MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

MER-C Penuhi Undangan Acara SALAM UI Why Palestina

DEPOK – Kamis (10/5), MER-C kembali diundang untuk mengisi acara yang berkaitan dengan Palestina. Kali ini pihak pengundang adalah SALAM UI yang menggelar acara bertajuk Why Palestina?. Acara yang diadakan di Gedung Perpustakaan Pusat UI lantai 6 ini dibuka dengan pemaparan sejarah Palestina yang dilanjutkan dengan presentasi mengenai kondisi Palestina terkini dan progress pembangunan RS Indonesia di wilayah terblokade Gaza oleh dr. Joserizal. Selain menayangkan beberapa film dokumentasi MER-C termasuk film progress pembangunan RSI yang tahap pertamanya sudah mencapai 100%, MER-C juga berkesempatan menunjukkan maket RS Indonesia di Jalur Gaza kepada para audiens yang hadir. Dengan adanya maket ini diharapkan masyarakat bisa mendapat gambaran yang lebih jelas mengenai bentuk unik RSI di Jalur Gaza hasil disain anak bangsa yang dana pembangunannya berasal dari rakyat Indonesia. Selain video progress pembangunan RSI, MER-C juga menayangkan trailer Buku Jalan Jihad Sang Dokter, buku terbaru MER-C yang banyak menceritakan tentang misi MER-C di Palestina. Walau banyak dari audiens yang ngeri dan takut melihat film tersebut, tapi mereka juga penasaran melihat kinerja para relawan di lapangan.  Banyak hal yang dipaparkan oleh dr. Joserizal seputar Palestina dan permasalahannya serta bagaimana para audiens yang kebanyakan adalah mahasiswa bisa berperan besar di dalamnya.  

Tabligh Akbar untuk Gaza Digelar di Kota Malang

MALANG Minggu (29/4), Masjid Jend. Ahmad Yani Kota Malang dipadati sekitar 700 orang yang membludak hingga pelataran masjid. Massa yang hadir membawa semangat membara untuk mendukung perjuangan rakyat Gaza Palestina melalui kegiatan Tabligh Akbar bertajuk “Uang Receh Untuk Gaza” dalam rangka sosialisasi program pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) Gaza-Palestina dan juga Unit Bank Darah yang akan melengkapi RS tersebut. Acara yang terlaksana berkat kerjasama antara Baitul Mal Abdurrahman bin ‘Auf Cabang Malang, Hilal Ahmar Society Indonesia (HASI) dan Medical Emergency Rescue Commiittee (MER-C) berjalan cukup lancar dengan menghadirkan dua pembicara yaitu dr. Joserizal Jurnalis, Sp.OT. (Presidium MER-C) dan Ust. Ir.Andri Kurniawan, M.Ag. (Tokoh Islam Malang). Hadirin pun begitu antusias mengumpulkan bantuan berupa dana yang akan mereka sumbangkan sebagai bentuk dukungan nyata terhadap pembangunan Rumah Sakit yang kini telah melewati 100 % untuk tahap I. Tidak hanya berupa uang rupiah yang terkumpul bahkan karena semangat arek-arek Malang, bantuan lain berupa uang dollar, cincin emas dan tabung elpiji pun ikut disumbangkan untuk mendukung pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza.   Semoga daerah-daerah lain tidak mau kalah dengan arek-arek Malang. Mari dukung terus pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza dan Unit Bank Darah-nya. Semoga ini menjadi langkah konkrit kita untuk membantu Palestina.

