MER-C Berangkatkan Tim ke-2 ke Rohingya Myanmar untuk Tindaklanjuti “Indonesia Health Center”

Jakarta – Senin (16/2), MER-C kembali memberangkatkan Tim Kemanusiaan ke Myanmar. Ini adalah pengiriman Tim ke-2 MER-C ke Myanmar setelah sebelumnya, pada bulan September 2012, MER-C mengirimkan tim pertama sebanyak 5 orang relawan yang telah melakukan assessment dan penyaluran bantuan medis tahap awal. Pada misi kemanusiaan ke-2 ini, Tim MER-C terdiri dari 7 orang relawan dengan berbagai keahlian, yaitu 1 dokter spesialis penyakit dalam, 2 dokter umum, 2 perawat, serta 2 relawan non medis dari divisi konstruksi dan divisi bantuan logistik MER-C. Target tim adalah kembali masuk dan menyalurkan secara langsung bantuan medis dan kemanusiaan ke wilayah konflik dan pengungsian di Provinsi Rakhine (Rakhine State), Myanmar. Selain itu, dengan amanah donasi dari rakyat Indonesia, MER-C juga akan membuat program bantuan jangka panjang di wilayah ini. Salah satu program yang telah dicanangkan dan akan ditindaklanjuti oleh Tim ke-2 MER-C adalah rencana pembangunan “Indonesia Health Center”. Hal ini berdasakan hasil assessment tim pertama bahwa fasilitas di kamp pengungsian masih sangat minim, khususnya fasilitas kesehatan bagi para pengungsi. Program bantuan yang bersifat jangka panjang seperti “Indonesia Health Center” diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang dan menjadi simbol persahabatan Indonesia dan Myanmar, serta mempererat hubungan baik rakyat kedua negara. Keberangkatan Tim ke-2 MER-C ke Myanmar dimungkinkan setelah adanya izin dari Kementerian Luar Negeri dan Kantor Kepresidenan Myanmar yang sebelumnya telah melalui proses cukup panjang. Dengan adanya izin dari Kementerian Luar Negeri dan Kantor Kepresiden Myanmar ini, diharapkan misi kemanusiaan ke-2 MER-C bisa diberi kelancaran dan keamanan untuk seluruh anggota Tim. Dari Yangon, Rabu (18/2) Tim MER-C dijadwalkan akan bertolak ke Sittwe, ibukota Rakhine State dengan menggunakan maskapai penerbangan lokal. Sesuai izin, Tim akan berada di Rakhine State hingga hari Sabtu (21/2) untuk memberikan pelayanan medis kepada para pengungsi, memberikan bantuan obat-obatan dan memberikan bantuan paket alat kesehatan. Sementara relawan dari divisi Konstruksi MER-C akan fokus melakukan survei serta koordinasi dengan pihak terkait untuk rencana pembangunan sarana kesehatan yang akan diberi nama “Indonesia Health Center”. Apabila donasi dari rakyat Indonesia masih mencukupi, MER-C akan membuat program lanjutan diantaranya berupa pembuatan sarana air bersih dan MCK. Keberangkatan tim MER-C ke Myanmar pada hari Senin ini dilepas oleh dua Presidium MER-C, dr. Joserizal Jurnalis, SpOT dan Ir. Faried Thalib serta sejumlah relawan MER-C di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta. Tim akan transit di Bangkok dan diperkirakan tiba di Yangon pada Senin malam ini, pkl. 19.00 waktu setempat. Setibanya di Yangon, Tim akan langsung berkoordinasi dengan KBRI Yangon dan sejumlah pihak terkait di Myanmar. Rekening Donasi #Hand4Rohingya dapat disalurkan melalui: BSM, 700.1306.833 An. Medical Emergency Rescue Committee Info lebih lanjut: www.mer-c.org Call center: 0811 99 0176
Dikawal Militer Mesir, 15 Relawan Indonesia Akhirnya Masuk Gaza

