MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Klarifikasi MER-C untuk Kasus Rohingya dan Solusi MER-C untuk Warga Muslim Myanmar

Rabu/3 Juni 2015, MER-C Indonesia menggelar konferensi pers untuk memaparkan masalah konflik Myanmar berdasarkan pengalaman MER-C yang telah dua kali melakukan misi kemanusiaan ke lokasi konflik di Rakhine State, Myanmar. Bertempat di kantor pusat MER-C, konferensi pers disampaikan oleh dr. Joserizal Jurnalis, SpOT (Presidium MER-C), didampingi oleh dr. Meaty Fransisca, drs. Ichsan Thalib, dr. Hadiki Habib, SpPD, Ita Muswita dan dr. Citra Haflinda, yang merupakan tim relawan MER-C untuk Myanmar. Anggota Presidium MER-C, Joserizal Jurnalis menegaskan bahwa memang ada konflik, ada orang yang terbunuh, ada pembakaran, seperti yang terjadi Maluku dulu. Pengungsian juga terjadi dalam permasalahan Rohingya. Persoalan Rohingya menurutnya sudah ada sejak lama sebelum tahun 2012 dan ada usaha-usaha untuk membuat mereka stateless. Namun, provokasi menjadi dahsyat dengan adanya peristiwa terbunuhnya seorang wanita Budha pada 28 Mei 2012  kemudia  menjadi konflik yang dimulai pada tanggal 3 Juni 2012. Sehingga, untuk melihat kasus Rohingya, setidaknya ada 3 persoalan utama dari etnis ini. Pertama, ada konflik yang terjadi pada 2012. Kedua, ada usaha stateless dari pemerintah Myanmar. Ketiga, ada orang-orang yang keluar dari Rohingya dengan berlayar untuk mencari kehidupan yang lebih baik di negara lain karena mereka tidak nyaman dengan masalah stateless ini dan masalah lainnya yang perlu dicari tahu bersama.   Konflik yang mencuat pada tahun 2012 inilah yang mendorong MER-C mengirimkan Tim pertamanya ke Rakhine State Myanmar untuk memberikan pertolongan medis, tepatnya pada tanggal 12 -19 September 2012. Dengan proses perizinan dan negosiasi yang cukup sulit, akhirnya Tim bisa melakukan pengobatan di kedua kamp baik kamp Muslim maupun kamp Budha.   Dr. Meaty, relawan MER-C untuk Myanmar memaparkan bahwa pada kunjungannya yang pertama pada September 2012 ke Sittwe Rakhine State, Tim tidak melihat  konflik masih terjadi ataupun korban-korban pembantaian. “Namun saat itu kami saksikan ada sisa-sisa konflik seperti masjid, kuil, dan rumah-rumah penduduk yang hangus terbakar. Kamp yang terpisah antara kamp Muslim dan kamp Budha juga menunjukkan ada histori konflik antara keduanya. Selama di Rakhine State, Tim MER-C juga selalu dikawal oleh Militer Myanmar bersenjata yang dengan sangat ketat mengawasi segala tindakan tim.   Yang menjadi fokus perhatian tim MER-C pada saat kunjungan misi pertama ini adalah kondisi kamp muslim yang sangat memprihatinkan kala itu. Meskipun area kamp cukup luas, namun sangat ramai dan padat serta dengan sarana yang sangat terbatas. Bahkan pos kesehatan hanya terbuat dari tenda  tanpa ada peralatan medis di sana. Kami melihat pasien tergolek lemah tidak berdaya tanpa tindakan medis. Warga kamp muslim juga tidak bisa keluar dengan bebas dari kamp.   Hal berbeda ditemukan oleh Tim di kamp Budha yang kondisinya lebih tertata, lebih bersih, tidak terlalu padat dan warganya bisa keluar masuk dengan mudah.   Dr. Meaty yang kembali mendapat kesempatan untuk berkunjung ke Rakhine State Myanmar pada Februari 2015 dan ditunjuk sebagai ketua tim ke-2 MER-C menyatakan bahwa pada 2015 tim juga sudah tidak melihat konflik terjadi saat itu. Yang ada, tim sangat kaget dengan perubahan luar biasa yang telah terjadi dalam kamp, khususnya kamp Muslim.   “Sistem pendidikan sudah berjalan walaupun masih sederhana. Sistem pelayanan kesehatan yang sudah berjalan, sudah ada bangunan permanen dan semi permanen pos-pos kesehatan dengan peralatan medis yang cukup lengkap dan tenaga medis yang terjadwal.”   Drs. Ichsan Thalib juga menambahkan bahwa aktifitas di dalam kamp khususnya Muslim juga dinamis. Kamp berukuran besar dan berisi ribuan orang. Kamp tampak sudah tertata oleh lembaga-lembaga UNHCR dibantu oleh berbagai negara. Kehidupan berjalan, pendidikan sudah berjalan walaupun baru sampai tingkat SD. Pasar dalam kamp hidup yang menjual berbagai kebutuhan, mulai dari bahan makanan, emas, bahkan motor ada, dan lainnya.   Ichsan Thalib juga memaparkan kondisi Yangon yang disaksikan pada 2015 lalu sudah berkembang seperti bandara yang indah, jalanan macet seperti di Jakarta meskipun tidak seramai Jakarta, ada masjid dan suara adzan terdengar, pasar yang ramai yang berisi pedagang muslim dan Budha.   Namun yang tetap menjadi permasalahan utama adalah:   1. Warga kamp muslim khususnya di Sittwe tidak bisa keluar masuk kamp dengan mudah serta tidak ada akses pekerjaan. Ada aturan dan proses izin yang sulit untuk bisa keluar dari kamp.   2. Masalah STATELESS dan PEMISAHAN status kewarganegaraan. Hal ini dialami tidak hanya oleh etnis Rohingya yang berjumlah sekitar 1,1jt orang, tapi juga oleh semua warga Muslim Myanmar yang berjumlah 10% dari jumlah penduduk Myanmar atau sekitar 5 juta orang. Warga muslim Myanmar memiliki Kartu Penduduk berwarna putih dan berwarna merah. KTP PUTIH artinya mereka bisa hidup, bisa sekolah namun tidak bisa mendapatkan ijazah. KTP MERAH hanya dimiliki oleh warga muslim yang sudah mapan. ——————————— Melihat permasalahan yang ada baik dari penilaian langsung tim MER-C ke Rakhine State Myanmar maupun penilaian terhadap pengungsi Rohingya yang saat ini berada di Aceh dimana MER-C melalui cabangnya di Medan telah mengirimkan 3 gelombang tim medis ke Aceh, menawarkan tiga solusi bagi permasalahan Rohingya, yaitu:   1. Pemerintah RI agar melakukan langkah-langkah diplomatik kepada Pemerintah Myanmar untuk menghapuskan masalah STATELESS warga Muslim Myanmar, agar warga muslim Myanmar, tidak hanya Rohingya bisa menjadi warga negara Myanmar sebagaimana orang Budha menjadi warga negara RI. Sehingga warga Muslim Myanmar bisa hidup berdampingan dengan Budha di Myanmar, sebagaimana orang Budha di Indonesia juga bisa hidup berdampingan dengan mayoritas muslim di negara ini.   2. Kami meminta kepada Pemerintah RI untuk menampung pengungsi Rohingya di Aceh dan kemudian mengusahakan mereka untuk dikembalikan ke Rohingya atau Myanmar. Jangan keluar dari Rohingya atau Myanmar karena kalau mereka keluar, itulah yang yang diinginkan pemerintahan rezim, seperti halnya pemerintah Israel menginginkan orang Palestina keluar dari Palestina.   3. Sebelum kedua hal di atas tercapai, pemerintah Myanmar juga harus membuka akses dan memudahkan semua usaha serta langkah-langkah kemanusiaan untuk membantu masyarakat Rakhine State.   Tautan terkait : – Misi Konflik Myanmar, 2012:   https://mer-c.org/index.php/id/component/content/article?id=216:misi-konflik-myanmar-2012 – Misi Konflik Myanmar, September 2012: – Myanmar dulu dan Kini Serta Peran Penting Indonesia:   https://mer-c.org/index.php/id/berita2?id=665:myanmar-dulu-dan-kini-serta-peran-penting-indonesia            