Satu Tahun Lebih Bertugas di Gaza, 3 Relawan MER-C Tiba di Tanah Air

JAKARTA Raut muka bahagia terpancar dari wajah tiga relawan MER-C Indonesia ketika menginjakkan kaki di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Senin (7/5), sekitar pkl. 22.00 wib. Mereka adalah Ir. Ahmad Fauzi, Ir. Edy Wahyudi dan Darusman Abdul Hamid. Ketiganya adalah relawan yang telah bertugas lebih dari 1 tahun di Gaza mengawasi proses pembangunan RS Indonesia (RSI) di sana. Para keluarga, kerabat, Imaam Muhyidin Hamidy (Pimpinan Pesantren Alfatah), dr. Sarbini Abdul Murad (Ketua Presidium MER-C) dan dr. Joserizal Jurnalis, SpOT (Presidium MER-C) turut hadir malam itu untuk menyambut kedatangan para relawan. Kepulangan tiga relawan ini menyusul telah selesainya pembangunan tahap pertama untuk struktur RSI yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina. Sementara, tiga relawan lainnya, yaitu Abdillah Onim, Ir. Nur Ikhwan Abadi dan Muhammad Husein masih melanjutkan tugas di Gaza guna mempersiapkan pembangunan tahap 2 untuk Arsitektur dan ME (Mekanikal Elektrikal) RSI. Selamat datang kepada para relawan, kalian adalah para putra terbaik bangsa. Perjuangan teman-teman selama ini di Gaza meninggalkan keluarga dan pekerjaan serta semua yang dicintai di Indonesia untuk menunaikan amanah mengawasi pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza adalah hal yang sangat luar biasa, ungkap Presidium MER-C pada acara penyambutan sederhana yang digelar di Terminal Kedatangan luar negeri Bandara Soekarno Hatta. Ir. Ahmad Fauzi, Ir. Edy Wahyudi dan Darusman Abdul Hamid, ketiganya adalah relawan MER-C yang berasal dari Pesantren Alfatah. Mereka bisa mencapai Gaza setelah mengikuti konvoi darat pembukaan blokade Gaza Asia to Gaza Solidarity Caravan pada bulan Desember 2010 hingga Januari 2011. Setelah 1 bulan menempuh jalur darat melalui sejumlah negara untuk mengkampanyekan pembukaan blokade Gaza, akhirnya konvoi ini berhasil menginjakkan kaki di Gaza, termasuk ketiga relawan tersebut. Sejak saat itu, mereka berkomitmen menetap di Gaza bergabung sebagai Tim relawan MER-C Indonesia untuk mengawal proses pembangunan RS INDONESIA di Jalur Gaza. Terlebih lagi Ahmad Fauzi dan Edy Wahyudi memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman sebagai Insinyur yang memang sangat dibutuhkan untuk program pembangunan RS Indonesia di Gaza, Palestina. Setelah hampir 1,5 tahun meninggalkan keluarga untuk mengabdi sebagai relawan (unpaid volunteers) di wilayah perang dan terblokade seperti Gaza Palestina, adalah suatu anugerah yang sangat disyukuri bisa kembali ke tanah air dengan selamat tanpa kurang suatu apapun. Kami bersyukur bisa kembali ke Indonesia dengan selamat, bertemu dengan keluarga dan sahabat yang lain. Namun, kami juga rindu dan siap apabila mendapat amanah serta kesempatan untuk kembali bertugas di Gaza, ujar ketiganya. Proses pembangunan RS Indonesia tidak lepas dari berbagai kendala dan hambatan. Namun yang kami rasakan bila ada satu kesulitan yang kami temui di sana, selalu diikuti dengan banyak kemudahan. Hal inilah yang membuat kami tetap semangat menghadapi segala tantangan, karena kami yakin setelah tantangan ini Allah akan memberikan banyak kemudahan, ungkap Ahmad Fauzi, relawan yang berasal dari Samarinda, Kalimantan Timur. Senada dengan Ahmad Fauzi, insinyur lainnya, yaitu Edy Wahyudi juga mengungkapkan bahwa berbekal taat, Allah SWT memberikan banyak sekali kemudahan dan kekuatan selama mereka mengawal proses pembangunan RSI yang mulanya dianggap sebagian orang sebagai sebuah program Mission Impossible. Sementara Darusman, relawan yang paling senior dan mempunyai 11 anak