MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Welcome to Arar

Sabtu/20 Maret 2021, Tim MER-C kembali melakukan mobile clinic yang merupakan program wajib Klinik MER-C di Sorong. Kali ini sasaran mobile adalah Kampung Arar yang terletak di Pulau Arar, Distrik Mayamuk, Sorong, Papua Barat.                             Tim mobile clinic terdiri dari 1 dokter dan 1 perawat, sementara tim lainnya tetap bertugas melakukan pelayanan medis di Klinik Utama MER-C yang terletak di Distrik Aimas, Sorong. Perjalanan ke kampung Arar ditempuh dengan dua moda transportasi. Dari Klinik, tim menggunakan kendaraan operasional yang ada, yaitu motor yang selama ini setia menemani perjalanan tim menjelajah kampung-kampung di Papua Barat. Setelah naik motor selama lebih kurang 20 – 30 menit, perjalanan dilanjutkan dengan perahu kecil menuju Pulau Arar. Usai menempuh perjalanan laut sekitar 20 menit juga, tibalah Tim di Pulau Arar. Gapura bertuliskan “Welcome to Arar” menyambut kedatangan Tim. Warga Arar yang mengetahui kedatangan MER-C pun berdatangan ke tempat pengobatan untuk berobat.                        Selain memberikan pelayanan medis, Tim MER-C juga senantiasa memberikan edukasi kesehatan kepada warga agar lebih peduli pada kesehatan terlebih di masa pandemi seperti sekarang ini. Pemandangan alam yang dilalui selama perjalanan membuat rasa lelah Tim seakan sirna. Setiap perjalanan mobile ke pelosok-pelosok Papua semakin menambah kecintaan kami pada negeri ini, menambah kecintaan kami pada Papua. SEHAT UNTUK PAPUAWE LOVE PAPUA Ayo Bantu Program Kesehatan untuk Papua & Papua Barat. Donasi dapat melalui : BCA, 686.066.6608BNI Syariah, 081.119.2962An. Medical Emergency Rescue Committee Atau melalui :https://kitabisa.com/campaign/sehatuntukpapua Video perjalanan bisa dilihat di :https://youtu.be/ZMNrTh4xQ1c #sehatuntukpapua#behealthyforpapua#welovepapua#mercpedulipapua#mercpedulianakpapua#mercindonesia Info lebih lanjut :Call Center : 0811990176FB : MER-C IndonesiaIG dan Twitter : @mercindonesiaYoutube : MER-C Indonesia

