MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

MER-C Tandatangani Kontrak Pembangunan RSI Myanmar dengan Kontraktor

Yangon – Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menandatangani kontrak pembangunan Rumah Sakit Indonesia tahap kedua yang berlokasi di Rakhine State, Myanmar, Rabu (6/9) di Yangon. Penandatangan dilakukan oleh Presidium MER-C, Ir. Faried Thalib dengan Kyaw Nay Oo, selaku Direktur Rakhita Ah Linn Construction. Co.Ltd, kontraktor lokal pemenang tender pembangunan RS Indonesia. “Ini merupakan kontrak kedua dari pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State Myanmar. Tahap pertama sudah selesai dan kita sekarang akan segera bangun tahap kedua” ujar Faried Thalib, anggota Presidium MER-C, sesaat setelah menandatangani kontrak. Mantan Manajer Proyek Pembangunan RS Indonesia di Gaza (Palestina) ini menjelaskan bahwa tahap kedua pembangunan rumah sakit ini merupakan pembangunan gedung tempat tinggal untuk dokter dan perawat. “Pembangunan rumah tinggal untuk dokter dan perawat ini kita dahulukan, dan setelah berjalan, bangunan utama akan segera kita bangun secara bersamaan” ujarnya. “Ini bagian dari diplomasi kemanusiaan yang dilakukan oleh MER-C, diharapkan dengan dibangunnya rumah sakit ini, akan memberikan manfaat kepada rakyat Myanmar yang dilanda konflik dan yang lebih penting akan membantu meredakan konflik di daerah ini” jelasnya. Faried menambahkan, Indonesia dengan mayoritas Muslim dan minoritas Budha hendaknya menjadi contoh bagi pemerintah dan rakyat Myanmar, bahwa keberagaman bukan alasan untuk bertikai, namun justru saling mengayomi satu dengan yang lain. “Terlebih lokasi Rumah Sakit berada di antara daerah penduduk muslim dan Budha, sehingga bisa menjadi fasilitas untuk semua penduduk di sana” lanjutnya. Pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar merupakan bagian dari diplomasi kemanusiaan yang sudah dilakukan MER-C sejak mendirikan RS Indonesia di Gaza, Palestina. Khusus wilayah konflik Myanmar dimulai dengan misi pertama MER-C ke Rohingya pada tahun 2012 dan dilanjutkan dengan assessment ke lokasi lahan RS Indonesia di Mrauk U pada Agustus 2015. Saat itu, Tim langsung melakukan pembelian (pembebasan lahan karena tanah adalah milik negara), tepatnya di Mrauk U, Rakhine State. Pada Mei 2017, setelah sempat tertunda selama dua tahun, pembangunan RS Indonesia resmi dimulai. Hal ini berkat inisiasi dari Bapak M. Jusuf Kalla yang memberikan dukungan positif dan berharap RS Indonesia bisa segera terwujud dalam jangka waktu satu tahun ke depan. Ketua Umum PMI ini juga mengarahkan agar RS Indonesia menjadi program kerjasama MER-C dan PMI. Serangkain rapat koordinasi antara MER-C, PMI, Kementerian Luar Negeri dan Kementerian terkait lainnya sudah beberapa kali digelar baik di kantor Wakil Presiden RI dan Markas Besar PMI untuk menindaklanjuti dan mempercepat pembangunan RS Indonesia. MER-C telah menunjuk tim pelaksana pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar yang terdiri dari para relawan insinyur yang sudah berpengalaman membangun RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. Meskipun pembangunan diserahkan kepada kontraktor lokal, namun MER-C akan menempatkan relawan insinyur di lapangan untuk mengawasi seluruh proses pembangunan RS Indonesia di Rakhine State sampai pembangunan selesai. Dukungan dan donasi bagi program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State Myanmar dapat disalurkan melalui: Mandiri 124.000.8111.982 BSM 700.1306.833 BCA 686.028.0009 Semua atas nama Medical Emergency Rescue Committee   Info: www.mer-c.org 0811990176

