MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

MUI Ajak Umat Islam Bantu RSI di Gaza (2-habis)

Rumah Sakit Indonesia di Gaza REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — RSI merupakan hadiah rakyat Indonesia untuk warga Palestina atas nama kemanusiaan. Derita bangsa Palestina, kata Din, sangat memilukan hati setiap Muslim karena telah menyebabkan jatuhnya banyak korban jiwa, termasuk kaum wanita dan anak-anak. Ia bersyukur, masyarakat Indonesia telah memberikan bantuan dan dukungan kepada bangsa Palestina melalui berbagai jalur. “Secara pribadi, saya menyampaikan dukungan dan memberikan apresiasi kepada MER-C yang telah memprakarsai pembangunan RSI di Gaza, dan kini telah berdiri.” RSI di Gaza memiliki sejarah panjang dan berliku sejak kemunculan gagasan pembangunannya pada 2009 ketika Israel melancarkan agresi ke wilayah Palestina tersebut. Salah satu pendiri MER-C, Joserizal Jurnalis, mengatakan, pembangunan RSI di Gaza beserta pengadaan alat kesehatannya harus diselesaikan dengan rapi. Sebab, RSI akan menjadi hadiah megah dari rakyat Indonesia untuk warga Palestina atas nama kemanusiaan. “Ini rumah sakit masyarakat Indonesia. Ketika rumah sakit siap beroperasi, kita akan memberikan bulat-bulat untuk rakyat Palestina,” ujarnya dalam jumpa pers di Jakarta, Rabu (30/4). Sejak wacana untuk membangun rumah sakit ini bergulir pada 2009, kata Joserizal, banyak pihak yang meragukan keberhasilannya. Namun, Jose dan rekan-rekannya di MER-C pantang menyerah. “Kalau dibom oleh Israel, ya nanti kita bangun lagi. Karena, yang jauh lebih penting adalah spirit rakyat Indonesia,” tegasnya. MER-C, kata Joserizal, memasang target untuk menyerahkan dana pembelian alat-alat kesehatan pada Oktober atau Desember mendatang. Ia berharap, RSI di Gaza akan menjadi rumah sakit modern yang menjadi pusat perawatan traumatologi dan rehabilitasi terlengkap di Palestina. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/14/05/21/n5x7l2-mui-ajak-umat-islam-bantu-rsi-di-gaza-2habis        

MUI Ajak Umat Islam Bantu RSI di Gaza (1)

Replika Rumah Sakit Indonesia di Gaza REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza, Palestina, telah selesai dibangun. Namun, untuk beroperasi sebagai pusat pelayanan kesehatan, rumah sakit tersebut masih membutuhkan alat-alat medis. Karena itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengimbau masyarakat Indonesia untuk memberikan bantuan, sehingga RSI di Gaza bisa segera bisa beroperasi. ”Masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam, sangat diharapkan untuk memberikan bantuan lanjutan kepada RSI di Gaza dengan perlengkapan medis sehingga dapat segera beroperasi,” kata Ketua Umum MUI Prof Din Syamsuddin. Din menjelaskan itu usai menerima kunjungan sejumlah perwakilan organisasi kemanusiaan, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) di kantor MUI, Jakarta, Selasa (20/5). Pascatuntasnya pembangunan pada Desember 2013, RSI Gaza masih membutuhkan alat-alat kesehatan yang nilainya ditaksir dua kali lipat dari biaya pembangunan. Untuk pengadaan alat kesehatan, dana yang dibutuhkan diperkirakan mencapai  Rp 65 miliar. Din mengatakan, masyarakat Indonesia harus terus mendukung dan membantu bangsa Palestina. Bukan hanya dalam pengadaan alat-alat medis di RSI di Gaza, juga membantu pendidikan anak-anak Palestina. ”Bantuan pangan juga masih sangat dibutuhkan oleh bangsa Palestina,” ujar Din. MUI, menurut dia, telah memberikan bantuan kepada bangsa Palestina melalui berbagai jalur. Jika ada kesempatan, MUI pun berencana mengunjungi RSI di Gaza. “Hal yang patut disyukuri bahwa melalui MER-C masyarakat Indonesia dapat mendirikan RSI di Gaza.” Hal tersebut, menurut Din, merupakan bukti nyata solidaritas masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam terhadap penderitaan bangsa Palestina. Penderitaan panjang yang disebabkan oleh penjajahan Israel. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/internasional/palestina-israel/14/05/21/n5x7e9-mui-ajak-umat-islam-bantu-rsi-di-gaza-1        

