MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Buka Puasa Relawan MER-C Bersama Keluarga Yatim di Gaza

Alhamdulillah bisa melihat keceriaan anak-anak yatim di Gaza saat acara “Berbuka Puasa Bersama dengan Keluarga Yatim” yang diadakan oleh MER-C Cabang Gaza, Selasa/28 Juni 2016. Terima kasih kepada para donatur yang telah membantu mewujudkan momen berbagi ini. Terima kasih kepada para relawan Indonesia dan relawan lokal di Gaza yang sudah mengupayakan terlaksananya kegiatan ini.

MER-C Gelar Buka Puasa Bersama Keluarga Yatim di Gaza

Gaza – Seperti tahun sebelumnya, pada bulan suci Ramadhan tahun ini, MER-C akan kembali mengadakan kegiatan sosial bagi keluarga yatim dan dhuafa di Jalur Gaza, Palestina. Salah satu kegiatan yang akan digelar pada hari ini adalah Buka Puasa Bersama Keluarga Yatim. Bekerjasama dengan Yayasan Anak Yatim Annakhil, sebanyak 1.000 orang yang akan terdiri dari anak yatim serta keluarganya telah diundang untuk menjadi tamu agung pada acara ini. Bertempat di taman rekreasi Madinat Bisan yang terletak tidak jauh dari RS Indonesia, acara rencananya akan dimulai pada pukul 18.30 waktu setempat.   Salah satu relawan MER-C di Jalur Gaza, Reza Aldilla, melaporkan bahwa segala persiapan untuk acara buka puasa bersama pada sore hari waktu Gaza sudah siap. Selain makanan untuk berbuka, relawan MER-C di Jalur Gaza juga telah menyiapkan 1.000 bingkisan yang akan dibagikan kepada seluruh undangan yang hadir. Selain kegiatan buka puasa bersama, kegiatan MER-C Cabang Gaza lainnya adalah pembagian 2.000 paket bantuan sembako dalam bentuk voucher bagi warga Gaza yang membutuhkan. Voucher dapat ditukarkan di toko-toko yang telah ditunjuk oleh MER-C Cabang Gaza dengan periode penukaran hingga tanggal 30 Ramadhan nanti. Kegiatan-kegiatan ini diharapkan bisa meringankan beban dan memberikan sedikit kebahagiaan bagi saudara-saudara kita di Jalur Gaza yang mengalami blockade berkepanjangan.

