MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

MER-C KOORDINASI PEMERINTAH PERESMIAN RS INDONESIA DI GAZA

Dari kanan ke kiri: Wamenlu A.M. Fachir, Presidium MER-C Sarbini Abdul Murad, Farid Thalib, Rima Manzanaris. Foto: Putri/MINA Jakarta, 27 Jumadil Akhir 1436/16 April 2015 (MINA) – Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) terus melakukan koordinasi intensif bersama pemerintah mengenai rencana peresmian RS Indonesia di Jalur Gaza. Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia A.M.  Fachir mengungkapkan apresiasinya kepada MER-C atas upaya menyelesaikan amanah bantuan kemanusian rakyat untuk membangun RS di satu-satunya daerah yang masih terjajah itu. “Saya sangat kagum dan terkesan dengan kemajuan MER-C untuk merealisasikan misi yang mustahil rasanya. Tapi dengan tekad yang tinggi ini bisa di realisasikan, dan tentu ini tidak gampang,” ungkap Fachir, di Kantor Kemenlu Jakarta, Kamis. Sejauh ini, peresmian yang direncanakan Juni mendatang masih mengalami kesulitan, terutama berkenaan dengan perizinan perbatasan Rafah yang berada di bawah kendali intelijen Mesir. Sementara, Manajer Operasional MER-C, Rima Manzanaris mengatakan pihaknya masih menunggu pemerintah Mesir terkait izin masuk melalui perbatasan tersebut. “Pemerintah Mesir mengatakan perkiraan di bulan Mei dan Juni itu aman, tapi kita akan mengambil di bulan Juni untuk peresmiannya,” ujar Rima. Rima juga mengatakan, kondisi terkini RS Indonesia di Gaza, sebagian alat kesehatan sudah ada yang masuk dan sebagian lainnya masih menunggu proses izin masuk. “Kita semua berharap hal ini bisa cepat selesai dan RS Indonesia siap untuk direalisasikan oleh masyarakat, ” kata Rima. Dalam hal ini, Wamenlu A.M. Fachir juga  menjanjikan pemerintah akan membantu kelancaran teknis menjelang peresmian RS Indonesia di Jalur Gaza. “Menyusul  panasnya situasi  Sinai dan Rafah yang berbatasan dengan rute ke Jalur Gaza akhir-akhir ini masih konflik,” ujar Fachir. Kondisi Sinai yang masih dalam situasi darurat menimbulkan kesulitan bagi relawan untuk masuk ke Gaza. Pasalnya, rumah-rumah di Sinai utara menjadi korban operasi tentara Mesir untuk melawan militan di sana. (L/P007/P4) Sumber : http://mirajnews.com/id/indonesia/nasional/merc-koordinasi-pemerintah-peresmian-rs-indonesia-di-gaza/              

RELAWAN INDONESIA DI GAZA: “SEHARI MENJADI DOKTOR”

