Dorong Kemerdekaan Palestina, MER-C Lakukan Safari Kemanusiaan

Dalam upaya mendorong dan mendukung kemerdekaan Palestina, lembaga sosial medis untuk kemanusiaan dan perdamaian, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia melakukan program yang diberi nama ‘Safari Kemanusiaan untuk Kemerdekaan Palestina’. Sarbini Abdul Murad, Ketua Presidium MER-C, memandang Safari Kemanusiaan perlu dilakukan untuk mengkomunikasikan permasalahan Palestina kepada semua pihak dan semua elemen anak bangsa untuk bersama-sama membantu dan mencari jalan keluar dalam mendukung terwujudnya kemerdekaan Palestina. “MER-C mempunyai satu program yaitu ‘Safari Kemanusiaan Mendukung Kemerdekaan Palestina’. Ini untuk mengkomunikasikan dengan segenap pihak, dengan tokoh-tokoh lintas agama, tokoh-tokoh pers, pemuda dan aktifis-aktifis kemanusiaan agar masalah Palestina bisa bersama-sama kita bantu, bersama-sama kita tanggulangi,” ucap Sarbini dalam pernyataannya di Kantor Pusat MER-C di Jakarta, Jum’at/12 November 2021. Sarbini menyampaikan bahwa Palestina adalah salah satu negara peserta Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955 yang sampai hari ini belum merdeka. Menurutnya, Indonesia sebagai negara muslim terbesar yang sama-sama lahir dari penderitaan penjajahan dimana pada pembukaan UUD 1945 juga jelas menyatakan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, maka menjadi tanggung jawab konstitusi dan kewajiban semua untuk melakukan suatu kerja keras agar Palestina bisa merasakan kemerdekaan seperti negara-negara lain. “Oleh sebab itu, ini menjadi tanggung jawab sejarah, tanggung jawab konstitusi, tanggung jawab kita bersama untuk mendorong semua pihak agar bisa memerdekakan Palestina,” tegasnya. Dalam pernyataannya, Sarbini mengajak semua pihak agar masalah Palestina menjadi fokus dan pemikiran bersama. “Banyak tokoh-tokoh yang selama ini mungkin sepi untuk berbicara tentang Palestina, senyap untuk berfikir untuk Palestina, kami mengajak semua kita agar masalah Palestina menjadi titik fokus kita, menjadi pokok pemikiran kita bersama, agar saudara-saudara kita di Palestina bisa mendapatkan kemerdekaan sebagaimana yang kita rasakan pada hari ini,” tambah Sarbini. Upaya Safari Kemanusiaan yang dilakukan MER-C saat ini menurutnya sejalan dengan apa yang pernah dikatakan Bung Karno, Presiden Republik Indonesia pertama. “Harus kita ingat, Bung Karno pernah mengatakan bahwa ‘Kami Bersama Palestina sampai Palestina Mendapatkan Kemerdekaan’. Ini adalah suatu hal yang MER-C lakukan. Mudah-mudahan ini didukung oleh semua pihak sehingga MER-C menjadi bahagian dari duta Palestina untuk mengkomunikasikan proses ini kepada semua lapisan masyarakat, semua elemen anak bangsa. Mudah-mudahan kita bisa bersama Palestina dalam mendorong dan mendukung kemerdekaan Palestina,” harap Sarbini. MER-C telah memulai program ini dengan bertemu dan mengkomunikasikannya ke Tokoh agama Katolik. Pertemuan dan komunikasi serupa akan terus dilakukan ke tokoh-tokoh lintas agama yang lain dan ke semua elemen anak bangsa. Selengkapnya : https://youtu.be/BIr84-IubDI Jakarta, 12 November 2021Medical Emergency Rescue Committee
Safari Kemanusiaan, MER-C Bertemu Pengamat Timur Tengah dari UI

Depok, MINA – Lembaga medis dan perdamaian, Medical Emergency Rescue – Committee (MER-C) dipimpin dr. Sarbini Abdul Murad bertemu Ketua Program Studi Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam SKSG Universitas Indonesia (UI), Yon Machmudi di Depok, Ahad (7/11). Dalam pertemuan yang merupakan rangkaian Safari Kemanusiaan MER-C itu, Sarbini menyampaikan pentingnya semua pihak berdiskusi tentang kondisi Palestina. Ia menegaskan, penderitaan Palestina tidak boleh dimanfaatkan dalam bentuk apa pun. “Orang-orang hanya respek ketika ada peristiwa besar, tapi begitu peristiwa besar itu hilang, maka lupa itu tentang Palestina. Jadi saya ingin mencoba mengkomunikasi bahwa kita punya dua tanggung jawab terhadap Palestina, yaitu tanggung jawab konstitusi dan tanggung jawab sejarah. Ini yang ingin kita sampaikan melalui Safari Kemanusiaan,” ujar Sarbini. Menurut Sarbini, aksi-aksi kemanusiaan yang selama ini dilakukan belum mampu membuka mata Israel terkait penderitaan bangsa Palestina. Maka, kata dia, Indonesia sebagai rumah umat Islam yang besar perlu bersikap lebih nyata dalam mendukung Palestina. Sementara itu, Ketua Program Studi Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam SKSG Universitas Indonesia (UI), Yon Machmudi membenarkan apa yang disampaikan Sarbini. Menurutnya, memang Palestina membutuhkan dukungan lebih dari banyak pihak. “Negara yang mengakui Israel sudah banyak, dari Amerika hingga Uni Eropa. Yang mengakui Palestina belum terlalu banyak. Sementara yang mengakui keduanya sejauh ini hanya Rusia atau Cina saja. Jadi dukungan terhadap Palestina masih jauh,” katanya. Menurut Yon, Palestina bisa memunculkan kekuatan yang besar apabila dua fraksi besar di negara itu bisa bekerja sama, yakni Hamas di Jalur Gaza dan Fatah di Ramallah. Hanya saja, kata dia, rekonsiliasi kedua fraksi tersebut tidak mungkin dibiarkan begitu saja oleh Israel. “Memang