Pembangunan RS Indonesia di Rakhine tidak Terganggu Konflik

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA — Bentrokan kembali terjadi antara pihak yang mengatasnamakan gerilyawan Rohingya dengan aparat keamanan Pemerintah Myanmar pada Jumat (25/8). Akibat bentrokan tersebut, puluhan orang meninggal dunia dan ribuan Muslim Rohingya melarikan diri ke perbatasan Bangladesh.   Medical Rescue Commite (MER-C) yang sedang membangun Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Myanmar berharap pihak-pihak yang sedang bentrok segera mengambil jalan diskusi agar tidak banyak jatuh korban. Meski demikian, MER-C menginformasikan pembangunan RSI di Myanmar tetap berjalan.    Presidium MER-C, Dr Sarbini Abdul Murad mengatakan, proses pembangunan RSI tidak terganggu dengan bentrokan yang terjadi pada Jumat (25/8). Pembangunan RSI didukung semua pihak, termasuk Pemerintah Myanmar, umat Islam, Buddha dan masyarakat umum lainnya.    Ia mengungkapkan, setelah berdirinya RSI diharapkan dapat menjadi peredam konflik di Myanmar. “Diharapkan dengan cepatnya berdirinya Rumah Sakit, mudah-mudah bisa menjadi simbol perdamaian dengan adanya Rumah Sakit Indonesia itu,” kata Sarbini kepada Republika, Ahad (27/8).   Ia menyampaikan, MER-C saat ini sedang melaksanakan proses pembangunan RSI di wilayah Muaung Bwe, Mrauk U, Provinsi Rakhine, Myanmar. MER-C berharap pihak-pihak yang saat ini sedang bentrok segera melakukan dialog untuk menyelesaikan masalah.    Di harapkan semua pihak yang terkait dengan konflik di Myanmar bisa duduk bersama untuk melakukan komunikasi guna mencari solusi penyelesaian masalah dengan jalan terbaik. MER-C meyakini kekuatan dialog dapat menyelesaikan konflik, seperti di Aceh, bisa damai karena dialog.   “Kalau dialog tidak dibangun, akan sulit saling pengertian, dialog inilah yang akan membuat saling pengertian antara semua elemen di Myanmar,” ujarnya.    Sarbini menerangkan, RSI yang sedang dibangun MER-C diperuntukkan untuk umum, artinya untuk semua komunitas agama. RSI ini akan menjadi simbol netralitas. Masyarakat Muslim dan non-Muslim akan berobat bersama-sama di RSI.   Masyarakat yang sedang berobat akan bertemu, saling sapa dan berbicara. Secara perlahan akan membuka pintu saling percaya antara semua komunitas di Myanmar. RSI dibuat oleh MER-C, Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) dan PMI.    “Jadi dengan ada Rumah Sakit ini maka masyarakat dan Pemerintah Myanmar bisa melihat di Indonesia harmonis antar umat beragama, buktinya RSI ini didirikan oleh komunitas Muslim dan Buddha,” jelasnya.   MER-C menginformasikan, proses pembangunan RSI sudah sampai pengurugan, bulan ini sedang dibuat pagar. Pada Oktober mendatang akan dibuat rumah untuk dokter dan paramedis. Setelah itu baru akan dibangun bangunan Rumah Sakit. Ditargetkan pertengahan 2018 RSI bisa dioperasikan.   MER-C juga akan membangun sarana air bersih di sekitar RSI. Sebab, masyarakat di sana kesulitan mendapatkan air bersih. Dokter dan paramedis dari Myanmar akan dilatih di Indonesia.   “Diharapkan mereka bisa belajar bagaimana dokter Indonesia melayani pasien-pasien yang tidak melihat kelas dan status. Dokter melayani pasien secara profesional dan atas dasar rasa kemanusiaan,” ujarnya.

MER-C dan RRI Jakarta Tandatangani Kerjasama Penggalangan Dana RS Indonesia di Myanmar

