Tanggapi Pernyataan Yahya Cholil Staquf, Sarbini MER-C: Membuka Komunikasi dengan Israel merupakan Kalkulasi Politik yang Salah

Beredar berita pernyataan Yahya Cholil Staquf yang mengungkapkan perlu adanya komunikasi dengan Pemerintahan Israel untuk membantu Palestina. Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murad memberikan tanggapannya atas pernyataan tersebut. Menurut Sarbini, pernyataan pria yang akrab disapa Gus Yahya merupakan kalkulasi politik yang salah. “Pernyataan Yahya Cholil Staquf untuk membuka komunikasi dengan Israel adalah kalkulasi politik yang salah dan utopis,” ujar Sarbini. Menurut Sarbini, pernyataan Yahya ini berangkat dari anggapan bahwa dengan Indonesia membangun perbincangan akan membuka komunikasi atau ujungnya membuka hubungan diplomatik dengan Israel, maka Indonesia bisa membantu persoalan Palestina. “Tidak seperti itu,” ungkap Sarbini. Ia pun memberikan contoh bagaimana negara-negara Arab yang sudah membuka hubungan diplomatik dengan Israel seperti Uni Emirat Arab, atau Bahrain selanjutnya atau Turki sebelumnya, negara-negara tersebut tidak mampu untuk membantu Palestina mencapai kemerdekaannya. “Negara-negara yang mempunyai bargaining power yang kuat dibandingkan Indonesia saja tidak mampu untuk menekan Israel untuk bisa memberikan solusi dua negara. Mereka tidak mampu melarang Israel untuk tidak melakukan kekerasan, tidak melakukan penyerangan dan penindasan terhadap bangsa Palestina,” jelas Sarbini. “Begitupun negara-negara kwartet (PBB, AS, Uni Eropa, dan Rusia), mereka juga tidak mampu menekan Israel untuk memberikan kemerdekaan kepada Palestina atau untuk berunding secara damai, secara seimbang dengan Palestina. Mereka saja tidak mampu, apalagi Indonesia,” tambahnya. Untuk itu, sebagai pimpinan lembaga yang selama ini turut memiliki kepedulian terhadap Palestina baik dari sisi aksi kemanusiaan maupun politik kemanusiaan dalam rangka mendukung kemerdekaan bagi satu-satunya negara di dunia yang masih terjajah, Sarbini pun menyampaikan pandangan dan usulannya. “Kami mengusulkan agar Indonesia bisa lebih berperan pada internal Palestina. Indonesia bisa menjadi mediator atau bisa menjadi juru damai konflik antara faksi-faksi di Palestina. Ini yang sangat memungkinkan secara politis,” katanya. Sarbini pun mengingatkan agar Yahya Cholil Staquf lebih realistis melihat politik Israel. Hal ini karena Indonesia adalah negara yang sangat berpotensi di mata Israel dengan jumlah penduduk besar, ekonomi besar dan punya historis dengan kaum Yahudi. “Kami mengingatkan Gus Yahya agar lebih realistis melihat politik Israel. Kita harus lebih hati-hati, jangan terjebak dalam retorika yang salah. Kalau kita membuka hubungan dengan Israel maka Israel yang akan lebih diuntungkan, sementara kita tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Palestina,” imbuh Sarbini.