Gaza – Melakukan perjalanan selama dua hari dari Jakarta ke Kairo sejak Sabtu (28/06), sebanyak 15 relawan Indonesia untuk program RS Indonesia sempat tertahan pada usaha pertama untuk memasuki Gaza melalui Perbatasan Rafah, Ahad (29/06). Perjalanan ke Perbatasan Rafah kali ini pun berbeda dari biasanya. Bus yang membawa relawan dikawal oleh pasukan militer Mesir dengan kendaraan dan persenjataan lengkap seperti tank, hammer dan lain sebagainya. Namun, kesabaran Tim diuji, setibanya di Perbatasan Rafah Mesir mereka belum diizinkan masuk ke Gaza dan terpaksa mencari penginapan untuk bermalam dan berusaha untuk masuk ke Gaza esok harinya. Senin (30/06) sekitar pukul 09.00 waktu setempat, kelima belas relawan kembali bergegas ke Perbatasan Rafah Mesir. Empat relawan Indonesia yang berada di Gaza, yaitu Ir. Nur Ikhwan Abadi, Moqorrobin Alfikri, Muhammad Husein dan Reza Aldilla menunggu kedatangan relawan di Perbatasan dengan tak lepasnya berdoa agar proses perizinan para relawan yang baru datang dari Indonesia pada hari ini diberi kemudahan. Setelah melalui proses pengecekan paspor hingga lepas waktu Dzuhur akhirnya kelima belas relawan Indonesia berhasil memasuki Jalur Gaza dan disambut suka cita oleh para relawan di Gaza. Kedatangan kelima belas relawan ini menambah jumlah relawan Indonesia di Gaza menjadi total 19 orang. Setelah proses penyambutan, para relawan bergegas menuju lokasi RS Indonesia. Bagi Karidi, Tata Lukita, Abdul Azis dan Luthfi Paimin ini adalah kali kedua mereka mendapat kesempatan dan dipercaya untuk bertugas di Gaza untuk program RS Indonesia. Bahkan bagi Ir. Edy Wahyudi ini adalah kesempatan ke-3 kalinya mendapat amanah memimpin Tim Relawan Konstruksi Pembangunan RS Indonesia. Sementara bagi 10 orang relawan lainnya ini adalah pengalaman pertama mereka bertugas di wilayah terblokade Gaza, Palestina yang selama ini hanya mereka dengar ceritanya. Meski bertugas di wilayah yang tidak aman bahkan beberapa hari terakhir kerap terjadi serangan yang getaran dan suara ledakannya terasa hingga RS Indonesia, namun niat dan tekad para relawan sudah bulat. Amanah tugas sudah menanti mereka untuk mengawal pengadaan alat kesehatan RS Indonesia. Tugas lainnya adalah melanjutkan proses pembangunan Wisma Rakyat Indonesia (Indonesia Guest House) yang terletak di belakang RS Indonesia dan perbaikan masjid yang berada di sebelah timur RS Indonesia. Mohon do’a dan dukungan dari seluruh rakyat Indonesia, semoga proses pembangunan ini berjalan dengan lancar meskipun di tengah-tengah situasi yang sedang genting di Gaza-Palestina.
MER-C Berangkatkan Tim ke Gaza untuk Mengawal Pengadaan Alkes RS Indonesia

Menyongsong awal bulan suci Ramadhan, sebanyak 15 orang relawan Indonesia tengah bersiap dan berpamitan dengan keluarga tercinta untuk melaksanakan jihad profesional menyelesaikan pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RS Indonesia) di Gaza, Palestina. Ramadhan tahun ini akan mereka lalui di Gaza dengan masa tugas direncanakan hingga Desember 2014. Pembangunan RS Indonesia memang sudah selesai. Bangunan segi 8 yang dilapisi marmer bernuansa merah putih tampak megah dan indah berdiri di atas bumi Gaza. Namun RS ini belum dapat berfungsi karena belum memiliki alat kesehatannya. Untuk pengadaan alkes ini, masih dibutuhkan dana sebesar Rp 65 Milyar. Untuk itu, dalam rangka mengawal pengadaan alat kesehatan RS Indonesia, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) kembali mengirimkan Tim Relawannya ke Gaza. Tim yang dipimpin oleh Ir. Edy Wahyudi juga bertugas untuk menuntaskan pembangunan Wisma Rakyat Indonesia (Indonesia Guest House) dan renovasi masjid yang keduanya terletak di kawasan kompleks RS Indonesia. Tim relawan yang berjumlah 15 orang dari Divisi Konstruksi MER-C ini berangkat hari Sabtu pagi (28/6) pukul 09.00 wib dengan menggunakan maskapai Malaysia Airlines. Tim dijadwalkan tiba di Kairo, Minggu (29/6) pukul 04.55 pagi waktu setempat. Setibanya di Kairo, tim rencananya akan langsung menuju perbatasan Rafah untuk masuk ke Gaza. Sementara itu dalam sebulan terakhir ini, telah terjadi beberapa kali serangan Israel ke wilayah Gaza. Serangan-serangan ini tidak hanya menimbulkan kerusakan bangunan tapi juga korban jiwa warga Gaza. Donasi untuk Alat Kesehatan & Interior RS Indonesia dapat disalurkan melalui: •BNI SYARIAH, 08.111.929.73 •BCA, 686.0153678 •BSM, 700.1352.061 •BRI, 033.501.0007.60308 •BMI, 301.00521.15 •Mandiri, 124.0008111925 An. Medical Emergency Rescue Committee Jakarta, 28 Juni 2014 Divisi Humas MER-C www.mer-c.org
