MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Persiapan Trip ke-2 Program Kapal Kemanusiaan, MER-C Kirim Obat-obatan dan Alkes ke Papua Barat

MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan AMCF (Asia Muslim Charity Foundation) serta didukung oleh Baznas (Badan Amil Zakat Nasional) akan menjalankan trip ke-2 Program Kapal Kemanusiaan Papua Barat yang akan dimulai awal Desember 2017. Untuk persiapan, MER-C telah mengirimkan lebih dulu sejumlah obat-obatan dan alat kesehatan untuk keperluan program ini ke Sorong.   Seperti pada trip pertama, trip ke-2 juga akan menjangkau wilayah-wilayah terpencil dan sulit diakses di Papua Barat, kali ini kepulauan Misool. Sekitar 21 desa di kepulauan Misol yang tersebar di Misool Selatan, Misool Barat, Misool Timur dan Misool Utara ditambah beberapa desa di pula Jefman, pulau Buaya dan pulau Arar akan dijelajah oleh tim MER-C dan AMCF.   MER-C sendiri akan berfokus pada pelayanan kesehatan seperti pengobatan umum, sirkumsisi, pemeriksaan gizi anak, pemeriksaan mata, dan penyuluhan kesehatan.   Info:www.mer-c.org0811990176

Program Kapal Kemanusiaan 2 Target Jangkau 28 Desa Terpencil di Papua Barat

Setelah berhasil menjalankan program Kapal Kemanusiaan Papua Barat trip pertama, MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) dan AMCF (Asia Muslim Charity Foundation) dengan didukung oleh Baznas (Badan Amil Zakat Nasional) kembali sepakat menjalankan trip ke-2 untuk menjangkau desa-desa terpencil lainnya di Papua Barat. Kali ini wilayah sasaran program adalah pulau Missol, pulau Doom dan pulau Jeffman dengan target sebanyak 28 desa akan dikunjungi oleh tim hingga akhir bulan Desember 2017. Koordinator MER-C untuk Papua, dr. Zackya Yahya, SpOk mengungkapkan rasa syukur bisa bersinergi dengan berbagai elemen seperti AMCF selaku pemilik kapal dan Baznas selaku pendukung dana kegiatan khususnya kesehatan, sehingga jangkauan dan manfaat pelayanan MER-C di Papua Barat bisa lebih luas lagi. “MER-C sudah mempunyai program klinik sosial di Papua dan Papua Barat sejak tahun 2006, dengan adanya program kerjasama Kapal Kemanusiaan banyak wilayah-wilayah yang selama ini jauh, sulit dijangkau dan sulit diakses melalui jalur darat bisa dicapai dan mendapatkan layanan kesehatan dan bantuan lainnya yang memang sangat dibutuhkan masyarakat setempat,” papar Zackya.  “Masyarakat di ujung timur Indonesia masih sangat membutuhkan perhatian di berbagai bidang, hal inilah yang membuat kami bertahan untuk terus mendampingi kesehatan masyarakat baik di Papua maupun di Papua Barat,” imbuhnya. Dr. Zackya Yahya Setiawan,SpOk menambahkan bahwa khusus bidang kesehatan, pelayanan MER-C mencakup pengobatan umum, sirkumsisi, pemeriksaan gizi anak, pemeriksaan mata dan penyuluhan kesehatan. Sementara program renovasi, pendidikan dan keagamaan akan dicover oleh AMCF.  “Pagi ini tim MER-C akan berangkat ke Sorong. Selanjutnya pada tanggal 8 Desember 2017 lusa kami akan berlayar menuju desa pertama, yaitu desa Yellu di Misool Selatan untuk bergabung dengan tim AMCF di sana,” terang Zackya.  Dengan target 28 desa yang sudah disepakati, MER-C menurunkan 11 personil relawan yang terdiri dari 6 dokter, 3 perawat dan 2 tenaga logistik. Untuk efektifitas waktu, di lapangan nanti tim akan dibagi menjadi 2 karena ada desa-desa yang dapat dijangkau dengan jalur darat dan ada yang tidak. “Satu tim untuk pelayanan di darat, sementara tim lainnya akan berlayar ke wilayah lainnya, terus seperti itu.”   Info: www.mer-c.org 0811990177    