Catatan dr. Ben : Indonesia di Mata Israel

Dimata Israel, Indonesia terasa spesial. Upaya menarik Indonesia bukan baru sekarang ini saja, tapi sejak era Bung Karno dan Suharto upaya ini sudah dimulai oleh Israel. Di masa Bung Karno, upaya diplomasi Israel bisa dikatakan mati kutu. Mengusung slogan Anti Imperialis dan Kolonialis, Bung Karno secara tegas menyebutkan Israel bagian yang tak terpisahkan, bagian satelit dari Negara Imperalis dan Kolonialis. Shingga di Asian Games tahun 1962, secara tegas Bung Karno menolak keikutsertaan Israel dalam perhelatan tersebut. Di zaman Soeharto, meski Indonesia tak punya hubungan diplomatik dengan Israel, namun hubungan gelap terus berlangsung dalam beberapa bidang terutama berkaitan dengan militer. Kenapa Indonesia begitu penting di mata Israel? 1. Faktor Ekonomi Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan sumber alam begitu besar dan jumlah penduduk lebih kurang 280 juta yang menempati ranking 4 dunia, merupakan sebuah potensi yang besar sehingga secara bisnis hal ini sangat menggiurkan. Adapun pada tahun 2030 mendatang Indonesia diprediksi akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar pada peringkat 4 dunia. Dahsyat memang. 2. Faktor Politik Sebagai negara mayoritas muslim terbesar di dunia, wajar Indonesia menjadi incaran Israel karena bila Israel bisa merangkul Indonesia secara politik, maka Palestina akan semakin terisolir. Tak bisa dipungkiri bahwa Indonesia adalah negara yang hingga kini konsisten mendukung kemerdekaan Palestina. Agresivitas Israel merangkul Indonesia dengan berbagai macam cara, patut kita cermati. Sikap permisif kita bisa menjadi celah yang menguntungkan Israel. Sering delegasi Israel datang ke Indonesia dalam berbagai event dan kesempatan. Ini adalah prolog untuk melihat sejauh mana resistensi kita (bangsa Indonesia) dalam menghadapi momen ini. Semakin kecil resistensi kita, maka akan menjadi pembenaran bahwa Indonesia menormalisasi hubungan dengan Israel. Untuk itu, kita mesti waspada dan kritis. Jakarta, 24 Agustus 2022 Dr. Sarbini Abdul MuradKetua Presidium MER-C Indonesia
Triase COVID-19 dan Akses terhadap Layanan Kesehatan yang Sesuai

Gelombang demi gelombang COVID-19 sudah pernah dialami. Sebagai petugas kesehatan, triase adalah langkah penting untuk memilah kondisi pasien dan memberikan tatalaksana yang sesuai, sehingga kita bisa melakukan penanganan yang terbaik bagi orang-orang yang paling membutuhkan. Triase dimulai sejak di komunitas, mulai dengan memberikan informasi yang akurat (tidak hanya jumlah kasus positif namun juga derajat keparahan), kebijakan kesehatan yang berbasis data sendiri, dan usaha preventif individu seperti memakai masker dan cuci tangan. Kasus ISPA tentu membutuhkan terapi suportif, istirahat, isolasi mandiri dan menghindari stress, namun perlu dipantau oleh tenaga kesehatan terlatih, namanya Isomantau atau Isolasi Mandiri Terpantau. Isomantau diperlukan untuk menghindari penanganan yang berlebihan. Pemantauan ini untuk menjaga agar terhindar dari terlambatnya mengambil keputusan ke rumah sakit, jika memang dianggap perlu, tentunya sesuai indikasi medis. Mengisolasi pasien dengan klinis ringan di rumah sakit akan menghabiskan sumber daya yang dibutuhkan. Kasus-kasus pneumonia COVID-19 yang membutuhkan perawatan malah bisa tertahan di IGD, atau malah tidak bisa masuk IGD sama sekali. Dan ingat, masih ada pasien non-covid yang membutuhkan perawatan. Mereka mau dirawat dimana, kalau rumah sakit diisi dengan kasus ISPA COVID-19? Dr. Hadiki Habib, SpPDRelawan Medis MER-C Salam Kemanusiaan,MER-C IndonesiaCall Center : 0811990176FB dan Youtube : MER-C IndonesiaIG dan Twitter : @mercindonesia #disastermedicine #Isoman #isomantau #isomantaumerc #covid_19 #mercindonesia
GeNose untuk Penerbangan

