MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Diplomasi Kemanusiaan, MER-C berangkatkan Insinyur untuk Bangun RS Indonesia di Myanmar

Jakarta – Hari ini, Senin/15 Mei 2017, MER-C melepas keberangkatan tiga relawan teknis yang akan menindaklanjuti rencana pembangunan sarana kesehatan di wilayah konflik Rakhine State, Myanmar. Ketiga relawan teknis dari Divisi Konstruksi MER-C tersebut adalah Drs. Ichsan Thalib (Project Manager RS Indonesia di Myanmar), Dr. Ir. Idrus Muhamad Alatas, M.Sc (Ketua Divisi Konstruksi MER-C) dan Ir. Faried Thalib (Presidium MER-C yang memiliki pengalaman sebagai Ketua Tim Pembangunan RS Indonesia di Gaza, Palestina). Tim bertolak ke Myanmar untuk bertemu dan berkoordinasi dengan pemerintah dan pihak-pihak terkait di negara ini. Tim teknis MER-C dijadwalkan akan berada di Myanmar selama 6 hari hingga tanggal 21 Mei 2017. Sejumlah agenda untuk bisa segera merealisasikan program ini seperti pertemuan dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, konsultan dan kontraktor pembangunan telah diagendakan atas bantuan dan fasilitasi Kemenlu RI dan KBRI Yangon. Diharapkan dalam waktu satu minggu tim berada di Myanmar, seluruh agenda misi dapat terlaksana. MER-C tidak sendiri, lembaga PMI (Palang Merah Indonesia) telah berkomitmen bekerjasama mewujudkan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar. MER-C juga berharap dukungan dan partisipasi dari seluruh rakyat Indonesia untuk dapat merealisasikan RS Indonesia di wilayah ini seperti halnya yang telah kita lakukan di Gaza, Palestina. Pembangunan RS Indonesia di Myanmar diharapkan dapat menjadi salah satu diplomasi kemanusiaan rakyat Indonesia dalam bidang kesehatan, setelah Pemerintah Indonesia melakukan hal serupa di bidang pendidikan dengan membangun 4 sekolah di Rakhine State. Setelah pembangunan RS Indonesia di wilayah terblokade Jalur Gaza (Palestina), MER-C mulai berfokus pada wilayah konflik di belahan dunia lainnya. Rakhine State, Myanmar menjadi pilihan untuk program kemanusiaan jangka panjang MER-C selanjutnya. Berdasarkan hasil assessment tim medis pertama MER-C ke wilayah ini pada September 2012 lalu ke Rakhine State, MER-C memutuskan untuk melakukan pembangunan sarana kesehatan yang keberadaannya masih sangat dibutuhkan masyarakat setempat. Program ini pun mendapat apresiasi dan dukungan dari Pemerintah kedua negara.   Dukungan dan bantuan bagi program Pembangunan “RS INDONESIA” di Rakhine State, Myanmar dapat disalurkan melalui: Bank Mandiri, 124.000.8111.982 BSM, 700.1306.833 BCA, 686.028.0009 Semua rekening a/n. Medical Emergency Rescue Committee   Info : www.mer-c.org 0811990176

