MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Pelatihan Jurnalistik Bersama MER-C

Jakarta – Di era yang haus dengan segala macam jenis informasi ini, kemampuan mengolah berita menjadi sangat penting. Bahkan saat ini semua orang bisa menulis apapun, biasa dikenal dengan istilah citizen journalism. Didukung dengan begitu banyaknya pilihan media sosial yang dapat diakses dengan mudah, maka bentuk penyampaian berita menjadi sangat luas dan bahkan bisa menjadi kebablasan. Dilatarbelakangi dengan kondisi tersebut, MER-C pada hari minggu tanggal 2 Februari 2014 mengadakan Pelatihan Jurnalistik yang ditujukan bagi relawan MER-C.   Bertempat di kantor MER-C pusat, jalan Kramat Lontar J 157, Fitra Ratory selaku salah satu pengisi acara, berbagi pengalaman dan ilmunya berkaitan dengan latar belakangnya yang pernah menjadi  free lancer journalist di TV One. Hadir pula Silvano Hajid dari Kompas TV dan Hery Alamsyah dari MNCTV yang melengkapi khazanah pengetahuan jurnalistik pada hari itu. 15 peserta yang hadir diharapkan dapat selalu menyampaikan berita yang dapat dipertanggung jawabkan serta dapat memenuhi konsep dasar jurnalistik, yaitu 5W+1H yaitu What, Who, Where, When, Why, and How.                

MER-C Periksa Kesehatan keluarga Relawan RSI

Wonogiri – Pada tanggal 21-22 Januari 2013 dr Tonggo Meaty fransisca didampingi oleh dr Ambar dari MER-C cabang Solo melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap keluarga dari tujuh relawan Rumah Sakit Indonesia yang berada di Wonogiri. Selain melakukan pemeriksaan kesehatan, MER-C juga mengabarkan bahwa inshallah tidak lama lagi para relawan Akan kembali ke tanah air untuk bertemu dengan keluarga yang telah ditinggal lebih dari satu tahun lamanya.   Sementara itu, pada tanggal 22 Januari 2014 dr Anggraini SpPD dan Islamiyah Samaun melakukan pemeriksaan kesehatan kepada keluarga dari Tata Lukita, salah seorang relawan RSI di Ciwidey.        

Mantap MER-C Medan!

Medan – “Pagi ini untuk menyambut Relawan-relawan MER-C Medan memasang spanduk untuk alamat kantor MER-C…MER-C Medan siap menyambut pergantian tahun dengan rencana kegiatan untuk 1 tahun kedepan dengan program-program pengokohan sistem organisasi…Mohon Doa & Dukungannya dari kita semua,” dr. Rahmad Gunawan, Sekretaris Umum MER-C Cabang Medan.        

MER-C Kunjungi Keluarga Relawan RSI

Jakarta – Pada tanggal 17 Desember 2013 tim medis MER-C mengadakan pemeriksaan kesehatan terhadap keluarga relawan Rumah Sakit Indonesia di daerah Bogor dan Cileungsi. Pemeriksaan dilakukan terhadap keluarga dari Edi Siswanto, Sulis Diantoro, Muhammad Arshad Ridho, Suyitno, Edi Wahyudi, Muhammad Husain, dan Muqorobin al Fikri. Tim yang terdiri dari dr Tonggo Meaty Fransisca dan Perawat bedah Lina P Munaf Harun memeriksa tekanan darah, gula darah dan asam urat dari keluarga relawan. Selain melakukan pemeriksaan kesehatan, MER-C juga memberikan album yang berisikan foto-foto relawan yang sedang membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza.

