MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Kisah Karidi dan Relawan di Jalur Gaza (1)

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA — Tidak terpikir sebelumnya, menjadi relawan di medan perang, Jalur Gaza, yang selama bertahun-tahun dalam blokade Zionis Israel. Blokade darat, laut dan udara. Jangankan untuk membangun klinik atau posko kesehatan, untuk mendatangkan keperluan pokok harian saja, mesti harus melalui terowongan — yang semakin banyak ditutup oleh Mesir. Jalur lain melalui perbatasan Rafah, yang juga buka-tutup tidak menentu oleh pihak keamanan Mesir. Karidi memasang instalasi listrik di Gaza Begitulah, tanpa terasa, saya pun diberangkatkan pada 21 Oktober 2012, sebagai relawan (unpaid volunteers), oleh MER-C (Medical Emergency  Rescue Committee), sebuah organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak di bidang kegawatdaruratan medis . Kemampuan saya dipilih di bidang Mecanical Electric (ME), dengan izin Allah mengantarkan saya berziarah ke bumi para Nabi, Jalur Gaza. Walaupun, terus terang nol besar dalam komunikasi bahasa Arab. Ya, memang dari lingkungan pesantren. Tetapi ya, sebagai tukang, yang hanya mampu beberapa ucapan bahasa Arab yang umum-umum saja, seperti bismillah, assalamu’alaikum, kayfa haal, innaa lillaah… Menginjakkan kaki di kampung Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina, saya bersama relawan Indonesia lainnya, pun mulai bekerja (amal sholih) melanjutkan pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia. Terutama sesuai bidang saya, masang-masang alat-alat listrik, urusan kabel-kabel, lampu, ac, dan sejenisnya. RS Indonesia berdiri di atas lahan 16.261m2 waqaf pemerintah Palestina, dinamakan RS Indonesia, menurut yang saya dengar dari Pengurus MER-C, karena memang seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. “Di samping itu juga diharapkan menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dengan rakyat Palestina”, itu kalimat yang saya camkan.   Saya, dibantu relawan yang dapat berkomunikasi dalam bahasa Arab, sempatkan jalan-jalan dan bergaul dengan masyarakat sekitar. Sungguh luar biasa sambutan dan penghormatan warga di sana. Keramahannya membuat saya yang harus rela meninggalkan Tina isteri saya, dan keluarga besar saya di Jawa Tengah, serasa mendapat ganti keluarga besar, di bumi yang pernah disinggahi oleh para Nabi dan sahabat-sahabatnya itu.   “Menakjubkan, kalian dari negeri yang sangat jauh dari Gaza, datang untuk membangun rumah sakit buat kami,” ujar Abu Muslim, Imam Masjid di daerah Ghalebo, Gaza Utara, tidak jauh dari lokasi RS Indonesia.  Tak hanya itu, Perdana Menteri Palestina di Jalur Gaza, Ismail Haniyya pun, demi rasa hormatnya terhadap umat Islam Indonesia yang sedang membangun RS Indonesia, menyempatkan hadir berkunjung ke lokasi bangunan pada Juli 2013 lalu. “Ini bukti kepedulian dan cinta rakyat Indonesia terhadap rakyat Palestina, terutama di Jalur Gaza,” ujar Haniyya di hadapan relawan waktu itu. Apalagi, menurutnya, artistek Indonesia membuat bentuk bangunan RS Indonesia itu, segi delapan, yang menyerupai segi delapan bentuk Kubah Sakhrah di kompleks Al-Aqsha Palestina. Saya dan teman-teman relawan, dalam tim pambangunan, yang ketika di Indonesia bekerja sebagai teknisi AC dan listrik, cukup mengalami kesulitan untuk mendapatkan beberapa bahan elektrik yang tidak biasa dipakai seperti di Indonesia. Walaupun kemudian bisa juga. Kesulitan lainnya, kita sangat tergantung dari donasi masyarakat. Di samping itu, beberapa bahan listrik ternyata juga sulit didapat. Kita mesti order dulu, dan itu perlu waktu cukup lama. Jadi, pekerjaan jadi tertunda waktunya. Hal yang lebih mengkhawatirkan lagi, adalah tatkala Zionis Israel menggempur sepanjang Jalur Gaza pada November 2013. Pesawat menderu-deru di angkasa, bom berjatuhan di mana-mana.Kami sempat panik, karena belum terbiasa mendengar dentuman bom di atas kepala kita. Apalagi beberapa kaca RS Indonesia sempat pecah berantakan oleh getaran bom yang jatuh tidak jauh dari lokasi RS. Tetapi setelah ditenangkan warga setempat, bahwa hal itu sudah menjadi makanan sehari-hari. Akhirnya terbiasa juga. Anggaplah itu petasan mainan.“Kami pun tetap bekerja, terutama di ruang dalam, seperti pemasangan lantai, kabel-kabel dalam ruangan, dan sebagainya”. Namun, apapun risiko yang terjadi, saya merasa bahwa apa yang saya lakukan dan teman-teman relawan lainnya, dalam ikut serta membangun RS Indonesia di Gaza, adalah bagian dari amal shaleh kami. Kami ingin ini menjadi bukti sejarah ikatan perjuangan Palestina-Indonesia secara keseluruhan. “Ini Insya Allah akan saya jadikan sebagai amal shaleh bagi saya sendiri dan keluarga saya. Saya sangat bersyukur dengan menjadi relawan ini”. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/komunitas/alamsemesta/14/05/16/n5nsex-kisah-karidi-dan-relawan-di-jalur-gaza-1                  

