Relawan RSI Penuhi Undangan dari AILAH JARROD, Keluarga Terbesar dengan 100 Cucu

Gaza, Palestina – Nama ailah/marga di tanah Arab khususnya di Palestina dilestarikan hingga turun-menurun, setiap warga mencantumkan nama marga di belakang nama aslinya, contoh Muhammad Abu Samir, Nama Samir adalah nama ailah atau nama marga. Pada satu momen undangan makan siang yang biasa relawan pembangunan RSI terima minimalnya hampir sebulan sekali, momen kali ini terbilang istimewa bagi para relawan, karena hari Jumat 04 Maret 2013 relawan pembangunan RSI mendapatkan satu oleh-oleh yang berupa pengetahuan juga informasi penting. Kholid Abu Muhammad Abu Jarrod, pria yang dikaruniai anak lima inilah yang mengundang 30 relawan pembangunan RSI untuk makan siang di kebunnya nan asri di perbatasan Bayt Lahiya dan Bayt Hanuun, dengan membagi kelompok pejalan kaki dan pengendara mobil, para relawan pun dengan senang hati menuju lokasi makan siang setelah shalat Jumat. Ayah dari Kholid Abu Muhammad Abu Jarrod bernama Musa Abu Jarrod, beliau dikaruniai 14 anak di antaranya Kholid, tidak tanggung-tanggung 100 cucu dari keempat belas anak anaknya menghangatkan suasana kekeluargaan keluarga besar Musa. Tidak hanya itu, keluarga besar Musa adalah keturunan keluarga Jarrod yang mana keluarga Jarrod ini masyhur karena terbilang salah satu keluarga terbesar di Kota Gaza yang banyak memiliki keturunan. Musa Abu Jarrod yang berumur 74 tahun, hingga saat ini telah melaksanakan haji beserta umroh sebanyak 15 kali, mabruuk alaih kata orang sini untuk ucapan selamat sekaligus doa bagi orang yang menerima banyak nikmat semasa hidupnya.
Satu Lagi Relawan Insinyur MER-C Berangkat ke Gaza

Jakarta Jum’at/15 Februari 2013, tepatnya pukul 20.20 wib, MER-C memberangkatkan lagi tambahan satu relawan insinyur ke Gaza, Palestina. Keberangkatan relawan insinyur ini adalah untuk membantu mengawasi pekerjaan pembangunan tahap 2 RS Indonesia (RSI) berupa pekerjaan arsitektur dan ME (Mechanical Electrical). Pekerjaan pembangunan tahap dua RSI memang dilakukan sendiri oleh insinyur dan tenaga teknis dari Indonesia yang semuanya adalah relawan (unpaid volunteers) dari Pesantren Alfatah yang tergabung dalam Divisi Konstruksi MER-C. Kedatangan tambahan insinyur, yaitu Ir. Edy Wahyudi diharapkan bisa melakukan pemantauan yang lebih baik terhadap proses pembangunan RS Indonesia, amanah dari rakyat Indonesia untuk Palestina yang mulai memasuki tahap lebih rumit dan detail, apalagi pembangunan tahap dua seluruhnya akan dikerjakan oleh tenaga ahli dan pendukung dari Indonesia. Bersama Ir. Edy Wahyudi, berangkat juga 3 relawan dari Pesantren Alfatah. Selain turut membantu dalam program pembangunan RS Indonesia, mereka juga akan menimba ilmu di Gaza melalui program kerjasama beasiswa antara Universitas Islam Gaza dan Pesantren Alfatah. Keempat relawan tiba di Kairo Sabtu (16/2) sekitar pukul 9 pagi waktu setempat. Dari Kairo, semua relawan langsung menuju perbatasan Rafah dan dengan surat izin yang ada, semua relawan bisa masuk ke Gaza pada hari Sabtu sorenya. Bagi Ir. Edy Wahyudi ini adalah keberangkatan keduanya ke Gaza. Sebelumnya, Ir. Edy pernah bertugas selama 1,5 tahun di Gaza. Tugasnya bersama 2 relawan insinyur lainnya saat itu, Ir. Nur Ikhwan Abadi dan Ir. Ahmad Fauzi adalah untuk menindaklanjuti dan mengawasi proses pembangunan tahap 1 berupa pekerjaan struktur