The 2nd Annual Seminar & Workshop Medan Emergency Meeting 2013

Medan – Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) cabang Medan pada Minggu, 8 Desember 2013bertempat di Convention Hall Garuda Plaza Hotel Lt.2, mengadakan seminar dan workshop “Medan Emergency Meeting 2013”. Kegiatan ini berisi ceramah, diskusi aktif dan simulasi kasus (vignette) seputar berbagai penyebab dan penanganan penurunan kesadaran ditinjau dari berbagai disiplin ilmu dan sistem organ.   Diikuti sebanyak 510 peserta diskusi yaitu 310 orang dokter umum dan dokter spesialis dan 200 orang umum (perawat, bidan, praktisi/teknisi medis, mahasiswa kedokteran/keperawatan, masyarakat umum) kegiatan diskusi dan seminar ini merupakan salah satu upaya meningkatkan pemahaman akan penurunan kesadaranberkaitan dengan fungsi MER-C selaku lembaga yang bergerak di bidang kegawatdaruratan medis. Penurunan kesadaran merupakan salah satu bentuk kegawatdaruratan yang cukup sering dijumpai di praktik keseharian. Berbagai keadaan dapat menyebabkan munculnya keadaan penurunan kesadaran, mulai dari proses patologis intrakranial, metabolik, infeksi, malignansi, degenerasi  hingga trauma Secara sederhana, kasus penurunan kesadaran dapat diibaratkan tak ubahnya pedang bermata dua. Di satu sisi, praktisi medis harus mampu berpikir dan bertindak secepat dan setepat mungkin untuk menyelamatkan nyawa pasien yang sedang terancam, namun di sisi lain praktisi medis tersebut juga harus berpikir secara komprehensif dan sistemik untuk menentukan penyebab penurunan kesadaran, kemudian bertindak dengan tepat, meskipun dengan informasi penyakit yang terbatas. Diawali dengan pelantikan satgas MER-C Medan, diskusi, kuliah umum dan seminar kali ini mengangkat 4 topik pembahasan, yaitu “Profesi Kesehatan di Era Globalisasi, Masih Adakah Tempat Bagi Kemanusiaan”, “Neurology Aspect on Loss of  Consciousness”, “Metabolic Aspect on Loss of Consciousness”, “Metabolic Aspect on Loss of Consciousness”, dan “BasicManagement on Loss of Consciousness”. Para tokoh yang hadir dalam acara ini diantaranya adalah dr. Yogi Prabowo, Sp.OT (Perwakilan presidium MERC pusat), dr. Suhelmi, Sp.B(Ketua Umum IDI Wilayah Sumatera Utara), Prof. dr. Guslihan D Tjipta, Sp.A(K)(Penasihat MERC Medan, Pembantu Dekan I Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara), dr. Delyuzar, M.Ked(PA), Sp.PA(K)(Penasihat MERC Medan, Pembantu Dekan III Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara), dr. Rizki Adriansyah, M.Ked(Ped), Sp.A, (Ex-Ketua Umum MERC, Divisi P2KB IDI Wilayah Sumut), dan dr. M. Aron Pase, M.Ked(PD), Sp.PD(Ex-Ketua Umum MERC Medan). Acara yang dimulai sejak Pukul 07.30 WIBAlhamdulillah  terselenggara dengan lancar sampai berakhir pada pukul 17.30 WIB.        

