MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Dimulainya Pemasangan Granit Tangga RSI Gaza Palestina

Gaza – Rumah sakit Indonesia di Gaza  adalah Rumah Sakit Traumatology dan bagian integral dari organisasi MER-C yang fungsi menyediakan pelayanan komprehensif, penyembuhan penyakit (kuratif) dan pencegahan penyakit (preventif) kepada masyarakat Gaza Palestina. Nantinya rumah sakit ini juga direncanakan sebagai pusat pelatihan bagi tenaga kesehatan para dokter di Palestina. Desain bentuk Rumah Sakit ini dibuat menyerupai kubahtuh sakhrah di Kompleks Masjidil Aqsha sebagai wujud rasa cinta kaum muslimin terhadap masjid tersebut, untuk menghubungkan ruangan-ruangan yang berada pada segi delapan maka ditempatkan empat sisi tangga yaitu di bagian Utara, Selatan, Timur dan Barat yang memiliki luas tangga 350 m2 yang akan dilapis dengan Granit. Granit adalah jenis batuan yang umum dan banyak ditemukan di daerah Tepi Barat Palestina. Granitnya kebanyakan besar, keras dan kuat, dan oleh karena itu banyak digunakan sebagai batuan untuk konstruksi. Kepadatan rata-rata granit adalah 2,75 gr/cm³ dengan jangkauan antara 1,74 dan 2,80. Selain dilengkapi dengan tiga jalur Lift RSI juga dilengkapi dengan tangga utama yang dimulai pelapisan Granitnya pada hari Selasa tanggal 2 April 2013 atau bertepatan dengan tanggal 21 Jumadil Awal 1434 Hijriyah. Semoga tangga utama ini dapat memberikan kenyamanan pemakainya dalam kondisi keseharian karena menjadi sirkulasi utama. Dan yang terpenting dari satu bagian ini saja dapat mengalirkan jariyah atau balasan yang berlipat ganda dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para donatur pembangunan RSI ini hingga hari Qiyamat, seperti halnya janji Allah dalam Al Qur’an yang artinya : Dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [At Taubah 121]

Relawan RSI Gaza Berlomba Mencari Ridla Allah

Gaza – Ditengah penat dan letih, ditengah udara panas yang mulai merayap menggantikan musim semi di Gaza, ditengah suasana Gaza yang belum kondusif akan tetapi para relawan RSI masih menyempatkan diri untuk berpuasa sunah Senin dan Kamis bahkan ada yang berpuasa sunah Daud (sehari puasa sehari tidak).  Semua yang mereka lakukan hanya semata untuk berlomba menggapai dan mencapai Ridla Ilahi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa surga diliputi dengan perkara-perkara yang tidak disenangi, dan neraka diliputi dengan syahwat. Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya): Tidaklah seorang hamba yang puasa di jalan Allah kecuali akan Allah jauhkan dia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim” [Hadits Riwayat Bukhari 6/35, Muslim 1153 dari Abu Sa’id Al-Khudry, ini adalah lafadz Muslim. Sabda Rasulullah: “70 musim” yakni: perjalanan 70 tahun, demikian dikatakan dalam Fathul Bari 6/48]. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): Puasa adalah perisai, seorang hamba berperisai dengannya dari api neraka” [Hadits Riwayat Ahmad 3/241, 3/296 dari Jabir, Ahmad 4/22 dan Utsman bin Abil ‘Ash. Ini adalah hadits yang shahih]. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): Barangsiapa yang berpuasa sehari di jalan Allah maka di antara dia dan neraka ada parit yang luasnya seperti antara langit dengan bumi” [Dikeluarkan oleh Tirmidzi no. 1624 dari hadits Abi Umamah]. Masyarakat Gaza sempat terperanjat saat mengetahui sebagian besar para relawan RSI berpuasa sunah secara rutin. “Bagaimana bisa kalian bekerja keras sambil berpuasa?” demikian salah satu ungkapan mereka kepada para relawan. Atas ijin dan karunia Allah semata sebagian masyarakat yang mengetahui kondisi semangat para relawan RSI di bumi para nabi di Palestina ini berusaha secara bergantian mengundang para relawan RSI untuk futhur buka puasa dengan makanan-makanan ala Gaza di rumah-rumah mereka atau secara bersama di Masjid walau dalam hati kecil para relawan berkata Subhanallah bahwa masyarakat Gaza Palestina yang sedang terblokade masih ingin menghormati tamu-tamunya yaitu para relawan RSI Gaza Palestina. Sangat terasa kasih sayang antara masyarakat Gaza Palestina dengan masyarakat Indonesia karena mereka memang bersaudara dalam ikatan Allah Subhanahu wa Ta’ala Yaa Allah penguasa langit dan bumi jadikanlah puasa para relawan yang berada di jalan Mu dan Al-Qur’an yang dibaca oleh mereka akan memberikan syafaat kepada mereka di hari Kiamat.