MER-C Yogyakarta Gelar Diklat Kerelawanan

Tak seperti biasanya, suasana Klinik MER-C Yogyakarta yang berlokasi di Bokoharjo tampak ramai. Bukan oleh pasien yang hendak berobat, melainkan semarak oleh puluhan relawan peserta Diklat Kerelawanan yang dihelat oleh MER-C Yogyakarta.   Acara yang berlangsung dari 19 – 20 April itu mengusung tema “Bersapa, Berbagi, Beraksi”. Ketua Pelaksana Diklat, Arief Wahyu, Mengatakan, kegiatan yang diikuti oleh delegasi tiga cabang MER-C, yaitu Yogyakarta, Solo, dan Semarang, bertujuan untuk mempererat tali silaturahim bagi para calon relawan. Selain itu, juga membangun sinergitas antarcabang MER-C di ketiga daerah. “Titik penting dari diklat ini adalah adanya keterikatan antar peserta,” papar mahasiswa FKU UGM 2009 ini. Suasana diklat berjalan dengan cukup dinamis dengan peserta sebanyak 54 peserta meski waktu pelaksanaannya cukup singkat. Peserta diklat merupakan mahasiswa dari berbagai universitas di Yogyakarta, Solo dan Semarang. Mereka berasal dari fakultas dan angkatan. Tidak hanya terbatas pada mahasiswa fakultas medis, tetapi juga mahasiswa non medis. Hadir dalam acara ini, para pengurus MER-C Yogyakarta dan perwakilan MER-C Pusat. Presidium MER-C Pusat, dr. Joserizal Jurnalis, berkesempatan menghadiri kegiatan ini. Dalam kesempatan itu, pria yang akrab dipanggil dr. Jose itu menekankan bahwa menjadi mahasiswa yang cerdas dan peduli adalah salah satu modal untuk menjadi relawan seutuhnya. Ini, ungkap dia, dimulai dari niat yang lurus dan tulus dibarengi dengan pengesahan ilmu dan kemampuan yang kemudian diarahkan pada misi kemanusiaan. “Dan, yang paling pentingadalah konsistensi atau keiatiqamahan berjuang melalui MER-C,” tuturnya. Dr. Jose juga membeberkan kepada para peserta perihal agenda Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Bagaimana proses berdirinya RS Indonesia di Gaza, Palestina, lengkap dengan perjalanan misi ke sana. Ia mengajak peserta untuk memaknai bersama makna Pembukaan UUD 1945 tentang hak merdeka bagi segenap bangsa, tak terkecuali bangsa Palestina yang terjajah hingga kini oleh Zionis Israel. Sumber : Republika, Minggu 11 Mei 2014, Hal. 24        

