Tim MER-C Lakukan Tindakan Operasi dan Pengobatan bagi Korban Topan Haiyan

Cebu, Filipina – Tim Bedah MER-C yang dipimpin oleh Dr. Abdul Mughni SpB KBD yang bertolak ke Cebu Filipina pada Jum’at malam (22/11), telah tiba dengan selamat di Bandara Mactan Cebu pada esok tanggal harinya Sabtu (23/11) pukul 11.30 waktu setempat. Setiba di Cebu, Tim langsung berkoordinasi dengan Health Management Center guna mengurus perizinan dan pemetaan lokasi-lokasi bencana yang dianggap penting. Usai mendapatkan informasi, tim langsung meluncur ke arah utara Cebu, tepatnya Municipality of Medellin yang turut dilanda bencana dahsyat topan Haiyan pada 8-9 November 2013 lalu. Di sini tim mengunjungi Bogo-Medellin Medical Center, sebuah rumah sakit umum daerah setempat yang juga tampak mengalami kerusakan pada beberapa bagian ruangan akibat topan. Setelah berkoordinasi dengan Kepala dan staf RS serta mengevaluasi kebutuhan medis, maka Tim MER-C memutuskan untuk memberikan bantuan terlebih dahulu di wilayah ini. Malam itu, tim pun beristirahat di ruangan laboratorium yang sudah disiapkan oleh pihak RS, untuk melepas lelah setelah sehari semalam melakukan perjalanan. Esok harinya, Minggu (24/11), untuk mengefektifkan waktu dan pekerjaan, dr. Abdul Mughni selaku Ketua membagi timnya yang terdiri dari 9 relawan menjadi 2, yaitu Tim Bedah dan Tim Mobile Clinic. Tim Bedah berfokus membantu penanganan pasien-pasien trauma di RS sementara Tim Mobile Clinic bertugas menyisiri wilayah-wilayah utara Cebu yang menjadi sasaran topan Haiyan. Dr. Abdul Mughni, SpB KBD, dr. Dany Kurniadi, SpBS, dr. Nurul Qomaruzzaman, SpOT dan Ita Muswita (perawat bedah) sejak Minggu pagi langsung membantu menangani pasien yang dirawat maupun yang datang ke IGD RS. Hari itu juga dilakukan tindakan operasi dengan kasus fraktur pergelangan tangan kiri (Radius Ulna). Walaupun dengan peralatan operasi yang seadanya, yaitu ketiadaan alat electric cauter, namun operasi berhasil diselesaikan dalam waktu kira-kira satu setengah jam. Seperti padatnya kegiatan Tim Bedah di RS, Tim yang memberikan pelayanan medis mobile clinic juga demikian halnya. Tim disambut antusias oleh warga masyarakat korban topan, tepatnya warga di Barangay of Kawit. Di wilayah ini kerusakan akibat topan terlihat di sana-sini. Meskipun rumah dan bangunan tempat tinggal mereka terkena sapuan topan, tapi warga tidak mengungsi. Mereka membuat tenda di samping reruntuhan dan sisa rumah. Bertempat di Kawit Barangay Hall yang berjarak sekitar satu jam dari Bogo Medelin Medical Center, Tim Mobile yang terdiri dari 2 dokter umum, 1 perawat dan 2 non medis melayani satu-persatu warga yang datang. Obat-obatan yang diberikan tim adalah obat-obatan yang dibawa dari Indonesia, sumbangan para donatur. Meskipun ramai warga yang berkumpul, namun mereka terlihat dengan sabar dan tertib mengantri untuk mendapatkan pengobatan. Tercatat warga yang berobat pada hari itu mencapai 216 orang. Tim dijadwalkan masih akan menginap di Bogo-Medellin Medical Center satu hari lagi sebelum bergerak ke wilayah bencana topan lainnya. Hal ini dikarenakan masih ada warga korban topan Haiyan yang memerlukan bantuan penanganan operasi, seperti fraktur pergelangan tangan bawah dan necrotic wound debridemant.
Tim Bedah MER-C Berangkat Ke Filipina

Jakarta – Jumat, 22 November 2013 Setelah sempat tertunda beberapa hari karena masalah teknis, malam ini tim bedah MER-C yang dipimpin oleh Dr. Abdul Mughni Sp. B KBD berangkat ke Filipina. Tim yang terdiri dari sembilan relawan ini akan melakukan bantuan medis di tempat-tempat yang masih sangat memerlukan bantuan fase emergency pasca bencana. Abdul Mughni menjelaskan, “Pada masa-masa awal setelah kejadian bencana, kasus kesehatan yang sering dijumpai biasanya masalah trauma , baik trauma muskuloskeletal, trauma abdomen, trauma kepala maupun trauma yang lain. Setelah itu timbul penyakit-penyakit di pengungsian misalnya diare, infeksi saluran nafas, penyakit kulit dan masalah kesehatan ini diperberat oleh sanitasi yang kurang akibat bencana.” Tim diagendakan untuk kembali ke tanah air tanggal 4 Desember 2013.