‘Doktor’ Nur Ikhwan Abadi menyampaikan kuliah ilmiah di hadapan mahasasiswa S2 dan S3 Management & Politics Academy for Postgraduated Studies, di Kota Gaza, Sabtu (21/3). (Foto: Mirajnews) Oleh: Ali Farkhan Tsani, Redaktur Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency) Jalur Gaza – Sungguh tidak disangka, jika seorang relawan Indonesia di Jalur Gaza, Palestina, mendadak mendapat gelar “doktor” dalam sehari. Tapi, itulah yang terjadi dan diterima oleh Nur Ikhwan Abadi, relawan kemanusiaan MER-C (Medical Emergency Resque Committee) asal Indonesia yang sedang membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Peristiwa bersejarah itu terjadi Sabtu kemarin (21/3), saat Nur Ikhwan, didaulat memberikan ceramah ilmiah bertajuk “Indonesian role to strengthening the international position of Palestinian issues” (Peran Indonesia untuk memperkuat isu Palestina dalam posisi internasional), di hadapan mahasiswa S2 dan S3 Management & Politics Academy for Postgraduated Studies, di Kota Gaza. “Di hadapan para mahasiswa, juga undangan dari pejabat pemerintah, media, dan perwira tinggi kepolisian Palestina, saya diminta berbicara tentang peran Indonesia, dan saya diberi gelar ‘doktor sehari’ untuk seminar tersebut,” ujar ‘Doktor’ Nur Ikhwan Abadi, yang juga Kepala Biro Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency) Timur Tengah berkedudukan di Palestina. Menurutnya, ada tiga pembicara dalam seminar ilmiah tersebut, yaitu Dr. Tayseer Mehasen (Direktur Jenderal Hubungan Internasional Kementerian Luar Negeri Palestina), Ir. Omar Jomah Shiyam (Manager Aman Palestine Cabang Gaza), dan moderator Dr. Ihab Swaikh. Pada kesempatan itu, Nur Ikhwan, yang juga alumni tarbiyah Pesantren Al-Fatah Muhajirun, Negararatu, Natar, Lampung Selatan, menyampaikan tentang peran pemerintah dan rakyat Indonesia dalam mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina dan pembebasan Al-Aqsha. “Indonesia pernah melaksanakan Konferensi Internasional untuk Kemerdekaan Palestina dan Pembebasan Al-Quds di Bandung tahun 2012. Seluruh komponen pemerintah dan rakyat Indonesia mendukung penuh kemerdekaan Palestina dan pembebasan Al-Aqsha dari belenggu penjajahan Israel,” ujarnya. Pada Konferensi Internasional Palestina “International Conference for The Freedom of Al-Quds and Palestine”, yang digagas Jama’ah Muslimin (Hizbullah) sebagai Khilafah ‘alaa minhaajin nubuwwah (Khilafah yang mengikuti jejak kenabian), Bandung, 14-15 Sya’ban 1433 H./4-5 Juli 2012 M. menghasilkan Deklarasi Bandung untuk Pembebasan Al-Quds. Isi Deklarasi Bandung antara lain; bahwa untuk suksesnya perjuangan pembebasan Al-Quds dan Palestina dituntut dukungan yang lebih nyata dari kaum Muslimin pada khususnya dan komunitas internasional pada umumnya. Selanjutnya, disebutkan juga guna menyatukan langkah perjuangan pembebasan Al-Quds dan Palestina tersebut, mengamanahkan kepada H. Muhyiddin Hamidy sebagai Imaam Jama’ah Muslimin (Hizbullah) sebagai pemimpin bagi upaya-upaya untuk mempercepat pembebasan Al-Quds dan kemerdekaan Palestina yang didukung oleh organisasi-organisasi yang peduli dalam permasalahan Palestina. Sidang Konferensi juga merekomendasikan kepada pihak-pihak Pemerintah dan Parlemen untuk menegaskan pesan pembebasan Al-Quds dan Palestina melalui lembaga Negara. Serta melakukan advokasi hukum terhadap bangsa Palestina terutama kaum perempuan dan anak-anak serta mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengadili kejahatan rezim Zionis Israel atau pemimpin-pemimpinnya yang dzalim. Peserta sidang juga siap menghimpun dan mendayagunakan bantuan-bantuan material dan non material untuk menolong Al-Quds dan Palestina, dan secara khusus mendesak Pemerintah Republik Indonesia untuk membuka Konsulat Pelayanan Diplomatik di wilayah Jalur Gaza. Putusan lain yang penting adalah mempersiapkan pelaksanaan konferensi selanjutnya di Gaza atau tempat-tempat lain sesuai situasi dan kondisi yang berkembang, Mengutus delegasi untuk memfasilitasi perdamaian dan ishlah dari faksi-faksi di Palestina serta mempromosikan kesatuan Muslimin di Palestina dan memprakarsai boikot terhadap produk-produk yang mendukung rezim Zionis Israel. Nur Ikhwan Abadi (Foto: Mirajnews) Konsulat RI di Gaza Nur Ikhwan, alumni Teknik Sipil Universitas Lampung itu, menyampaikan alternatif dukungan politis pemerintah Indonesia untuk Palestina, antara lain adalah dalam bentuk pendirian Konsultas RI di Jalur Gaza. Menurutnya, hal itu sangat memungkinkan, apalagi ada beberapa mahasiswa setempat di Jalur Gaza yang siap mendukung rencana seperti itu. Nur Ikwhan, juga adalah delegasi khusus Jama’ah Muslimin (Hizbullah), wadah kesatuan umat Islam, berpusat di Bogor, Indonesia, yang secara khusus memiliki agenda Ghazwah Fath Al-Aqsha (pembebasan Al-Aqsha) sejak 2007, dan Kepala Koresponden Kantor Berita Islam MINA di Timur Tengah. “Selain kemungkinan pembukaan Konsulat RI di Jalur Gaza, upaya lainnya adalah advokasi hukum oleh Indonesia untuk warga Palestina, terutama wanita dan anak anak atas tindakan kriminal Israel,” paparnya. Upaya lain adalah dengan terus menggencarkan aksi dan kampanye boikot produk-produk Israel, serta upaya melaksanakan konferensi yang dihadiri tokoh-tokoh Indonesia, bertempat di Jalur Gaza. Pada pertemuan pemaparan, ‘Doktor’ Nur Ikhwan juga menyampaikan, salah satu delegasi Konferensi Bandung adalah Menteri Pemuda dan Olahraga Palestina pada pemerintahan PM Ismail Haniyah sebelum pemerintahan persatuan terbentuk, Dr. Muhammad Al-Madhoun. Mendengar nama itu disebut, hadirin pun riuh dan bersorak. Mereka menyebut dan sambil menunjuk ke sosok yang disebut itu, adalah Direktur Akademi tersebut. Nur Ikhwan sendiri sebelumnya belum tahu hal itu. Lalu, masuklah Dr. Al-Madhoun yang sebelumnya hanya di luar, dan ia pun ikut bicara dengan senyuman. Setelah sebelumnya berangkulan dengan Nur Ikhwan, dengan mesra bak saudara kandung. Al-Madhoun menyarankan agar perwakilan pemerintah Indonesia segera dibentuk saja di Jalur Gaza. “Langkah awal bisa saja tidak dalam bentuk Konsulat resmi, tetapi dapat melalui misalnya Pusat Pendidikan atau Pusat Kebudayaan,” ujarnya bersemangat. Pihaknya juga siap membantu pelaksanaan Konferensi serupa yang pernah diselenggarakan di Bandung, Indonesia, untuk dilaksanakan di Kota Gaza. Ia juga mengapresiasi keberadaan Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj Islamic News Agency – Wakalah Mi’raj lil anba al-islamiyyah), sebagai tindak lanjut dari Konferensi Bandung 2012. Menurutnya, cabang-cabang MINA perlu didirikan di setiap negeri Muslim, agar kaum Muslimin dapat mengikuti perkembangan dunia Islam pada umumnya, serta perkembangan Indonesia pada khususnya, yang mayoritas Muslim sebagai salah satu barometer perjuangan dunia Islam. Sementara itu, Dr. Tayseer Mehasen, Direktur Jenderal Hubungan Internasional Kementerian Luar Negeri Palestina di Jalur Gaza, menyatakan siap membantu merealisasikan pembentukan perwakilan tersebut. Menurutnya, apalagi hubungan Kementerian Luar Negeri antara Jalur Gaza dan Tepi Barat saat ini berjalan baik. Kemenlu di Jalur Gaza berjalan, dan Kemenlu di Tepi Barat juga berjalan. Dari segi keamanaan juga sangat memungkinkan, ujarnya. “Namun yang paling penting dari semuanya adalah bagaimana negeri-negeri Muslimin semakin meningkatkan perannya terhadap Al-Quds dan Palestina,” paparnya. Seret Israel ke Mahkamah Di akhir sesi kuliah ilmiah, seorang mahasiswa bernama Kayd Jarbou, menyatakan seiring pendirian perwakilan di Gaza, dia dan rekan-rekan mahasiswa lainnya siap menghubungkan tim pengacara di Indonesia dengan lembaga-lembaga di Jalur Gaza yang konsen terhadap isu kejahatan Zionis Israel. Mahasiswa yang bekerja di lembaga advokasi juga siap memberikan data-data kepada para pengacara