Laporan Tim MER-C Terkait Konferensi Pers Penyerangan Freedom Flotilla di Turki

Istanbul – Pada hari ini (28/3) telah diadakan konferensi press oleh koordinator Fredoom Flotilla dan pengacara yang mewakili para penuntut atas kasus di mana tentara Israel melakukan penyerangan terhadap awak Freedom Flotilla. Adnan Wirawan dari TPM ( Tim Pengacara Muslim) bertanya apa yang akan dilakukan jika peradilan Turki memutuskan untuk menutup kasus ini, dan dijawab oleh ketua IHH Bulent Yildirim bahwa sebenarnya sejak awal pihak Freedom Flotilla telah memenangkan kasus ini. Hukum yang ada di Turki pun sebenarnya sudah menyediakan landasan yang jelas bahwa dalam kasus seperti ini ke empat Jenderal Israel yang dituntut segera ditangkap. Sebuah “public case” tidak dapat ditutup menurut hukum yang berada di Turki. Setiap sidang yang dilaksanakan menunjukkan kepada dunia bahwa kasus ini masih berjalan. Jika pun kasus ini akhirnya ditutup oleh para hakim, maka ini hanya menunjukkan kekalahan dari pihak negara Turki, karena kasus ini merupakan kesempatan besar untuk menunjukkan kekuatan hukum negaranya. Dan kalaupun kasus ini ditutup, maka kapal Mavi Marmara ada, dan dapat digunakan untuk kembali berlayar menuju Gaza.
Laporan Tim MER-C dari Sidang Lanjutan Kasus Mavi Marmara

Istanbul – Pada tanggal 27 Maret 2014 telah diadakan sidang lanjutan atas kasus penyerangan terhadap Freedom Flotilla 2010 yang menyebabkan kematian 9 aktifis di atas kapal Mavi Marmara. Sidang kali ini memanggil sebagian dari panitia penyelenggara Freedom Flotilla asal Turki, yaitu mereka yang bertanggung jawab mengawal kapal Mavi Marmara dan kapal kargo bernama Defne Y yang saat itu membawa di antaranya bahan bangunan untuk digunakan di Gaza, Palestina. Dilaver Kutluay, yang berada di atas kapal Defne Y ketika penyerangan terjadi, dalam kesaksiannya menceritakan bagaimana ia dapat melihat tentara Israel menembak tanpa henti, melempar bom gas dan mengarahkan laser senjata ke arah kapal Mavi Marmara. Ia juga mendengar jeritan dari orang-orang yang berada di atas kapal Mavi Marmara yang membuat ia yakin bahwa banyak orang yang terluka di sana. Dilaver mengingat bahwa setidaknya ada 20 orang tentara Israel yang menaiki kapal Defne Y. Dilaver juga menggarisbawahi mengenai adanya orang yang mengaku sebagai orang Yahudi yang berbicara bahasa Turki dengan sangat fasih sebagaimana orang Turki pada umumnya, yang mengaku sebagai perwakilan konsulat Turki di Israel, memaksa penumpang Defne Y untuk menandatangani sebuah dokumen sambil mengancam bahwa jika dokumen ini tidak ditandatangani maka hukumannya adalah 10 tahun penjara di Israel. Dilaver mengaku bahwa barangnya diambil, ditelanjangi beberapa kali, dipukuli beberapa kali bahkan ketika ingin membantu kawan yang terluka di penjara Ashdod. Dilaver menambahkan bisa bahwa ada tentara Israel yang berbicara kepada kapten Kapal Defne Y dengan menggunakan bahwa Turki yang sangat fasih, dan ketika ditanya, tentara Israel ini menjawab bahwa ia berasal dari Istanbul. Omer, yang berada di atas kapal Mavi Marmara ketika penyerangan terjadi mengatakan bahwa sampai saat ini ia masih trauma atas kejadian yang ia alami hampir empat tahun lalu, karena ia selalu berpikir bahwa tentara Israel akan datang dan turun dari helikopter ke teras rumahnya. Di akhir sesi kesaksian kali ini para pengacara menyatakan tuntutannya kepada pengadilan. Mereka mengatakan bahwa dalam hukum Turki kasus ini