Tim Bedah MER-C Bersiap Ke Filipina

MER-C sedang bersiap-siap untuk segera memberangkatkan Tim bedah ke Filipina. Presidium MER-C dr Joserizal Jurnalis mengatakan bahwa kemungkinan besar badai Haiyan yang terjadi di Filipina Akan mengakibatkan tingginya jumlah korban trauma yang membutuhkan tindakan operasi. Tim yang diagendakan untuk berangkat tanggal 17 November 2013 ini direncanakan untuk mulai bergerak dari Cebu untuk mencari lokasi yang paling memerlukan bantuan. Joserizal menambahkan bahwa karena masa pemulihan pasca bencana tidak dapat berlangsung cepat, maka inshallah MER-C Akan mengirimkan tim lanjutan. Di Filipina MER-C akan bekerja sama dengan institusi setempat, termasuk dengan gereja Katolik untuk dapat memberikan bantuan kepada para korban bencana. Rekening Donasi Kemanusiaan MER-C untuk Bencana Alam di Filipina : BCA, Cab Kwitang, 686.0099339 BSM, Cab Salemba, 701.5658899 an. Medical Emergency Rescue Committee
Ketua TPM Ingatkan Dukungan Adili Israel Sebagai langkah Nyata Perlawanan

Jakarta, 12 Dzul Qa’idah 1434/18 September 2013 (MINA) – Ketua Tim Pembela Muslim (TPM), M. Mahendradatta mengajak umat Islam untuk mendukung usaha mengadili Israel di Pengadilan Internasional dalam kasus Mavi Marmara yang diprakarsai oleh LSM Turki, Insani Yardim Vakfi (IHH) pada 10 Oktober 2013. “Jika selama ini kita hanya melawan antek-antek Israel, maka ini kesempatan kita untuk head to head langsung melawan Israel. Maka semua harus mendukung kita, termasuk pemerintah,” kata Mahendradatta kepada Wartawan Mi’raj News Agency (MINA) di Jakarta, Selasa (17/9). TPM bersama lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue-Committee (MER-C) tengah menyiapkan bukti untuk menggugat Israel dalam persidangan internasional di Istanbul, Turki pada 10 Oktober mendatang. Persidangan itu akan mengadili Israel karena melakukan penyerangan terhadap Kapal Mavi Marmara mengambil bagian dalam armada kapal “Gaza Freedom Flotilla”pada 31 Mei 2010 lalu. Dalam serangan tersebut, sembilan warga negara Turki menjadi korban setelah tertembak oleh pasukan keamanan Israel di atas kapal. Dalam konvoi kemanusiaan “Gaza Freedom Flotilla” itu, MER-C mengirimkan lima relawannya yang juga tergabung dengan relawan Indonesia lainnya ikut serta dalam pelayaran yang mendapatkan serangan melibatkan para petinggi Israel. Kelima relawan Indonesia yang berada dalam kapal Mavi Marmara adalah Arief Rachman, Nurfitri Moeslim Taher, Nur Ikhwan Abadi, Muhammad Yasin dan Abdillah Onim. Dalam persidangan nanti mereka akan didampingi oleh Ketua TPM, M. Mahendradatta. Paska serangan tersebut, Israel mendapat kecaman dari dunia internasional karena melakukan pelanggaran HAM berat dengan menyerang konvoi kemanusiaan di perairan internasional. Pada Mei lalu dalam peringatan tiga tahun tragedi Mavi Marmara, para aktivis Mavi Marmara menuntut Israel tetap diadili meskipun Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu telah meminta maaf kepada Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan. IHH sebagai pihak penyelenggara menyebutkan, permintaan maaf itu tidak akan mempengaruhi keputusan-keputusan yang telah ditetapkan pada sidang yang menjerat empat jenderal Israel yang bertanggung jawab terhadap serangan tersebut, yaitu Kepala Staf Angkatan Darat Israel saat itu, Letjen Gabi Ashkenazi; Panglima Angkatan Laut Israel, Laksamana Eliezer Marom; Kepala Intelijen Militer Israel, Mayjen Amos Yadlin, dan Kepala Intelijen Angkatan Udara Israel, Brigjen Avishai Levi.. Permintaan maaf tersebut sebenarnya merupakan syarat dari Turki kepada Israel yang ingin memperbaiki kembali hubungan bilateral antara Turki dengan Israel setelah sempat pecah pasca penyerangan tersebut. Selain syarat itu, Turki juga memberikan syarat untuk mencabut blokade Israel atas Gaza dan memberi kompensasi kepada keluarga korban yang meninggal dalam serangan yang terjadi di perairan internasional tersebut. (L/P01/P02). Sumber : http://www.mirajnews.com/indonesia/9714-ketua-tpm-ingatkan-dukungan-adili-israel-sebagai-langkah-nyata-perlawanan.html