GeNose memang karya anak bangsa yang mesti diapresiasi. Pemerintah harus membuka jalan pasar untuk penggunaan Genose. Dikabarkan akurasi, sensitifitas, dan spesifisitas uji diagnostik GeNose cukup baik. Tentu ini sangat membanggakan bagi Indonesia. Namun GeNose harus digunakan dengan INDIKASI yang tepat. Untuk diagnostik PASTI Covid-19, BAKU EMAS atau GOLD STANDARD-nya masih dipegang oleh swab PCR. Pemerintah harus memilah dan memilih indikasi penggunaan GeNose dengan baik, misalnya untuk SCREENING MASSAL. Sama dengan SWAB ANTIGEN yang digunakan untuk screening pasien untuk tindakan darurat hitungan jam di IGD. Swab antigen bisa dalam 4,5 jam saja. Sementara swab PCR masih butuh lebih lama hingga satu hari, sehingga tak mungkin menunggu hasil swab PCR untuk melakukan tindakan medis darurat di IGD. GeNose juga diklaim bisa mendapatkan hasil dengan cepat. Untuk penerbangan, standar safety yang dianut adalah ZERO RISK, atau hampir tanpa resiko. Termasuk untuk resiko penularan Covid-19 karena sirkulasi di dalam pesawat yang tertutup. Apabila ada satu saja penumpang yang mengidap Covid-19, maka akan berpotensi menularkan ke semua penumpang. Oleh karena itu, konteks pemeriksaan Covid-19 untuk penerbangan adalah BUKAN konsep SCREENING umum, tetapi konsep KEPASTIAN atau memastikan bukan Covid-19. Jadi pemeriksaan Covid-19 yang dilakukan harus menggunakan standar BAKU EMAS atau GOLD STANDARD, yaitu swab PCR. Salam Dr. Yogi Prabowo, SpOT (K)Pendiri, Presidium dan Relawan MER-C
Program Covid Semesta

Menjelang akhir tahun, resiko terjadinya kerumunan perayaan tahun baru dikhawatirkan banyak kalangan. Kita lihat di berbagai wilayah Jabodetabek, kepatuhan masyarakat menjalan Prokes masih minim. Di jalan-jalan, di rumah ibadah, di pasar banyak yang belum patuh menggunakan masker dan masih banyak tempat-tempat makan restoran yang belum menjalankan protokol kesehatan. Informasi tentang covid kurang infiltratif ke daerah-daerah pedesaan. Dokter-dokter, ahli-ahli kesehatan hanya banyak melakukan edukasi di medsos saja, itupun banyak informasi yang simpang siur tentang covid yang membuat masyarakat kurang dapat mencerna apa yang disampaikan atau bahkan malah nakes bertolak belakang pemahamannya dengan masyarakat. Akibatnya masyarakat kurang mau kerjasama atau terlibat dalam penanganan covid. Peluang yang ada untuk mensukseskan program covid semesta belum digarap dengan baik yaitu: 1. Melibatkan pemuka-pemuka agama, tokoh-tokoh masyarakat untuk mengkampanyekan penanggulangan covid dan pentingnya menjalankan protokol kesehatan. Contoh teranyar adalah kasus kerumunan yang melibatkan seorang ulama. Begitu yg bersangkutan menyadari pentingnya protokol kesehatan, maka para pengikutnya langsung membatalkan acara-acara yang akan menimbulkan kerumunan. Masyarakat akan cenderung lebih patuh kepada ulama atau pemuka agama atau tokoh masyarakat ketimbang omongan nakes atau pemerintah. Bahkan juga mereka kurang takut dengan ancaman peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu, pemerintah justru harusnya merangkul para ulama dan tokoh agama untuk mengkampanyekan penganggulangan covid dan protokol kesehatan. 2. Penguasaan Jalur Informasi dan KomunikasiMedia dan perundang-undangan kurang digunakan secara maksimal untuk mengkampanyekan penanggulangan covid, memberikan informasi covid yang benar dan protokol kesehatan. Kecenderungannya media, informasi dan hukum lebih banyak digunakan untuk kepentingan politik dan kekuasaan ketimbang untuk penanggulangan pandemi covid. 3. Organisasi Pemda, Organisasi Masyarakat dan Pamong Praja.Adanya struktur organisasi di pemerintahan daerah dan masyarakat kurang dimanfaatkan secara optimal untuk penanggulangan pandemi covid-19. Atensi yang diberikan masih meliputi pentingnya tracing dan mendata saja ketimbang menyelesaikan dan mengelola aspek-aspek yang timbul akibat covid seperti aspek psikososiekonomi pada masyarakat. Sehingga, pada akhirnya masyarakat kurang merasakan manfaatnya atau bahkan merasa terganggu dengan pendataan dan tracing yang menimbulkan stigmatisasi penderita covid di masyarakat. Ditambah lagi cara komunikasi petugas kesehatan yang kurang berempati kepada masyarakat yang terkena covid. Program covid semesta adalah suatu upaya mengajak dan melibatkan partisipasi masyarakat dalam penanggulangan pandemi covid sehingga meningkatkan kepedulian untuk mensukseskan program. Salam Dr. Yogi Prabowo, SpOTPemerhati & Penyintas Covid-19Pendiri, Presidium dan Relawan MER-C