RSI. Ia baru kembali ke Indonesia setelah pembangunan struktur RSI selesai. Kini, keahliannya kembali dibutuhkan, untuk mengawasi pembangunan tahap 2 RSI yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara. Ir. Edy Wahyudi dan 3 relawan akan bergabung dengan 27 relawan Indonesia yang sudah berada di Gaza. Semua relawan berkomitmen akan bertugas di Gaza hingga pembangunan RSI selesai dan amanah donasi dari rakyat Indonesia yang disalurkan melalui MER-C tertunaikan. Berdasarkan laporan dari Ir. Nur Ikhwan Abadi di Gaza, Pekerjaan pemasangan blok dinding samping dan blok sekat-sekat ruangan dalam untuk lantai 1 dan 2 RSI sudah selesai. Yang masih berlangsung adalah pemasangan blok lantai basement yang tersisa sekitar 50% lagi. Donasi Rakyat Indonesia untuk RSI Capai Rp 30,7 Milyar Sementara itu, total donasi dari rakyat Indonesia untuk program pembangunan RS Indonesia di Gaza sudah mencapai Rp 30,7 Milyar. Semua donasi murni berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar dari kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Alhamdulillah perkiraan awal biaya pembangunan sebesar Rp 30 Milyar, yang sebelumnya sulit terbayangkan akhirnya tercapai bahkan sudah melebih dari target. Kini kebutuhan selanjutnya adalah biaya untuk pengadaan alat-alat kesehatan dan pengembangan kompleks RS Indonesia, yaitu pembangunan infrastruktur, masjid, gedung manajemen dan juga wisma rakyat Indonesia. papar Ir. Faried Thalib, Ketua Divisi Konstruksi MER-C. ***
Relawan MER-C “Jemput Bola” Tangani Korban Banjir

Jakarta, 21/1 (ANTARA) – Relawan dokter organisasi kegawatdaruratan kesehatan “Medical Emergency Rescue Committee” (MER-C) Indonesia menerapkan sistem “jemput bola” dalam menangani masalah kesehatan korban banjir di Jakarta. “Untuk menangani yang mengungsi di masjid, relawan kami memakai sistem `jemput bola`, sedangkan di bantaran Sungai Ciliwung dengan pola `mobile clinic,” kata Ketua Presidium MER-C Indonesia dr Sarbini Abdul Murad kepada ANTARA di Jakarta, Senin. Ia menjelaskan, MER-C menurunkan tim kesehatan yang terdiri atas lima relawan dokter, satu relawan logistik serta satu supir saat banjir besar kembali melanda Jakarta sejak Jumat (18/1). Dalam operasinya, tim menggunakan armada “Ford Ranger” dengan “double cabin”, menyusuri sejumlah titik bencana banjir guna mencari lokasi yang belum dan masih membutuh bantuan medis. Mereka mendatangi satu per satu ruangan dalam lingkungan masjid yang dipenuhi oleh korban banjir yang mengungsi. Warga yang mengeluh sakit diperiksa dan diobati. Usai memberikan pengobatan di dalam masjid, tim melanjutkan pengobatan di bagian luar masjid, di mana pelayanan dilakukan di atas bak mobil “Ford Ranger” MER-C yang diparkir di depan masjid. Warga korban banjir berdatangan menghampiri mobil berlogo MER-C ini untuk mendapatkan pengobatan dari relawan dokter yang ada. Sementara itu, tim MER-C lainnya melakukan “mobile clinic” ke wilayah bantaran Sungai Ciliwung yang belum mendapat bantuan medis. Tim “mobile” bersama Tim SAR dengan menggunakan perahu karet, dan ternyata masih banyak warga yang memilih bertahan di rumah-rumah mereka yang terendam banjir dan tidak mau dievakuasi. Salah satunya seorang bapak tua usia 62 tahun yang memilih bertahan di rumah, sorang diri, dalam keadaan sakit. Atas informasi dari istrinya, dokter MER-C bersama Tim SAR berusaha mencapai dan memasuki