MER-C: Spirit Pembebasan Kemerdekaan Palestina Dengan Jihad Profesional

Jakarta, 9 Rajab 1437/19 April 2016 (MINA) – Manajer Operasional Lembaga Kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), Rima Manzanaris mengatakan bahwa rasa persaudaraan dan spirit perjuangan kemerdekaan Palestina salah satunya dibentuk dengan jihad profesional. “Dengan spirit seperti yang dipaparkan dalam pembicaraan atas kemerdekaan Palestina, hal ini juga kami lakukan dalam membangun Rumah Sakit di Gaza dengan rasa spirit persaudaraan, spirit pembebasan, dan jihad profesional yang mendorong dan memberi semangat kami dan para relawan untuk membangun RS Indonesia di Gaza, Palestina,” kata Rima saat menjelaskan kiprah MER-C dalam mendukung kemerdekaan Palestina pada acara Peringatan 61 Tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) di Museum KAA Bandung, Selasa (19/4). Rima menyatakan dukungan dan kepedulian yang luar biasa dari rakyat Indonesia termasuk masyarakat Bandung, merupakan semangat MER-C untuk dapat mewujudkan aksi nyata membantu rakyat Palestina untuk meraih kemerdekaannya. “Alhamdulillah, MER-C bisa menjalankan amanah ini dalam bentuk pembangunan Rumah Sakit Indonesia dan dalam bentuk bantuan kemanusiaan lainnya sejak 2009 sampai sekarang,” ujarnya. Rima menyatakan, RS Indonesia di Gaza merupakan bukti cinta dari rakyat Indonesia terhadap Palestina, menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. “Kami berharap semoga dengan RS Indonesia di Gaza menjadi karya dan bukti cinta rakyat Indonesia bisa terus bermanfaat dan menjadi amal ibadah yang terus mengalir bagi rakyat Indonesia,” tegas Rima. Rumah sakit yang dibangun di atas tanah wakaf dari pemerintah Palestina seluas 16.261 m2 itu sendiri menjadi tempat untuk pemulihan trauma dan rehabilitasi bagi warga Palestina di Jalur Gaza yang menjadi korban konflik bersenjata Palestina-Israel. Pekerjaan pembangunan RS Indonesia yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina itu dilakukan oleh relawan Indonesia yang seluruhnya sukarelawan tidak dibayar (unpaid volunteers) dari Pondok Pesantren Al-Fatah. Dibangun di sebuah puncak bukit di luar Jabalya, kamp pengungsi terbesar di Gaza, Rumah Sakit Indonesia mulai beroperasi dan bisa melayani 300.000 penduduk yang tinggal di kawasan yang sering dilanda konflik itu sejak resmi beroperasi 27 Desember 2015. Pada Januari 2016 disaksikan oleh jajaran pemerintah Republik Indonesia, MER-C mewakili rakyat Indonesia menyerahkan secara simbolis RS Indonesia kepada pemerintah Palestina yang diwakili oleh Menteri Kesehatan Palestina dan Dubes Palestina untuk Indonesia di Jakarta. Konferensi Asia Afrika atau dikenal pula Konferensi Bandung menjadi momen penting bagi sebagian negara-negara di dunia, terutama negara Asia-Afrika. Tiap tahunnya konferensi yang menjadi titik tolak penghapusan kolonialisme itu selalu diperingati. Pada Peringatan 61 Tahun KAA kali ini, berbagai acara digelar di Museum KAA Bandung sejak 17 April-1 Mei 2016. Sumber : http://www.mirajnews.com/id/mer-c-spirit-pembebasan-kemerdekaan-palestina-dengan-jihad-profesional/111165

RS Indonesia, Salah Satu Tema yang Diangkat pada Peringatan 61 Tahun KAA

Dalam rangka Peringatan 61 Tahun Konferensi Asia Afrika, Museum Konferensi Asia Afrika (KAA), Kementerian Luar Negeri RI dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat serta Bandung menyelenggarakan serangkaian kegiatan yang berlangsung mulai tanggal 17 April 2016 hingga 1 Mei 2016, bertempat di Museum KAA, Bandung – Jawa Barat.   Salah satu rangkaian kegiatan dari peringatan ini adalah “Bandung Spirit for Palestine” yang dikemas dalam bentuk Pameran Foto dan Talkshow. Selasa, 19 April 2016 kemarin, kegiatan pameran foto mulai dibuka dengan salah satu tema yang diangkat adalah mengenai program pembangunan Rumah Sakit Indonesia, di Jalur Gaza, Palestina. Selain foto, dokumentasi kegiatan dalam bentuk video juga ditayangkan dihadapan undangan yang hadir yang berasal dari berbagai kalangan mulai dari pejabat pemerintahan, akademisi, mahasiswa dan masyarakat umum. Kegiatan pameran foto berbagai dukungan Indonesia untuk Palestina akan berlangsung hingga tanggal 1 Mei 2016. Perwakilan MER-C juga turut menghadiri acara ini dan berkesempatan memberikan sedikit penjelasan mengenai program pembangunan Rumah Sakit Indonesia sebagai sebuah karya anak bangsa dan salah satu bentuk dukungan nyata dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina. Pada pernyataannya, perwakilan MER-C menyampaikan harapannya bahwa RS Indonesia bukan hanya sekedar rumah sakit tapi bisa menjadi bukti persaudaraan dan dukungan jangka panjang rakyat Indonesia untuk Palestina hingga Palestina meraih kemerdekaannya.