Artis Pun Dukung Pengadaan Alkes RS Indonesia di Gaza

JAKARTA. Artis papan atas Indonesia ternyata tidak hanya menghabiskan waktunya di dapur rekaman dan panggung hiburan Indonesia. Tetapi mereka pun peduli dan mendukung kampanye pengadaan alat  kesehatan (alkes) Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza.    SLANK grup musik Indonesia bergenre ‘rock and blues’, salah satu kelompok artis pendukungan gerakan kampanye ’50 ribu rupiah’ untuk pengadaan alkes tersebut. “Kita yang memiliki kesempatan memberikan sumbangan donasi untuk membantu saudara-saudara kita di Palestina sana, mari kita ikut berbagi,” ujar Kaka, vokalis Slank pada acara Konferensi Pers dan Peluncuran Video Campaign RS Indonesia di Gaza, Jakarta, Rabu (30/4/2014) beberapa waktu lalu. Grup musik yang dibentuk Bimbim akhir 1983, dengan lirik-lirik lagu anak muda dan beberapa di antaranya berupa kritik sosial, mengajak Slankers (sebutan untuk para penggemar Slank) dan generasi muda untuk ikut berpartisipasi menyumbangkan dana membantu pengadaan alkes RS Indonesia di Gaza. “Dengan membahagiakan orang lain, pasti kita akan berkah, ini keajaiban sedekah, ini gerakan kemanusiaan, walau dianggap sedikit tapi berarti” ujarnya.   Wali Menggugah Grup musik terkenal lainnya, Wali Band, yang memiliki jutaan penggemar di kalangan anak muda, turut mendukung pengadaan alkes guna mengisi RS Indonesia, yang sudah berdiri megah dan berwibawa di lahan wakaf seluas 16.261 m2 di daerah Bayt Lahiya, Gaza Utara. Apoy, salah satu personil Wali mengatakan, pengadaan alkes wajib didukung seluruh masyarakat, karena jelas-jelas untuk kepentingan warga yang sangat memerlukan di Palestina. Ia bersama personil Wali lainnya, Faank (vokal), Tomi (drum) dan Ovie (keyboard), juga mengajak Para Wali (sebutan untuk penggemarnya) ikut berbagi menggalang dana kemanusiaa tersebut. Selama ini lirik-lirik lagu pop Wali dikenal luas, dengan sentuhan sederhana, mengena, dan banyak mengandung nilai-nilai relegius. Maklum saja, personalnya adalah jebolan pondok pesantren dan perguruan tinggi Islam terkenal di Jakarta. Personal Wali, Faank (vokalis) dan Apoy (gitaris), jebolan Ponpes La Tansa, Pandegelang Banten, Tomi (drum), lulusan Ponpes Al Fatah Lampung dan Ovie (keybord) lulusan Ponpes Al-Hikmah Annajiyah Bogor. Seolah ingin menggugah masyarakat untuk membantu alat kesehatan RS Indonesia di Gaza, untuk mencari berkah, Wali menyentil pendengarnya untuk gemar bersedekah. Seperti dalam lirik lagu ‘Cari Berkah’ (biasa disingkat Cabe), Wali bersenandung pantun, “Bang, beli bawang, beli bawang gak pake kulit. Bang, jadi orang, jadi orang jangan pelit-pelit. Neng, beli batik, beli batik  warnanya terang. Neng, tambah cantik, kalo sering bantu orang”. Kepada masyarakat yang memiliki kelebihan harta, Wali pun meminta untuk jangan sungkan-sungkan menolong, sebab harta tidak akan dibawa mati. Tetapi yang diberikan itulah yang membawa berkah.  Lanjutan lagu ‘Cabe’ tadi, “Banyak harta ngapain (ngapain). Kalo gak berkah pikirin (pikirin).  Oh punya harta gak mungkin (gak mungkin), dibawa mati. Hidup indah bila mencari berkah. Punya rezeki bagiin (bagiin). Bantu yang susah tolongin (tolongin). Oh, jadi miskin gak mungkin (gak mungkin), Allah yang jamin. Hidup indah bila mencari berkah”. Selain Slank dan Wali, artis lain yang juga turut memberikan dukungan RS Indonesia di Gaza, Palestina, di antaranya Jihan Fahira, Naif, Sore, Vadi Akbar dan Ombat Tengkorak Band. Video lengkap kampanye penggalangan dana untuk Alat Kesehatan RS Indonesia dapat dilihat di http://www.youtube.com/watch?v=VOsH7xGf4IE .     Ikatan Indonesia-Palestina Sementara itu, Kepala Divisi Penggalangan Dana MER-C, Luly Larissa Agiel, mengatakan, pengadaan alkes memerlukan anggaran sekitar Rp 65 milyar. Menurutnya, Pembangunan RS Indonesia di Gaza, yang mulai dikerjakan sejak 14 Mei 2011, dibangun oleh MER-C dengan para relawan dari Indonesia, dan dukungan donatur rakyat Indonesia. Ia menambahkan, RS ini memiliki tipe Trauma Center & Rehabilitation, dengan kapasitas 100 tempat tidur, serta bangunan 2 lantai dan 1 lantai basement. Bangunan atap RS ini didesain berbentuk segi delapan, seperti kubah Masjid Al-Aqsha.  “Ini diharapkan menjadi karya anak bangsa dan menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina,” ujarnya.  Apalagi, katanya, seluruh donasi berasal dari masyarakat Indonesia. Bahkan, sebagian besar berasal dari kantong-kantong kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Untuk itu, bagi masyarakat yang berniat memberikan bantuan donasi untuk Alat Kesehatan RS INDONESIA di Gaza Palestina dapat disalurkan melalui: BNI Syariah, No. Rek. 08.111.929.73 BCA, No. Rek. 686.0153.678 BRI, No. Rek. 033.501.0007.60308 BSM, No. Rek. 700.1352.061 BMI, No. Rek. 301.00521.15 atas nama Medical Emergency Rescue Committee ————————————– (MINA/MER-C.Red:AFTA)                

