Bagaimana Menyalurkan Solidaritas dan Membangun RS di Palestina ?

Serangan Israel di penghujung bulan Ramadan dan Idul Fitri terhadap Palestina membangkitkan reaksi warga negara Indonesia dan Internasional. Solidaritas dunia diwujudkan dalam bentuk kepedulian ingin membantu donasi kepada Palestina. Hal tersebut membutuhkan wadah penyaluran bantuan yang amanah dan memastikan bahwa bantuan benar-benar sampai. Untuk menyalurkan bantuan ke Palestina tidaklah mudah, apalagi ke Gaza. MER-C membutuhkan waktu 5 tahun untuk merampungkan pembangunan RS Indonesia di Gaza sampai diresmikan pada tahun 2016 oleh Pak Jusuf Kalla sebagai wakil dari pemerintah. Hingga kini genap 5 tahun RS Indonesia di Gaza memberikan banyak manfaat bagi warga Gaza untuk menolong korban-korban konflik dan peperangan. Suka duka pembangunan RS Indonesia di Gaza begitu mewarnai perjuangan relawan MER-C. Mulai dari pengumpulan donasi yang berasal dari seluruh rakyat Indonesia baik yang miskin hingga yang kaya, dari majlis taklim, ibu-ibu arisan, tabligh akbar, hingga gereja-gereja ikut mendonasikan. Kisah-kisah anak-anak sekolah SD, SMP yang mengumpulkan uang recehan untuk disumbangkan, tukang-tukang kaki lima yang ikut menggalang dana demi terwujudnya RS Indonesia di Gaza. Pembangunan RS Indonesia adalah pertolongan Allah SWT semata, bukan karena kehebatan manusia. Tak terbayangkan membangun RS di Gaza, suatu tempat yang diisolasi dan penuh dengan konflik. Untuk masukpun tidak mudah apalagi membangun RS. Untuk datangnya pertolongan Allah SWT tersebut tentu ada syaratnya, keikhlasan, kesungguhan, upaya keras, menjaga amanah harus dilakukan. Para sukarelawan harus “stay” di dalam 1 – 2 tahun untuk melakukan dan mengawal proses pembangunan. Proses pembangunan dimulai dengan melakukan lobi yang alot kepada pemerintah Palestina di Gaza. Rasa curiga warga Gaza yang tinggi terhadap orang asing yang baru masuk membuat upaya tidak mudah. Bisa dipahami mengapa rasa curiga mereka tinggi. Selain banyak spionase yang menyamar organisasi kemanusiaan, juga banyaknya orang-orang yang “jualan” penderitaan rakyat Gaza untuk menarik donasi tanpa jelas penyaluran amanahnya. Mereka ini para broker, bisa perorangan solo karir, bisa juga berupa organisasi. Sementara itu mereka tahu bahwa animo warga dunia untuk membantu Palestina sangat besar, namun tidak bisa masuk ke Gaza atau Palestina. Alhamdulillah MER-C sudah melalui ujian tersebut dan mendapatkan tempat di hati warga Gaza, karna wujud nyata bantuan berupa RS megah di Gaza. Untuk mendapatkan tanah tempat dibangunnya RS juga memerlukan lobi yang alot. Tidak akan bisa kalau kita hanya transfer dana mempercayakan kepada orang lokal untuk mewujudkan RS. Tarik menarik, tawar menawar mulai dari posisi tanah, status tanah, tender pekerjaan dll harus dihadapi dengan keteguhan hati dan tekad membaja. Setiap pekerjaan harus dikawal sendiri oleh para sukarelawan, walaupun ada juga memperkerjakan orang lokal Akhirnya alhamdulillah di penghujung tahun 2015 RS tersebut rampung, menjadi kebanggaan rakyat Indonesia. Jadi sebagai hikmah pelajarannya dalam mendonasikan dan membangun apapun di Palestina : 1. Harus “stay” di dalam Palestina, mengawal2. Jangan menggunakan broker-broker solo karir tanpa audit atau organisasi yang banyak beriklan sementara tidak ada wujud nyata bantuan3. Mengetahui situasi geopolitik di Palestina, status kepemilikan tanah dll4. Berjamaah, bahu membahu dengan para sukarelawan5. Niat ikhlas, tangguh dan istiqomah Semoga niat-niat baik rakyat Indonesia dalam membantu warga Palestina bisa terealisasikan dengan baik dan amanah. Dan mudah-mudahan para dermawan yang mendonasikan untuk pembangunan RS Indonesia di Gaza mendapat pahala selayaknya para pejuang Palestina Aamiin YRA Salam Kemanusiaan Dr. Yogi Prabowo, SpOTPendiri, Presidium dan Relawan MER-C
