MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

DPR RI APRESIASI PEMBANGUNAN RS INDONESIA DI GAZA

Ketua DPR RI Setya Novanto (tengah), didampingi Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah,  dengan Presidium MER-C Joserizal Jurnalis. (Foto: Rendi/MINA) Jakarta, 1 Rajab 1436/20 April 2015 (MINA) – Ketua DPR RI Setya Novanto sangat mengapresiasi pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza Palestina yang digagas lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) melalui sumbangan dana amanah rakyat Indonesia. “Kami sangat mengapresiasi pendirian Rumah Sakit Indonesia di Gaza sebagai langkah konkret dukungan Rakyat Indonesia untuk Rakyat Palestina,” kata Novanto saat menerima kunjungan delegasi MER-C dipimpin oleh dr. Joserizal Jurnalis, di ruang kerjanya Lantai III Gedung Nusantara III, kompleks DPR/MPR/DPD Senayan, Senin (20/4). Didampingi Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah, Staf Ahli Ketua DPR Nurul Arifin, Ketua DPR lebih lanjut menyambut baik peresmian RS Indonesia yang dijadwalkan pada awal Juni 2015 mendatang dan berniat hadir dalam peresmian itu. MER-C telah melakukan koordinasi intensif bersama pemerintah mengenai rencana peresmian RS Indonesia di Jalur Gaza tersebut. “Kami benar-benar menyambut baik, bangunan RS Indonesia desainnya sangat bagus,” ujar Novanto saat melihat galeri foto proses pembangunan RS Indonesia di Gaza pada hardcopy presentasi MER-C yang diterimanya. Fahri Hamzah, Wakil Ketua DPR bidang Kesejahteraan Rakyat, mengatakan, RS Indonesia merupakan aksi nyata sumbangan rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina. Dia juga mengusulkan kepada Ketua DPR agar pemerintah memberikan anggaran untuk mendukung aktifitas RS Indonesia itu dalam perencanaan APBN nanti. “Tentunya ini membawa Indonesia menjadi terdepan dalam dukungan kepada Palestina melalui berbagai bantuan nyatanya,” ujar Fahri. Fahri Hamzah yang akan memimpin sidang pembahasan Palestina dalam Konferensi Parlemen Asia Afrika 2015 tanggal 23 April 2015 mendatang, menyatakan, akan menjadikan pembangunan RS Indonesia, menjadi salah satu bahan presentasi dalam sidang konferensi tersebut. Rumah Sakit Indonesia berlokasi di Bayt Lahiya, Gaza Utara, merupakan sumbangan rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina yang digagas oleh lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C). Pekerjaan pembangunan fisik RS Indonesia itu juga dikerjakan sendiri oleh anak-anak bangsa yang datang langsung ke Jalur Gaza, termasuk para insinyur antara lain Ir. Nur Ikhwan Abadi, Ir. Edi Wahyudi. Rombongan relawan terakhir yang ada sekarang juga mengawal proses pengadaan alat-alat kesehatan bernilai Rp. 65,1 miliar lebih. Rumah Sakit itu dibangun di atas areal seluas 16.261 m2 yang merupakan wakaf dari Pemerintah Palestina di Gaza, berlantai dua tambah basement, dengan tipe rumahsakit traumatologi dan rehabilitasi, kapasitas 100 tempat tidur. Proses pembangunan yang cukup sulit, karena terbatasnya material di daerah terblokade tersebut akhirnya bisa terealisasi, meskipun para relawan sempat menghadapi dua peperangan besar pada 2012 dan 2014 saat proses pengerjaan berlangsung, namun demikian para relawan tetap tegar dan terus melanjutkan pembangunan. Warga Gaza sangat menantikan RS Indonesia ini beroperasi. MER-C, mengharapkan dukungan dari rakyat Indonesia dengan memberikan dukungan dan bantuan baik moril maupun material. Tak menerima bantuan asing. Pembangunan RSI dimulai sejak 14 Mei 2011. Pada akhir April 2012, pembangunan tahap 1 untuk struktur RS Indonesia selesai. Pada 1 November 2012, pembangunan tahap 2 RS Indonesia untuk pekerjaan Arsitektur dan ME (Mechanical Elctrical) dimulai dan selesai pada akhir 2014. Diplomasi Kemanusiaan Presidium MER-C Joserizal menyatakan, RS Indonesia yang dibangun anak-anak bangsa adalah rumah sakit terbesar dan terlengkap di Gaza. “RS Indonesia dibangun atas dana amanah dari rakyat Indonesia, ada yang menyumbang Rp 1000, Rp 100.000, hingga 100 juta rupiah. Oleh karena itu, karena dari dana publik, tentunya MER-C perlu melaporkan kepada wakil rakyat,” kata dokter ahli bedah tulang itu. Dalam pertemuan dengan Pimpinan DPR, Joserizal melaporkan total biaya untuk RS Indonesia menghabiskan Rp 120 miliar yang didapat dari pengumpulan dana 100 persen sumbangan masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Joserizal menyatakan RS Indonesia di Jalur Gaza Palestina dapat menjadi humanitarian diplomacy (diplomasi kemanusiaan), di mana setelah peresmian Indonesia akan ada pertukaran para ahli Indonesia dan Palestina khususnya di bidang medis. Untuk merealisasikan diplomasi kemanusiaan di Palestina, MER-C juga telah membangun bangunan Wisma Indonesia bersebelahan dengan RS Indonesia di Gaza, sebagai representasi rakyat Indonesia di Palestina. “Meski nantinya RS Indonsia diserahkan ke Palestina, namun dukungan riil rakyat Indonesia akan terus berjalan, tukar menukar knowledge melalui para ahli Indonesia dan Palestina, tentunya menjadikan persahabatan Indonesia-Palestina semakin kokoh,” ujarnya.”(L/R05/P011-P2) Sumber : http://mirajnews.com/id/indonesia/dpr-ri-sambut-peresmian-rs-indonesia-di-gaza/              