untuk berhadapan dengan Israel itu ada dua sisi, berinteraksi dengan perlawanan atau diplomasi. Dan dua-duanya sudah dilakukan oleh Palestina, tetapi memang terpisah, yakni Hamas dengan perlawanannya, kemudian PLO dengan diplomasinya,” tuturnya. Yon menjelaskan, selama Hamas dan Fatah belum bersatu, maka akan sulit untuk berhadapan dengan Israel. Ia pun menyarankan pihak eksternal, khususnya dari Indonesia untuk memediasi rekonsiliasi antara Hamas dan Fatah. “Minimal masyarakat akar rumput di Palestina bersatu. Mungkin kalau langsung tokoh sentralnya ini akan sulit, tetapi kalau dimulai dari masyarakat, minimal sampai ke tokoh-tokoh menengah, ini bisa dilakukan,” katanya. Terkait kepedulian terhadap Palestina, Yon mengapresiasi langkah MER-C yang melakukan Safari Kemanusiaan ke semua kalangan. Hal itu, menurutnya, bisa menjadi langkah awal memberikan dukungan yang besar kepada Palestina. Sumber : https://minanews.net/safari-kemanusiaan-mer-c-bertemu-pengamat-timur-tengah-dari-ui/
MER-C Bertemu Romo Magnis Bahas Palestina

Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia, dr. Sarbini Abdul Murad bertemu dengan Romo Frans Magnis Suseno untuk membahas konflik Palestina – Israel, Jumat (30/10). Pertemuan ini dalam rangka Safari Kemanusiaan MER-C dengan Tokoh-Tokoh Lintas Agama untuk Palestina. Langkah demikian sudah dilakukan MER-C sejak lama untuk mempersatukan bahwa persoalan Palestina bukan hanya masalah umat Islam, namun semua agama mempunyai kepentingan karena sisi kemanusiaannya. Menurut Sarbini, MER-C sebagai organisasi sosial untuk kemanusiaan dan perdamaian berupaya mengajak semua tokoh agama mendukung kemerdekaan Palestina karena ini panggilan konstitusi dan hutang sejarah kita dimana Palestina satu-satunya peserta Konferensi Asia Afrika tahun 1955 yang hingga saat ini belum merdeka. Pada pertemuan yang berlangsung sekitar 30 menit tersebut, Ketua Presidium MER-C berdiskusi dan meminta pandangan serta masukan dari salah satu Tokoh Agama Katolik senior Indonesia ini tentang konflik Palestina – Israel dan upaya bersama sebagai elemen bangsa dan warga dunia untuk menyelesaikan konflik ini. “Kita mengharapkan konflik ini bukan konflik agama, namun konflik ini bisa diselesaikan secara bersama-sama,” ujar Sarbini. “Orang ramai membahas Palestina ketika ada pengemboman di sana, namun setelah itu kita lupa. Padahal masalah konflik Palestina – Israel lebih besar dari itu dan luar biasa, sehingga perlu dukungan banyak pihak,” tambahnya. Sarbini juga memaparkan program yang telah dilakukan MER-C untuk Palestina selama lebih dari 12 tahun terakhir, yaitu pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza yang merupakan bantuan murni dari rakyat Indonesia melalui MER-C. Menanggapi hal ini, Romo Magnis memberikan pandangannya bahwa membantu orang-orang Palestina itu sangat terpuji karena rakyat Palestina mengalami penjajahan yang sangat serius. Ia juga sepakat dan mendukung langkah MER-C bahwa permasalahan di Palestina bukan hanya milik umat Islam karena di sana ada bermacam-macam agama. “Saya kira membantu orang-orang Palestina itu sangat terpuji karena mereka mengalami terjajah yang sangat serius. Kalau bantuan dalam bentuk rumah sakit, tentu saya sangat mendukung itu,” ujarnya. “Palestina itu bukan masalah Islam saja, karena orang Kristen di sana di Palestina, ada Katolik, Ortodoks, macam-macam, semua orang Arab, semua itu penduduk Palestina dan mereka sama. Saya kira itu penting sekali. Tapi tidak apa-apa kalau Islam sangat kuat mendukungnya,” tambahnya. Namun ia mengakui bahwa situasi di Palestina pada umumnya tidak mudah, masalahnya konflik politis kemanusiaan dan etis. Ia sepakat bahwa orang Palestina baik di Tepi Barat maupun di Jalur Gaza berhak atas kebebasan penuh dan itu berarti mempunyai negara berdaulat. Permasalahan Jerusalem menurutnya lebih kompleks sedikit. Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa eksistensi Israel jangan dipersoalkan lagi. “Saya bertolak dari anggapan bahwa eksistensi Israel jangan dipersoalkan lagi. Israel itu sendiri masuk dalam eksistensi yang tentu bisa sangat diragukan, tapi sudah lama diakui oleh PBB dan oleh umumnya masyarakat dunia, jadi policy bahwa Israel harus dibubarkan, itu salah besar,” katanya. “Saya tidak melihat hal lain daripada two-state solution. Israel tetap, Palestina West Bank tetap. Dulu termasuk Jordan, sebelum perang enam hari. Itu juga masih posisi mengapa bukan satu negara. Tapi kalau satu negara sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi itu tidak mungkin untuk Israel karena mayoritas di sana orang Arab. Israel tidak membangun negara Israel sebagai pelarian dari segala macam lalu mendapat mayoritas Arab, jadi itu tidak mungkin,” tambahnya. Namun ia menegaskan bahwa yang membuat two-state solution itu sulit dan menurutnya itu sabotase Israel adalah pemukiman-pemukiman, dimana menurutnya ada keterlibatan Amerika Serikat. Pemukiman dimulai sekitar tahun 1971 dan sekarang ada sekitar 2,8 juta orang Palestina Arab, juga banyak Kristen di situ walau mayoritas Islam. Namun agama menurutnya tidak menjadi masalah. Kini