MER-C Cabang Medan Kirim Tim Medis dan Bantuan ke 3 Titik Pengungsian Rohingya

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) melalui perwakilan cabangnya di Medan akan mengirimkan tim medis dan bantuan kemanusiaan ke tiga titik pengungsian Rohingya yakni di Pangkalan Susu (Langkat), Langsa (Aceh Timur), dan Lhoksukon (Aceh Utara).  Tim yang dikirim ini berjumlah 5 orang yang terdiri dari 2 orang dokter dan 1 orang perawat relawan MER-C, serta 2 orang dari perwakilan ormas Islam Liga Muslim Indonesia (LMI) Sumut dan Forum Umat Islam (FUI) Sumut. Tim akan dipimpin oleh dr. Rahmad Gunawan. Pengiriman Tim bersama ini merupakan langkah sinergis untuk melaksanakan Misi Kemanusiaan yang bukan hanya bertujuan memberikan bantuan namun juga melakukan perjuangan advokasi tentang problematika Rohingya. MER-C menilai bantuan kemanusiaan saat ini belum bisa menyelesaikan masalah substansi dari kebutuhan etnis Rohingya itu sendiri. Masalah ini hanya bisa diselesaikan bila etnis Rohingya dan etnis muslim lainnya di Myanmar mendapat pengakuan kewarganegaraan (di Myanmar). Oleh karena itu, MER-C Medan bersama Ormas Islam akan melaksanakan misi bantuan dan advokasi kemanusiaan dengan tujuan utama: “Memperjuangkan Pengakuan Kewarganegaraan Etnis Rohingya dan Etnis Muslim Lainnya di Myanmar”. Untuk mencapai tujuan utama tersebut tim ini akan melakukan berbagai kegiatan di kamp pengungsian yakni : 1. Melakukan assessment kondisi kesehatan dan sosial pengungsi, asal pengungsi, perkembangan terbaru situasi Rohingya dari para pengungsi, dan hal lain seputar konflik kemanusiaan yang diderita pengungsi; 2. Memberikan bantuan pelayanan kesehatan di pengungsian yang berfokus kepada pelayanan kelompok rentan (balita, anak, ibu hamil dan menyusui, serta lansia) dan bantuan logistik jangka pendek dan perencanaan bantuan logistik jangka panjang; 3. Berkoordinasi dan berdiskusi dengan Pemda Aceh dan Pemkab Aceh Utara seputar rencana pengelolaan pengungsi; 4. Memaparkan hasil kunjungan Tim MER-C ke Myanmar 2015 kepada pihak terkait. Bagi Bapak/Ibu/Sahabat yang ingin mendukung program ini dapat menyalurkan bantuan berupa : 1. Pakaian layak pakai; 2. Kebutuhan logistik non makanan yakni : popok untuk anak-anak, popok lansia, alas tidur, selimut, sarung, handuk, kebutuhan higienitas pribadi, dan permainan anak-anak; 3. Kebutuhan logistik makanan berupa makanan instan; 4. Uang tunai atau transfer melalui Rek. Donasi amanah Kemanusiaan :  Bank Syariah Mandiri, Rek.7074585099, Atas nama MER-C Cab. Medan Bantuan dapat diantarkan langsung ke kantor MER-C Cabang Medan di Jalan Setiabudi, Kompleks Ruko Milala Mas Blok B 22. Contact Person MER-C Cabang Medan : Wirsal Adiansyah Harahap (081268864753)