TIBA 90 UNIT RANJANG PASIEN RS INDONESIA DI GAZA

Paket berisi Patiens Beds tiba di halaman Rumah Sakit Indonesia. foto : MINA Gaza, 1 Rajab 1436 / 20 April, 2015 (MINA) – Setelah tertunda selama lebih dari dua bulan, akhirnya 90 unit “patient beds” (ranjang pasien), tiba di Rumah Sakit Indonesia di Bayt Lahiya Jalur Gaza Palestina, Ahad 19/4. “Alhamdulillah, ranjang untuk pasien sudah tiba, hari ini kita baru terima 45, Senin besok akan tiba lagi 45, jadi semua total 90 unit,” kata Muqarrabbin Al Fikri, Ketua Mer-c Cabang Gaza, kepada Kantor Berita Islam Miraj (MINA) di Bayt Lahiya, Ahad 19/4.  Fikri menjelaskan proses kedatangan alat kesehatan ini sempat tertunda selama beberapa bulan, akibat tertahan di Israel. “Seharusnya ranjang pasien ini datangnya akhir Januari yang lalu, namun proses pengurusan dan perizinan masuk ke Jalur Gaza cukup rumit dan sulit, sehingga tertunda lebih dari dua bulan” terangnya. /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} Ranjang Patient untuk RS Indonesia. fot : MINA Selain itu, pemuda lajang yang masih menempuh kuliah di Universitas Islam Gaza ini juga menyampaikan bahwa pihaknya masih menunggu alat kesehatan lain yang masih belum tiba. “Kami masih menunggu alat kesehatan yang lain seperti Paket Radiologi, X-Ray, CT Scan dan jika proses perizinan masuk ke Gaza lancar, kita harapkan akhir bulan April ini akan segera tiba” tambahnya. Sementara itu pantauan MINA di lapangan, beberapa alat kesehatan lain sudah ada yang tiba di Rumah Sakit Indonesia, seperti alat kesehatan untuk ruang Operasi dan ICU  berupa ventilator, nebulizer dan meja operasi. Diharapkan dalam waktu dekat Rumah Sakit Indonesaia di Jalur Gaza akan segera beroperasi sehingga bisa segera membantu masyarakat Gaza. Fikri juga mengucapkan rasa syukur dan terima kasihnya kepada Rakyat Indonesia yang telah mendukung baik moril dan material, demi berdirinya Rumah Sakit yang mengangkat nama Indonesia di kancah internasional ini. /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} Paket Patient Beds untuk Rumah Sakit Indonesia. Foto : MINA “Meskipun banyak ujian yang kami alami, namun Insya Allah kami akan terus menjalankan amanah ini, rakyat Indonesia rakyat yang dermawan, terkadang kami haru, banyak penyumbang RSI ini dari yang berasal dari kalangan kurang mampu” ujarnya. Dia menambahkan “untuk itu, saya atas nama relawan Indonesia yang ada di Gaza, menyampaikan penghargaan yang setinggi tingginya kepada rakyat Indonesia yang telah menyumbangkan rupiah demi rupiah mereka untuk terealisasinya Rumah Sakit ini. dari tanah penuh berkah ini kami mendoakan semoga para donatur diberikan balasan oleh Allah dengan sebaik-baik balasan dari sisi-NYA” Rumah Sakit Indonesia merupakan sumbangan rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina yang digagas oleh lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C). Proses pembangunan RS Indonesia sendiri dikerjakan oleh anak-anak bangsa yang datang langsung ke Jalur Gaza. Proses pembangunan yang cukup sulit, karena terbatasnya material didaerah terblokade tersebut akhirnya bisa terealisasi, meskipun para relawan sempat menghadapi dua peperangan besar pada 2012 dn 2014 saat proses pengerjaan berlangsung, namun demikian para relawan tetap tegar dan terus melanjutkan pembangunan. Warga gaza sangat menantikan beroperasionalnya RS Indonesia ini, sementara itu para relawan MER-C tengah bekerja keras agar rumah sakit segera beroperasi. MER-C, mengharapkan dukungan dari rakyat Indonesia dengan memberikan dukungan dan bantuan baik moril maupun material. Untuk para dermawan dan donatur yang ingin memberikan dukungan dan bantuan Dukungan dan bantuan untuk pengadaan alkes RS Indonesia di Gaza Palestina dapat disalurkan melalui: BNI Syariah No. Rek. 08.111.929.73, BCA No. Rek. 686.0153.678, BRI No. Rek. 033.501.0007.60308, BSM No. Rek. 700.1352.061, BMI No. Rek. 301.00521.15, atas nama Medical Emergency Rescue Committee. (K01/P2) Sumber : http://mirajnews.com/id/palestina/tiba-90-unit-ranjang-pasien-rs-indonesia-di-gaza/              

