tahun melanda daerah ini. “Direncanakan pemagaran dan pengurukan dapat dilaksanakan Juni depan, dilanjutkan dengan pembangunan rumah sakit yang sedang didisain ulang disesuaikan dengan standar nasional yang berlaku di Myanmar. Pembangunan RS akan dilaksanakan setelah musim hujan periode September,” lanjutnya. Saat kunjungan ke lokasi yang berjarap sekitar 4,5 jam perjalanan darat dari kota Sittwe, ibukota Rakhine State, tim menemukan permasalah krusial yang juga harus diatasi, yaitu permasalahan air bersih. Melihat kondisi air yang sangat tidak layak, Tim memutuskan bahwa hal ini juga akan menjadi prioritas utama untuk diselesaikan karena terkait dengan kesehatan warga sekitar dan keberlangsungan pelayanan RS Indonesia nantinya. Air di wilayah ini payau meski sudah dibuat sumur yang dalam. Air sungai juga payau tidak bisa diminum sehingga warga mengandalkan air hujan yang ditampung pada penampungan air untuk mereka gunakan kala musim kemarau tiba. Idrus M. Alatas, relawan teknis yang juga ahli geologi tanah akan mengajukan program pengolahan penampungan air yang lebih efektif dan sehat. Tim rencananya juga akan melibatkan ahli tata kelola air untuk membantu mengatasi permasalahan air bersih di wilayah ini. Pembangunan RS Indonesia adalah program kerjasama MER-C (medical Emergency Rescue Committee) bersama PMI (Palang Merah Indonesia) dengan dukungan Pemerintah RI. MER-C kembali mengajak berpartisipasi masyarakat Indonesia dalam mewujudkan program ini. RS Indonesia di Myanmar diharapkan dapat menjadi salah satu diplomasi kemanusiaan dalam bidang kesehatan yang dapat mendorong terciptanya perdamaian bagi warga Muslim dan Budha di negara ini.
MER-C dan Pemerintah Myanmar Sepakati Lokasi RS Indonesia

Rakhine – MER-C dan Pemerintah Myanmar sepakati lokasi untuk pembangunan RS Indonesia, yaitu di desa Muaung Bay, Mrauk U, Rakhine State, Myanmar. Lokasi ini dipilih setelah Tim Pembangunan RS Indonesia yang terdiri dari Drs. Ichsan Thalib, Dr. Ir. Idrus M. Alatas dan Ir. Faried Thalib melakukan kunjungan langsung ke lapangan, Kamis/18 Mei 2017. Kunjungan didampingi oleh dr. Swei Tein (Kepala Kesehatan Rakhien State), Bonifatius A. Herindra (Pelaksana Fungsi Politik KBRI Yangon) dan tiga kontraktor yang berminat mengikuti tender pembangunan RS Indonesia. “Lokasi berjarak sekitar 2,3 km dari lokasi lama yang telah Tim MER-C kunjungi pada Agustus 2015 lalu,” ungkap Ichsan Thalib yang sudah tiga kali mengunjungi Rakhine State, Myanmar. Ketua Tim Pembangunan RS Indonesia di Myanmar ini menyatakan bahwa lokasi disepakati karena dilihat dari strategisnya sama dengan lokasi yang lama. Bahkan di lokasi baru mobilisasi warga di RS akan lebih memungkinkan. Di sini lebih ramai dan lebih dekat ke pemukiman warga baik muslim maupun Budha. Lahan RS Indonesia yang diberikan pemerintah Myanmar sekarang juga lebih luas, yaitu sekitar 7.000 meter persegi, terletak di pinggir jalan raya Sittwe – Yangon.” Hal penting lainnya, tambah Ichsan, lokasi ini juga tetap mudah diakses dan dapat memberikan pelayanan bagi warga Rakhine State dari kedua belah pihak baik Muslim maupun Budha. Di samping lahan RS Indonesia saat ini ada rumah sakit tua (station hospital) yang dibangun tahun 1972 yang sudah mengalami beberapa kerusakan. Pada kesempatan kunjungan tersebut Tim memberikan santunan pada para pasien yang terbaring di bangsal RS yang sekitar 70% adalah warga Muslim. Tim memberikan santunan kepada pasien baik muslim maupun budha dan kepada paramedis. Rumah sakit (station hospital) inilah yang selama ini menjadi tumpuan warga sekitar dikala sakit. Apabila RS Indonesia telah selesai, maka operasional pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan yang ada akan dipindahkan ke RS Indonesia. Pembangunan RS Indonesia adalah program kerjasama MER-C (medical Emergency Rescue Committee) bersama PMI (Palang Merah Indonesia) dengan dukungan Pemerintah RI. MER-C kembali mengajak berpartisipasi masyarakat Indonesia dalam mewujudkan program ini. RS Indonesia di Myanmar diharapkan dapat menjadi salah satu diplomasi kemanusiaan dalam bidang kesehatan yang dapat mendorong terciptanya perdamaian bagi warga Muslim dan Budha di negara ini.
