MER-C Adakan Layanan Kesehatan dan Bantuan Kemanusiaan untuk Pengungsi Rohingya di Aceh

ER-C Indonesia pada hari Sabtu (13/7) mengadakan pelayanan kesehatan serta penyaluran bantuan kemanusiaan bagi ratusan pengungsi Rohingya di Aceh. Kordinator MER-C Aceh Ira Hadiati mengatakan, program bantuan dan layanan kesehatan ini dilakukan karena masih banyak pengungsi Rohingya yang mendarat di Aceh dengan kondisi memprihatinkan. “Terlepas dari masalah politik atau isu internasional tentang manusia kapal ini, MER-C selaku lembaga kemanusiaan yang bersifat netral tergerak untuk ikut serta menangani masalah ini. MER-C sendiri sudah pernah terjun langsung ke Rakhine, Myanmar, saat membangun Rumah Sakit Indonesia, jadi tahu bagaimana kondisi mereka di sana,” ujarnya. Terkait program bantuan lebih lanjut untuk pengungsi Rohingya ini, Ira mengatakan akan berkoordinasi dengan jajaran Presidium MER-C di Jakarta. Layanan kesehatan dilakukan oleh relawan dari MER-C Cabang Medan yang terdiri dari dua dokter umum yaitu dr. Miftahul Masruri sebagai Koordinator Lapangan dan dr. Aulia Rachman, tiga perawat Ade Andrian, S.Kep, Ns, M.Kep, Aspri Darmawan, S.Kep, Ns dan Bima Anggara, S.Kep serta satu dokter muda Norman Hakim, S.Ked. Kordinator Lapangan untuk pelayanan kesehatan pengungsi Rohingya, dr. Miftahul, mengatakan tim mendapati para pengungsi banyak mengalami penyakit kulit dan pernafasan karena kondisi lingkungan memang kurang bersih, di mana satu tempat pengungsian diisi oleh ratusan orang. “Para pengungsi sendiri menyambut hangat kedatangan Tim MER-C, karena memang mereka mengharapkan adanya bantuan. Kami sendiri tadi cukup kewalahan karena memang hampir semua ingin berobat dan hampir semua dari anak-anak hingga dewasa mengalami penyakit kulit atau pencernaan,” ujarnya. dr. Miftahul mengungkap, sudah ada tim medis yang memang ditugaskan untuk memberikan pelayanan bagi pengungsi Rohingya. Mereka bertugas dalam tiga shift dari Senin-Jumat, jadi saat relawan MER-C datang tim yang biasa bertugas sedang libur. Selain memberikan pelayanan kesehatan, relawan MER-C bersama Fakultas Bisnis Islam UIN Ar-Raniry juga membagikan bantuan berupa sembako dan obat-obatan, bantuan paket higienis untuk dewasa dan anak-anak yang berisi sikat gigi, handuk, sabun mandi, shampoo, serta pakaian bayi dan makanan tambahan untuk anak-anak, dengan total 237 paket. MER-C juga menyerahkan bantuan 7 buah kipas angin agar sirkulasi udara di pengungsian bisa lebih baik, serta peralatan ibadah seperti iqra dan Al Quran, mukenah, sarung, dan buku pengayaan agama. Saat ini para pengungsi membutuhkan fasilitas sanitasi yang lebih baik, karena yang ada sekarang masih belum memadai. PBB menggambarkan etnis Rohingya sebagai kelompok yang paling teraniaya di dunia dan kelompok hak asasi manusia menyebut mereka menghadapi genosida. Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi Rohingya, sebagian besar perempuan dan anak-anak, meninggalkan Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan keras pada Agustus 2017, sehingga menambah jumlah pengungsi Rohingya di Bangladesh menjadi lebih dari 1,2 juta orang. Setiap tahun, ribuan warga Rohingya juga meninggalkan Myanmar, mempertaruhkan nyawa dalam perjalanan laut yang panjang dengan kondisi kapal yang buruk, untuk bisa mencapai Malaysia atau Indonesia.