Menlu RI Dukung Rencana Pembangunan RS Indonesia di Myanmar

Jakarta – Sebagai tindaklanjut dari rencana program pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar, hari ini Selasa/14 Maret 2017, Menteri Luar Negeri RI menerima audiensi perwakilan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan PMI (Palang Merah Indonesia). Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 30 menit tersebut, Menteri Retno Marsudi, menyatakan dukungannya kepada rencana program pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar. Menteri Luar Negeri juga mengapresiasi dan bersyukur NGO-NGO di Indonesia sejalan dan bekerjasama dengan Pemerintah untuk melakukan pendekatan-pendekatan yang konstruktif khususnya dalam membantu menangani permasalahan konflik etnis di Myanmar.  Pada pertemuan ini, Tim MER-C yang dipimpin oleh dr. Sarbini Abdul Murad dan didampingi oleh Drs. Ichsan Thalib (Project Manager RS Indonesia di Myanmar), Ir. Luly Larissa Agiel (Ketua Divisi Penggalangan Dana MER-C) dan Rima Manzanaris (Manajer Operasional) menyampaikan rancangan gambar RS Indonesia di Rakhine State (Myanmar) yang sudah mengalami perbaikan dan pengembangan disain. Disain bangunan RS Indonesia dibuat netral karena diperuntukkan bagi 2 komunitas, baik Muslim maupun Budha yang ada di Myanmar.    Untuk dapat segera merealisasikan pembangunan, pada akhir Maret 2017 ini akan ada pengiriman Tim Gabungan ke Myanmar untuk menjajaki teknis pembangunan Rumah Sakit. Tim Gabungan akan membicarakan masalah-masalah detail terkait pembangunan RS kepada pihak-pihak terkait di Myanmar.    “Mudah-mudahan dalam waktu dekat kita bisa membangun RS Indonesia karena Wapres RI meminta dalam tahun ini RS Indonesia di Myanmar bisa selesai. Menlu juga telah menunjuk Staf Ahli Bidang Hubungan Kelembagaan/Duta Besar Kemenlu RI, Bapak Salman Alfarisi, sebagai Ketua Penghubung sehingga semua elemen NGO atau ormas Indonesia yang akan membantu Myanmar akan dikoordinir melalui satu pintu,” ujar dr. Sarbini Abdul Murad usai menghadiri pertemuan dengan Menlu RI.    “Kita mohon doa dan dukungan dari masyarakat Indonesia agar RS ini sebagai simbol perdamaian, simbol persatuan, simbol harmoni hubungan antar umat beragama di Indonesia bisa segera terwujud. Kita harapkan juga Myanmar bisa mengadopsi pesan-pesan ini,” tambahnya.   Dukungan dan bantuan untuk pembangunan RS Indonesia di Myanmar dapat disalurkan melalui :   Bank Syariah Mandiri (BSM), 700.130.6833 Bank Central Asia (BCA), 686.028.0009 Atas nama : Medical Emergency Rescue Committee  

Tindaklanjuti Rencana RS di Myanmar, Wapres Pertemukan MER-C & Walubi

Jakarta – Dukungan positif bagi rencana program pembangunan RS Indonesia di wilayah konflik di Rakhine State, Myanmar kembali ditunjukkan oleh Wakil Presiden RI, M. Jusuf Kalla. Berselang 2 hari dari pertemuan awal dengan Tim MER-C, Rabu/15 Juni 2016 Wapres JK langsung mempertemukan MER-C dan Walubi untuk membahas tindaklanjut atas usulan MER-C membangun sarana kesehatan di wilayah konflik etnis di Myanmar. Hadir pada pertemuan tersebut Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad dan Tim serta Ketua Umum Walubi Siti Hartati Murdaya yang didampingi suami Murdaya Widyawimarta Poo.   Wapres RI menyampaikan bahwa ide pembangunan RS di Myanmar sangat baik dan perlu didukung baik dari pihak Muslim maupun Budha di Indonesia untuk memberi contoh toleransi dan kerukunan beragama di Indonesia kepada pemerintah dan rakyat Myanmar. Lebih lanjut Wapres menyatakan bahwa program ini juga akan menjadi kerjasama PMI, MER-C, Walubi dan Pemerintah. Biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan sarana kesehatan yang akan diberi nama “Indonesia Health Center” diperkirakan mencapai 30 – 40 milyar rupiah. Sarana kesehatan ini akan berada di antara wilayah Muslim dan Budha, tepatnya di Mrauk U, Rakhine State. Saat ini Divisi Konstruksi sedang membuat rancangan Rumah Sakit di Myanmar dan akan diadakan pertemuan lanjutan dengan berbagai pihak terkait untuk membahas teknis pelaksanaan program.