MER-C dan TPM Siapkan Bukti Gugat Israel ke Pengadilan Internasional

Jakarta, 12 Dzulqa’idah 1434/18 September 2013 (MINA) – Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue-Committee (MER-C) bekerja sama dengan Tim Pembela Muslim (TPM) menyiapkan bukti untuk menggugat Israel dalam persidangan internasional di Istanbul, Turki pada 10 Oktober mendatang. Pengadilan yang diprakarsai oleh LSM Turki, Insani Yardim Vakfi (IHH) itu akan mengadili Israel karena melakukan penyerangan terhadap Kapal Mavi Marmara dalam konvoi kemanusiaan Gaza Freedom Flotilla pada 31 Mei 2010 lalu. Dalam serangan tersebut, sembilan warga negara Turki menjadi korban setelah tertembak oleh pasukan keamanan Israel di atas kapal. Dalam konvoi itu, MER-C mengirimkan lima relawannya yang juga tergabung dengan relawan Indonesia lainnya ikut serta dalam pelayaran yang mendapatkan serangan melibatkan para petinggi Israel, di antaranya Kepala Staf Angkatan Darat Israel saat itu, Letjen Gabi Ashkenazi; Panglima Angkatan Laut Israel, Laksamana Eliezer Marom; Kepala Intelijen Militer Israel, Mayjen Amos Yadlin, dan Kepala Intelijen Angkatan Udara Israel, Brigjen Avishai Levi. Kelima relawan Indonesia yang berada dalam kapal Mavi Marmara adalah Arief Rachman, Nurfitri Moeslim Taher, Nur Ikhwan Abadi, Muhammad Yasin dan Abdillah Onim. Dalam persidangan nanti mereka akan didampingi oleh Ketua TPM, M. Mahendradatta. Pada 31 Mei 2010 sekitar pukul 04.30 pagi, Kapal kemanusiaan Mavi Marmara yang berlayar dari Antalya, Turki menuju Jalur Gaza, Palestina mendapat serangan dari pasukan khusus Israel di perairan internasional sekitar 73 mil laut dari wilayah pendudukan Israel di Palestina yang terjajah. Pasukan Israel akhirnya menahan dan menggiring mereka ke pelabuhan Ashdod. Kapal Mavi Marmara mengambil bagian dalam armada kapal “Gaza Freedom Flotilla“ yang dioperasikan oleh kelompok aktivis dari 37 negara dengan tujuan membawa bantuan secara langsung menembus blokade Israel atas Jalur Gaza. Paska serangan tersebut, Israel mendapat kecaman dari dunia internasional karena melakukan pelanggaran HAM berat dengan menyerang konvoi kemanusiaan di perairan internasional. Pada Mei lalu dalam peringatan tiga tahun tragedi Mavi Marmara, para aktivis Mavi Marmara menuntut Israel tetap diadili meskipun Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu telah meminta maaf kepada Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan. IHH sebagai pihak penyelenggara menyebutkan, permintaan maaf ini tidak akan mempengaruhi keputusan-keputusan yang telah ditetapkan pada sidang yang menjerat empat jenderal Israel yang bertanggung jawab terhadap serangan tersebut. Permintaan maaf ini sebenarnya merupakan syarat dari Turki kepada Israel yang ingin memperbaiki kembali hubungan bilateral antara Turki dengan Israel setelah sempat pecah pasca penyerangan tersebut. Selain syarat itu, Turki juga memberikan syarat untuk mencabut blokade Israel atas Gaza dan memberi kompensasi kepada keluarga korban yang meninggal dalam serangan yang terjadi di perairan internasional tersebut. (L/P01/P02). Sumber : http://www.mirajnews.com/palestina/9713-mer-c-dan-tpm-siapkan-bukti-gugat-israel-ke-pengadilan-internasional.html
GMJ Darat Tiba di Beirut: 8,5 Jam Tertahan di Kapal