Kehadiran Relawan RS Indonesia jadi Penyejuk bagi Perpecahan Gaza

Jakarta, 14 Jumadil Akhir 1435/14 April 2014 (MINA) – Ir. Abu Fikri adalah Pimpinan Proyek Pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza, Palestina. Selama pembangunan rumah sakit dari tahun 2011 sampai awal 2014, dia dua kali berangkat ke Gaza memimpin pembangunan atas nama Relawan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee). Pria yang berasal dari Pondok Pesantren Al-Fatah, Cileungsi, Bogor itu, mengungkapkan sekilas pengalamannya di bumi yang diblokade, saat ditemui oleh wartawan MINA Sabtu (12/4) di kantor MER-C, Jakarta. Berikut hasil wawancara Rudi Hendrik, wartawan MINA, dengan Ir. Abu Fikri: MINA: Bagaimana awalnya Anda bisa memasuki Gaza? Ir. Abu Fikri: Bermula pada akhir 2010 mengikuti aksi kemanusiaan “Asia Caravan To Gaza” bersama dengan negara-negara Asia lainnya. Ada sekitar 150 orang. Sementara tim kami sendiri yang bergabung dengan MER-C ada lima orang. Ketika kami, para relawan pertama datang, kami juga disambut oleh welcome bomb (bom selamat datang). Begitu sampai di perbatasan, ada istilah welcome bomb dari tentara Israel. Itu menunjukkan bahwa kedatangan setiap relawan ke Gaza sudah diketahui oleh Israel. MINA: Situasi Gaza awalnya bagi relawan seperti apa? Ir. Abu Fikri: Gaza identik dengan penjara terbesar di dunia. Untuk masuk sulit dan untuk keluar pun sulit. Yang kita lihat memang, bukan hanya daerah perang, tapi juga daerah yang terblokade selama bertahun-tahun. MINA: Apa kesulitan awal bagi para relawan di sana? Ir. Abu Fikri: Kesulitan awal bagi relawan adalah bahasa, karena ada Bahasa Arab formal dan ada Bahasa Arab yang umum digunakan oleh warga Gaza. Sedangkan yang kita pelajari adalah Bahasa Arab formal dalam pendidikan. Sementara dalam pembangunan, kita banyak bergaul dan berkomunikasi dengan masyarakat lapangan, sehingga bahasa yang harus digunakan adalah bahasa sehari-hari. Dan keduanya sangat jauh berbeda. Ada pun untuk peralatan dalam membangun, tidak seperti yang kami khawatirkan sebelumnya bahwa di sana tidak cukup lengkap, ternyata di sana cukup lengkap peralatan. Untuk bahan bangunan di tahap pertama tidak begitu menemui kesulitan. Justru di tahap kedua kami menemui kesulitan, karena di tahap ini kami kesulitan untuk mendapatkan beberapa bahan bangunan, salah satunya semen dan kelangkaan solar. Solar kita perlukan untuk mengoperasikan peralatan-peralatan berat. Dampak ketiadaan solar di Gaza, berdampak pada ketiadaan listrik, karena satu-satunya generator yang ada di Gaza menggunakan solar, sehingga harus dikurangi, setiap hari hanya empat jam dengan waktu yang tidak menentu. Juga berdampak pada gas dan terus berdampak kepada masalah air. Karena air pun harus dipompa dengan tenaga listrik dan solar.  Bahkan sempat selama empat hari tidak bisa menggunakan air. Luar biasa kondisi yang kita hadapi di sana.   MINA: Bagaimana dengan perang? Ir. Abu Fikri: Di sana, sewaktu-waktu perang bisa muncul. Tidak bisa dikategorikan kondusif. Selain perang besar, secara menyeluruh sering terjadi konflik-konflik. Baik dari Gaza sendiri maupun dari Israel. MINA: Adakah budaya negatif Indonesia di Gaza? Ir. Abu Fikri: Salah satunya, untuk relawan Indonesia, mereka terbiasa shalat menggunakan sarung, sedangkan di sana dipandang kurang baik. Bagi mereka, sarung digunakan untuk kegiatan-kegiatan saat tidur. Mereka kurang pas jika melihat kita shalat menggunakan sarung. Meski kita sudah berusaha untuk meyakinkan, tapi kita tidak bisa untuk mencoba meyakinkan