Relawan MER-C, Saksi Mata Perang 8 Hari Gaza

Jakarta, 20 Jumadil Awal 1434/1 April 2013 (MINA) – Relawan Pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza Nur Ikhwan Abadi pulang ke Indonesia hari Ahad (31/3). Nur ikhwan yang sempat beberapa tahun di Gaza sebagai tim koordinator teknis pembangunan RSI di Gaza yang saat ini masih terus berjalan, menuturkan kepada Miraj News Agency (MINA) pengalaman saat terjadi perang delapan hari di Gaza. Berikut penuturan Nur Ikhwan. Ketika perang terjadi, kami dan para relawan yang lain tetap bekerja meneruskan pembangunan RSI di Gaza, akan tetapi karena kondisi memang sangat genting, para relawan pindah ke basement (ruang di bawah tanah), yang hikmahnya bagian basement RSI bisa selesai pada waktu perang itu berlangsung. Setiap malam, para relawan bisa menghitung berapa kali bunyi bom yang diluncurkan Israel satu persatu. RSI di Gaza tidak menjadi sasaran bom. Tetapi, disekitar RSI yang jaraknya begitu dekat, menjadi sasaran bom dari Israel karena di daerah tersebut merupakan tempat latihan sayap militer Hamas, Brigade Al Qasam, yang sempat di bombardir oleh Israel yang menyebabkan pecahan puing-puing yang sebesar karung hingga ke RSI. “Karena jarak yang begitu dekat, sehingga mendengar suara bom itu seperti mendengar suara petir didepan muka. Pada awal mendengar bom-bom tersebut tentunya kaget sekali, akan tetapi setelah beberapa hari kita sudah mulai terbiasa mendengar bom,” kata Nur Ikhwan Abadi. Sebenarnya ada beberapa dari orang Palestina yang bersedia memberikan tempat untuk mengungsi bagi para relawan agar segera melakukan evakuasi ketempat yang lebih aman, untuk menghindari hal yang lebih mengerikan lagi yaitu perang darat, Karena apabila terjadi perang darat matilah kalian, tutur Nur Ikhwan menirukan perkataan salah seorang warga Palestina saat itu. Kemudian saya bicarakan dengan para rekan relawan lain, kemudian kita bermusyawarah, sempat melakukan sholat Istikharoh juga, dan akhirnya kami memutuskan untuk tidak pindah dari RSI dan akan tetap disana walaupun harus kehilangan nyawa, kami harus tetap disini, karena ini sudah menjadi amanah kami. Selama di Gaza, Yang kami amati mengenai perang 8 hari tersebut adalah, sejak tahun 2009 sampai tahun 2012 sebelum terjadinya perang 8 hari Gaza itu, Israel memang selalu memancing HAMAS dengan bom-bomnya, dengan tujuan untuk mengetahui kekuatan HAMAS sejauh mana, akan tetapi HAMAS tidak mudah terpancing. Yang kami lihat justru Jihad Islam yang kemudian meladeni dan membalas bom-bom tersebut, tetapi sepertinya israel kurang menaggapi balasan Jihad Islam tersebut karena memang diperkirakan kekuatan Jihad Islam hanya 20 persen dari kekuatan HAMAS. Menurut saya, itulah yang membuat Israel kemudian merancang setrategi, yaitu membunuh Muhammad Aljabari dengan cara dibom, pada waktu kejadian tersebut kami sedang melakukan Rukyatul hilal (melihat bulan) di laut, ketika kita sampai pantai kemudian berita dibomnya Aljabari menyebar, yang menyebabkan para relawan sempat terpisah selama satu hari, sebagian dipantai termasuk saya, sebagian lagi berada di RS, karena jika dipaksakan pulang saat itu akan sangat berbahaya mengingat baku tembak masih terus berlangsung. Rindukan Persatuan Rakyat Palestina sangat merindukan persatuan di antara mereka. Saat terjadi perang 8 hari itu, semua faksi bersatu dengan sayap militer mereka masing-masing, bersatu menyerang Israel, belum pernah ada dalam sejarah Palestina hal itu terjadi, dan sebetulnya mereka rindu persatuan tersebut, hanya saja yang mereka bingungkan adalah format persatuan melalui apa dan seperti apa. jika melalui jalur politik, saya ibaratkan seperti rebutan kue, ada kepentingan dari masing-masing faksi yang berbeda, akan saling ambil keuntungan sesuai misi mereka masing-masing. Mengingat tentang diselenggarakanya deklarasi Bandung (Conferensi Internasional Al Quds), salah satu poinnya adalah mengirimkan ulama dan Zuama Indonesia dan Malaysia ke Gaza. Jika memungkinkan, menurut kami segera mungkin difollow up, karena sangat diperlukan sekali saat ini, posisi kita yang ditengah-tengah faksi-faksi tersebut untuk menjadi pemersatu kaum Muslimin disana. Jangan kita memihak salah satu golongan kemudian golongan lain akhirnya terabaikan. Begitulah sekelumit pengalaman kami sewaktu perang 8 hari berlangsung di Gaza, ketika terjadi penyerangan dari Israel semua masyarakat Palestina menyerukan kalimat takbir di radio-radio, masjid-masjid, dan semua orang mengucapkan kata Allohu Akbar, seperti tidak ada rasa takut, mereka menyambut serangan tersebut dengan kalimat takbir. (L/P02/P015/R2). Sumber : http://mirajnews.com/id/palestina/3467-relawan-merci-saksi-mata-perang-8-hari-gaza.html