MER-C Selalu Bersama Palestina

Catatan Dokter Ben MER-C sejak tahun 2008 tetap konsisten membantu Palestina. Peristiwa Mavi Marmara yang hampir merenggut nyawa relawan MER-C menjadi saksi sejarah betapa MER-C sungguh-sungguh mengirim Tim Kemanusiaan ke Palestina. Kemudian, MER-C secara kontinu mengirimkan relawan-relawan terbaiknya yang bertugas untuk membangun rumah sakit, bernama Rumah Sakit Indonesia. Tidak hanya membangun rumah sakit, MER-C juga membantu kesulitan lain yang mendera rakyat Palestina. Penderitaan panjang rakyat Palestina menjadi semangat MER-C untuk bisa mengurangi beban berat yang mesti dipikul oleh mereka. Kehadiran panjang relawan MER-C di Palestina secara tidak langsung mewakili 250 juta rakyat Indonesia. Tak terasa sudah lebih 1 dekade MER-C hadir di relung sejarah perjuangan Palestina. Perjuangan panjang untuk memperoleh sebuah negara. Kami mohon doa kepada segenap rakyat Indonesia agar MER-C tetap istiqamah dalam membantu rakyat Palestina. Rumah Sakit Indonesia yang telah berdiri di Gaza Palestina sebagai simbol abadi dukungan rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina. Kepada rakyat Palestina, percayalah bahwa kami selalu ada dalam setiap nafas perjuangan kalian. Jakarta, 28 Desember 2020
Reshuffle di Tengah Pandemi

Pergantian kepemimpinan di Kemenkes menimbulkan pertanyaan; Apa langkah dan strategi Menkes dan Wamenkes baru dalam menghadapi pandemi di tengah situasi penuhnya dan sulitnya masyarakat mencari RS dan tempat isolasi untuk perawatan covid? Lalu bagaimana menghentikan atau mengurangi penyebaran covid di masyarakat? Proposal yang bisa diajukan untuk menghadapi tantangan tersebut antara lain: 1. Program Isolasi Mandiri Terpantau (Isotau) Selama ini yang digaungkan adalah Isolasi Mandiri atau Isoman, yang konotasinya adalah swadaya masyarakat tanpa ada pantauan rawat tim Rumah Sakit. Pemerintah dan Dinas Kesehatan masih gamang menjalankan program isoman ini karena ada resiko perburukan dan datang ke RS dalam kondisi terlambat. Masyarakat sendiri banyak yang masih takut menjalankan isoman karena informasi-informasi yang diterima tentang covid ini cukup menakutkan, sehingga kebanyakan datang ke RS atau penampungan minta perawatan. Sementara itu program isoman itu sendiri sempat dilarang dan dihentikan oleh Pemda karena ditengarai menyebabkan kluster keluarga. Saat ini, wisma atlet dan tempat penampungan pun sudah penuh dan tidak bisa lagi menerima pasien. Penulis mempunyai pengalaman pribadi sebagai penyintas covid, yang mungkin bisa dijadikan model penanganan pasien covid gejala ringan dan sedang. Penulis pernah menderita covid-19 dan kluster keluarga. Covid yang diderita termasuk dalam kategori ringan-sedang dengan adanya gejala-gejala seperti demam mengigil, batuk pilek, mual, mencret, sakit kepala dan sedikit ada pneumonia pada gambaran x-ray. Diputuskan melakukan isolasi mandiri dengan pantauan tim medis dengan beberapa pertimbangan seperti derajat covid yang diderita ringan-sedang, RS juga sudah mulai penuh oleh penderita, karena kluster keluarga yang juga mengenai anak-anak yang sedang melaksanakan ujian-ujian daring. Tim yang memantau terdiri dari perawat, dokter PPDS IPD yang beberapa kali datang ke rumah untuk memeriksa dan mengambil darah, dan pantauan dokter spesialis penyakit dalam secara telemonitoring. Dilakukan pemeriksaan lab darah beberapa kali, rekam jantung (EKG) dan pemberian obat-obatan antivirus, steroid, antikoagulan, antipiretik, anti diare, dan vitamin-vitamin. Kemudian kami juga diberikan alat pemantauan berupa pemantauan saturasi oksigen dan pengukur suhu. Tiap hari kami dipantau melalui wa dan telepon, termasuk ketika ada gangguan fungsi