MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Terkait Bentrok di Rakhine, MER-C Minta Semua Pihak Hormati Rumah Sakit Agar Jadi Tempat Netral

Terkait bentrok yang terjadi di negara bagian Rakhine, Myanmar, Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dr. Sarbini Abdul Murad meminta semua pihak untuk bisa menghormati rumah sakit agar menjadi tempat netral. “Kita berharap semua pihak menghormati rumah sakit agar menjadi tempat netral dan tak dijadikan titik tempur yang melanggar konvensi Jenewa atas netralitas rumah sakit dan tenaga kesehatan,” kata Sarbini, Senin (25/3/2024). Ia mengungkap, Rumah Sakit Indonesia di Rakhine, yang diinisiasi oleh MER-C, selama empat bulan terakhir terpaksa tutup karena bentrok antara Tentara Myanmar dan Arakan Army (AA) terjadi di dekat Rumah Sakit. Sehingga dokter dan perawat tak berani tinggal di sana. “Karena pertempuran juga dekat dengan kampung di dekat Rumah Sakit, maka masyarakat banyak mencari perlindungan di luar kampung,” ujarnya. Sarbini juga meminta agar Rumah Sakit segera di buka kembali, agar bisa berfungsi sebagai tempat pelayanan kesehatan. Is juga menyerukan kepada pihak yang bertikai agar mundur dan tidak menjadikan rumah sakit ‘terlibat’ dalam pusara konflik. Pada 10 Desember 2019, bangunan RS Indonesia yang sangat kental nuansa merah dan putih diserahterimakan kepada pemerintah Myanmar melalui Kementerian Kesehatan dan Olahraga Myanmar di Ibukota Myanmar, Nay Pyi Taw. Usai pembangunan, pengadaan alat kesehatan menjadi proses selanjutnya yang dilakukan oleh Palang Merah Indonesia (PMI). RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar, merupakan bagian dari diplomasi kemanusiaan MER-C. Keberadaan Rumah Sakit yang dibangun oleh umat Muslim dan Budha Indonesia ini diharapkan dapat mendorong terciptanya perdamaian di Myanmar.

Warga Palestina Desak Pembukaan kembali Layanan Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara

Warga Palestina di Gaza Utara hari Sabtu (24/2) melakukan protes untuk mendesak dibukanya kembali layanan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza yang terpaksa ditutup sejak akhir November karena kerusakan parah setelah serangan Israel.Warga Palestina di Gaza Utara hari Sabtu (24/2) melakukan protes untuk mendesak dibukanya kembali layanan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza yang terpaksa ditutup sejak akhir November karena kerusakan parah setelah serangan Israel.   Puluhan pengunjuk rasa memasang poster di depan Rumah Sakit Indonesia di Beit Lahiya, Gaza Utara, meminta dibukanya kembali layanan rumah sakit atau disediakannya rumah sakit lapangan. Anak-anak yang ikut dalam protes tersebut memukul alat-alat makan untuk menunjukkan bahwa mereka kekurangan makanan. “Kami ingin menunjukkan kepada dunia kerusakan Rumah Sakit Indonesia yang dilakukan oleh Tentara Pendudukan Israel lebih dari tiga bulan lalu. Mereka menghancurkan rumah sakit saat setengah juta orang dirawat di dalamnya,” kata Jamil Ashour, salah satu Warga Gaza yang ikut melakukan protes. Menanggapi hal tersebut, Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dr. Sarbini Abdul Murad mengatakan, Warga Palestina di Gaza Utara sedang menyampaikan aspirasi mereka, keinginan yang sangat dalam agar Rumah Sakit Indonesia dapat difungsikan kembali.  “Mereka tidak tahu mau minta ke siapa agar rumah sakit ini bisa difungsikan. Mau minta sama pemerintah di sana pemerintahnya sudah tidak berfungsi, kemudian kepada WHO mereka tidak bisa berbuat banyak. Menurut saya tuntutan mereka ini adalah sebuah aspirasi keinginan yang sangat dalam dari mereka agar Rumah Sakit kebanggaan bersama ini bisa difungsikan kembali,” ujarnya.  Sarbini mengatakan, aksi protes ini juga merupakan isyarat rasa frustasi Warga Gaza Utara atas peristiwa yang terjadi kepada mereka sampai dengan hari ini. Warga Gaza Utara telah terisolir dari dunia selama kurang lebih empat bulan. Meski bantuan masuk ke Jalur Gaza, tapi tidak sampai ke wilayah mereka.  “Demonstrasi kemarin merupakan puncak frustasi mereka untuk menyuarakan  penderitaan mereka yang menurut saya hari ini dunia melupakannya. Mereka berinisiatif melakukan demonstrasi di depan Rumah Sakit Indonesia, karena merupakan simbol bantuan masyarakat internasional khususnya Indonesia, agar suara mereka benar-benar di dengar dan dunia dapat mengambil langkah-langkah tegas untuk menyelesaikan penderitaan panjang yang begitu menyedihkan,” kata Sarbini.  “Saat ini Rumah Sakit Indonesia sudah lumpuh total, saya begitu terharu dan sedih melihat Rumah Sakit Indonesia tidak bisa berfungsi, kita tidak bisa memberikan apa-apa kepada penderitaan Gaza hari ini,” ucapnya.  Terkait pembukaan kembali Rumah Sakit Indonesia, Sarbini mengungkapkan MER-C  sudah membuka donasi dan berkomitmen untuk membangun kembali Rumah Sakit tersebut. Ia mengatakan, pembangunan kembali Rumah Sakit akan membutuhkan dana yang cukup besar, karena tidak hanya bangunannya yang mengalami kerusakan parah, alat-alat kesehatan yang ada juga telah dihancurkan oleh tentara israel