Campaign Alat Kesehatan RS Indonesia Diresmikan

Jakarta – Pada tanggal 30 April 2014 telah diadakan peluncuran video Campaign Rumah Sakit Indonesia di cafe The Cone Indonesia, FX Lifestyle X’nter lantai 7. Acara dibuka oleh Hengky Saing yang membawakan lagu “Satu untuk Semua”. Lagu ini diciptakan Hengky dan dipersembahkan khusus untuk penggalangan dana bagi alat kesehatan Rumah Sakit Indonesia. Acara dilanjutkan dengan penayangan video Campaign penggalangan dana bagi pengadaan alat kesehatan Rumah Sakit Indonesia, yang menampilkan di antaranya Slank, Wali, Bapak Adi Sasono, Jihan Fahira, Naif, Vadi Akbar, Sore, White Shoes & the Couples Company, Wanadri, Farida Thalib, Indra Hidayat dan seniman cilik Salma. Ketua Presidium MER-C dr  Henry Hidayatullah mengatakan bahwa banyak peristiwa yang mengiringi proses pembangunan RSIndonesia dan RSIndonesia merupakan satu-satunya rumah sakit di Palestina yang dibangun atas nama rakyat. Acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dengan Presidium MER-C dr Joserizal Jurnalis SpOT, presidium MER-C Ir. Farid Thalib, penanggung jawab pengadaan alat kesehatan RSIndonesia Ahyaudin Sodri, site manager RSIndonesia Edy Abu Fikry dan mechanical electrical manager RSIndonesia Karidi. Slank, Salma, Vadi Akbar, dan Hengky Saing hadir untuk menyatakan dukungannya terhadap program pengadaan alat kesehatan RSIndonesia. Acara ditutup oleh penampilan oleh seluruh peserta press conference di bawah arahan Sanggar Saung Mang Udjo yang membawakan lagu “Tanah Air”.                