Banyak Blokade, Gaza Sulit Dapat Bantuan

Anak-anak kecil yang tinggal di Jalur Gaza kondisinya memprihatinkan. REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Warga Rafah yang berada di sisi selatan Jalur Gaza dikabarkan kesulitan mendapatkan akses rumah sakit akibat blokade baik itu dari Israel maupun Mesir. Terkait hal itu, salah satu presidium organisasi kemanusiaan Medical Emergency Rescue Commitee (Mer-C), Joserizal Jurnalis, mengaku proyek pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza sudah selesai namun masih menghadapi permasalahan. ”Rumah Sakit Indonesia sudah selesai, begitu juga Wisma Indonesia dan masjid yang berada di belakangnya juga sudah kita rehab. Masalahnya kami perlu membeli barang, namun terbentur permasalahan dari blokade pintu-pintu ini,” ujar Joserizal kepada Republika.co.id, Rabu (18/3). Dengan adanya blokade, kata Joserizal, warga pun kesulitan mendapat obat-obatan. Untuk menembus perbatasan Rafah, kata Joserizal, pihaknya belum mendapatkan izin dari pihak Mesir karena masih ada operasi militer. Joserizal mengakui kondisi di Sinai memang tidak kondusif. Meski begitu, Joserizal mengaku telah mendapat janji untuk masuk ke Jalur Gaza pada Juni nanti. Pihaknya pun berencana untuk membuat grand opening RSI di Gaza. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/15/03/18/nlezro-banyak-blokade-gaza-sulit-dapat-bantuan        

MER-C: Jangan Lelah Suarakan Pembebasan Blokade Gaza

Blokade Gaza REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Salah satu Presidium organisasi kemanusiaan Medical Emergency Rescue Commitee (MER-C) Joserizal Jurnalis menilai blokade untuk Jalur Gaza menjadi masalah terpenting untuk meningkatkan kesejahteraan warga Palestina di wilayah tersebut. “Blokade israel ini menjadi masalah. Laut di depan Gaza itu kan laut bebas, seandainya tidak di blokade mereka (warga Jalur Gaza) bisa bebas berdagang dan tidak bergantung pada orang lain,” ujar Joserizal kepada ROL, Rabu (18/3).  Ia menilai, warga tidak akan bergantung pada bantuan-bantuan dari negara donor. Pembukaan blokade, kata Joserizal, akan memberikan kesejahteraan yang lebih baik. Joserizal mengatakan, bantuan yang paling penting adalah untuk selalu menyuarakan tuntutan membuka blokade. “Itu penting karena Palestina sebenarnya bisa mandiri. Kita tidak boleh letih untuk bersuara,” ujarnya. Menurutnya, jika blokade dibuka, Jalur Gaza hanya membutuhkan bantuan pada tahap awal. Ia mengaku yakin dengan hal itu karena menilai warga Palestina sebagai masyarakat yang ulet. Meski begitu, Joserizal mengaku blokade dibuat sehingga menimbulkan problem politis. “Karena blokade, Gaza harus bergantung pada negara negara donor. Padahal, Gaza memiliki pantai dan tentunya bisa digunakan sebagai kota perdagangan,” ujarnya.  Sumber : http://internasional.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/15/03/18/nlejrf-merc-jangan-lelah-suarakan-pembebasan-blokade-gaza                