Tindaklanjuti Rencana RS di Myanmar, Wapres RI Pertemukan MER-C & Walubi

Jakarta – Sebagai tindak lanjut dan bentuk dukungan bagi rencana program pembangunan sarana kesehatan di wilayah konflik etnis di Rakhine State, Myanmar, Wakil Presiden RI, M. Jusuf Kalla kembali menggelar pertemuan lanjutan dengan mengundang MER-C dan Walubi. Pertemuan yang diadakan pada hari Rabu/15 Juni 2016 di Kantor Wakil Presiden RI dihadiri oleh Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad dan Tim serta Ketua Umum Walubi, Siti Hartati Murdaya dan tokoh Walubi, Murdaya Widyawimarta Poo.   Pada pertemuan ini Wakil Presiden RI menyampaikan bahwa rencana pembangunan sarana kesehatan di Myanmar yang digagas oleh MER-C adalah hal yang baik dan perlu didukung baik dari pihak Muslim maupun Budha di Indonesia. Hal ini untuk memberi contoh toleransi dan kerukunan beragama yang ada di Indonesia kepada pemerintah dan rakyat Myanmar. Lebih lanjut Wapres menyatakan bahwa program ini juga akan menjadi program kerjasama antara PMI, MER-C, Walubi dan juga Pemerintah. Biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan sarana kesehatan di Myanmar diperkirakan sekitar 30 milyar rupiah. Lahan untuk rumah sakit sudah tersedia. Pada Agustus 2015, Tim MER-C telah berkunjung ke Myanmar dan melakukan pembebasan lahan untuk rumah sakit seluas 4.000 m2. Lahan rumah sakit berada di antara desa Muslim dan Budha, tepatnya di Mrauk U, Rakhine State. Bila sudah terbangun, rumah sakit ini diharapkan bisa menjadi sarana berbaur bagi masyarakat Muslim dan Budha di Myanmar serta dapat mendorong rekonsiliasi konflik di wilayah ini. Saat ini, Divisi Konstruksi MER-C tengah membuat rancangan bangunan Rumah Sakit di Myanmar yang diperkirakan akan selesai dalam waktu 2 minggu ke depan. Setelah itu, akan diadakan pertemuan lanjutan dengan berbagai pihak terkait untuk membahas teknis pelaksanaan program.

Wapres dukung pembangunan RS Indonesia di Myanmar

Jakarta (ANTARA Aceh) – Wakil Presiden Jusuf Kalla mendukung rencana pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Mrauk-U, Negara Bagian Rakhine, Myanmar, yang salah satunya bertujuan untuk mempromosikan kerukunan dan perdamaian antarumat beragama. “Beliau (Wapres) mendukung dan akan membantu. Tadi disampaiakn akan membantu alat kesehatan juga, PMI juga akan bantu,” kata Presidium Lembaga Kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MERC) dr Sarbini Abdul Murab seusai melakukan pertemuan dengan JK di Kantor Wapres, Jakarta, Senin.   MERC berencana menggandeng Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) dalam pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Rakhine untuk memberikan contoh bahwa di Indonesia umat Muslim dan Buddha serta agama-agama lainnya dapat hidup berdampingan dengan rukun dan damai. “Kita ingin memberikan kontribusi kepada masyarakat Myanmar, bahwa salah satu cara mendamaikan adalah dengan memberi contoh bahwa Indonesia besar dan semua agama bisa hidup dengan rukun, bahwa masalah agama, demokrasi, adalah masalah individu yang menjadi hak setiap orang,” kata Sarbini. Dukungan Wapres juga tampak dengan menghubungi tokoh Walubi Hartati Murdaya untuk memfasilitasi pertemuan dengan Walubi dalam satu-dua hari ke depan. Untuk persiapan pembangunan rumah sakit tersebut, MERC telah membeli sebidang tanah di Mrauk-U dan mengantongi dukungan pemerintah Rakhine, sementara itu dana konstruksi yang dibutuhkan sekitar Rp20 miliar hingga Rp30 miliar. Rumah sakit di Myanmar akan menjadi pembangunan fasilitas kesehatan kedua oleh MERC yang sebelumnya telah berhasil mendirikan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina, dan diresmikan oleh pemerintah Indonesia pada awal 2016. Negara Bagian Rakhine terletak di sebelah barat Ibu Kota Myanmar Nay Pyi Daw, di mana Muslim Rohingya menjadi penduduk minoritas di tengah-tengah umat Buddha yang merupakan mayoritas di wilayah itu. Konflik yang dipicu sentimen keagamaan masih sering terjadi, dan puncaknya pada Mei 2015, negara-negara ASEAN, yakni Indonesia, Malaysia dan Thailand kebanjiran ribuan pengungsi yang datang melalui Laut Bengal. Sebagian besar dari pengungsi itu adalah etnis Rohingya yang melarikan diri dari Myanmar untuk menghindari konflik yang berkecamuk, sementara sisanya adalah migran dengan motif ekonomi dari Bangladesh.   Editor: Salahuddin Wahid Sumber : http://aceh.antaranews.com/berita/30754/wapres-dukung-pembangunan-rs-indonesia-di-myanmar?utm_source=topnews&utm_medium=home&utm_campaign=news