ini juga menyatakan sangat bersyukur diberi kesempatan berharga terlibat dalam proses pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza. Menyambut kedatangan para murid-muridnya, Imaam Pesantren Alfatah, Muhyidin Hamidy menyampaikan bahwa kepulangan ini adalah buah dari perjuangan dan kesabaran. Kalian telah lulus. Kepulangan ini adalah  buah dari perjungan dan kesabaran kalian. Namun ingat, kepulangan ini bukanlah akhir dari segalanya, tapi merupakan awal dari tugas dan amanah-amanah baru. Sementara itu, Divisi Konstruksi MER-C di Jakarta saat ini tengah mempersiapkan pembangunan tahap selanjutnya untuk Arsitektur dan ME (Mekanikal Elektrikal) RSI. Apabila tidak ada halangan, pembangunan tahap 2 akan dimulai pada bulan Juni 2012. Sejumlah relawan yang berlatar belakang Arsitektur dan ME akan ditugaskan ke Gaza untuk mengawal pembangunan tahap 2. Sampai saat ini dari Rp 30 Milyar dana yang dibutuhkan untuk pembangunan fisik RSI, donasi yang sudah terkumpul dari rakyat Indonesia sudah mencapai Rp 21 Milyar lebih. Sosialisasi dan penggalangan dana RSI akan terus dilakukan sambil berjalannya pembangunan. Semoga RS Indonesia, persembahan dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina bisa selesai dalam waktu secepatnya.   Tiga Relawan kembali ke Indonesia Dilepas Tangisan Haru rakyat Gaza   Saat yang sangat mengharukan ketika harus berpisah dengan orang-orang yang sudah seperti saudara kandung sendiri. Setelah berhari-hari selalu bersama, susah dan senang bersama, merasakan blokadeGaza bersama-sama, inilah yang terjadi terhadap tiga relawan Indonesia saat harus kembali ke Indonesia setelah berakhirnya pembangunan tahap I RSI Gaza. Kepulangan mereka dilepas haru oleh masyarakat Gaza. Masalahnya kalian adalah bagian dari keluarga kami, kita bertemu bukan sehari atau dua hari, satu minggu atau dua minggu, tapi lebih dari satu tahun kita bersama, kita sedih bersama, kita tertawa bersama, kita menghadapi masalah bersama, dan kita diblokade bersama. Kita mengalami masa-masa sulit di daerah blokade ini, sungguh sangat berat melepas kepulangan kalian. Jangan lupakan kami, kami sangat berharap kaliansemua bisa kembali lagi kemari melanjutkan perjuangan bersama kami, ungkapJomah Al-Najjar, Ketua PWH (Palestine Welfare House) yang selama ini turut membantu proses pembangunan RSI di Gazamenyampaikan rasa harunya kala melepas kepulangan para relawan.   Lain lagi dengan Abu Walid, yang selalu membantu relawan MER-Cdalam membuat laporan ke Pemerintahan Gaza. Kedatangan muslimin dari luar ke Palestina untuk berkhidmat membantu Palestina sungguh sangat luar biasa. Terlebih lagi dari Indonesia, yang berada di ujung dunia bagian timur. Kedatangan kalian memberikan pesan berharga kepada kami bahwa kami tidak sendiri ditengah diamnya dunia Arab disekitar kami, ujarnya. Sampaikan salam dan ucapan terima kasih kami kepada rakyat Indonesia, tambahnya. Abu Abdallah Shanti, seorang pemuka masyarakat di Gaza Utara, juga turut melepas kepergian para relawan di lokasi RSI. Beliau menyampaikan salam kepada masyarakat Indonesia dan mengucapkan terima kasih kepada MER-Cyang telah berusaha membuat sebuah RS di Gaza. Kami tidak bisa membayangkan jika kami seperti kalian, membantu kami di sini dengan meninggalkan segalanya di tanah air kalian, maafkan kami jika kami tidak bisa memuliakan kalian sebagai tamu disini, ujarnya penuh haru. Memang kehadiran relawan Indonesia di Gaza sedikit banyak memberikan isnpirasi dan semangat tersendiri untuk rakyat Gaza khususnya. Mereka sangat merasakan dukungan moril yang begitu besar dari rakyat Indonesia. Dibangunnya sebuah Rumah Sakit di Gaza bantuan dari rakyat