MER-C dan Kemenkes Myanmar Tandatangani Kesepakatan Pembangunan Rumah Sakit

Selasa/16 Mei 2017 menjadi salah satu hari bersejarah dalam rangkaian proses pembangunan RS Indonesia di Myanmar. Pada hari ini, dilakukan penandatanganan kesepakatan jenis rumah sakit yang akan dibangun oleh MER-C bekerjasama dengan PMI di Mrauk U, Rakhine State, Myanmar. Penandatanganan dilakukan antara Ketua Tim Pembangunan RS Indonesia di Myanmar, drs. Ichsan Thalib dengan Wakil Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan dan Olahraga Myanmar, dr. Myat Wunna Soe, di Naypyidaw. Penandatanganan turut disaksikan oleh Faried Thalib (Presidium MER-C), Idrus M. Alatas Ketua Divisi Konstruksi MER-C serta Pelaksana Fungsi Sosial Budaya KBRI Yangon, Yasfitha Febriany Murthias. Menurut Ichsan Thalib, RS Indonesia akan berjenis station hospital sesuai standar nasional yang berlaku di Myanmar. Untuk itu, disain yang sudah dibuat oleh Divisi Konstruksi MER-C akan disesuaikan dengan jenis Rumah Sakit yang sudah disepakati. “Detail disain akan dinegosiasikan lagi besok” tambahnya. Lebih lanjut Ketua Tim Pembangunan RS Indonesia menyampaikan bahwa Pemerintah Myanmar sangat mengapresiasi bantuan rumah sakit dari rakyat Indonesia yang akan dibangun di wilayah Muslim dan Budha. RS Indonesia nantinya akan dioperasionalkan oleh pemerintah Myanmar. Tenaga kesehatan dari Indonesia bisa membantu sebagai relawan di rumah sakit ini. Mengenai teknis pembangunan, Ketua Divisi Konstruksi MER-C, Idrus M. Alatas menjelaskan bahwa sebagai wilayah dengan iklim monsoon, maka perlu dilakukan pengurugan lahan RS Indonesia. Pengurugan akan dibuat setinggi dua meter untuk mengantisipasi banjir. “Dalam kunjungan sepekan ini kita harapkan dapat deal untuk pengerjaan tahap infrastruktur, yaitu pagar dan pengurugan lahan rumah sakit.” Hari Rabu ini tim pembangunan RS Indonesia bersama KBRI dijadwalkan bertolak ke Sittwe, Ibukota Rakhine State untuk bertemu dan berkoordinasi dengan pemerintah dan kontraktor lokal. Dukungan dan donasi untuk program Pembangunan RS Indonesia di Myanmar: Bank Mandiri, 124.000.8111.982 BSM, 700.1306.833 BCA, 686.028.0009 Semua rekening a/n. Medical Emergency Rescue Committee Info: www.mer-c.org 0811990176
Diplomasi Kemanusiaan, MER-C berangkatkan Insinyur untuk Bangun RS Indonesia di Myanmar

Jakarta – Hari ini, Senin/15 Mei 2017, MER-C melepas keberangkatan tiga relawan teknis yang akan menindaklanjuti rencana pembangunan sarana kesehatan di wilayah konflik Rakhine State, Myanmar. Ketiga relawan teknis dari Divisi Konstruksi MER-C tersebut adalah Drs. Ichsan Thalib (Project Manager RS Indonesia di Myanmar), Dr. Ir. Idrus Muhamad Alatas, M.Sc (Ketua Divisi Konstruksi MER-C) dan Ir. Faried Thalib (Presidium MER-C yang memiliki pengalaman sebagai Ketua Tim Pembangunan RS Indonesia di Gaza, Palestina). Tim bertolak ke Myanmar untuk bertemu dan berkoordinasi dengan pemerintah dan pihak-pihak terkait di negara ini. Tim teknis MER-C dijadwalkan akan berada di Myanmar selama 6 hari hingga tanggal 21 Mei 