MER-C Papua Lakukan Mobile Clinic ke Pesantren Baitul Muallaf

Tim Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) di Papua terus melakukan program mobile clinic, salah satunya ke Pesantren Baitul Mualaf di Kabupaten Sorong. Mobile clinic di pesantren yang membina sekitar 300 mualaf beserta keluarganya itu telah dilakukan Tim MER-C sejak dua bulan lalu. Pimpinan Pesantren Baitul Muallaf, Hono Salendro, mengucapkan terima kasih atas kehadiran MER-C. Ia mengatakan pengobatan melalui mobile clinic yang digelar setiap bulan ini sangat membantu. Dengan adanya mobile clinic, kini mereka tidak lagi pergi jauh dan mengantre ke puskesmas ketika ada yang sakit. “Adanya pemeriksaan MER-C setiap bulan saya sangat sangat senang dan terbantu, khususnya jama’ah kami,” katanya. Ia mengungkap, tidak hanya santri Baitul Muallaf, banyak warga sekitar yang juga merasakan manfaat dari mobile clinic ini. Untuk itu mereka juga sangat berterima kasih kepada MER-C.Hono mengaku, setiap ia keluar dan bertemu warga, banyak yang menanyakan kapan lagi pemeriksaan dari MER-C dilakukan. Selain di Baitul Muallaf, Tim MER-C di Papua juga rutin menggelar mobile clinic di sejumlah tempat yaitu, Pesantren Alam Inspirasi, Pesantren Darul Istiqomah, Pesantren Raudatul Khufaz, Pesantren Hidayatullah dan Panti Asuhan Sinar Kasih. Mobile clinic juga dilakukan hingga ke pelosok wilayah Papua Barat Daya seperti klalin 4, klalin 6, klalin 2, Arar kampung, Katapop 1, Modan 1, Modan 2 dan Rawa Sugi.MER-C telah hadir di Papua selama 18 tahun melalui program Sehat untuk Papua. Tidak hanya mobile clinic, MER-C juga mengadakan kegiatan sunatan masal, kurban untuk Papua, bantuan paket sembako, bantuan Ramadhan dan Idul Fitri, serta program kemanusiaan lainnya. Rekening Donasi Sehat untuk Papua:BSI, 8111 929.620BCA, 686.066.6608Atas nama:Medical Emergency Rescue Commmittee
Warga Palestina Desak Pembukaan kembali Layanan Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara

Warga Palestina di Gaza Utara hari Sabtu (24/2) melakukan protes untuk mendesak dibukanya kembali layanan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza yang terpaksa ditutup sejak akhir November karena kerusakan parah setelah serangan Israel.Warga Palestina di Gaza Utara hari Sabtu (24/2) melakukan protes untuk mendesak dibukanya kembali layanan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza yang terpaksa ditutup sejak akhir November karena kerusakan parah setelah serangan Israel. Puluhan pengunjuk rasa memasang poster di depan Rumah Sakit Indonesia di Beit Lahiya, Gaza Utara, meminta dibukanya kembali layanan rumah sakit atau disediakannya rumah sakit lapangan. Anak-anak yang ikut dalam protes tersebut memukul alat-alat makan untuk menunjukkan bahwa mereka kekurangan makanan. “Kami ingin menunjukkan kepada dunia kerusakan Rumah Sakit Indonesia yang dilakukan oleh Tentara Pendudukan Israel lebih dari tiga bulan lalu. Mereka menghancurkan rumah sakit saat setengah juta orang dirawat di dalamnya,” kata Jamil Ashour, salah satu Warga Gaza yang ikut melakukan protes. Menanggapi hal tersebut, Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dr. Sarbini Abdul Murad mengatakan, Warga Palestina di Gaza Utara sedang menyampaikan aspirasi mereka, keinginan yang sangat dalam agar Rumah Sakit Indonesia dapat difungsikan kembali. “Mereka tidak tahu mau minta ke siapa agar rumah sakit ini bisa difungsikan. Mau minta sama pemerintah di sana pemerintahnya sudah tidak berfungsi, kemudian kepada WHO mereka tidak bisa berbuat banyak. Menurut saya tuntutan mereka ini adalah sebuah aspirasi keinginan yang sangat dalam dari mereka agar Rumah Sakit kebanggaan bersama ini bisa difungsikan kembali,” ujarnya. Sarbini mengatakan, aksi protes ini juga merupakan isyarat rasa frustasi Warga Gaza Utara atas peristiwa yang terjadi kepada mereka sampai dengan hari ini. Warga Gaza Utara telah terisolir dari dunia selama kurang lebih empat bulan. Meski bantuan masuk ke Jalur Gaza, tapi tidak sampai ke wilayah mereka. “Demonstrasi kemarin merupakan puncak frustasi mereka untuk menyuarakan penderitaan mereka yang menurut saya hari ini dunia melupakannya. Mereka berinisiatif melakukan demonstrasi di depan Rumah