MER-C KOORDINASI PEMERINTAH PERESMIAN RS INDONESIA DI GAZA

Dari kanan ke kiri: Wamenlu A.M. Fachir, Presidium MER-C Sarbini Abdul Murad, Farid Thalib, Rima Manzanaris. Foto: Putri/MINA Jakarta, 27 Jumadil Akhir 1436/16 April 2015 (MINA) – Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) terus melakukan koordinasi intensif bersama pemerintah mengenai rencana peresmian RS Indonesia di Jalur Gaza. Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia A.M.  Fachir mengungkapkan apresiasinya kepada MER-C atas upaya menyelesaikan amanah bantuan kemanusian rakyat untuk membangun RS di satu-satunya daerah yang masih terjajah itu. “Saya sangat kagum dan terkesan dengan kemajuan MER-C untuk merealisasikan misi yang mustahil rasanya. Tapi dengan tekad yang tinggi ini bisa di realisasikan, dan tentu ini tidak gampang,” ungkap Fachir, di Kantor Kemenlu Jakarta, Kamis. Sejauh ini, peresmian yang direncanakan Juni mendatang masih mengalami kesulitan, terutama berkenaan dengan perizinan perbatasan Rafah yang berada di bawah kendali intelijen Mesir. Sementara, Manajer Operasional MER-C, Rima Manzanaris mengatakan pihaknya masih menunggu pemerintah Mesir terkait izin masuk melalui perbatasan tersebut. “Pemerintah Mesir mengatakan perkiraan di bulan Mei dan Juni itu aman, tapi kita akan mengambil di bulan Juni untuk peresmiannya,” ujar Rima. Rima juga mengatakan, kondisi terkini RS Indonesia di Gaza, sebagian alat kesehatan sudah ada yang masuk dan sebagian lainnya masih menunggu proses izin masuk. “Kita semua berharap hal ini bisa cepat selesai dan RS Indonesia siap untuk direalisasikan oleh masyarakat, ” kata Rima. Dalam hal ini, Wamenlu A.M. Fachir juga  menjanjikan pemerintah akan membantu kelancaran teknis menjelang peresmian RS Indonesia di Jalur Gaza. “Menyusul  panasnya situasi  Sinai dan Rafah yang berbatasan dengan rute ke Jalur Gaza akhir-akhir ini masih konflik,” ujar Fachir. Kondisi Sinai yang masih dalam situasi darurat menimbulkan kesulitan bagi relawan untuk masuk ke Gaza. Pasalnya, rumah-rumah di Sinai utara menjadi korban operasi tentara Mesir untuk melawan militan di sana. (L/P007/P4) Sumber : http://mirajnews.com/id/indonesia/nasional/merc-koordinasi-pemerintah-peresmian-rs-indonesia-di-gaza/              

RELAWAN INDONESIA DI GAZA: “SEHARI MENJADI DOKTOR”