Rekomendasi Manajemen untuk Daerah yang Baru Mengalami Outbreak Kasus Covid-19

Seiring arus mudik, terjadi peningkatan jumlah kasus nasional, sementara di DKI Jakarta kurva kasus melandai. Mau tidak mau harus diakui walaupun PSBB di DKI Jakarta tidak sempurna, namun berkontribusi dalam penurunan kasus di DKI. Hal lain yang perlu dicermati dan difokuskan adalah angka mortalitas atau angka kematian. Kita lihat pada kurva nasional angka kematian mengalami penurunan pada bulan April dan awal Mei, tetapi naik lagi pada pertengahan Mei seiring arus mudik.     Faktor yang disinyalir berkontribusi dalam menaikkan angka mortalitas adalah “Shock Phenomena” tenaga kesehatan (nakes) dalam menangani kasus Covid-19. “Fearness”, kebingungan terjadi menyebabkan “Secondary Neglected Care” pasien-pasien terduga Covid-19. Namun seiring waktu berjalan, angka kematian menurun, faktor fearness dan kebingungan nakes berkurang, availabilitas alat cek PCR semakin baik dan kemampuan besar. Nah belajar dari pengalaman DKI Jakarta, maka manajemen yang bisa diusulkan untuk daerah sbb;   Gunakan keuntungan kondisi geografis daerah Anda:   1. Untuk daerah kota besar dan padat  – PSBB 2 minggu – Pakai masker – Budaya cuci tangan – Physical distancing – Screening Rapid Test, diikuti dengan PCR – Karantina, isolasi untuk yang positif – Siagakan sistem pelayanan dan rujukan Faskes   2. Untuk daerah kepulauan, penduduk tidak padat – Mass screening dgn rapid test dan PCR – Karantina/self isolation yang sakit saja – Screening ketat di bandara dan Pelabuhan – Pakai masker – Budaya cuci tangan – Siagakan sistem pelayanan dan rujukan Faskes   Kumpulkan nakes, briefing, motivasi dan beri perlindungan (APD) agar all out dalam menangani pasien yang sakit sehingga memberikan hasil optimal.   Peran dari pada para Ustadz dan pemuka agama dalam memberikan dukungan dalil dan moril kepada nakes dan penderita dioptimalkan karena unsur psikis & sosial pada nakes dan penderita begitu nyata dan bermakna.   Peran dari aparat hukum juga dimaksimalkan dalam mensosialisasikan aspek hukum dalam pengaturan manajemen pandemi, agar memberi perlindungan kepada nakes untuk bertindak.    Peran Kepala Daerah sebagai komandan sangat vital dalam keberhasilan manajemen Pandemi Covid-19.    Ingat untuk dokter fokus pada menurunkan angka mortalitas. Gunakan seluruh kemampuanmu. Jangan terlena. Untuk pencegahan kasih porsi ke epidemiolog.    Salam,   Dr. Yogi Prabowo, SpOT Pendiri, Presidium dan Relawan Medis MER-C