Sakit Indonesia, karena merupakan simbol bantuan masyarakat internasional khususnya Indonesia, agar suara mereka benar-benar di dengar dan dunia dapat mengambil langkah-langkah tegas untuk menyelesaikan penderitaan panjang yang begitu menyedihkan,” kata Sarbini. “Saat ini Rumah Sakit Indonesia sudah lumpuh total, saya begitu terharu dan sedih melihat Rumah Sakit Indonesia tidak bisa berfungsi, kita tidak bisa memberikan apa-apa kepada penderitaan Gaza hari ini,” ucapnya. Terkait pembukaan kembali Rumah Sakit Indonesia, Sarbini mengungkapkan MER-C sudah membuka donasi dan berkomitmen untuk membangun kembali Rumah Sakit tersebut. Ia mengatakan, pembangunan kembali Rumah Sakit akan membutuhkan dana yang cukup besar, karena tidak hanya bangunannya yang mengalami kerusakan parah, alat-alat kesehatan yang ada juga telah dihancurkan oleh tentara israel
SURAT TERBUKA MER-C KEPADA PRESIDEN RI “SELAMATKAN RS INDONESIA DAN JALUR GAZA”

Jakarta, 11 November 2023 SURAT TERBUKA MER-C KEPADA PRESIDEN RI “SELAMATKAN RS INDONESIA DAN JALUR GAZA” Kepada yang terhormat, Bapak Ir. H. Joko Widodo Presiden Republik Indonesia Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Salam sejahtera bagi kita semua Hari ini 36 hari sudah dunia menyaksikan agresi membabi buta, pembunuhan dan pembantaian massal terhadap rakyat sipil di Jalur Gaza, yang sebagian besar adalah wanita dan anak-anak. Pemukiman warga, bahkan tempat ibadah baik masjid maupun gereja, sekolah, lokasi-lokasi pengungsian, serta berbagai fasilitas umum lainnya, bahkan seluruh rumah sakit di Jalur Gaza tak luput menjadi sasaran kebrutalan militer Israel. Belasan ribu jiwa meninggal, puluhan ribu lainnya mengalami luka-luka tanpa bisa mendapatkan penanganan yang layak akibat habisnya obat-obatan, padamnya aliran listrik di rumah sakit karena kehabisan bahan bakar serta sederet situasi menyedihkan lainnya. Warga Gaza kini hidup tanpa harapan, tanpa makanan, air, listrik, bahan bakar di tengah gempuran serangan udara dan darat Israel yang semakin gencar, tanpa mengindahkan kemanusiaan dan hukum-hukum internasional. Rumah Sakit Indonesia, asset bangsa Indonesia yang berada di Gaza bagian Utara yang dibangun dari dana rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke, yang pembangunannya dikerjakan oleh tangan anak-anak bangsa tak luput menjadi sasaran. Berbagai fitnah dan framing disebarkan Israel untuk melegitimasi serangan terhadap RS Indonesia. Sebagai informasi bagi Bapak, saat ini 3 relawan MER-C, WNI, masih berada di Jalur Gaza, di RS Indonesia untuk menyalurkan bantuan amanah dari rakyat Indonesia untuk warga Palestina di Jalur Gaza. RS Indonesia kini mencoba tetap bertahan dan beroperasional di tengah kegelapan dan keterbatasan obat-obatan, karena ini adalah satu-satunya tumpuan harapan masyarakat Gaza Utara untuk berlindung dan mendapatkan akses pengobatan. Akankah dunia dan kita bangsa Indonesia terus berdiam diri melihat hal ini ? Untuk itu, sebagai perwakilan rakyat Indonesia, atas nama bangsa Indonesia, bangsa yang memiliki asset Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza, kami berharap Bapak Presiden dengan segala kemampuan dan kapabilitas yang dimiliki untuk dapat melakukan perubahan dan menyelamatkan RS Indonesia di Jalur Gaza. Kami berharap, pada kesempatan pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, Bapak dapat menyampaikan hal ini, memberikan tekanan kepada dunia, khususnya kepada Amerika Serikat agar segera mengadakan gencatan senjata di Jalur Gaza dan menyelamatkan Rumah Sakit Indonesia dari serangan Israel. Demikian surat terbuka ini kami sampaikan untuk menjadi perhatian khusus Bapak Presiden. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Hormat kami, Atas nama rakyat Indonesia Dr. Sarbini Abdul Murad Ketua Presidium MER-C Indonesia ————————————————— Subject: Open Letter from MER-C to the President of the Republic of Indonesia Dear Mr. Ir. H. Joko Widodo, President of the Republic of Indonesia Peace be upon you, and may the mercy of Allah and His blessings be upon you—greetings of peace for all of us. Today marks the 36th day of the world witnessing indiscriminate aggression, murder, and mass slaughter of civilians in the Gaza Strip, the majority of whom are women and children. Residential areas, including places of worship such as mosques and churches, schools, evacuation locations, and various other public facilities, not to mention all hospitals in the Gaza Strip, have fallen victim to the brutality of the Israeli military. Tens of thousands have lost their lives, and tens of thousands more are injured, unable to receive proper treatment due to the depletion of medications, the blackout of electricity in hospitals due to fuel shortages, and a series of other distressing situations. The people of Gaza live without hope now, without food, water, electricity, and fuel amid the intensified air and ground attacks by Israel, disregarding humanity and international laws. The Indonesia Hospital, a national asset built in the northern part of Gaza with funds from the Indonesian people from Sabang to Merauke, constructed by the hands of our fellow countrymen, has not escaped becoming a target. Israel has spread various false accusations and framings to legitimize attacks on the Indonesia Hospital. For your information, Mr. President, currently, three MER-C volunteers, Indonesian citizens, are still in the Gaza Strip at the Indonesia Hospital to deliver aid entrusted by the Indonesian people to the people of Palestine in the Gaza Strip. The Indonesia Hospital is now trying to survive and operate amid darkness and a shortage of medications because it is the only hope for the people of North Gaza to seek refuge and access medical treatment. Will the world and our Indonesian nation continue to remain silent in the face of this? Therefore, as representatives of the Indonesian people, on behalf of the Indonesian nation that owns the Indonesia Hospital in the Gaza Strip, we hope that you, Mr. President, with all your capacities, can bring about change and save the Indonesia Hospital in the Gaza Strip. We hope that during the meeting with the President of the United States, Joe Biden, you can convey this matter, exerting pressure on the world, especially the United States, to immediately initiate a ceasefire in the Gaza Strip and save the Indonesia Hospital from Israeli attacks. This open letter is for your special attention, Mr. President. Peace be upon you, and may the mercy of Allah and His blessings be upon you. Sincerely, On behalf of the Indonesian people, Dr. Sarbini Abdul Murad Chairman of the MER-C Presidium
Tragedi Rempang Batam dan Kanjuruhan, Abaikan Kemanusiaan

Bentrokan terjadi di Rempang, Batam, Kepulauan Riau antara petugas keamanan gabungan dengan warga setempat, Kamis/7 September 2023. Dikutip dari ANTARA, keributan dipicu karena warga masih belum setuju rencana penggusuran dan pengembangan kawasan mereka yang merupakan kampung adat Masyarakat Melayu. Sebanyak 16 kampung adat di Pulau Rempang dan Pulau Galang, Kepulauan Riau berikut ribuan warganya terancam tergusur oleh rencana pembangunan proyek kawasan wisata, Rempang Eco-City. Petugas keamanan gabungan merespon keributan ini dengan menembakkan gas air mata ke arah warga. Belasan siswa yang sekolahnya dekat dengan lokasi kejadian dikabarkan turut menjadi korban gas air mata dan harus dilarikan ke Rumah Sakit untuk mendapatkan perawatan. MER-C menyatakan keprihatinan dan menyayangkan tindakan aparat yang menggunakan pola pengamanan yang menimbulkan masalah kemanusiaan. Hal ini seperti yang pernah terjadi di Kanjuruhan, Malang. Kala itu, MER-C turut mengeluarkan pernyataan kemanusiannya. Petugas keamanan tidak mengambil pelajaran dari peristiwa Kanjuruhan dan kembali menerapkan pola pengamanan serupa di Rempang, Batam. Untuk itu, sebagai sebuah lembaga sosial kemanusiaan dan kegawatdaruratan medis, MER-C menghimbau: – Pola pengamanan baik pada pertandingan, alasan kepentingan pembangunan atau apapun agar memperhatikan masalah kemanusiaan dan meminimalisir timbulnya korban baik di pihak petugas dan masyarakat; – Protokol pengamanan agar memperhatikan potensi terjadinya masalah-masalah kemanusiaan. World Health Organization (WHO) pun sudah mempunyai prosedur standar dalam Mass Casualty Management dengan memperhatikan martabat manusia dan kemanusiaan yang menghargai nyawa manusia. Jakarta, 8 September 2023