Relawan Indonesia Di Gaza Kunjungi Rumah Duka Ismail Haniyah

Perdana Menteri Ismail Haniyah sedang membawa jenazah cucu pertamanya Amal Abdussalam Haniyah, di salah satu rumah sakit di Gaza City, Rabu (27/11). (Foto: Team Palestina) Gaza City, 24 Muharram 1435/28 November 2013 (MINA) – Para relawan Indonesia di Gaza berkunjung ke rumah duka Perdana Menteri Palestina Ismail Haniya setelah cucu satu-satunya pemimpin di Jalur Gaza itu meninggal pada Rabu (27/11) akibat krisis yang melanda negeri itu semakin memburuk. Amal Abdussalaam Haniyah yang masih berumur satu tahun meninggal karena penyakit infeksi pencernaan yang kemudian menyerang saraf otaknya. Amal merupakan putri dari putra sulung Ismail Haniyah yang bernama Abdussalam Haniyah. Cucu perempuan Haniyah satu-satunya itu dinyatakan meninggal di Rumah Sakit An-Nasr, Jalur Gaza, menyusul kekurangan peralatan dan obat-obatan akibat blokade berkelanjutan yang kini melanda daerah kecil itu. Dua puluh dua relawan yang kini tinggal di Beit Lahiya, utara Gaza, berangkat pada Kamis sore (28/11) ke rumah Ismail Haniyah di Jalur Gaza dan disambut langsung Perdana Menteri beserta keluarga dan jajaran pemerintahan yang juga tengah berkunjung. ‘Pada saat kami ke sana, para tamu dan warga yang ikut ta’ziah (melawat) ke rumah Ismail Haniyah,” kata koresponden MINA (Mi’raj News Agency), Muhamad Hussein. Hussein melaporkan, minimnya peralatan medis di Jalur Gaza akibat blokade Israel menyebabkan banyak pasien di berbagai rumah sakit terbengkalai dan tidak mampu dirawat sebagaimana mestinya. Namun, Hussein melanjutkan, Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza yang tidak lama lagi akan selesai proses pembangunannya diharapkan dapat meringankan penderitaan  masyarakat Gaza.(L/K11/P03/P02) Sumber : http://mirajnews.com/palestina/12479-relawan-indonesia-di-gaza-ta-ziah-ke-rumah-ismail-haniya.html

Kunjungan dan Pemeriksaan Keluarga Relawan RSI di Lampung

Lampung – Selasa, 19 November 2013 MER-C mengirimkan 3 orang relawannya yang terdiri dari dr. Zacky Eko Wahyudi MARS, dan dr. Hadiki Habib, perwakilan MER-C ini untuk menghadiri acara Grand launching Suffah Al Quran Abdullah bin Masud Online di desa Muhajirun, Negarabatu, Natar, Lampung. Selain menghadiri acara grand launcing, tim juga mengadakan pemeriksaan kesehatan salah satu anggota pondok pesantren Al Fattah dengan diagnosa Bening Prostat Hiperlapsia. Presidium MER-C Ir. Faried thalib ikut bergabung dengan tim MER-C mengadakan kunjungan ke keluarga dari Bukhori Muslim Sadeli dan Syuhada Busyro, yang merupakan relawan MER-C dari pondok pesantren al Fattah yang saat ini sedang bertugas  merampungkan pembangunan RSI di Gaza, Palestina. Selain mengadakan pemeriksaan para dokter juga memberikan edukasi medis di salah satu rumah relawan RSI.

Apa Kabar Keluarga Relawan MER-C di Gaza?