masyarakat banyak yang memandang. Ada pun sisi positif yang kami temukan di sana yaitu sesuatu yang sudah sangat langka kita jumpai di Indonesia, yaitu memberi salam kepada orang yang tidak kita kenal, meski di jalan umum, kecuali memberi salam kepada beda jenis, itu tidak boleh. Itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kami. MINA: Apakah pembangunan RS Indonesia sudah selesai? Ir. Abu Fikri: Pembangunan fisik RSI ada dua, yaitu pembangunan arsitektur dan mekanikal elektrikal. Untuk pembangunan di bidang fisiknya, alhamdulillah, tinggal masuk tahap perawatan dan service. Memang dalam setiap pembangunan, ada waktu sekitar enam bulan untuk perawatan. Karena memang pembangunan fisik sifatnya saling terpadu. Untuk perawatan, karena tidak sulit, pengawasan tetap dari pihak MER-C, namun pekerjanya dari tenaga lokal. Saat ini memasuki tahap ketiga, yaitu pengadaan alkes (alat kesehatan) yang membutuhkan dana lebih besar dari pembangunan fisik RS Indonesia. MINA: Kesulitan yang paling terasa bagi para relawan? Ir. Abu Fikri: Secara fisik memang banyak sekali kesulitan, tapi alhamdulillah, secara akidah, setiap kami menemui kesulitan maka disitu kami menemui kemudahan. Dan  disitulah kami meyakini bahwa kemudahan yang kami rasakan adalah pertolongan Allah SWT. MINA: Apakah pada masa menunggu kepulangan yang tidak jelas setelah pembangunan selesai, ada relawan yang putus asa? Ir. Abu Fikri: Dalam pembangunan ini, kami berusaha sekuat mungkin menggunakan skejul dan bekerja sesuai itu. Tanggung jawab para relawan pada prinsipnya, akhir bulan Desember 2014 itu sudah selesai. Jadi sesuai dengan schedule. Ada waktu sekitar sebulan masa menunggu, dan itu pun hanya melakukan pekerjaan-pekerjaan ringan saja. Dalam masa menunggu itu, memang mereka merasa tanggungjawab utama itu sudah selesai, sehingga secara psikologis fisik mereka sudah terfokus pada keluarga. Mereka yang awalnya sibuk dengan pekerjaan dan kegiatan-kegiatan yang ada, tapi karena dia sudah merasa akan segera kembali, maka secara otomatis kesabarannya teruji. Ujian itu mungkin juga dari pihak keluarga yang sudah lama menahan rindu ingin bertemu dengan ayahnya atau suaminya, tentunya ada tekanan-tekanan dari keluarga agar bisa segera kembali.   MINA: Solusinya? Ir. Abu Fikri: Yang pertama kita terus melakukan siraman rohani kepada mereka, karena kita ada taklim setiap Jumat pagi dan itu memang efektif sekali untuk memompa semangat mereka, bagaimana mereka bisa tetap sabar. Karena permasalahannya adalah satu-satunya prinsip bagi para relawan, yaitu “kepastian relawan adalah ketidakpastian”. Jadi tidak ada kepastian bagi relawan. Apa pun yang direncanakan, kita kembalikan kepada apa yang diijinkan oleh Allah. Kita tahu bahwa Gaza sendiri adalah satu daerah konflik yang hingga kini tidak ada jalan keluarnya secara penuh dan kita tahu, Gaza semakin hari semakin sulit. Apa lagi kondisi negara-negara sekitarnya mulai tercarut-marut oleh perang seperti Suriah dan Mesir sendiri, sehingga membuat kondisi semakin tidak pasti. MINA: Bagaimana respon para pejabat Palestina di Gaza dengan adanya pembangunan RS Indonesia ini? Ir. Abu Fikri: Al hamdulillah sangat positif, bukan hanya pejabat, tapi juga warga gaza, tapi kami mengambil beberapa sample saja. Salah satunya adalah kunjungan Perdana Menteri Ismail Haniyah ke RS Indonesia di Gaza. Intinya dia menyampaikan: “Setiap kami melihat kalian, timbul semangat kami untuk terus bisa bertahan dalam kondisi yang serba sulit. Timbul juga semangat bagi kami bahwa Al-Aqsha akan