rumahnya. Setelah diperiksa, ternyata menderita hipertensi dan segera dievakuasi. Setelah bergerak dengan menggunakan perahu karet, Tim MER-C mendapat laporan dari warga bahwa masih ada lokasi pengungsian yang belum mendapatkan bantuan pengobatan. Mereka berharap Tim MER-C bisa mengecek kondisi kesehatan warga yang mengungsi di sana. Dengan menggunakan sepeda motor, warga mengantar dokter MER-C ke lokasi pengungsian yang terletak di Wisma Tjiliwung. Pelayanan kesehatan segera digelar bagi warga di wisma itu. Berdasarkan evaluasi Tim MER-C selesai memberikan bantuan pengobatan, penyakit yang banyak diderita oleh warga korban banjir yang diobati adalah ispa (infeksi saluran pernafasan atas), penyakit kulit, hipertensi dan diare. Penyusuran tim dilakukan di beberapa lokasi banjir di wilayah Jakarta Timur dan Selatan, di antaranya penanganan bantuan kesehatan kepada korban banjir yang mengungsi di Masjid Attahiriyah Bukit Duri. Di lokasi ini warga yang mengungsi diperkirakan berjumlah lebih dari 1.900 jiwa. Andy J Sumber : http://bogor.antaranews.com/print/3975/relawan-mer-c-jemput-bola-tangani-korban-banjir
Hujan Es, Relawan Indonesia Tetap Bangun RSI Gaza

Gaza, 29 Shafar 1434/ 11 Januari 2013 (MINA) – Meski cuaca dingin mencapai enam derajat celcius, bahkan sempat turun hujan es, sebanyak 28 relawan kemanusiaan asal Indonesia tetap melanjutkan pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza. Koresponden Miraj News Agency (MINA) dari Gaza melaporkan, relawan melanjutkan pekerjaan pemasangan blok sekat kamar lantai dua dan pemasangan keramik lantai dasar (basement). Relawan terpaksa pakai baju tebal rangkap, bahkan sampai rangkap lima lapis, ujar Nur Ikhwan, kepala Tim Relawan Medical Emergency Resque Committee (MER-C), pihak yang membangun RSI persembahan rakyat Indonesia untuk Gaza itu. Bahkan, menurutnya, kencangnya hembusan angin kali sempat merobohkan salah satu sisi dinding rumah sakit. Sehingga memaksa relawan memasang ulang dingin tersebut. Pemerintah setempat sementara memberlakukan larangan keluar rumah bagi warga karena khawatir tehempas angin yang kecepatannya mencapai 100 km/jam. Nur Ikhwan menambahkan, kondisi relawan seluruhnya sehat, dan minta doa dari keluarga dan rakyat Indonesia. Kedatangan musim dingin di Gaza sudah terasa sejak pertengahan September 2012 lalu. Cuaca makin ke sini makin terasa dingin. Hujan salju sempat turun beberapa hari lalu, disertai angin kencang, mengakibatkan pekerjaan RSI dibatasi di dalam ruangan, ujar Nur Ikhwan. Menurut pantauan Koresponden Miraj News Agency (MINA), jalan-jalan utama di Gaza terlihat lengang dari warga, karena lebih banyak berteduh di rumah masing-masing. Menurut prakiraan cuaca setempat mengatakan, puncak musim dingin kali ini masih akan berlanjut hingga beberapa hari kedepan. Hingga diperkirakan akan berakhir pada akhir Februari mendatang. (L/B-007/R-007/R-005). Sumber : http://www.mirajnews.com/id/al-quds-palestine-in-news-3/al-quds-palestine-in-news/1552-hujan-es-relawan-indonesia-tetap-bangun-rsi-gaza.html
Satu Tahun Lebih Bertugas di Gaza, 3 Relawan MER-C Tiba di Tanah Air