MER-C – RRI Kampanyekan Penggalangan Dana RSI Gaza

Jakarta, 15 Jumadil Akhir 1435/15 April 2014 (MINA) – Lembaga kemanusian medis MER-C (Medical Emergency Rescue Committe) dan Radio Republik Indonesia (RRI) Jakarta, menandatangani MoU kesepakatan terkait kampanye iklan penggalangan dana untuk pengadaan peralatan kesehatan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza. Naskah kesepakatan tersebut ditandatangani di gedung RRI Jakarta, Selasa oleh anggota Presidium MER-C Dr. Arief Rachman dan Kepala RRI Jakarta, Herman Zuhdi.  Dalam kesepakatan itu, RRI Jakarta secara sosial akan menyiarkan iklan kampanye penggalangan dana RS Indonesia melalui Gerakan Rp 50 ribu/orang untuk alat kesehatan. Ada pun MER-C akan memberikan bantuan pelayanan medis gratis kepada RRI Jakarta dalam berbagai acara. Herman mengatakan, MER-C adalah lembaga kemanusiaan di bidang medis yang kerjanya sudah terlihat nyata di masyarakat. “Saya melihat MER-C adalah suatu komunitas yang kiprah dan kinerjanya sudah bisa kita lihat. Terutama berdirinya RS Indoensia di Gaza, tentunya membutuhkan suatu upaya kerja keras, cerdas dan ikhlas. Saya kira itu sejalan dengan RRI,” ujar Herman. Menurutnya, kerjasama tersebut adalah awal kolaborasi yang baik dan diharapkan bisa terus berlanjut hingga jaringan RRI di wilayah Indonesia lainnya dapat melakukan hal yang serupa. “Saya mempelajari dan melihat bagaimana kiprah MER-C di masyarakat dan ketika kami bergabung bersama dalam layanan bantuan bagi korban banjir di Kampung Pulo, Jakarta, MER-C tanpa menghitung rupiah,” kata Herman. Sementara itu, Dr. Arief Rachman mengakui bahwa MER-C sangat membutuhkan media partner, terutama untuk menyebarluaskan kempanye tentang RS Indonesia di Gaza, khususnya Gerakan Rp 50 ribu/orang. “Kita tahu jaringan RRI di Indonesia dari ujung timur hingga ujung barat, Sabang sampai Merauke. Semakin banyak orang yang tahu, kami harap akan semakin cepat upaya pembelian alat kesehatan RS Indonesia di Gaza terlaksana,” kata Arief. Arief menjelaskan bahwa RS Indonesia di Gaza adalah karya anak bangsa, di mana mulai dari gambar rancangannya hingga nanti asistensinya ketika operasional, semua dari Indonesia. Bahkan desain di dalam rumah sakit akan bernuansa khas Indonesia, seperti adanya corak batik dan tapis Lampung. Komentar dari masyarakat dan para pejabat di Gaza sangat baik dan kagum sekali dengan struktur rancangan RS Indonesia yang sangat berbeda dengan yang lain. Hanya ada dua negara yang menyumbang rumah sakit di Gaza, yaitu Uni Eropa dan Indonesia. Uni Eropa menyumbang dengan gabungan danan dari negara-negara Eropa. “Jika disepadankan, level Indonesia di Gaza sama dengan Uni Eropa. Ini suatu kebanggaan bagi kita yang perlu kita sampaikan kepada masyarakat Indonesia di tengah gonjang-ganjing dalam negeri,” tambah Arief. (L/P09/EO2). Sumber : http://mirajnews.com/web/indonesia/nasional/17527-mer-c-dan-rri-jakarta-tandatangani-mou-untuk-rs-indonesia.html                

RSI Gaza, Penyambung Tali Batin Rakyat Indonesia dan Palestina (3-habis)

Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Distrik Beit Lahiya, Gaza utara, Palestina. REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Yoebal Ganesha Rasyid Sang mufti telah menyatakan dukungan sebelum negara Indonesia resmi diproklamasikan. Saat itu, dari tempat pengungsiannya di Jerman, Syekh Muhammad Amin al-Husaini menyatakan rakyat Palestina mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dukungan ini disiarkan Radio Berlin berbahasa Arab pada 6 September 1944. Pernyataan dukungan tersebut gaungnya menggema ke kawasan Timur Tengah dan menarik simpati rakyat negara-negara di kawasan tersebut. Dukungan serupa juga dinyatakan seorang saudagar ternama Palestina saat itu, Muhammad Ali Taher, setahun sebelum Sukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan RI. Dia bersimpati terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia dan spontan menyerahkan seluruh uangnya di Bank Arabia tanpa meminta tanda bukti dan berkata, “Terimalah semua kekayaan saya ini untuk memenangkan perjuangan Indonesia.” Dukungan ini lalu menjadi modal besar untuk memperjuangkan pengakuan dari negara-negara lainnya di dunia. Setelah seruan dari mufti Palestina itu, negara berdaulat yang berani mengakui kedaulatan RI pertama kali yakni negara Mesir pada 1949, lalu diikuti India. Pengakuan resmi Mesir itu (yang disusul oleh negara-negara Timur Tengah lainnya) menjadi modal besar bagi RI untuk secara sah diakui sebagai negara yang merdeka dan berdaulat penuh. Pengakuan ini membuat RI berdiri sejajar dengan Belanda (juga dengan negara-negara merdeka lainnya) dalam segala macam perundingan dan pembahasan tentang Indonesia di lembaga internasional. Fakta sejarah tersebut tertulis dalam  buku Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri yang ditulis oleh Ketua Panitia Pusat Perkumpulan Kemerdekaan Indonesia, M Zein Hassan Lc. Faried mengatakan fakta sejarah tersebut juga yang membangkitkan MER-C untuk memprakarsai usaha bersama rakyat Indonesia guna membangun rumah sakit di Gaza-Palestina. “Kami memandang rumah sakit ini akan menjadi tali batin rakyat Indonesia, yang selalu akan mendukung kemerdekaan Palestina,” katanya. Kini bangunan rumah sakit boleh dikatakan telah selesai. Selanjutnya, masih dibutuhkan dana Rp 65 miliar untuk pengadaan peralatan medis. MER-C memasang target rumah sakit tersebut mulai dioperasikan tiga bulan ke depan, sekitar Juni. Untuk soft launching, kata Faried, dibutuhkan dana Rp 15 miliar untuk pembelian peralatan medis dari Rp 65 miliar keseluruhannya. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/14/04/03/n3f6zv-rsi-gaza-penyambung-tali-batin-rakyat-indonesia-dan-palestina-3habis        

RSI Gaza, Penyambung Tali Batin Rakyat Indonesia dan Palestina (2)

Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Distrik Beit Lahiya, Gaza utara, Palestina. REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Yoebal Ganesha Rasyid Rencananya di sana juga akan dibangun Wisma Rakyat Indonesia seluas 340 m2. Pembangunan rumah sakit tersebut diprakarsai oleh para aktivis Medical Emergency Rescue Committee (MER-C). LSM Indonesia yang bergerak di bidang kemanusiaan, terutama yang berhubungan dengan pengobatan dan kesehatan serta kegawatdaruratan. Bagi MER-C memang tak mudah mengumpulkan dana sebanyak itu tanpa peran serta nyata rakyat Indonesia. Memang, pembangunan rumah sakit ini terkesan lambat dibandingkan dengan proyek-proyek kemanusiaan, uang diprakarsai donatur individual maupun kelompok dari negara-negara Timur Tengah ataupun Uni Eropa. Negara-negara tersebut dengan cepat dapat merealisasikan proyek bantuan mereka tanpa kendala dana yang berarti, seperti jalan-jalan, sekolah-sekolah, dan rumah-rumah susun di Gaza. Setidaknya di Gaza telah berdiri juga rumah sakit bantuan masyarakat Uni Eropa, yang pembangunan hingga operasionalnya hanya memerlukan waktu sekitar dua tahun. Rumah sakit itu kini oleh pemerintah setempat dikelola sebagai rumah sakit umum. Lepas dari kesan lambat di atas, berbeda dengan pembangunan yang dilakukan donatur dari negara-negara Timur Tengah dan Uni Eropa, Rumah Sakit Indonesia memiliki nilai lain bagi masyarakat Gaza di sana. Warga Gaza mengetahui rumah sakit ini benar-benar dibangun dari sumbangan masyarakat Indonesia dan mungkin tanpa sepeser pun dana dari Pemerintah Indonesia (people to people). Dengan pendanaan semacam itu, rumah sakit tersebut akan menjadi monumen tali silaturahim dan persahabatan antara masyarakat Indonesia dan Palestina, khususnya yang tinggal di Gaza. Ir Farid Thalib, Ketua Divisi Konstruksi MER-C, mengatakan pembangunan rumah sakit ini bisa juga dikatakan sebagai ungkapan rasa terima kasih rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina. Bagaimana tidak, katanya, sejarah mencatat rakyat Palestina merupakan warga dunia yang pertama kali mengakui kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, saat negara Indonesia yang masih seumur jagung terpuruk karena blokade Belanda yang ingin menjajah Indonesia lagi, rakyat Palestina dengan lantang menyatakan kepada dunia pengakuan mereka terhadap kemerdekaan Indonesia. Dukungan ini diprakarsai mufti besar Palestina saat itu, Syekh Muhammad Amin Al-Husaini. Kata Farid, surat dukungan yang ditandatangani sang mufti ini berhasil diselundupkan ke Indonesia dan diterima Presiden Sukarno yang saat itu sedang dalam pengungsian di Yogyakarta. Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/14/04/03/n3f6mj-rsi-gaza-penyambung-tali-batin-rakyat-indonesia-dan-palestina-2        