MER-C Bangun Networking Lewat Konferensi Pembangunan Kembali Fasilitas Kesehatan Gaza di Yordania

MER-C mengirimkan tiga relawan ke Yordania untuk berpartisipasi dalam konferensi internasional membangun kembali fasilitas kesehatan di Jalur Gaza. Melalui konferensi ini, MER-C membangun networking dengan NGO internasional dan asosiasi profesi medis dari berbagai negara serta pejabat pemerintahan. Networking ini nantinya akan  dibutuhkan untuk program-program MER-C di Gaza dalam rangka membantu warga Palestina. Tidak hanya dalam hal pembangunan kembali Rumah Sakit Indonesia di Gaza, tetapi juga program kemanusiaan lainnya. “Pada saat konferensi, kami berdiskusi, memformulasikan bagaimana memobilisasi bantuan medis semaksimal mungkin pada saat perang dan mempersiapkan untuk membangun sistem kesehatan di Gaza setelah perang berakhir,” kata Ketua Tim dr. Arief Rachman. “Tetapi kita semua sadar hal yang paling utama saat ini adalah gencatan senjata, agar kita dapat memberikan bantuan medis atau bantuan kemanusiaan lainnya kepada warga Palestina. Konferensi ini adalah inisiasi awal untuk membangun fasilitas kesehatan di Gaza dan hasil dari konfrensi dituangkan dalam The Amman Declaration to Rebuild Health Sector in Gaza,” ujarnya. The 1st International Conference to Rebuild Health Sector in Gaza merupakan konferensi Internasional pertama untuk membangun kembali sektor kesehatan di Gaza yang diinisiasi oleh The Jordan Medical Association and the National Arab American Medical Association (NAAMA). Konferensi ini diselenggarakan bekerja sama dengan asosiasi, entitas dan serikat pekerja profesi, serta lembaga dari berbagai sektor yang mewakili lebih dari 25 negara. Konferensi ini menyoroti sektor kesehatan di Gaza pasca-konflik, menyajikan laporan rinci, studi lapangan dan rencana komprehensif untuk rekonstruksi dan pengoperasian sektor kesehatan di Gaza. Misi dari konferensi ini adalah memobilisasi dan membimbing komunitas medis global dalam memberikan dukungan ekstensif untuk menghidupkan kembali sistem layanan kesehatan yang tangguh di Gaza. “Kami memperkirakan adanya kebutuhan mendesak akan rumah sakit dan klinik lapangan segera setelah keadaan memungkinkan, mengingat konflik yang sedang berlangsung, ” kata Arief. “Pada tahap berikutnya, penekanan kami akan beralih ke pembangunan kembali rumah sakit, sekolah kedokteran dan berbagai fasilitas kesehatan yang telah dibongkar. Tujuan utama kami adalah menciptakan lingkungan yang aman dan terpelihara bagi penduduk lokal. Secara kolaboratif, kami berkomitmen untuk membangun kembali infrastruktur layanan kesehatan di Gaza demi masa depan yang lebih sehat dan tangguh,” tambahnya. Konferensi ini diakhiri dengan seruan untuk mengadakan pertemuan internasional kedua yang akan menggali lebih dalam kebutuhan dan persyaratan sektor kesehatan di Gaza secara kuantitatif, sembari membahas lebih lanjut inisiatif penggalangan dana dan sumber daya. Pertemuan kedua ini juga akan fokus pada tantangan dan kondisi khusus terkait perang, dengan mempertimbangkan tantangan unik lainnya terhadap ekosistem layanan kesehatan di Gaza.  