Penyaluran Bantuan Kemanusiaan untuk Perbaikan Masjid di Gaza Utara

Gaza – Donasi amanah kemanusiaan Palestina terus disalurkan oleh para relawan Indonesia di Gaza. Kali ini dalam bentuk bantuan perbaikan masjid. Ada dua masjid di Gaza Utara yang telah selesai diperbaiki oleh relawan Indonesia di Gaza, yaitu Masjid Abdurrozaq Galebo dan Masjid Syeikh ‘Aid Zawiyat. Kedua masjid ini adalah dua masjid yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara yang keduanya mengalami kerusakan akibat perang 51 hari lalu. “Alhamdulillah pelaksanaan bantuan pembuatan jendela Masjid Galebo yang hancur pasca perang lalu sudah dapat diselesaikan,” ungkap Ir. Edy Wahyudi, salah satu relawan Indonesia di Gaza, dalam laporan tertulisnya kepada MER-C Pusat Jakarta.   “Saat ini musim dingin cukup ekstreem di Gaza, akan tetapi setelah kita melaksanakan perbaikan jendela-jendela masjid maka jamaah sholat di Masjid Galebo terutama sholat Subuh, Maghrib dan Isya sudah dapat dilaksanakan dengan baik karena tidak diterpa angin yang sangat dingin,” tambah insinyur yang sudah tiga kali bertugas di Gaza. Selain kerusakan jendela, akibat serangan lalu, karpet masjid Galebo juga banyak yang mengalami kerusakan total dan tidak dapat digunakan lagi oleh jamaah sholat. Hal ini menyebabkan shaf sholat yang bisa digunakan hanya sebagian itupun menggunakan karpet yang bekas terbakar di sana sini akibat percikan bom dan rudal. Untuk itu, MER-C juga menyalurkan bantuan karpet untuk masjid Galebo seluas 800 m2. Karpet dibeli dan dipasang langsung oleh para relawan Indonesia di Gaza. Berdasarkan informasi dari Ir. Edy Wahyudi, para relawan Indonesia juga sebelumnya sudah menyelesaikan perbaikan masjid Syeikh ‘Aid Zawiyat. “Kami memperbaiki dinding masjid Zawiyat dengan diplester dan dicat kembali. Kami juga membuatkan tempat wudhu dan tambahan toilet baru. Atap teras masjid juga sudah diganti,” papar Ir. Edy Wahyudi. Selain itu, perang juga membuat rusaknya jaringan sound system Masjid ini sehingga suara adzan tidak terdengar lagi. “Dengan donasi dari rakyat Indonesia, MER-C juga sudah membantu sound system masjid Syeikh ‘Aid Zawiyat sehingga aktifitas dan syiar masjid bisa berjalan kembali seperti sedia kala. “Imaam Masjid dan para jamaah masjid Abdurrozaq Galebo mengucapkan syukur kepada Allah SWT dan mengucapkan terima kasih serta do’a jazaakumullah khair yang artinya ‘Semoga Allah membalas amalan antum dengan yang lebih baik’ kepada rakyat Indonesia. Begitu pun dengan jamaah masjid Syeikh ‘Aid Zawiyat,” tutup Ir. Edy Wahyudi dalam laporannya.   /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;}        