sudah lebih dari setengah juta Yahudi dengan 1.600 rumah baru akan didirikan. “Lalu bagaimana AS memberi semacam two-state solution, dimana lalu pemukiman itu termasuk Israel dan Israel juga menuntut sungai Jordan, lalu yang tinggal dari Palestina itu apa?” ujarnya. Ia menganalogikan hal ini membuat wilayah Palestina menjadi seperti keju Swiss, keju yang ada lubang-lubangnya. Itu tidak akan mungkin,” ujarnya. Jadi lepas dari masalah etika, menurutnya Israel mengira bisa selamanya menindas masyarakat Arab di Tepi Barat. Tentu tidak. Ia mencontohnya apartheid di Afrika yang juga tidak bisa dipertahankan untuk selamanya. Situasi ini diperparah lagi dengan dukungan terhadap Palestina di kalangan Arab Islam yang menurut pengamatannya semakin menipis. “Tahun-tahun terakhir ini beberapa negara Arab yang sudah membangun hubungan diplomatic dengan Israel dan membuat situasi lebih mantap bagi Israel. Israel mengira sekarang anginnya pro, dalam hal ini Amerika Serikat selaku mendukung. Eropa tidak begitu. Kalau negara-negara Timur Tengah diam-diam mendukung Israel. Indonesia menurut pandangannya tentu tidak mau mendukung Israel, karena manfaatnya sangat sedikit dan memberi senjata bagi golongan Islam terutama yang keras untuk bereaksi.” Romo Magnis menekankan bahwa meskipun Palestina bukan masalah Islam, tapi dalam kenyataan Islam penting di situ. “Saya lebih suka kalau Islam mainstream Indonesia yang moderat, yang pro NKRI membicarakan itu secara berani. Satu-satunya yang dulu berani itu Gusdur,” ujarnya. Menyinggung tentang AS dan Jerusalem, Romo Magnis menyatakan ketidaksetujuannya terhadap langkah yang diambil Amerika Serikat. Sikap dan posisinya menurutnya sesuai dengan posisi resmi Vatikan terhadap masalah ini. “Saya tidak mendukung posisi Amerika Serikat terhadap Israel karena Amerika Serikat sudah mengakui Jerusalem sebagai Ibukota Israel. Menurut saya itu tidak tepat, juga yang dilakukan Israel di Jerusalem belum lama ini sekitar setengah tahun yang lalu sehingga menyebabkan terjadinya kerusuhan. Kerusuhan itu muncul sebetulnya karena Israel mau mengosongkan beberapa rumah di suatu daerah tertentu dengan alasan dulu orang Yahudi tinggal disitu sebelum tahun 1947, dan Jerusalem sudah termasuk Israel sehingga mereka boleh kembali,” terangnya. Terkait hal ini, ia menceritakan pengalamannya sendiri ketika ia dan keluarga terusir akibat Perang Dunia ke-2. “Saya sendiri mengalami pengusiran juga sebagai hukuman terhadap Jerman karena Perang Dunia ke-2. Saat itu akhirnya kami ke Cekoslovakia, kami dibawa ke kamp pengungsi dsb. Tempat saya dulu diisi dengan orang-orang Polandia yang disuir dari Uni Soviet Barat waktu itu. Jadi hilang semua keluarga saya. Padahal kami keluarga bangsawan, kami punya tanah cukup banyak, itu hilang semua. Tapi Jerman sudah mengakui itu, tidak lagi menuntut,” kisahnya. “Saya mendukung posisi Vatikan mengenai Jerusalem untuk diinternalisasikan di bawah PBB, sebab Jerusalem merupakan kota suci tiga agama,” tegasnya. Menyinggung tentang bantuan Rumah Sakit Indonesia yang sudah dibangun rakyat Indonesia di Jalur Gaza, Palestina, Romo Magnis menyatakan dukungannya terhadap program RS Indonesia yang menurutnya sebuah langkah
MER-C dan Pembaca Republika Bantu Perlengkapan Sekolah untuk Anak-anak Palestina

MER-C dan Republika kembali bekerjasama menyalurkan bantuan untuk rakyat Palestina. Kali ini bantuan yang diberikan dalam bentuk perlengkapan sekolah untuk anak-anak. Paket bantuan berisi perlengkapan sekolah lengkap yang terdiri dari tas, sepatu, seragam (kemeja/atasan), celana panjang jeans, buku tulis, buku gambar, pensil warna, tempat pensil, dan alat-alat tulis. Sasaran penerima bantuan adalah anak-anak tingkat Sekolah Dasar di Jalur Gaza yang membutuhkan seperti yatim, anak dari keluarga dhuafa, dan dari keluarga syuhada. Sebanyak total 300 paket perlengkapan sekolah didistribusikan secara langsung oleh Relawan MER-C Cabang Gaza ke sekolah-sekolah di Jalur Gaza. Sebanyak 200 paket diantaranya merupakan donasi dari Pembaca Republika dan sisanya sebanyak 100 paket merupakan donasi dari masyarakat Indonesia melalui MER-C. Bantuan ini diharapkan dapat menambah semangat anak-anak Gaza untuk sekolah dan mengejar cita-cita mereka. Keceriaan terpancar dari wajah polos dan suci anak-anak Gaza saat menerima bantuan. Ungkapan terima kasih Indonesia, terima kasih MER-C dan terima kasih Pembaca Republika mereka sampaikan atas perhatian yang tak pernah berhenti dari rakyat Indonesia. Bantuan dan Donasi untuk Program-program Kemanusiaan Gaza – Palestina dapat disalurkan melalui: BSI – BSM, 700.290.5803 BCA, 686.033.5555 Bank Mandiri, 124.000.3753.754 Semua rekening atas nama:Medical Emergency Rescue Committee Simak tayangannya di MER-C Indonesia https://youtu.be/l8kDPPY-OYI Info : MER-C IndonesiaCall Center : 0811990176FB dan Youtube : MER-C IndonesiaIG dan Twitter : @mercindonesia
MER-C Apresiasi Langkah Denmark Membantu Palestina