Exit Way Pandemi Covid-19 Bidang Kesehatan

Dua bulan lebih Indonesia dilanda Covid-19 dan hampir sebulan PSBB diberlakukan. Pemda DKI juga memberikan sinyal PSBB akan dikendurkan, ditambah dengan kalimat kontroversi pak Presiden akan “berdamai” dengan Covid-19 atau hidup berdampingan. Pro dan kontra timbul di masyarakat. Ada kelompok masyarakat yang sudah tidak tahan berdiam diri di dalam rumah, lapar, tidak ada penghasilan, bosan dan lain-lain, atau bahkan karena sakit , mulai mengalahkan “fearness” terhadap Covid-19. Namun ada juga kelompok masyarakat yang menyayangkan masyarakat yang sudah keluar rumah. Apalagi melihat angka-angka kurva pertambahan jumlah positif Covid-19 yang disajikan media. Kelompok ini misalnya kelompok tenaga kesehatan yang memang garda terdepan dalam menghadapi Covid-19 dan banyak menjadi korban. Situasi mengkhawatirkan dilihat dari keberhasilan lockdown yang bervariasi di negara-negara di dunia, ditambah dengan adanya issue “second hit”. Ketidakjelasan kapan bebas dari Covid-19 ini membuat lockdown harus diperpanjang hingga waktu yang tidak jelas dan semakin mustahil. Lalu apa solusi jalan keluarnya atau EXIT WAY? Terutama dibidang kesehatan yang merupakan MASALAH HULU dari Pandemi Covid-19 ini. Artinya masalah kesehatan ini dapat menyebabkan timbulnya masalah-masalah di bidang lain seperti pendidikan, ekonomi, sosial dsb. Mencoba berpikir jalan tengah, mengaspirasi kedua kelompok dan menganalisa situasi. Untuk kondisi indonesia, khususnya DKI Jakarta. Data objektifnya adalah : 1. Kurva pertambahan kasus positif “cenderung landai”  di DKI namun masih “cenderung memuncak” di Indonesia karena kasus-kasus di daerah baru mulai bermunculan. 2. Angka kematian pasien terduga Covid-19 atau PDP “cenderung menurun” baik di DKI ataupun di Indonesia. 3. Kesadaran masyarakat untuk menggunakan masker dan “physical distancing” cenderung meningkat di DKI dan beberapa daerah namun masih juga ada yang minim. 4. Meningkatnya “virtualisasi” berbagai bidang, sehingga masyarakat mulai terbiasa. 5. Tingkat stress masyarakat meningkat akibat kekurangan bahan makanan, keuangan, dan sakit. Sementara ada data-data lain yang belum atau tidak terungkap seperti data kasus yang belum diperiksa swab akibat keterbatasan alat, data angka kesakitan atau kematian penduduk di rumah akibat penyakit yang bukan Covid-19 akibat PSBB. Perkembangan dunia dalam mencari pengobatan Covid-19 ini mulai ada pencerahan, dengan diujikan dan direkomendasikan beberapa metode pengobatan seperti Resemdivir, Plasma Convalesence, dan Vaksin. Melihat hal tersebut di atas penulis mencoba membuat SKENARIO EXIT WAY di bidang kesehatan.   UNTUK RUMAH SAKIT/FASKES Untuk mengembalikan percaya diri para Nakes dan meningkatkan safety dalam pelayanan : 1. Tetap menggunakan masker N95 dan face shield, sarung tangan dalam praktek sehari-hari , mengingat sangat tidak nyamannya baju hazmat, maka dapat digantikan baju dinas atau baju jaga yg lebih nyaman yang dicuci di rumah sakit; 2. Tetap membuka ruang rawat infeksi dengan tekanan negatif untuk RS yang mampu, atau bangsal perawatan khusus infeksi saja. Begitu juga untuk IGD dipisahkan perawatan infeksi dengan non infeksi; 3. RS lebih rutin melakukan tindakan dekontaminasi ruang pelayanan; 4. Wajibkan pasien-pasien dan pengantarnya menggunakan masker yang reuseable seperti masker kain yang bisa dicuci; 5. Tingkatkan budaya “Hand Hygiene” baik tenaga RS atau pengunjung; 6. Pastikan tata udara RS memadai.   Untuk menekan angka mortalitas pasien : 1. Perbanyak ICU dan peralatan penunjangnya; 2. Buat tim penanganan multidisiplin ilmu untuk Covid-19 (Covid Board); 3. Pastikan ketersediaan obat-obat Covid-19 seperti  remdesivir, chloroquin, dll; 4. Perkuat pelayanan IGD dengan tim multidisiplin; 5. Perkuat layanan ambulance dan pra hospital; 6. Pastikan alur diagnostik yang cepat, sehingga bisa cepat terdiagnosis; 7. Kelola faktor psikologis pasien dan keluarga yang terisolasi. Untuk mengurangi stress yang bisa berdampak pada kondisi kesehatan. Misalnya dengan membesuk secara virtual dan adanya pusat informasi layanan Covid-19 di rumah sakit, melengkapi fasilitas RS dengan radio atau televisi bagi pasien-pasien yang tidak pakai ventilator;  8. Untuk pasien Non Covid-19, bisa mulai dibuka pelayanan baik poliklinik, IGD, ataupun kamar operasi.   UNTUK PENELITIAN : 1. Teliti strain virus dan upaya memproduksi vaksin; 2. Penelitian obat seperti plasma convalescent; 3. Ujikan pelayanan Kesehatan Virtual (Telekonsultasi, Telenursing, Tele First Aid);   UNTUK KESEHATAN MASYARAKAT 1. Wajibkan penggunaan masker bila keluar rumah; 2. Sediakan cuci tangan atau hand sanitizer pada fasilitas-fasilitas umum seperti restoran, sekolah, tempat ibadah, pariwisata dll; 3. Tetap melakukan screening kesehatan di perkantoran, sekolah, aktifkan dokter sekolah, klinik perusahaan, klinik-klinik rumah peribadatan, dll; 4. Terus melakukan survey epidemiologi dilengkapi pemeriksaan swab PCR; 5. Penyuluhan kesehatan dan pola hidup sehat melalui media televisi, radio, dsb;   Catatan : Untuk daerah dimana kasus Covid-19 baru mulai bermunculan perlu diterapkan PSBB, physical distancing dan penggunaan masker. Salam Dr. Yogi Prabowo, SpOTPendiri, Presidium dan Relawan Medis MER-C

Meski adanya wabah Covid-19, MER-C Tetap Aktifkan Program Pelayanan Kesehatan Masyarakat di Sorong, Papua Barat.

/* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} Yang berbeda, kegiatan mobile clinic yang biasanya rutin dilakukan secara terjadwal ke sekitar lebih dari 20 desa/kampung binaan, harus dihentikan sementara mengikuti aturan Pemerintah setempat. Tim dokter dan perawat MER-C di Sorong saat ini hanya memberikan pelayanan kesehatan kepada  masyarakat yang datang berobat ke klinik. Tim juga dilengkapi dengan alat pelindung saat memberikan pelayanan untuk mengantisipasi wabah Covid-19.     Selain pengobatan, edukasi untuk menggunakan masker dan melakukan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) seperti mencuci tangan dsb juga diberikan kepada masyarakat.   Terus dukung Papua Sehat, bantuan dan donasi bagi program ini dapat disalurkan melalui :   BNI Syariah, 081.119.2962 BCA, 686.066.6608 An. Medical Emergency Rescue Committee   Info lebih lanjut : www.mer-c.org Call Center : 0811990176   #MERCIndonesia #LawanCorona #LawanCovid19

Bertemu Wakil Dubes Kuwait, Presidium MER-C Sampaikan Program Pelayanan Kesehatan di Papua Barat

Kamis (7/11/2019), Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murad bertemu dengan Wakil Duta Besar Kuwait, Abdul Al Fadhli di Kedutaan Besar Kuwait yang terletak di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. Tujuan kunjungan adalah untuk menjalin silaturahmi dan menjajaki kemungkinan kerjasama dalam bidang kemanusiaan di wilayah rawan konflik dan bencana alam serta wilayah lain yang masih membutuhkan perhatian khususnya dalam bidang medis. Salah satu fokus pembicaraan dalam pertemuan ini adalah mengenai program pelayanan kesehatan di Papua Barat. Sarbini menyampaikan bahwa ini pertama kalinya MER-C berkesempatan untuk datang dan bertemu dengan perwakilan negara Kuwait di Jakarta. “Selama ini kami menemui di lapangan, bantuan-bantuan Kuwait di wilayah bencana alam di Indonesia. Kami senang saat ini bisa bertemu dan diterima dengan baik oleh Wakil Duta Besar Kuwait, Mr. Abdul Al Fadhli,” ujar Sarbini. Papua menjadi bahasan utama dalam pertemuan ini karena MER-C berharap program medis kemanusiaan di Papua, khususnya Papua Barat dapat terus berlangsung. “MER-C memulai kegiatan pelayanan kesehatan berupa klinik sosial di Papua pada Februari 2006. Kami sudah menjalankan program ini selama lebih dari 13 tahun. Kami terus berupaya agar program pelayanan kesehatan di wilayah ini dapat berkelanjutan dan semakin luas jangkauannya karena memang masih banyak wilayah yang belum tersentuh. Ini semua kami lakukan demi turut mewujudkan masyarakat “Papua Sehat”,” tambahnya. Untuk itu menurutnya, kerjasama dengan berbagai pihak terus dijalin untuk mencari lembaga atau instansi yang mempunyai visi yang sama untuk mewujudkan hal ini, termasuk dengan Kedutaan Besar Kuwait di Jakarta. “Wakil Duta Besar Kuwait memberikan respon positif. Ini pertemuan awal yang baik dan kami akan terus menjalin komunikasi-komunikasi ke depan dengan Kedutaan Besar Kuwait,” ujar Sarbini.