Musim Dingin Melanda Gaza, MER-C Bagikan Selimut dan Baju Hangat

Gaza – Setelah bantuan selimut sebanyak 1.200 buah tersalurkan kepada warga Gaza sejak awal musim dingin lalu, kini MER-C Cabang Gaza kembali menyalurkan bantuan kemanusiaan amanah dari para donatur di Indonesia. Bantuan yang diberikan kali ini adalah pakaian musim dingin yang terdiri dari kaos, long john, celana panjang, jaket hangat, untuk wanita ditambah dengan jalabiah tebal dan kerudung. Sebanyak 500 paket pakaian musim dingin disiapkan dan telah bertahap dibagikan sejak Selasa (3/2) lalu yang terdiri dari 150 stel pakaian untuk pria, 150 stel untuk wanita dan sisanya sebanyak 200 stel pakaian untuk anak-anak. Bantuan langsung disalurkan oleh relawan MER-C yang sedang bertugas untuk Pembangunan RS Indonesia di Gaza. Selimut dan pakaian dingin ini diharapkan dapat membantu warga Gaza bertahan menghadapi musim dingin yang kerendahan suhunya bisa mencapai hingga 5 derajat celcius. Bahkan, menurut informasi dua musim dingin terakhir adalah musim dingin terekstrim di Gaza setelah 50 tahun lamanya. Dampak musim dingin kali ini terasa lebih berat bagi warga Gaza terutama bagi mereka yang rumahnya hancur akibat agresi militer Israel pada perang 51 hari lalu, juga tentunya bagi rakyat kalangan bawah yang rumahnya tidak mampu menahan dinginnya musim tahun ini.   Dibandingkan dengan penyaluran bantuan-bantuan sebelumnya seperti sembako, peralatan sekolah, dll, teknis pemberian bantuan pakaian dingin dilakukan sedikit berbeda. Relawan MER-C terlebih dahulu membagikan kupon kepada para warga yang berhak. Warga penerima kupon kemudian dapat menukarkan kupon tersebut dengan satu paket pakaian dingin di toko pakaian yang telah ditunjuk oleh MER-C Cabang Gaza. Dengan cara ini diharapkan pakaian yang diterima warga bisa cocok dan sesuai baik ukuran, model dan warnanya. MER-C juga menugaskan beberapa relawannya untuk berjaga di toko pakaian yang telah ditetapkan tersebut untuk membantu melayani para warga yang berdatangan mengambil bantuan pakaian musim dingin mereka, karena setiap harinya warga yang datang untuk menukarkan kupon bantuan mencapai 100 orang. Dengan target 100 orang per hari, maka pembagian bantuan pakaian dingin ini akan selesai tersalurkan dalam 5 hari hingga Ahad (8/2).   Warga Gaza mengaku senang dengan bantuan dan sistem pembagian seperti ini karena mereka dapat memilih pakaian yang cocok untuk mereka dan bisa langsung mereka pakai kala musim dingin melanda Gaza seperti saat ini. Warga Gaza juga mengucapkan terima kasih kepada rakyat Indonesia atas kepedulian dan bantuan yang telah diberikan. Sementara itu, 19 relawan MER-C Indonesia masih berada di Gaza dengan tugas diantaranya untuk mengawal proses pengadaan alat kesehatan RS Indonesia di Gaza. Proses ini masih terus berlangsung, beberapa alat seperti nebulizer dan ventilator sudah tiba  dan akan menyusul kedatangan alat-alat lainnya yang akan mengisi seluruh ruangan RS Indonesia.          

Wakaf Masyarakat Sumatera Utara untuk Rakyat Palestina

(Analisa/Mahjijah Chair) TANDATANGAN: Wakil Gubernur Sumatera Utara HT Erry Nuradi disaksikan Presidium MER-C dr Jose Rizal Jurnalis (baju putih) dan Ketua MER-C Cabang Medan dr Ahmad Handayani (pakai rompi) menandatangani plakat Gerakan Wakaf Masyarakat Sumatera Utara untuk rakyat Gaza, Palestina. Medan, (Analisa). Wakil Gubernur Sumatera Utara HT Erry Nuradi mengapresiasi dan salut kepada MER-C (Medical Emergency Rescue Commitee (Komite Unit Gawat Darurat) Cabang Medan yang telah berhasil mengumpulkan wakaf dari masyarakat Sumatera Utara yang dimanfaatkan untuk pembelian alat medis Rumah Sakit Indonesia di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina. “MER-C dengan segenap masyarakat telah mengumpulkan dana untuk membangun Rumah Sakit Indonesia yang sangat dibutuhkan di Gaza, yang setiap hariny menelan korban cukup banyak. Oleh karena itu tentunya pemerintah, khususnya Sumatera Utara harus mengangkat topi setinggi-tingginya kepada MER-C yang merupakan satu lembaga yang terkenal di bidang sosial, khususnya bidang kesehatan karena kepedulian yang luar biasa telah menggerakkan masyarakat,” jelas Wakil Gubernur Sumatera Utara HT Erry Nuradi usai menyerahkan dana waqaf masyarakat Sumut kepada Presidium MER-C dr Jose Rizal Jurnalis di Aula Fakultas Farmasi, Minggu (25/1).  Dikatakannya, apa yang dilakukan oleh MER-C Medan ini salah satu cara untuk membantu para korban perang. Jika ingin membantu tidak mesti mengangkat senjata. “Banyak cara lain yang bisa dilakukan, salah satunya seperti yang diprakarsai oleh MER-C ini,” pujinya. Memang, uang yang telah dikumpulkan oleh MER-C ini tidak begitu banyak. Namun paling tidak sudah dapat membantu masyarakat yang membutuhkan jasa kesehatan. “Dan kita harus mengapresiasi MER-C ini,” katanya. Ketua MER-C Medan Dr Ahmad Handayani mengungkapkan, dana waqaf masyarakat Sumut yang berhasil dikumpulkan itu sebesar Rp900 juta. Dana itu akan digunakan membeli peralatan medis untuk RS Indonesia di Palestina. “Dana yang diserahkan oleh Wagubsu untuk rakyat Gaza itu melalui dr Jose Rizal yang merupakan Presidium MER-C Indonesia sebesar Rp900 juta,” ujarnya didampingi Ketua Panitia dr M Ari Irsyad. Disebutkannya, dana yang terkumpul itu berasal dari sekolah, organisasi masyarakat, perorangan, komunitas, fakultas, mahasiswa dan semua elemen masyarakat Sumatera Utara. “MER-C Medan hanya mengumpulkan saja,” cetusnya seraya menambahkan RS Indonesia di Palestina itu dibangun sejak tahun 2009 menghabiskan dana Rp42 miliar. Sementara untuk alat medis menggelontorkan biaya Rp75 miliar dan sudah terpenuhi. “Semua dana berasal dari masyarakat Indonesia, tidak ada dari masyarakat asing,” cetusnya. Sementara Presidium MER-C dr Jose Rizal Jurnalis menyampaikan dokumentasi kegiatan-kegiatan yang sudah dilaksanakan di Palestina dengan membantu para korban perang. Bersamaan dengan penyerahan waqaf itu, sebelumnya diselenggarakan Seminar Ilmiah Tahunan untuk ketiga kalinya dengan menghadirkan 500 peserta yakni, dokter, mahasiswa kedokteran dan perawat se-Sumatera.  Seminar yang mengusung tema Manajemen Sesak Fafas itu menghadirkan pembicara Prof dr Asnan Lelo, Prof dr Sutomi Kasiman SpPD SpJP (K), dr Widi Rahardjo SpP, de jose Rizal Jurnalis SpOT dan dr Andika Kesuma SpP, dr Irfan Hamdani SpAN dan dr Hasanul Arifin SpAN dan lainnya. “Kegiatan ini diakreditasi oleh IDI Sumatera Utara sebesar 30 Satuan Kredit Profesi (SKP),” ujarnya. Turut hadir dalam acara itu Ketua IDI Sumut dr Suhelmi SpB dan Ketua Forum Umat Islam (FUI) Ustazd Leo Insar, Kepala Dinas Kesehatan Sumut Kadiskes Sumut dr RR SH Surjantini MKes dan staf dan lainnya. (mc) Sumber : http://analisadaily.com/news/read/wakaf-masyarakat-sumut-untuk-rakyat-palestina/102234/2015/01/26                