MER-C TEGASKAN BANGUN RUMAH SAKIT DI RAKHINE MYANMAR

Jakarta, 28 Dzulhijjah 1436/12 Oktober 2015 (MINA) – Lembaga Kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menyambut baik kedatangan Menteri Sosial Rakhine State, Myanmar Aung Kyaw Min beserta rombongan di kantor pusat MER-C, Jakarta Pusat. Dalam kunjungannnya, Aung Kyaw Min membahas komitmen MER-C untuk membangun rumah sakit di wilayah tersebut.  Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murrad mengatakan, rumah sakit yang akan di bangun merupakan sumbangan dari seluruh rakyat Indonesia untuk rakyat Myanmar. ” Selama ini, hubungan antara pemerintah Indonesia-Myanmar sudah terjalin dengan baik. Kali ini masyarakatnya harus melakukan sesuatu yang lebih baik pula,” kata Sarbini. Sementara itu, Sekretaris daerah Rakhine State, U Tin Maung Swe yang turut serta dalam rombongan menyatakan, saat ini yang dibutuhkan warga Rakhine adalah pendidikan dan kesehatan. Dalam bidang kesehatan, MER-C siap membantu membangun rumah sakit dengan biaya dari seluruh masyarakat Indonesia. Rencananya, MER-C akan memulai pembangunan rumahsakit di mulai pada bulan Desember 2015 mendatang. Letak rumah sakit sangat strategis karena berada di tengah-tengah komunitas Muslim Rohingya dan Budha. Dalam kunjungannya, hadir para relawan yang telah beberapa kali memberikan bantuan medis ke Myanmar, diantaranya; Ichsan Thalib dan dr. Tonggo Meaty Fransisca. Dalam misi terakhir, Agustus 2015 lalu, MER-C menyumbang ambulance kepada warga Rakhine. MER-C  adalah organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan medis dan mempunyai sifat amanah, profesional, netral, mandiri, sukarela, dan mobilitas tinggi. MER-C bertujuan memberikan pelayanan medis untuk korban perang, kekerasan akibat konflik, kerusuhan, kejadian luar biasa, dan bencana alam di dalam maupun di luar negeri. Organisasi ini dibentuk pada Agustus 1999. (L/Wdo/R03) Sumber : http://mirajnews.com/id/internasional/asia/merc-terima-kunjungan-mensos-rakhine-state-myanmar/  

MER-C to open Indonesian health center in Myanmar

Jakarta (ANTARA News) – MER-C Indonesia has been helping with the construction of an Indonesian Health Center in the Rakhine state of Myanmar. “The Rakhine state government in Myanmar, has allocated a plot of land located in the Mrauk U region for a health center,” Dr. Joserizal Jurnalis, Chairman of the Team-3 of MER-C for Myanmar, said recently. The Myanmar government is also supporting the plan to set up a health center. The team left for Minbya through Sittwe, on August 28 with the assistance of the Indonesian embassy in Yangon. From Sittwe, they took a speedboat for a three-hour journey to Minbya. In Minbya, the team also visited two schools constructed by the Indonesian government. One school is for Buddhists and another for Muslims. The two-story schools are located at a distance of just 500 meters from each other. In February this year, MER-C Indonesia donated two power generators to support the schools activities. “Students in both the Buddhist and Muslim schools were very happy to meet the team,” Jurnalis said. From Minbya, the team was accompanied by an Indonesian embassy staff member and officers of the Rakhine state administration, who proceeded to Mrauk U in six cars.  When they arrived in Mrauk U, they could see that the area was still chaotic in the aftermath of flooding. The 4000 square meter site for an Indonesian Health Center is located between the Site village, which has a Muslim population of 650, and the Nanja village having 1,700 Buddhist inhabitants.  MER-C Indonesia has paid Rp17.6 million to the local farmers to compensate the state-owned land. The construction of the health center building is estimated to cost Rp3 billion.  For Indonesians interested in extending financial aid for the health centers construction, the Medical Emergency Rescue Committee has opened bank accounts in Bank Central Asia (BCA), with account number 686.028.0009 and in Bank Syariah Mandiri (BSM), with account number 700.1306.833.  Earlier, the team had gifted an ambulance to the residents of Rakhine in Sittwe, the states capital. MER-C Indonesia is currently also preparing to inaugurate an Indonesian Hospital in Gaza, Palestine.(*)   Source : http://www.antaranews.com/en/news/100318/mer-c-to-open-indonesian-health-center-in-myanmar  