Dilepas Tangisan Haru Rakyat Gaza, Tiga Relawan Kembali ke Indonesia

Gaza, Palestina Setelah sekitar 1.5 tahun berada di Gaza guna mengawal pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza Palestina, tiga orang relawan MER-C Indonesia kembali ke tanah air Indonesia.  Ketiga orang relawan tersebut adalah Ir. Edy Wahyudi, Ir. Ahmad fauzi dan Darusman. Moment yang sangat mengharukan dimana ketika kita harus terpisah dengan seorang yang sudah seperti saudara kandung sendiri. Setelah berhari-hari selalu bersama, susah dan senang bersama, merasakan blokade Gaza bersama-sama, Inilah yang terjadi terhadap tiga relawan Indonesia saat harus kembali ke Indonesia. Kepulangan mereka ini setelah berakhirnya pembangunan tahap I RSI Gaza, dilepas haru oleh masyarakat Gaza. Masalahnya kalian adalah bagian dari keluarga kami, kita bertemu bukan sehari atau dua hari, satu minggu atau dua minggu, tapi lebih dari satu tahun kita bersama, kita sedih bersama, kita tertawa bersama, kita menghadapi masalah bersama, dan kita diblokade bersama. Kita mengalami masa-masa sulit di daerah blokade ini, sungguh sangat berat melepas kepulangan kalian. Jangan lupakan kami, kami sangat berharap antum semua bisa kembali lagi kemari melanjutkan perjuangan bersama kami. Demikian Jomah Al-Najjar menyampaikan rasa haru nya melepas kepulangan para relawan. Lain lagi dengan abu walid, yang selalu membantu relawan MER-C dalam membuat laporan keuangan ke pemerintahan Gaza, mengatakan kedatangan muslimin dari luar ke Palestina untuk berkhidmat membantu Palestina sungguh sangat luar biasa. Terlebih lagi dari Indonesia, yang berada di ujung dunia bagian timur. Kedatangan kalian memberikan pesan berharga  kepada kami bahwa kami tidak sendiri, ditengah diamnya dunia arab disekitar kami. Sampaikan salam dan ucapan terima kasih kami kepada rakyat Indonesia. Abu Abdallah Shanti, seorang pemuka masyarakat di Gaza Utara, melepas pula kepergian para relawan di lokasi RSI. Beliau menyampaikan salam kepada masyarakat Indonesia, dan mengucapkan terima kasih kepada MER-C yang telah berusaha membuat sebuah RS di Gaza. Kami tidak bisa membayangkan jika kami seperti kalian, membantu kami disini dengan meninggalkan segalanya di tanah air kalian, maaf kan kami jika kami tidak bisa memuliakan kalian sebagai tamu disini ujarnya penuh haru. Memang sedikit banyak, kehadiran relawan Indonesia di Gaza memberikan inspirasi dan semangat tersendiri untuk rakyat Gaza khususnya, mereka sangat merasakan dukungan moril yang begitu besar dari rakyat Indonesia. Dibangunnya sebuah Rumah Sakit di Gaza, bantuan dari rakyat Indonesia merupakan sesuatu yang sangat berarti bagi mereka. Terlebih lagi pembangunan tersebut diawasi langsung oleh insinyur-insinyur dari Indonesia, sehingga membuat bantuan ini terasa berbeda dari yang lainnya. Turut pula melepas kepulangan para relawan rekan dari Turki, Matin Abu Talha. Ketiga relawan yang tetap berkomitment untuk terus membantu mengawal pembangunan RSI Gazatersebut, kini telah tiba di Indonesia pada tanggal 7 mei 2012. Semoga ALLAH menerima setiap amal Ibadah yang mereka lakukan selama di Gaza. (nia/gz)