‘Doktor’ Nur Ikhwan Abadi menyampaikan kuliah ilmiah di hadapan mahasasiswa S2 dan S3 Management & Politics Academy for Postgraduated Studies, di Kota Gaza, Sabtu (21/3). (Foto: Mirajnews) Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency) Jalur Gaza – Sungguh tidak disangka, jika seorang relawan Indonesia di Jalur Gaza, Palestina, mendadak mendapat gelar “doktor” dalam sehari. Tapi, itulah yang terjadi dan diterima oleh Nur Ikhwan Abadi, relawan kemanusiaan MER-C (Medical Emergency Resque Committee) asal Indonesia yang sedang membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Peristiwa bersejarah itu terjadi Sabtu kemarin (21/3), saat Nur Ikhwan, didaulat memberikan ceramah ilmiah bertajuk “Indonesian role to strengthening the international position of Palestinian issues” (Peran Indonesia untuk memperkuat isu Palestina dalam posisi internasional), di hadapan mahasiswa S2 dan S3 Management & Politics Academy for Postgraduated Studies, di Kota Gaza. “Di hadapan para mahasiswa, juga undangan dari pejabat pemerintah, media, dan perwira tinggi kepolisian Palestina, saya diminta berbicara tentang peran Indonesia, dan saya diberi gelar ‘doktor sehari’ untuk seminar tersebut,” ujar ‘Doktor’ Nur Ikhwan Abadi, yang juga Kepala Biro Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency) Timur Tengah berkedudukan di Palestina. Menurutnya, ada tiga pembicara dalam seminar ilmiah tersebut, yaitu Dr. Tayseer Mehasen (Direktur Jenderal Hubungan Internasional Kementerian Luar Negeri Palestina), Ir. Omar Jomah Shiyam (Manager Aman Palestine Cabang Gaza), dan moderator Dr. Ihab Swaikh. Pada kesempatan itu, Nur Ikhwan, yang juga alumni tarbiyah Pesantren Al-Fatah Muhajirun, Negararatu, Natar, Lampung Selatan, menyampaikan tentang peran pemerintah dan rakyat Indonesia dalam mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina dan pembebasan Al-Aqsha. “Indonesia pernah melaksanakan Konferensi Internasional untuk Kemerdekaan Palestina dan Pembebasan Al-Quds di Bandung tahun 2012. Seluruh komponen pemerintah dan rakyat Indonesia mendukung penuh kemerdekaan Palestina dan pembebasan Al-Aqsha dari belenggu penjajahan Israel,” ujarnya. Pada Konferensi Internasional Palestina “International Conference for The Freedom of Al-Quds and Palestine”, yang digagas Jama’ah Muslimin (Hizbullah) sebagai Khilafah ‘alaa minhaajin nubuwwah (Khilafah yang mengikuti jejak kenabian), Bandung, 14-15 Sya’ban 1433 H./4-5 Juli 2012 M. menghasilkan Deklarasi Bandung untuk Pembebasan Al-Quds. Isi Deklarasi Bandung antara lain; bahwa untuk suksesnya perjuangan pembebasan Al-Quds dan Palestina dituntut dukungan yang lebih nyata dari kaum Muslimin pada khususnya dan komunitas internasional pada umumnya. Selanjutnya, disebutkan juga guna menyatukan langkah perjuangan pembebasan Al-Quds dan Palestina tersebut, mengamanahkan kepada H. Muhyiddin Hamidy sebagai Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) sebagai pemimpin bagi upaya-upaya untuk mempercepat pembebasan Al-Quds dan kemerdekaan Palestina yang didukung oleh organisasi-organisasi yang peduli dalam permasalahan Palestina. Sidang Konferensi juga merekomendasikan kepada pihak-pihak Pemerintah dan Parlemen untuk menegaskan pesan pembebasan Al-Quds dan Palestina melalui lembaga Negara. Serta melakukan advokasi hukum terhadap bangsa Palestina terutama kaum perempuan dan anak-anak serta mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengadili kejahatan rezim Zionis Israel atau pemimpin-pemimpinnya yang dzalim. Peserta sidang juga siap menghimpun dan mendayagunakan bantuan-bantuan material dan non material untuk menolong Al-Quds dan Palestina, dan secara khusus mendesak Pemerintah Republik Indonesia untuk membuka Konsulat Pelayanan Diplomatik di wilayah Jalur Gaza. Putusan lain yang penting adalah mempersiapkan pelaksanaan konferensi selanjutnya di Gaza atau tempat-tempat lain sesuai situasi dan kondisi yang berkembang, Mengutus delegasi untuk memfasilitasi perdamaian dan ishlah dari faksi-faksi di Palestina serta mempromosikan kesatuan Muslimin di Palestina dan memprakarsai boikot terhadap produk-produk yang mendukung rezim Zionis Israel. Nur Ikhwan Abadi (Foto: Mirajnews) Konsulat RI di Gaza Nur Ikhwan, alumni Teknik Sipil Universitas Lampung itu, menyampaikan alternatif dukungan politis pemerintah Indonesia untuk Palestina, antara lain adalah dalam bentuk pendirian Konsultas RI di Jalur Gaza. Menurutnya, hal itu sangat memungkinkan, apalagi ada beberapa mahasiswa setempat di Jalur Gaza yang siap mendukung rencana seperti itu. Nur Ikwhan, juga adalah delegasi khusus Jama’ah Muslimin (Hizbullah), wadah kesatuan umat Islam, berpusat di Bogor, Indonesia, yang secara khusus memiliki agenda Ghazwah Fath Al-Aqsha (pembebasan Al-Aqsha) sejak 2007, dan Kepala Koresponden Kantor Berita Islam MINA di Timur Tengah. “Selain kemungkinan pembukaan Konsulat RI di Jalur Gaza, upaya lainnya adalah advokasi hukum oleh Indonesia untuk warga Palestina, terutama wanita dan anak anak atas tindakan kriminal Israel,” paparnya. Upaya lain adalah dengan terus menggencarkan aksi dan kampanye boikot produk-produk Israel, serta upaya melaksanakan konferensi yang dihadiri tokoh-tokoh Indonesia, bertempat di Jalur Gaza. Pada pertemuan pemaparan, ‘Doktor’ Nur Ikhwan juga menyampaikan, salah satu delegasi Konferensi Bandung adalah Menteri Pemuda dan Olahraga Palestina pada pemerintahan PM Ismail Haniyah sebelum pemerintahan persatuan terbentuk, Dr. Muhammad Al-Madhoun. Mendengar nama itu disebut, hadirin pun riuh dan bersorak. Mereka menyebut dan sambil menunjuk ke sosok yang disebut itu, adalah Direktur Akademi tersebut. Nur Ikhwan sendiri sebelumnya belum tahu hal itu. Lalu, masuklah Dr. Al-Madhoun yang sebelumnya hanya di luar, dan ia pun ikut bicara dengan senyuman. Setelah sebelumnya berangkulan dengan Nur Ikhwan, dengan mesra bak saudara kandung. Al-Madhoun menyarankan agar perwakilan pemerintah Indonesia segera dibentuk saja di Jalur Gaza. “Langkah awal bisa saja tidak dalam bentuk Konsulat resmi, tetapi dapat melalui misalnya Pusat Pendidikan atau Pusat Kebudayaan,” ujarnya bersemangat. Pihaknya juga siap membantu pelaksanaan Konferensi serupa yang pernah diselenggarakan di Bandung, Indonesia, untuk dilaksanakan di Kota Gaza. Ia juga mengapresiasi keberadaan Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency – Wakalah Mi’raj lil anba al-islamiyyah), sebagai tindak lanjut dari Konferensi Bandung 2012. Menurutnya, cabang-cabang MINA perlu didirikan di setiap negeri Muslim, agar kaum Muslimin dapat mengikuti perkembangan dunia Islam pada umumnya, serta perkembangan Indonesia pada khususnya, yang mayoritas Muslim sebagai salah satu barometer perjuangan dunia Islam. Sementara itu, Dr. Tayseer Mehasen, Direktur Jenderal Hubungan Internasional Kementerian Luar Negeri Palestina di Jalur Gaza, menyatakan siap membantu merealisasikan pembentukan perwakilan tersebut. Menurutnya, apalagi hubungan Kementerian Luar Negeri antara Jalur Gaza dan Tepi Barat saat ini berjalan baik. Kemenlu di Jalur Gaza berjalan, dan Kemenlu di Tepi Barat juga berjalan. Dari segi keamanaan juga sangat memungkinkan, ujarnya. “Namun yang paling penting dari semuanya adalah bagaimana negeri-negeri Muslimin semakin meningkatkan perannya terhadap Al-Quds dan Palestina,” paparnya. Seret Israel ke Mahkamah Di akhir sesi kuliah ilmiah, seorang mahasiswa bernama Kayd Jarbou, menyatakan seiring pendirian perwakilan di Gaza, dia dan rekan-rekan mahasiswa lainnya siap menghubungkan tim pengacara di Indonesia dengan lembaga-lembaga di Jalur Gaza yang konsen terhadap isu kejahatan Zionis Israel. Mahasiswa yang bekerja di lembaga advokasi juga siap memberikan data-data kepada para pengacara