2017. Sejumlah agenda untuk bisa segera merealisasikan program ini seperti pertemuan dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, konsultan dan kontraktor pembangunan telah diagendakan atas bantuan dan fasilitasi Kemenlu RI dan KBRI Yangon. Diharapkan dalam waktu satu minggu tim berada di Myanmar, seluruh agenda misi dapat terlaksana. MER-C tidak sendiri, lembaga PMI (Palang Merah Indonesia) telah berkomitmen bekerjasama mewujudkan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar. MER-C juga berharap dukungan dan partisipasi dari seluruh rakyat Indonesia untuk dapat merealisasikan RS Indonesia di wilayah ini seperti halnya yang telah kita lakukan di Gaza, Palestina. Pembangunan RS Indonesia di Myanmar diharapkan dapat menjadi salah satu diplomasi kemanusiaan rakyat Indonesia dalam bidang kesehatan, setelah Pemerintah Indonesia melakukan hal serupa di bidang pendidikan dengan membangun 4 sekolah di Rakhine State. Setelah pembangunan RS Indonesia di wilayah terblokade Jalur Gaza (Palestina), MER-C mulai berfokus pada wilayah konflik di belahan dunia lainnya. Rakhine State, Myanmar menjadi pilihan untuk program kemanusiaan jangka panjang MER-C selanjutnya. Berdasarkan hasil assessment tim medis pertama MER-C ke wilayah ini pada September 2012 lalu ke Rakhine State, MER-C memutuskan untuk melakukan pembangunan sarana kesehatan yang keberadaannya masih sangat dibutuhkan masyarakat setempat. Program ini pun mendapat apresiasi dan dukungan dari Pemerintah kedua negara. Dukungan dan bantuan bagi program Pembangunan “RS INDONESIA” di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui: Bank Mandiri, 124.000.8111.982 BSM, 700.1306.833 BCA, 686.028.0009 Semua rekening a/n. Medical Emergency Rescue Committee Info : www.mer-c.org 0811990176
MER-C akan Bangun “Indonesia Health Center” di Mrauk U, Myanmar

Usai melakukan serah terima bantuan ambulans untuk masyarakat Rakhine State, dari Sittwe (ibukota Rakhine State), Tim ke-3 MER-C untuk Myanmar atas fasilitasi dari KBRI Yangon bergerak ke Minbya, Jum’at (28/8). Kunjungan ini dilakukan untuk meninjau dan memastikan rencana lokasi pembangunan “Indonesia Health Center” yang telah mendapat respon positif dari pemerintah Myanmar. Bahkan pemerintah Rakhine State, Myanmar telah menyediakan sebidang lahan, tepatnya di wilayah Mrauk U untuk pembangunan sarana kesehatan ini. Selain meninjau lahan untuk “Indonesia Health Center”, Tim MER-C didampingi oleh Staf KBRI Yangon dan Staf Pemerintah Rakhine State juga akan mengunjungi bantuan sekolah yang telah dibangun oleh pemerintah Indonesia di Minbya, dimana sebelumnya pada Februari 2015 dengan donasi dari rakyat Indonesia, MER-C telah menyumbangkan dua unit genset untuk membantu kegiatan belajar mengajar di sekolah ini. Jum’at pagi (28/8), Tim menuju pelabuhan di Sittwe, karena perjalanan ke Minbya harus melalui sungai dan delta sungai menggunakan speedboat selama kurang lebih 3 jam. Tujuan pertama Tim adalah mengunjungi sekolah bantuan dari pemerintah Indonesia. Ada dua unit sekolah