hati akibat konsumsi obat antivirus avigan segera terpantau dengan telemonitoring dan obat antivirus segera dihentikan. Penulis dan keluarga merasakan ketenangan dan kenyamanan psikis dengan model isolasi terpantau ini, sehingga bisa berfikir positif dan memimpin keluarga menuju kesembuhan. Ditengah sulitnya mencari RS, model isolasi terpantau (Isotau) bisa menjadi solusi tanpa membahayakan pasien, dan bisa menangani pasien covid secara lebih dini untuk mencegah perburukan. Model isolasi terpantau juga dilakukan oleh Belanda dalam sebuah studi yang dilaporkan oleh Universitas Leiden, membuat model isolasi mandiri terpantau. Namun memang Isotau ini memerlukan persyaratan kelayakan rumah untuk isolasi untuk mencegah terjadinya penularan kepada sekitar. Dan juga memerlukan adanya Tim Pelayanan Pra Rumah Sakit (pra hospital) dimana belum banyak RS yang mempunyai layanan tersebut. Yang penulis tahu RSCM sudah mempunyai SK pelayanan Pra Rumah Sakit dan memiliki tim serta armada ambulance. Dengan adanya program Isotau ini, maka RS bisa fokus untuk menangani pasien covid sedang-berat dan menambah kemampuan fasilitas ICU serta perawatan intensif lainnya. 2. Program Covid Semesta Program ini adalah mengajak partisipasi masyarakat dalam menghadapi Covid. Sudah sering kita dengar BNPB dan Kemenkes menggaungkan perlunya partisipasi masyarakat, kolaborasi pemerintah dengan masyarakat dalam menangani pandemi covid-19. Namun gaung tersebut kurang atau bahkan tidak sesuai implementasinya di masyarakat. Karena ada aspek non medis, aspek psikososioekonomi masyarakat yang tidak terkelola. Kesimpangsiuran informasi, kebingungan masyarakat dalam mencari informasi RS atau tempat rawat ketika terkena covid. Kurang pedulinya masyarakat terhadap protokol kesehatan. Bagaimana mengelola keluarga yang sedang menderita covid, bagaimana nafkahnya, bagaimana pendidikan anak-anaknya dan lain-lain belum terkelola oleh pemerintah. Adanya gap informasi antara nakes dengan masyarakat tentang bahaya covid kurang sinkron dan menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap bahaya covid ini, akibat penjelasan tentang covid yang kurang proporsional, cenderung hiperbolik. Sementara itu, pemerintah kurang atau tidak menggunakan kekuatan media, informasi, dan undang-undang tentang perlunya menjalankan prokes setiap saat. Media dan undang-undang lebih cenderung digunakan sebagai instrumen politik ketimbang menyelesaikan pandemi ini. Jadi usulan penulis agar pemerintah dapat mengelola covid-19 ini secara komprehensif berbagai aspek kehidupan masyarakat (psikososioekonomi) dan membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat agar masyarakat mau berpartisipasi penuh membantu pemerintah dalam menghadapi Covid. Termasuk dalam program vaksinasi covid-19 harus dilakukan secara transparan, memberikan informasi yang terbuka tentang perkembangan vaksin serta memilihkan vaksin yang terbaik bagi masyarakat. Penulis sangat yakin masyarakat juga merindukan proteksi vaksin terhadap covid ini, walaupun cuma segelintir kecil orang saja yang benar-benar antivaksin. Namun karena pengelolaan informasi kurang terbuka dan menimbulkan kesimpangsiuran sehingga banyak pertanyaan di masyarakat. Kebebasan memilih vaksin juga harus dilindungi undang-undang. Pendekatan psikososial juga harus dilakukan untuk mensukseskan program vaksin 3. Buat, fungsikan dan kelola Call Center Covid sebagai distributor pasien-pasien covid dengan melakukan Disaster Triage Sudah berulang kali penulis mengemukakan tentang pentingnya disaster triage ini, dan juga sudah pernah memberikan masukan kepada Kemenkes serta Dinkes, namun implementasinya belum terlihat dilakukan serius. Padahal call center covid dan disaster triage ini bisa menyelesaikan masalah sulitnya masyarakat mencari tempat perawatan covid dan mencegah RS overload pasien covid yang akan beresiko terhadap nakes tertular. Kedatangan Menkes dan Wamenkes baru ke RSCM untuk menggali informasi mudah-mudahan menjadi pertanda baik bagi perkembangan penanganan pandemi covid-19 yang sudah hampir setahun melanda dunia dan Indonesia. Minimal mau mendengarkan aspirasi, berfikir positif, dan bersikap kolaboratif antar kementerian, dengan masyarakat dan para pelaku kesehatan. Salam, dr. Yogi Prabowo, SpOT(Pendiri, Presidium dan Relawan MER-C)