MER-C Salurkan Bantuan Tunai Rp. 500 Juta Rupiah Lebih Untuk Keluarga Syuhada Gaza

Muhammad Karidi (Kedua dari kiri) Relawan Mer-c Indonesia, saat penyerahan secara simbolis bantuan untuk keluarga Syuhada Gaza. foto : mirajnews.com Gaza, 17 rabiul Awwal 1436/ 8 Januari 2015 (MINA) – Medical mergency Rescue Committee (MER-C) menyalurkan bantuan berupa santunan untuk keluarga syuhada di Jalur Gaza sebesar Rp. 500 juta lebih. Santunan berupa uang tunai tersebut diserahkan oleh Muhammad Karidi, salah satu relawan MER-C Indonesia, yang diterima secara simbolis oleh perwakilan salah satu keluarga syuhada Abu Musthafa Al Qanu’ pada acara bertema “Kemuliaan untuk Keluarga Syuhada” di Jabaliya, Utara Jalur Gaza, Kamis 8/1. Abu Musthafa mengucapkan terima kasih kepada rakyat Indonesia dan MER-C atas bantuan kepada keluarga syuhada. “Merupakan salah satu bentuk penghormatan untuk keluarga yang ditinggalkan,” tuturnya.  Sementara itu Muhammad Karidi, relawan MER-C yang saat ini sedang mengemban amanah membangun Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza mengatakan,  bantuan ini adalah salah satu bentuk santunan kepada keluarga syuhada, khususnya untuk anak-anak yatim dan janda yang ditinggal selamanya oleh ayah dan suami mereka, akibat serangan Israel tahun lalu. Relawan Mechanical Electrical ini lebih lanjut  menjelaskan, selain membangun Rumah Sakit Indonesia, MER-C  yang sudah mencapai tahap akhir penyelesaiannya juga menyalurkan berbagai bantuan kemanusiaan kepada rakyat Gaza, khususnya sejak serangan terakhir Israel tahun lalu. “Ini bukan kali pertama Mer-c menyalurkan bantuan kemanusiaan, lainnya -menyalurkan bantuan berupa paket sembako, paket perlatan masak, bantuan untuk anak sekolah dan bantuan uang tunai untuk keluarga yatim” kata Karidi. Penyaluran bantuan MER-C di Gaza dilakukan lebih bisa terarah dan tepat sasaran, karena disalurkan langsung oleh relawan-relawan asal Indonesia yang sedang melaksanakan amanah di Jalur Gaza. “Penyaluran bantuan dari rakyat Indonesia, disalurkan langsung oleh para relawan sehingga bisa tepat sasaran dan langsung diterima oleh rakyat Gaza,” jelasnya. Ketika ditanya tentang progress pembangunan RS Indonesia, Karidi menjelaskan bahwa pembangunan sudah mencapai tahap akhir dan tinggal menunggu alat kesehatan. “RS Indonesia secara fisik telah selesai, saat ini kita sedang menunggu datangnya alat kesehatan yang sudah d-order, setidaknya perlu 6-7 pekan ke depan alat-alat itu akan segera berdatangan” ujarnya. Karidi juga mengucapkan terima kasih kepada rakyat Indonesia atas semua bantuan dan sumbangan yang dipercayakan kepada MER-C. “Atas nama relwan MER-C di Gaza, kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia yang telah memberikan kepercayaanya kepada MER-C menyalurkan bantuan kepada Palestina, semoga ALLAH membalas semua bantuan yang rakyat Indonesia berikan,” kataya. Koresponden MINA di Gaza melaporkan, ada cerita menarik ketika relawan MER-C akan menyerahkan bantuan tersebut kepada Abu Ali salah satu penanggungjawab acara. Abu Ali menjelaskan bahwa mendekati detik acara, panitia cukup kebingungan karena bantuan yang hendak diserahkan kepada keluarga para syuhada tidak mencukupi. “Sejak pagi tadi kami panitia cukup bingung, karena tidak memiliki uang yang cukup untuk menyantuni keluarga keluarga-keluarga yatim tersebut” ujarnya. “Setelah shalat subuh tadi saya berdoa dan memohon kepada ALLAH agar memberikan rizki kepada anak-anak yatim dan kelurga syuhada, bahkan teman-teman panitia menanyakan kepada saya sejak pagi tadi, apakah bantuan untuk syuhada sudah cukup?” ujarnya menceritakan. Ia menambahkan “Saya katakan kepada mereka, bahwa ALLAH yang akan mencukupkan, dan kita tunggu hingga setelah dhuhur nanti, semoga ALLAH berikan jalan keluar.” Benar saja ketika tim Mer-c datang tepat sesaat setelah dhuhur dan menyampaikan bantuan tersebut, Abu Ali sangat bersyukur dan bertasbih kepada ALLAH. “Subhanallah, ALLAH Maha Memberi Rezeki, sejak tadi saya menunggu apakah doa kami akan terkabulkan, ternyata kalian yang diutus ALLAH dan datang membawa bantuan tersebut” kata Abu Ali dengan mata berkaca-kaca. “Saya sangat meyakini bahwa keluarga para syuhada ini tidak akan disia-siakan oleh ALLAH, kami ucapkan terima kasih, sekali lagi terima kasih,” ujarnya penuh rasa syukur. (K01/P2) Sumber : http://mirajnews.com/id/palestina/merc-salurkan-bantuan-tunai-rp-500-juta-rupiah-lebih-untuk-keluarga-syuhada-gaza/                