masuk ke dalam kategori penyiksaan sistematis maka para hakim harus melakukan prosedur penangkapan terhadap General Gavriel Ashkenazi, Admiral Eliezer Marom, Brigadier General Avishai Levi, dan Major General Amos Yaldin. Para pengacara juga menegaskan bahwa hak asasi manusia terletak di atas semua hukum, dan para tertuntut harus mematuhi semua perintah pengadilan dan menjelaskan alasan perbuatan mereka. Para pengacara juga menuntut para hakim untuk membekukan kekayaan ke empat orang tersebut. Para pengacara juga mempertanyakan hubungan antara kepolisian Turki dan Israel karena ketika paspor salah satu warga Turki dikembalikan setelah disita di Israel, dan ditanyakan kepada polisi, siapa yang memberikan paspor ini kepada mereka, polisi ini hanya meminta penumpang Mavi Marmara ini untuk tidak banyak bertanya. Di akhir persidangan, hakim mengumumkan bahwa keputusan untuk melakukan prosedur penangkapan akan dilakukan di sidang berikutnya yang jatuh pada tanggal 26 Mei 2014.
Laporan Tim MER-C dari Konferensi Mavi Marmara “Search for Justice” di Turki

Istanbul – pada tanggal 25 Maret 2014 telah diadakan konferensi Mavi Marmara Search for Justice, “Not the law of the strong but justice for all” di Ali Emiri Kultur Merkezi, Istanbul, Turki. Konferensi yang digagas oleh IHH ini bertujuan untuk menyatukan misi dan visi dalam usaha menuntut Israel atas kejahatannya di kapal Mavi Marmara khususnya dan Freedom Flotilla pada umumnya. Pada sesi pembuka, ketua IHH Bulent Yildirim mengatakan bahwa walaupun terdapat banyak sekali tantangan yang dihadapi dalam menuntut Israel, di mana bahkan para hakim di Turki menolak kasus pembunuhan atas Furkan Dogan, akan tetapi ini adalah untuk pertama kalinya Israel dituntut oleh berbagai negara untuk kasus yang sama, yang mana ini berarti bahwa Israel sedang mengalami gangguan terbesar dalam sejarah penjajahan mereka. Sementara itu, Dror Feiler, yang merupakan mantan warga negara Israel menegaskan bahwa sudah seharusnya Israel diseret ke Mahkamah yang juga telah membawa Milosevich di Den Hague. Ahmet Dogan, ayahanda dari Syahid Furkan Dogan mengatakan bahwa anaknya yang merupakan warga negara Amerika Serikat sekalipun tidak mendapatkan keadilan di Mahkamah Amerika Serikat, karena hukum di Amerika Serikat tidak memungkinkan dilakukannya tuntutan kriminal atas negara Israel, karena belum ada kesepakatan dengan negara tersebut sampai saat ini. Greta Berlin menceritakan asal mula gerakan pelayaran menembus Gaza yang dipelopori antara lain oleh Greta sendiri bersama empat orang lainnya di tahun 2008. Dimitri Plionis menjelaskan bahwa harus ada kesamaan persepsi bahwa Freedom Flotilla merupakan inisiasi internasional yang terdiri dari 36 negara, bukan hanya inisiasi negara Turki. Ziyad Patel yang merupakan pengacara dari Gadija Davids (Afrika Selatan) membandingkan sistem Apartheid yang terjadi di Afrika Selatan Adam yang sedang berlangsung di Palestina. Ziyad mengatakan bahwa kolonialisme internasional sangat dikecam oleh masyarakat internasional dan hal ini dapat diangkat dalam tuntutan terhadap Israel. Prof Dr Ali Emrah Bozbayindir menjelaskan bahwa ada dua hal yang dapat membuat kasus ini menjadi lebih strategis, yaitu bahwa penyerangan terhadap bala bantuan kemanusiaan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang serius, sementara apabila kita dapat membuktikan bahwa pembunuhan dilakukan dengan cara “excecution style”, ini dapat menghilangkan alibi Israel bahwa mereka melakukan sela defence di kapal Mavi Marmara. Hadir juga sebagai pembicara di antaranya Ismail Bilgen, anak dari Syahid Ibrahum Bilgen, Ugur Yildirim, Yasin Samli, Ahmet Turk dari Palestina, Gonzales Boye dari Spanyol, Gilles Dever dari Perancis dan Gulden Sonmez dari IHH.