Turki Tim Konvoi Darat Global March to Jerusalem (GMJ) tiba di Pelabuhan Mersin Turki, pukul 02.30 pagi hari, 27/3. Sebelumnya tim sempat demonstrasi dan singgah di pusat kota Konya tepat di depan gedung Konya Bolge 26/3. Tim disambut oleh NGO Mazlumder Konya. Feroze, delegasi India mengatakan, kita akan marcing ke Jerusalem dari seluruh penjuru dunia untuk membebaskan Aqsa, setelah Netanyahu memberi peringatan akan menindak tegas demonstran GMJ yang mendekati perbatasan, peserta GMJ tambah besar hingga 2 juta. Seluruh peserta kelihatan lelah setelah lima jam perjalanan dari Konya. Delegasi sempat mengunjungi Museum dan makam Jalaluddin Rumi, di Konya sekitar lima jam. Usai dari museum, Panitia GMJ Konya menjamu makan malam kemudian dilanjutkan dengan pertemuan dengan organisasi Kaum Dhuafa (Enderun Egitim Fakfi Kenya Subesi), Direktur Enderum Foundation, Mr. Latief mengucapkan selamat datang di Konya dan semoga anda bisa kesini lagi., kami menyambut GMJ dan insyaAllah Palestina akan merdeka. Meski peserta dari berbagai agama dan negara kita punya satu tujuan, membebaskan Jerusalem. Fadil salah satu peserta dari Palestina mengatakan, solidaritas bangsa Asia sangat penting untuk menekan Israel, Jerusalem harus menjadi milik semua umat monoteisme, Jerusalem harus dibebaskan dari kolonialisme. Nyanyian Aqsa terdengar serempak dari para peserta, Aqsa Haquna. Dengan menggunakan 3 bus, tim GMJ melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan Mersin, Turki, dengan jarak 255 KM. Setelah menunggu dari pukul 03.00 hingga pukul 23.00, tim akhirnya berangkat dengan menggunakan kapal berbendera Turki, Fergun Express 2. Angin bergerak kencang, peserta nampak kedinginan, gelombang laut naik turun hingga separuh lebih peserta GMJ mabuk laut. Rabu (28/03) pukul 07.00 pagi waktu lokal, mulai nampak bayangan gedung-gedung bertingkat kota Beirut. Emeraude Express tetap melaju dengan kecepatannya yang konstan hingga akhirnya bersandar di pelabuhan Beirut pada pukul 09.30 waktu Beirut. Tentara Perdamaian PBB dari Brazil dan Libanon nampak berjaga di luar kapal. Di pelabuhan, para delegasi GMJ dari berbagai negara; India, Indonesia, Filipina, Malaysia, Iran, Turki dll berpikir bisa segera turun dan bergabung dengan delegasi yang lain. Tapi ternyata masih menunggu lama dengan ketidakpastian. Informasi simpang siur, belum bisa keluar dari kapal karena masih terganjal dengan masalah visa masuk Beirut. Awalnya para delegasi bersikap tenang dengan mengobrol dan bercanda di dalam kapal maupun di dek. Ada juga yang berusaha mengajak ngobrol aparat keamanan yang mondar mandir di luar kapal, walaupun tidak membuahkan hasil. Aparat bersenjata lengkap hanya diam dan memasang muka sangar. Pukul 12.00, Feroze Mithiborwala, selaku koordinator GMJ India, membawa informasi bahwa tertahannya para delegasi ternyata bukan karena masalah visa belaka, tetapi karena situasi politik Libanon dengan adanya pihak-pihak yang tidak menginginkan delegasi GMJ memasuki Libanon. Para delegasi mulai emosional, berbondong-bondong naik ke palka/atap kapal sambil meneriakkan yel-yel dan memukul-mukul atap kapal. Setelah tertahan selama kurang lebih 8,5 jam di kapal, sekitar pukul. 18.00 khusus delegasi Indonesia yang berjumlah 28 orang dengan bantuan dan jaminan visa dari Pihak KBRI akhirnya bisa keluar dari kapal sementara delegasi yang lain masih menunggu administrasi pelabuhan. Sempat acara seremoni perpisahan di kapal, delegasi GMJ Indonesia kemudian dibagi menjadi dua tim, tim pertama sebanyak 24 orang menuju Yordania 28/3 malam pukul 22.15 untuk berkampanye di Front Yordania. Sementara, tim kedua sebanyak empat orang ikut bergabung dengan panitia GMJ Libanon untuk berkampanye di Front Libanon. Duta Besar Indonesia di Libanon, Dimas Samudra sempat memberikan statemen dukungan pada kegiatan GMJ, karena amanah mukadimah Undang-Undang Dasar 1945, dan menyerukan bahwa tempat suci Jerusalem untuk semua umat dan mendukung dibebaskanya Jerusalem dari kolonialisame. KBRI Libanon akan menfasilitasi bagi kelancaran kampanye sipil GMJ di Libanon. Tim Konvoi Darat GMJ Indonesia Laporan dari Muhammad Maruf (VOP) & dr. Nafan Akhun (MER-C)
Komunitas Kaum Yahudi AS: Kaum Yahudi Tidak Butuh Negara Israel