Selalu Ada Jalan Keluar

Catatan Dokter Ben Sejarah membuktikan bahwa MER-C berangkat dengan semangat dan ketulusan. Dua kata itulah yang telah menjadi energi MER-C dalam mengukir sebagian sejarah panjang anak bangsa ini. Banyak kisah-kisah inspiratif yang MER-C alami. Kisah ini saya angkat kembali untuk memotivasi kita semua dalam menapaki tantangan ke depan yang terus kita jalani. Sebagai NGO yang kenyang dengan asam garam perjuangan, sudah tentu memberikan terbaik dalam segenap aktivitas kemanusiaan baik suasana terencana ataupun tidak. Sering langkah berani yang MER-C ambil membuat mata susah merem. Langkah berani MER-C yang paling spektakuler adalah membangun rumah sakit di Palestina. Bangunan Tahap 1 RS Indonesia di Gaza, Palestina Awalnya banyak yang menyebutkan ini langkah impossible, membangun sebuah rumah sakit di tanah yang penuh pergolakan yang tidak berujung penyelesaian. Keputusan sudah diambil, janji sudah dibuat, MOU sudah ditandatangani dengan Palestina. Layar sudah dikembangkan, bahtera pantang berlabuh. Pak Faried Thalib dan Pak Idrus M. Alatas, komandan lapangan yang nekat dan inspiratif membuat kami yakin pekerjaan besar ini akan bisa dan mungkin diselesaikan. Dalam perjalanan suka duka bersama kami alami. Bagaimanapun dana menjadi penyambung proyek besar ini. Dengan modal hanya Rp 10 Milyar dan biaya rumah sakit diperkirakan mencapai Rp 110 M, sungguh membuat jantung berdegub kencang. Sebagai orang lapangan, Pak Faried yang langsung berinteraksi dengan kontraktor Palestina dan mereka tidak mau tahu tentang kesulitan keuangan yang MER-C alami. Dalam kepusingan tiba-tiba beliau meminta rapat presidium mendadak karena ada hal krusial yang harus diputuskan saat itu juga. Dengan pasti dan tanpa panjang lebar beliau menegaskan, “Saya mau hutang Rp 15 milyar ke seorang pengusaha besar, dia sahabat dekat saya. Nanti MER-C yang bayar, kalau MER-C tidak sanggup, saya dan dr. Jose yang akan tanggung jawab.” Terjadi diskusi antara kami apakah menerima tawaran ini atau tidak. Keputusan rapat akhirnya menerima keinginan ini dengan segenap pertimbangan. Tapi sejarah berkata lain. Takdir Allah, rencana itu tidak pernah terwujud sampai rumah sakit diresmikan. Lima hari kemudian tiba-tiba Israel menyerang Gaza. Serangan begitu dahsyat dan lama. Pemberitaan perang begitu masif. Korban sipil berjatuhan. Dunia internasional mengutuk kebiadaban Israel. Simpati dalam negeri begitu besar. Tak disangka donasi rumah sakit yang awalnya lambat dan sedikit, tiba-tiba donasi masif. Di Gaza, hanya ada relawan MER-C yang sedang membangun rumah sakit, maka mayoritas donasi rakyat Indonesia ditujukan ke Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza. Dalam waktu singkat, dana yang dibutuhkan untuk bangun RSI tercukupi. Jadi ingat firman Allah SWT dalam Al-Qur’an : “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS. 94:5). Sejarah membuktikan bahwa MER-C berangkat dengan semangat dan ketulusan. Dua kata itulah yang telah menjadi energi MER-C dalam mengukir sebagian sejarah panjang anak bangsa ini. 26 November 2020dr. Sarbini Abdul MuradKetua Presidium MER-C
Joe Biden dan Harapan Palestina