Banyak Blokade, Gaza Sulit Dapat Bantuan

Anak-anak kecil yang tinggal di Jalur Gaza kondisinya memprihatinkan. REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Warga Rafah yang berada di sisi selatan Jalur Gaza dikabarkan kesulitan mendapatkan akses rumah sakit akibat blokade baik itu dari Israel maupun Mesir. Terkait hal itu, salah satu presidium organisasi kemanusiaan Medical Emergency Rescue Commitee (Mer-C), Joserizal Jurnalis, mengaku proyek pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza sudah selesai namun masih menghadapi permasalahan. ”Rumah Sakit Indonesia sudah selesai, begitu juga Wisma Indonesia dan masjid yang berada di belakangnya juga sudah kita rehab. Masalahnya kami perlu membeli barang, namun terbentur permasalahan dari blokade pintu-pintu ini,” ujar Joserizal kepada Republika.co.id, Rabu (18/3). Dengan adanya blokade, kata Joserizal, warga pun kesulitan mendapat obat-obatan. Untuk menembus perbatasan Rafah, kata Joserizal, pihaknya belum mendapatkan izin dari pihak Mesir karena masih ada operasi militer. Joserizal mengakui kondisi di Sinai memang tidak kondusif. Meski begitu, Joserizal mengaku telah mendapat janji untuk masuk ke Jalur Gaza pada Juni nanti. Pihaknya pun berencana untuk membuat grand opening RSI di Gaza. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/15/03/18/nlezro-banyak-blokade-gaza-sulit-dapat-bantuan        

MER-C: Jangan Lelah Suarakan Pembebasan Blokade Gaza

Blokade Gaza REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Salah satu Presidium organisasi kemanusiaan Medical Emergency Rescue Commitee (MER-C) Joserizal Jurnalis menilai blokade untuk Jalur Gaza menjadi masalah terpenting untuk meningkatkan kesejahteraan warga Palestina di wilayah tersebut. “Blokade israel ini menjadi masalah. Laut di depan Gaza itu kan laut bebas, seandainya tidak di blokade mereka (warga Jalur Gaza) bisa bebas berdagang dan tidak bergantung pada orang lain,” ujar Joserizal kepada ROL, Rabu (18/3).  Ia menilai, warga tidak akan bergantung pada bantuan-bantuan dari negara donor. Pembukaan blokade, kata Joserizal, akan memberikan kesejahteraan yang lebih baik. Joserizal mengatakan, bantuan yang paling penting adalah untuk selalu menyuarakan tuntutan membuka blokade. “Itu penting karena Palestina sebenarnya bisa mandiri. Kita tidak boleh letih untuk bersuara,” ujarnya. Menurutnya, jika blokade dibuka, Jalur Gaza hanya membutuhkan bantuan pada tahap awal. Ia mengaku yakin dengan hal itu karena menilai warga Palestina sebagai masyarakat yang ulet. Meski begitu, Joserizal mengaku blokade dibuat sehingga menimbulkan problem politis. “Karena blokade, Gaza harus bergantung pada negara negara donor. Padahal, Gaza memiliki pantai dan tentunya bisa digunakan sebagai kota perdagangan,” ujarnya.  Sumber : http://internasional.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/15/03/18/nlejrf-merc-jangan-lelah-suarakan-pembebasan-blokade-gaza                