yang telah dibangun pemerintah Indonesia di wilayah Minbya. Satu sekolah khusus untuk Budha dan satu sekolah khusus untuk muslim dengan jarak keduanya sekitar 500 meter. Masing-masing bangunan sekolah terdiri dari 2 lantai. Suasana pasca banjir masih terlihat di sana-sini, bahkan sekitar satu minggu lalu bangunan sekolah ini sempat terendam hingga 1 meter akibat bencana banjir yang melanda Myanmar. Anak-anak, baik di sekolah Budha maupun Muslim nampak ceria menyambut kedatangan Tim. Menuju Mrauk U Dari Minbya, Tim bersama Staf KBRI Yangon dan Staf Pemerintahan Rakhine melanjutkan perjalanan menuju Mrauk U yang ditempuh dengan menggunakan enam kendaraan jeep. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 1 jam, tim tiba di Mrauk U. Daerah ini pun masih terlihat porak poranda pasca terjangan bencana banjir. Antara desa Muslim bernama Site berpenduduk sekitar 650 jiwa dan desa Budha bernama Nanja berpenduduk sekitar 1.700 jiwa, pemerintah Rakhine State telah menyiapkan sebidang lahan seluas 4.000 meter persegi untuk lokasi pembangunan “Indonesia Health Center”. Lokasi cukup strategis karena dapat diakses dengan dua sarana moda transportasi, yaitu dipinggir jalan raya Yangon – Sittwe dan di bagian belakangnya terdapat sungai besar yang berfungsi sebagai sungai transportasi. Pembebasan Lahan untuk “Indonesia Health Center” Di Rakhine State, seluruh tanahnya adalah milik negera. Untuk itu, setelah mempertimbangkan lokasi lahan yang cukup strategis dan wilayah ini pun adalah wilayah pasca bencana yang masih sangat membutuhkan adanya sarana kesehatan, maka Tim MER-C langsung melakukan proses pembebasan lahan dengan membayar ganti rugi kepada para petani penggarap. Saat itu juga, proses pembayaran kepada 3 orang petani penggarap lahan sebesar 1,6 juta kyat atau sebesar 17,6 juta rupiah langsung dilakukan di kantor Pemerintah Daerah setempat. “Yang mengusulkan lokasi adalah pemerintah Rakhine State,” ujar dr. Joserizal Jurnalis, SpOT, Ketua Tim ke-3 MER-C untuk Myanmar. “Pertimbangannya adalah di Mrauk U ada komunitas Budha dan Muslim yang bisa hidup berdampingan, walaupun ada juga internal displacement,” tambahnya. Lebih lanjut Joserizal menyampaikan bahwa sekolah Indonesia di Minbya juga menjadi sarana berbaur masyarakat Budha dan Muslim. “Kita berharap Indonesia Health Center pun demikian dan akan menjadi bagian dari humanitarian politics MER-C berikutnya untuk masalah konflik di Myanmar,” imbuhnya. Drs. Ichsan Thalib, anggota Tim dari Divisi Konstruksi MER-C memperkirakan dengan luas lahan 4.000 meter persegi, maka perkiraan biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan fisik “Indonesia Health Center” sekitar 3 Milyar rupiah, belum termasuk peralatan kesehatannya. “Biaya fix akan kami hitung kembali setelah tiba di Jakarta,” ujarnya. Dukungan dan bantuan untuk pembangunan “Indonesia Health Center” dapat disalurkan melalui: Bank Central Asia (BCA), Rek. No. 686.028.0009 Bank Syariah Mandiri (BSM), Rek. No. 700.1306.833 Atas nama Medical Emergency Rescue Committee