Penggalangan Dana MER-C untuk RSI Gaza Tercapai

Presidium MER-C Indonesia, Dr. Joserizal Jurnalis (FOTO ANTARA/Reno Esnir) Dukungan dari rakyat Indonesia terhadap program Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza Palestina masih terus mengalir. Bogor (ANTARA News) – Target awal penggalangan dana yang dilakukan organisasi relawan kesehatan “Medical Emergency Rescue Committee” (MER-C) Indonesia untuk pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza, Palestina telah tercapai. “Dukungan dari rakyat Indonesia terhadap program Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza Palestina masih terus mengalir. Sampai dengan awal Maret 2013, dana yang sudah terkumpul untuk program ini sebesar Rp31 miliar,” kata Presidium MER-C dr Joserizal Jurnalis, SpOT kepada ANTARA News, di Bogor, Sabtu. Joserizal pada Jumat (15/3) malam melepas keberangkatan sebanyak tujuh orang relawan, tiga di antaranya adalah insinyur ke Kairo, Mesir untuk selanjutnya menuju ke Jalur Gaza. “Saat ini, fokus pengglangan dana adalah untuk pengadaan alat kesehatan dan bangunan pendukung RS. Semoga menjadi amal baik bersama,” katanya. Sementara itu, keberangkatan tim dipimpin langsung oleh Ketua Divisi Konstruksi MER-C Ir Faried Thalib kali ini adalah untuk melakukan supervisi pembangunan tahap kedua RS Indonesia yang masih berlangsung di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina. Tim dijadwalkan akan tiba di Kairo, Mesir pada Sabtu (16/3) pukul 09.30 waktu setempat atau pukul 14.30 WIB. Dari bandara Kairo, tim akan langsung menuju perbatasan Rafah untuk mencoba langsung masuk ke Gaza berbekal surat izin yang sudah didapat. Editor: Ella Syafputri Sumber : http://www.antaranews.com/berita/363573/penggalangan-dana-mer-c-untuk-rsi-gaza-tercapai