Eksklusif dari Gaza Utara : Kondisi RS Indonesia Bantuan MER-C yang Terus Berjalan di Tengah Situasi Gaza Utara yang Memprihatinkan

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) terus menyalurkan bantuan masyarakat Indonesia untuk warga Gaza yang saat ini berada dalam situasi yang memprihatinkan akibat agresi Israel sejak 7 Oktober 2023. Warga Gaza saat ini mengungsi di kamp-kamp penampungan, sekolah-sekolah atau tetap bertahan di rumah mereka yang telah hancur. Mereka kekurangan air bersih, makanan, obat-obatan dan kebutuhan dasar lainya akibat tindakan Israel yang melarang masuknya bantuan ke Jalur Gaza. Di tengah situasi ini, MER-C melalui relawannya di Jalur Gaza terus membagikan bantuan secara langsung kepada para pengungsi. Saat ini dua relawan MER-C asal Indonesia Fikri Rofiul Haq dan Reza Aldila Kurniawan terus melanjutkan program bantuan MER-C di Gaza bagian Selatan. Keduanya bersama para pasien dan tenaga Kesehatan Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara serta warga yang berlindung di sana terpaksa mengungsi saat Pasukan Israel menyerang dan menghancurkan Rumah Sakit. Namun MER-C akhirnya kembali terhubung dengan relawan lokal yang masih bertahan di Gaza Utara, setelah sebelumnya wilayah ini terisolasi akibat serangan baik darat maupun udara yang dilakukan oleh pasukan Israel. Sejak 21 Januari 2023, MER-C juga dapat menyalurkan bantuan untuk warga Gaza Utara. MER-C terus melakukan komunikasi dengan relawan lokal di Gaza Utara, menanyakan situasi di sana serta kebutuhan apa saja yang diperlukan oleh para pengungsi. Berikut up date situasi yang disampaikan relawan lokal MER-C; 1. Bagaimana kondisi di Gaza Utara saat ini? Apakah masih ada tentara Israel dan serangan udara atau darat? Situasi di Jalur Gaza bagian utara saat ini sangat sulit untuk mendapatkan makanan. Masyarakat tidak punya uang untuk membeli bahan pangan dan stoknya sudah hampir habis dalam waktu sepekan. Selain itu, harga bahan pokok juga sangat mahal. Harga sekantong tepung adalah 1.200 shekel, satu kilo daging 120 shekel dan beras per kilo mencapai 20 shekel. Tentara Israel sendiri saat ini telah ditarik sepenuhnya dari Jalur Gaza utara, tetapi serangan udara masih sesekali terjadi. 2. Bagaimana kondisi warga dan pengungsian di Gaza Utara? Sebagian besar masyarakat di Jalur Gaza bagian utara saat ini berada di pusat-pusat penampungan dan sebagian lainnya berada di rumah-rumah. Meskipun kondisinya rusak dan hancur namun mereka tinggal di ruangan yang layak huni. Para pengungsi sangat sulit mendapatkan air dan makanan. Kondisi masyarakat di Jalur Gaza sangat tragis. Kami kesulitasn dalam segala hal. Kondisi kami di pengungsian tidak dapat digambarkan. Penyakit menyebar pada anak-anak dan kami kekurangan makanan.3. Bantuan apa saja yang sangat dibutuhkan warga Gaza di pengungsian saat ini? Semua orang di sini membutuhkan makanan, pakaian dan susu untuk bayi serta pakaian hangat 4. Apakah pembagian bantuan makanan ini dapat dilakukan setiap hari? Ya, saya berusaha menghemat lebih banyak uang, agar bisa membantu lebih banyak saudara-saudara yang mengungsi 5. Apa kendala yang dihadapi relawan lokal dalam pelaksanaan program bantuan makanan ini mulai dari pencarian bahan, pengelolaan dan pembagiannya? Karena harga beras dan daging setiap hari naik dan harga satu kilo daging hari ini mencapai 120 Shekel. Sekarung beras mencapai lebih dari 500 shekel 6. Berapa banyak paket makanan yang biasa dibagikan oleh relawan untuk warga Gaza? Saya sekarang membagikan bantuan sebanyak 500 nampan nasi, namun ini tentu tidak cukup untuk semua pengungsi yang ada di satu sekolah. 