Terpilihnya Joe Biden sebagai Presiden AS menjadi secercah harapan bagi Palestina. Harapan yang pernah redup akibat kebijakan Trump yang secara vulgar memihak Israel. Keberpihakan Presiden-Presiden AS sebelumnya masih “malu-malu”, tetapi keberpihakan Trump kepada negara zionis ini begitu membabi buta. Jelas ini membuat Palestina berang dan menganggap perundingan yang selama ini dilakukan menjadi sia-sia. Merasa tidak dianggap oleh AS maka secara sepihak Palestina menarik diri untuk berunding dengan Israel karena kepercayaan yang tersisa kepada AS telah lenyap. Trump membuat lubang kekecewaan yang begitu menganga. Pemindahan Kedubes AS ke Jerussalem menjadi titik nadir kemarahan Palestina dan umat Islam. Jared Kushner, menantu Trump sekaligus konseptor dan negosiator untuk memuluskan proposal besar Trump dengan “halus” menawarkan proposal ini kepada negara-negara Arab yang memiliki pengaruh politik kuat di Timur Tengah. Strategi merangkul negara-negara Arab bertujuan untuk menekan dan memaksa Palestina agar suka atau tidak mesti menerima proposal sesat tersebut. Begitu besar tekanan yang dialami oleh Palestina selama Trump menjadi presiden. Belum lagi rencana aneksasi Israel terhadap Tepi Barat dan Lembah Yordan yang sudah lama menjadi incaran Israel karena tanahnya yang subur. Ditambah persoalan negara-negara Arab yang begitu rumit. Lantas isu Palestina menjadi tidak menarik dan dianggap hanyalah persoalan internal Palestina vs Israel. Namun sebaliknya, kekuatan internal menjadi solid pada titik nadir kekecewaan dan lenyapnya harapan solusi dua negara. Tak disangka, kekuatan perlawanan yang dominan di Palestina, dalam hal ini Hamas dan Fatah, kembali merajut persatuan nasional yang selama ini selalu ada kendala untuk mewujudkannya. Menurut saya, persatuan Hamas dan Fatah menjadi hadiah besar bagi perjuangan ke depan. Beberapa kali Persatuan Nasional digelar, tetapi ujungnya justru terjadi perpecahan. Sulit mengajak dua pihak tersebut untuk duduk dan berdiskusi dalam menempuh jalan menuju kemerdekaan. Ketika kami diundang oleh Kedubes Palestina, selalu kami sampaikan tentang Persatuan Nasional yang dapat menjadi senjata dan kekuatan perlawanan oleh Palestina terhadap penjajahan Israel. Dengan adanya Persatuan Nasional, jalan menuju kemerdekaan akan jauh lebih mudah. Segala kendala dapat dipikul bersama. Joe Biden Harapan Baru Banyak analis politik yang agak skeptic terhadap Joe Biden. Berbagai argumen dibedah. Bagaimanapun, Joe Biden adalah sahabat lama Israel berdasarkan pengakuan Benyamin Netanyahu. Selain itu, selama menjadi Wapres Obama, mereka digadang-gadang menjadi harapan bagi Palestina. Namun, dalam perjalannnya mereka juga tidak mampu berbuat banyak untuk solusi dua negara. Akan tetapi, mungkin kali ini kita bisa berharap akan ada cerita baru bagi Palestina. Bagaimanapun, Joe Biden terpilih sebagai Presiden AS karena didukung oleh mayoritas umat Islam AS. Kita akan lihat apakah dia akan memindahkan Kedubes AS kembali ke Tel Aviv atau tidak. Memang saat kampanye, dia mengatakan bahwa Kedubes AS tidak akan dipindahkan ke Tel Aviv. Namun, bisa jadi ini hanya trik untuk menenangkan Israel. Jika Biden mengembalikan Kedubes AS ke Tel Aviv, ini merupakan isyarat kuat AS untuk menjadi perunding yang serius dalam mendorong perdamaian di Timur Tengah. Tetapi sebaliknya, jika Biden tetap membiarkan Kedubes AS di Jerussalem, jelas kebijakannya ke depan tidak jauh berbeda seperti saat dia menjadi Wapres Obama. Memang dalam Pemilu AS kali ini, Israel habis-habisan mem-back up Trump karena dianggap berjasa mendukung semua permintaan Israel dan tutup mata atas segala risiko yang mesti diterima AS. Solusi dua negara dianggap tidak ada oleh Trump. Jadi, wajar sekarang harapan tertuju pada Biden. Kita semua berharap agar Biden bisa mengembalikan marwah dan kepercayaan Palestina terhadap AS yang selama ini lenyap. Semoga …. Hati-hati Trik Licik Israel Ada hal yang dikhawatirkan Israel ketika kelompok perlawanan, seperti Fatah, Hamas, Jihad Islam, dan kelompok perlawanan lain menyatukan langkah dalam menghadapi tekanan Israel. Tak dipungkiri, figur Trump yang sangat memihak Israel menimbulkan kesadaran kolektif dari faksi perlawanan untuk saling bergandengan tangan dalam menghadapi tekanan dari pihak AS dan Israel. Memang selama ini sulit mengikat faksi-faksi perlawanan tersebut dalam wadah persatuan. Telah berkali-kali diadakan perdamaian, tetapi dalam waktu relatif singkat, ikatan perdamaian itu putus dan saling