RSI Gaza, Penyambung Tali Batin Rakyat Indonesia dan Palestina (1)

Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Distrik Beit Lahiya, Gaza utara, Palestina. REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Yoebal Ganesha Rasyid Rumah Sakit Indonesia di Gaza masih membutuhkan dana Rp 65 miliar guna pengadaan peralatan medis di sana. GAZA — Rupiah demi rupiah yang dikumpulkan para dermawan Indonesia telah menampakkan wujudnya di Jalur Gaza, kawasan Palestina yang kini didera blokade Zionis Israel. Di utara Gaza, tepatnya di kawasan Bayt Lahiya, Rumah Sakit Indonesia telah memasuki tahap akhir pembangunan. Bangunan rumah sakit tersebut terdiri atas dua lantai dan satu basement, tampak kokoh berdiri tanah sekitar 1,6 hektare. Bentuknya yang khas, didesain segi delapan, menyerupai bentuk Masjid Qubbah As-Sakhrah di dalam kompleks Masjid Al Aqsha, Yerusalem, membuat rumah sakit ini menonjol di lingkungannya. Namun, keberadaan rumah sakit tersebut juga dengan lingkungan di sekeliling yang dalam lima tahun terakhir ini telah dipenuhi dengan puluhan unit apartemen lima sampai 10 lantai dan kompleks sekolah di sana. Dulunya kawasan ini termasuk daerah pertanian. Kompleks apartemen di kawasan itu dibangun oleh donatur perorangan dari sebuah Negara Teluk. Sementara, sekolah-sekolah di kawasan ini dibangun atas bantuan donatur dari negara Turki. Setiap hari, di depan rumah sakit berlalu lalang anak-anak sekolah dan juga warga setempat yang akan pergi ke tempat kerja mereka di kawasan lain Gaza. Maklum, karena tempatnya yang boleh dikatakan di ujung utara Gaza, hanya sekitar 2,5 km dari perbatasan dengan Israel, kawasan ini relatif sepi dari aktivitas bisnis. Dalam perjalanan pergi dan pulang, warga sering menyempatkan diri mampir ke kompleks rumah sakit itu, terutama untuk meneguk segelas air bersih gratis yang disediakan khusus di halaman rumah sakit tersebut—untuk melepas dahaga mereka. Saat mampir, warga kadang bertanya, kapan rumah sakit ini akan selesai. Mereka berharap rumah sakit itu bisa memudahkan mereka untuk mengakses pelayanan kesehatan, tak perlu jauh-jauh lagi pergi ke rumah sakit di kawasan lain di Gaza. Kapan waktu itu akan datang? Walaupun bangunannya hampir 100 persen selesai, untuk operasional rumah sakit itu masih membutuhkan dana Rp 65 miliar guna pengadaan peralatan medis di sana. Gedung rumah sakit ini mulai dibangun sejak Mei 2011. Dana mencapai Rp 35 miliar telah tertanam untuk pembangunan bangunan utama rumah sakit (seluas 9,600 meter persegi) dan juga gedung manajemen rumah sakit. Dana tersebut murni dari sumbangan masyarakat Indonesia. Dana itu juga akan dipakai untuk membangun infrastruktur lingkungan rumah sakit (jalan, pagar, taman, dan saluran pembuangan air). Sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-mancanegara/14/04/03/n3f61l-rsi-gaza-penyambung-tali-batin-rakyat-indonesia-dan-palestina-1                