7. Kemana saja area distribusi bantuan makanan? Saya membagikan makanan di sekolah dekat RS Indonesia yang menjadi tempat pengungsian, di beberapa daerah padat penduduk di sekitar RS Indonesia dan terkadang di Kamp Jabalia. 8. Bagimana kondisi RS Indonesia saat ini? Rumah sakit Indonesia kini ditutup karena pendudukan Israel dengan sengaja menyabotase peralatan medis, menghancurkan total ruang gawat darurat, merusak lantai tiga, menghancurkan ruangan dokter, membakar generator listrik, menghancurkan saluran listrik dan air. Banyak bagian rumah sakit yang hancur, namun kini ditutup dengan pembatas tanah. Memperbaiki dan memulihkan layananya akan membutuhkan banyak usaha dan dana. 9. Bagaimana kondisi wisma indonesia (Wisma dr. Joserizal)? Bagian dalam hancur, semua barang mulai dari meja, kaca dan pintu rumah semuanya rusak. Bangunan di sebelah utara dibom, mobil rusak parah, listrik dan jaringan air telah dirusak. Hampir semuanya hancur. 10. Berapa rumah sakit yang masih bisa beroperasi di Gaza Utara? Kini terdapat dua rumah sakit yang masih beroperasi di Jalur Gaza bagian utara yaitu Rumah Sakit Kamal Adwan dan Rumah Sakit Al Awda, dengan kemampuan yang tentu sangat tidak memadai. 11. Apa pesan yang ingin disampaikan untuk rakyat Indonesia? Saya ingin menyampaikan pesan dari masyarakat Gaza dan menggambarkan situasi kami kepada Anda, saudaraku. Kami telah mencapai titik di mana Anda akan menangis karena tidak mampu memberi anak-anak Anda satu syikal pun atau menyediakan makanan untuk mereka. Sekarang di Gaza, 100 syikal tidak berarti apa-apa dan hanya cukup untuk satu kali makan karena harga yang mahal. Rakyat di Gaza sedang sekarat karena penindasan dan kesedihan. Kami sedang mengalami keadaan di mana tidak ada yang dapat memahaminya kecuali Allah. Bayangkan seorang lelaki tua mendatangi Anda dan meminta makan siang, Demi Tuhan, inilah puncak kehinaan yang telah kami capai saat ini. Tapi kami bersyukur kepada Allah atas apa yang telah menimpa kami dan kami akan diberi pahala, Insya Allah. Insya Allah kami akan berdiri teguh, bersabar dan memenangkan surga, Insya Allah.  Kami berharap syahid di jalan Allah setiap hari, kami tahu pahala kami di sisi Allah. Semoga Allah memberkati Anda karena telah berdiri di samping kami, mendukung kami dan menyediakan makanan untuk orang-orang di Gaza, dan semoga Allah menjadikan ini sebagai pahala atas perbuatan baik Anda. Apa yang terjadi di Gaza, saudaraku, adalah ujian dari Tuhan bagi seluruh dunia dan Allah akan memberi pahala kepada orang-orang yang berbuat baik, sabar, dan tabah. Insya Allah kami akan meraih kemenangan besar, betapapun hancurnya kami dan telah kehilangan orang yang kami cintai. Alhamdulillah atas segalanya. Anak-anak Gaza telah tumbuh dewasa sebelum waktunya dan kesedihan memenuhi wajah masyarakat karena kurangnya kemampuan untuk memenuhi kebutuhan anak-anak dan perempuan mereka. Ya Allah, Rabb semesta alam, kasihanilah kami. Demikian up date terkini dari relawan kami di Gaza Utara. Mohon doa dari saudara-saudara sekalian semoga relawan MER-C serta seluruh warga Gaza senantiasa dalam lindungan Allah  dan semoga mereka diberi kesabaran atas apa yang sedang terjadi.