Bakti Sosial MER-C dan Labs School Kebayoran

Jakarta – pada tanggal 12 April 2014 tim medis MER-C mengadakan bakti sosial dengan mengadakan pengobatan masal di daerah Gandaria, Kebayoran. Acara yang berlangsung sejak pukul 9.30 pagi sampai 13.00 siang ini terlaksana  atas kerjasama dengan Lab School Kebayoran. Tim yang berjumlah 10 orang ini memberikan pengobatan kepada 250 pasien.                  

Relawan Gaza: Pendidikan Hijab Masyarakat Gaza Sejak Balita

Jakarta, 9 Jumadil Akhir 1435/9 April 2014 (MINA) – Masyarakat Gaza melaksanakan syariat hijab yang sangat kuat dan dididik sejak usia di bawah lima tahun (balita). Hal itu dikisahkan oleh salah seorang relawan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee), Karidi, saat ditemui MINA di Jakarta, Selasa (8/4).  Pria asal Wonogiri itu belum lama kembali dari Gaza setelah turut membangun Rumah Sakit (RS) Indonesia di sana sekitar satu setengah tahun lamanya bersama para relawan dari jaringan Pondok Pesantren Al-Fatah yang berpusat di Cileungsi, Bogor. “Di masa balita, dari umur tiga sampai empat tahun ke atas, tidak ada anak-anak sebaya yang ngobrol atau main bareng antara anak laki-laki dan perempuan. Itu sudah sangat dijaga,” ujar Karidi. “Jika terjadi obrolan antara anak sebaya lawan jenis, maka anak itu dianggap aib bagi keluarga,” tegasnya. Relawan yang mengetuai bidang mekanikal elektrikal di pembangunan RS Indonesia itu mengisahkan, syariat hijab di masyarakat Gaza sangat kuat. Sejak sekolah sudah dipisah antara sekolah laki-laki dan perempuan. Demikian pula dari segi ruangan tamu di rumah orang Gaza, sudah di tata sedemikian rupa. Ruang tamu memiliki kamar mandi sendiri. Jika tamu mau ke kamar mandi, tidak sampai nyelonong ke belakang hingga melihat ruangan-ruangan yang lain. “Jika bertamu, kita juga tidak akan mungkin bisa melihat isteri pemilik rumah. Yang menyuguhkan makanan dan minuman adalah suaminya, bukan isterinya,” kata Karidi. Dia melanjutkan bahwa rumah-rumah warga Gaza memiliki pagar yang tinggi dengan tujuan orang yang lewat di depan rumah tidak bisa melihat langsung ke dalam. Demikian pula di tempat fasilitas umum, laki-laki dan perempuan sangat dibatasi. “Masyarakat di sana sudah dididik sejak kecil, jika berjalan menundukkan pandangan. Tidak ada yang namanya berpapasan dengan lawan jenis saling tatap face-to- face,” tambahnya. Selain itu, Karidi juga menceritakan betapa “luar biasanya” masyarakat dalam menyambut tamu, terutama terhadap para relawan yang sangat sering diundang untuk makan ke rumah warga. Terlebih ketika bulan Ramadhan saat berbuka puasa. “Saya sangat salut sekali dengan orang Gaza, mereka sangat memuliakan tamu. Mereka sangat hebat dalam memuliakan tamu. Kalau di sini (Indonesia), mungkin cukup sediakan air putih, selesai. Di sana sampai pesan makanan, seolah-olah semua dikeluarkan.” (L/P09/R2) Sumber : http://www.mirajnews.com/web/palestina-mb/17266-relawan-gaza-pendidikan-hijab-masyarakat-gaza-sejak-balita.html                