MER-C Mengutuk Aksi Brutal Israel di Masjid Al Aqsa

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mengutuk keras aksi brutal tentara Israel terhadap warga sipil Palestina yang terjadi di kompleks Masjid Al Aqsa dan distrik Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur, Jumat (7/5) malam. Hal ini disampaikan oleh Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad. “Kami mengutuk keras aksi brutal tentara Israel kepada warga Palestina yang sedang menunaikan sholat tarawih di kompleks Masjid Al Aqsa yang telah menyebabkan ratusan orang terluka,” ujar Sarbini. “Bulan puasa adalah bulan penuh kedamaian dan Israel telah merusak kesakralan bulan suci Ramadhan. Ini adalah bentuk penghinaan terhadap umat Islam dan terhadap nilai-nilai kemanusiaan,” tambahnya. Selain penyerangan di Masjid Al Aqsa, Ketua Presidium MER-C itu juga mengecam pengusiran warga Palestina oleh tentara Israel di wilayah Sheikh Jarrah dan perampasan secara ilegal rumah-rumah mereka. “Untuk kesekian kalinya, Israel telah melakukan pelanggaran hukum internasional. Dunia tidak boleh diam. Kami menyerukan agar Dewan HAM PBB jangan hanya jadi penonton dalam hal ini,” tegas Sarbini. “Perlu langkah tegas dan konkrit dalam menahan ambisi Israel mencaplok dan menghancurkan pemukiman Palestina di Sheikh Jarrah,” tambahnya. Menyikapi ketegangan yang terjadi di Tepi Barat, Ketua Presidium MER-C juga berharap Presiden Amerika Serikat terpilih, Joe Biden dapat membuktikan langkah kronkritnya dalam menahan aksi ilegal Israel di pemukiman Sheikh Jarrah.
MER-C Rawat Warga Palestina di Indonesia Pasca Operasi

Cileungsi, MINA – Relawan Lembaga Kemanusiaan Medis Kegawatdaruratan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Dr. Zecky Eko Triwahyudi mengatakan, MER-C merawat dr Fayez, salah seorang warga Palestina yang sedang mengungsi di Indonesia, tepatnya di Pondok Pesantren Al-Fatah, Cileungsi setelah melakukan operasi tulang karena cidera di tangan. “Jadi sistemnya rawat jalan, hari ini MER-C kontrol lukanya, ada jaitan diluar, posisi jaitan bagus sudah kering, cuma masih bengkak, kemudian kita latih untuk gerak di tangan, gerakan otot-ototnya supaya bengkaknya juga berkurang, kalau tidak digerakkan nanti jadi kaku,” Kata Dr. Zecky ketika diwawancarai MINA, Kamis (11/3). “Jahitannya InsyaAllah pekan depan akan dilepas, ” lanjutnya. Kedepannya, pemulihan untuk patah tulang butuh waktu sekitar 2 bulan untuk bisa menyambung kembali. “Kalau kuatnya butuh waktu 4 sampai 6 bulan, tergantung asupan gizinya dan aktivitas dr Fayez, dan beliau harus banyak digerakkan juga, karena yang terlibat patah itu disendi, cuma harus hati-hati sementara ini, karena tulangnya baru nyambung jadi belum terlalu kuat untuk menahan beban, ” ujarnya. Selain dr Fayez, warga Palestina, Walid yang terpapar Covid-19, MER-C juga ikut andil dalam penyembuhannya.