Tim MER-C Berangkat ke Yordania untuk Ikuti Konferensi Pembangunan Kembali Fasilitas Kesehatan Gaza

Senin/5 Februari 2024, Tim MER-C bertolak ke Yordania untuk mengikuti konferensi terkait pembangunan kembali fasilitas kesehatan di Jalur Gaza yang hancur akibat serangan Israel.   Tim yang berangkat terdiri dari tiga orang, yaitu Presidium MER-C Dr. Arief Rachman, SpRad, Relawan MER-C Marissa Noriti, S.Farm dan Relawan MER-C Cabang Medan Kipa Jundapri, S.Kep., Ners., M.Kep. “Insyaallah kita akan berangkat ke Amman, Yordania dalam rangka menghadiri konferensi membangun kembali fasilitas kesehatan di Jalur Gaza. Jadi konferensi ini diikuti berbagai organisasi internasional yang memang mempunyai concern membangun kembali fasilitas kesehatan di Gaza,” kata Marissa, salah satu anggota Tim yang berangkat ke Yordania. Ia mengatakan, di sana Tim akan melakukan kordinasi dengan berbagai pihak, sehingga diharapkan dengan mengikuti konferensi ini bisa membantu membuka jalan pembangunan kembali Rumah Sakit Indonesia di Gaza yang juga mengalami kerusakan akibat serangan Israel. “Sebenarnya kita ada agenda lain juga yaitu koordinasi dengan berbagai NGO, serta melihat situasi di sana. Kita juga sedang mencari jalan untuk masuk ke Gaza,” ujarnya. Marissa menambahkan, Tim sendiri rencananya berada di Yordania sekitar 1- 2 minggu, kemudian akan menyusun strategi kembali apa yang akan dilakukan setelah konferensi. “Nanti kita atur strategi lagi, apakah kita langsung kembali ke Indonesia atau bagaimana, nanti kita akan putuskan,” katanya.