Beirut Setelah tertahan di kapal selama kurang lebih 8,5 jam, Rabu (28/3), pukul 18.00 waktu setempat, Tim Konvoi Darat GMJ Indonesia akhirnya bisa keluar dari kapal Fergun Express 2 berbendera Turki atas bantuan dan jaminan visa dari KBRi Beirut. Tim kemudian dibawa menuju kantor KBRI Beirut untuk beristirahat dan dijamu makan oleh pihak Kedutaaan. Di Beirut, Tim Konvodi Darat GMJ Indonesia akan dibagi menajdi 2 tim, sebanyak 24 orang akan langsung terbang ke Yordania mala mini juga, sementara 4 lainnya akan bergabung dengan GMJ Lebanon untuk berkampanye di Front Libanon. Sebelum berangkat ke bandara Internasional Rafic Hariri, Dubes RI di Beirut-Libanon, Dimas Samodra Rum memberikan sambutan bahwa pihak kedutaan mendukung kegiatan GMJ karena seusai dengan amanah konstitusi UUD 1945, bangsa Indonesia anti penjajahan dan memuji peran relawan GMJ karena misi kampanye pembebasan Jerusalem adalah sangat mulia. Pihak Kedutaan akan membantu kelancaran jalanya kampanye GMJ di Libanon. Pukul. 22.15 waktu setempat, 24 orang delegasi Indonesia bertolak ke Amman Yordania. Sementara 4 relawan Indonesia lainnya akan bergabung dengan panitia GMJ Libanon untuk melakukan serangkaian kegiatan di Libanon. Dari tempat penginapan Golden Plaza, seluruh rombongan delegasi GMJ dari berbagai negara Kamis (29/3), pukul 11.00 waktu setempat segera menuju tempat Press Conferens. Sementara delegasi dari India dan Philipina masih tertahan di kapal karena masalah pengurusan visa dan administrasi pelabuhan. Hadir dalam acara tersebut delegasi dari Eropa, Italia, Jerman, Belanda, Rusia dan juga para rabi Yahudi yang tergabung dalam Neturei Karta Internasional Amerika, Kanada dan Inggris. Delegasilainnya yang turut hadir adalah delegasi Indonesia, Jepang, Iran, Afganistan, Bahrain, Turki, Azerbaijan, Palestina, Libanon. Acara dibuka oleh Paul Rudy dari anggota komite GMJ Internasioanl dari Amerika Serikat. Selamat datang para delegasi dari berbagai negara, lintas agama dan ideologi. Koalisi GMJ ini adalah koalisi paling besar dan sangat menentukan bagi kemerdekaan Jerusalem. Gerakan sipil ini sukses diselenggarakan tetapi tidak akan sempurna sebelum Palestina merdeka. Satu persatu para wakil delegasi dari berbagai negara memperkenalkan diri. Rabbi Dovid Feldman dari Komunitas Kaum Yahudi Amerika Srikat (Jews United Against Zionisme) Neturei Karta Internasional mengatakan, Libanon adalah kota perlawanan, untuk kesekian kalinya saya datang ke sini dan merasa aman. Saya merasa aman di berbagai belahan bumi manapun. Kita kaum Yahudi tidak butuh pendirian negara Israel. Pendirian negara Israel merusak agama Yahudi dan merusak seluruh tatanan kemanusiaan. Kami komunitas Yahudi menolak segala upaya mempertahankan negara Israel karena alasan Yahudi tidak aman dan sebagai pembenar tanah yang dijanjikan. Kita kaum Yahudi tidak bebas menjalankan agama Yahudi termasuk kaum Yahudi di Jerusalem. Acara dilanjutkan kunjungan ke makam syahid Imam Mugniyah, salah satu komandan Hizbullah yang dibunuh secara pengecut oleh Israel di luar area peperangan di Suriah. Delegasi dari berbagai negara diajak mengenang kembali kekejian tentara Israel karena telah melakukan invasi ke Libanon yang mengakibatkan ribuan warga sipil dibantai pada tahun 2006. Sore hari pupul 15.00 waktu Beirut, delegasi kemudian menuju kedutaan Palestina di Beirut. Ditengah perjalanan, seorang ibu pengungsi Palestina menuturkan bahwa di sebelah kiri bus ini adalah area pemukiman Sabra Satila. Saya masih ingat tahun 1982 ribuan orang pengungsi Palestina dikumpulkan oleh Israel atas perintan Ariel Sharon. Para pengungsi disuruh lari kemudian ditembaki, ribuan menjadi korban kemudian dikumpulkan seperti gunung. Ini adalah salah satu pembersihan etnik Palestina oleh Israel di wilayah Beirut yang didukung oleh Amerika dan PBB. Terlihat juga bekas kantor Yasser Arafat hancur lebur karena bom Israel. Laporan dari Muhammad Maruf Tim Konvoi Darat GMJ Indonesia
GMJ Konvoi Darat Tiba di Yordania