MER-C akan Bangun “Indonesia Health Center” di Mrauk U, Myanmar

Usai melakukan serah terima bantuan ambulans untuk masyarakat Rakhine State, dari Sittwe (ibukota Rakhine State), Tim ke-3 MER-C untuk Myanmar atas fasilitasi dari KBRI Yangon bergerak ke Minbya, Jum’at (28/8). Kunjungan ini dilakukan untuk meninjau dan memastikan rencana lokasi pembangunan “Indonesia Health Center” yang telah mendapat respon positif dari pemerintah Myanmar. Bahkan pemerintah Rakhine State, Myanmar telah menyediakan sebidang lahan, tepatnya di wilayah Mrauk U untuk pembangunan sarana kesehatan ini.   Selain meninjau lahan untuk “Indonesia Health Center”, Tim MER-C didampingi oleh Staf KBRI Yangon dan Staf Pemerintah Rakhine State juga akan mengunjungi bantuan sekolah yang telah dibangun oleh pemerintah Indonesia di Minbya, dimana sebelumnya pada Februari 2015 dengan donasi dari rakyat Indonesia, MER-C telah menyumbangkan dua unit genset untuk membantu kegiatan belajar mengajar di sekolah ini.   Jum’at pagi (28/8), Tim menuju pelabuhan di Sittwe, karena perjalanan ke Minbya harus melalui sungai dan delta sungai menggunakan speedboat selama kurang lebih 3 jam. Tujuan pertama Tim adalah mengunjungi sekolah bantuan dari pemerintah Indonesia. Ada dua unit sekolah yang telah dibangun pemerintah Indonesia di wilayah Minbya. Satu sekolah khusus untuk Budha dan satu sekolah khusus untuk muslim dengan jarak keduanya sekitar 500 meter. Masing-masing bangunan sekolah terdiri dari 2 lantai. Suasana pasca banjir masih terlihat di sana-sini, bahkan sekitar satu minggu lalu bangunan sekolah ini sempat terendam hingga 1 meter akibat bencana banjir yang melanda Myanmar. Anak-anak, baik di sekolah Budha maupun Muslim nampak ceria menyambut kedatangan Tim.   Menuju Mrauk U   Dari Minbya, Tim bersama Staf KBRI Yangon dan Staf Pemerintahan Rakhine melanjutkan perjalanan menuju Mrauk U yang ditempuh dengan menggunakan enam kendaraan jeep. Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 1 jam, tim tiba di Mrauk U. Daerah ini pun masih terlihat porak poranda pasca terjangan bencana banjir.   Antara desa Muslim bernama Site berpenduduk sekitar 650 jiwa dan desa Budha bernama Nanja berpenduduk sekitar 1.700 jiwa, pemerintah Rakhine State telah menyiapkan sebidang lahan seluas 4.000 meter persegi untuk lokasi pembangunan “Indonesia Health Center”. Lokasi cukup strategis karena dapat diakses dengan dua sarana moda transportasi, yaitu dipinggir jalan raya Yangon – Sittwe dan di bagian belakangnya terdapat sungai besar yang berfungsi sebagai sungai transportasi.   Pembebasan Lahan untuk “Indonesia Health Center”   Di Rakhine State, seluruh tanahnya adalah milik negera. Untuk itu, setelah mempertimbangkan lokasi lahan yang cukup strategis dan wilayah ini pun adalah wilayah pasca bencana yang masih sangat membutuhkan adanya sarana kesehatan, maka Tim MER-C langsung melakukan proses pembebasan lahan dengan membayar ganti rugi kepada para petani penggarap. Saat itu juga, proses pembayaran kepada 3 orang petani penggarap lahan sebesar 1,6 juta kyat atau sebesar 17,6 juta rupiah langsung dilakukan di kantor Pemerintah Daerah setempat.   “Yang mengusulkan lokasi adalah pemerintah Rakhine State,” ujar dr. Joserizal Jurnalis, SpOT, Ketua Tim ke-3 MER-C untuk Myanmar. “Pertimbangannya adalah di Mrauk U ada komunitas Budha dan Muslim yang bisa hidup berdampingan, walaupun ada juga internal displacement,” tambahnya. Lebih lanjut Joserizal menyampaikan bahwa sekolah Indonesia di Minbya juga menjadi sarana berbaur masyarakat Budha dan Muslim. “Kita berharap Indonesia Health Center pun demikian dan akan menjadi bagian dari humanitarian politics MER-C berikutnya untuk masalah konflik di Myanmar,” imbuhnya.   Drs. Ichsan Thalib, anggota Tim dari Divisi Konstruksi MER-C memperkirakan dengan luas lahan 4.000 meter persegi, maka perkiraan biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan fisik “Indonesia Health Center” sekitar 3 Milyar rupiah, belum termasuk peralatan kesehatannya. “Biaya fix akan kami hitung kembali setelah tiba di Jakarta,” ujarnya.   Dukungan dan bantuan untuk pembangunan “Indonesia Health Center” dapat disalurkan melalui: Bank Central Asia (BCA), Rek. No. 686.028.0009  Bank Syariah Mandiri (BSM), Rek. No. 700.1306.833 Atas nama Medical Emergency Rescue Committee          