Kajian Musawarah dan Kitabisa Salurkan Bantuan untuk Palestina Lewat MER-C

Kajian Musawarah, komunitas pengajian yang diinisiasi oleh para artis, serta situs inisiatif dan campaign program sosial, Kitabisa, menyalurkan bantuan untuk warga Palestina di Jalur Gaza melalui Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), Rabu (24/1). Masing-masing menyerahkan donasi sejumlah Rp. 126. 195.000 dari Kajian Musawarah dan Rp. 1.576.195.00 dari Kitabisa. Perwakilan Kajian Musawarah Dimas Seto dan Rizal ‘Armada’ mengatakan kunjungan ke MER-C membawa semangat untuk terus berbuat kebaikan lebih peduli terhadap rakyat Palestina. “Kunjungan kami ke MER-C untuk menyalurkan titipan dari teman-teman yang sudah berdonasi lewat kajian Musawarah ini menambah semangat untuk berbuat kebaikan. Semoga Allah juga izinkan kami mewakili teman-teman di Musawarah bisa terus punya spirit yang sama seperti MER-C,” kata Rizal. “Ini takdir Allah kita bisa datang ke sini, banyak hal baru yang kita tahu tentang Palestina dari MER-C. Bener kata mas Rizal, pulang dari sini dapat booster semangat untuk lebih peduli kemanusiaan terhadap saudara-saudara kita di Palestina dan berharap RS Indonesia bisa beroperasi lagi,” ujar Dimas. “Berkah selalu untuk tim MER-C, dr. Joserizal dan semua yang ada di bawahnya,” ujar keduanya. “Harapannya semoga apa yang diberikan, meski jika dibandingkan apple to apple dengan apa yang dilakukan MER-C tentu tidak sebanding. Tapi spiritnya adalah kami ingin menjadi seperti semutnya nabi Ibrahim. Walaupun kecil tapi keberpihakan kami kepada Al Aqsa dan Palestina jelas,” tambah keduanya. Dalam kesempatan yang sama, perwakilan dari Kitabisa M. Hibatur Rahman mengucapkan terima kasih kepada MER-C sebagai penyalur donasi untuk warga Palestina di Jalur Gaza. “Hari ini kami hadir ke MER-C tentunya kami berterima kasih karena MER-C mau menyambut kami dengan baik, menjadi perpanjangan tangan dari orang-orang baik yang menyalurkan donasinya dari Kitabisa, yang menitipkan amanah ini untuk disalurkan ke saudara-saudara kita di Palestina khususnya di Jalur Gaza,” kata Rahman. “Jadi hari ini kami mengantarkan donasi bersama kajian Musawarah, hasil yang sudah dikumpulkan dari ribuan bahkan puluhan ribu orang yang berdonasi lewat Kitabisa,” ujarnya. Ia juga mengungkapkan, pihaknya memilih MER-C sebagai penyalur donasi karena MER-C punya rekam jejak konkret yaitu Rumah Sakit Indonesia. “Track record teman-teman MER-C juga cukup panjang di Palestina, mulai 2009, 2011 dan seterusnya, sehingga kami merasa ini menjadi salah satu hal yang patut kita kolaborasikan bersama. Mewakili orang-orang baik yang sudah menitipkan donasi melalui Kitabisa, semoga ini dapat tersalurkan dengan baik dan lancar. Semoga bantuannya juga bisa dinikmati saudara-saudara kita yang sedang mendapatkan bencana yang sungguh menggetarkan jiwa dan sulit,” ungkapnya.  

Program Terus Berlanjut, MER-C Salurkan Bantuan Makanan di Gaza Utara

Program bantuan di Jalur Gaza terus berlanjut, MER-C melalui relawan lokalnya sejak Ahad (21/1) berhasil menyalurkan bantuan makanan untuk warga Palestina di Gaza Utara yang saat ini terisolasi. Bantuan berupa makanan siap saji disalurkan di pusat-pusat penampungan dan rumah-rumah yang terisolasi di sekitar kamp Jabaliya di Gaza Utara. Saat ini warga Palestina yang terisolasi di Gaza Utara berada di pusat penampungan yang sebgaian besar mereka adalah anak-anak dan perempuan. Relawan MER-C mengatakan, selain makanan mereka juga butuh bantuan, berupa baju anak-anak, baju musim dingin, pampers dan susu. “Kami ucapkan terima kasih kepada rakyat Indonesia atas keberkahan usaha-usahannya yang diberikan untuk rakyat Palestina, baik yang ada di utara dan selatan Jalur Gaza,” kata relawan MER-C. “Semoga, akan ada bantuan yang terus berkelanjutan, seperti yang telah kami salurkan ke warga Gaza yang tengah terisolasi dan mengungsi di pusat-pusat penampungan. Salam hangat untuk Indonesia. Love you full Indonesia. Semoga Allah memberi keberkahan pada kalian semua,” tuturnya. MER-C baru berhasil menyalurkan bantuan ke Gaza utara yang saat ini tersolasi akibat serangan membabi buta Israel. Sebagian besar warga Palestina di Gaza utara telah mengungsi ke Gaza selatan  termasuk dua relawan MER-C asal Indonesia Fikri Rofiul Haq dan Reza Aldila. Untuk itu penyaluran bantuan ke Jalur Gaza utara saat ini dilakukan oleh relawan lokal.    