Lampung – Huzaifah dan Muaz, begitu nama kedua anak kecil yang sedang bercengkrama di atas tikar plastik di rumah pak Bukhori.  Ayahnya sudah hampir 1 tahun berjihad, menunaikan amanah pembangunan rumah sakit Indonesia di Gaza, Palestina. Kisah Keluarga Bapak Bukhori Muslim Sadeli Jalan darat selama 2 jam kami tempuh dari kota Bandar Lampung ke desa Bangunrejo pedalaman Lampung Tengah, di sore hari mendung tanggal 19 November 2013. Perjalanan melintasi perkebunan PTPN 7 jauh dari nyaman, karena sebagian jalan yang beraspal sudah digantikan dengan lobang-lobang, dan sebagian yang tidak beraspal menjadi kubangan lumpur besar-besar, namun amanah ini harus disampaikan, menjalin tali silaturahmi dan membawa sedikit oleh-oleh buat keluarga para mujahid, bukan karena mereka ingin dihargai, tapi karena kami merasa mereka pantas dihormati. Rombongan MER-C dari Jakarta yang terdiri atas pak  Ir. Farid Thalib, ibu yuni, Nurfitri Taher (a.k.a mbak Upik) dr. Habib, dan dr. Zecky tiba jam 4 sore di rumah sederhana itu. Disambut oleh mertua pak Bukhori yaitu bapak Slamet, Istri pak Bukhori dan 2 orang anak beliau, yang tertua berusia 3 tahun, dan paling kecil berusia 1 tahun. Hadir juga beberapa anggota keluarga yang tinggal berdekatan dengan rumah pak Bukhori.  Pak Farid membuka silaturahmi dengan menceritakan bahwa kondisi relawan konstruksi di Gaza dalam keadaan sehat walafiat, dan bagaimana rmereka bekerja keras sehingga pembangunan sebuah rumah sakit di Gaza, yang awalnya dianggap rencana gila dengan izin Allah dapat terlaksana sampai pembangunan fisik selesai. Diserahkan pula sebuah album foto untuk keluarga, yang berisi gambar-gambar aktivitas relawan di Gaza, Palestina. “Ini bapakmu Huzaifah” kata pak Slamet, sang Mertua, sembari menunjuk ke sosok pria di album foto, mata kecil Huzaifah bolak-balik dari gambar di album foto ke wajah kakeknya. “bapakmu mujahid” lanjut sang kakek dengan nada bangga. “Saya tahu bagaimana sikap Bukhori, dia memang orangnya berani dan nekat, tapi saya percaya kepadanya, dan semua keluarga mendukung perjuangannya, kami disini juga bahu-membahu merawat cucu dan anak saya, Istri Bukhori, jika kami tidak mampu menyusul perjuangannya, Insya Allah anak cucu kami yang akan melanjutkan perjuangan itu”, demikian ucapan sang mertua. Diskusi ditutup dengan hidangan khas pedesaan dengan rasa bintang lima, nasi putih hangat, tumis kangkung, ayam kampung goreng, kerupuk dan sambal colek,  meskipun awalnya tim MER-C keberatan karena ini memang tidak ingin memberatkan tuan rumah, tapi pak Slamet dengan senyum lebar menyahut, “tamu-tamu tidak saya izinkan pulang sebelum menyicipi apa yang terhidang”. (HH).

Berita Duka Untuk Relawan RSI Gaza

Berita duka datang untuk salah satu relawan Mer-C yang sedang berada di jalur Gaza Palestina, Karidi. Karidi adalah relawan MER-C yang sedang menjalankan amanah membangun RS Indonesia di jalur Gaza, Palestina.    Ayahanda Karidi berpulang ke Rahmatullah pada Minggu 10/11/13 di Wonogiri Jawa Timur. Pada usia 70 tahun, Marino, Almarhum menghembuskan nafas terakhirnya di RSUD Wonogiri Jawa Timur, dengan diagnosa dokter pembengkakan pada jantung. Karidi sudah satu tahun lebih menjadi relawan di Gaza, Palestina sejak 21/10/12 hingga saat ini, Karidi adalah anak ketiga dari tiga bersaudara, putra dari Sisum dan Almarhum Marino.   Karidi yang sedang di jalur Gaza, Palestina di beritakan oleh sang istri yang juga merupakan sekertaris Mer-c, Tina Leonard dan kakak ipar Mba Yani. Karidi sendiri tidak mempunyai firasat apapun atas kepergian ayahanda tercinta, dan baru berhubungan via telepon dengan ayah tercinta satu minggu sebelum wafat. Ayahnya memang sudah beberapa waktu terakhir sakit di sebabkan usia lanjut dan keadaannya kemudian menjadi kritis 2 minggu terakhir ini.   Keadaan Karidi saat ini Alhamdulillah sehat dan terus menjalankan tugas sebagai ketua mechanical electrical pembangunan Rs Indonesia di Gaza, Palestina. Almarhum Marino meninggalkan sang istri Sisum, tiga orang anak dan tiga cucu.