“Walid dirawat di RS pemerintah,di situ ada relawan MER-C yang terlibat banyak, ikut memantau dan mengarahkan, ” terang dr Zecky “Doakan saja beliau, dan sudah ada perbaikan, semoga segera pulih dan bisa kembali kerumah, ” tambahnya. Ia berharap, hal itu menjadi pelajaran buat kita untuk bersama-sama mencegah resiko tertular Covid-19, jika merasakan gejala, sebisa mungkin meminimalisir kontak dengan yang lain, dan meminimalisir kemungkinan dampaknya. Sebelumnya, Rumah Sakit (RS) Ridhoka Salma, Bekasi, menggratiskan biaya operasi tulang dari dr Fayez, hal itu karena RS Ridhoka Salma sangat menjunjung tinggi rasa persaudaraan termasuk terhadap muslim Palestina. Selama ini, MER-C dikenal sebagai organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan medis dan mempunyai sifat amanah, profesional, netral, mandiri, sukarela, dan mobilitas tinggi di dalam maupun di luar negeri. MER-C bertujuan memberikan pelayanan medis untuk korban perang, kekerasan akibat konflik, kerusuhan, kejadian luar biasa, dan bencana alam di dalam maupun di luar negeri. MER-C dibentuk oleh sekumpulan mahasiswa Universitas Indonesia yang berinisiatif melakukan tindakan medis untuk membantu korban konflik di Maluku, Indonesia Timur pada Agustus 1999. MER-C merupakan lembaga yang keanggotaannya disebut relawan (unpaid volunteers). (L/Hju/P2) Sumber : https://minanews.net/mer-c-rawat-warga-palestina-di-indonesia-pasca-operasi/
Sarbini: Keputusan Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) Patut Diapresiasi

Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) membuka peluang penyelidikan terhadap Israel atas kejahatan kemanusiaan yang dilakukan terhadap warga Palestina, baik yang berada di Jerusalem Timur, Tepi Barat dan Jalur Gaza. Ini langkah maju dan tepat. Selama ini ada kesan yang sangat mencolok membiarkan kejahatan kemanusiaan dilakukan Israel tanpa tersentuh oleh ICC. Kami kagum atas keberanian Jaksa ICC, Fatou Bensouda, yang akan menyelidik kejahatan perang Israel. Dengan keputusan yang berani ini, dunia mengharapkan tidak ada lagi kejahatan kemanusiaan yang masif terjadi di Palestina. Palestina sudah lama mendambakan kemerdekaannya. Adapun perlawanan yang dilakukan oleh Palestina bertujuaan mendapatkan hak keadilan dan kebebasan serta kemerdekaan sebagai solusi dua negara. Jakarta, 8 Februari 2021 Dr. Sarbini Abdul Murad Ketua Presidium MER-C
MER-C: Jangan Khianati Konstitusi dan Sejarah

SIARAN PERS Menghembus isu Indonesia akan berdamai dengan Israel. Presiden Jokowi kepada Presiden Mahmoud Abbas dengan tegas mengatakan bahwa Indonesia mendukung solusi 2 negara dan tidak akan mengikuti beberapa negara Arab yang berdamai dengan Israel. Langkah tegas Indonesia yang tidak mengakui Israel semakin mempertegas posisi Indonesia sebagai penyokong utama kemerdekaan Palestina. Tapi dibalik itu, disayangkan ada sebagian dari kelompok warganegara yang mengabaikan dan menutup mata realita penjajahan Israel atas tanah Palestina. Dengan intens mereka membina hubungan dengan Israel baik di bidang perdagangan, pendidikan dan lain-lain. Apapun argumentasi yang diutarakan terutama sektor ekonomi, menggambarkan tidak ada empati sama sekali, apalagi kita bangsa yang mengalami penindasan oleh penjajah. Seharusnya kita mesti memahami bahwa menjalin hubungan intens dengan pihak Israel berarti