Puluhan Anak-anak Fak Fak Papua Barat Antusias Ikuti Khitanan Massal MER-C dan AMCF

Sekitar 55 anak di Fak Fak nampak antusias mengikuti khitanan massal yang digelar MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) bekerjasama dengan AMCF (Asian Muslim Charity Foundation). Kegiatan diadakan di kampung Werpigan, Distrik Fak Fak Barat, Kabupaten Fak Fak, Papua Barat, Jum’at/27 Januari 2023. Peserta khitan berasal dari empat Kampung di Distrik Fak Fak Barat, yaitu Kampung Werpigan, Kampung Purwasak, Kampung Kit, dan Kampung Werboeam. Selain anak-anak, terdapat juga satu orang dewasa yang baru saja mengucapkan dua kalimat syahadat turut dikhitan. Rangkaian kegiatan dilaksanakan selama dua hari sejak hari Kamis/26 Januari 2023 yang diawali dengan doa bersama di masjid setempat, yaitu Masjid Nurul Islam. Arak-arakan warga yang meriah terlihat ketika mengantarkan anak-anak yang akan dikhitan massal dari kediamannya menuju masjid. Acara kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Berzanji dan doa. Kegiatan ini turut dihadiri oleh Perwakilan dari Bupati Fak Fak, Kepala Distrik dan aparat kampung Werpigan. Koordinator MER-C untuk Wilayah Papua, dr. Zackya Yahya Setiawan, SpOk menjabarkan alasan wilayah ini dipilih sebagai lokasi kegiatan salah satunya karena akses kesehatan yang masih kurang. “Kebetulan daerah yang kita kunjungi kemarin adalah salah satu wilayah binaan dakwah AMCF, karena di sana memang pembangunan masih sangat kurang terutama untuk ekonomi, pendidikan dan juga akses Kesehatan yang jauh dari kota. Hal ini membuat MER-C memandang perlu untuk ikut ke sana melakukan kegiatan medis, terutama kegiatan sunatan,” terang Zackya. Kegiatan khitanan massal dipimpin oleh dr. Hajri Yansyah selaku Penanggung Jawab di Klinik Amanah MER-C Sorong, dibantu sejumlah perawat dan asisten. Selain itu, sebagai bentuk andil tenaga kesehatan setempat, satu orang dokter Nusantara Sehat dan empat orang perawat Puskesmas, serta dua orang dukun local terlatih yang sebelumnya sudah diberi pengarahan dari dr. Hajri juga turut diturunkan untuk membantu lancarnya kegiatan. Meski di tengah pelaksanaan turun hujan yang cukup deras, kegiatan tetap berlangsung dengan khidmat dan lancar. Kegiatan pelayanan Kesehatan MER-C di Papua Barat telah berlangsung sejak tahun 2008. Seiring wilayah Papua yang masih sangat membutuhkan perhatian di berbagai bidang, untuk itu MER-C masih terus menjalankan kegiatannya melalui program mobile clinic ke kampung-kampung binaan, posyandu, posbindu dan edukasi Kesehatan. Dukungan dan Donasi bagi Program “Sehat untuk Papua” dapat disalurkan melalui: BSI (Bank Syariah Indonesia), 8111.929.620 BCA, 686.066.6608 An. Medical Emergency Rescue Committee #sehatuntukpapua#behealthyforpapua#welovepapua#mercpedulipapua#mercpedulianakpapua#mercindonesia Info lebih lanjut : Call Center : 0811990176 FB : MER-C Indonesia IG dan Twitter : @mercindonesia
BWA dan MER-C Tanda Tangani Perjanjian Kerjasama Program Pelayanan Kesehatan Kapal Dakwah Dokter Care dr. Joserizal Jurnalis

Jum’at/20 Januari 2023, Badan Wakaf Al Qur’an (BWA) dan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mengadakan penandatanganan perjanjian kerjasama program pelayanan kesehatan Kapal Dakwah dokterCARE (KDDC) dr. Joserizal Jurnalis. Penandatanganan dilakukan oleh Chief Executive Officer Badan Wakaf Al Qur’an, Heru Binawan dan Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad bertempat di Hotel Sofyan In Tebet Jakarta Selatan. Acara ini turut disaksikan oleh jajaran Pengurus dari kedua lembaga, perwakilan pihak keluarga dr. Joserizal Jurnalis dan sejumlah tamu undangan.Kapal Dakwah dokterCARE (KDDC) adalah program wakaf khusus yang diinisiasi oleh BWA. Selain untuk berdakwah. KDDC yang merupakan kapal ke-4 BWA ini akan digunakan untuk pelayanan Kesehatan bagi masyarakat di pulau-pulau terpencil nusantara. Program ini diharapkan dapat menjadi salah satu solusi terhadap masih minimnya pelayanan kesehatan bagi saudara-saudara sebangsa yang berada di pelosok-pelosok tanah air tercinta. BWA menggandeng MER-C, sebuah lembaga sosial medis yang sudah berkiprah di bidang kemanusiaan selama lebih 23 tahun untuk menjadi partner dalam