MER-C Beri Pengobatan Dokter Spesialis di Rutan Pondok Bambu

Lembaga Kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) bekerjasama dengan Pengurus Besar Wanita Al Irsyad menggelar bakti sosial pengobatan di Rumah Tahanan Wanita Kelas 2 A Pondok Bambu, Jakarta Timur, Rabu/28 Agustus 2019. MER-C menurunkan sebanyak 24 relawan medis dari berbagai keahlian, yaitu Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Dokter Spesialis Kandungan, Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Dokter Spesialis Orthopedi dan Traumatology, Dokter Spesialis Radiologi, Dokter Spesialis Bedah, Dokter Spesialis Mata, Dokter THT, Dokter Umum, Dokter Gigi, Bidan dan Perawat.   Kegiatan bertema “Jantung dan Kesehatan Perempuan” diselenggarakan dalam rangka memperingati hari jadi MER-C ke-20 pada 14 Agustus 2019 lalu. Tercatat sekitar 200 warga binaan yang sakit di Rutan Pondok Bambu mendapatkan bantuan pengobatan. Pada kesempatan ini, MER-C juga menyerahkan bantuan satu buah tempat tidur pasien untuk melengkapi Klinik Rutan. “Di hari jadi MER-C ke-20, kami ingin berbagi dengan sesama dan kami memilih Rutan Pondok Bambu sebagai wilayah sasaran kegiatan pengobatan kali ini,” ujar Rima Manzanaris, Manajer Operasional MER-C. “Kami pun menggandeng Pengurus Besar Wanita Al Irsyad yang sudah rutin mengadakan berbagai kegiatan di sini untuk bersama-sama menyukseskan kegiatan pengobatan yang ternyata baru kali ini diadakan di Rutan Pondok Bambu,” tambahnya. Warga binaan yang sakit dapat berkonsultasi langsung dengan relawan dokter umum MER-C dan selanjutnya jika diperlukan mereka akan dirujuk ke Dokter Spesialis untuk mendapat pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut. Kepala Rutan Pondok Bambu, Eko Suprapti, dalam sambutannya mengucapkan apresiasi dan terima kasih atas perhatian dari MER-C dan Al Irsyad yang telah memilih Rutan Pondok Bambu sebagai sasaran kegiatan pengobatan. Menurutnya, kegiatan seperti ini baru kali ini diadakan. Kepala Rutan juga memaparkan bahwa jumlah warga binaan di Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur berjumlah 682 orang, ada napi yang sedang hamil, dan ada 4 anak kecil. “Mudah-mudahan kegiatan seperti ini dapat berkelanjutan karena kesehatan adalah hal yang sangat penting,” harapnya. Sementara mewakili Pengurus Besar Wanita Al Irsyad, dr. Jamilah berharap kegiatan kerjasama MER-C dan Al Irsyad ini dapat membantu pelayanan warga binaan di Rutan Pondok Bambu dan menyelesaikan beberapa masalah kesehatan yang ada. Info :Website : www.mer-c.orgCall Center : 0811990176

MCC bersama Sahabat Yatim Indonesia Mengadakan Baksos di Wilayah Curug, Tangerang

Dalam rangka Sambut Sehat Ramadhan dengan layanan pengobatan gratis untuk negeri, Yayasan Sahabat Yatim Indonesia bekerjasama dengan Divisi MER-C Care Center (MCC) mengadakan acara Baksos di wilayah Curug Tangerang pada hari Minggu (28/4/2019).   Masyarakat yang berobat adalah masyarakat di sekitar kecamatan Curug. Ada 160 pasien yang di tangani. Kerjasama ini merupakan kerjasama pertama antara Sahabat Yatim Indonesia dengan MER-C melalui divisi MCC nya. MER-C sebagai lembaga medis yang berperan memberikan pelayanan kesehatan di daerah-daerah bencana, miskin dan konflik, bermaksud mengajak berbagai lapisan masyarakat untuk turut peduli terhadap problematika tersebut. Program pelayanan kesehatan masyarakat adalah mengadakan khitanan massal, pengobatan massal, klinik sosial, penyuluhan kesehatan, dan lain-lain bagi kaum dhuafa dan fakir miskin. Melalui divisi MER-C Care Center Hal tersebut diwujudkan salah satunya dalam bentuk kerjasama dengan Perusahaan/instansi/lembaga/sekolah tertentu sebagai penyandang dana untuk melakukan kegiatan yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan.  Info :Website : www.mer-c.orgCall Center : 0811990176FB : MER-C IndonesiaIG : @mercindonesia Twitter : @mercindonesia #to_provide_professional_and_frendly_health_care