Jordan Rabu (28/03), dari KBRI Beirut, sebanyak 24 orang Tim Konvoi Darat GMJ Indonesia langsung menuju bandara internasional Rafic Hariri Beirut Libanon untuk mengejar jadwal penerbangan ke Amman Yordania pada pukul 22.15. Setelah menempuh perjalanan selama 45 menit, Tim Konvoi darat GMJ Indonesia tiba di Bandara Internasional Queen Alia Amman Yordania pada pukul 23.10 waktu setempat. Di bandara Amman, Tim Konvoi Darat dijemput oleh Tim GMJ Indonesia rute 2 yang sudah lebih dulu tiba di Yordania yang kemudian dibawa ke penginapan dimana delegasi Indonesia lainnya sudah menunggu. Sesampainya di penginapan, di daerah Syifa Badran, rombongan Konvoi Darat GMJ bisa beristirahat dengan tenang dan membersihkan badan setelah hampir tiga hari tidak mandi. Kamis (29/03), pagi hingga siang harinya, tim GMJ Indonesia baik rute 1 (konvoi darat) maupun rute 2 sebanyak 79 orang berkumpul untuk melakukan evaluasi kegiatan konvoi darat yang telah dilalui, membahas segala kekurangan dan keterbatasan yang ada untuk dilakukan perbaikan pada GMJ di tahun-tahun mendatang. Usai shalat maghrib seluruh rombongan GMJ Indonesia menghadiri acara jamuan makan malam di kediaman KBRI Jordania. Selepas menikmati hidangan, diadakan acara ramah-tamah dan sambutan dari pimpinan masing-masing delegasi. Acara dibuka oleh Bapak Zainul Bahar Noor, Duta Besar RI untuk Yordania sekaligus selaku tuan rumah yang didampingi oleh istri, Ibu Rosidah. Disusul oleh Bapak Bachtiar Nasir selaku Ketua ASPAC (Asia Pasific Committee for Palestine), kemudian dr. Joserizal Jurnalis, Sp.OT selaku Penggagas GMJ, lalu Bapak Ferry Nur dari KISPA, Ibu Marwah Daud Ibrahim (ASPAC), Koordinator AWG (Aqsha Working Group), M. Hafidz dari DDII (Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia) dan Ibuu Siti Aminah Assegaf dari VOP (Voice of Palestine). Masing-masing delegasi berkomitmen dan bersepakat bahwa rombongan dari Indonesia harus bersatu dalam satu barisan untuk acara yang akan digelar esok hari, 30 Maret 2012. Usai acara resmi ditutup, dilakukan pembicaraan antar koordinator delegasi untuk membahas masalah teknis di lapangan, termasuk memilih Koordinator Pusat untuk seluruh rombongan, yaitu Ust. Agus Sudarmaji dari AWG dan Lilik Nur Kholili dari ASPAC. Acara berakhir pukul 23.00 waktu lokal, para delegasi menuju kediaman masing-masing untuk menyiapkan acara keesokan harinya. Diperoleh informasi via SMS dari pelabuhan Beirut Lebanon bahwa tadi malam rekan-rekan delegasi GMJ dari India, Turki, Iran dan lain-lain sudah diizinkan menginjakkan kaki di Beirut dan saat ini dalam perjalanan menuju Nabakhtiye, Beirut Selatan. Laporan dari Tim GMJ Indonesia dr. Naf’an Akhun (MER-C)
Bagaimana Mungkin Orang Lain akan Menghormati Bangsa Kita, Sementara Pemerintah Kita Sendiri Mempermalukan Rakyatnya di Hadapan Bangsa Lain?

Amman Yordania: Itulah yang dialami oleh Tim GMJ (Global March to Jerusalem) Indonesia yang berangkat ke Yordania pada hari Selasa (27/3), pukul 00.40 wib. Setibanya di Bandara Amman, salah satu dari 9 orang anggota Tim GMJ rute 2, yaitu Munarman SH, ditolak kedatangannya oleh pihak imigrasi dan intelijen Yordania. Munarman juga dipaksa untuk pulang ke Indonesia pada hari itu juga. Demikian informasi dari Dr. Joserizal Jurnalis, SpOT, Presidium MER-C yang juga turut berangkat dan memimpin Tim GMJ saat itu. Melalui pesan singkat yang dikirim pagi ini (28/03), dr. Joserizal menyampaikan bahwa terkait hal ini tim sudah berusaha meminta bantuan kepada KBRI di Amman untuk membantu bernegosiasi dengan pihak imigrasi Yordania. Duta Besar RI di Jordan, Bapak Zainul Bahar Nur bahkan langsung datang ke bandara untuk melakukan negosiasi dengan pihak imigrasi Yordania. Sebuah kepedulian dari Bapak Dutas Besar RI yang patut diacungi jempol. Namun, negosiasi tersebut tidak membuahkan hasil karena kenyataannya saudara Munarman SH, tetap tidak bisa masuk ke Yordania. Alasan yang disampaikan oleh pihak Imigrasi Yordania bahwa penolakan Munarman adalah atas permintaan pihak Intelijen RI. ”It’s not from our side,” kata mereka. Ketika Cat Steven (Yusuf Islam) berkunjung ke Amerika tetapi ditolak oleh pihak imigrasi Amerika, pemerintah Inggris menyampaikan nota protes dan kecaman kepada pemerintah Amerika. Tetapi apa yang dialami oleh rakyat Indonesia sungguh berbeda, ungkap dr. Joserizal. 