Relawan RS Indonesia Kembali

Tanggerang – pada tanggal 13 Maret 2014 sebanyak enam orang relawan pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza telah kembali ke tanah air. Karidi, Edy Wahyudi, Luthfi Paimin, M. Arsyad Ridho, Tata Lukita S dan Rochman tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta pada Pukul 22.20 Wib dengan menaiki maskapai Etihad Airways. Ke enam relawan kembali ke tanah air bersama-sama dengan tim yang diberangkatkan MER-C untuk melakukan Assessment terhadap alat kesehatan untuk RS Indonesia, yang terdiri dari Ir. Faried Thalib, Ahya Sodri, serta wartawan Yoebal Ganesha Rasyid dari Republika dan Subhan Hariadi Putra TV One.   Saat ini fisik RS Indonesia telah dapat dikatakan rampung, akan tetapi selain pembangunan Wisma Rakyat Indonesia  dan renovasi masjid yang terletak di dekat RS Indonesia, MER-c juga masih menggalang dana untuk pengadaan alat kesehatan yang berjumlah sekitar 65 miliar rupiah              

Gelombang Pertama Relawan RS Indonesia dari Gaza Palestina Tiba di Tanah Air

Siaran Pers Setelah bertugas selama kurang lebih 1,5 tahun di wilayah terblokade Gaza, Palestina, meninggalkan keluarga tercinta dan pekerjaan yang menjanjikan di tanah air, dalam rangka Pembangunan Rumah Sakit Indonesia di sana, sebanyak 19 orang relawan yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia tiba di Jakarta siang ini pukul 13.55 wib dengan menggunakan maskapai penerbangan Etihad Airlines. Rombongan ini adalah gelombang pertama kepulangan relawan RS Indonesia dari dua gelombang yang direncanakan, dimana gelombang ke-2 akan tiba di tanah air pada awal Maret 2014 mendatang. Kedatangan para relawan akan disambut oleh Tim MER-C, Pesantren Al Fatah serta keluarga.   Kepulangan relawan Indonesia sebanyak total 25 orang dimungkinkan setelah pembangunan tahap 2 berupa pekerjaan Arsitektur dan Mekanikal Elektrikal RS Indonesia selesai. Dengan selesainya tahap ini, maka secara fisik bangunan RS Indonesia yang terdiri dari 2,5 lantai dengan total luas mencapai hampir 10.000 m2 telah rampung. Rumah Sakit Indonesia sumbangan dari rakyat Indonesia telah berdiri dengan kokoh dan indah di Jalur Gaza, Palestina, sebuah wilayah yang masih terblokade dan terjajah hingga detik ini. Sebagai tahapan selanjutnya dari program ini adalah pemenuhan Alat Kesehatan dan Interior ruangan Rumah Sakit Indonesia yang akan berfokus pada Rumah Sakit Traumatologi dan Rehabilitasi. Untuk keperluan ini, MER-C tengah mengirimkan relawan ahli bidang peralatan kesehatan (Medical Technologist) yang melakukan survei alat kesehatan di Gaza (Palestina) dan Kairo (Mesir). MER-C juga menempatkan relawan-relawan yang akan bertugas di Gaza selanjutnya untuk mengawal tahap pemenuhan alat kesehatan ini. Sebelumnya, dengan gerakan Rp 20 ribu/orang, rakyat Indonesia terbukti mampu bersatu membangun Rumah Sakit yang akan menjadi bukti silaturahim jangka panjang rakyat Indonesia – Palestina. kini MER-C kembali meluncurkan dan mengajak rakyat Indonesia untuk bergabung dalam gerakan Rp 50 ribu per orang untuk Alat Kesehatan RS Indonesia. Cukup 1,2 juta orang yang menyumbang agar RS Indonesia dapat segera bermanfaat bagi masyarakat korban perang di Jalur Gaza, Palestina.   Jadilah bagian dari sejarah program Pembangunan RS Indonesia melalui: BNI Syariah, 081.119.2973 BSM, 700.135.2061 BCA, 686.015.3678 BMI, 301.00521.15 BRI, 033.501.0007.60308 an. Medical Emergency Rescue Committee   Atau melalui: iB Hasanah Card dari BNI Syariah Hubungi BNI Call Center 500046     Jakarta, 27 Februari 2014 Divisi Humas MER-C INDONESIA                