Marwah Filindo, Anak Pertama Pasangan Indonesia-Palestina yang Lahir di Gaza

GAZA, PALESTINA Kebahagiaan tengah menyelimuti pasangan suami istri Abdillah Onim (Relawan MER-C Indonesia di Gaza) dan Rajaa Al Hirthani (seorang Muslimah Gaza) karena baru saja dikaruniai anak pertama. Kamis (3/5), sekitar pukul 11.50 waktu Gaza tangis seorang bayi memecah keheningan ruangan operasi di RS Asy-Syifa, Gaza City, Jalur Gaza. Semua yang hadir menemani proses kelahirannya, khususnya Abdillah Onim, sang ayah berkali-kali mengucap syukur karena anak pertamanya lahir dengan selamat di Bumi Syam yang diberkahi, Palestina. Bayi mungil cantik dengan wajah kemerah-merahan itupun diberi nama Marwah Filindo, bayi pertama keturunan Indonesia-Palestina yang lahir di Gaza. Selain bangunan RS Indonesia yang akan menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan Palestina, kelahiran Marwah Filindo juga akan menjadi satu bukti ikatan, hubungan darah yang kuat antara dua negara, Indonesia dan Palestina. Abdillah Onim adalah seorang relawan MER-C Indonesia yang bertugas di Gaza sejak Juli 2010. Kepergian Abdillah ke Gaza beserta sejumlah relawan MER-C lainnya adalah untuk mengawal proses pembangunan RS Indonesia, amanah dari rakyat Indonesia untuk Palestina. Ketika tengah menunaikan tugas sebagai relawan di Gaza, pada awal Februari 2011, Abdillah menemui jodohnya seorang muslimah Gaza, Rajaa Al-Hirthani. Mereka pun resmi menikah pada 17 Februari 2011. Pernikahan ini merupakan pernikahan pertama antara warga negara Indonesia dan warga negara Palestina di Gaza. Para relawan, relasi dan sejumlah pejabat pemerintahan setempat turut hadir dalam moment pernikahan bersejarah ini. Pada usia pernikahan kurang dari 2 bulan, Rajaa sempat hamil, namun mengalami keguguran. Tidak berapa lama kemudian Rajaa hamil lagi dan akhirnya kehamilan ini bisa bertahan hingga lahirlah Marwah Filindo di tengah-tengah kondisi Jalur Gaza yang masih memprihatinkan. Blockade terhadap Jalur Gaza yang masih terus berlangsung. Hal ini mengakibatkan terjadinya kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang sudah berlangsung sejak 5 bulan lalu sampai dengan sekarang. Hal ini diperparah lagi dengan pemadaman listrik yang tidak menentu. Hal inilah yang turut dirasakan Abdillah dan para relawan MER-C Indonesia di Gaza yang rata-rata sudah setahun lebih tinggal dan bertuags di Gaza. Mereka turut merasakan langsung bagaimana kondisi dan penderitaan rakyat Gaza. Kelahiran anak pertama tentu diselimuti rasa was-was dan kekhawatiran, aku Abdillah. Apalagi saya pribadi sebagai orang asing yang hidup di negara orang harus ektra hati-hati dan pintar-pintar beradaptasi dengan kebiasaan dan budaya setempat. Terlebih lagi seperti yang kita ketahui bersama bahwa wilayah yang saya diami saat ini, yaitu Jalur Gaza, masih diblokade oleh zionis Isarel, tambah pemuda kelahiran Galela, Maluku Utara ini. Abdillah yang saat ini diamanahi sebagai Ketua MER-C Cabang Gaza juga mengungkapkan bahwa proses kehamilan sampai kelahiran putrinya, Marwah Filindo mengiringi proses pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza. Awal kehamilan istriku, Rajaa Al-Hirthani bertepatan dengan dimulainya pembangunan RSI, kini lahirnya anakku Marwah Filindo bertepatan juga dengan selesainya 100 % pembangunan tahap I untuk struktur RS Indonesia. Alhamdulillah¦ ungkapnya penuh syukur.  

Malaysia Ucapkan Selamat Atas Berdirinya RSI Gaza

GAZA, PALESTINA Sebanyak 11 orang dari LSM Haluan Malaysia mengunjungi lokasi pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Jalur Gaza, Palestina, Sabtu (28/4). Delegasi yang dipimpin oleh Dr. Syed Muhamad Haleem ini menyatakan kekagumannya kepada bangunan RSI . Tiga dari 11 orang delegasi Malaysia tersebut merupakan alumni Mavi Marmara. Mereka adalah pimpinan rombongan Dr. Syed haleem, Dr. ArbaI dan Azman . Rasa haru dan bahagia terlihat di wajah para relawan saat pertama kali bertemu kembali setelah tragedi berdarah mavi marmara Mei 2010 yang lalu. Tidak disangka setelah dua tahun ALLAH mempertemukan kembali kami dengan para relawan tersebut, ujar Nur Ikhwan Abadi, relawan MER-C yang juga mengikuti misi Mavi Marmara. Dalam kunjungan ke RSI yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza utara, terlihat para relawan dari Haluan Malaysia takjub dan antusias melihat perkembangunan pembangunan RSI. Mereka menyampaikan selamat kepada MER-C Indonesia dan rakyat Indonesia pada umumnya atas berdirinya RS Indonesia di Jalur Gaza.