program ini. Bahkan nama Kapal Dakwah dokterCARE diberi nama salah satu tokoh pendiri MER-C yang juga sosok pejuang medis dan kemanusiaan “dr. Joserizal Jurnalis”, yang pada hari ini tepat 3 tahun kepergian Almarhum menghadap Sang Maha Pencipta. Jasadnya boleh tiada, namun semangat dan perjuangannya semoga dapat terus dilanjutkan oleh masyarakat. Saat ini kapal dakwah dokterCARE dr. Joserizal Jurnalis masih dalam proses renovasi yang telah mencapai 85%. Kapal yang dilengkapi dengan ruang tindakan dan sejumlah alat medis memungkinkan operasi bedah minor dan persalinan. Target wilayah program kerjasama adalah pulau-pulau terpencil di wilayah Papua Barat Daya dan sekitarnya. Dengan KDDC dr. Joserizal Jurnalis, Tim MER-C dan BWA akan menyusuri kampung-kampung di wilayah ini yang hanya dapat diakses melalui laut untuk memberikan bantuan pengobatan bagi mereka yang membutuhkan. Pasien yang tidak dapat ditangani, akan dirujuk ke KDDC dr. Joserizal Jurnalis untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut. Wakaf dari masyarakat masih sangat diperlukan untuk dapat merampungkan renovasi kapal serta membiayai operasional kapal sehingga dapat memulai perjalanan dakwah dan kemanusiaannya. Harapan kami program dapat dimulai pada pertengahan tahun 2023, tepatnya 1 Juli 2023. Jakarta, 20 Januari 2023BWA dan MER-C
Kecerdasan Sosial Diperlukan untuk Pengelolaan Bencana Pandemi Covid-19

Banyak permasalahan sosial timbul akibat kegagalan dalam melakukan pendekatan kepada masyarakat, sehingga antara masyarakat, pemerintah dan nakes tidak bisa berjalan sinergis bahkan sering bertolak belakang. Sikap dan pandangan mereka tidak sama, ada yang sangat ketakutan, ada yang biasa-biasa saja dan malah ada yang “menantang” Covid-19 itu sendiri. Polarisasi sikap-sikap ini adalah hasil pengelolaan yang sudah keliru sejak awal, sehingga antara nakes, masyarakat dan pemerintah memiliki keyakinan masing-masing. Nakes keseharian bertemu dengan pasien Covid-19 mulai dari yang ringan hingga yang berat. Banyaknya nakes yang wafat cukup menimbulkan psikotrauma bagi nakes. Untuk ini sikap nakes pun terbelah tergantung pada level dampak psikotrauma yang ditimbulkan. Nakes yang sudah lelah menghadapi pasien Covid-19 yang tidak berhenti-berhenti mengalir ke prakteknya akan bertambah psikotraumanya ketika melihat masyarakat abai dalam menjalankan prokes dan akan cenderung merekomendasikan LOCKDOWN ketimbang solusi yang lain. Namun ada juga nakes yang berupaya meraba rasakan kesulitan yang terjadi di masyarakat itu sendiri dan memahami untuk mencari solusi. Di sisi lain masyarakat juga terbelah sikapnya. Ada yang ketakutan berlebihan akibat melihat kerabat, teman yang terkena Covid-19 yang berat lalu meninggal. Sementara ada yang menganggap Covid-19 itu biasa saja karena mereka melihat kerabat, kawan kena Covid-19 yang ringan akan sembuh sendiri, hngga malah ada yang menantang karrna menganggap Covid-19 itu bohong, sebab mereka melihat yang kena Covid-19 baik-baik saja. Apalagi mereka disuruh lokdon yang akan mengganggu ekonomi mereka, maka timbullah “perlawanan”, berkembanglah pemikiran-pemikiran “liar” ke berbagai arah mengkait-kaitkan dengan berbagai aspek seperti politik, dll. Situasi pelayanan medis diperburuk dengan sikap-sikap ketakutan dan panik yang membuat mereka dikit-dikit datang berbondong-bondong memenuhi IGD dan RS, menyebabkan overload RS dan gagal pelayanan. Sebenarnya bagi penderita Covid-19 yang ringan akan banyak bahaya dan kerugiannya bila datang ke IGD atau RS, yaitu: 1. Apabila pasien Covid-19 banyak berkumpul, akan menyebabkan “viral load” di ruangan tersebut tinggi, malah akan bisa memperburuk resiko infeksinya; 2. Nakes akan kehilangan fokus dalam mengelola pasien karena banyaknya pasien sehingga bisa timbul kelalaian; 3. Pasien-pasien yang non Covid-19 bisa tertular Covid-19; 4. Resiko nakes terinfeksi akan lebih tinggi sehingga akan membahayakan pelayanan menyebabkan gagal atau kolapsnya pelayanan. Egoisme yang timbul hanya akan berdampak buruk dan menyebabkan KARAMnya kapal pelayanan. Membiarkan situasi “head to head” antara nakes dan masyarakat ini dimana keduanya adalah termasuk “korban bencana” yang sama-sama mengalami