JAKARTA Raut muka bahagia terpancar dari wajah tiga relawan MER-C Indonesia ketika menginjakkan kaki di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Senin (7/5), sekitar pkl. 22.00 wib. Mereka adalah Ir. Ahmad Fauzi, Ir. Edy Wahyudi dan Darusman Abdul Hamid. Ketiganya adalah relawan yang telah bertugas lebih dari 1 tahun di Gaza mengawasi proses pembangunan RS Indonesia (RSI) di sana. Para keluarga, kerabat, Imaam Muhyidin Hamidy (Pimpinan Pesantren Alfatah), dr. Sarbini Abdul Murad (Ketua Presidium MER-C) dan dr. Joserizal Jurnalis, SpOT (Presidium MER-C) turut hadir malam itu untuk menyambut kedatangan para relawan. Kepulangan tiga relawan ini menyusul telah selesainya pembangunan tahap pertama untuk struktur RSI yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina. Sementara, tiga relawan lainnya, yaitu Abdillah Onim, Ir. Nur Ikhwan Abadi dan Muhammad Husein masih melanjutkan tugas di Gaza guna mempersiapkan pembangunan tahap 2 untuk Arsitektur dan ME (Mekanikal Elektrikal) RSI. Selamat datang kepada para relawan, kalian adalah para putra terbaik bangsa. Perjuangan teman-teman selama ini di Gaza meninggalkan keluarga dan pekerjaan serta semua yang dicintai di Indonesia untuk menunaikan amanah mengawasi pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza adalah hal yang sangat luar biasa, ungkap Presidium MER-C pada acara penyambutan sederhana yang digelar di Terminal Kedatangan luar negeri Bandara Soekarno Hatta. Ir. Ahmad Fauzi, Ir. Edy Wahyudi dan Darusman Abdul Hamid, ketiganya adalah relawan MER-C yang berasal dari Pesantren Alfatah. Mereka bisa mencapai Gaza setelah mengikuti konvoi darat pembukaan blokade Gaza Asia to Gaza Solidarity Caravan pada bulan Desember 2010 hingga Januari 2011. Setelah 1 bulan menempuh jalur darat melalui sejumlah negara untuk mengkampanyekan pembukaan blokade Gaza, akhirnya konvoi ini berhasil menginjakkan kaki di Gaza, termasuk ketiga relawan tersebut. Sejak saat itu, mereka berkomitmen menetap di Gaza bergabung sebagai Tim relawan MER-C Indonesia untuk mengawal proses pembangunan RS INDONESIA di Jalur Gaza. Terlebih lagi Ahmad Fauzi dan Edy Wahyudi memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman sebagai Insinyur yang memang sangat dibutuhkan untuk program pembangunan RS Indonesia di Gaza, Palestina. Setelah hampir 1,5 tahun meninggalkan keluarga untuk mengabdi sebagai relawan (unpaid volunteers) di wilayah perang dan terblokade seperti Gaza Palestina, adalah suatu anugerah yang sangat disyukuri bisa kembali ke tanah air dengan selamat tanpa kurang suatu apapun. Kami bersyukur bisa kembali ke Indonesia dengan selamat, bertemu dengan keluarga dan sahabat yang lain. Namun, kami juga rindu dan siap apabila mendapat amanah serta kesempatan untuk kembali bertugas di Gaza, ujar ketiganya. Proses pembangunan RS Indonesia tidak lepas dari berbagai kendala dan hambatan. Namun yang kami rasakan bila ada satu kesulitan yang kami temui di sana, selalu diikuti dengan banyak kemudahan. Hal inilah yang membuat kami tetap semangat menghadapi segala tantangan, karena kami yakin setelah tantangan ini Allah akan memberikan banyak kemudahan, ungkap Ahmad Fauzi, relawan yang berasal dari Samarinda, Kalimantan Timur. Senada dengan Ahmad Fauzi, insinyur lainnya, yaitu Edy Wahyudi juga mengungkapkan bahwa berbekal taat, Allah SWT memberikan banyak sekali kemudahan dan kekuatan selama mereka mengawal proses pembangunan RSI yang mulanya dianggap sebagian orang sebagai sebuah program Mission Impossible. Sementara Darusman, relawan yang paling senior dan mempunyai 11 anak ini juga menyatakan sangat bersyukur diberi kesempatan berharga terlibat