mengkhianati sejarah dan konstitusi. Sebaiknya pemerintah melarang kunjungan warga negara ke Israel, kecuali untuk kunjungan ziarah mungkin masih bisa diterima. Tidak heran kenapa Benjamin Netanyahu yakin Indonesia akan mengikuti langkah beberapa negara Arab yang mengakui Israel, karena ada warga negarayang intens berhubungan baik dengan Israel dan menutup mata akan kebrutalan Israel atas Palestina. Bila tidak dihentikan hubungan gelap ini, tinggal menunggu waktu kita akan takluk dengan tekanan Israel. Dalam hal ini, MER-C mengapresiasi akan konsistensi Indonesia untuk tidak mengakui Israel. Jakarta, 30 Desember 2020 MER-C Indonesia www.mer-c.org
MER-C Selalu Bersama Palestina

Catatan Dokter Ben MER-C sejak tahun 2008 tetap konsisten membantu Palestina. Peristiwa Mavi Marmara yang hampir merenggut nyawa relawan MER-C menjadi saksi sejarah betapa MER-C sungguh-sungguh mengirim Tim Kemanusiaan ke Palestina. Kemudian, MER-C secara kontinu mengirimkan relawan-relawan terbaiknya yang bertugas untuk membangun rumah sakit, bernama Rumah Sakit Indonesia. Tidak hanya membangun rumah sakit, MER-C juga membantu kesulitan lain yang mendera rakyat Palestina. Penderitaan panjang rakyat Palestina menjadi semangat MER-C untuk bisa mengurangi beban berat yang mesti dipikul oleh mereka. Kehadiran panjang relawan MER-C di Palestina secara tidak langsung mewakili 250 juta rakyat Indonesia. Tak terasa sudah lebih 1 dekade MER-C hadir di relung sejarah perjuangan Palestina. Perjuangan panjang untuk memperoleh sebuah negara. Kami mohon doa kepada segenap rakyat Indonesia agar MER-C tetap istiqamah dalam membantu rakyat Palestina. Rumah Sakit Indonesia yang telah berdiri di Gaza Palestina sebagai simbol abadi dukungan rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina. Kepada rakyat Palestina, percayalah bahwa kami selalu ada dalam setiap nafas perjuangan kalian. Jakarta, 28 Desember 2020
Joe Biden dan Harapan Palestina

Terpilihnya Joe Biden sebagai Presiden AS menjadi secercah harapan bagi Palestina. Harapan yang pernah redup akibat kebijakan Trump yang secara vulgar memihak Israel. Keberpihakan Presiden-Presiden AS sebelumnya masih “malu-malu”, tetapi keberpihakan Trump kepada negara zionis ini begitu membabi buta. Jelas ini membuat Palestina berang dan menganggap perundingan yang selama ini dilakukan menjadi sia-sia. Merasa tidak dianggap oleh AS maka secara sepihak Palestina menarik diri untuk berunding dengan Israel karena kepercayaan yang tersisa kepada AS telah lenyap. Trump membuat lubang kekecewaan yang begitu menganga. Pemindahan Kedubes AS ke Jerussalem menjadi titik nadir kemarahan Palestina dan umat Islam. Jared Kushner, menantu Trump sekaligus konseptor dan negosiator untuk memuluskan proposal besar Trump dengan “halus” menawarkan proposal ini kepada negara-negara Arab yang memiliki pengaruh politik kuat di Timur Tengah. Strategi merangkul negara-negara Arab bertujuan untuk menekan dan memaksa Palestina agar suka atau tidak mesti menerima proposal sesat tersebut. Begitu besar tekanan yang dialami oleh Palestina selama Trump menjadi presiden. Belum lagi rencana aneksasi Israel terhadap Tepi Barat dan Lembah Yordan yang sudah lama menjadi incaran Israel karena tanahnya yang subur. Ditambah persoalan negara-negara Arab yang begitu rumit. Lantas isu Palestina menjadi tidak menarik dan