MER-C Jajaki Kerjasama dengan BNI Syariah untuk Program Pelayanan Kesehatan di Papua

Papua merupakan salah satu wilayah yang masih sangat membutuhkan perhatian kita bersama di berbagai bidang, khususnya di bidang pelayanan kesehatan. Untuk itu, sejak Februari 2006 silam, MER-C mulai membuka program klinik sosial di Papua dan Papua Barat. Kiprah MER-C di wilayah ini telah berlangsung selama 13 tahun dan MER-C bertekad untuk tetap menjadikan Papua sebagai salah satu wilayah misi medis kemanusiaan jangka panjangnya. Kerjasama dengan berbagai pihak terus dijalin, mengajak pihak-pihak yang peduli untuk memberikan dukungan agar program dapat terus berlanjut. Senin/18 Maret 2019, MER-C mengadakan pertemuan dengan BNI Syariah untuk menjajaki kerjasama Program Pelayanan Kesehatan khususnya di Papua Barat. Dr. Zackya Yahya Setiawan, SpOk selaku Koordinator MER-C di Papua memaparkan gambaran kegiatan program kepada BNI Syariah yang diantaranya diwakili oleh Bapak Ilham Syahputra dari Yayasan Hasanah Titik, yayasan pengelola ZIS BNI Syariah. “Saat ini kami fokus pada pelayanan kesehatan di Papua Barat, yaitu kabupaten Sorong dan Raja Ampat. Pelayanan kesehatan yang diberikan MER-C berbasis klinik dan mobile. Program MER-C juga bersifat berkelanjutan dan pembinaan bukan baksos yang ‘hit and run’,” jelas Zackya. Dokter spesialis okupasi lulusan FKUI ini juga manyampaikan bahwa misi MER-C adalah rahmatan lil’aalamiin. Semua masyarakat mendapat pelayanan yang sama baiknya tanpa melihat latar belakang, agama dan lainnya. “Tim MER-C di lapangan sudah mendata kampung-kampung dan warga yang belum terjangkau pelayanan kesehatan. Kampung yang sudah terjangkau pelayanan kesehatan dari Puskesmas akan kami lepas, sementara kampung yang belum, masih akan terus menjadi wilayah binaan kami,” tambahnya. Zackya berharap adanya dukungan dan kerjasama dari pihak-pihak yang turut peduli dengan saudara-saudara sebangsa di Papua Barat, sehingga dapat melanjutkan dan memperluas wilayah jangkauan program. Target MER-C satu tahun ke depan di Papua Barat adalah meng-cover sebanyak 23 kampung di dua kabupaten dengan jumlah jiwa mencapai lebih dari 10.200 orang. Tidak hanya perusahaan atau lembaga, masyarakat yang secara pribadi tergerak untuk mendukung program pelayanan kesehatan MER-C di Papua Barat dapat menyalurkan donasinya melalui : Rekening amanah “Satu untuk Papua”: BCA, 686.066.6608 BNI Syariah, 081.119.2962 Atas nama: Medical Emergency Rescue Committee Info :Website : www.mer-c.orgCall center : 0811990176FB : MER-C IndonesiaIG : @mercindonesia, @rsindonesia #mercindonesia#blessingforuniverse

Meriahnya Acara Sunatan Massal di RPTRA Taman Sawo

WARTA KOTA, KEBAYORAN BARU—Puluhan anak mengikuti kegiatan sunatan massal yang digelar di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Taman Sawo, Cipete Utara, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (6/5/2018). Acara tersebut adalah hasil kerja sama antara siswa SMA Lab School Kebayoran Baru dan PKK setempat. Mohammad Yohan, Lurah Cipete Utara, mengatakan, setidaknya ada 20 anak yang mendapatkan layanan sunat gratis ini. “Selain menggelar sunat massal, SMA Lab School bersama PKK dan MER-C juga menggelar bazar dan pengobatan gratis. Kami selaku tuan rumah menyampaikan terimakasih,” kata Yohan kepada Warta Kota. Sekitar 40 siswa dan siswi sekolah itu terlibat langsung dalam kegiatan bakti sosial itu. Yohan mengatakan, rangkaian acara itu berlangsung meriah dengan masyarakat yang hadir mencapai 500 orang. “Harapan saya semoga tahun depan adik-adik Labschool lanjut berkegiatan di RPTRA Taman Sawo dan idenya berkembang lagi,” katanya. Sumber : http://wartakota.tribunnews.com/2018/05/07/meriahnya-acara-sunatan-massal-di-rptra-taman-sawo-cipete