Nama FPI Terukir di RS Indonesia

FPI atau Front Pembela Islam nama yang sudah tidak asing bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Nama ini juga akan tidak asing dilihat/dibaca dan didengar oleh rakyat Gaza.   Mengapa? Karena nama salah satu lembaga islam di Indonesia ini terukir menjadi nama salah satu ruangan di RS Indonesia, yaitu ruangan Bank Darah. Bagi sebuah rumah sakit sentral di wilayah Gaza bagian utara seperti RS Indonesia, Unit Bank Darah menjadi sangat penting keberadaannya. Alhamdulillah dengan kedermawanan jamaah FPI dan masyarakat Indonesia yang menyumbang melalui FPI bisa terkumpul donasi mencapai Rp 1 milyar. Dengan donasi tersebut akhirnya kami dapat membeli dan melengkapi berbagai peralatan bagi Unit Bank darah RS Indonesia. Semoga terus manfaat dan menjadi pahala yang mengalir, aamiin.

MER-C Serahkan Plakat Miniatur RS Indonesia kepada Wamenlu RI

Kamis (18/2), Tim MER-C yang dipimpin oleh, dr. Sarbini Abdul Murad (Presidium), menyerahkan plakat miniatur RS Indonesia di Gaza kepada Wakil Menteri Luar Negeri RI, Bapak AM. Fachir. Penyerahan dilakukan di ruangan Wakil Menteri Luar Negeri sebagai penghargaan dan ungkapan terima kasih MER-C atas bantuan dan dukungan Bapak AM. Fachir kepada program pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. “Kita memberikan suatu penghargaan bagi orang-orang yang banyak membantu dalam pendirian Rumah Sakit Indonesia, salah satunya adalah Bapak AM. Fachir, yang membantu sejak awal program, sejak menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Kairo pada tahun 2009 hingga sekarang” ungkap dr. Sarbini, di sela-sela pertemuan.   Menerima plakat penghargaan ini, Wakil Menteri Luar Negeri RI menyatakan rasa bahagianya bisa turut menjadi bagian dari proses pembangunan RS Indonesia. “Saya merasa bersyukur bisa bertemu dengan teman-teman MER-C dan merasa bahagia bisa menjadi bagian kecil dari proses besar ini.”   Wakil Menteri Luar Negeri, AM. Fachir juga menyampaikan apreasiasinya kepada program pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. Menurutnya ini bagian dari kontribusi Indonesia didalam mendukung perjuangan rakyat Palestina.   “Yang jelas Palestina harus setara dengan bangsa-bangsa lain. Saya gembira bahwa ada kombinasi yang baik antara apa yang dilakukan oleh Pemerintah dengan yang dilakukan oleh masyarakat Indonesia melalui MER-C,” tambahnya.   Pada kesempatan ini, selain menyerahkan penghargaan, Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad juga menyampaikan perkembangan informasi seputar Rumah Sakit Indonesia yang telah dibuka dan beroperasi sejak 24 Desember 2015 lalu.   Hal lainnya yang disampaikan adalah mengenai rencana program kemanusiaan MER-C ke depan, yaitu pembangunan “Indonesia Health Center” di Rakhine State, Myanmar dimana tanah untuk lokasi pembangunan sudah tersedia serta rencana pembangunan sarana kesehatan di Tepi Barat, Palestina yang merupakan permintaan langsung dari Menteri Kesehatan Palestina saat berkunjung ke Jakarta beberapa waktu lalu. Kedua rencana program ini disambut baik oleh Wakil Menteri Luar Negeri RI.   “Kami sangat menghargai dan tentu saja akan membantu memberikan dukungan dan fasilitasi sesuai dengan kapasitas dan ketentuan yang ada karena ini sebuah niat yang sangat mulia yang perlu didukung,” imbuhnya.    