PROGRAM KAPAL KEMANUSIAAN DILUNCURKAN DI SORONG

Sorong – Program kapal kemanusiaan yang diinisiasi oleh Asian Moslem Charity Foundation (AMCF), resmi diluncurkan di Sorong – Papua Barat pada hari Rabu, 24 Mei 2017. Acara seremonial dilakukan di Aula Politeknik Kelautan dan Perikanan, dihadiri oleh pimpinan lembaga yang terlibat serta tamu undangan dari kalangan pejabat sipil dan militer di lingkungan pemerintah kabupaten dan kota Sorong. Dalam peresmian tersebut, Dra. Endang Gunaisah, MSi. selaku Plt Direktur Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong menyampaikan selamat atas peresmian program Kapal Kemanusiaan. “Kami sangat berbahagia, karena aula kami yang saat ini menjadi tempat peresmian, justru belum diresmikan oleh pejabat yang berwenang,” ujarnya yang disambut tawa hadirin. Aula yang didominasi warna biru cerah dengan dekorasi langit-langit berupa gambaran awan dan dipenuhi poster kegiatan bawah laut, menciptakan atmosfir laut terbuka yang sangat kental. “Jangan kaget. Dulu kami dikenal sebagai Akademi Perikanan Sorong (APSOR), namun sekarang kami berganti nama menjadi Poltek Perikanan dan Kelautan.” Sementara itu, dalam sambutannya Ketua Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Sorong, Drs. Rustamadji, menyampaikan kegembiraannya terhadap peresmian program Kapal Kemanusiaan ini. “Sudah lama kami bermitra dengan AMCF. Dan kami berbahagia bisa meningkatkan kemitraan melalui Kapal Kemanusiaan ini,” katanya. Dari sekian banyak perguruan tinggi dan swasta yang ada di Papua Barat, STKIP yang juga dikenal sebagai Kampus Biru adalah satu-satunya perguruan tinggi yang mendapat peringkat B. “STKIP sebagai sayap pendidikan Munammadiyah selalu berusaha untuk memberikan manfaat bagi sekitar dan terbuka bagi siapa saja. Buktinya, 70% mahasiswa kami berasal dari masyarakat lokal Papua yang beragama Nasrani,” paparnya sambil menunjuk ke belakang dimana barisan mahasiswanya duduk. Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mengirimkan ketua presidiumnya dr. Henry Hidayatullah, MSi untuk memberikan sambutan dan mengunjungi lokasi awal kegiatan kesehatan oleh tim medis MER-C. “Kami ingat bahwa di bulan ini 7 tahun yang lalu, kami bergabung bersama NGO lain dari banyak negara dalam kapal kemanusiaan untuk membuka blokade Gaza,” ujarnya merujuk pada peristiwa penyerbuan tentara Israel ke Kapal Mavi Marmara pada 31 Mei 2010 silam. “Dan tentunya, kini kami bergabung dalam program kapal kemanusiaan ini juga untuk membuka blokade akses kesehatan masyarakat Papua di pulau-pulau terpencil.” Menurut dr. Henry setidaknya ada 36 titik yang akan dikunjungi oleh tim medis dengan berbagai program kesehatan sesuai hasil survei oleh tim pendahulu. “Dan kami berterima kasih kepada BAZNAS yang bersedia menyokong pembiayaan program kesehatan di kapal ini.” Sebagai kegiatan awal, aktivitas tim medis akan dipusatkan di Salawati Tengah untuk mengadakan sunatan massal dan pemeriksaan kesehatan. Dalam sambutan peresmian, Ahmad Yaman, Direktur AMCF, menyampaikan bahwa program kapal kemanusiaan ini adalah capaian baru bagi AMCF, karena sebelumnya AMCF tidak memiliki pengalaman bekerja dengan kapal. “Kami menyiapkan 3 kapal kemanusian untuk Sorong, Ternate dan Pontianak agar bisa menjangkau area sekitar menjalankan program dakwah kami. Untuk menambah manfaat, kami bersinergi dengan elemen lain seperti STKIP selaku mitra lokal sekaligus menjalankan program pendidikan, dan MER-C yang sudah dikenal luas dalam memberikan bantuan kesehatan di daerah terpencil.” Ahmad berharap ke depan sinergi ini bisa diperluas untum meningkatkan kemanfaatan program Kapal Kemanusiaan. “Alhamdulillah, meski sempat mengalami hambatan dalam setahun terakhir, Kapal Kemanusiaan ini bisa diresmikan pada hari ini,” pungkasnya. Setelah peresmian, Kapal Kemanusiaan segera bertolak ke Salawati Tengah untuk mengunjungi lokasi pengobatan dimana sehari sebelumnya tim medis MER-C sudah masuk untuk persiapan dan perbekalan medis. Sedikitnya 11 petugas yang terdiri dari dokter, perawat dan logistik akan membantu kegiatan sunatan massal pada hari Rabu dan pengobatan umum pada hari Kamis. Diperkirakan Kapal Kemanusiaan akan bertugas sekitar 2 minggu untuk menyampaikan program bagi masyarakat yang dikunjungi.  