Jakarta – MER-C dan RRI Jakarta kembali sepakat menjalin kerjasama dalam rangka sosialisasi dan penggalangan dana untuk program pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar. Kesepakatan kerjasama telah ditandatangani pada hari Rabu (23/8) di Gedung RRI oleh Presidium MER-C dr. Sarbini Abdul Murad dan Kepala RRI Jakarta, La Sirama, SSos, MM. Ini bukan kerjasama pertama kali bagi MER-C dan RRI Jakarta. Sebelumnya saat program pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina, RRI Jakarta juga menjadi salah satu media partner hingga pembangunan rumah sakit ini selesai. Kini, MER-C kembali menggandeng RRI Jakarta menjadi media partner untuk program pembangunan RS Indonesia yang sedang berlangsung di wilayah konflik di Myanmar, tepatnya di Muaung Bwe, Mrauk U, Rakhine State. RRI Jakarta akan memberikan space iklan secara sosial sebagai bentuk dukungan RRI Jakarta bagi program kemanusiaan bangsa Indonesia di dunia internasional. Iklan Layanan Masyarakat berdurasi 60 detik yang dibuat oleh MER-C dengan melibatkan sejumlah tokoh dan artis yang peduli terhadap program ini akan diputar oleh RRI Jakarta setiap hari selama kurun waktu kerjasama. Program kerjasama MER-C, PMI dan Walubi yang turut didukung oleh pemerintah Indonesia ini diharapkan bisa tersosialisasikan secara lebih luas kepada masyarakat Indonesia dengan dukungan media, sehingga swmakin banyak masyarakat yang tergerak untuk berpartisipasi memberikan dukungan dan bantuannya. Saat ini pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar akan memasuki tahap pembangunan bangunan utama rumah sakit. Perkiraan dana yang dibutuhkan untuk pembangunan hingga pengadaan alat kesehatan rumah sakit mencapai Rp 25 Milyar. Pembangunan ditargetkan bisa selesai pada awal atau pertengahan tahun depan. Tidak hanya bangunan rumah sakit, masalah air bersih yang sulit di wilayah ini juga turut menjadi perhatian yang akan ditangani.   Dukungan dan donasi bagi program Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui :   Mandiri, 124.000.8111.982 BSM, 700.1306.833 BCA, 686.028.0009 Semua rekening a/n. Medical Emergency Rescue Committee   Info: www.mer-c.org 0811990176

Teknologi Ultra Filtrasi akan digunakan untuk suplai kebutuhan air RS Indonesia di Myanmar

Yangon – Tim Teknis RS Indonesia memutuskan akan menggunakan teknologi ultra filtrasi untuk mensuplai kebutuhan air bagi Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar. Hal ini dijelaskan oleh salah satu anggota tim ahli MER-C, Agus Subiyakto Saleh saat melalukan kunjungan ke lokasi pembangunan RS Indonesia di Mrauk U, Rakhine State, Myanmar, Rabu (9/8).   “Setelah melakukan pengecekan di lapangan, air yang ada PH nya 7,1 dan TDS nya rendah hanya 2 yang berarti mineralnya rendah, maka kita akan menggunakan sistem ultra filtrasi, ini akan langsung jernih airnya” terang ahli pengolahan air asal ITB tersebut.   Pria yang lahir 58 tahun lalu itu menjelaskan bahwa teknologi ultra filtrasi ini merupakan sebuah teknologi penyaringan air dengan menggunakan membran tertentu dan dapat menyaring setiap partikel yang ada di dalam air hingga ukuran 0,01 mikron.   “Jadi ultra filtrasi itu adalah teknologi dengan menggunakan membran dengan ukuran rembesannya 0,01 mikron. Nah dengan adanya air yang masuk melalui membran tersebut, semua kotoran akan tertahan, sehingga air itu sudah bebas dari kemungkinan bakteri dan lain-lain” jelasnya.   Ia juga menyatakan selain perawatan yang mudah, teknologi ini pun mampu menahan virus hingga ukuran 0,5 mikron. “Sampai dengan virus akan tertahan di membran itu, karena virus ukuran nya 0,5 mikron. Tekonologi ini mudah dioperasikan dengan menggunakan pompa karena tekanannya cukup rendah. Hanya membutuhkan tekanan 0,5 – 1 bar. Membersihkannya cukup mudah, dengan bayclin sudah bisa membersihkan membran” lanjutnya.   Agus juga menambahkan bahwa dengan kapasitas penampungan air yang mencapai 120 ribu meter kubik, bisa melayani 1000 orang selama empat bulan kedepan.   “Kapasitas penampungan air ini 120 meter kubik, bisa melayani 1.000 orang, dan jika dihitung kebutuhan air perorang 100 liter perhari, maka kapasitas air ini bisa digunakan hingga 120 hari kedepan atau 4 bulan,” terangnya.   Lebih lanjut Agus menyatakan bahwa air hujan yang ditampung di kolam penampungan tersebut kualitasnya sangat baik, karena tidak ada polusi udara disekitarnya.   “Saya langsung minum air tadi, karena saya yakin air tersebut tidak berbahaya, dan airnya bisa dikonsumsi langsung. Rasanya seperti rasa air yang punya TDS rendah. Ini karena air nya tidak tercemar oleh polusi” ungkapnya.   Saat disinggung soal biaya Agus menyatakan bahwa biaya yang digunakan bisa terjangkau dan tidak terlalu tinggi.  “Untuk kapasitas 3-4 meter kubik per jam jika di Jakarta seharga 15 jutaan. Berarti selama satu jam air ini bisa melayani 300 orang, sehingga untuk kapasitas 1.000 orang, bisa beroperasi hanya 3-4 jam perhari” katanya.   Sebelumnya, Senin (7/8), MER-C memberangkatkan empat relawan teknis ke Myanmar dengan salah satu agenda adalah melakukan studi lanjutan untuk mengatasi permasalahan air bersih selain melakukan supervisi pekerjaan pembangunan tahap satu RS Indonesia yang sudah selesai.   Tim dijadwalkan akan bertugas selama 5 hari hingga Jum’at (11/8) mendatang.   Pembangunan RS Indonesia di wilayah konflik Rakhine State, Myanmar adalah sebuah langkah diplomasi kemanusiaan di dunia internasional kerjasama MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan PMI (Palang Merah Indonesia), didukung oleh pemerintah Republik Indonesia. Keberadaan RS Indonesia diharapkan dapat menjadi salah satu perekat persatuan antara etnis di Myanmar sehingga bisa meredam konflik berkepanjangan yang terjadi untuk mendorong terciptanya perdamaian di Myanmar.   Dukungan dan donasi bagi program pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui :   Mandiri 124.000.8111.982 BSM 700.1306.833 BCA 686.028.0009 Semua atas nama Medical Emergency Rescue Committee     Info: www.mer-c.org 0811990176