dianggap hanyalah persoalan internal Palestina vs Israel. Namun sebaliknya, kekuatan internal menjadi solid pada titik nadir kekecewaan dan lenyapnya harapan solusi dua negara. Tak disangka, kekuatan perlawanan yang dominan di Palestina, dalam hal ini Hamas dan Fatah, kembali merajut persatuan nasional yang selama ini selalu ada kendala untuk mewujudkannya. Menurut saya, persatuan Hamas dan Fatah menjadi hadiah besar bagi perjuangan ke depan. Beberapa kali Persatuan Nasional digelar, tetapi ujungnya justru terjadi perpecahan. Sulit mengajak dua pihak tersebut untuk duduk dan berdiskusi dalam menempuh jalan menuju kemerdekaan. Ketika kami diundang oleh Kedubes Palestina, selalu kami sampaikan tentang Persatuan Nasional yang dapat menjadi senjata dan kekuatan perlawanan oleh Palestina terhadap penjajahan Israel. Dengan adanya Persatuan Nasional, jalan menuju kemerdekaan akan jauh lebih mudah. Segala kendala dapat dipikul bersama. Joe Biden Harapan Baru Banyak analis politik yang agak skeptic terhadap Joe Biden. Berbagai argumen dibedah. Bagaimanapun, Joe Biden adalah sahabat lama Israel berdasarkan pengakuan Benyamin Netanyahu. Selain itu, selama menjadi Wapres Obama, mereka digadang-gadang menjadi harapan bagi Palestina. Namun, dalam perjalannnya mereka juga tidak mampu berbuat banyak untuk solusi dua negara. Akan tetapi, mungkin kali ini kita bisa berharap akan ada cerita baru bagi Palestina. Bagaimanapun, Joe Biden terpilih sebagai Presiden AS karena didukung oleh mayoritas umat Islam AS. Kita akan lihat apakah dia akan memindahkan Kedubes AS kembali ke Tel Aviv atau tidak. Memang saat kampanye, dia mengatakan bahwa Kedubes AS tidak akan dipindahkan ke Tel Aviv. Namun, bisa jadi ini hanya trik untuk menenangkan Israel. Jika Biden mengembalikan Kedubes AS ke Tel Aviv, ini merupakan isyarat kuat AS untuk menjadi perunding yang serius dalam mendorong perdamaian di Timur Tengah. Tetapi sebaliknya, jika Biden tetap membiarkan Kedubes AS di Jerussalem, jelas kebijakannya ke depan tidak jauh berbeda seperti saat dia menjadi Wapres Obama. Memang dalam Pemilu AS kali ini, Israel habis-habisan mem-back up Trump karena dianggap berjasa mendukung semua permintaan Israel dan tutup mata atas segala risiko yang mesti diterima AS. Solusi dua negara dianggap tidak ada oleh Trump. Jadi, wajar sekarang harapan tertuju pada Biden. Kita semua berharap agar Biden bisa mengembalikan marwah dan kepercayaan Palestina terhadap AS yang selama ini lenyap. Semoga …. Hati-hati Trik Licik Israel Ada hal yang dikhawatirkan Israel ketika kelompok perlawanan, seperti Fatah, Hamas, Jihad Islam, dan kelompok perlawanan lain menyatukan langkah dalam menghadapi tekanan Israel. Tak dipungkiri, figur Trump yang sangat memihak Israel menimbulkan kesadaran kolektif dari faksi perlawanan untuk saling bergandengan tangan dalam menghadapi tekanan dari pihak AS dan Israel. Memang selama ini sulit mengikat faksi-faksi perlawanan tersebut dalam wadah persatuan. Telah berkali-kali diadakan perdamaian, tetapi dalam waktu relatif singkat, ikatan perdamaian itu putus dan saling bertentangan lagi. Seruan Persatuan Nasional yang kerap diserukan oleh negara-negara yang bersimpati pada perjuangan Palestina, termasuk juga Indonesia, menjadi mantra rutin. Tokoh-tokoh muslim dunia juga tak kalah gencarnya menyerukan soliditas