MER-C Bagikan Bantuan Sarana Belajar untuk Anak-anak Desa Klalin 4 Papua Barat

Atas bantuan dan donasi dari para donatur untuk program “Satu untuk Papua”, Tim Relawan MER-C di Sorong Papua Barat telah membeli sejumlah perlengkapan seperti papan tulis, buku tulis, buku pelajaran dan seragam sekolah untuk melengkapi sarana belajar mengajar bagi anak-anak di Desa Klalin 4.   Semoga dengan adanya perlengkapan ini dapat menambah semangat belajar anak-anak Desa Klalin 4, sebuah desa yang terletak di Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, Papua Barat dimana warganya merupakan suku asli Papua bernama suku Kokoda yang beragama Islam. Awalnya wilayah Klalin adalah salah satu wilayah mobile clinic dari Klinik Sosial MER-C di Sorong Papua Barat. Melihat sarana dan prasarana kesehatan, sekolah dan keagamaan warga yang masih sangat minim, Tim MER-C di Papua tergerak untuk membuat program TERPADU (Kesehatan, Pendidikan, Agama dan Ekonomi) bagi warga desa setidaknya untuk 1 hingga 2 tahun ke depan. Dukungan dan bantuan untuk program “Satu untuk Papua” – Klalin 4* dapat disalurkan melalui : BCA, 686.06666.08 BNI Syariah, 08.111.929.62 A/n. Medical Emergency Rescue Committee *Harap menambahkan angka 81 diakhir nominal donasi