dalam proses pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza. Menyambut kedatangan para murid-muridnya, Imaam Pesantren Alfatah, Muhyidin Hamidy menyampaikan bahwa kepulangan ini adalah buah dari perjuangan dan kesabaran. Kalian telah lulus. Kepulangan ini adalah buah dari perjungan dan kesabaran kalian. Namun ingat, kepulangan ini bukanlah akhir dari segalanya, tapi merupakan awal dari tugas dan amanah-amanah baru. Sementara itu, Divisi Konstruksi MER-C di Jakarta saat ini tengah mempersiapkan pembangunan tahap selanjutnya untuk Arsitektur dan ME (Mekanikal Elektrikal) RSI. Apabila tidak ada halangan, pembangunan tahap 2 akan dimulai pada bulan Juni 2012. Sejumlah relawan yang berlatar belakang Arsitektur dan ME akan ditugaskan ke Gaza untuk mengawal pembangunan tahap 2. Sampai saat ini dari Rp 30 Milyar dana yang dibutuhkan untuk pembangunan fisik RSI, donasi yang sudah terkumpul dari rakyat Indonesia sudah mencapai Rp 21 Milyar lebih. Sosialisasi dan penggalangan dana RSI akan terus dilakukan sambil berjalannya pembangunan. Semoga RS Indonesia, persembahan dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina bisa selesai dalam waktu secepatnya. Tiga Relawan kembali ke Indonesia Dilepas Tangisan Haru rakyat Gaza Saat yang sangat mengharukan ketika harus berpisah dengan orang-orang yang sudah seperti saudara kandung sendiri. Setelah berhari-hari selalu bersama, susah dan senang bersama, merasakan blokadeGaza bersama-sama, inilah yang terjadi terhadap tiga relawan Indonesia saat harus kembali ke Indonesia setelah berakhirnya pembangunan tahap I RSI Gaza. Kepulangan mereka dilepas haru oleh masyarakat Gaza. Masalahnya kalian adalah bagian dari keluarga kami, kita bertemu bukan sehari atau dua hari, satu minggu atau dua minggu, tapi lebih dari satu tahun kita bersama, kita sedih bersama, kita tertawa bersama, kita menghadapi masalah bersama, dan kita diblokade bersama. Kita mengalami masa-masa sulit di daerah blokade ini, sungguh sangat berat melepas kepulangan kalian. Jangan lupakan kami, kami sangat berharap kaliansemua bisa kembali lagi kemari melanjutkan perjuangan bersama kami, ungkapJomah Al-Najjar, Ketua PWH (Palestine Welfare House) yang selama ini turut membantu proses pembangunan RSI di Gazamenyampaikan rasa harunya kala melepas kepulangan para relawan. Lain lagi dengan Abu Walid, yang selalu membantu relawan MER-Cdalam membuat laporan ke Pemerintahan Gaza. Kedatangan muslimin dari luar ke Palestina untuk berkhidmat membantu Palestina sungguh sangat luar biasa. Terlebih lagi dari Indonesia, yang berada di ujung dunia bagian timur. Kedatangan kalian memberikan pesan berharga kepada kami bahwa kami tidak sendiri ditengah diamnya dunia Arab disekitar kami, ujarnya. Sampaikan salam dan ucapan terima kasih kami kepada rakyat Indonesia, tambahnya. Abu Abdallah Shanti, seorang pemuka masyarakat di Gaza Utara, juga turut melepas kepergian para relawan di lokasi RSI. Beliau menyampaikan salam kepada masyarakat Indonesia dan mengucapkan terima kasih kepada MER-Cyang telah berusaha membuat sebuah RS di Gaza. Kami tidak bisa membayangkan jika kami seperti kalian, membantu kami di sini dengan meninggalkan segalanya di tanah air kalian, maafkan kami jika kami tidak bisa memuliakan kalian sebagai tamu disini, ujarnya penuh haru. Memang kehadiran relawan Indonesia di Gaza sedikit banyak memberikan isnpirasi dan semangat tersendiri untuk rakyat Gaza khususnya. Mereka sangat merasakan dukungan moril yang begitu besar dari rakyat Indonesia. Dibangunnya sebuah Rumah Sakit di Gaza bantuan dari rakyat