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia menyampaikan apresiasinya yang tinggi atas langkah Denmark memberikan bantuan kepada Palestina. Bantuan Denmark berupa dana hibah dan kemitraan dilakukan dalam rangka mendukung upaya Palestina memperjuangkan kemerdekaannya. Apresiasi ini disampaikan oleh Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad secara tertulis kepada Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen melalui surat yang dikirimkan ke Kedutaan Besar Denmark di Jakarta, Selasa/12 Oktober 2021. “Kami memberikan apresiasinya setinggi-tingginya kepada Pemerintah dan rakyat Denmark atas langkah yang telah diambil untuk membantu Palestina. Kesepakatan bantuan yang diberikan berupa dana hibah dan kemitraan antara Denmark dan Palestina adalah sebuah langkah berani dan nyata dalam upaya mendukung upaya Palestina memperjuangkan kemerdekaannya. Hal ini menunjukkah sikap tegas Denmark yang berpihak kepada kemanusiaan dan keadilan serta menolak bentuk penjajahan yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina,” tulisnya. Bantuan dan kemitraan seperti ini, tulisnya, tentu akan membantu rakyat Palestina meningkatkan kapasitas rakyatnya, meningkatkan perekonomian, memperluas pembangunan di berbagai bidang, sehingga Palestina dapat menjadi bangsa yang mandiri, merdeka dan berdaulat, sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Sarbini berharap langkah yang telah dilakukan Denmark bisa diikuti oleh banyak negara lainnya di dunia. “Kami berharap langkah yang telah dilakukan Denmark bisa diikuti oleh banyak negara lainnya di dunia sebagai bentuk dukungan terhadap kemanusiaan dan perdamaian serta perlawanan terhadap penjajahan,” tambahnya. “Negara-negara peduli Palestina seperti Denmark, kami harapkan dapat memberikan tekanan kepada Israel untuk menghentikan tindakan ilegalnya di Tepi Barat, yaitu perampasan dan penghancuran properti warga Palestina, dsb,” tegas dokter yang sudah berpengalaman di berbagai wilayah perang dan bencana. Lebih lanjut, mengenai perdamaian antara Palestina dan Israel melalui solusi dua negara, dalam suratnya, Sarbini juga sangat mengapresiasi hal ini dimana Denmark menjadi salah satu negara yang mendukung solusi ini. “Semoga Denmark dapat terus menyuarakan hal ini di forum-forum internasional, sehingga solusi dua negara bisa segera terwujud.” MER-C sendiri adalah NGO Indonesia yang memiliki concern terhadap masalah Palestina terutama dalam aspek kemanusiaan dan kesehatan. Salah satu bentuk komitmen MER-C untuk Palestina adalah dengan membangun Rumah Sakit di Bayt Lahiya, Jalur Gaza yang diberi nama Rumah Sakit Indonesia. Pembangunan Rumah Sakit Indonesia yang sudah berlangsung sejak tahun 2009, sampai saat ini masih terus dilakukan pengembangan-pengembangan yang diperlukan untuk meningkatkan dan memperluas kapasitas pelayanannya. Jakarta, 12 Oktober 2021 MER-C Indonesia
Wakil Ketua MPR RI : Konflik Palestina Bukan Perang Agama, Ini Masalah Kemanusiaan

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat menekankan bahwa apa yang terjadi di Palestina bukanlah perang agama, bukan pertikaian muslim dan non muslim, namun ini adalah masalah kemanusiaan. Ia juga mengapresiasi apa yang telah dilakukan MER-C di Palestina sebagai wujud dari pelaksanaan konsensus kebangsaan yang menjadi amanah dari para pendiri bangsa, yaitu menjaga perdamaian dunia. Hal ini disampaikannya saat menerima kunjungan Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad dan Tim di rumah dinasnya, Kamis/23 September 2021. Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 45 menit tersebut, kedua belah pihak berdiskusi mengenai masalah Palestina. Mewakili MER-C, Sarbini Abdul Murad menyampaikan progress program MER-C di wilayah Jalur Gaza serta kendala yang dihadapi saat ini yaitu masih sulitnya perizinan masuk ke Jalur Gaza untuk menindaklanjuti program pengembangan RS Indonesia di sana. Menanggapi paparan Ketua Presidium MER-C, Wakil Ketua MPR RI periode 2019 – 2024 ini mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh MER-C di Palestina yang menurutnya merupakan pelaksanaan konsensus kebangsaan dan UUD 1945 dalam rangka ikut mewujudkan perdamaian dunia. Ia juga menekankan bahwa masalah Palestina bukan pertikaian muslim dan nonmuslim, namun merupakan masalah kemanusiaan yang menjadi tanggung jawab semua. “Saya sendiri mengikuti perjalanan program MER-C di Palestina dari pembicaraan awal sejak 3-4 tahun lalu sejak saya masih di Media Grup. Saat ini ada dua saya melihat apa yang dilakukan MER-C dalam konteks kapasitas saya sekarang. Kita mengenal yang namanya konsensus kebangsaan. Salah satu yang jelas-jelas ada di dalam konsensus kebangsaan, ada dalam pembukaan UUD 1945 adalah ikut melaksanakan tercapainya perdamaian dunia. Itu tugas dan tanggung jawab kita menurut saya. Sebagai warga negara yang baik, yang memegang teguh janji-janji kita terhadap konsensus kebangsaan, yang dilakukan MER-C sesungguhnya melaksanakan betul apa yang menjadi amanah dari para founding fathers, amanah kita dan tugas kita sebagai warga negara untuk ikut menjaga terciptanya perdamaian dunia dalam konteks negara. Saya betul-betul mengapresiasi rekan-rekan semua yang tergabung di MER-C yang terpanggil untuk bergerak,” ujarnya. “Gaza bukan pertikaian