79 Orang Delegasi Indonesia Siap Ikut GMJ pada 30 Maret 2012 di Yordania Sementara itu, hingga saat ini total jumlah delegasi Indonesia di bawah koordinasi MER-C yang akan mengikuti GMJ berjumlah sekitar 79 orang. Dua delapan (28) orang diantaranya mengikuti GMJ melalui konvoi darat (rute 1) telah bertolak ke Karachi (Pakistan) pada tanggal 9 Maret 2012 lalu. Sementara sisanya, sebanyak 51 orang mengikuti GMJ melalui rute 2, yaitu dari Jakarta langsung ke Amman Yordania yang dibagi menjadi beberapa gelombang keberangkatan. Delegasi Indonesia bersama jutaan rakyat sipil dari berbagai penjuru dunia akan berkumpul dan melakukan kampanye damai di perbatasan Israel Yordania pada tanggal 30 Maret 2012 mendatang. Delegasi Indonesia terdiri dari perwakilan sejumlah lembaga peduli Palestina seperti MER-C, VOP (Voice of Palestina), Aqsa Working Group (AWG), Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI), Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Forum Indonesia Muda (FIM), Front Pembela Islam (FPI), Komunitas Facebook I Love Muhammad, Perwakilan Mahasiswa dan juga 3 orang jurnalis dari TV One, Metro TV dan Harian Umum Republika. Misi GMJ untuk Membebaskan Jeruslaem dan Mematahkan 4 Mitos Hak Zionis Israel Sebelum berangkat, dr. Joserizal Jurnalis, SpOT sempat mengingatkan kepada para peserta bahwa misi kali ini adalah untuk pembebasan Jerusalem dari cengkeraman zionis Israel. Global March to Jerusalem adalah gerakan penyadaran masyarakat dunia bahwa kota Jerusalem adalah kota untuk 3 agama: Islam, Kristen dan Yahudi serta milik pecinta Kemanusiaan dan Keadilan. Bukan milik Zionis, tegasnya. Gerakan ini, lanjutnya, juga untuk mematahkan 4 mitos hak yang selama ini diyakini oleh zionis. Keempat hak tersebut adalah Yahudi adalah etnis terpilih untuk memimpin dunia, mereka adalah pemilik tanah Palestina yang dijanjikan, mereka berhak kembali ke tanah itu dan mereka berhak untuk melakukan serangan lebih dulu. Empat hak inilah yang harus kita patahkan karena tidak bisa berdampingan dengan norma-norma peradaban manusia, ungkap dr. Joserizal kepada para peserta GMJ Indonesia. Selain itu, semua peserta juga diingatkan untuk senantiasa meluruskan niat dan menyiapkan diri dengan segala kemungkinan bahkan yang terburuk sekalipun. Sementara itu, Tim Konvoi Darat GMJ yang terdiri dari berbagai negara, yaitu Indonesia (28 orang), Filipina (3 orang), Malaysia (1 orang), India (34 orang), Iran (40 orang), serta beberapa orang Irak, Azerbaijan, Bahrain, Tajkishtan, Saudi Arabia, USA dan Turki siang ini dikabarkan sudah merapat di Pelabuhan Beirut Lebanon. Di pelabuhan, pihak KBRI Beirut sudah menunggu dan siap menyambut para delegasi Indonesia. Malam ini (28/03), delegasi Indonesia dijadwalkan akan langsung bertolak ke Amman Yordania dengan menggunakan pesawat untuk bergabung dengan delegasi Indonesia lainnya yang sudah lebih dulu tiba di Yordania. GMJ Indonesia
8,5 Jam Tim Konvoi Darat GMJ Indonesia Tertahan di Kapal

Turki – Selasa (27/03), dini hari pukul 02.00 wib, bus yang mengangkut rombongan Konvoi darat GMJ (Global March to Jerusalem) tiba di kota Pelabuhan Mersin, pelabuhan yang terletak di wilayah pesisir selatan negara Turki. Meski demikian para penumpang masih tertidur lelap dalam bus, kecuali yang bangun untuk mencari toilet setelah menahan buang air kecil semalaman. Seluruh rombongan baru terbangun pada pukul 05.30 saat terdengar adzan subuh dari sebuah masjid terdekat. Sebagian rombongan, termasuk saya, segera mencari arah suara adzan untuk mengikuti shalat berjamaah. Usai shalat subuh, para delegasi segera membersihkan diri walau hanya sekedar menyikat gigi di masjid bernama Haliliye (Resadiye) Camii. Masjid mungil dan cantik ini dibangun pada masa H. Mehmet Pasa Tarafindan pada tahun 1908. Diperoleh informasi bahwa