psikotrauma, hanya akan menimbulkan konflik berkepanjangan, perang medsos berkepanjangan. Contoh teranyar adalah kisruh Covid-19 di Madura. Sejatinya secara etika para “korban bencana” ini jangan dibiarkan “head to head” yang akan menyebabkan SECONDARY DISASTER. Namun perlu dikelola dengan kecerdasan sosial yang mumpuni. Kisruh seperti di atas harusnya bisa dijembatani dengan melibatkan ulama, karena karakter orang madura yang taat kepada ulama. Harusnya ulama jangan hanya didekati dan dilibatkan ketika menjelang pilpres, tetapi juga libatkan, masukkan ke dalam satgas Covid-19. Pertanyaannya siapa yang mengelola tersebut? Harusnya pemerintah bisa memposisikan diri, organisasi profesi, organisasi masyarakat, dll. Mereka harusnya menahan ego, bersatu, bahu membahu menyusun langkah strategis dan nyata dalam menghadapi situasi. “Dilalah“nya malah diantara mereka juga sering tidak sejalan. Pemerintah dengan “tugas politik” nya kerap mengabaikan masukan-masukan dari para pakar. Di sisi lain organisasi profesi kerap mengambil sikap “All or None” tak mau kompromi terhadap situasi, memberikan anjuran ekstrim tanpa mencermati aspek lain dalam masyarakat. Misalnya; polemik sekolah tatap muka, tanpa solusi cerdas. Para organisasi profesi ini harusnya jangan berperan hanya sebagai WAKIL yang mewakili suara para nakes yang terdampak bencana, tapi harus bisa lebih menjadi JEMBATAN komunikasi baik itu ke masyarakat ataupun pemerintah. Sehingga bisa duduk bareng, mengukur resiko dan menghasilkan solusi jalan tengah yang nyata. Oleh karena itu, mari kita kedepankan “kecerdasan sosial” kita dalam mengelola pandemi ini. Salam Cerdas Kemanusiaan, Dr. Yogi Prabowo, SpOTPendiri, Relawan dan Presidium MER-C
Bagaimana Setting Isolasi Mandiri di Rumah ?

Covid-19 ramai lagi, jangan terperosok masuk lubang yang sama. Belajar dari pengalaman lalu. Psikotrauma yang ditimbulkan oleh Covid-19 banyak mengenai nakes dan masyarakat. Nakes cenderung stress apabila praktik atau RS-nya dibanjiri oleh pasien Covid-19, sehingga sering terbawa situasi panik dan irrasional. Adanya media sosial berkontribusi menyebarkan keresahan dan ketakutan terhadap Covid-19 ini sehingga masyarakat juga akan panik. Salah satu indikatornya adalah angka okupasi tempat tidur RS dan penuhnya IGD atau kegagalan tutupnya IGD dan RS akibat nakesnya banyak tertular. Tentu saja akan menyebabkan gagal pelayanan terhadap masyarakat. Hal ini disebabkan KURANGnya manajemen kontrol komunitas dalam hal DISASTER TRIAGE dan DISTRIBUSI PASIEN Covid-19. Kontrol komunitas BUKAN hanya terpaku pada 3T dan LOCKDOWN saja. Tapi juga manajemen massal korban dan upaya mitigasi. Satu yang dilupakan adalah ISOLASI MANDIRI TERPANTAU (Isomantau), yang sudah terbukti AMAN dan NYAMAN bagi pasien dan nakes. Memang ada kriteria yang harus dipenuhi untuk tempat isolasi, tetapi upaya mitigasi itu dinamis bisa dilakukan di berbagai setting tempat, yaitu: 1. Kalau rumah Anda ada 2 lantai, maka Isomantau bisa dilakukan di lantai 2; 2. Kalau rumah anda tidak 2 lantai, maka anda bisa melakukan di dalam kamar (kalau bisa ada jendela) dan Anda harus selalu memakai masker. Secara psikologi Anda akan merasa lebih nyaman, bisa dekat dengan keluarga, bisa masak mie, bisa ngopi bahkan bisa berjemur. Dan yang lebih penting adalah “viral load” atau kadar virus di ruangan tersebut akan lebih rendah ketimbang di RS dimana banyak pasien Covid-19. Untuk memantau perkembangan kesehatan Anda, maka laporkan ke RS atau faskes terdekat dengan WA atau video call. Jaga kesehatan fisik, minum vitamin, cukup istirahat, jaga kesehatan psikis. Kalau ada perburukan baru Anda ke RS atas instruksi dokter. Salam Cerdas Kemanusiaan, Dr. Yogi Prabowo, SpOTPendiri, Relawan & Presidium MER-C
MER-C sebut pondok pesantren miliki mekanisme isolasi mandiri terbaik