Pembangunan Tahap Pertama Selesai, Tim Teknis RS Indonesia Kembali Kunjungi Myanmar

Jakarta – Empat relawan teknis RS Indonesia, hari ini, Senin/7 Agustus 2017 kembali bertolak ke Myanmar. Kunjungan dilakukan seiring telah selesainya pembangunan tahap pertama, yaitu pengurukan dan pemagaran lahan RS Indonesia seluas lebih dari 7.000 m2 yang terletak di Muaung Bwe, Mrauk U, provinsi Rakhine. Keempat relawan tersebut adalah Drs. Ichsan Thalib (Ketua Tim Pembangunan RS Indonesia, Myanmar), Ir. Idrus M. Alatas, MSc (Ketua Divisi Konstruksi MER-C), Ir. Agus Subiyakto Saleh, MT dan Ir. Nur Ikhwan Abadi. Ichsan Thalib selaku Ketua Tim menyatakan bahwa agenda kunjungan kali ini adalah untuk melakukan supervisi pekerjaan tahap pertama yang dikerjakan oleh kontraktor lokal pemenang tender sekaligus melakukan finalisasi pembayaran. Pekerjaan tahap pertama semula diperkirakan memakan waktu 2 – 3 bulan. Namun sejak dimulai pada 25 Mei 2017 dan meski wilayah ini kerap dilanda hujan lebat, ternyata pada akhir Juli 2017 lalu, pekerjaan pengurukan dan pemagaran lahan RS Indonesia bisa selesai hanya dalam jangka waktu 2 bulan. Ichsan melanjutkan, tidak hanya bidang teknis pembangunan, MER-C juga mengikutsertakan seorang ahli teknik lingkungan untuk mengadakan studi lanjutan dalam rangka mengatasi permasalahan air bersih yang sulit di wilayah sekitar RS Indonesia. “Air di wilayah ini payau sehingga selama ini masyarakat mengandalkan dan sangat bergantung dari air tadah hujan. Keikutsertaan ahli teknik lingkungan dalam misi ini diharapkan bisa mengatasi permasalahan air bersih yang tidak hanya sangat penting bagi operasional RS Indonesia ke depan namun juga bagi kehidupan masyarakat sekitar baik Muslim maupun Budha.” Sementara itu, Ketua Divisi Konstruksi MER-C, Idrus M. Alatas, relawan yang juga pernah terlibat dalam pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina mengungkapkan bahwa agenda penting tim lainnya di Myanmar adalah melakukan persiapan tender untuk pembangunan tahap selanjutnya, yaitu bangunan utama RS Indonesia serta sarana pelengkapnya seperti rumah dokter dan perawat. Lama kunjungan tim untuk menuntaskan semua kegiatan diperkirakan selama 5 hari hingga hari Jum’at/11 Agustus 2017 mendatang. Pembangunan RS Indonesia di Myanmar adalah program kerjasama MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan PMI (Palang Merah Indonesia) yang didukung oleh Pemerintah RI. MER-C kembali mengajak masyarakat Indonesia berpartisipasi dalam mewujudkan program ini. RS Indonesia di Myanmar diharapkan dapat menjadi salah satu diplomasi kemanusiaan dalam bidang kesehatan yang dapat mendorong terciptanya perdamaian bagi warga Muslim dan Budha di negara ini.   Dukungan dan donasi bagi program Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui :   Mandiri, 124.000.8111.982 BSM, 700.1306.833 BCA, 686.028.0009 Semua rekening a/n. Medical Emergency Rescue Committee   Info: www.mer-c.org 0811990176