muslim dan nonmuslim, ini betul-betul masalah politik. Tapi di atas itu semua saya melihat ini masalah kemanusiaan. Dengan cara kita masing-masing memiliki tugas untuk bisa mengambil peran dan tanggung jawab. Saya kira kehadiran MER-C sangat baik, membantu kita semua untuk meluruskan berbagai isu yang beredar atau terutama memberikan pemahaman sehingga kita bisa meletakkan permasalahan yang ada di Gaza Palestina ini pada konteks yang tepat. Kehadiran MER-C merepresentasikan keberadaan bangsa kita, menjalankan apa yang diamanahnya kepada kita sebagai warga negara dan juga sebagai manusia,” tambahnya. Mengenai peran pemerintah, ia juga menjelaskan bahwa Pemerintah sudah mengambil posisi dan peran, Menlu RI juga sudah aktif berbicara dan mengambil peran. Namun menurutnya, konflik Palestina bukan sebuah konflik yang sederhana, cukup kompleks dan merupakan sebuah perjuangan kemanusiaan. “Pemerintah dalam konteks politik luar negeri kita, sepanjang yang saya ketahui sudah mengambil posisi dan peran. Saya rasa Menlu kita sudah cukup aktif berbicara. Tapi kita juga tahu bahwa konflik Palestina ini bukan sebuah konflik yang sederhana, ini cukup kompleks, sekali lagi ini sebuah perjuangan kemanusiaan. Ini salah satu tugas kita semua, bukan hanya pemerintah, yaitu memberikan pemahaman yang tepat dan benar kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk bisa melihat dan menempatkan masalah Palestina sesuai konteksnya. Saya kira ini baru bisa selesai kalau memang seluruh bangsa bersama-sama bersatu menyelesaikannya,” tegasnya. Untuk itu, Lestari berharap dan mengajak agar semua pihak tidak lelah menyuarakan hal ini sehingga gerakan membela Palestina bisa lebih luas tidak terbatas sekat-sekat agama. “Marilah kita tidak lelah menyuarakan ini kepada saudara-saudara kita seluruh masyarakat Indonesia bahwa sekali lagi ini bukan perang agama, ini betul-betul murni masalah kemanusiaan, sehingga dengan demikian gerakan-gerakan untuk membela Palestina bisa kita rangkul secara lebih luas tidak terbatas sekat-sekat agama. Seluruh warga Indonesia yang memiliki perhatian dan simpati bisa terlibat. Yang kita kedepankan adalah peran kita sebagai warga dunia dan tugas kita untuk menjaga perdamaian dunia,” ujarnya. Sebelumnya pada 10 Juli 2019, Lestari Moerdijat dalam kapasitasnya saat itu sebagai Deputy Chairman Media Group telah menyerahkan donasi dari Media Group kepada MER-C sebesar Rp 6.507.911.514,- sebagai wujud dukungan untuk pembangunan tahap 2 RS Indonesia di Gaza, Palestina. Berkat dukungan dari seluruh rakyat Indonesia, pembangunan tahap dua untuk membangun lantai 3 dan 4 RS Indonesia di Gaza sudah selesai pada pertengahan tahun 2020 lalu dan kini dalam proses pengadaan alat-alat kesehatan. MER-C sejak beberapa waktu lalu telah mempersiapkan Tim relawannya untuk bertugas selanjutnya ke Gaza Palestina untuk mengawasi proses pengadaan alat kesehatan serta rencana pengembangan RS Indonesia ke depan. Namun keberangkatan Tim hingga saat ini belum bisa terlaksana karena masih terkendala izin masuk. Jakarta, 24 September 2021Medical Emergency Rescue Committee
Sejumlah Alat Kesehatan Tiba di Rumah Sakit Indonesia Gaza

Organisasi sosial kemanusiaan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) selesai melaksanakan pembangunan tahap 2 Rumah Sakit Indonesia yang berlokasi di Bayt Lahiya, Gaza, Palestina. Pembangunan tahap 2 tersebut dilakukan untuk menambah daya tampung dikarenakan kepadatan pasien di Rumah Sakit terbesar kedua di Jalur Gaza itu. Setelah selesainya pembangunan tahap 2 tersebut, saat ini sejumlah alat kesehatan sudah mulai tiba di Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza. Perlu diketahui bahwa pembangunan tahap 2 Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza telah selesai pada Agustus tahun lalu, pembangunan tahap 2 untuk membangun lantai 3 dan lantai 4 sendiri memakan waktu sekitar 1,5 tahun. Site Manajer Rumah Sakit Indonesia, Ir. Edy Wahyudi Darta mengatakan bahwa ada beberapa alat kesehatan yang sudah tiba di Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza dan Edy juga menyebutkan bahwa sebagian besar alat-alat kesehatan tersebut berasal dari Turki dan sebagian kecilnya berasal dari China. “Alat-alat kesehatan yang sudah sampai di Rumah Sakit Indonesia di jalur Gaza itu adalah alat dari jenis medical dan office furniture package, yaitu ada beberapa cabinet, diantaranya cabinet farmasi, cabinet linen, kemudian juga cabinet instrument untuk endoscopy, kemudian trolley instrument, trolley laundry, kemudian trolley medicine, dan table bedside dan untuk yang sudah saya sebutkan, yang sudah sampai itu sebagian besar berasal dari Turki dan ada yang sebagian kecil dari China. Dan alat-alat yang belum sampai ada tiga paket, yang terdiri dari paket endoscopy, kemudian paket ICCU, dan juga paket untuk medical equipments,” katanya. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa untuk masuk ke Jalur Gaza saat ini bukanlah hal yang mudah. Hal ini tentu saja menjadi salah satu hambatan bagi alat-alat kesehatan untuk bisa sampai dengan cepat ke Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza. Kendati demikian, Edy Wahyudi selaku Site Manajer Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza terus melakukan pemantauan kepada alat-alat kesehatan lain yang sampai saat ini belum sampai di Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza tersebut. “Sebagian memang masih dalam perjalanan dan memang perlu kita ketahui bahwa izin masuk untuk peralatan-peralatan medis di Jalur Gaza Palestina ini cukup rumit, karena kita harus melalui pemeriksaan border atau melalui perbatasan Israel. Semua harus melalui Israel, baik pengajuan izinnya ataupun pemeriksaannya. Untuk pengajuan izin dan pemeriksaannya saja itu kalau tahap pertama yang lalu itu bisa mencapai 4 – 6 bulan dan itu di luar waktu perjalanan, Jadi misalkan peralatan sudah sampai di Israel, maka itu harus tunggu sampai 4-6 bulan pemeriksaannya. Dan untuk pemantauannya, kita memang terus pantau, baik dari Jakarta maupun dari Gaza dan memang di Gaza sendiri itu sudah menggunakan tenaga engineer dibidang medical, dibidang peralatan medis. Beliau masih terus memantau tentang kedatangan peralatan tersebut,” ujarnya. Selain itu, Edy Wahyudi juga mengatakan bahwa hambatan lain mengenai keterlambatan kedatangan alat-alat kesehatan juga dipengaruhi oleh side effect dari pandemi Covid-19 ini. “Kita tahu bahwa dunia sedang mengalami wabah, sehingga side effect atau dampaknya itu mendunia. Termasuk pelabuhan-pelabuhan yang sekarang itu berkurang aktivitasnya. Kemudian di industri medisnya sendiri itu juga kan mereka mengurangi aktivitas, baik dari segi personalnya maupun dari segi waktu mereka bekerja,” tambahnya. Dalam wawancara yang dilakukan melalui telepon tersebut, Edy Wahyudi juga mengatakan bahwa kondisi Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza ini pasiennya cukup padat setelah mengalami pembangunan tahap 2 dan walaupun belum dibuka secara resmi dan belum difungsikan secara maksimal karena belum lengkapnya peralatan medis, namun beberapa ruangan sudah diminta oleh Kementerian Kesehatan untuk bisa dipakai. “Rumah sakit Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. Alhamdulillah menjadi Rumah Sakit rujukkan dan menjadi Rumah Sakit utama dan terbesar kedua di Jalur Gaza, Wilayah bagian Utara. Kondisi Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza saat ini, pasiennya cukup padat dan setelah mengalami pembangunan kembali lantai 3 dan lantai 4 dan memang belum berfungsi karena peralatan-peralatan medis masih dalam perjalanan. Tetapi ada sebagian ruangan yang sudah diminta oleh Kementerian Kesehatan untuk bisa dipakai sementara untuk kegiatan-kegiatan mereka,” ujarnya. Jakarta, 21 September 2021Medical Emergency Rescue Committee
Terima Daging Qurban, Warga Gaza Doakan Indonesia

MER-C Indonesia kembali mengadakan program qurban di Jalur Gaza, Palestina. Situasi pandemi tidak menyurutkan perhatian dan kepedulian masyarakat Indonesia untuk turut berqurban dan berbagi kebahagiaan dengan saudara-saudara mereka di wilayah terblokade ini. Pada Hari Raya Idul Adha tahun 1442 H/2021 M ini, MER-C menerima amanah hewan qurban dari masyarakat Indonesia sebanyak tiga ekor sapi dan 29 ekor domba. “Kami mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Indonesia yang telah mempercayakan amanah qurban untuk masyarakat Gaza melalui lembaga MER-C. Meski di tengah situasi pandemic yang cukup berat di negara kita, ternyata perhatian serta kepedulian masyarakat Indonesia terhadap saudara-saudara mereka di Jalur Gaza Palestina senantiasa ada,” ujar Rima Manzanaris, Manajer Operasional MER-C. Pelaksanaan program qurban dilakukan langsung oleh relawan Indonesia yang bertugas di Jalur Gaza. Tiga relawan Indonesia di sana memimpin pelaksanaan program qurban dari Indonesia untuk Palestina, dibantu oleh warga lokal. Seluruh hewan qurban amanah dari masyarakat Indonesia sudah selesai didistribusikan kepada warga Gaza yang berhak menerimanya. Sasaran penerima daging qurban adalah keluarga faqir dan keluarga syuhada yang tersebar di Gaza bagian utara, tengah, selatan, barat, timur serta di lingkungan RS Indonesia. Masyarakat Gaza, Palestina penerima daging qurban sangat berbahagia dan antusias dalam menerima daging qurban dari saudara-saudara mereka di Indonesia. “Mereka menitipkan salam untuk saudara-saudara mereka di Indonesia dan mendoakan semoga warga Indonesia bisa segera diberikan kemampuan melalui cobaan pandemi Covid-19 yang saat ini sedang melanda,” ujar Rima. Qurban adalah salah satu program rutin tahunan yang diselenggarakan MER-C melalui cabangnya di Jalur Gaza. Program qurban dan program-program kemanusiaan lainnya seperti bantuan Ramadhan, musim dingin, bantuan sekolah dan bantuan insidental lainnya sudah berjalan sekitar 10 tahun, sejak MER-C memulai melakukan pembangunan Rumah Sakit Indonesia di wilayah ini. Program Rumah Sakit Indonesia sampai saat ini masih terus berjalan dan terus mengalami pengembangan sesuai dengan kebutuhan yang ada. Begitupun program-program kemanusiaan akan terus dilakukan sebagai bentuk dukungan nyata dan berkesinambungan bagi rakyat Palestina, hingga Palestina meraih kemerdekaannya.