Misi Myanmar : MER-C Serahkan Bantuan Ambulans

Menunaikan amanah donasi dari rakyat Indonesia, Kamis (27/8), MER-C menyerahkan bantuan satu unit ambulans jenis Toyota Hiace Super Long Body kepada Chief Ministy of Health of Rakhine State. Serah terima dilakukan di kantor Chief Minister of Rakhine State yang turut dihadiri oleh Duta Besar RI untuk Myanmar DR. Ito Sumardi, dan sejumlah pejabat setempat diantaranya Chief Minister of Rakhine State, Ministry of Boarder Security, Ministry of Transportation, dan Ministry of Health. Bantuan ambulans dibeli oleh Tim MER-C pada bulan Februari 2015, ketika menunaikan misi ke-2 ke wilayah ini. Ambulans senilai 44.000 US dollar didatangkan langsung dari Thailand dan baru tiba di Sittwe, Rakhine State sekitar satu minggu yang lalu. Sementara itu, hari Jum’at ini (28/8), setelah mendapat respon positif dari Pemerintah Rakhine State, Tim MER-C didampingi oleh KBRI Yangon akan berangkat ke Minbya Township untuk meninjau rencana lokasi pembangunan “Indonesia Health Center” dan akan mengunjungi bantuan sekolah yang telah dibangun oleh Pemerintan Indonesia. Dukungan dan bantuan untuk pembangunan “Indonesia Health Center” dapat disalurkan melalui: Bank Central Asia (BCA), Rek. No. 686.028.0009  Bank Syariah Mandiri (BSM), Rek. No. 700.1306.833 Atas nama Medical Emergency Rescue Committee              

MER-C Kirim Tim ke-3 ke Myanmar

Jakarta – Sebagai bagian dari komitmen jangka panjangnya, Selasa (25/8), MER-C Indonesia kembali mengirimkan Tim Relawannya ke Rakhine State, Myanmar. Tim yang dikirimkan berjumlah tiga orang relawan, yaitu dr. Joserizal Jurnalis, SpOT selaku Ketua Tim, Drs. Ichsan Thalib dari Divisi Konstruksi MER-C dan dr. Tonggo Meaty Fransisca relawan yang telah mengikuti dua kali misi kemanusiaan ke wilayah ini. Keberangkatan tim ke-3 MER-C ke Rakhine State, Myanmar dimungkinkan setelah adanya izin dari MOFA (Ministry of Foreign Affairs) Myanmar yang pengurusannya difasilitasi oleh KBRI Yangon.   Tujuan keberangkatan tim kali ini adalah melakukan serah terima bantuan satu unit ambulans jenis Toyota Hiace Super Long Body donasi dari rakyat Indonesia. Selain itu, Tim juga akan melakukan peninjauan lahan di wilayah Minbya untuk rencana lokasi program pembangunan “Indonesia Health Center”.   Dukungan dan bantuan donasi untuk pembangunan “Indonesia Health Center” dapat disalurkan melalui :   Bank Central Asia (BCA), Rek. No. 686.028.0009 Bank Syariah Mandiri (BSM), Rek. No. 700.1306.833 Atas nama Medical Emergency Rescue Committee                  

Silahkan bertanya?