Progress Pembangunan RS INDONESIA di Rakhine State, Myanmar

Meski kerap dilanda hujan lebat, pembangunan tahap infrastruktur berupa pengurukan dan pemagaran lahan RS Indonesia seluas lebih dari 7.000 m2 di Mrauk U, Rakhine State, Myanmar terus berjalan. Pasca Idul Fitri Tim teknis pembangunan RS Indonesia berencana bertolak lagi ke Rakhine, Myanmar untuk melakukan evaluasi dan supervisi pekerjaan langsung ke lapangan serta mempersiapkan tender untuk pembangunan bangunan utama RS Indonesia. Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak/Ibu/Sahabat yang sudah memberikan dukungan dan donasi untuk program ini. Kami masih berharap doa, dukungan dan partisipasi dari masyarakat Indonesia agar program ini dapat segera terwujud. Semoga program ini kembali dapat menjadi amal baik bersama bangsa Indonesia. Di suasana yang fitri ini, kami juga mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1438 H, Mohon Maaf Lahir dan Bathin. Dukungan dan donasi bagi program Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui : Mandiri, 124.000.8111.982 BSM, 700.1306.833 BCA, 686.028.0009 Semua rekening a/n. Medical Emergency Rescue Committee Info : www.mer-c.org 0811990176

Pembangunan RS Indonesia di Myanmar Dimulai

Jakarta – Kamis/25 Mei 2017, pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar kerjasama MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan PMI (Palang Merah Indonesia) resmi dimulai. Pembangunan yang telah berjalan adalah pembangunan infrastruktur berupa pengurukan dan pemagaran lahan RS Indonesia yang terletak di Muaung Bwe, Rakhine State. Pembangunan infrastruktur dikerjakan oleh kontraktor lokal hasil pemenang tender yang telah ditetapkan oleh Tim Pembangunan RS Indonesia saat melakukan kunjungan sepekan ke Myanmar pada tanggal 15 – 21 Mei 2017 lalu. Pembangunan tahap ini diperkirakan akan memakan waktu selama 3 bulan ke depan dan akan disupervisi langsung oleh MER-C dan PMI. Sementara pembangunan bangunan utama RS Indonesia akan dimulai setelah musim penghujan selesai sekitar akhir September atau awal Oktober 2017. Saat ini disain RS Indonesia di Myanmar sedang difinalisasi untuk persiapan tender tahap berikutnya yang rencananya akan dilakukan usai hari raya Idul Fitri mendatang. Pembangunan RS Indonesia di Myanmar adalah program kerjasama MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan PMI (Palang Merah Indonesia) yang didukung oleh Pemerintah RI. MER-C kembali mengajak masyarakat Indonesia berpartisipasi dalam mewujudkan program ini. RS Indonesia di Myanmar diharapkan dapat menjadi salah satu diplomasi kemanusiaan dalam bidang kesehatan yang dapat mendorong terciptanya perdamaian bagi warga Muslim dan Budha di negara ini. Dukungan dan donasi bagi program Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui : Mandiri, 124.000.8111.982 BSM, 700.1306.833 BCA, 686.028.0009 Semua rekening a/n. Medical Emergency Rescue Committee Info: www.mer-c.org 0811990176