MER-C akan Bangun Klinik Kesehatan untuk Pengungsi di Myanmar

Dubes Indonesia untuk Myanmar, Dr Ito Sumardi memberi sambutan saat menerima bantuan dari MER-C untuk pengungsi di Myanmar REPUBLIKA.CO.ID, YANGON, MYANMAR — Tim Medical Emergency Recue Committee (MER-C) telah menuntaskan misi kemanusiaan kedua mereka di Myanmar, tepatnya di Sittwe, Rakhine State, tempat konflik komunal antara Muslim Rohingya dan Buddha Rakhine pecah pada 2012 silam. Misi berlangsung selama 11 hari bulan Februari lalu. Dengan nota diplomatik dan fasilitasi penuh dari KBRI Yangon, tim berhasil masuk ke tujuh kamp Muslim dan Budha dari sekitar 15 kamp yang ada di Sittwe. Di sana tim melakukan berbagai misi kemanusiaan, diantaranya menyalurkan bantuan obat-obatan dan paket alat kesehatan yang diterima langsung Dinas Kesehatan Sittwe serta makanan bagi para pengungsi di dalam kamp. Setelah tim kembali ke Yangon, MER-C menyerahkan bantuan tambahan berupa satu unit ambulans, seprei dan selimut sebanyak 200 paket.  Bantuan itu diserahkan dan diterima langsung oleh Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, Ito Sumardi untuk nantinya didistribusi oleh KBRI ke klinik dan rumah sakit. Tidak hanya bantuan tersebut, Mer-C juga memiliki program jangka panjang. Yakni mendirikan klinik kesehatan. Dengan bantuan dan fasilitasi penuh dari pihak KBRI Yangon, klinik kesehatan itu rencananya akan dibangun di Desa Thaykan, Minbya Township, Rakhine State, berdampingan dengan dua dari empat sekolah Indonesia di sana. Dua klinik itu akan berfungsi memberi pelayanan kesehatan bagi para pengungsi Muslim Rohingya dan Budha Rakhine pada khususnya dan masyarakat sekitar pada umumnya. “Dan MER-C juga akan mengirim dokter secara berkala ke sana,” ujar Tonggo Meaty Fransisca selaku ketua tim kemanusiaan MER-C 2 untuk Myanmar. Menanggapi hal ini, Ito Sumardi menyatakan, rencana pembangunan klinik berdampingan dengan sekolah Indonesia di sana merupakan hal yang sangat baik. Selain dapat membantu akses pendidikan dan kesehatan bagi pengungsi dan masyarakat Myanmar pada umumnya, keberadaan klinik MER-C juga akan mempererat hubungan antara Indonesia dan Myanmar. “Ini adalah ide yang brilian. Dan saya akan segera buat konsep klinik untuk sebagai pelengkap sekolah kita,” kata Ito. Pemerintah dalam hal ini KBRI di Myanmar, kata Ito, siap mendukung penuh program tersebut. “Saya siap dukung 1.000 persen. Dan nanti saya sendiri yang akan datang langsung dalam peresmian atau peletakan batu pertama,” kata dia. Sumber : http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/03/16/nlax57-merc-akan-bangun-klinik-kesehatan-untuk-pengungsi-di-myanmar                

Pemerintah Apresiasi Kepedulian MER-C untuk Pengungsi di Myanmar

Dubes Indonesia untuk Myanmar, Dr Ito Sumardi memberi sambutan saat menerima bantuan dari MER-C untuk pengungsi di Myanmar REPUBLIKA.CO.ID, YANGON, MYANMAR — Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, Ito Sumardi mengapresiasi berbagai kegiatan yang dilakukan relawan Medical Emergency Rescue and Committee (MER-C) di Myanmar, khususnya bagi para pengungsi di Sittwe, Rakhine. Menurutnya apa yang dilakukan MER-C membantu mempercepat proses rekonsilisasi antara dua kelompok. “Saya melihat betul MER-C adalah organisasi yang berlandaskan kemanusiaan,” ujar Ito Sumardi saat menerima bantuan tambahan dari MER-C, di KBRI Yangon, Myanmar. Pada bulan Februari lalu Mer-C kembali mengirim tim kemanusiaan ke sittwe, Rakhine, Myanmar.  Selama 11 hari relawan MER-C melakukan sejumlah kegiatan sosial, dimana tiga hari diantaranya tim masuk ke dalam lokasi kamp pengungsian. Total ada tujuh kamp pengungsian Muslim dan Budha yang didatangi MER-C. Selama disana, tim MER-C menyalurkan bantuan berupa obat-obatan dan makanan. Serta bantuan tambahan berupa sprei dan selimut yang penyalurannya diserahkan melalui KBRI di Yangon, Myanmar. Lebih lanjut Ito mengatakan, pihaknya siap membantu dan memfasilitasi berbagai program yang akan dilakukan masyarakat Indonesia melalui MER-C untuk pengungsi di Myanmar. “Saya sampaikan bahwa KBRI siap mendukung 1000 persen untuk merealisasikan program-program MER-C,” kata dia. “Silahkan sampaikan ke kami apa saja program-program dari MER-C pasti akan saya dukung, yang penting membawa semangat kemanusiaan,” kata dia lagi. Sumber : http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/03/16/nlawvx-pemerintah-apresiasi-kepedulian-merc-untuk-pengungsi-di-myanmar              