Keluarga Relawan RSI Mengaku Senang Dan Bangga

Jakarta, 17 Rabi’ul Akhir 1435/17 Februari 2014 (MINA) – Keluarga terdekat para relawan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza mengaku sedih ditinggalkan, tetapi mereka senang dan bangga karena orang-orang yang dicintai itu berangkat untuk membantu saudaranya di Palestina. Ungkapan perasaan itu dikatakan oleh anggota keluarga relawan yang Senin pagi (17/2) turut melepas keberangkatan lima relawan ke Gaza dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta.   “Alhamdulillah senang dan bangga, karena Bapak bisa membantu saudara-saudara kita yang di sana (Gaza). Kami mendukung sejak awal, sebab itu perjalanan ibadah yang bagus,” kata Wahyuni, isteri pemimpin rombongan relawan, Ir. Faried Thalib. Wahyuni mengaku ingin kembali mendampingi suaminya ke Jalur Gaza, sebagaimana dua dari tiga keberangkatan sebelumnya, namun ia terlambat mengurus beberapa persiapan. Faried yang juga pemilik Radio Silaturahim dan Anggota Presidium MER-C adalah Ketua  Tim Pembangunan Konstruksi RSI di Gaza Palestina. Seiring itu, anak kedua Faried yang ikut mengantar ayahnya ke bandara juga merasa bersyukur dan bangga. “Alhamdulillah, selalu yakin kepada Allah, karena misi ke Gaza adalah untuk umat. Secara pribadi pasti akan ada rasa rindu, tapi saya lebih merasa bersyukur dan bangga, punya sosok orang tua atau ayah yang mementingkan kepentingan umum,” kata Farida Thalib kepada wartawan Mi’raj Islamic News Agency (MINA). Di tempat yang sama, Siti Muthmainnah – isteri relawan RSI Nur Ikhwan Abadi – mengatakan dirinya sangat mendukung dengan langkah yang tempuh oleh suaminya. “Saya sangat mendukung, karena ini misi kemanusiaan yang baik, jihad yang tujuannya akhirat,” kata Siti yang untuk ketiga kalinya ikhlas melepas keberangkatan sang suami, relawan yang sudah pernah berhadapan langsung dengan tentara penjajah Israel dalam rombongan kemanusiaan Kapal Mavi Marmara. Maryati, ibu Nur Ikhwan meski mengaku sedih, namun tetap merasa bangga dengan jalan yang dipilih oleh puteranya. “Ada kesenangan dan kebanggaan meskipun sedih itu pasti ada,” kata Maryati yang sempat menitikkan air mata. Sembari menggendong cucunya, Maryati berpesan untuk ibu-ibu para relawan yang ia sebut “mujahid“ agar selalu merasa bangga jika seandainya anak mereka pergi berjihad. “Dalam setiap shalat, saya selalu berdoa, semoga apa yang dikerjakan Nur Ikhwan selama ini tulus ikhlas dan apa yang dikerjakan di sana berjalan lancar,” katanya. Kelima relawan itu terdiri dari tiga tim RSI dan dua wartawan dari media nasional. Mereka akan melanjutkan tugas pembangunan RSI di Gaza, di mana menurut rencana ke 25 relawan RSI sebelumnya akan kembali ke Indonesia. Secara fisik, pembangunan RSI Gaza sudah selesai dan kini memasuki tahap pengadaan alat-alat kesehatan sehingga bisa masuk ke tahap operasional. Pembangunan RSI di Gaza selama ini murni didanai oleh rakyat Indonesia sebagai bentuk cinta dan kepedulian kepada rakyat Palestina. MER-C selaku pihak yang melaksanakan pembangunan, tidak pernah menerima dana dari pihak luar Indonesia. (L/P09/P07/R2). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia-mb/15208-keluarga-relawan-rsi-mengaku-senang-dan-bangga.html                