Penyaluran Bantuan Kemanusiaan untuk Perbaikan Masjid di Gaza Utara

Gaza – Donasi amanah kemanusiaan Palestina terus disalurkan oleh para relawan Indonesia di Gaza. Kali ini dalam bentuk bantuan perbaikan masjid. Ada dua masjid di Gaza Utara yang telah selesai diperbaiki oleh relawan Indonesia di Gaza, yaitu Masjid Abdurrozaq Galebo dan Masjid Syeikh ‘Aid Zawiyat. Kedua masjid ini adalah dua masjid yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara yang keduanya mengalami kerusakan akibat perang 51 hari lalu. “Alhamdulillah pelaksanaan bantuan pembuatan jendela Masjid Galebo yang hancur pasca perang lalu sudah dapat diselesaikan,” ungkap Ir. Edy Wahyudi, salah satu relawan Indonesia di Gaza, dalam laporan tertulisnya kepada MER-C Pusat Jakarta.   “Saat ini musim dingin cukup ekstreem di Gaza, akan tetapi setelah kita melaksanakan perbaikan jendela-jendela masjid maka jamaah sholat di Masjid Galebo terutama sholat Subuh, Maghrib dan Isya sudah dapat dilaksanakan dengan baik karena tidak diterpa angin yang sangat dingin,” tambah insinyur yang sudah tiga kali bertugas di Gaza. Selain kerusakan jendela, akibat serangan lalu, karpet masjid Galebo juga banyak yang mengalami kerusakan total dan tidak dapat digunakan lagi oleh jamaah sholat. Hal ini menyebabkan shaf sholat yang bisa digunakan hanya sebagian itupun menggunakan karpet yang bekas terbakar di sana sini akibat percikan bom dan rudal. Untuk itu, MER-C juga menyalurkan bantuan karpet untuk masjid Galebo seluas 800 m2. Karpet dibeli dan dipasang langsung oleh para relawan Indonesia di Gaza. Berdasarkan informasi dari Ir. Edy Wahyudi, para relawan Indonesia juga sebelumnya sudah menyelesaikan perbaikan masjid Syeikh ‘Aid Zawiyat. “Kami memperbaiki dinding masjid Zawiyat dengan diplester dan dicat kembali. Kami juga membuatkan tempat wudhu dan tambahan toilet baru. Atap teras masjid juga sudah diganti,” papar Ir. Edy Wahyudi. Selain itu, perang juga membuat rusaknya jaringan sound system Masjid ini sehingga suara adzan tidak terdengar lagi. “Dengan donasi dari rakyat Indonesia, MER-C juga sudah membantu sound system masjid Syeikh ‘Aid Zawiyat sehingga aktifitas dan syiar masjid bisa berjalan kembali seperti sedia kala. “Imaam Masjid dan para jamaah masjid Abdurrozaq Galebo mengucapkan syukur kepada Allah SWT dan mengucapkan terima kasih serta do’a jazaakumullah khair yang artinya ‘Semoga Allah membalas amalan antum dengan yang lebih baik’ kepada rakyat Indonesia. Begitu pun dengan jamaah masjid Syeikh ‘Aid Zawiyat,” tutup Ir. Edy Wahyudi dalam laporannya.   /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;}        

Musim Dingin Melanda Gaza, MER-C Bagikan Selimut dan Baju Hangat

Gaza – Setelah bantuan selimut sebanyak 1.200 buah tersalurkan kepada warga Gaza sejak awal musim dingin lalu, kini MER-C Cabang Gaza kembali menyalurkan bantuan kemanusiaan amanah dari para donatur di Indonesia. Bantuan yang diberikan kali ini adalah pakaian musim dingin yang terdiri dari kaos, long john, celana panjang, jaket hangat, untuk wanita ditambah dengan jalabiah tebal dan kerudung. Sebanyak 500 paket pakaian musim dingin disiapkan dan telah bertahap dibagikan sejak Selasa (3/2) lalu yang terdiri dari 150 stel pakaian untuk pria, 150 stel untuk wanita dan sisanya sebanyak 200 stel pakaian untuk anak-anak. Bantuan langsung disalurkan oleh relawan MER-C yang sedang bertugas untuk Pembangunan RS Indonesia di Gaza. Selimut dan pakaian dingin ini diharapkan dapat membantu warga Gaza bertahan menghadapi musim dingin yang kerendahan suhunya bisa mencapai hingga 5 derajat celcius. Bahkan, menurut informasi dua musim dingin terakhir adalah musim dingin terekstrim di Gaza setelah 50 tahun lamanya. Dampak musim dingin kali ini terasa lebih berat bagi warga Gaza terutama bagi mereka yang rumahnya hancur akibat agresi militer Israel pada perang 51 hari lalu, juga tentunya bagi rakyat kalangan bawah yang rumahnya tidak mampu menahan dinginnya musim tahun ini.   Dibandingkan dengan penyaluran bantuan-bantuan sebelumnya seperti sembako, peralatan sekolah, dll, teknis pemberian bantuan pakaian dingin dilakukan sedikit berbeda. Relawan MER-C terlebih dahulu membagikan kupon kepada para warga yang berhak. Warga penerima kupon kemudian dapat menukarkan kupon tersebut dengan satu paket pakaian dingin di toko pakaian yang telah ditunjuk oleh MER-C Cabang Gaza. Dengan cara ini diharapkan pakaian yang diterima warga bisa cocok dan sesuai baik ukuran, model dan warnanya. MER-C juga menugaskan beberapa relawannya untuk berjaga di toko pakaian yang telah ditetapkan tersebut untuk membantu melayani para warga yang berdatangan mengambil bantuan pakaian musim dingin mereka, karena setiap harinya warga yang datang untuk menukarkan kupon bantuan mencapai 100 orang. Dengan target 100 orang per hari, maka pembagian bantuan pakaian dingin ini akan selesai tersalurkan dalam 5 hari hingga Ahad (8/2).   Warga Gaza mengaku senang dengan bantuan dan sistem pembagian seperti ini karena mereka dapat memilih pakaian yang cocok untuk mereka dan bisa langsung mereka pakai kala musim dingin melanda Gaza seperti saat ini. Warga Gaza juga mengucapkan terima kasih kepada rakyat Indonesia atas kepedulian dan bantuan yang telah diberikan. Sementara itu, 19 relawan MER-C Indonesia masih berada di Gaza dengan tugas diantaranya untuk mengawal proses pengadaan alat kesehatan RS Indonesia di Gaza. Proses ini masih terus berlangsung, beberapa alat seperti nebulizer dan ventilator sudah tiba  dan akan menyusul kedatangan alat-alat lainnya yang akan mengisi seluruh ruangan RS Indonesia.          