MER-C Juga Sumbang Ambulans untuk Pengungsi di Myanmar

dr Tonggo Meaty Fransisca (dua dari kanan) menyerahkan secara simbolis bantuan berupa seprai, satung bantal, selimut dan juga satu unit ambulans yang diterima langsung oleh Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, Dr Ito Sumardi. Bantuan nantinya akan didistrib REPUBLIKA.CO.ID, YANGON, MYANMAR —  Meski mendadak tidak mendapat izin melakukan pelayanan medis secara langsung, relawan Mer-C Indonesia yang menjalankan misi kemanusiaan di provinsi Rakhine, Myanmar bulan Februari lalu berhasil masuk ke lebih dari tiga kamp. Dengan kesempatan itu Mer-C bisa melakukan pengamatan lebih detail terkait kondisi yang ada di lapangan, khususnya untuk fasilitas kesehatan. Tonggo Meaty Fransisca selaku ketua tim mengatakan, dari hasil pengamatan di lapangan, pihaknya menyimpulkan bahwa sejak tahun 2012, ketika Mer-C memberangkatkan tim untuk melakukan assesment dan penyaluran bantuan medis tahap awal, telah terjadi banyak perubahan. Sistem pelayanan kesehatan, khususnya di dalam kamp saat ini telah berjalan baik. Namun prasarana penunjang kesehatan di sana masih kurang. Berdasarkan hal tersebut, wanita yang akrab disapa Mea ini menyatakan, pihaknya saat itu juga langsung memutuskan untuk memberi bantuan tambahan berupa seprai, sarung bantal, selimut selain obat-obatan dan paket alat kesehatan. Tidak hanya itu, Mer-C juga memberikan satu unit ambulans “Awalnya kita tidak tahu, tapi ternyata mereka lebih butuh itu,” kata Mea. Dengan fasilitasi dari pihak KBRI di Myanmar, Mer-C berhasil merampungkan bantuan tersebut hanya dalam waktu empat hari untuk kemudian disalurkan melalui pihak KBRI di Yangon, Myanmar. “Kita melihat apa prasarana yang kurang di sana. Dan yang paling terpenting adalah ambulans,” kata Mea. Bantuan tersebut kemudian secara resmi diserahkan dan diterima langsung kepada Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, Ito Sumardi pada 25 Februari 2015. Sumber : http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/03/16/nlawac-merc-juga-sumbang-ambulans-untuk-pengungsi-di-myanmar                

Mer-C Indonesia Salurkan Obat-obatan ke Pengungsi di Myanmar

Penyerahan simbolis bantuan obat-obatan dari tim kemanusiaan MER-C Indonesia untuk pengungsi di Rakhine, Myanmar, yang diterima oleh Dr. Aung Thurein selaku Deputy State Health Director of Sittwe REPUBLIKA.CO.ID, RAKHINE, MYANMAR — Organisasi kemasyarakatan sosial Medical Emergency Committee (MER-C) Indonesia kembali mengirim relawan ke provinsi Rakhine, Myanmar. Dalam misi yang berlangsung selama 11 hari pada bulan Februari kemarin, tim Mer-C melakukan sejumlah kegiatan. Mulai dari pemberian obat-obatan serta paket alat kesehatan. Tonggo Meaty Fransisca selaku ketua tim mengatakan, sedianya MER-C akan melakukan pengobatan medis secara langsung di dalam kamp. Namun karena izin ketat yang diterapkan pemerintah Myanmar, tim tidak dapat melakukan kegiatan tersebut. Padahal sebelumnya tim telah mengurus segala perizinan yang dibutuhkan. “Kita memang sudah persiapkan diri dari Jakarta bahwa berdasarkan pengalaman, misi di Myanmar tidak pernah berjalan mulus, pasti ada yang berubah,” kata Fransesca. Kendati demikian, lanjut wanita yang akrab disapa Mea ini, berkat lobi yang cukup alot dengan pemerintah Myanmar, khususnya dengan negara bagian Rakhine, pihaknya diizinkan masuk ke lebih dari satu kamp. Padahal berdasarkan izin yang didapat sebelumnya, Mer-C hanya mendapat izin masuk ke satu kamp. “Setidaknya kita bisa masuk ke empat kamp muslim dan tiga kamp Rakhine. Dari situ kita bisa lihat langsung bagaimana keadaanya, khususnya fasilitas kesehatan,” kata dia. Dr. Aung Thurein selaku Deputy State Health Director of Sittwe mengucapkan terima kasih atas perhatian dan bantuan yang diberikan masyarakat Indonesia melalui MER-C. Ia berjanji akan menyalurkan bantuan obat-obatan dengan baik. “Terima kasih yang besar atas hal ini, saya akan pastikan obat-obatan dan paket alat kesehatan diberikan secara baik dan kepada orang-orang yang tepat,” kata dia. Thurein menjelaskan, sistem pelayanan kesehatan di Sittwe termasuk di dalam kamp telah berjalan baik. Di setiap kamp terdapat pusat kesehatan yang disebut sebagai Self Centre. Di jenjang ini self centre melakukan pemeriksaan dan pengobatan untuk penyakit-penyakit yang tergolong ringan. Namun jika pasien diputuskan untuk mendapat pemeriksaan lebih lanjut, pasien akan dirujuk ke Health Centre yang letaknya berada di tingkat semacam kecamatan. Setiap kecamatan setidaknya memiliki lima hingga 10 Health Centre. “Tentunya tergantung juga pada luasnya area dan besaran populasi,” kata dia. Setelah itu, di tingkat paling atas adalah fasilitas di setingkat Kabupaten/Kota. Di tingkat ini  terdapat Station Hospital yang dapat memberikan perawatan lebih mendalam. “Sarana dan prasarana di fasilitas ini sudah mencukupi, bisa untuk city scan juga tindakan operasi,” kata dia. Dalam menjalankan sistemnya itu, Thurein menjelaskan pihaknya memiliki 224 orang tenaga medis yang terdiri dari 43 dokter dan 95 perawat serta tenaga medis lainnya. Sumber : http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/03/16/nlam7r-merc-indonesia-salurkan-obatobatan-ke-pengungsi-di-myanmar                