Rakyat Indonesia Berperan Besar atas Berdirinya RSI Gaza

Gaza, Palestina Suksesnya tahap pertama pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) untuk pekerjaan struktur tidak lepas dari peran berbagai pihak. ALLAH SWT adalah faktor utama yang  berkehendak sehingga proyek ini berjalan dengan lancar. Pihak lain yang berperan penting dalam pelaksanaan pembangunan RSI ini adalah rakyat Indonesia yang telah menyumbangkan donasinya rupiah demi rupiah sebagai tanda cintanya terhadap saudara-saudara mereka yang sedang dalam penderitaan di Gaza. Peran besar yang dimainkan oleh rakyat Indonesia ini tercermin dari donasi yang masuk ke MER-C yang mencapai milyaran rupiah.   Tiada kata lain selain kami mengucapkan syukur dan terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia yang telah memberikan sumbangsih yang begitu besar. Kami mendoakan semoga ALLAH SWT memberikan balasan yang lebih baik.   Rakyat Gaza juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada rakyat Indonesia atas bantuan ini. Hampir di setiap sudut Gaza, mengetahui adanya rumah sakit ini, rumah sakit yang unik, berbentuk segi delapan seperti Masjid Qubbah Sakhra yang ada di Masjid Al-Aqsha, dan bentuk seperti ini belum pernah ada sebelumnya di Gaza.   Selain itu, program RSI juga tidak terlepas dari peran relawan yang pertama kali memunculkan ide pembangunan bantuan Rumah Sakit Indonesia ini. Peran media, baik cetak maupun elektronik yang ada di Indonesia juga tak kalah pentingnya. Mereka senantiasa membantu dengan menyebarkan setiap informasi terkait pemabangunan RSI Gaza.   Semoga semua bantuan dalam bentuk apapun dalam program ini menjadi sebuah amal baik bersama.   Ir. Nur Ikhwan Abadi Salah satu relawan MER-C Indonesia di Gaza, Palestina

Dukungan para Relawan Turki dan Gaza untuk RSI

Gaza, Palestina – Peran berbagai pihak di Gaza sendiri tidak kalah pentingnya terhadap program pembangunan RS Indonesia (RSI). Di tengah wilayah Gaza yang sempit dan lahan yang terbatas, Pemerintah Gaza menyambut baik rencana program pembangunan RS di wilayah mereka dengan mewakafkan lahan seluas 16.000 m2 kepada MER-C Indonesia untuk pembangunan RSI. Selain itu, temen-teman seperjuangan dari negeri Khalifah Utsmaniyah Turki, juga memberikan dukungannya. Salah satunya Muhammad Kaya, Ketua IHH Turki Cabang Gaza. Ia memberikan dukungan penuh dari awal hingga akhir demi terlaksananya pembangunan RSI ini. Bahkan tatkala terjadi perbedaan pendapat antara Tim MER-C Gaza dan Pihak Kementrian Kesehatan Gaza, Muhammad Kaya tampil terdepan membela kami. Kemudian beliau juga merekomendasikan insinyur lokal Jomah Al-Najjar untuk menjadi sharing partner kami dalam proses pembangunan RSI ini. Beliau membantu kami siang dan malam dalam membantu berdirinya RSI ini. Tak jarang pula Muhammad Kaya memberikan nasihat-nasihat berharga kepada kami selama di Gaza. Salah satu nasehat yang masih kami ingat selalu adalah ketika beliau mengatakan bahwa, dalam menjalankan amanah orang turki memiliki prinsip, Pantang kembali atau mundur kebelakang jika amanah yang diemban belum selesai dilaksanakan. Karena ketika berangkat menunaikan amanah, kapal yang akan membawa kami kembali sudah kami bakar, tidak ada kata lain selain maju terus meraih kemuliaan disisi ALLAH Subhanahu wa Taala. Prinsip ini lah yang selalu beliau pegang teguh dan sampaikan kepada setiap relawan. Apa yang disampaikannya senantiasa menjadi semangat dan motivasi buat kami para relawan Indonesia di Gaza. Tiada kata yang pantas selain doa kami semua, semoga kebaikan mereka mendapat balasan berkali lipat. Kami para relawan di Gaza pun tidak pernah menyangka pembangunan RSI ini akan terlaksana. Kami hanya manusia dhoif yang tidak lebih baik dari yang lain, yang hanya menjalankan amanah yang begitu besar di pundak kami. Berangkat dengan hanya bermodalkan ketaatan semata, tanpa ilmu dan pengetahuan yang memadai. Bekal minimum, seperti penguasaan bahasa asing yang harus ada pada setiap relawan pun tidak kami kuasai. Dalam satu tim relawan Indonesia ini, kami saling melengkapi, ada relawan insinyur, ada relawan yang mempunyai kemampuan bahasa dan lainnya. Teringat nasihat seorang Ustadz yang senantiasa memberikan semangat kepada kami ketika akan berangkat menunaikan amanah di Gaza dengan mengatakan, Berangkat saja dahulu, nanti diperjalanan ALLAH yang akan memberikan ilmu. Subhanallah benar saja, pertolongan ALLAH memang sangat dekat, pada awalnya kami tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa Arab sama sekali. Ketika awal datang, seseorang menanyakan Kayfa Haluka? kami hanya terbengong karena tidak mengerti apa yang ditanyakan. Namun saat ini, kami semua relawan Indonesia di Gaza sudah bisa dengan fasih berbahasa Arab harian karena setiap hari kami kontak dengan masyarakat dan para pekerja bangunan lokal di proyek RSI. Ini salah satu contoh nikmat yang berikan-NYA dan masih banyak nikmat-nikmat lainnya yang begitu besar yang diberikan kepada kami. Sungguh kesempatan dan pengalaman menunaikan amanah tugas di Gaza mengawal pembangunan RSI adalah hal yang luar biasa yang tidak bisa kami ungkapkan dengan kata-kata.   Ir. Nur Ikhwan Abadi Salah satu relawan MER-C Indonesia di Gaza