antarfaksi di Palestina. Namun, cara pandang kelompok-kelompok perlawanan tersebut berbeda dalam mencapai kemerdekaan, ditambah ideologi islamis-nasionalis, nasionalis-sekuler,bahkan juga sosialis-nasionalis. Warna-warni ideologi menjadi sandungan yang tidak ringan dalam menyusun barisan menghadapi tekanan Israel. Sekali lagi kami sampaikan bahwa solusinya adalah Persatuan Nasional yang permanen karena kami meyakini dengan persatuan yang kokoh tak ada rintangan yang tak bisa diatasi. Beberapa hal yang menurut kami mesti diperhatikan untuk mengantisipasi langkah Biden ke depan. 1. Kampanye Biden lebih-kurang sama dengan Obama: tetap pro-Israel, tetapi masih menimbang perasaan Palestina. Ujung proses perdamaian akan dimulai lagi dengan catatan Palestina harus memutuskan hubungan politik dengan Hamas. Pasti ini syarat yang akan diminta Israel. Andai Palestina mengikuti, akan masuk skenario selanjutnya, yaitu mempermainkan perdamian dengan mencari kesalahan Palestina yang ujung-ujungnya tidak ada hasil. 2. Ekspektasi harus terukur dan tidak menggantung berlebihan pada Biden. Walau bagaimanapun, Biden adalah sahabat Israel. Kepentingan Israel tetap menjadi prioritas kebijakan politik luar negeri AS. 3. Melakukan rekonsiliasi nasional di Palestina dengan mengadakan pemilu. Kepada semua pihak, diharapkan dapat menerima hasil pemilu karena pemilu adalah pilihan demokrasi untuk rujuk nasional. dr. Sarbini Abdul MuradKetua Presidium MER-C Ditampilkan di : https://www.republika.id/posts/11866/biden-dan-harapan-palestina Versi Cetak di : Harian Republika, Edisi Senin 23 November 2020
Condolences From MER-C Indonesia
MER-C Indonesia would like to express our simpathy and deepest condolences at this most difficult moment to the Goverment, the people of Palestine and the grieving family on the passing away of: Dr. Saeb Erekat Secretary General of the Palestine Liberation Organization Executive Committee On 10 November 2020 May Allah the Almighty forgive him, bless him with mercy and rest his soul in jannah. His contribution and dedication to freedom and rights for Palestine and peace in middle east will always be remembered. Jakarta, 11 November 2020 Dr. Sarbini Abdul Murad Chief Presidium of MER-C Indonesia
Ketua Presidium MER-C : Hentikan Penghancuran Rumah Palestina

Kebrutalan militer Israel melakukan pembongkaran ilegal dan penggusuran paksa terhadap warga Palestina terus berlanjut. Ketika perhatian dunia disibukkan dengan Pemilihan Presiden Amerika Serikat, militer Israel kembali melakukan penghancuran besar-besaran bangunan warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki termasuk rumah-rumah dan fasilitas lainnya. Lokasi penghancuran terjadi di Desa Khirbet Hamsa al-Fawqa, bagian utara Lembah Yordan, sebelah timur Tepi Barat. Tindakan ini seperti dilaporkan mengakibatkan sebanyak 73 warga Palestina kehilangan tempat berlindung dan terlantar, dimana 41 orang diantaranya adalah anak-anak. Wabah Covid-19 yang tengah berlangsung ditambah cuaca yang mulai memasuki musim dingin, membuat kondisi mereka semakin memprihatinkan. Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murad secara tegas meminta PBB agar turut campur menghentikan kebrutalan Israel menghancurkan rumah-rumah warga Palestina di Lembah Yordan. Penghancuran rumah Palestina oleh Israel terjadi dengan alasan yang tidak masuk akal. Hal ini sudah berlangsung sejak lama. Israel menduduki Tepi Barat saat perang Timur Tengah pada 1967. Sejak saat itu penghancuran dan penggusuran bangunan-bangunan warga Palestina kerap terjadi. Otoritas Israel berdalih bangunan-bangunan yang dihancurkan karena tidak memiliki izin. Sementara pihak yang berwenang mengeluarkan izin adalah otoritas Israel itu sendiri. Dengan kondisi demikian, sangat sulit bagi warga Palestina memperoleh izin bangunan. Dunia seakan bungkam akan kebrutalan demi kebrutalan yang dilakukan Israel. Diamnya dunia menjadi pembenaran bagi Israel dan mengakibatkan mereka semakin berani menghancurkan rumah-rumah warga Palestina. Selanjutnya warga Palestina terusir dan Israel akan membangun properti di wilayah-wilayah tersebut. Persoalan regional Arab yang begitu rumit yang menguras tenaga dalam negeri masing-masing negara juga menyebabkan masalah Israel dan Palestina diabaikan olah negara-negara Arab. Isu aneksasi Tepi Barat mungkin tengah mereda, namun realita di lapangan Israel terus melakukan pencaplokan-pencaplokan wilayah. Untuk itu, Ketua Presidium MER-C juga mengajak warga dunia ditengah pandemi dan berbagai masalah-masalah internal dalam negeri agar terus bersuara memberikan tekanan kepada Israel. — Info :www.mer-c.org0811990176@mercindonesia
Kepulangan 19 Relawan MER-C Al-Fatah dalam Misi Pembangunan RS Indonesia (RSI) Tahap 2 di Gaza, Palestina

PRESS RELEASE Sebanyak 19 relawan dari lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) tiba di tanah air pada Selasa, 29 September 2020 pukul 13.30 WIB. Para relawan kembali ke tanah air usai menunaikan tugas selama lebih dari 1,5 tahun di Jalur Gaza, Palestina untuk pembangunan tahap 2, yaitu membangun lantai tiga dan empat- Rumah Sakit Indonesia yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina. Sebelumnya, sembilan relawan sudah tiba di tanah air terlebih dahulu pada pertengahan Agustus 2020 lalu. Kepulangan mereka disambut oleh Presidium MER-C, Ir. Faried Thalib dan dr. Arief Rachman, SpRad serta Imaam Yakhsyallah Mansur dan tim dari pondok pesantren Al-Fatah, Bogor. Tim relawan pembangunan tahap 2 RS Indonesia berangkat ke Jalur Gaza pada Februari 2019 silam, dilepas oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Seluruh relawan berasal dari jaringan pondok pesantren Al-Fatah yang tersebar di seluruh Indonesia. Mereka berasal dari beberapa daerah seperti Lampung, Palembang, Medan (Sumatera Utara), Pontianak (Kalimantan Barat), Samarinda (Kalimantan Timur) dan Wonogiri, Jawa Tengah. Berikut adalah nama-nama relawan yang pulang pada hari ini: 1. Ir. Edi Wahyudi Darta2. Abdul Hadi Bujang3. Ade Jalaluddin Didi4. Agus Manja Husaini5. Agus Supriyono6. Edy Siswanto7. Mustaqim Darkan8. Nasrullah Saukani9. Osamah Dakam M10. Parmo Abdurrahman11. Sobar Muslim12. Sumadi13. Wahyo14. Jamari Tamrin15. Luthfi Paimin16. Miyanto Modo17. Muhamad Gulam18. Mulkan Muhamad19. Mulyadi bin Sono Menyusul pembangunan fisik lantai 3 dan 4- RS Indonesia yang sudah selesai, proses pengadaan alat kesehatan dan furniture RS Indonesia telah dimulai untuk mengisi dua lantai tambahan tersebut. Sementara itu, saat ini sebanyak tiga relawan Indonesia masih berada di Jalur Gaza menunggu tim lanjutan datang dari Indonesia. Jakarta, 29 September 2020MER-C Indonesiawww.mer-c.orgCall Center : 0811990176