Usai Bertugas Lebih dari 1,5 Tahun di Gaza, Tiga Relawan RS Indonesia Tiba di Tanah Air

Siaran Pers Selasa (16/2), setelah menempuh belasan jam penerbangan dari Kairo (Mesir), sekitar pkl 22.00 wib tadi malam, tiga relawan MER-C yang telah menyelesaikan tugas pembangunan RS Indonesia di Gaza (Palestina) mendarat di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Kedatangan Ir. Edy Wahyudi, Karidi dan Miyanto langsung disambut dengan penuh haru dan sukacita oleh para relawan dan tentunya keluarga tercinta. Turut menyambut di Bandara para Presidium MER-C, dr. Joserizal Jurnalis, SpOT, Ir. Faried Thalib dan dr. Arief Rachman, juga para pimpinan dari Pondok Pesantren Al Fatah, mitra yang selama ini mendukung sejak awal proses pembangunan RS Indonesia.   Ketiga relawan sangat bersyukur karena setelah bertugas selama lebih dari 1,5 tahun, perjuangan panjang yang penuh liku akhirnya selesai dan mereka bisa kembali ke tanah air berkumpul kembali dengan keluarga. Hal terpenting lainnya adalah amanah dari rakyat Indonesia telah tertunaikan. Pada 24 Desember 2015, RS Indonesia telah resmi dibuka dan memberikan pelayanan medis bagi rakyat Gaza yang membutuhkan. Sejak dibuka, setiap harinya khususnya pada hari kerja Minggu hingga Kamis, RS Indonesia selalu ramai dikunjungi oleh warga Gaza yang membutuhkan pengobatan. Tercatat sekitar 400 orang pasien yang berobat ke RS Indonesia setiap harinya. Meskipun tugas telah selesai, namun kepulangan para relawan ke tanah air sempat tertunda beberapa lama karena pintu perbatasan Rafah yang tidak kunjung dibuka. Baru pada hari Minggu (14/2) kemarin, pada hari ke-2 atau hari terakhir pembukaan perbatasan Rafah, para relawan bisa keluar dari Gaza bersama sedikit orang yang berhasil keluar dari Gaza selama pembukaan Rafah yang hanya berlangsung selama 2 hari tersebut.   MER-C Lanjutkan Program di Gaza Kepulangan tiga relawan ke tanah air bukan berarti selesainya program MER-C di Gaza, Palestina. Meskipun RS Indonesia telah diserahterimakan dan dikelola oleh Kementerian Kesehatan Palestina, namun MER-C berkomitmen untuk tetap membantu untuk biaya operasional RS Indonesia. Hal ini dalam rangka menjamin keberlangsungan RS Indonesia karena kondisi perekonomian yang tidak menentu di Jalur Gaza, terlebih ketika adanya serangan. Saat ini masih ada dua relawan yang menetap di Gaza, yaitu Reza Aldilla dan Muhamad Husein. Selain sebagai relawan, mereka juga tengah menyelesaikan pendidikan di Universitas Islam Gaza. Berkomitmen menjadikan Palestina sebagai wilayah misi jangka panjang, MER-C telah membangun sebuah bangunan yang bernama “Wisma Rakyat Indonesia” yang terletak di dalam area kompleks RS Indonesia. Wisma Rakyat Indonesia akan menjadi kantor perwakilan MER-C Cabang Gaza sekaligus tempat tinggal para relawan. Ke depan, MER-C akan mengirimkan kembali relawan-relawan yang akan bertugas di wilayah terblokade ini selanjutnya. Relawan yang akan dikirimkan diantaranya adalah para dokter yang keahliannya dibutuhkan di Gaza untuk mengobati dan mentransfer keahliannya kepada tenaga medis di Gaza.     Profil Tiga Relawan RS Indonesia   1.      Nama                       : Ir. Edy Wahyudi Darta Tempat/Tanggal Lahir         : Jakarta/15 Nov 1969 Asal                                   : Cileungsi, Jawa Barat Jabatan/Bidang Pekerjaan   : Site Manager RS Indonesia Masa Tugas di Gaza            : Januari 2011 – April 2012                                           Februari 2013 – Maret 2014                                           Juni 2014 – Februari 2016   2.      Nama                       : Karidi bin Martono Parjo Tempat/Tanggal Lahir         : Wonogiri/14 Januari 1982 Asal                                  : Wonogiri, Jawa Tengah Jabatan/Bidang Pekerjaan   : Korlap 2 Mekanikal Elektrikal Masa Tugas di Gaza            : Oktober 2012 – Maret 2014                                           Juni 2014 – Februari 2016   3.      Nama                        : Miyanto Modo Sodimejo Tempat/Tanggal Lahir         : Wonogiri/4 September 1985 Asal                                  : Wonogiri, Jawa Tengah Jabatan/Bidang Pekerjaan   : Pekerjaan Sipil Masa Tugas di Gaza            : Juni 2014 – Februari 2016       Jakarta, 17 Februari 2016   MER-C Indonesia              