Rute Menantang Jurang Menembus Tolikara

Ahad malam, 26 Juli 2015, lembaga medis kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) memberangkatkan Tim Konstruksi ke Tolikara, Papua. Tim terdiri dari tiga orang relawan yang diketua oleh Ir. Nur Ikhwan Abadi, relawan yang pernah memimpin dan terlibat aktif dalam proses pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina. Pengiriman tim ini adalah langkah awal dari program “Satu untuk Papua” yang dicanangkan oleh MER-C, pasca insiden kerusuhan yang terjadi di Tolikara, Papua.  Dengan pengalaman membangun sarana kesehatan di Aceh, Yogyakarta, Galela (Maluku Utara), dan Jalur Gaza, serta membangun sarana pendidikan di Padang Pariaman (Sumatera Barat), maka melalui program “Satu untuk Papua”, MER-C menetapkan program rehabilitasi jangka panjang untuk wilayah ini. “Apa yang akan kita bangun di Tolikara menunggu hasil assessment Tim ini,” ujar dr. Henry Hidayatullah, Ketua Presidium MER-C saat mengantar Tim di Bandara Soekarno Hatta Ahad malam (26/7). Kiprah MER-C di Papua sendiri sudah dimulai sejak Februari 2006 melalui Program Klinik Sosial di Timika dan Sorong.   Perjalanan menantang jurang Nur Ikhwan memaparkan kisah perjalanannya pada Senin 27 Juli 2015 untuk mencapai Tolikara, sebagaimana yang diterima Mi’raj Islamic News Agency (MINA) sebagai berikut: Pukul 12.20 WIT, kami bergerak dari Wamena menuju Tolikara menggunakan mobil Mitsubishi Strada. Alhamdulillah, meskipun hari sudah siang, kami masih bisa mendapat tempat duduk di dalam (bukan di bak belakang mobil), berkat bantuan Sertu Prayogi, teman Pak Abdullah (relawan MER-C yang turut dalam Tim) di Wamena. Sertu Prayogi mengantar hanya sebatas di Wamena saja. Satu mobil mengangkut 16 orang, yaitu dua di depan, empat di tengah (termasuk kami), dan sepuluh di luar. Ongkos pun berbeda, untuk di dalam harganya Rp 250.000 per penumpang dan untuk di luar harganya Rp 150.000 per penumpang. Sebelum berangkat, sopir mencari solar terlebih dahulu untuk cadangan bahan bakar. Harga solar per liter Rp 22.000, sedangkan bensin Rp 20.000 per liter. Setelah bahan bakar penuh, kami mulai berangkat keluar dari Wamena, namun sebelumnya penumpang dihentikan di sebuah rumah makan membeli perbekalan untuk selama perjalanan. Adapun Tim tidak membeli perbekalan, karena seorang sedang shaum (puasa) dan bekal dari Jakarta masih ada. Kemudian kendaraan berpenumpang 16 orang ini mulai bergerak menyusuri jalan pegunungan yang track-nya menantang. Jalan berkelok dan menanjak, ditambah lagi tidak sepenuhnya mulus atau banyak berlubang. Di kanan dan kiri adalah jurang, jika selip sedikit saja, jurang di kanan dan kiri siap menyambut. Diperkirakan, jika perjalanan lancar, akan memakan waktu 4-5 jam.   Terjebak di tengah hutan tanpa sinyal Setelah tiga jam perjalanan, mobil yang kami tumpangi mengalami masalah. Awalnya sopir menduga solar yang dipakai dicampur air oleh penjualnya, sehingga kendaraan tidak ada tenaga untuk menanjak. Namun setelah beberapa kali dicoba, ternyata kampas kopling Mitsubishi Strada ini rusak, sehingga kendaraan tidak bisa bergerak, meskipun sudah coba diperbaiki. Kendaraan dihentikan di tengah hutan pegunungan, kami mulai waspada, terlebih tidak adanya sinyal sedikit pun ditengah hutan seperti itu. Khawatir dengan situasi ini, kami terus tingkatkan kewaspadaan, mengingat ada peringatan dari Sertu Prayogi bahwa sering terjadi para penumpang dibawa ke tengah hutan oleh orang-orang OPM (Organisasi Papua Merdeka). Kendaraan terpaksa balik arah untuk mencari tempat yang ada sinyalnya. Namun sebelum mendapat sinyal, kendaraan sudah tidak dapat bergerak dan berhenti total. Sopir pun meminta semua penumpang turun dan dia akan berjalan kaki menuju ke sebuah tempat untuk menghubungi rekannya agar mengirim kendaraan cadangan. Tidak lama kemudian, sebuah mobil Toyota Hilux Double Cabin dengan bak belakang kosong melintas. Sopir Mitsubishi Strada langsung hentikan kendaraan tersebut dan meminta agar memberikan tumpangan kepada kami untuk ke Tolikara yang jaraknya masih tiga jam lagi. Setelah negosiasi, akhirnya kami dizinkan naik Toyota Hilux tadi, tapi di bak belakang karena di dalam sudah penuh. Sopir Strada memberi uang Rp 400.000 kepada sopir Hilux sebagai kompensasi untuk empat orang yang ikut di mobilnya. Kemudian ketika akan berangkat, empat orang penumpang Strada ikut juga naik ke kendaraan bersama kami. Dengan sopir orang lokal, kami pun mulai bergerak lagi, track yang kami lalui ternyata jauh lebih menantang dari sebelumnya. Jalan yang kami lalui sebelumnya ternyata belum apa-apa dari jalan yang kami lalui setelahnya. Mobil terus lanjutkan perjalanan yang terus menanjak, mobil berkali-kali berhenti untuk ambil ancang-ancang ketika akan menanjak. Jalan menanjak, berkelok, bebatuan campur tanah, jika hujan licin dan rawan longsor, kemiringan 45 derajat bahkan lebih. Ketika mobil akan menanjak ke puncak, si sopir berhenti dan meminta empat orang yang tadi naik tanpa persetujuan pemilik kendaraan untuk turun. Alasannya karena daerah tanjakan membuat mobil tidak kuat, dan juga karena mereka tidak bayar seperti kami berempat. Alhamdulillah, dengan izin Allah,  kami akhirnya tiba di Tolikara. Setelah melapor ke Koramil setempat, kami diarahkan untuk menginap di penginapan di belakang kantor Koramil, dekat pasar dan masjid yang dibakar. Keesokannya kami di minta melapor ke posko kemanusiaan yang dipusatkan di kantor bupati lama. (L/P001/P2) Sumber : http://mirajnews.com/id/artikel/feature/rute-menantang-jurang-menembus-tolikara/          