FPI Kembali Sumbang 500 Juta Rupiah Untuk RS Indonesia Di Gaza

Front Pembela Islam (FPI) saat memberikan sumbangan dana untuk RS Indonesia, di Gaza, Palestina kepada Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) (Foto: Chamid/MINA) Jakarta, 12 Rabiul Awwal 1436/3 Januari 2015 (MINA) – Front Pembela Islam (FPI) kembali menyumbangkan dana sebesar  Rp 500  juta untuk bank darah di Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza. Imam besar FPI, Habib Rizieq Syihab menyatakan hal itu dalam acara Tablig Akbar di Jakarta, Jum’at (2/1) malam. “Alhamdulillah, tahap pertama beberapa waktu lalu sudah kita sumbangkan sebesar Rp 500 juta dan sekarang kita sumbangkan lagi tahap kedua sebesar Rp 500 juta. Insya Allah bulan depan kita akan berikan lagi Rp 500 juta, jadi total Rp. 1,5 milyar, ” kata Rizieq.   Sumbangan tersebut disalurkan melalui lembaga kemanusian Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang langsung diserahkan kepada ketua presidium MER-C, dr. Henry Hidayatullah, disaksikan para jamaah tablig akbar di Petamburan, Jakarta. “Bantuan ini 100 persen berasal dari  masyarakat Indonesia dari Sabang sampai Merauke melalui FPI,” imbuhnya. FPI sebelumnya juga telah memberikan bantuan dananya melalui MER-C sebesar Rp 500 juta yang diterima oleh Presidium MER-C, Jozerizal Jurnalis dan ketua pembangunan RS Indonesia di Gaza, Farid Thalib dalam acara Tablig Akbar FPI di Jakarta, Ahad (7/12) lalu. FPI adalah sebuah organisasi massa Islam yang berpusat di Jakarta. Selain beberapa kelompok internal, FPI memiliki kelompok Laskar Pembela Islam, kelompok paramiliter yang melakukan aksi-aksi “penertiban” (sweeping) terhadap kegiatan-kegiatan yang dianggap maksiat atau bertentangan dengan Syariat Islam terutama pada bulan Ramadan. FPI dideklarasikan pada 17 Agustus 1998 bertepatan dengan 24 Rabiuts Tsani 1419 H di halaman Pondok Pesantren Al Um, Kampung Utan, Ciputat, Jakarta Selatan. FPI dibentuk oleh sejumlah Habaib, Ulama, Mubaligh dan aktivis Muslim serta disaksikan ratusan santri yang berasal dari Jabotabek. FPI dibentuk dengan tujuan untuk mencegah kemunkaran dan kemaksiatan di Indonesia. Hingga kini, sebanyak 19 relawan Indonesia di RS Indonesia masih berada di Jalur Gaza untuk menyelesaikan pekerjaan akhir Rumah Sakit Indonesia serta mengawal pengadaan alat kesehatan agar rumah sakit dapat segera beroperasi. Sebelumnya MER-C juga menerima sumbangan  dari komunitas musik metal sebesar Rp 89.615.000, PT. Samick Indonesia, perusahaan Korea yang memproduksi alat musik gitar dan piano, menyumbang Rp 64.963.500 dan komunitas musik aliran underground Bandung sebesar 2.002.200 rupiah serta Orang Indonesia (OI) atau Iwan Fals Fans Club (IFFC) sebesar 90.866.900   sebagai bentuk persaudaraan pada warga Gaza, Palestina. (L/P010 Sumber : http://mirajnews.com/id/indonesia/nasional/fpi-kembali-sumbang-500-juta-rupiah-untuk-rs-indonesia-di-gaza/        