Tiga Relawan RS Indonesia Akhirnya Keluar dari Gaza

Kairo, Mesir – Setelah dua hari berikhtiar dan mengantri di Perbatasan Rafah, akhirnya dengan izin dan pertolongan-Nya, pada Minggu sore (14/2) tiga relawan RS Indonesia bisa keluar dari wilayah terblokade Jalur Gaza, Palestina. Mereka adalah Ir. Edy Wahyudi (Site Manager RS Indonesia), Karidi dan Miyanto. Sementara dua relawan lainnya, yaitu Reza Aldilla dan Muhamad Husein masih berada di Jalur Gaza. Ketiga relawan bisa keluar pada hari kedua atau hari terakhir pembukaan perbatasan Rafah, setelah beberapa lama informasi pembukaan Rafah hanya “katanya dan katanya”, baru pada hari Sabtu – Minggu kemarin (13 – 14 Februari 2016) perbatasan Rafah akhirnya benar-benar dibuka meskipun hanya dua hari saja. Kesempatan ini langsung dimanfaatkan oleh ketiga relawan yang telah bertugas selama lebih dari 1,5 tahun di Gaza. Sejak Sabtu pagi (13/2), mereka telah bersiap menuju perbatasan Rafah untuk mengantri bersama ribuan orang lainnya. Namun pada hari Sabtu itu kesabaran relawan kembali diuji. Mereka belum mendapat izin keluar dari Gaza. Hari Minggunya (14/2), mulai jam 8 pagi ketiga relawan kembali mengantri mengurus izin di perbatasan Rafah, barulah pada jam 5 sore akhirnya 3 relawan RS Indonesia bisa keluar dari Gaza bersama sedikit orang yang berhasil keluar pada hari itu. Meskipun cukup berbahaya melakukan perjalanan dari Rafah ke Kairo pada malam hari, namun hal ini tetap dilakukan. Dengan menggunakan taksi sewaan, ketiga mulai bergerak dari Rafah menuju ibukota Kairo. Untuk sampai ke Kairo, saat ini ada 20 checkpoint pemeriksaan yang harus dilewati. Ditengah jalan relawan juga sempat mendengar suara penembakan saat beberapa mobil dan bis termasuk taksi yang ditumpangi relawan jalan beriringan. Untungnya tidak ada korban jiwa dalam insiden penembakan ini dan tidak beberapa lama semua kendaraan bisa bergerak lagi. Setelah menempuh perjalanan selama 8,5 jam, pada pukul setengah dua dinihari, relawan tiba di Kairo. Ir. Edy Wahyudi, Karidi dan Miyanto memang dijadwalkan untuk kembali ke tanah air karena amanah tugas yang telah selesai, RS Indonesia telah diserahterimakan kepada Kementerian Kesehatan Palestina dan telah beroperasi memberikan pelayanan medis kepada rakyat Gaza yang membutuhkan. Kepulangan mereka sempat tertunda beberapa lama karena menunggu dibukanya pintu perbatasan Rafah. Senin siang (15/2), ketiga relawan dijadwalkan berkunjung dan bertemu dengan pejabat KBRI Kairo untuk memberikan laporan terakhir program pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza sekaligus berpamitan dengan staf KBRI yang selama ini telah memfasilitasi izin masuk seluruh relawan RS Indonesia yang akan bertugas ke Jalur Gaza. Malamnya, relawan akan langsung bertolak ke tanah air untuk bisa segera bertemu dengan keluarga tercinta yang sudah sekian lama mengikhlaskan kepergian anak, ayah dan suami mereka untuk melaksanakan jihad profesi membangun RS Indonesia di Gaza, Palestina.        