Wakaf Masyarakat Sumatera Utara untuk Rakyat Palestina

(Analisa/Mahjijah Chair) TANDATANGAN: Wakil Gubernur Sumatera Utara HT Erry Nuradi disaksikan Presidium MER-C dr Jose Rizal Jurnalis (baju putih) dan Ketua MER-C Cabang Medan dr Ahmad Handayani (pakai rompi) menandatangani plakat Gerakan Wakaf Masyarakat Sumatera Utara untuk rakyat Gaza, Palestina. Medan, (Analisa). Wakil Gubernur Sumatera Utara HT Erry Nuradi mengapresiasi dan salut kepada MER-C (Medical Emergency Rescue Commitee (Komite Unit Gawat Darurat) Cabang Medan yang telah berhasil mengumpulkan wakaf dari masyarakat Sumatera Utara yang dimanfaatkan untuk pembelian alat medis Rumah Sakit Indonesia di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina. “MER-C dengan segenap masyarakat telah mengumpulkan dana untuk membangun Rumah Sakit Indonesia yang sangat dibutuhkan di Gaza, yang setiap hariny menelan korban cukup banyak. Oleh karena itu tentunya pemerintah, khususnya Sumatera Utara harus mengangkat topi setinggi-tingginya kepada MER-C yang merupakan satu lembaga yang terkenal di bidang sosial, khususnya bidang kesehatan karena kepedulian yang luar biasa telah menggerakkan masyarakat,” jelas Wakil Gubernur Sumatera Utara HT Erry Nuradi usai menyerahkan dana waqaf masyarakat Sumut kepada Presidium MER-C dr Jose Rizal Jurnalis di Aula Fakultas Farmasi, Minggu (25/1).  Dikatakannya, apa yang dilakukan oleh MER-C Medan ini salah satu cara untuk membantu para korban perang. Jika ingin membantu tidak mesti mengangkat senjata. “Banyak cara lain yang bisa dilakukan, salah satunya seperti yang diprakarsai oleh MER-C ini,” pujinya. Memang, uang yang telah dikumpulkan oleh MER-C ini tidak begitu banyak. Namun paling tidak sudah dapat membantu masyarakat yang membutuhkan jasa kesehatan. “Dan kita harus mengapresiasi MER-C ini,” katanya. Ketua MER-C Medan Dr Ahmad Handayani mengungkapkan, dana waqaf masyarakat Sumut yang berhasil dikumpulkan itu sebesar Rp900 juta. Dana itu akan digunakan membeli peralatan medis untuk RS Indonesia di Palestina. “Dana yang diserahkan oleh Wagubsu untuk rakyat Gaza itu melalui dr Jose Rizal yang merupakan Presidium MER-C Indonesia sebesar Rp900 juta,” ujarnya didampingi Ketua Panitia dr M Ari Irsyad. Disebutkannya, dana yang terkumpul itu berasal dari sekolah, organisasi masyarakat, perorangan, komunitas, fakultas, mahasiswa dan semua elemen masyarakat Sumatera Utara. “MER-C Medan hanya mengumpulkan saja,” cetusnya seraya menambahkan RS Indonesia di Palestina itu dibangun sejak tahun 2009 menghabiskan dana Rp42 miliar. Sementara untuk alat medis menggelontorkan biaya Rp75 miliar dan sudah terpenuhi. “Semua dana berasal dari masyarakat Indonesia, tidak ada dari masyarakat asing,” cetusnya. Sementara Presidium MER-C dr Jose Rizal Jurnalis menyampaikan dokumentasi kegiatan-kegiatan yang sudah dilaksanakan di Palestina dengan membantu para korban perang. Bersamaan dengan penyerahan waqaf itu, sebelumnya diselenggarakan Seminar Ilmiah Tahunan untuk ketiga kalinya dengan menghadirkan 500 peserta yakni, dokter, mahasiswa kedokteran dan perawat se-Sumatera.  Seminar yang mengusung tema Manajemen Sesak Fafas itu menghadirkan pembicara Prof dr Asnan Lelo, Prof dr Sutomi Kasiman SpPD SpJP (K), dr Widi Rahardjo SpP, de jose Rizal Jurnalis SpOT dan dr Andika Kesuma SpP, dr Irfan Hamdani SpAN dan dr Hasanul Arifin SpAN dan lainnya. “Kegiatan ini diakreditasi oleh IDI Sumatera Utara sebesar 30 Satuan Kredit Profesi (SKP),” ujarnya. Turut hadir dalam acara itu Ketua IDI Sumut dr Suhelmi SpB dan Ketua Forum Umat Islam (FUI) Ustazd Leo Insar, Kepala Dinas Kesehatan Sumut Kadiskes Sumut dr RR SH Surjantini MKes dan staf dan lainnya. (mc) Sumber : http://analisadaily.com/news/read/wakaf-masyarakat-sumut-untuk-rakyat-palestina/102234/2015/01/26                

MER-C Salurkan Bantuan Tunai Rp. 500 Juta Rupiah Lebih Untuk Keluarga Syuhada Gaza