MER-C Berikan Bantuan untuk 55 Nelayan Indonesia yang Ditahan di Myanmar

Selain menyalurkan bantuan kepada korban konflik dan pengungsi di Rakhine State, Tim ke-2 MER-C untuk Myanmar juga mengunjungi nelayan Indonesia yang saat ini ditahan di Yangon. Nelayan Indonesia yang berjumlah 55 orang ditahan otoritas Myanmar karena melanggar batas wilayah perairan Myanmar. Sudah satu tahun lebih para nelayan ini ditahan dan KBRI di Yangon tengah mengupayakan pembebasan mereka.  Kunjungan ini dimungkinkan setelah Kedutaan Besar RI di Yangon memfasilitasi izin bagi Tim MER-C. Awalnya Tim MER-C berharap dapat melakukan juga pemeriksaan kesehatan kepada para nelayan asal Indonesia tersebut. Namun ternyata hal ini belum memungkinkan karena diperlukan waktu lebih lama untuk pengurusan izin untuk pemeriksaan kesehatan. Rabu (25 Februari 2015), sekitar pukul 2 siang, didampingi staf KBRI Yangon, Tim MER-C menuju lokasi penahanan 55 nelayan Indonesia. Pada kesempatan tersebut, Tim MER-C juga membawa bantuan berupa 70 paket tikar dan kaos kaki yang akan dibagikan kepada para nelayan. Bantuan ini diharapkan dapat sedikit membantu para nelayan Indonesia ini melawan dinginnya ruang tahanan. Sekitar satu jam, Tim MER-C yang diketuai dr. Meaty Fransisca bertemu dan berbincang dengan para nelayan asal Indonesia. “Sebenarnya para nelayan tersebut tidak mengetahui kalau mereka telah melanggar batas perairan,” ujar dr. Meaty yang telah dua kali mengikuti Misi Kemanusiaan MER-C ke Myanmar. “Kami turut prihatin dan berharap Pemerintah Indonesia melalui KBRI Yangon dapat segera membantu proses pembebasan para nelayan ini,” lanjut dr. Meaty. Dr. Meaty juga menambahkan bahwa pada pertemuan tersebut para nelayan meminta bantuan buku-buku bacaan berbahasa Indonesia, khususnya buku-buku yang dapat meningkatkan keimanan mereka.  “Bahan bacaan sangat diperlukan untuk mengisi waktu selama dalam tahanan. Sudah setahun lebih ini mereka tidak menemukan bahan bacaan berbahasa Indonesia. Selama dalam tahanan juga nyaris tidak ada yang bisa dikerjakan. Apabila hal ini terus berlanjut mereka khawatir bisa menjadi stress,” ungkap dr. Mea, sapaan akrab dr. Meaty. Untuk itu, usai kepulangan Tim dari Myanmar, MER-C langsung mengirimkan satu paket buku-buku melalui staf Kemenlu RI yang akan berangkat ke Myanmar. Menurut info dari KBRI Yangon, paket buku-buku tersebut sudah diterima oleh para nelayan Indonesia di Yangon.                