Masuk Susah, Keluar pun Susah

Ini adalah hari ke-2 bagi tiga relawan RS Indonesia (Ir. Edy Wahyudi, Karidi dan Miyanto) menunggu di perbatasan Rafah. Sejak beberapa lama info pembukaan Rafah hanya “katanya dan katanya”, alhamdulillah kali ini benar pintu perbatasan Rafah akhirnya dibuka, meskipun hanya 2 hari, ya hanya 2 hari, Sabtu dan Ahad ini. Mendengar informasi tersebut, 3 relawan dari 5 relawan yg masih berada di Gaza segera bersiap. Tugas mereka telah selesai di Gaza krn RS Indonesia telah diserahterimakan & telah beroperasional. Kini waktunya mereka pulang utk di rolling dg relawan lainnya.   Sejak Sabtu pagi (13/2), 3 relawan telah bergegas menuju perbatasan Rafah untuk mencoba keluar dari Gaza dan berharap bisa kembali ke tanah air. Di perbatasan Rafah, ternyata banyak orang yang mengantri utk keluar dr Gaza g berbagai keperluan. Info dr relawan ada sekitar 5.000 orang. Mengantri di kerumunan orang hingga malam hari ternyata kesabaran para relawan kembali diuji. Mereka blm bisa keluar dr Gaza pd hari Sabtu kemarin. Kesempatan utk mencoba keluar tinggal hari Ahad ini. Klo tdk berhasil, para relawan hrs bersabar lg menunggu info pembukaan Rafah berikutnya yang entah kapan dan berapa lama lagi. Masuk susah, keluar pun susah. Hari ini, hari kedua atau hari terakhir pembukaan Rafah, tiga relawan RS Indonesia tengah berikhtiar kembali di Perbatasan Rafah.   Mohon doa dari Bapak/Ibu/Sahabat semoga urusan para relawan diberi kemudahan dan kelancaran. Smg mereka bisa segera kembali ke tanah air dg selamat & berkumpul lagi dg keluarga tercinta yg sdh sekian lama mengikhlaskan kepergian suami mereka utk melaksanakan jihad profesi membangun RS Indonesia di Gaza, Palestina.        

Menengok Wisma Rakyat Indonesia di Gaza

Sebagai wilayah misi jangka panjang, di dalam area kompleks RS Indonesia tepatnya di belakang RS Indonesia, MER-C juga telah mempersiapkan sebuah bangunan yang diberi nama “Wisma Rakyat Indonesia”.   Wisma yang terdiri dari 2 lantai ini dibangun oleh para relawan dan berfungsi sebagai kantor MER-C serta tempat tinggal para relawan Indonesia yang bertugas di Gaza. Saat ini sebanyak 4 relawan masih menempati Wisma Rakyat Indonesia. Ke depan, Wisma akan menjadi tempat tinggal bagi para relawan Indonesia baik medis maupun non medis yang akan bertugas di Gaza selanjutnya. Warga Indonesia yang sedang berkunjung ke Gaza, juga dipersilahkan untuk singgah ke wisma ini. Yuk menengok ke bagian dalam Wisma Rakyat Indonesia…

Silahkan bertanya?