bertentangan lagi. Seruan Persatuan Nasional yang kerap diserukan oleh negara-negara yang bersimpati pada perjuangan Palestina, termasuk juga Indonesia, menjadi mantra rutin. Tokoh-tokoh muslim dunia juga tak kalah gencarnya menyerukan soliditas antarfaksi di Palestina. Namun, cara pandang kelompok-kelompok perlawanan tersebut berbeda dalam mencapai kemerdekaan, ditambah ideologi islamis-nasionalis, nasionalis-sekuler,bahkan juga sosialis-nasionalis. Warna-warni ideologi menjadi sandungan yang tidak ringan dalam menyusun barisan menghadapi tekanan Israel. Sekali lagi kami sampaikan bahwa solusinya adalah Persatuan Nasional yang permanen karena kami meyakini dengan persatuan yang kokoh tak ada rintangan yang tak bisa diatasi. Beberapa hal yang menurut kami mesti diperhatikan untuk mengantisipasi langkah Biden ke depan. 1. Kampanye Biden lebih-kurang sama dengan Obama: tetap pro-Israel, tetapi masih menimbang perasaan Palestina. Ujung proses perdamaian akan dimulai lagi dengan catatan Palestina harus memutuskan hubungan politik dengan Hamas. Pasti ini syarat yang akan diminta Israel. Andai Palestina mengikuti, akan masuk skenario selanjutnya, yaitu mempermainkan perdamian dengan mencari kesalahan Palestina yang ujung-ujungnya tidak ada hasil. 2. Ekspektasi harus terukur dan tidak menggantung berlebihan pada Biden. Walau bagaimanapun, Biden adalah sahabat Israel. Kepentingan Israel tetap menjadi prioritas kebijakan politik luar negeri AS. 3. Melakukan rekonsiliasi nasional di Palestina dengan mengadakan pemilu. Kepada semua pihak, diharapkan dapat menerima hasil pemilu karena pemilu adalah pilihan demokrasi untuk rujuk nasional. dr. Sarbini Abdul MuradKetua Presidium MER-C Ditampilkan di : https://www.republika.id/posts/11866/biden-dan-harapan-palestina Versi Cetak di : Harian Republika, Edisi Senin 23 November 2020
MER-C : Macron Mesti Bijak Menilai Islam dan Minta Maaf

Pimpinan Lembaga Kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), dr. Sarbini Abdul Murad, turut bersuara menanggapi pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menyebutkan Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia. Sarbini menyayangkan sekaligus mengecam pernyataan ini sebagai pernyataan yang tidak bertanggung jawab dan memecah belah kerukunan umat beragama di dunia. “Kami turut menyayangkan sekaligus mengecam pernyataan Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Itu adalah pernyataan yang tidak bertanggung jawab. Macron telah menyebarkan kesalahpahaman terhadap Islam. Sebuah penyataan yang dapat memecah belah kerukunan umat beragama di dunia,” ungkap Sarbini. “Macron mestinya bijak dalam menilai Islam,” tambahnya. Ia menjelaskan Macron mestinya bisa belajar dari sosok Vladimir Putin, Presiden Rusia yang bijak dalam melihat Islam. Meski di Rusia terjadi pemberontakan separatis Chechen, tak berarti Putin menyudutkan Islam secara keseluruhan. Sementara Macron sebagai orang nomor satu di Prancis memilih membiarkan dan menolak untuk melarang keputusan media di negara tersebut, Charlie Hebdo yang menerbitkan kembali kartun Nabi Muhammad pada September 2020 lalu dengan alasan kebebasan berekspresi. Suatu sikap pemimpin negara yang sangat melukai dan menuai reaksi keras dari berbagai kalangan umat Islam di seluruh dunia. Hal ini berbahaya karena menjadi modus menyebarkan kebencian terhadap Islam. “Untuk itu, MER-C meminta kepada Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk segera meminta maaf kepada umat Islam dunia. Kami pikir meminta maaf adalah jalan yang bijak, serta melarang kartun yang menghina Nabi Muhammad,” tegas Sarbini. Sementara itu, Pimpinan MER-C juga berharap Pemerintah Indonesia dapat segara merespon dan mengambil sikap atas pernyataan Presiden Prancis dengan mendorong permintaan maafnya kepada umat Islam. Hal ini agar polemik yang dapat menimbulkan perpecahan kerukunan umat beragama tidak berlarut. Jakarta, 27 Oktober 2020 MER-C Indonesia www.mer-c.org Call Center : 0811990176