MER-C kirim Lagi Tim Pemantau RSI Ke Gaza

Jakarta, 3 Jumadil Ula 1434/16 Maret 2013 (MINA) – Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) memberangkatkan lagi tim pemantau (supervisi) ke Jalur Gaza, Palestina untuk memonitor pekerjaan pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI). Tugas tim pemantau RSI untuk memonitor dan menentukan hal-hal penting seperti dalam memutuskan perubahan-perubahan kecil yang terjadi tanpa diduga dalam jalannya pembangunan RSI tahap dua ini, kata Kepala Divisi Kontruksi MER-C, Ir. Faried Thalib saat dihubungi Miraj News Agency (MINA) di Jakarta. Faried menyatakan, pemantauan pekerjaan pembangunan RSI di Gaza oleh tim khusus Divisi Kontruksi MER-C itu dilaksanakan rutin setiap empat bulan sekali. Terakhir Tim Pemantau RSI diberangkatkan pada akhir Oktober 2012 lalu, kata Faried.   Tim pemantau yang akan diberangkatkan kali ini terdiri dari 7 orang relawan, 3 diantaranya adalah insinyur yang dipimpin oleh Faried Thalib, Wahyuni Faried, Farida Faried, Idrus Muhammad Alatas, Ahmad Syauqi, Zulkifli dan Munarman.  Tim Pemantau RSI dikhususkan untuk memantau kontruksi fisik RSI. Sementara itu,  keberangkatan Zulkifli dan Munarman untuk melihat kondisi terkini Gaza, melihat secara langsung kontruksi RSI serta bertemu dengan tokoh-tokoh di sana, kata Faried.   Tim pemantau RSI berangkat pada Jumat sore (15/3) pukul 17.00 WIB dengan maskapai penerbangan Singapore Airlines dan dijadwalkan akan tiba di Kairo, Mesir hari ini Sabtu (16/3) pukul 9.30 waktu setempat atau pukul 14.30 WIB. Dari bandara Kairo, tim akan langsung menuju perbatasan Rafah untuk mencoba langsung masuk ke Gaza berbekal surat izin yang sudah didapat. Dari Kairo tim akan melangsungkan perjalanan menuju perbatasan Rafah dan bertemu dengan tim penjemput. Insya Allah, Sabtu Sore sudah masuk di Jalur Gaza-Palestina, jelas Faried. Sementara itu, Presidium MER-C, dr. Joserizal Jurnalis, SpOT mengatakan, keberangkatan Tim pemantau RSI ke Gaza merupakan bentuk jihad professional. Ini adalah bentuk jihad para profesional, ungkap Joserizal yang turut mengantar keberangkatan Tim di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jumat sore (15/3) dalam rilis web resmi MER-C yang dipantau Miraj News Agency (MINA). Jihad para professional yang terpenting adalah pengorbanan waktu dan pengamalan ilmu-teknologi untuk perjuangan, tambahnya. Sebelumnya, MER-C memberangkatkan  seorang relawan Ir. Edy Wahyudi untuk membantu mengawasi pekerjaan pembangunan tahap II RS Indonesia (RSI) berupa pekerjaan arsitektur dan ME (Mechanical Electrical) pada 16 Februari 2013 lalu. Ia berangkat beserta tiga utusan pesantren Al-Fatah (Ustad M.Sholeh Iskandar, Reza Addila Kurniawan dan Muqorrobin Al-Fikri), yang akan mengikuti program Tahfidzul Quran metode Tajul Waqar di Mahad Tahfidzul Quranul Karim was Sunnah Gaza.  Pembangunan RSI Gaza Tahap Dua Capai 65 Persen Menurut Faried, pembangunan RSI tahap dua diperkirakan sudah mencapai 65%. Sementara itu, menurut laporan dari salah satu relawan RSI di Jalur Gaza, para relawan kini sedang melakukan fase Kissaroh atau plester dinding bagian dalam, setelah sebelumnya telah menyelesaikan pekerjaan pemasangan blok dinding samping dan blok sekat dalam seluruh ruangan RSI yang terdiri dari dua lantai dan satu lantai basement serta satu lantai middle area. Rencana pekerjaan selanjutnya adalah pengerjaan ME rumah sakit. Mohon doa agar para relawan disini selalu dalam keadaan sehat, diberikan kesabaran dan keikhlasan serta selalu istiqamah dalam mengemban amanah di jalan Allah ini, kata seorang relawan RSI-Gaza, Didi Karidi melalui pesan singkat kepada MINA. Lokasi RSI seluas 1,6 hektar sangat dekat dengan perbatasan wilayah Palestina yang dijajah Israel, yaitu sekitar 2,5 km dari pagar perbatasan di kawasan Beit Lahiya, Gaza utara, Palestina. Bahkan lokasi RSI itu sebelumnya adalah tempat latihan tempur para pejuang Gaza, sebelum akhirnya disetujui oleh Pemerintah Palestina di Gaza kepada  MER-C sebagai pihak yang memprakarsasi  pembangunannya atas dasar kemanusiaan. Dalam proyek tersebut, bekerja 32 relawan Indonesia dari berbagai keahlian pekerjaan, mulai dari tukang batu, ahli listrik, ahli air, mahasiswa hingga insinyur sipil. Seluruh relawan berasal dari Pondok Pesantren Al-Fatah berpusat di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat sebagai mitra dakwah dan ukhuwah MER-C.  Rumah sakit itu menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina dimana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. Total donasi dari rakyat Indonesia untuk program pembangunan RS Indonesia di Gaza sudah mencapai Rp 31 milyar. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Pembangunan RSI tahap konstruksi fisik kedua serta jaringan listrik akan memerlukan biaya total sebesar Rp 37 miliar. Usai pembangunan fisik, masih akan dibutuhkan dana untuk fasilitas pendukung dan medis, dari mebel, tempat tidur hingga perangkat medis.  Kebutuhan dana itu, belum termasuk perangkat medis modern seperti MRI (magnetic resonance imaging) dimana dana yang diperlukan sekitar 30 miliar rupiah lagi. Pembangunan RSI-Gaza tahap kedua diharapkan akan selesai bulan Desember 2013 dan sudah mulai beroperasi pada tahun 2014, tambah Faried.(L/P02/P06/R2). Sumber : http://mirajnews.com/id/indonesia/3010-mer-c-kirim-lagi-tim-pemantau-rsi-ke-gaza.html