Myanmar Dulu dan Kini serta Peran Penting Indonesia

Setelah menunggu proses pengurusan ijin di pihak-pihak terkait selama + 3 bulan, akhirnya pada tanggal 16 Februari 2015 MER-C dapat mengirimkan Misi Kemanusiaan ke-2 ke Myanmar. Misi kemanusiaan ke-2 ini berselang lebih dari 2 tahun dari misi pertama sebelumnya pada September 2012. Tujuan dari Tim ini adalah melaksanakan penilaian ulang kondisi terkini pasca konflik di Rakhine State dan menindaklanjuti rencana pembangunan “Indonesia Health Center”. (Laporan Misi Kemanusiaan ke-2 MER-C ke Myanmar) Berbekal Nota Diplomatik dari Kemenlu RI dan bantuan dari KBRI Yangon, akhirnya Tim MER-C mendapat izin untuk bisa masuk sampai ke Sittwe, Rakhine State, dimana konflik komunal antara Muslim Rohingya dan Budha Rakhine terjadi. Tim yang dikirimkan sebanyak 7 orang relawan dengan berbagai keahlian baik medis maupun non medis. Misi berlangsung selama 10 hari mulai tanggal 16–26 Februari 2015. Karena proses perizinan yang sangat ketat bahkan harus mendapat persetujuan hingga ke Kantor Kepresidenan Myanmar, maka dari 10 hari masa tugas, Tim MER-C mendapat izin tinggal selama 3 hari untuk mengunjungi lokasi kamp-kamp pengungsian di Rakhine State. Dengan pengawalan ketat sepanjang perjalanan oleh tentara Myanmar, Tim MER-C berkesempatan mengunjungi 7 kamp pengungsian dari sekitar 15 kamp yang ada di Sittwe saja, Ibukota Rakhine State. Ketujuh kamp yang dikunjungi Tim MER-C terdiri dari 4 kamp Muslim dan 3 kamp Budha/Rakhine, sbb: Pertama, Kamp That Kay Pin (Kamp Muslim) Kedua, Kamp Kaung Doke Khar (Kamp Muslim) Ketiga, Kamp West San Pya (Kamp Muslim) Keempat, Kamp Say Tha Mar Gyi (Kamp Muslim) Kelima, Kamp Say Young Su (Kamp Rakhine/Budha) Keenam, Kamp Sad Yo Kya 1 (Kamp Rakhine/Budha) Ketujuh, Kamp Sad Yo Kya 2 (Kamp Rakhine/Budha) Tim MER-C cukup terkejut melihat sudah banyak perubahan yang terjadi di kamp-kamp pengungsian di Sittwe ini, dibandingkan saat Tim MER-C berkunjung pada September 2012 lalu. Kegiatan belajar mengajar di kamp-kamp di Sittwe sudah mulai berjalan meskipun dengan bangunan sekolah yang masih sangat sederhana (semi permanen). Sarana dan kegiatan pelayanan kesehatan juga sudah mulai berjalan. Layanan kesehatan berlangsung di klinik-klinik dalam kamp dan di Rumah Sakit emergensi dalam kamp. Pelayanan berlangsung rutin setiap Senin-Jumat mulai pukul 08.00-14.00. Diluar jam tersebut ada bidan dan perawat yang bertugas, bila terjadi kasus gawat darurat, ambulans bisa dipanggil dan pasien dapat dirujuk ke rumah sakit di pusat kota Sittwe. Selain program pelayanan kesehatan di Klinik atau RS, terdapat juga program mobile clinic rutin setiap hari, program vaksinasi di tiap-tiap klinik, layanan antenatal care oleh bidan dan pelatihan persalinan untuk tenaga kesehatan tradisional. Berdasarkan informasi dari Dinas Kesehatan setempat, terdapat juga program penyuluhan kebersihan dan program penyuluhan TB paru. Telah tampak juga toilet dan sumber air bersih di tiap-tiap kamp. Sebagian besar bantuan diberikan secara otonom dari lembaga donor internasional dengan koordinasi langsung dengan pemerintah setempat.   Bantuan Indonesia dan Rencana Pembangunan “Indonesia Health Center”   Tim MER-C pada misi kemanusiaan ke-2 ini menyalurkan bantuan berupa 1 unit ambulans, bantuan obat-obatan yang diterima oleh Dinas Kesehatan Rakhine State, bantuan makanan ke masing-masing kamp, bantuan sprei dan selimut sebanyak 200 paket untuk disebar ke klinik-klinik dan Rumah Sakit, serta dua unit genset. Indonesia sendiri melalui Pemerintah RI memberikan bantuan untuk pembangunan 4 unit sekolah. Lokasi pembangunan sekolah diantaranya di wilayah Minbya, masih dalam provinsi Rakhine State. Namun, karena izin kunjungan Tim yang singkat dan diperlukan izin lenih lanjut untuk mengunjungi Minbya, Tim MER-C tidak berkesempatan mengunjungi wilayah ini. Menurut informasi, wilayah pengungsian di Minbya, kondisinya belum sebaik kamp pengungsian di Sittwe. Dua unit genset bantuan dari rakyat Indonesia melalui MER-C, rencananya akan ditempatkan di sekolah Indonesia di Minbya. Untuk memberikan manfaat jangka panjang bagi korban konflik komunal di Rakhine State, atas nama dan donasi dari rakyat Indonesia, MER-C mencanangkan program jangka panjang berupa pembangunan “Indonesia Health Center”. Melihat langsung kondisi kamp pengungsian di Sittwe, Rakhine State yang sudah berkembang cukup baik, maka  MER-C berencana untuk menjalankan program pembangunan “Indonesia Health Center” ke wilayah pengungsian lain yang masih minim sarana kesehatan, seperti di Minbya, dimana sekolah Indonesia berada.   Perlakuan Diskriminatif Meskipun sudah banyak perubahan yang terjadi, namun berdasarkan pengamatan Tim MER-C masih berlangsung permasalahan krusial, yaitu perlakukan diskriminatif yang  akan menjadi masalah utama ke depan, khususnya  bagi sebagian besar warga muslim di Myanmar, tidak hanya warga muslim dari etnis Rohingya. Pertama, Stateless. Stateless adalah masalah yang dihadapi sebagian besar warga muslim di Myanmar. Sampai dengan saat ini mereka belum diakui sebagai warga negara Myanmar. Mereka tidak mempunyai kartu identitas penduduk tetap yang menjadi hak setiap warga negara. Hal ini menyebabkan warga muslim misalnya tidak dapat membuat paspor, anak-anak yang lulus sekolah tidak bisa mendapat ijazah sehingga mereka tidak dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, dsb. Kedua, Warga kamp muslim di Rakhine State tidak dapat keluar masuk Kamp dengan bebas, harus ada alasan yang sangat penting untuk bisa mendapat izin keluar dari kamp. Suasana berbeda kami temui saat mengunjungi kamp Budha. Warga kamp Budha dapat keluar masuk kamp dengan bebas dan mudah untuk bekerja, bersekolah, dsb.     Peran Penting Indonesia Permasalahan stateless atau tidak diakuinya sebagian besar warga Muslim di Myanmar sebagai warga negara oleh Pemerintah setempat ditambah tidak bisanya warga muslim dalam penampungan di Rakhine State keluar masuk kamp dengan bebas adalah perlakuan yang sangat diskriminatif. Hal ini tentu sangat disayangkan di kala perubahan-perubahan terjadi lebih baik di kamp-kamp yang ada. Terlebih lagi warga muslim Myanmar sudah turun temurun tinggal di negara ini dan berjuang bersama hingga tercapai kemerdekaan Myanmar. Indonesia sebagai bangsa yang besar di Asia Tenggara kami harapkan dapat mengambil peran yang lebih besar dalam membantu menyelesaikan permasalahan ini. Rekomendasi MER-C kepada Pemerintah RI dalam membantu penyelesaian permasalahan di Myanmar sbb: Pertama, Mendorong Pemerintah Indonesia aktif melakukan pendekatan-pendekatan kepada Pemerintah Myanmar mengenai masalah kewarganegaraan bagi minoritas muslim Myanmar; Kedua, Bersama Pemerintah RI dan pihak terkait lainnya untuk mengadakan pertemuan-pertemuan/perundingan-perundingan regional dan internasional untuk mengangkat isu kewarganegaraan minoritas muslim di Myanmar disamping isu kemanusiaan yang berkembang; Ketiga, Pemerintah RI memfasilitasi program-program bantuan dari lembaga-lembaga di Indonesia untuk mewujudkan program-program jangka menengah dan panjang khususnya di Rakhine State, Myanmar.                