Pembangunan Tahap 2 RSI Gaza Segera Dimulai

Gaza, Palestina – Dengan selesainya pembangunan tahap pertama untuk struktur RS Indonesia (RSI), bukan berarti pekerjaan selesai sampai disini. Pembangunan tahap kedua untuk pekerjaan Arsitektur dan ME (Mekanikal Elektrikal) sudah menanti diepan mata dan memiliki tantangan yang tak kalah besarnya dari tahap pertama. Jika tahap pertama pembangunan RSI ini material yang dibutuhkan hanya berupa beton dan besi, maka di tahap kedua proses akan lebih rumit dan memerlukan konsenterasi dan tenaga yang lebih besar. Pembangunan tahap kedua untuk Arsitektur dan ME akan memerlukan banyak material yang di-supply dari luar Gaza. Terlebih lagi material-material tersebut hampir semua diimpor melalui terowongan Gaza. Namun demikian kami sangat yakin akan pertolongan ALLAH. Dulu RSI ini awalnya adalah sebuah khayalan, namun dengan pertolongan ALLAH khayalan itu kini sudah berbentuk nyata dan berdiri tegak di Gaza. Demikian juga dengan semua relawan MER-C yang mengawasi pembangunan RSI Gaza, insha ALLAH senantiasa berkomitment akan mengerahkan segenap kemampuan dan tenaga yang dimiliki untuk menyelesaikan pembangunan RSI Gaza ini.   Kurangnya dana menjadi salah satu kendala   Direncanakan pembangunan tahap II RSI Gaza akan dimulai pada bulan Juni 2012. Sementara itu kendala pendanaan juga menjadi salah satu faktor penghambat dilanjutkanya tahap kedua. Sejatinya, setelah selesai tahap pertama RSI ini dilanjutkan langsung dengan pembangunan Tahap kedua, namun karena dana yang dibutuhkan belum memadai, maka pembanguanan tahap kedua menjadi molor. Dari total dana yang dibutuhkan sekitar 30 milyar rupiah, dana yang sudah terkumpul sumbangan dari rakyat Indonesia sekitar 21 milyar rupiah, masih diperlukan 9 milyar rupiah lagi untuk selesainya pembangunan tahap kedua ini. RSI Gaza sangat berperan mengangkat nama baik Indonesia di dunia international, terlebih lagi sudah banyak rekan-rekan dari luar negeri seperti Turki dan Malaysia yang pernah mengunjungi dan melihat langsung proses pembangunan RSI di Gaza. Mereka mengatakan kekagumannya terhadap perjuangan rakyat Indonesia dalam memberikan bantuan kepada rakyat Gaza. Mohon doa dan dukungan dari seluruh rakyat Indonesia.   Ir. Nur Ikhwan Abadi Salah satu relawan MER-C Indonesia di Gaza