Pembangunan Infrastruktur RS Indonesia Dimulai Bulan Depan

Rakhine – Pembangunan infrastruktur berupa pengurukan dan pemagaran lahan RS Indonesia di Myanmar akan dimulai segera dalam bulan depan, Juni 2017. Hal ini disampaikan salah satu anggota Tim Pembangunan RS Indonesia, Dr. Ir. Idrus M. Alatas usai mengunjungi lokasi lahan RS Indonesia yang terletak di Muaung Bay, Mrauk U, Rakhine State, Myanmar, hari Kamis/18 Mei 2017. Prioritas utama lainnya yang harus diselesaikan adalah air bersih yang sulit didapat di wilayah ini. Padahal kebutuhan air bersih tinggi dan vital bagi sebuah rumah sakit. Idrus M. Alatas yang juga Ketua Divisi Konstruksi MER-C mengemukakan bahwa pembangunan RS Indonesia akan dilakukan dalam dua tahap, yaitu tahap awal infrastruktur lalu tahap pembangunan rumah sakit itu sendiri. Infrastruktur RS Indonesia mencakup diantaranya pemagaran dan pengurukan. Untuk pengurukan, lahan RS Indonesia harus diuruk setinggi dua meter untuk untuk menghindari banjir yang setiap tahun melanda daerah ini. “Direncanakan pemagaran dan pengurukan dapat dilaksanakan Juni depan, dilanjutkan dengan pembangunan rumah sakit yang sedang didisain ulang disesuaikan dengan standar nasional yang berlaku di Myanmar. Pembangunan RS akan dilaksanakan setelah musim hujan periode September,” lanjutnya. Saat kunjungan ke lokasi yang berjarap sekitar 4,5 jam perjalanan darat dari kota Sittwe, ibukota Rakhine State, tim menemukan permasalah krusial yang juga harus diatasi, yaitu permasalahan air bersih. Melihat kondisi air yang sangat tidak layak, Tim memutuskan bahwa hal ini juga akan menjadi prioritas utama untuk diselesaikan karena terkait dengan kesehatan warga sekitar dan keberlangsungan pelayanan RS Indonesia nantinya. Air di wilayah ini payau meski sudah dibuat sumur yang dalam. Air sungai juga payau tidak bisa diminum sehingga warga mengandalkan air hujan yang ditampung pada penampungan air untuk mereka gunakan kala musim kemarau tiba. Idrus M. Alatas, relawan teknis yang juga ahli geologi tanah akan mengajukan program pengolahan penampungan air yang lebih efektif dan sehat. Tim rencananya juga akan melibatkan ahli tata kelola air untuk membantu mengatasi permasalahan air bersih di wilayah ini. Pembangunan RS Indonesia adalah program kerjasama MER-C (medical Emergency Rescue Committee) bersama PMI (Palang Merah Indonesia) dengan dukungan Pemerintah RI. MER-C kembali mengajak berpartisipasi masyarakat Indonesia dalam mewujudkan program ini. RS Indonesia di Myanmar diharapkan dapat menjadi salah satu diplomasi kemanusiaan dalam bidang kesehatan yang dapat mendorong terciptanya perdamaian bagi warga Muslim dan Budha di negara ini.  