MER-C Indonesia Siapkan Program Jangka Panjang untuk Pengungsi di Myanmar

dr. Tonggo Meaty Fransisca (dua dari kiri) selaku ketua tim kemanusiaan kedua MER-C untuk Myanmar tengah berbincang dengan Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, Dr Ito Sumardi di kantor KBRI di Yangon, Myanmar. REPUBLIKA.CO.ID, YANGON — Organisasi kemasyarakatan sosial Medical Rescue Emergency Commitee (MER-C) Indonesia kembali mengirim tim kemanusiaan ke provinsi, Rakhine, Myanmar. Ini adalah kali kedua MER-C Indonesia mengirim tim ke Myanmar, setelah pada 2012 lalu MER-C memberangkatkan tim untuk melakukan assesment dan penyaluran bantuan medis tahap awal.  Dalam misi kedua ini, MER-C mengirim tujuh orang relawan, yang terdiri dari satu dokter spesialis penyakit dalam, dua dokter umum, dua perawat, serta dua relawan non medis dari divisi konstruksi dan divisi bantuan logistik.  Tim berangkat pada Senin (19/2) lalu. Keberangkatan tim dilepas dua Presidium MER-C, dr. Joserizal Jurnalis, SpOT dan Ir. Faried Thalib serta sejumlah relawan MER-C di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta. Berbeda dengan tim sebelumnya, tim kedua ini memiliki target berbeda. Tim memiliki misi jangka pendek dan jangka panjang.  Target jangka pendek adalah kembali masuk ke dalam pengungsian dan menyalurkan bantuan medis secara langsung. Sementara program jangka panjang adalah membangun “Indonesia Health Center” dan program lanjutan lainnya.  Tim berangkat tepat pukul 13.10 WIB dan tiba di Yangon International Airport pada pukul 18.05 waktu setempat. Sebelumnya tim transit lebih dulu di Suvarnabhumi International Airport, Bangkok.  Keesokan paginya, Selasa (20/2), tim bertemu dengan Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, Dr. Ito Sumardi.  Dalam kesempatan itu dr. Tonggo Meaty Fransisca selaku ketua tim memaparkan sejumlah misi yang akan dilakukan MER-C selama di Myanmar.  “Yang pasti adalah menindaklanjuti assessment sebelumnya, yakni memberikan bantuan medis secara langsung untuk kedua belah pihak (Rohingya dan Rakhine),” kata Mea.  Selanjutnya, kata dia, tim juga akan melihat sekaligus menentukan program jangka panjang yang tepat untuk dilakukan MER-C, sesuai dengan amanah donasi dari rakyat Indonesia.  “Diantaranya adalah pembangunan Indonesia Health Centre sekaligus mengirim dokter dua bulan sekali. Karena berdasarkan hasil assessment pertama, klinik adalah fasilitas yang sangat dibutuhkan para pengungsi,” kata Mea.  Menanggapi hal ini Ito Sumardi sangat mengapresiasi apa yang dilakukan MER-C Indonesia. Menurutnya hal ini akan membantu mempercepat proses rekonsiliasi antara dua kelompok, khususnya yang berada di Sitwe, Rakhine, Myanmar.  “Kebanggan buat kami bahwa MER-C Indonesia dapat berkontribusi membantu pelaksanaan proses rekonsiliasi,” kata Ito.  Ito menyatakan pihaknya akan membantu sepenuhnya MER-C Indonesia dalam mewujudkan sejumlah misi dan program yang dibawa.  Pemerintah Indonesia, kata Ito, juga menaruh perhatian yang besar pada proses rekonsiliasi. Diantaranya pada Desember 2014 lalu pihaknya meresmikan empat sekolah bantuan pemerintah Republik Indonesia di Rakhine, Myanmar. Empat sekolah yang dibangun dengan dana 1 juta dolar AS itu terletak di tiga desa di Rakhine, Myanmar.  “Kita 1000 persen dukung,” kata Ito.  Sumber : http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/15/03/03/nkmmek-merc-indonesia-siapkan-program-jangka-panjang-untuk-pengungsi-di-myanmar                