Muhammad Karidi (Kedua dari kiri) Relawan Mer-c Indonesia, saat penyerahan secara simbolis bantuan untuk keluarga Syuhada Gaza. foto : mirajnews.com Gaza, 17 rabiul Awwal 1436/ 8 Januari 2015 (MINA) – Medical mergency Rescue Committee (MER-C) menyalurkan bantuan berupa santunan untuk keluarga syuhada di Jalur Gaza sebesar Rp. 500 juta lebih. Santunan berupa uang tunai tersebut diserahkan oleh Muhammad Karidi, salah satu relawan MER-C Indonesia, yang diterima secara simbolis oleh perwakilan salah satu keluarga syuhada Abu Musthafa Al Qanu’ pada acara bertema “Kemuliaan untuk Keluarga Syuhada” di Jabaliya, Utara Jalur Gaza, Kamis 8/1. Abu Musthafa mengucapkan terima kasih kepada rakyat Indonesia dan MER-C atas bantuan kepada keluarga syuhada. “Merupakan salah satu bentuk penghormatan untuk keluarga yang ditinggalkan,” tuturnya.  Sementara itu Muhammad Karidi, relawan MER-C yang saat ini sedang mengemban amanah membangun Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza mengatakan,  bantuan ini adalah salah satu bentuk santunan kepada keluarga syuhada, khususnya untuk anak-anak yatim dan janda yang ditinggal selamanya oleh ayah dan suami mereka, akibat serangan Israel tahun lalu. Relawan Mechanical Electrical ini lebih lanjut  menjelaskan, selain membangun Rumah Sakit Indonesia, MER-C  yang sudah mencapai tahap akhir penyelesaiannya juga menyalurkan berbagai bantuan kemanusiaan kepada rakyat Gaza, khususnya sejak serangan terakhir Israel tahun lalu. “Ini bukan kali pertama Mer-c menyalurkan bantuan kemanusiaan, lainnya -menyalurkan bantuan berupa paket sembako, paket perlatan masak, bantuan untuk anak sekolah dan bantuan uang tunai untuk keluarga yatim” kata Karidi. Penyaluran bantuan MER-C di Gaza dilakukan lebih bisa terarah dan tepat sasaran, karena disalurkan langsung oleh relawan-relawan asal Indonesia yang sedang melaksanakan amanah di Jalur Gaza. “Penyaluran bantuan dari rakyat Indonesia, disalurkan langsung oleh para relawan sehingga bisa tepat sasaran dan langsung diterima oleh rakyat Gaza,” jelasnya. Ketika ditanya tentang progress pembangunan RS Indonesia, Karidi menjelaskan bahwa pembangunan sudah mencapai tahap akhir dan tinggal menunggu alat kesehatan. “RS Indonesia secara fisik telah selesai, saat ini kita sedang menunggu datangnya alat kesehatan yang sudah d-order, setidaknya perlu 6-7 pekan ke depan alat-alat itu akan segera berdatangan” ujarnya. Karidi juga mengucapkan terima kasih kepada rakyat Indonesia atas semua bantuan dan sumbangan yang dipercayakan kepada MER-C. “Atas nama relwan MER-C di Gaza, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia yang telah memberikan kepercayaanya kepada MER-C menyalurkan bantuan kepada Palestina, semoga ALLAH membalas semua bantuan yang rakyat Indonesia berikan,” kataya. Koresponden MINA di Gaza melaporkan, ada cerita menarik ketika relawan MER-C akan menyerahkan bantuan tersebut kepada Abu Ali salah satu penanggungjawab acara. Abu Ali menjelaskan bahwa mendekati detik acara, panitia cukup kebingungan karena bantuan yang hendak diserahkan kepada keluarga para syuhada tidak mencukupi. “Sejak pagi tadi kami panitia cukup bingung, karena tidak memiliki uang yang cukup untuk menyantuni keluarga keluarga-keluarga yatim tersebut” ujarnya. “Setelah shalat subuh tadi saya berdoa dan memohon kepada ALLAH agar memberikan rizki kepada anak-anak yatim dan kelurga syuhada, bahkan teman-teman panitia menanyakan kepada saya sejak pagi tadi, apakah bantuan untuk syuhada sudah cukup?” ujarnya menceritakan. Ia menambahkan “Saya katakan kepada mereka, bahwa ALLAH yang akan mencukupkan, dan kita tunggu hingga setelah dhuhur nanti, semoga ALLAH berikan jalan keluar.” Benar saja ketika tim Mer-c datang tepat sesaat setelah dhuhur dan menyampaikan bantuan tersebut, Abu Ali sangat bersyukur dan bertasbih kepada ALLAH. “Subhanallah, ALLAH Maha Memberi Rezeki, sejak tadi saya menunggu apakah doa kami akan terkabulkan, ternyata kalian yang diutus ALLAH dan datang membawa bantuan tersebut” kata Abu Ali dengan mata berkaca-kaca. “Saya sangat meyakini bahwa keluarga para syuhada ini tidak akan disia-siakan oleh ALLAH, kami ucapkan terima kasih, sekali lagi terima kasih,” ujarnya penuh rasa syukur. (K01/P2) Sumber : http://mirajnews.com/id/palestina/merc-salurkan-bantuan-tunai-rp-500-juta-rupiah-lebih-untuk-keluarga-syuhada-gaza/                

Silahkan bertanya?