MER-C Berangkatkan Tim Konstruksi ke Gaza untuk Supervisi RSI

Jakarta MER-C kembali memberangkatkan relawannya ke Jalur Gaza, Palestina. Jumat sore (15/3), sebanyak 7 orang relawan, 3 diantaranya adalah insinyur bertolak ke Kairo Mesir dengan menggunakan maskapai penerbangan Singapore Airlines. Keberangkatan tim yang dipimpin langsung oleh Ketua Divisi Konstruksi MER-C, Ir. Faried Thalib ini adalah untuk melakukan supervisi pembangunan tahap 2 RS Indonesia yang masih berlangsung di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina. Tim dijadwalkan akan tiba di Kairo, Mesir hari ini Sabtu (16/3) pukul 9.30 waktu setempat atau pukul 14.30 wib. Dari bandara Kairo, tim akan langsung menuju perbatasan Rafah untuk mencoba langsung masuk ke Gaza berbekal surat izin yang sudah didapat.   Ini adalah bentuk jihad para profesional, ungkap Presidium MER-C, dr. Joserizal Jurnalis, SpOT yang turut mengantar keberangkatan Tim di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Jihad para professional yang terpenting adalah pengorbanan waktu dan pengamalan ilmu-teknologi untuk perjuangan, tambahnya. Saat ini sebanyak 31 relawan Indonesia yang terdiri dari insinyur dan tenaga teknis tengah mewaqafkan waktu dan ilmunya di Gaza. Mereka semua tengah menunaikan tugas melakukan pembangunan tahap 2 RS Indonesia yang seluruh amanah dananya berasal dari rakyat Indonesia. Pembangunan tahap ini berupa pekerjaan arsitektur dan ME (Mechanical Electrical) RS memang akan dikerjakan sendiri oleh putra-putra bangsa Indonesia. Kedatangan Ketua Divisi Konstruksi MER-C dan Tim ke Gaza kali ini adalah untuk melakukan supervisi langsung proses pembangunan tahap 2 yang sudah dikerjakan oleh relawan selama 4 bulan lebih, sejak akhir awla November 2012. Pekerjaan yang sudah selesai adalah pemasangan blok dinding samping dan blok sekat dalam seluruh ruangan RSI yang terdiri dari 2 lantai dan 1 lantai basement serta 1 lantai middle area. Rencana pekerjaan selanjutnya adalah pengerjaan ME rumah sakit. Sementara itu, dukungan dari rakyat Indonesia terhadap program RS Indonesia di Gaza Palestina masih terus mengalir. Sampai dengan awal Maret 2013, dana yang sudah terkumpul untuk program ini sebesar Rp 31 milyar. Target awal penggalangan dana RSI telah tercapai. Saat ini, fokus pengglangan dana adalah untuk pengadaan alat kesehatan dan bangunan pendukung RS. Semoga menjadi amal baik bersama.  