MER-C Berangkatkan Lima Relawan Ke Gaza

Jakarta, 17 Rabi’ul Akhir 1435/17 Februari 2014 (MINA) – Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) memberangkatkan lima relawannya ke Palestina untuk menuntaskan operasionalisasi Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza, Senin (17/2).   Ketua Tim Konstruksi pembangunan RSI Gaza Ir. Faried Thalib mengatakan kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di Jakarta, Senin, keberangkatan relawan kali ini untuk menyempurnakan kelengkapan RSI terutama perlengkapan medis sebelum diserahkan ke pemerintah setempat.     “Keberangkatan kami ke Gaza untuk menyelesaikan pengadaan dan pemasangan kelengkapan RSI Gaza terutama alat-alat kesehatan,” katanya saat ditemui di Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta sebelum keberangkatan.   Menurutnya, sesampai di Gaza tim akan mengiventarisir kebutuhan alat-alat kesehatan dan selanjutkan mengupayakan pengadaannya. Pengadaan peralatan kesehatan bagi RSI di Gaza tersebut didanai oleh rakyat Indonesia.   “Biaya pengadaan peralatan kesehatan seluruhnya berasal dari sumbangan rakyat Indonesia,” kata Faried.   Dikatakan, pengadaan peralatan diharapkan tidak menemui kendala meski Gaza sampai saat ini masih diblokade oleh pasukan Zionis Israel.   “Akan kami upayakan semaksimal mungkin untuk mengadakan peralatan medis yang utama bagi RSI,” kata Faried.   Sementara itu, Ir Ahyahudin Sodri MSc salah satu anggota Tim Relawan yang diberangkatkan mengatakan, tim akan melakukan supervisi bangunan untuk menentukan kesiapannya dan segera memenuhi peralatan utama yang dibutuhkan RSI Gaza, diantaranya untuk Instalasi Gawat Darurat (IGD), perlatan Poliklinik,  ruang perawatan, kamar bedah dan juga ICU serta lainnya. Pengadaan peralatan kesehatan kemungkinan besar didatangkan dari Mesir sebagai pilihan utama.   “Peralatan-peralatan medis harus sudah terpasang  agar RSI dapat segera beroperasi,” kata dosen Pasca Sarjana Teknologi Biomedis, Universitas Indonesia (UI) tersebut.   Kelima relawan yang berangkat menuju Gaza tersebut adalah Faried Thalib (Ketua Tim),  Ir Ahyahudin Sodri MSc, Nur Ikhwan Abadi dan dua wartawan dari media cetak nasional dan media televisi, Yoebal Ganesha Rasyid dan Subhan Hariadi Putra.   Pembangunan fisik RS Indonesia mulai dikerjakan sejak 14 Mei 2011, dibangun di atas tanah seluas 16.261 m2, berasal dari wakaf pemerintah Palestina di Gaza.   Lahan untuk RSI Gaza itu diserahterimakan oleh Menteri Kesehatan Palestina Baseem Naem kepada Ketua Presidium MER-C Joserizal Jurnalis sebagai pihak pembangun pada 23 Januari  2009.   Lokasinya berada sekitar 2,5 km dari perbatasan Israel sehingga sering dipantau oleh pesawat tempur tanpa awak (drone) AU negara Yahuidi tersebut, namun sejauh ini pembangunan RS Indonesia terus berjalan tanpa hambatan.   RSI di Jalur Gaza ini menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina dimana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia, sebagian besar dari kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke.  (L/P07/P09/EO2). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia-mb/15206-lima-relawan-berangkat-untuk-selesaikan-pembangunan-rsi-gaza.html                

Journalism Training with MER-C

Jakarta – In this era where every kind of information is always sought for, the ability to produce news becomes significant. Now everyone can write about anything, in which this style of writing is known as citizen journalism. With so many easily accessed social media, the types of news shared becomes wide and it might become too much done. This is why MER-C on Sunday 2 February 2014 organized a journalism training for its volunteers.   Held in MER-C head office, Firtra Ratory shared his experience and knowledge in TV One as a free lancer journalist. Silvano Hajid from Kompas TV and Hery Alamsyah from MNC TV were also present to complement the event on that day. 15 participants were expected to always be able to deliver quality news and able to fulfill the basic concept of journalism, which are What, Who, Where, When, Why, and How.                

Silahkan bertanya?