Jadi, ketika pimpinan pesantren melakukan kebijakan tidak ada kunjungan orang tua santri atau pihak luar, sebenarnya itulah wujud isolasi mandiri yang terbaik Bogor, Jabar (ANTARA) – Ahli kesehatan yang juga Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia, dr Sarbini Abdulmurad mengemukakan bahwa pondok pesantren (ponpes) sejatinya memiliki mekanisme isolasi mandiri terbaik. “Jadi, ketika pimpinan pesantren melakukan kebijakan tidak ada kunjungan orang tua santri atau pihak luar, sebenarnya itulah wujud isolasi mandiri yang terbaik,” katanya saat menjadi narasumber Pesantren Kilat Ramadhan 1422 Hijriah secara daring di Pesantren Al-Fatah, Kompleks MA-SMK Ma’arif NU Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ahad (25/4). Penyelenggaraan Pesantren Kilat Ramadhan 1442 Hijriah kali ini bertema “Pesantren Kilat Nasional Strategi Multibudaya Cegah COVID-19” secara daring (online) dan luring (offline) digarap secara kolaboratif antara Komunitas Wartawan Jabodetabek, Yayasan At-Tawasuth, Portal Berita Serambi Nusantara, dan Pondok Pesantren Al-Fatah dan mitra kerja sama pendukung. Mitra pendukung itu di antaranya, PT Indocement Tunggal Prakarsa, Yayasan Baitul Maal (YBM) BRI, Tatajabar Private Power Company, BUMN PT Pupuk Kaltim, Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor, dan Batamindo Investment Cakrawala dan Perusahaan Listrik Negara (PLN) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Cikarang. Ahli kesehatan yang juga Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia, dr Sarbini Abdulmurad memberikan pemaparan pada Pesantren Kilat Ramadhan 1442 Hijriah bertema “Pesantren Kilat Nasional Strategi Multibudaya Cegah COVID-19” secara daring (online) dan luring (offline) kerja sama kolaboratif Komunitas Wartawan Jabodetabek, Yayasan At-Tawasuth, Portal Berita Serambi Nusantara, dan Pondok Pesantren Al-Fatah, Ciomas-Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ahad (25/4/2021). (FOTO ANTARA//M Fikri Setiawan) Menurut dr Ben — sapaan akrab Sarbini Abdulmurad — mekanisme isolasi mandiri yang dimiliki pesantren, yang merupakan lembaga pendidikan, sebenarnya sudah cukup terbukti ampuh untuk meminimalisasi potensi penularan dan penyebaran COVID-19. “Bahwa ada pesantren yang santri dan pendidiknya terkena, memang ada, namun sebagian besar pesantren terhindar dari terpapar COVID-19,” katanya. Karena itu, ia mengapresiasi kebijakan pimpinan pondok pesantren yang mengurangi interaksi dengan pihak luar, termasuk kunjungan-kunjungan orang tua santri sekalipun, kepada anak-anaknya yang sedang “nyantri”. Kebijakan tersebut, kata dokter pertama Indonesia yang bisa masuk jalur Gaza, Palestina, saat konflik Palestina-Israel 2008-2009 itu, perlu terus dilanjutkan pesantren guna memutus mata rantai COVID-19. Selain pesantren, kata dia, pada masyarakat tradisionil seperti di Badui, Provinsi Banten, Suku Anak Dalam di Provinsi Jambi, yang juga punya mekanisme seperti di pesantren yakni meminimalisasi interaksi dengan pihak luar, juga ampuh untuk mengurangi penularan. Wali Kota Semarang, Jateng, Hendrar Prihadi, memberikan pemaparan pada Pesantren Kilat Ramadhan 1442 Hijriah bertema “Pesantren Kilat Nasional Strategi Multibudaya Cegah COVID-19” secara daring (online) dan luring (offline) kerja sama kolaboratif Komunitas Wartawan Jabodetabek, Yayasan At-Tawasuth, Portal Berita Serambi Nusantara, dan Pondok Pesantren Al-Fatah, Ciomas-Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ahad (25/4/2021). (FOTO ANTARA//HO-Said Abdullah) Karena itu, kata dia, apa yang sudah dilakukan pihak pesantren dan juga komunitas tradisional itu, perlu terus dijaga, hingga suatu saat pandemi COVID-19 dinyatakan telah selesai oleh pihak berwenang. Khusus kepada santri, yang kemungkinan pulang saat Idul Fitri (Lebaran), ia menyarankan menjaga protokol kesehatan (prokes) COVID-19, yakni isolasi mandiri di rumah guna mengurangi potensi menularkan virus corona jenis baru penyebab COVID-19 itu. “Karena, pada dasarnya kita semua adalah berstatus orang tanpa gejala (OTG) sehingga tetap berpotensi untuk tertular atau menulari,” kata Sarbini Abdulmurad. Ketua Panitia Pelaksana Sanlat Ramadhan 1422 H itu, ustadz Ahmad Fahir, M.Si menjelaskan kegiatan yang berlangsung sejak pukul 09.00 WIB hingga menjelang buka puasa itu juga menghadirkan unsur kepala daerah, yakni Bupati Bogor Hj Ade Yasin, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, dan budayawan Sunda. Pewarta: M Fikri SetiawanEditor: Andi Jauhary Sumber : https://www.antaranews.com/berita/2120674/mer-c-sebut-pondok-pesantren-miliki-mekanisme-isolasi-mandiri-terbaik