Presidium MER-C: Boikot Produk Terafiliasi Israel Bagian dari Diplomasi Kemanusiaan

Presidium MER-C dr. Henry Hidayatullah mengatakan, pemboikotan terhadap produk-produk yang terafiliasai dengan Zionis Israel merupakan bagian dari diplomasi kemanusiaan untuk Palestina. Hal itu ia sampaikan saat menjadi pembicara dalam acara Milad Indonesia Halal Watch ke-11 dan Launcing Pemaparan Hasil Survei Pengetahuan, Sikap dan Efektivitas Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 83 Tahun 2023 Tentang Boikot Produk Terafiliasi Israel terhadap Masyarakat Indonesia, Selasa (23/1) di Jakarta. “Boikot produk menjadi bagian dari diplomasi kemanusiaan, karena kita harapkan dengan boikot produk ini kemudian terjadi kerugian, sehingga suplai-suplai senjata menurun dan paling tidak agresi berhenti,” ujar dr. Henry. Ia mengatakan, MER-C sendiri telah melakukan upaya diplomasi kemanusiaan ini dengan mendirikan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza, dari bantuan masyarakat Indonesia. “Rumah Sakit ini kita dirikan dan menjadi Rumah Sakit Indonesia, untuk menunjukkan kepada dunia bahwa rakyat Indonesia bersama rakyat Palestina, dengan harapan Palestina akan Merdeka. Ini adalah diplomasi kemanusiaan,” ungkapnya. Rumah Sakit Indonesia yang resmi diserahkan untuk rakyat Palestina pada Januari 2016 ini mengalami kerusakan parah akibat serangan Israel pada Oktober lalu. Namun MER-C berkomitmen akan segera melakukan perbaikan saat situasinya memungkinkan. Lebih lanjut, dr. Henry mengatakan masyarakat masih membutuhkan adanya aturan turunan dari fatwa MUI terkait pemboikotan terhadap produk terafiliasi Israel, yaitu membuat daftar produk-produk tersebut. karena saat ini masyarakat mengidentifikasi sendiri produk yang diboikot termasuk MER-C. Namun menurutnya, fatwa ini telah membawa dampak positif dengan lahirnya kesadaran umat secara lebih luas untuk membeli produk alternatif dan menciptakan potensi untuk memproduksi produk seperti produk yang diboikot. dr. Henry juga menyerukan konsistensi untuk terus menggaungkan aksi boikot ini, karena selama ini boikot masih bersifat temporer. Ini tidak hanya konsistensi MUI tapi konsistensi masyarakat secara umum. Ia juga meminta Langkah serupa dari pemerintah. “Seluruh dunia sudah berteriak tapi Israel tidak bergeming, masih terus melancarkan agresinya. Oleh sebab itu, maka sepanjang hayat pula kita harus mendedikasikan diri untuk Palestina, sebagaimana Bung Karno (Presiden Pertama Indonesia) menyatakan, selagi rakyat Palestina belum Merdeka, maka rakyat Indonesia bersama rakyat Palestina,” ujarnya.