Dilepas Tangisan Haru Rakyat Gaza, Tiga Relawan Kembali ke Indonesia

Gaza, Palestina Setelah sekitar 1.5 tahun berada di Gaza guna mengawal pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza Palestina, tiga orang relawan MER-C Indonesia kembali ke tanah air Indonesia. Ketiga orang relawan tersebut adalah Ir. Edy Wahyudi, Ir. Ahmad fauzi dan Darusman. Moment yang sangat mengharukan dimana ketika kita harus terpisah dengan seorang yang sudah seperti saudara kandung sendiri. Setelah berhari-hari selalu bersama, susah dan senang bersama, merasakan blokade Gaza bersama-sama, Inilah yang terjadi terhadap tiga relawan Indonesia saat harus kembali ke Indonesia. Kepulangan mereka ini setelah berakhirnya pembangunan tahap I RSI Gaza, dilepas haru oleh masyarakat Gaza. Masalahnya kalian adalah bagian dari keluarga kami, kita bertemu bukan sehari atau dua hari, satu minggu atau dua minggu, tapi lebih dari satu tahun kita bersama, kita sedih bersama, kita tertawa bersama, kita menghadapi masalah bersama, dan kita diblokade bersama. Kita mengalami masa-masa sulit di daerah blokade ini, sungguh sangat berat melepas kepulangan kalian. Jangan lupakan kami, kami sangat berharap antum semua bisa kembali lagi kemari melanjutkan perjuangan bersama kami. Demikian Jomah Al-Najjar menyampaikan rasa haru nya melepas kepulangan para relawan. Lain lagi dengan abu walid, yang selalu membantu relawan MER-C dalam membuat laporan keuangan ke pemerintahan Gaza, mengatakan kedatangan muslimin dari luar ke Palestina untuk berkhidmat membantu Palestina sungguh sangat luar biasa. Terlebih lagi dari Indonesia, yang berada di ujung dunia bagian timur. Kedatangan kalian memberikan pesan berharga kepada kami bahwa kami tidak sendiri, ditengah diamnya dunia arab disekitar kami. Sampaikan salam dan ucapan terima kasih kami kepada rakyat Indonesia. Abu Abdallah Shanti, seorang pemuka masyarakat di Gaza Utara, melepas pula kepergian para relawan di lokasi RSI. Beliau menyampaikan salam kepada masyarakat Indonesia, dan mengucapkan terima kasih kepada MER-C yang telah berusaha membuat sebuah RS di Gaza. Kami tidak bisa membayangkan jika kami seperti kalian, membantu kami disini dengan meninggalkan segalanya di tanah air kalian, maaf kan kami jika kami tidak bisa memuliakan kalian sebagai tamu disini ujarnya penuh haru. Memang sedikit banyak, kehadiran relawan Indonesia di Gaza memberikan inspirasi dan semangat tersendiri untuk rakyat Gaza khususnya, mereka sangat merasakan dukungan moril yang begitu besar dari rakyat Indonesia. Dibangunnya sebuah Rumah Sakit di Gaza, bantuan dari rakyat Indonesia merupakan sesuatu yang sangat berarti bagi mereka. Terlebih lagi pembangunan tersebut diawasi langsung oleh insinyur-insinyur dari Indonesia, sehingga membuat bantuan ini terasa berbeda dari yang lainnya. Turut pula melepas kepulangan para relawan rekan dari Turki, Matin Abu Talha. Ketiga relawan yang tetap berkomitment untuk terus membantu mengawal pembangunan RSI Gazatersebut, kini telah tiba di Indonesia pada tanggal 7 mei 2012. Semoga ALLAH menerima setiap amal Ibadah yang mereka lakukan selama di Gaza. (nia/gz)
Dukungan para Relawan Turki dan Gaza untuk RSI