MER-C Kirim Tim Konstruksi ke Tolikara, Papua

Minggu malam (26/7), MER-C memberangkatkan Tim Konstruksi ke Tolikara, Papua. Tim terdiri dari tiga orang relawan yang diketuai oleh Ir. Nur ikhwan Abadi, relawan yang pernah memimpin dan terlibat aktif dalam proses pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. Pengiriman tim ini adalah langkah awal dari program “Satu untuk Papua” yang dicanangkan oleh MER-C, pasca insiden yang terjadi di Tolikara, Papua. Dengan pengalaman membangun sarana kesehatan di Aceh, Yogyakarta, Galela (Maluku Utara) dan Jalur Gaza, Palestina serta membangun sarana pendidikan di Padang Pariaman (Sumatera Barat), maka melalui program “Satu untuk Papua”, MER-C pun menetapkan program rehabilitasi jangka panjang untuk wilayah ini. Pengiriman tim relawan ke Tolikara yang merupakan Tim Advance bertujuan untuk melakukan initial assessment dan evaluasi kebutuhan sarana yang diperlukan warga setempat.  “Apa yang akan kita bangun di Tolikara menunggu hasil assessment Tim ini,” ujar dr. Henry Hidayatullah, Ketua Presidium MER-C saat mengantar Tim di Bandara Soekarno Hatta Minggu malam (26/7). Turut melepas keberangkatan Tim adalah dr. Joserizal Jurnalis, SpOT dan Ir. Faried Thalib, anggota Presidium MER-C.   Kiprah MER-C di Papua sendiri sudah dimulai sejak 9 tahun silam, tepatnya Februari 2006 melalui program Klinik Sosial yang berada di Timika (Papua) dan Sorong (Papua Barat). Program Klinik Sosial di Timika dan Sorong masih terus berjalan hingga saat ini melalui pelayanan kesehatan di klinik dan pelayanan secara mobile clinic untuk menjangkau desa-desa dan wilayah-wilayah yang jauh dari lokasi klinik.   Dukungan dan Donasi program “Satu untuk Papua” dapat disalurkan melalui: BCA, 686.06666.08 BNI Syariah, 08.111.92962 An. Medical Emergency Rescue Committee          

Relawan MER-C Sorong Salurkan Qurban ke Desa Binaan Klinik

Sorong, Papua Barat  –  Momen Idul Adha kali ini di Klinik MER-C Sorong berlangsung dengan suasana berbeda. Alhamdulillah tahun ini Tim Klinik MER-C Sorong bertindak sebagai penyelenggara pembagian daging kurban.  Donatur dari pembagian daging kurban ini adalah beberapa orang rekan yang berdomisili di luar Sorong, berjumlah 14 orang dengan donasi yang terkumpul berjumlah 22 Juta Rupiah. Dibantu oleh beberapa pihak diantaranya Pesantren Darul Istiqamah yang berperan dalam pemotongan hewan kurban serta sekelompok mahasiswa yang tergabung dalam PC IPNU-IPPNU Kabupaten Sorong yang membantu dalam pembagian daging kurban, Tim Klinik MERC berhasil mendistribusikan daging kurban dari 2 ekor sapi yang kemudian terbagi menjadi 150 kantong.     /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} Tiap kantongnya berisi 1 kg daging siap bagi.  Sebanyak 100 kantong dibagikan  kepada Warga Binaan di Desa Klalin 4, 20 kantong dibagikan kepada warga di sekitar Klinik MER-C Sorong , dan sisanya diberikan kepada Pondok Pesantren Darul Istiqamah Sorong.    Raut bahagia terpancar dari wajah Warga Binaan saat Tim MER-C membagikan daging kurban ini. Semoga ke depannya kegiatan ini dapat dilaksanakan kembali dan menjangkau wilayah lain di Papua. Secara  khusus Klinik MER-C mengucapkan terima kasih kepada rekan-rekan yang telah memberikan donasinya, juga kepada berbagai pihak yang telah membantu hingga penyelenggaraan pembagian daging kurban ini bias berjalan dengan lancar.   Sebelumnya, Klinik MER-C sudah beberapa kali mengadakan kegiatan serupa di Desa Binaan Klalin 4 ini. Di antaranya Baksos Pembagian Sembako, Perlengkapan MCK, Peralatan Sekolah dan Makanan Sehat kepada anak-anak Warga Desa Binaan. Juga pengobatan gratis yang rutin diadakan setiap satu bulan sekali.          

Silahkan bertanya?