DOH Filipina Apresiasi Kinerja Tim Bedah MER-C

Cebu, Filipina – DOH atau Department of Health of the Philippines dan sejumlah NGO asing dari berbagai negara menyampaikan rasa salut dan apresiasi yang besar bagi kinerja Tim Bedah MER-C. Hal ini disampaikan pada saat rapat koordinasi yang diadakan DOH Filipina, Selasa (3/12) di kantor DOH, Cebu City. Turut hadir tiga relawan MER-C pada rapat tersebut untuk memberikan laporan kegiatan tim. Ketiga relawan tersebut adalah dr. Abdul Mughni, SpB KBD, dr. Nurul Qomaruzzaman, SpOT dan dr. Dany Kurniadi Ramdhan, SpBS. “Kami tidak menyangka diberi applause (tepuk tangan) dan salut dari semua hadirin seperti Unicef, Japanese Army, dll sesaat setelah dr. Abdul Mughni Ketua Tim MER-C memberikan laporan,” ungkap dr. Nurul Qomaruzzaman yang juga merupakan Wakil Ketua Tim MER-C untuk Filipina. Lebih lanjut relawan yang berprofesi sebagai ahli bedah tulang ini memaparkan bahwa sejak awal peserta rapat yang lain menyampaikan bahwa di Medellin dan sejumlah wilayah di Cebu Utara yang dilanda topan belum ada bantuan medis dan warga yang sakit belum tertangani. Padahal, menurutnya lagi, Tim MER-C sudah menjangkau seluruh daerah yang disebutkan tadi. “Kami sudah melayani sekitar 1.670 pasien rawat jalan melalui program mobile clinic dan telah melakukan 12 kali operasi mayor di seluruh radius North District Cebu sampai ke pulau terjauh Kinatarcan,” tambahnya. Paparan inilah yang membuat para hadirin salut dan bertepuk tangan karena apa yang telah dilakukan Tim MER-C menjawab semua permasalahan dan keluhan yang semenjak tadi dibicarakan, yakni belum adanya bantuan medis di Medellin. Ungkapan terima kasih juga berdatangan dari sejumlah sejawat medis Bogo Medellin Medical Center (BMMC), Rumah Sakit yang turut mengalami kerusakan akibat topan yang juga merupakan tempat Tim MER-C berposko selama menunaikan tugas kemanusiaan di Filipina. “Selamat kepada grup Merc Indonesia yang telah menjadi grup pertama dari 20 negara yang telah memberikan bantuan medis di Cebu utara, terimakasih banyak.” (Enirhtak Ocificap Atelom). “Selamat kepada seluruh grup Merc! Merupakan sebuah kehormatan bagi kami untuk dapat bekerja sama dengan anda semua. Dengan cinta dari kami bbmc Dan seluruh warga Medellin.” (LZ Hurado Iscanilla) Tim Medical Emergency Rescue Committee dari Indonesia telah membuat kami sadar bahwa kami tidak sendirian Dan andalah Salah satu Alasan mengapa kami dapat bertahan Dan bangkit kembali. Terima kasih. (Holda)
Rindu Suara Adzan

Cebu, Filipina – Ada satu hal yang sangat dirindukan sembilan relawan MER-C yang telah bertugas di Filipina selama satu minggu ini. Ya, rindu akan suara adzan yang biasanya akrab terdengar di Indonesia kala memasuki waktu-waktu shalat. Rasa rindu itu akhirnya terobati. Bukan karena pulang ke Indonesia, namun karena ketika melakukan pengobatan keliling (mobile clinic) hari itu, Sabtu (30/11), tim bertemu dengan komunitas muslim di wilayah Bogo, tepatnya di San Remigio yang ternyata letaknya tidak jauh dari posko tempat Tim MER-C tinggal selama ini. San Remigio adalah salah satu wilayah yang turut dilanda topan dahsyat Haiyan. Karena bertepatan dengan hari libur nasional di Filipina, yaitu Bonifacio