MER-C Berangkatkan Tim ke-2 ke Rohingya Myanmar untuk Tindaklanjuti “Indonesia Health Center”

Jakarta – Senin (16/2), MER-C kembali memberangkatkan Tim Kemanusiaan ke Myanmar. Ini adalah pengiriman Tim ke-2 MER-C ke Myanmar setelah sebelumnya, pada bulan September 2012, MER-C mengirimkan tim pertama sebanyak 5 orang relawan yang telah melakukan assessment dan penyaluran bantuan medis tahap awal. Pada misi kemanusiaan ke-2 ini, Tim MER-C terdiri dari 7 orang relawan dengan berbagai keahlian, yaitu 1 dokter spesialis penyakit dalam, 2 dokter umum, 2 perawat, serta 2 relawan non medis dari divisi konstruksi dan divisi bantuan logistik MER-C. Target tim adalah kembali masuk dan menyalurkan secara langsung bantuan medis dan kemanusiaan ke wilayah konflik dan pengungsian di Provinsi Rakhine (Rakhine State), Myanmar.    Selain itu, dengan amanah donasi dari rakyat Indonesia, MER-C juga akan membuat program bantuan jangka panjang di wilayah ini. Salah satu program yang telah dicanangkan dan akan ditindaklanjuti oleh Tim ke-2 MER-C adalah rencana pembangunan “Indonesia Health Center”. Hal ini berdasakan hasil assessment tim pertama bahwa fasilitas di kamp pengungsian masih sangat minim, khususnya fasilitas kesehatan bagi para pengungsi. Program bantuan yang bersifat jangka panjang seperti “Indonesia Health Center” diharapkan dapat memberikan manfaat jangka panjang dan menjadi simbol persahabatan Indonesia dan Myanmar, serta mempererat hubungan baik rakyat kedua negara. Keberangkatan Tim ke-2 MER-C ke Myanmar dimungkinkan setelah adanya izin dari Kementerian Luar Negeri dan Kantor Kepresidenan Myanmar yang sebelumnya telah melalui proses cukup panjang. Dengan adanya izin dari Kementerian Luar Negeri dan Kantor Kepresiden Myanmar ini, diharapkan misi kemanusiaan ke-2 MER-C bisa diberi kelancaran dan keamanan untuk seluruh anggota Tim. Dari Yangon, Rabu (18/2) Tim MER-C dijadwalkan akan bertolak ke Sittwe, ibukota Rakhine State dengan menggunakan maskapai penerbangan lokal. Sesuai izin, Tim akan berada di Rakhine State hingga hari Sabtu (21/2) untuk memberikan pelayanan medis kepada para pengungsi, memberikan bantuan obat-obatan dan memberikan bantuan paket alat kesehatan. Sementara relawan dari divisi Konstruksi MER-C akan fokus melakukan survei serta koordinasi dengan pihak terkait untuk rencana pembangunan sarana kesehatan yang akan diberi nama “Indonesia Health Center”. Apabila donasi dari rakyat Indonesia masih mencukupi, MER-C akan membuat program lanjutan diantaranya berupa pembuatan sarana air bersih dan MCK. Keberangkatan tim MER-C ke Myanmar pada hari Senin ini dilepas oleh dua Presidium MER-C, dr. Joserizal Jurnalis, SpOT dan Ir. Faried Thalib serta sejumlah relawan MER-C di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta. Tim akan transit di Bangkok dan diperkirakan tiba di Yangon pada Senin malam ini, pkl. 19.00 waktu setempat. Setibanya di Yangon, Tim akan langsung berkoordinasi dengan KBRI Yangon dan sejumlah pihak terkait di Myanmar.   Rekening Donasi #Hand4Rohingya dapat disalurkan melalui: BSM, 700.1306.833 An. Medical Emergency Rescue Committee   Info lebih lanjut: www.mer-c.org Call center: 0811 99 0176              

Silahkan bertanya?