MER-C Salurkan Bantuan 2000 Liter Air Bersih untuk Warga Gaza Setiap Harinya

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menyalurkan bantuan 2000 liter air bersih untuk warga Palestina di dua sekolah tempat pengungsian di Gaza Selatan setiap harinya, sejak Jumat (12/1). Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menyalurkan bantuan 2000 liter air bersih untuk warga Palestina di dua sekolah tempat pengungsian di Gaza Selatan setiap harinya, sejak Jumat (12/1). “Saat ini selain kami membuat program makanan cepat saji, toilet darurat dan pakaian hangat untuk anak-anak kecil, kami juga Alhamdulillah setiap harinya, in shaa Allah, akan membagikan 2000 liter air minum per hari untuk para pengungsi yang ada di dua sekolahan tempat kami berada,” kata Relawan MER-C di Gaza, Fikri Rofiul Haq. Ia mengatakan, saat ini total ada sekitar 1800 warga yang mengungsi dan lebih dari 100 warga luka-luka yang ada di dua sekolahan tempat mereka mengungsi. “Alhamdulillah antusias warga sangat senang sekali, banyak dari mereka datang langsung untuk mengambil air minum ini,” ujarnya. Ia menegaskan bantuan ini tidak diperjual belikan tapi dibagikan secara gratis, yang disediakan MER-C dari amanah masyarakat Indonesia melalui program MER-C yang ada di Jalur Gaza. Air Menjadi Krisis Utama di Jalur Gaza Lebih lanjut Fikri mengatakan, sampai saat ini air bersih menjadi salah satu krisis utama di Jalur Gaza. “Dari data yang saya dapatkan dari Otoritas Gaza, ada 400 warga yang terkena penyakit baik kulit, diare, pernapasan dan penyakit lainya akibat kekurangan air bersih. Saat ini truk-truk yang masuk ke Gaza masih dibatasi. Kurang dari 100 truk setiap harinya yang bisa memasuki Jalur Gaza, tapi ini jauh dari cukup karena Jalur Gaza membutuhkan setidaknya 1000 truk bantuan untuk menangani berbagai krisis, seperti krisis pangan, air bersih dan tempat tinggal,” tuturnya. Zionis Israel telah memblokade Gaza selama 17 tahun sejak 2006. Semua yang masuk ke Gaza dikontrol dan diatur Zionis Israel, sehingga tidak mudah mengirim bantuan ke Jalur Gaza. Kondisi ini semakin memburuk sejak serangan Israel ke Jalur Gaza 7 Oktober lalu.Zionis Israel telah memblokade Gaza selama 17 tahun sejak 2006. Semua yang masuk ke Gaza dikontrol dan diatur Zionis Israel, sehingga tidak mudah mengirim bantuan ke Jalur Gaza. Kondisi ini semakin memburuk sejak serangan Israel ke Jalur Gaza 7 Oktober lalu. Bantuan Makanan Baru-baru ini, MER-C juga membagikan paket makanan berupa telur dan kentang untuk sekitar 1800 pengungsi di Gaza Selatan. Bantuan makanan ini dibagikan oleh dua relawan MER-C, yang dalam proses pengolahan serta pembagiannya dibantu relawan lokal. Saat ini serangan Israel ke Jalur Gaza masih terus berlanjut. Fikri mengatakan, drone dan pesawat tempur Israel terus melintas di wilayah tempat mereka mengungsi, bahkan tak jarang Israel juga menyasar lokasi yang cukup dekat dengan pengungsian.  

MER-C Solo Bersama YISB dan Masjid Raya Fatimah Surakarta Gelar Kegiatan “Palestina Sepanjang Hayat”

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) cabang Solo bersama Yayasan Indonesia Santun Berdakwah (YISB) dan Takmir Masjid Raya Fatimah Surakarta pada hari Jumat (19/1) menggelar kegiatan “Palestina Sepanjang Hayat” berupa bakti sosial pengobatan gratis serta Tabligh Akbar dengan tema “Solo Bersama Palestina”.   Ketua MER-C Solo dr. Panji Arga Bintara mengatakan, masyarakat dan jamaah cukup antusias mengikuti acara pengobatan dan tabligh akbar serta acara lainya. Antusias terlihat dengan banyaknya peserta yang berkonsultasi dengan dokter dan mengikuti cek kesehatan yang disediakan.   “Pasien yang kita obati ada 39 pasien pria dan 30 pasien wanita. Adapun pengobatan yang kita lakukan yakni pengecekan tensi, gula darah, kolesterol dan asam urat, serta pemeriksaan fisik dan pemberian obat,” kata Panji.   Acara ini diawali dengan sholat Jumat berjamaah, kemudian pembagian makan siang gratis, thibbun Nabawi (bekam dan ruqiyah) serta donor darah bersama PMI Surakarta.     Acara ini juga menghadirkan sejumlah tokoh sebagai pembicara yaitu Mantan Menteri Kesehatan Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP, yang berbicara terkait peran masyarakat membantu Palestina secara nyata, Presidium MER-C dr Henry Hidayatullah, menyampaikan kondisi terkini RS Indonesia di Jalur Gaza, Ketua Yayasan Pendidikan Islam Isy Karima KH. Syihabuddin Abdul Muiz, L.c membahas tentang alasan umat Muslim harus mencintai Palestina, kemudian Tokoh Masyarakat KH Abah Muhammad Ali yang berbicara tentang hubungan baik bangsa Indonesia dengan Palestina.      

Silahkan bertanya?