Day atau hari kemenangan pahlawan lokal terhadap penjajahan di Filipina, maka pada hari ini hampir tidak ada aktifitas di semua sektor kehidupan. Meskipun demikian, Tim Bedah MER-C tetap melakukan jadwal operasi seperti biasa dan perawatan luka pada beberapa pasien post operasi. Sebelumnya Tim mobile clinic MER-C agak kesulitan untuk mencari transportasi. Menjelang sore hari tim baru bisa mendapatkan mobil untuk menuju San Remegio, Cebu. Seorang kontak person warga lokal yang memandu dan mengantarkan Tim ke sana. San Remegio merupakan perkampungan muslim yang baru berkembang pada tahun 2007 dan mungkin satu-satunya kampung muslim di pulau Cebu ini. Diawali oleh seorang muallaf yang berdakwah sendirian secara perlahan. Di desa ini, dan berkat upaya dakwahnya, meskipun belum selesai pembangunannya, tampak sudah berdiri tegak sebuah masjid dengan luas bangunan kira-kira 40×20 m persegi. Ini adalah satu-satunya masjid yang tim temui selama menunaikan misi kemanusiaan di Filipina, mesjid ini diberi nama masjid Madinah. Tim MER-C memulai pengobatan massal pada pukul 16.00 di area depan masjid dan diakhiri saat azan maghrib berkumandang, dengan jumlah pasien sebanyak 112 orang. ” Subhanallah … Kami sangat terharu bertemu dengan komunitas muslim yang hanya 10 kepala keluarga. Kami juga terharu akhirnya bisa mendengar suara adzan dan bisa sholat berjamaah dengan saudara-saudara seiman kami di sini,” ungkap Islamiyah salah satu anggota tim MER-C. Bertindak sebagai Imam sholat maghrib adalah anggota Tim MER-C, dr. M. Nurul Qomaruzzaman, SpOT. “Kami juga menyampaikan salam dari muslim Indonesia,” tambah Islamiyah, yang juga akrab disapa dengan Iis. “Rasa haru tidak bisa kami sembunyikan. Sampai yang mengantar kami kesini warga local yang nonmuslim pun juga ikut terharu,” lanjutnya. ———- Selama menunaikan misi medis di Filipina, Tim MER-C tinggal di Bogo-Medellin Medical Center, sebuah RS Advent. Tim mengoperasikan dan mengobati siapa saja korban topan Haiyan di RS ini tanpa memandang ras dan agama. Meskipun berada di lingkungan nonmuslim, namun Tim MER-C merasakan perlakuan yang luar biasa dari sejawat medis di RS dan warga lokal. “Subhanallah perlakuan saudara kita di sini luar biasa, selalu menyiapkan makanan halal bagi kami,” tutur Islamiyah
Misi Konflik Myanmar, 2012

Jakarta – Setelah menunaikan tugas kemanusiaan selama satu minggu di Myanmar, Rabu (19/9) Tim Medis MER-C alhamdulillah telah tiba dengan selamat ke tanah air. Adapun tim yang telah diberangkatkan untuk melaksanakan misi kemanusiaan di Myanmar yaitu dr.Yogi Prabowo,SpOT (Ketua Tim), dr.Zakya Yahya, SpOk, dr.Tonggo Meaty Fransisca, dr. Kresna Agung Prabowo, dan Azis Muslim (logistik). Tim medis MER-C pertama ini bertugas untuk melakukan assessment awal kondisi konflik Myanmar serta kebutuhan para korban dan pengungsi. Selain itu, tim juga mempersiapkan untuk melakukan pelayanan kesehatan kepada para pengungsi yang sakit dan menyalurkan bantuan berupa uang serta obat-obatan kepada para pengungsi di beberapa kamp pengungsi. Tiba di Myanmar Rabu (12/9), Tim MER-C dijemput oleh staf KBRI dan dibawa ke Hotel Clover. Kemudian tim MER-C berkoordinasi dengan Kedutaan Besar RI di Myanmar yaitu