MER-C Bertemu Dubes Palestina Sampaikan Rencana Pembangunan Poli Spesialis RS Indonesia

Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad bertemu dengan Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Zuhair Al-Shun, Kamis/24 Juni 2021. Bertempat di Kedutaan Besar Palestina di Jakarta, dalam pertemuan tersebut Ketua Presidium MER-C menyampaikan rencana pembangunan Poli Spesialis RS Indonesia yang terletak di Bayt Lahiya, Jalur Gaza bagian Utara. “Kami menjadikan program di Palestina sebagai program yang berkelanjutan, terus menerus. Kami fokus pada pembangunan rumah sakit di Palestina, terutama di Jalur Gaza,” ungkap Sarbini. “Alhamdulillah RS Indonesia di Gaza sudah beroperasional dan insya Allah ke depan kami akan membangun poli spesialis yang akan dibangun di depan RS Indonesia. Tanah wakaf untuk pembangunan Poli Spesialis sudah kami terima seluas kurang lebih 7.000 meter persegi,” tambahnya. Untuk merealisasikan rencana tersebut, menurutnya, MER-C akan mengirimkan Tim Medis dan Tim Insinyur ke Jalur Gaza guna melakukan penjajakan pembangunan poli spesialis RS Indonesia. Duta Besar Palestina untuk Indonesia, Zuhair Al-Shun menyampaikan apresiasinya terhadap upaya-upaya yang telah dilakukan oleh MER-C Indonesia. “Kami sangat mengapresiasi upaya yang dilakukan oleh MER-C Indonesia berupa pembangunan fasilitas kesehatan untuk kemaslahatan warga Palestina, terlebih setelah serangan Israel terhadap Palestina dan rakyat sipil,” ujarnya. Duta Besar Palestina selanjutnya menegaskan dukungannya pada program ini dan akan melakukan yang terbaik untuk dapat memfasilitasi rencana pengiriman Tim MER-C ke Jalur Gaza guna terwujudnya rencana tersebut. Sebelumnya, pada tahun 2019 – 2020, MER-C telah menyelesaikan pembangunan tahap 2 RS Indonesia, yaitu pembangunan 2 lantai tambahan berupa lantai 3 dan lantai 4 RS Indonesia. Saat ini, MER-C tengah melakukan proses pengadaan alat kesehatan untuk kedua lantai tersebut. Sebagai wujud komitmen jangka panjang untuk Palestina, pengembangan RS Indonesia akan terus dilakukan sesuai dengan kebutuhan, rencana terdekat adalah pembangunan Poli Spesialis yang posisinya akan berada di depan bangunan RS Indonesia saat ini. Koordinasi dengan berbagai pihak terkait rencana ini terus dilakukan. Sarbini berharap izin untuk Tim MER-C dapat segera didapat dan Tim bisa berangkat dalam waktu dekat.
Perang Tak Goyahkan Tekad Bapak dan Anak Jadi Relawan di Gaza

Bekerja sebagai relawan sudah menjadi candu bagi Edy Wahyudi. Aktivitasnya selama bertahun-tahun membantu sesama ‘menular’ ke putra pertamanya, Fikri Rofi’ul Haq. Bapak dan anak sempat bersama-sama menjadi relawan di Gaza, Palestina. VOA — Edy Wahyudi sudah beberapa kali aktif menjadi relawan dan terjun dalam tim kemanusiaan ketika terbuka kesempatan ke Gaza, Palestina. Ia bergabung dengan Medical Emergency Rescue Committee, yang lebih dikenal dengan singkatannya MER-C, yang kala itu membutuhkan banyak relawan untuk pembangunan rumah sakit Indonesia di Gaza. “(Menjadi) relawan karena panggilan hati dan dalam perjalanan akhirnya kami terpanggil untuk memberi sumbangsih pemikiran, sumbangsih fisik untuk pengawasan rumah sakit Indonesia di Gaza,” ungkapnya. Edy yang sehari-hari berkecimpung dalam bisnis konsultan dan pembangunan berangkat ke Gaza pada 2011. Perannya adalah manajer proyek. Ketika pembangunan fisik rumah sakit belum tuntas pada 2014, Gaza berperang dengan Israel selama 52 hari. Edy mengenang ketakutannya kala itu. “Ya namanya orang sipil, gemetar juga lah mendengar suara bom. Kaget-kaget. Karena, waktu itu di seberang jalan masih ada lokasi pelatihan para pejuang. Sempat jatuh di situ berkali-kali, bom-bom besar dari F16, dan konstruksi rumah sakit sampai mengayun, saking dahsyatnya,” lanjutnya. Ir. Edy Wahyudi di Gaza. Pengalaman menjadi relawan dan dalam binis pembangunan mengantarnya menjadi relawan selama 10 tahun di Gaza, mengawasi pembangunan rumah sakit Indonesia. (foto: courtesy) Tidak ada pihak yang menjamin keselamatan relawan. Walaupun diliputi ketakutan dan kekhawatiran, tidak ada satupun relawan yang meminta pulang. Memang ada imbauan agar relawan keluar tetapi Edy memilih berlindung dalam bangunan setengah jadi rumah sakit. Alasannya… “Kita secara akidah bahwa mati itu tidak akan maju, tidak akan mundur. Kita tawakal saja, pasrah, karena yang kita bangun juga rumah sakit, untuk kemanusiaan,” kata Edy. Setelah beberapa hari perang tak juga usai, ia dan tim yang terdiri dari 20an relawan melanjutkan pekerjaan yang tertunda di sela-sela guncangan dan dentuman bom. Kesadaran bahwa rumah sakit akan sangat dibutuhkan, mendorong semangat kerja mereka. Rumah sakit Indonesia akhirnya tuntas. Dari