Solo Sumbang 100 Juta Lebih Untuk RSI Di Gaza

Solo, Jawa Tengah, 2 Jumadil Ula 1434/14 Maret 2013 (MINA) Dalam rangka menggalang dana untuk pembangunan RS Indonesia (RSI) di Gaza Palestina, baru-baru ini MER-C Cabang Surakarta mengadakan acara talkshow dan penggalangan dana, demikian seperti dilansir pada website resmi MER-C yang dipantau oleh MINA (14/3).   Acara yang bertema Sejuta Cinta untuk Palestina digelar Ahad pagi (10/3) bertempat di Masjid Agung Surakarta. Henry Hidayatullah dan Abdul Mughni Rozy, dua relawan dokter MER-C yang pernah bertugas di wilayah konflik Gaza-Palestina hadir sebagai narasumber. Pada laporanya, Mughni, seorang relawan senior dari MER-C Cabang Semarang memaparkan pengalamannya ketika menjadi tim MER-C pada saat agresi Israel awal tahun 2009. Dokter spesialis bedah umum ini menyaksikan sendiri bagaimana kondisi kota Gaza yang luluhlantak akibat serangan bom dan rudal Israel. Serangan ini juga menyebabkan ribuan rakyat Gaza juga menjadi korban. Sementara Henry yang merupakan salah satu pendiri dan relawan senior MER-C membagi pengalamannya saat mengunjungi Gaza belum lama ini. Ia mengatakan, Saat ia datang, pembangunan struktur RSI sudah selesai dan pembangunan tahap 2 segera dimulai. Kedatangan Henry bersama Ketua Divisi Konstruksi MER-C dan 21 relawan teknis dari Indonesia menandakan siap dimulainya pembangunan tahap 2 RSI. Pembangunan tahap 2 memang akan dilakukan oleh relawan ahli dan teknis dari Indonesia, hal ini dalam rangka menghemat biaya pembangunan. Tidak hanya cerita, para jamaah yang hadir di Masjid Agung Surakarta juga disuguhkan dengan foto-foto dan film proses pembangunan RSI dari awal hingga update terakhir. Malam harinya, acara sosialisasi RSI di kota Solo masih berlanjut. Kali ini bertempat di kelompok pengajian ibu Siti Aminah pemilik Tiga Serangkai. Dari dua rangkaian acara ini, jumlah donasi cash semetara yang terkumpul dari warga Solo sebesar Rp 15.478.000 dan cek senilai Rp 100 juta.(T/P015/R2). Sumber : http://www.mirajnews.com/indonesia/2995-solo-sumbang-seratus-juta-lebih-untuk-rs-indonesia-di-gaza.html  

RS Indonesia di Gaza Selesai Tahun Ini

Gaza, 10 Rabiul Akhir 1434/20 Februari 2013 (MINA) Relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Ir. Edy Wahyudi mengatakan, pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza ditargetkan selesai tahun ini.  Kita coba kejar target waktu selesai insya Allah tahun ini, meskipun secara hitungan masih diperlukan biaya cukup besar, ujar Edy yang baru tiba dari Jakarta di RSI Gaza Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina. Total donasi dari rakyat Indonesia untuk program pembangunan RS Indonesia di Gaza sudah mencapai Rp 30,7 milyar. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Estimasi dana yang diperlukan berkisar 30 miliar rupiah lagi, terutama untuk anggaran infrastruktur dan peralatan kesehatan, katanya kepada Miraj News Agency (MINA), Selasa malam (19/2). Menurut relawan yang pernah bertugas tahun lalu di Gaza, pembangunan RSI tahap kedua memerlukan ketelitian, karena lebih kompleks daripada tahap pertama.   Edy bergabung dengan 27 relawan MER-C asal Indonesia lainnya yang sudah berada di Gaza. Seluruh relawan berasal dari Pondok Pesantren Al-Fatah berpusat di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat sebagai mitra dakwah dan ukhuwah MER-C.  