Ormas “Orang Indonesia” Sumbang Gaza Disaksikan Iwan Fals

Sekjen ormas OI Ainur Rofiq saat memberikan bantuan kepada ketua presidium MER-C, dr. Henry Hidayatullah (Foto:Chamid/MINA) Depok, 5 Ra’biul Awwal 1435/27 Desember 2014 (MINA)– Kepedulian terhadap Palestina tak berhenti, Sabtu sore, Sekjen Ormas Orang Indonesia (OI) Ainur Rofiq mewakili anggotanya memberikan bantuan dana sebesar Rp. 90.866.900 untuk Gaza, Palestina. OI sebelumnya bernama Iwan Fals Fans Club (IFFC) yang menghimpun penggemar-penggemar penyanyi Iwan Fals yang dikenal dengan karya-karyanya yang mempunyai kepedulian sosial yang tinggi.  Sumbangan tersebut disalurkan melalui lembaga kemanusian Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang langsung diserahkan kepada ketua presidium MER-C, dr. Henry Hidayatullah, disaksikan musisi Iwan Fals, Ketua KPK Abraham Samad dan para penonton Konser Pelangi di Panggung Kita, Leuwinanggung, Tapos, Depok, Sabtu sore. “Kami menyediakan nomor rekening tersendiri bagi anggota Ormas OI yang akan memberikan bantuan dana untuk Palestina, hal itu untuk memudahkan mereka ketika ingin menyumbang,” kata Sekjen Ormas OI Ainur Rofiq kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA). Rofiq mengatakan, kepedulian Ormas OI kepada Palestina berawal dari adanya agresi Israel yang dilakukan kepada Palestina. Sehingga ia dan anggotanya selama 6 bulan sepakat menyisihkan sebagian harta yang dimiliki untuk disumbangkan kepada rakyat Palestina. “Bukan hanya anggota Ormas OI di seluruh Indonesia saja, akan tetapi yang diluar negeri pun juga banyak memberikan bantuannya kepada rakyat Gaza di Palestina, misalnya; Hongkong, Mesir, Jepang, Swiss,” kata Rofiq. Dia juga mengatakan, bukan hanya kali ini saja ormas OI memberikan bantuan kemanusiaan, sebelumnya mereka juga aktif terlibat diberbagai kegiatan-kegiatan kemanusiaan. Ormas OI asal mulanya adalah komunitas Iwan Fals Fans Club (IFFC). Pertemuan pertama dilaksanakan pada 15-17 Agustus 1999 di tempat tinggal Iwan Fals, Desa Leuwinanggung, Depok. “Terakhir kami juga ikut turun membantu mengevakuasi korban longsor di Banjarnegara,” ujarnya. Ia menambahkan, selain dari anggota-anggota OI, sumber dana juga didapatkan dari setiap konser Iwan Fals dan Band yang diselenggarakan, mereka biasanya meletakan tiga kardus di depan pintu masuk panggung konser sebagai kotak amal peduli Palestina. “Kami sengaja menyerahkan bantuan ini melalui MER-C, karena kami tahu lembaga ini sangat peduli dan aktif membantu kegiatan sosial di Palestina,” katanya. /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} Iwan Fals saat menerima kaos Rumah Sakit Indonesia dari ketua presidium MER-C, dr. Henry Hidayatullah (Foto: Chamid/MINA) MER-C adalah lembaga medis kemanusiaan yang memprakarsai pembangunan RS Indonesia di Gaza berdasarkan amanah dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina. Hingga kini, sebanyak 19 relawan Indonesia di RS Indonesia masih berada di Jalur Gaza untuk menyelesaikan pekerjaan akhir Rumah Sakit Indonesia serta mengawal pengadaan alat kesehatan agar rumah sakit dapat segera beroperasi. Sebelumnya MER-C juga menerima sumbangan  dari komunitas musik metal sebesar Rp 89.615.000, PT. Samick Indonesia, perusahaan Korea yang memproduksi alat musik gitar dan piano, menyumbang Rp 64.963.500 dan komunitas musik aliran underground Bandung sebesar 2.002.200 rupiah sebagai bentuk persaudaraan pada warga Gaza, Palestina. (L/P010/R11/P2) Sumber : http://mirajnews.com/id/indonesia/ormas-oi-sumbang-puluhan-juta-untuk-gaza-di-palestina/                  

Silahkan bertanya?