dengan Bpk Jumara Supriyadi. KBRI kemudian membantu Tim berkoordinasi lebih lanjut dengan Ministry of Border Myanmar dan Myanmar Red Cross. Dari hasil koordinasi tersebut Tim MER-C memperoleh izin mengunjungi Rakhine State. Namun menurut KBRI, Tim MER-C tidak mendapatkan izin melakukan pengobatan kepada para pengungsi. Tim MER-C juga berkoordinasi dan mencari informasi dengan beberapa organisasi lokal seperti Al-Azhar Institute of Myanmar dan Rakhine Relief. Diperoleh informasi bahwa situasi di Rakhine dengan ibukota Sitwee masih mencekam walaupun pertikaian sudah diredam. Di Yangon tim mempersiapkan tiket ke Sitwee dan membeli obat-obatan senilai 3500 USD dari PT Kalbe Farma cabang Yangon. Di Yangon Tim MER-C sempat mengalami kesulitan dalam menggunakan alat komunikasi. Walaupun sudah membeli nomor lokal, namun buruknya sistem telekomunikasi di Myanmar menjadi hambatan yang cukup mengganggu. Dengan koordinasi dan adanya surat izin dari Kemenlu Myanmar, pada Jum’at siang (14/9), Tim akhirnya bisa memasuki kota Sittwe (ibukota Rakhine State). Setibanya di bandara Sittwe, tampak militer dan polisi Myanmar masih berjaga ketat. Suasana ketegangan mulai terasa di sini. Pemerintah dan militer Myanmar memeriksa setiap orang yang datang. Tim dijemput oleh perwakilan dari Red Cross Myanmar, Ministry of Border dan Pejabat Militer setempat. Selama berada di Sittwe, tim juga mendapat pengawalan yang sangat ketat dari tentara Myanmar. Satu mobil pasukan dan satu mobil komando senantiasa mengiringi perjalanan Tim bahkan pada saat mengunjungi kamp-kamp pengungsian. Dari pengamatan Tim MER-C mengunjungi kamp-kamp pengungsian, konflik Myanmar sendiri terjadi antara etnis Rakhine yang beragama Budha dan etnis Rohingya yang beragama Islam. Akar permasalahan belum jelas, ada dua informasi yang berbeda (versi pemerintah Myanmar dan versi masyarakat rohingya). Namun kami melihat konflik ini terbatas pada dua etnis tersebut dan belum menjadi konflik agama karena di Yangon antara umat Budha dan umat Islam masih berdampingan. Namun demikian kami melihat konflik ini bisa berpotensi meluas apabila diprovokasi oleh pihak lain, seperti demo para biksu di Mandalay atau sikap pemerintah Myanmar yang menganggap etnis Rohingya bukan bagian dari warga Negara (stateless). Konflik terjadi dibeberapa daerah di Rakhine state, yaitu di Sitwee, Minbya, Maungdwe, dan Kyauktaw. Di Sitwee kami melihat beberapa lokasi kerusakan, sisa puing-puing rumah yang di bakar namun kami hanya bisa mengunjungi Sitwee. Situasi di Sitwee masih sangat sensitif antara kedua belah pihak, dan masih terasa penuh rasa curiga, juga terhadap orang asing yang memberikan bantuan. Militer Myanmar membatasi ruang gerak bantuan kemanusiaan, dengan alasan keamanan mereka mengawal setiap bantuan kemanusiaan yang masuk. Tidak semua organisasi kemanusiaan diperbolehkan, bahkan sangat besar penolakan masyarakat terhadap bantuan UN (PBB), kami melihat di surat kabar lokal tentang dokter UN yang ditahan. Berikut Hasil temuan tim MER-C dilapangan. Ada beberapa potensi yang dapat memicu konflik didalam memberikan bantuan yaitu ; · Ketidak netralan pihak pemerintah dan Myanmar Red Cross dalam memberikan bantuan kedua