Talkshow Progress RSI Gaza di Universitas Trisakti

JAKARTA Talkshow mengenai progress RS Indonesia (RSI) Gaza kembali digelar. Kali ini bertempat di Masjid As-Syuhada, Kampus Universitas Trisakti, Jakarta Barat, Sabtu (28/4). Talkshow di isi oleh Presidium MER-C dr. Joserizal Jurnalis, SpOT atas undangan UKM Hudzaifah. Awalnya acara dijadwalkan mulai pukul 14.00, namun harus bergeser sedikit ke jam 14.30 wib. Hal ini disebabkan kesibukan Dr. Joserizal yang masih harus menangani pasiennya di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta. Namun keterlambatan ini tidak mengurangi semangat para mahasiswa peserta Talkshow RSI, mereka tetap setia menunggu sampai acara Talkshow dimulai. Sambil menunggu kedatangan Dr. Joserizal, Tim MER-C yang sudah tiba lebih dulu memutarkan beberapa film dokumentasi MER-C seperti Film 2 Tahun Penyerangan Israel ke Gaza, Misi Konvoi Darat Tim MER-C pada Global March To Jerussalem, Film Profil MER-C, dan sejumlah liputan di TV Nasional seputar progress pembangunan RSI di Gaza Palestina. Peserta tampak terkesan dan takjub menyaksikan film-film tersebut. Terlihat wajah mereka yang serius bahkan ngeri melihat kondisi para korban dan adegan operasi yang dilakukan Tim Dokter MER-C di daerah konflik dan juga perang. Ketika Dr. Joserizal tiba di lokasi, acarapun langsung dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh Fadli, salah satu Mahasiswa FTSP Jurusan Arsitektur, dilanjutkan dengan kata sambutan oleh Ketua UKM Hudzaifah, Ahmad Haikal. Usai kata sambutan, MC mempersilahkan Dr. Joserizal untuk tampil di depan para peserta. Selama 1 jam pertama, dokter yang berpengalaman di berbagai wilayah perang konflik dan bencana baik di dalam maupun di luar negeri memaparkan tentang kondisi Palestina dan Progress RSI di Gaza. Salah satu pesan yang disampaikan dr. Joserizal kepada para mahasiswa agar mahasiswa jangan bermental inferior karena mahasiswa adalah penerus generasi bangsa yang akan memimpin bangsa ini kelak di tengah bangsa-bangsa lain. Pada acara ini peserta juga diajak berkomunikasi secara langsung melalui skype dengan Tim relawan MER-C di Gaza. Nur Ikhwan Abadi salah satu relawan insinyur MER-C di Gaza menyampaikan progress RSI. Alhamdulillah pembangunan tahap I untuk struktur RSI sudah selesai 100% dan hari ini (Sabtu/28 April 2012) sedang dilakukan pengecoran tangga ram yang menandakan berakhirnya pekerjaan struktur RSI Gaza, papar Nur Ikhwan relawan yang saat ini diamanahi sebagai Wakil Ketua MER-C Cabang Gaza sekaligus Pimpinan Proyek Pembangunan RSI di Gaza. Suksesnya pembangunan RSI ini adalah berkat dukungan semua pihak termasuk peran besar rakyat Indonesia yang telah menyumbangkan donasinya melalui MER-C, juga peran teman-teman mahasiswa yang mengadakan acara ini. Mohon doanya karena sebentar lagi kita akan mulai pembangunan tahap kedua RSI Gaza, tambahnya. Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar dan para peserta tampak senang dengan informasi dan pemaparan dr. Joserizal. Acara ini telah menambah ghiroh dalam beraktifitas, ujar salah satu peserta. Panitia berencana akan mengundang MER-C kembali untuk mempresentasikan tentang progress RSI.

Silahkan bertanya?