Di Tengah Krisis, Relawan RS Indonesia Di Gaza Gunakan Kayu Bakar Untuk Masak

Bayt Lahiya, 11 Muharram 1435/15 November 2013 (MINA) – Relawan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Jalur Gaza dalam beberapa hari terakhir terpaksa menggunakan kayu bakar untuk memasak di tengah krisis gas, bahan bakar, serta listrik yang melanda jalur Gaza. Salah satu relawan Abu Fikri mengatakan, dirinya beserta para relawan yang lain menggunakan kayu bakar bekas bahan bangunan RS Indonesia  yang terletak di Utara Gaza itu. “Kami menggunakan kayu palet, kayu dudukan keramik, atau kayu bekas lainnya yang didapati di sekitar RSI,” terang Abu Fikri kepada Kantor Berita Islam Internasional MINA (Mi’raj News Agency) melalui telepon, Jumat (15/11). Relawan yang berperan sebagai site manager dalam pembangunan RS Indonesia di Distrik Bayt Lahiya itu menerangkan lebih jauh, di tengah kekurangan bahan pokok di Jalur Gaza akibat penutupan terowongan dan blokade penjajah Israel, para relawan memasak tiga kali sehari dengan menggunakan bahan kayu di lantai dasar (basement) RS Indonesia yang masih dibangun. “Salah satu relawan yang setiap hari mengatur urusan masak memasak, sudah mulai mempersiapkan bahan untuk dimasak mulai dari pukul dua pagi waktu setempat agar para relawan bisa menikmati sarapan di pagi hari,” tambah Abu Fikri. Menjelaskan lebih lanjut, Abu Fikri mengatakan, relawan mulai menyiapkan makan siang mereka sejak pukul sepuluh pagi dan makan malam mulai setelah pukul dua siang karena kebutuhan energi yang besar bagi para pekerja keras ini.   Pembangunan RS Indonesia tetap berlanjut Jalur Gaza mengalami krisis bahan bangunan dan kebutuhan pokok seperti solar yang berpengaruh pada semua sektor kehidupan di satu-satunya daerah di dunia itu yang masih berada dalam penjajahan (Israel). Kekurangan bahan bakar menyebabkan ribuan sopir menjadi pengangguran, generator listrik mati karena tidak ada solar, serta alat-alat kesehatan di banyak rumah sakit berhenti bekerja. Relawan yang sudah tiga tahun di Jalur Gaza itu mengatakan, meskipun pembangunan terkendala bahan seperti semen akibat blokade, dia dan timnya terus melakukan pekerjaan sebisa mungkin sehingga rumah sakit bisa cepat rampung. “Kami tidak berpangku tangan meskipun persediaan semen sudah habis. Kawan-kawan masih melakukan pekerjaan yang tidak membutuhkan bahan itu, seperti penyelesaian tempat parkir, nge-cat, pemasangan sound system, AC, panel utama, dan lain sebagainya,” ujar Abu Fikri. Abu Fikri menegaskan, penderitaan warga Gaza yang sudah menderita sejak sebelum krisis akibat blokade penjajah Israel dan mengharapkan peran semua pihak, termasuk Indonesia, untuk ikut membantu meringankan beban yang sedang dialami warga di tengah krisis semua sektor itu. “Kami melihat obat-obatan di sini sudah hampir habis, warga Gaza harus menyeberang ke Mesir untuk berobat, masih di perbatasan saja susah keluar,” terang Abu yang menambahkan, “Saya harap pemerintah Indonesia mampu melakukan diplomasinya untuk membujuk Mesir memudahkan warga yang menyeberangi lewat Rafah.” Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) sebagai inisiator pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, dalam pembangunannya bekerjasama dengan Ma’had Al-Fatah Indonesia yang telah mengirim 33 relawannya ke Jalur Gaza. Pekerjaan pembangunan RS Indonesia yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara Palestina itu dilakukan oleh relawan Indonesia di mana seluruh pekerjanya tidak dibayar (unpaid volunteers). Pembangunan RS Indonesia dijadwalkan selesai akhir tahun 2013 ini. Rumah Sakit Indonesia itu sendiri menjadi tempat untuk pemulihan trauma dan rehabilitasi bagi warga Palestina di Jalur Gaza yang menjadi korban konflik bersenjata Palestina-Israel.  RS Indonesia di Jalur Gaza menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke.(L/P03/P02) Sumber : http://mirajnews.com/palestina/11963-relawan-rsi-di-gaza-gunakan-kayu-bakar-untuk-masak-di-tengah-krisis.html

Silahkan bertanya?