MER-C LAKUKAN KHITANAN MASSAL DAN PENGOBATAN UMUM DI SALAWATI TENGAH

Sorong – Papua Barat. Medical Emergency Rescue Committee atau MER-C menerjunkan 7 dokter, 3 perawat dan 1 orang logistik dalam khitanan massal dan pengobatan umum bagi warga di Distrik Salawati Tengah sejak Rabu hingga Sabtu minggu ini. Kegiatan tersebut merupakan agenda bersama yang dirancang oleh Asia Moslem Charity Foundation (AMCF) dan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Muhammadiyah Sorong bertajuk “Kapal Kemanusiaan”. “Hari Rabu kemarin MER-C mengadakan khitanan bagi total 95 anak. Sedangkan Kamis dan Jumat peserta pengobatan setidaknya ada 120-an pasien. Ini terpaksa distop dulu karena hujan dan dilanjut setelah warga selesai sholat jumat,” demikian penjelasan Islamiyah Samaun yang merupakan staf logistik dalam kegiatan ini di Kalobo. dr. Zackya Yahya, Sp.Ok selaku perwakilan MER-C untuk Papua merasa gembira dengan adanya program Kapal Kemanusiaan ini. “Sudah lebih dari 11 tahun kami hadir di Papua melalui klinik sosial. Relawan medis kami menyusuri pelosok SP untuk memberikan layanan kesehatan berkualitas dan terjangkau. Sekarang dengan adanya kapal ini kami berharap jangkauan kami bisa lebih luas ke pulau-pulau terpencil di Papua Barat.” Demikian jelasnya perihal program Kapal Kemanusiaan. Bagi MER-C, kerja sama dengan AMCF sudah dimulai lama semenjak bencana gempa dan tsunami Aceh pada 2004. Khusus untuk kali ini, AMCF menyediakan kapal dan awaknya, sedangkan pembiayaan kegiatan tim medis didapat dari Badan Amil Zakag Nasional (BAZNAS). Sedikitnya 36 titik akan mendapat layanan kesehatan dari tim medis MER-C dalam kurun 12 bulan ke depan. “Teknisnya kami akan kirim tim pendahulu untuk melakukan survei dan pemetaan masalah kesehatan di lokasi yang akan dimasuki. Lalu akan disusun prioritas kegiatan untuk mengatasi masalah tersebut. Tim medis sendiri akan bekerja selama maksimal 2 minggu di 3 titik tiap bulannya.” jelas dr. Zackya. “Bukan tidak mungkin ke depan kami akan melibatkan dokter spesialis jika memang dibutuhkan. Pasien-pasien yang membutuhkan tindakan akan didata dan dikumpulkan, lalu dokter spesialis yang sesuai akan bekerja di satu rumah sakit yang sudah memiliki kesepakatan. Atau jika mau, dokter spesialisnya yang ikut keliling naik kapal bersama kami.” Keterbatasan akses kesehatan dan minimnya tenaga serta fasilitas kesehatan masih merupakan masalah tersendiri di kawasan timur Indonesia. Hingga sekarang beberapa program sudah dilakukan untuk menjangkau warga di daerah terpencil, termasuk pulau-pulau terluar untuk mengurangi permasalahan ini. Diharapkan dengan adanya Kapal Kemanusiaan ini, bertambah lagi upaya untuk memberikan hak kesehatan bagi setiap warga negara.

Silahkan bertanya?