Seluruh relawan berkomitmen melaksankan amanah amal shalih di Gaza hingga pembangunan RSI selesai, ujarnya. Ia mengatakan, persiapan berikutnya setelah selesai bangunan, adalah mengadakan alat kesehatan beserta obat-obatan, yang memerlukan dana besar. Tahfidzul Quran Edy Wahyudi berangkat ke Gaza pada Jumat (15/2) dan tiba Sabtu (16/2) beserta tiga utusan pesantren Al-Fatah, yang akan mengikuti program Tahfidzul Quran metode Tajul Waqar di Mahad Tahfidzul Quranul Karim was Sunnah Gaza.  Ketua delegasi Ustadz M.Sholeh Iskandar, Pengelola Tahfidzul Quran Pesantren Al-Fatah Natar, Lampung, dijadwalkan mengikuti Program Tajul Waqar di Gaza.   Tajul Waqar (mahkota ketegaran, kemuliaan) merupakan jenis program akselerasi (percepatan) menghafal Al-Quran 30 juz yang dikemas dalam bentuk perkemahan liburan musim panas selama 1-2 bulan. Pada saat libur panjang, anak-anak di Gaza tidak melakukan acara bermain atau wisata liburan. Akan tetapi justru mengisi liburannya dengan berkumpul di masjid untuk mengikuti program menghafal Al-Quran. Program menghafal Al-Quran saat liburan musim panas ini merupakan program unggulan di Gaza. Puluhan ribu siswa siswi dari berbagai tingkatan sekolah bahkan pemuda dan orang tua, mengikuti program yang bernama Tajul Waqar ini.  Mereka berkumpul dari pagi hingga sore hari di masjid-masjid di Gaza, kemudian menghafal Quran selama dua bulan penuh. Selama dua bulan tersebut, sebagian besar dari mereka berhasil mengahafal Al-Quran 30 juz. Program ini sudah ada sejak lama di Gaza. Namun baru ditertibkan dengan dibentuk sebuah lembaga formal bernama Dar Al-Quranul Karim was Sunnah sejak 2006.  Sejak saat itulah lahir puluhan ribu hafidz dan hafidzah (penghafal Al-Quran). Tercatat tahun 2010 diwisuda 24.000 hafidz dan hafidzah, tahun 2011 sebanyak 10.000 hafidz dan hafidzah, serta tahun 2012 sekitar 10.000 hafidz dan hafidzah Al-Quran. Menurut Syekh Abdurrahman Yusuf Al-Jamal, disebut Tajul Waqar karena mereka para penghafal Al-Quran akan mendapatkan mahkota kemuliaan dari Allah kelak di hari akhirat.  Mahkota tersebut kemudian disematkan oleh penghafal Al-Quran kepada orang tua masing-masing, untuk bersama-sama masuk ke dalam syurga, ujar Syeikh Al-Jamal. Pimpinan program Tajul Waqar Gaza, Syeikh Aburrahman Yusul Al-Jamal Al-Hafidz, pernah berkunjung ke Pesantren Al-Fatah Lampung guna melaksanakan program Tajul Waqar periode Januari-Februari 2012 lalu. Dalam waktu dua bulan saja, anak-anak usia SD-SLTA di Lampung waktu itu, dapat menghafalkan Al-Quran rata-rata antara 1-5 juz. Bahkan ada yang lebih, ujar Ustadz Sholeh. Untuk itu, lembaganya ingin melanjutkan program Tajul Waqar lebih intensif lagi dengan mengadakan studi banding dan melihat langsung pelaksanaannya di Gaza, paparnya. Pesantren Al-Fatah ditunjuk oleh Dar Al-Quranul Karim was Sunnah Gaza sebagai perwakilan dan koordinator pengembangan Tajul Waqar di Indonesia. Relawan Indonesia di Gaza juga memanfaatkan waktu-waktu di luar pekerjaan rutin RSI, dengan mengadakan kegiatan belajar bahasa Arab dan mengikuti program Tahfidzul Quran secara sederhana. Tercatat, ada relawan yang sudah hafal lima juz selama sekitar setahun bertugas di Gaza, karena mengikuti program Tajul Waqar musim liburan lalu khusus kelas karyawan. Ikut serta dalam rombongan relawan ke Gaza, Reza Addila Kurniawan dan Muqorrobin Al-Fikri, alumni Pesantren Al-Fatah untuk melanjutkan kuliah di Universitas Islam Gaza. (L.P03/R1). Sumber : http://www.mirajnews.com/palestina/2394-rs-indonesia-di-gaza-selesai-tahun-ini.html