MER-C dan Pemerintah Myanmar Sepakati Lokasi RS Indonesia

Rakhine – MER-C dan Pemerintah Myanmar sepakati lokasi untuk pembangunan RS Indonesia, yaitu di desa Muaung Bay, Mrauk U, Rakhine State, Myanmar. Lokasi ini dipilih setelah Tim Pembangunan RS Indonesia yang terdiri dari Drs. Ichsan Thalib, Dr. Ir. Idrus M. Alatas dan Ir. Faried Thalib melakukan kunjungan langsung ke lapangan, Kamis/18 Mei 2017. Kunjungan didampingi oleh dr. Swei Tein (Kepala Kesehatan Rakhien State), Bonifatius A. Herindra (Pelaksana Fungsi Politik KBRI Yangon) dan tiga kontraktor yang berminat mengikuti tender pembangunan RS Indonesia. “Lokasi berjarak sekitar 2,3 km dari lokasi lama yang telah Tim MER-C kunjungi pada Agustus 2015 lalu,” ungkap Ichsan Thalib yang sudah tiga kali mengunjungi Rakhine State, Myanmar. Ketua Tim Pembangunan RS Indonesia di Myanmar ini menyatakan bahwa lokasi disepakati karena dilihat dari strategisnya sama dengan lokasi yang lama. Bahkan di lokasi baru mobilisasi warga di RS akan lebih memungkinkan. Di sini lebih ramai dan lebih dekat ke pemukiman warga baik muslim maupun Budha. Lahan RS Indonesia yang diberikan pemerintah Myanmar sekarang juga lebih luas, yaitu sekitar 7.000 meter persegi, terletak di pinggir jalan raya Sittwe – Yangon.” Hal penting lainnya, tambah Ichsan, lokasi ini juga tetap mudah diakses dan dapat memberikan pelayanan bagi warga Rakhine State dari kedua belah pihak baik Muslim maupun Budha. Di samping lahan RS Indonesia saat ini ada rumah sakit tua (station hospital) yang dibangun tahun 1972 yang sudah mengalami beberapa kerusakan. Pada kesempatan kunjungan tersebut Tim memberikan santunan pada para pasien yang terbaring di bangsal RS yang sekitar 70% adalah warga Muslim. Tim memberikan santunan kepada pasien baik muslim maupun budha dan kepada paramedis. Rumah sakit (station hospital) inilah yang selama ini menjadi tumpuan warga sekitar dikala sakit. Apabila RS Indonesia telah selesai, maka operasional pelayanan kesehatan dan tenaga kesehatan yang ada akan dipindahkan ke RS Indonesia. Pembangunan RS Indonesia adalah program kerjasama MER-C (medical Emergency Rescue Committee) bersama PMI (Palang Merah Indonesia) dengan dukungan Pemerintah RI. MER-C kembali mengajak berpartisipasi masyarakat Indonesia dalam mewujudkan program ini. RS Indonesia di Myanmar diharapkan dapat menjadi salah satu diplomasi kemanusiaan dalam bidang kesehatan yang dapat mendorong terciptanya perdamaian bagi warga Muslim dan Budha di negara ini.    

MER-C dan Kemenkes Myanmar Tandatangani Kesepakatan Pembangunan Rumah Sakit

Selasa/16 Mei 2017 menjadi salah satu hari bersejarah dalam rangkaian proses pembangunan RS Indonesia di Myanmar. Pada hari ini, dilakukan penandatanganan kesepakatan jenis rumah sakit yang akan dibangun oleh MER-C bekerjasama dengan PMI di Mrauk U, Rakhine State, Myanmar. Penandatanganan dilakukan antara Ketua Tim Pembangunan RS Indonesia di Myanmar, drs. Ichsan Thalib dengan Wakil Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan dan Olahraga Myanmar, dr. Myat Wunna Soe, di Naypyidaw. Penandatanganan turut disaksikan oleh Faried Thalib (Presidium MER-C), Idrus M. Alatas Ketua Divisi Konstruksi MER-C serta Pelaksana Fungsi Sosial Budaya KBRI Yangon, Yasfitha Febriany Murthias. Menurut Ichsan Thalib, RS Indonesia akan berjenis station hospital sesuai standar nasional yang berlaku di Myanmar. Untuk itu, disain yang sudah dibuat oleh Divisi Konstruksi MER-C akan disesuaikan dengan jenis Rumah Sakit yang sudah disepakati. “Detail disain akan dinegosiasikan lagi besok” tambahnya. Lebih lanjut Ketua Tim Pembangunan RS Indonesia menyampaikan bahwa Pemerintah Myanmar sangat mengapresiasi bantuan rumah sakit dari rakyat Indonesia yang akan dibangun di wilayah Muslim dan Budha. RS Indonesia nantinya akan dioperasionalkan oleh pemerintah Myanmar. Tenaga kesehatan dari Indonesia bisa membantu sebagai relawan di rumah sakit ini. Mengenai teknis pembangunan, Ketua Divisi Konstruksi MER-C, Idrus M. Alatas menjelaskan bahwa sebagai wilayah dengan iklim monsoon, maka perlu dilakukan pengurugan lahan RS Indonesia. Pengurugan akan dibuat setinggi dua meter untuk mengantisipasi banjir. “Dalam kunjungan sepekan ini kita harapkan dapat deal untuk pengerjaan tahap infrastruktur, yaitu pagar dan pengurugan lahan rumah sakit.” Hari Rabu ini tim pembangunan RS Indonesia bersama KBRI dijadwalkan bertolak ke Sittwe, Ibukota Rakhine State untuk bertemu dan berkoordinasi dengan pemerintah dan kontraktor lokal.   Dukungan dan donasi untuk program Pembangunan RS Indonesia di Myanmar:   Bank Mandiri, 124.000.8111.982 BSM, 700.1306.833 BCA, 686.028.0009 Semua rekening a/n. Medical Emergency Rescue Committee   Info: www.mer-c.org 0811990176

Silahkan bertanya?