Gaza, Palestina – Peran berbagai pihak di Gaza sendiri tidak kalah pentingnya terhadap program pembangunan RS Indonesia (RSI). Di tengah wilayah Gaza yang sempit dan lahan yang terbatas, Pemerintah Gaza menyambut baik rencana program pembangunan RS di wilayah mereka dengan mewakafkan lahan seluas 16.000 m2 kepada MER-C Indonesia untuk pembangunan RSI. Selain itu, temen-teman seperjuangan dari negeri Khalifah Utsmaniyah Turki, juga memberikan dukungannya. Salah satunya Muhammad Kaya, Ketua IHH Turki Cabang Gaza. Ia memberikan dukungan penuh dari awal hingga akhir demi terlaksananya pembangunan RSI ini. Bahkan tatkala terjadi perbedaan pendapat antara Tim MER-C Gaza dan Pihak Kementrian Kesehatan Gaza, Muhammad Kaya tampil terdepan membela kami. Kemudian beliau juga merekomendasikan insinyur lokal Jomah Al-Najjar untuk menjadi sharing partner kami dalam proses pembangunan RSI ini. Beliau membantu kami siang dan malam dalam membantu berdirinya RSI ini. Tak jarang pula Muhammad Kaya memberikan nasihat-nasihat berharga kepada kami selama di Gaza. Salah satu nasehat yang masih kami ingat selalu adalah ketika beliau mengatakan bahwa, dalam menjalankan amanah orang turki memiliki prinsip, Pantang kembali atau mundur kebelakang jika amanah yang diemban belum selesai dilaksanakan. Karena ketika berangkat menunaikan amanah, kapal yang akan membawa kami kembali sudah kami bakar, tidak ada kata lain selain maju terus meraih kemuliaan disisi ALLAH Subhanahu wa Taala. Prinsip ini lah yang selalu beliau pegang teguh dan sampaikan kepada setiap relawan. Apa yang disampaikannya senantiasa menjadi semangat dan motivasi buat kami para relawan Indonesia di Gaza. Tiada kata yang pantas selain doa kami semua, semoga kebaikan mereka mendapat balasan berkali lipat. Kami para relawan di Gaza pun tidak pernah menyangka pembangunan RSI ini akan terlaksana. Kami hanya manusia dhoif yang tidak lebih baik dari yang lain, yang hanya menjalankan amanah yang begitu besar di pundak kami. Berangkat dengan hanya bermodalkan ketaatan semata, tanpa ilmu dan pengetahuan yang memadai. Bekal minimum, seperti penguasaan bahasa asing yang harus ada pada setiap relawan pun tidak kami kuasai. Dalam satu tim relawan Indonesia ini, kami saling melengkapi, ada relawan insinyur, ada relawan yang mempunyai kemampuan bahasa dan lainnya. Teringat nasihat seorang Ustadz yang senantiasa memberikan semangat kepada kami ketika akan berangkat menunaikan amanah di Gaza dengan mengatakan, Berangkat saja dahulu, nanti diperjalanan ALLAH yang akan memberikan ilmu. Subhanallah benar saja, pertolongan ALLAH memang sangat dekat, pada awalnya kami tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa Arab sama sekali. Ketika awal datang, seseorang menanyakan Kayfa Haluka? kami hanya terbengong karena tidak mengerti apa yang ditanyakan. Namun saat ini, kami semua relawan Indonesia di Gaza sudah bisa dengan fasih berbahasa Arab harian karena setiap hari kami kontak dengan masyarakat dan para pekerja bangunan lokal di proyek RSI. Ini salah satu contoh nikmat yang berikan-NYA dan masih banyak nikmat-nikmat lainnya yang begitu besar yang diberikan kepada kami. Sungguh kesempatan dan pengalaman menunaikan amanah tugas di Gaza mengawal pembangunan RSI adalah hal yang luar biasa yang tidak bisa kami ungkapkan dengan kata-kata. Ir. Nur Ikhwan Abadi Salah satu relawan MER-C Indonesia di Gaza