belah pihak. Hal ini terjadi karena seluruh aparat dan Myanmar Red Cross beragama Budha, sehingga mereka juga takut bila masuk ke kamp pengungsian rohingya, akibatnya pengungsi rohingya lebih terabaikan, terutama dalam pelayanan kesehatan. Ketika kami tiba di kamp rohingya tampak beberapa pasien tergeletak sakit tanpa perawatan. · Kurangnya koordinasi antara pemerintah pusat Myanmar dengan pemerintah daerah Rakhine State. Hal ini terbukti walaupun pemerintah pusat Myanmar menginstruksikan harus membantu kedua belah pihak, namun tetap saja pemerintah daerah tidak atau sulit melaksanakan hal tersebut. Di lapangan tim kami sempat tidak diizinkan ke kamp rohingya · Usaha untuk membangun shelter atau perumahan dengan memindahkan lokasi juga merupakan hal yang sensitif dan dapat memicu konflik baru, karena masyarakat tidak mau meninggalkan tanah leluhur mereka yang sudah mereka diami ratusan tahun Kamp pengungsian terbagi menjadi 2 kelompok yaitu kamp pengungsian Muslim dan kamp pengungsian Budha. Tim MER-C mengunjungi 4 lokasi pengungsian, yaitu Danyawaddy Football Camp, Min Ban Camp, Danyawaddy North Camp dan Chaung Camp/Clinic Camp (Rohingya Camp). Jumlah pengungsi warga Rakhine sekitar 8.000 orang, sementara pengungsi Rohingya mencapai sekitar 18.000 orang. Kebutuhan para pengungsi yang mendesak antara lain bahan makanan, air bersih, tempat tinggal dan kesehatan (obat-obatan dan pelayanan kesehatan). Bahkan di lokasi pengungsian Rohingya Camp, Tim MER-C menjumpai beberapa pasien dewasa dan anak-anak terbaring lemah tanpa pelayanan medis. Pemerintah Myanmar dan Myanmar Red Cros mengalami kesulitan dalam memberikan bantuan kepada kedua belah pihak karena alasan keamanan. Awalnya Tim MER-C juga tidak diperbolehkan mengunjungi Rohingya Camp karena alasan yang sama. Namun setelah melobi dan mendesak Pemerintah dan Militer Myanmar bahwa MER-C harus menyampaikan amanah donasi dari rakyat Indonesia dan meyakinkan bahwa Rohingya Camp dapat menerima keberadaan Tim MER-C, akhirnya tim MER-C diizinkan memberikan pelayanan kesehatan dan memberikan donasi di Kamp Rohingya. Bahkan Tim MER-C juga memfasilitasi Pemerintah dan Myanmar Red Cross untuk melakukan pelayanan kesehatan di kedua belah pihak yang bertikai. Oleh karena itu, Tim MER-C menjadi tim medis pertama yang dapat memberikan pelayanan kesehatan di kedua belah pihak. Kurang lebih selama 1 minggu tim MER-C memberikan pelayanan kesehatan terhadap ratusan pengungsi yang sakit. Dari rencana lama misi 2 minggu, namun sesuai tujuan awal sebagai tim assessment, maka dengan berbagai pertimbangan dan kondisi di lapangan, maka misi kemanusiaan awal ini berlangsung selama 1 minggu. Guna menindaklanjuti hasil assessment Tim awal dan menyalurkan lagi amanah donasi dari rakyat Indonesia, MER-C berencana mengirimkan tim lanjutan ke Myanmar. Fokus program Tim lanjutan adalah pelayanan kesehatan, bantuan obat obatan, makanan balita dan bila memungkinkan membangun Pusat Pelayanan Kesehatan Primer khususnya yang bersifat permanen bagi para pengungsi. Kami melihat penerimaan pemerintah dan masyarakat Myanmar terhadap bantuan Indonesia cukup baik. Keberhasilan
Misi Medis Badai Haiyan, Filipina
{gallery}207:::0:0{/gallery}