pemberangkatan menuju Beirut (Libanon) ditunda karena cuaca buruk dan angin kencang, ditambah lagi pengurusan visa masuk Beirut yang belum selesai. Namun satu alasan paling mendasar adalah mewaspadai mata-mata bila perjalanan dilakukan di siang hari. Untuk sementara, seluruh rombongan sementara menunggu di Cypru Bazaar, sebuah toko di tepi pantai yang masih dalam renovasi untuk menampung bagasi para delegasi. Pukul 21 waktu lokal, kapal laut yang ditunggu-tunggu mulai kelihatan. Perlahan kapal merapat di dermaga dekat lokasi penampungan bagasi. Seluruh delegasi bersiap, mulai dilakukan pengecekan paspor dan visa masuk Beirut. Jam 23.30 waktu lokal, Emeraude Express, kapal laut yang ditumpangi seluruh delegasi mulai melaju perlahan menuju arah selatan, membelah ombak laut Mediterania dengan tujuan pelabuhan Beirut di Libanon. Rabu (28/03) pukul 07.00 pagi waktu lokal, mulai nampak bayangan gedung-gedung bertingkat kota Beirut. Emeraude Express tetap melaju dengan kecepatannya yang konstan hingga akhirnya bersandar di pelabuhan Beirut pada pukul 09.30 waktu Beirut. Di pelabuhan, para delegasi GMJ dari berbagai negara; India, Indonesia, Filipina, Malaysia, Iran, Turki dll berpikir bisa segera turun dan bergabung dengan delegasi yang lain. Tapi ternyata masih menunggu lama dengan ketidakpastian. Informasi simpang siur; belum bisa keluar dari kapal karena masih terganjal dengan masalah visa masuk Beirut. Awalnya para delegasi bersikap tenang dengan mengobrol dan bercanda di dalam kapal maupun di dek. Ada juga yang berusaha mengajak ngobrol aparat keamanan yang mondar mandir di luar kapal, walaupun tidak membuahkan hasil. Aparat bersenjata lengkap hanya diam dan memasang muka sangar. Pukul 12.00, Feroze Mithiborwala, selaku koordinator GMJ India, membawa informasi bahwa tertahannya para delegasi ternyata bukan karena masalah visa belaka, tetapi karena situasi politik Libanon dengan adanya pihak-pihak yang tidak menginginkan delegasi GMJ memasuki Libanon. Para delegasi mulai emosional, berbondong-bondong naik ke palka/atap kapal sambil meneriakkan yel-yel dan memukul-mukul atap kapal. Setelah tertahan selama kurang lebih 8,5 jam di kapal, khusus delegasi Indonesia yang berjumlah 28 orang mendapat jaminan visa dari KBRI Libanon sehingga akhirnya mendapat kemudahan untuk keluar dari kapal, dengan syarat yang digaris bawahi: delegasi Indonesia dilarang menuju Lebanon Selatan. Syarat ini bisa menjadi masalah di kemudian hari, karena delegasi Konvoi Darat GMJ Indonesia memutuskan berkampanye di dua front, yaitu front Lebanon selatan dan front Yordania. Bagi front Yordania, syarat tersebut tidak menjadi masalah karena delegasi Indonesia memasuki Beirut hanya sekedar transit, untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan via udara menuju Amman, Yordania pada malam harinya. Pukul 19.30 waktu lokal, rombongan dari Indonesia menghadiri jamuan makan malam di KBRI yang diterima langsung oleh Duta Besar RI untuk Lebanon, Bpk. Dimas Samodra Rum. Usai makan malam dan shalat, rombongan segera menuju bandara Internasional Rafiq Hariri Beirut, mengejar jadwal pesawat yang akan take off pada pukul 22.15 waktu lokal. Alhamdulillah, penerbangan selama 45 menit lancar hingga mendarat di bandara Internasional Queen Alia Amman Yordania pada pukul 23.10 waktu setempat. Di bandara Amman, rombongan GMJ (yang telah bertemu dengan panitia penjemputan) langsung meluncur untuk bergabung dengan Tim GMJ Rute 2 yang sudah lebih dulu tiba di Yordania dan menunggu di penginapan. Sesampainya di penginapan, di daerah Syifa Badran (Belakang Levant Academic School), rombongan Konvoi Darat GMJ bisa beristirahat dengan tenang dan membersihkan badan setelah hampir tiga hari tidak mandi. Sampai berita ini ditulis, belum diperoleh informasi mengenai nasib delegasi GMJ dari negara lain yang kami tinggal di atas kapal dan nasib delegasi GMJ Indonesia front Libanon. Naf’an Akhun GMJ Indonesia dari MER-C