rencana tiga lantai, bangunan itu menjadi lima lantai. Seiring pertambahan bangunan, masa tugas Edy bertambah. Ia terus di sana meskipun rumah sakit itu tuntas, sudah dilengkapi alat-alat medis, dan sudah diresmikan wakil presiden ketika itu, Jusuf Kalla. Setelah berada di Gaza 10 tahun, Edy, usia 51 tahun, pulang. Yang membuatnya bertahan, walaupun sempat dilanda ketakutan semasa perang? “Sederhana saja, saya ingin bermanfaat untuk orang lain,” tuturnya. Selama bertugas di Gaza, Edy sempat pulang, menemui istri dan anak-anaknya. Ia tidak menyangka, anak pertamanya Fikri Rofi’ul Haq, akan mengikuti jejaknya. Tiga pemuda Indonesia yang kini menjadi relawan MER-C di Gaza, Palestina. Fikri paling kiri. (foto: courtesy) Selepas Madrasah Aliyah, setingkat SMU, Fikri memenuhi kewajiban pondok pesantren, mengabdi pada masyarakat selama satu tahun. Setelah itu, seperti santri umumnya, Fikri mendaftar ke beberapa institusi di luar negeri untuk melanjutkan pendidikan. Ia mendaftar ke Sudan dan Mesir. Ia juga mendaftar menjadi relawan MER-C. Fikri kecewa karena tidak diterima di kedua institusi pendidikan yang diincar. “Nah, alhamdulillah-nya beberapa bulan kemudian ada berita kalau saya akan diberangkatkan (ke Gaza). Jadi, ya alhamdulillah banget. Jadi, takdir gitu yang membawa saya ke sini. Tidak pernah menyangka,” tukas Fikri. Fikri, yang ketika itu berusia 20 tahun, berangkat ke Gaza pada Februari 2020 sebelum dunia ‘lumpuh’ akibat pandemi virus corona. Di Gaza, ia sempat bertemu ayahnya. Selama beberapa bulan keduanya menjadi relawan untuk membangun rumah sakit Indonesia. Edy kembali ke Indonesia pada September 2020. Fikri Rafi’ul Haq dalam salah satu kegiatan sebagai relawan di Gaza, mengantar dan menanam pohon zaitun, salah satu sumber nafkah rakyat Palestina. (foto: courtesy) Ketakutan yang dialami Edy hampir tujuh tahun lalu dirasakan Fikri ketika Gaza dan Israel kembali terlibat perang, pertengahan Mei. “Takut banget. Hampir setiap jam kami mendengar suara roket dari pejuang Palestina. Kalau setiap malam, kami merasakan gempuran dari serangan Israel. Saat itu kami memang takut,” ujarnya. Fikri, usia 22 tahun, dan dua pemuda relawan Indonesia, tinggal di Wisma Indonesia di sebelah rumah sakit Indonesia. Mereka tidak pernah keluar selama 11 hari agresi. Itulah pertama kali mereka mengalami langsung peperangan. Serangan udara Israel menghancurkan sebuah rumah di Gaza yang menewaskan satu keluarga (foto: dok). “Apalagi waktu itu yang menjadi salah satu target adalah rumah warga yang sekarang sudah rata dengan tanah, yang hanya beberapa ratus meter dari rumah sakit. Waktu itu kami sempat keluar, melihat jendela. Memang ledakannya sangat besar sampai-sampai anginnya itu membuat kuping sakit,” kenangnya. Ketakutan dan rasa sakit tidak menggoyahkan tekad Fikri untuk bertahan di Gaza. Persis sikap ayahnya, Edy pada 2014. Ia malah berfokus menyelesaikan tugas, menyiapkan dan mendistribusi bantuan yang dipercayakan masyarakat Indonesia melalui MER-C. Ia juga memusatkan perhatian sebagai mahasiswa semester kedua pada Islamic University of Gaza. Ia bertekad baru akan pulang kalau sudah meraih sarjana. Fikri (kedua dari kanan) bersama para pemuda Indonesia yang menjadi relawan di Palestina. (foto: courtesy) Rima Manzanaris adalah manajer pelaksana MER-C di Jakarta. Sejauh ini, katanya, sudah dua bapak yang anaknya terjun juga sebagai relawan MER-C. Menurutnya, itu adalah suatu kebetulan. “Bapaknya memang relawan yang loyal, punya komitmen yang besar, dan ternyata anaknya juga punya keberanian,” puji Rima. Sebelum berangkat, kata Rima, semua relawan selalu diberi gambaran mengenai situasi di lapangan dan diingatkan bahwa mereka tidak setiap saat bisa pulang. Mereka juga diharuskan mengantongi izin orang tua. “Anak-anak ini walaupun masih muda, mereka sudah siap.” Fikiri (paling kanan) bersama anak-anak dan pemuda Gaza yang akan membantunya menanam pohon zaitun bantuan masyarakat Indonesia. (foto: courtesy) Pasca serangan bulan lalu, relawan berdatangan ke Gaza. Mereka membersihkan puing-puing ribuan rumah dan bangunan dan mencoba memperindah kembali kota di pesisir Laut Tengah itu. Fikri tentu saja ikut membantu setelah menyempatkan diri pergi ke pantai bersama pemuda setempat pasca Idul Fitri. “Kan sekarang musim panas. Juga mereka biasanya ke pantai. Istirahat habis perang inilah, ibarat kata,” ujar Fikri. Sementara Edy, yang terus menjadi relawan sepulangnya dari Gaza, merasa terpanggil untuk kembali ke Palestina. Bukan untuk menemui putranya melainkan membantu perluasan RS Indonesia. [ka/ab] Sumber : https://www.voaindonesia.com/a/perang-tak-goyahkan-tekad-bapak-dan-anak-jadi-relawan-di-gaza/5914306.html