Satu Lagi Relawan Insinyur MER-C Berangkat ke Gaza

Jakarta Jum’at/15 Februari 2013, tepatnya pukul 20.20 wib, MER-C memberangkatkan lagi tambahan satu relawan insinyur ke Gaza, Palestina. Keberangkatan relawan insinyur ini adalah untuk membantu mengawasi pekerjaan pembangunan tahap 2 RS Indonesia (RSI) berupa pekerjaan arsitektur dan ME (Mechanical Electrical). Pekerjaan pembangunan tahap dua RSI memang dilakukan sendiri oleh insinyur dan tenaga teknis dari Indonesia yang semuanya adalah relawan (unpaid volunteers) dari Pesantren Alfatah yang tergabung dalam Divisi Konstruksi MER-C. Kedatangan tambahan insinyur, yaitu Ir. Edy Wahyudi diharapkan bisa melakukan pemantauan yang lebih baik terhadap proses pembangunan RS Indonesia, amanah dari rakyat Indonesia untuk Palestina yang mulai memasuki tahap lebih rumit dan detail, apalagi pembangunan tahap dua seluruhnya akan dikerjakan oleh tenaga ahli dan pendukung dari Indonesia.  Bersama Ir. Edy Wahyudi, berangkat juga 3 relawan dari Pesantren Alfatah. Selain turut membantu dalam program pembangunan RS Indonesia, mereka juga akan menimba ilmu di Gaza melalui program kerjasama beasiswa antara Universitas Islam Gaza dan Pesantren Alfatah.  Keempat relawan tiba di Kairo Sabtu (16/2) sekitar pukul 9 pagi waktu setempat. Dari Kairo, semua relawan langsung menuju perbatasan Rafah dan dengan surat izin yang ada, semua relawan bisa masuk ke Gaza pada hari Sabtu sorenya.  Bagi Ir. Edy Wahyudi ini adalah keberangkatan keduanya ke Gaza. Sebelumnya, Ir. Edy pernah bertugas selama 1,5 tahun di Gaza. Tugasnya bersama 2 relawan insinyur lainnya saat itu, Ir. Nur Ikhwan Abadi dan Ir. Ahmad Fauzi adalah untuk menindaklanjuti dan mengawasi proses pembangunan tahap 1 berupa pekerjaan struktur RSI. Ia baru kembali ke Indonesia setelah pembangunan struktur RSI selesai. Kini, keahliannya kembali dibutuhkan, untuk mengawasi pembangunan tahap 2 RSI yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara.  Ir. Edy Wahyudi dan 3 relawan akan bergabung dengan 27 relawan Indonesia yang sudah berada di Gaza. Semua relawan berkomitmen akan bertugas di Gaza hingga pembangunan RSI selesai dan amanah donasi dari rakyat Indonesia yang disalurkan melalui MER-C tertunaikan. Berdasarkan laporan dari Ir. Nur Ikhwan Abadi di Gaza, Pekerjaan pemasangan blok dinding samping dan blok sekat-sekat ruangan dalam untuk lantai 1 dan 2 RSI sudah selesai. Yang masih berlangsung adalah pemasangan blok lantai basement yang tersisa sekitar 50% lagi. Donasi Rakyat Indonesia untuk RSI Capai Rp 30,7 Milyar   Sementara itu, total donasi dari rakyat Indonesia untuk program pembangunan RS Indonesia di Gaza sudah mencapai Rp 30,7 Milyar. Semua donasi murni berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar dari kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke.  Alhamdulillah perkiraan awal biaya pembangunan sebesar Rp 30 Milyar, yang sebelumnya sulit terbayangkan akhirnya tercapai bahkan sudah melebih dari target. Kini kebutuhan selanjutnya adalah biaya untuk pengadaan alat-alat kesehatan dan pengembangan kompleks RS Indonesia, yaitu pembangunan infrastruktur, masjid, gedung manajemen dan juga wisma rakyat Indonesia. papar Ir. Faried Thalib, Ketua Divisi Konstruksi MER-C. ***

Hujan Es, Relawan Indonesia Tetap Bangun RSI Gaza

Gaza, 29 Shafar 1434/ 11 Januari 2013 (MINA) – Meski cuaca dingin mencapai enam derajat celcius, bahkan sempat turun hujan es, sebanyak 28 relawan kemanusiaan asal Indonesia tetap melanjutkan pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza. Koresponden Miraj News Agency (MINA) dari Gaza melaporkan, relawan melanjutkan pekerjaan pemasangan blok sekat kamar lantai dua dan pemasangan keramik lantai dasar (basement). Relawan terpaksa pakai baju tebal rangkap, bahkan sampai rangkap lima lapis, ujar Nur Ikhwan, kepala Tim Relawan Medical Emergency Resque Committee (MER-C), pihak yang membangun RSI persembahan rakyat Indonesia untuk Gaza itu. Bahkan, menurutnya, kencangnya hembusan angin kali sempat merobohkan salah satu sisi dinding rumah sakit. Sehingga memaksa relawan memasang ulang dingin tersebut. Pemerintah setempat sementara memberlakukan larangan keluar rumah bagi warga karena khawatir tehempas angin yang kecepatannya mencapai 100 km/jam.  Nur Ikhwan menambahkan, kondisi relawan seluruhnya sehat, dan minta doa dari keluarga dan rakyat Indonesia. Kedatangan musim dingin di Gaza sudah terasa sejak pertengahan September 2012 lalu. Cuaca makin ke sini makin terasa dingin. Hujan salju sempat turun beberapa hari lalu, disertai angin kencang, mengakibatkan pekerjaan RSI dibatasi di dalam ruangan, ujar Nur Ikhwan. Menurut pantauan Koresponden Miraj News Agency (MINA), jalan-jalan utama di Gaza terlihat lengang dari warga, karena lebih banyak berteduh di rumah masing-masing. Menurut prakiraan cuaca setempat mengatakan, puncak musim dingin kali ini masih akan berlanjut hingga beberapa hari kedepan. Hingga diperkirakan akan berakhir pada akhir Februari mendatang. (L/B-007/R-007/R-005). Sumber : http://www.mirajnews.com/id/al-quds-palestine-in-news-3/al-quds-palestine-in-news/1552-hujan-es-relawan-indonesia-tetap-bangun-rsi-gaza.html  

Silahkan bertanya?