RS Indonesia Di Gaza, Dari Rakyat Indonesia Untuk Palestina

Jakarta, 13 Jumadil Awwal 1435/14 Maret 2014 (MINA) – Ketua tim pembangunan rumah sakit (RS) Indonesia di Gaza, Faried Thalib mengatakan pembangunan RS Indonesia itu bukti kecintaan rakyat Indonesia untuk perjuangan rakyat Palestina. Faried yang baru saja datang dari Gaza bersama enam relawan lainnya tiba di Jakarta, Kamis malam, pukul 23.00 WIB. Keenam relawan itu adalah Edy Wahyudi (Ketua Tim), Tata Lukita, Karidi, Rochman, Luthfi Paimin, dan M. Arsyad Ridho (semuanya berasal dari Pondok Pesantren Al Fatah, Bogor).  Faried mengucapkan rasa terima kasih sebesar-besarnya kepada seluruh rakyat Indonesia yang telah mendermakan hartanya untuk pembangunan RS Indonesia di Gaza itu. “Semua dana pembangunan RS Indonesia murni berasal dari rakyat Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, terutama golongan menengah ke bawah,” paparnya. “Mudah-mudahan tahun 2014 ini RS Indonesia sudah bisa beroperasi. Mohon dukungan dan doa semua masyarakat Indonesia,” tambah Faried. Mengenai penanganan operasional RS Indonesia, Faried mengatakan, akan menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah setempat sebagai tuan rumahnya. ”Mereka yang lebih tahu sasaran dan manajemennya, kita hanya menyediakan peralatan dan gedungnya,” katanya. Sementara itu, Edy Wahyudi dalam sambutan pelepasan relawan mengatakan, pembangunan fisik RS Indonesia sudah selesai, saat ini timnya tengah berkonsentrasi menyediakan alat kesehatannya. Pembangunan RS Indonesia itu di motori oleh Medical Emergency Rescue Commettee (MER-C), Radio Silaturahim (RASIL), Pondok Pesantren Al Fatah Indonesia yang berpusat di Bogor, Aqsa Working Group (AWG), dan Kantor Berita Islam Internasional Mi’raj Islamic News Agency/MINA. RS Indonesia, menjadi sejarah dan bukti nyata bahwa masyarakat Indonesia bisa mewujudkan solidaritas internasional dalam bentuk nyata. Karena itu, kaum muslim harus menyempurnakan apa yang sudah dicapai dengan melengkapi rumah sakit tersebut melalui pengadaan peralatan kesehatan mutakhir agar bisa berfungsi secara optimal untuk membantu kemanusiaan. “Ini merupakan wujud semangat ke-Islaman kita melawan kolonialisme Israel,” tambah Edy. Sementara itu, Kepala Divisi Penggalangan Dana MER-C, Luly Larisa mengatakan, pengadaan alat kesehatan untuk RS Indonesia Gaza membutuhkan anggaran Rp 60 milyar lebih atau dua kali lipat dari biaya pembangunan gedungnya. Untuk mendapatkan anggaran sebesar itu pihaknya bekerja sama dengan berbagai pihak termasuk grup band Slank untuk program Gerakan Rp 50 ribu per orang. Pembangunan fisik RS Indonesia Gaza mulai dikerjakan sejak 14 Mei 2011, dibangun di atas tanah seluas 16.261 m2, berasal dari wakaf pemerintah Palestina di Gaza. Lahan untuk RS Indonesia Gaza itu diserahkan oleh Menteri Kesehatan Palestina Baseem Naem kepada Ketua Presidium Mer-C Joserizal Jurnalis sebagai pihak pembangun pada 23 Januari 2009. Lokasi RS Indonesia itu berada sekitar 2,5 km dari perbatasan Israel, sehingga sering dipantau oleh pesawat tempur tanpa awak (drone) AU penjajah Zionis Yahudi tersebut. Meski selalu dipantau, namun sejauh ini pembangunan RS Indonesia terus berjalan tanpa gangguan dan hambatan. RS Indonesia di Jalur Gaza ini menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina, di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia, sebagian besar dari kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. (L/P04/P015/R2). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia-mb/16174-rs-indonesia-di-gaza-dari-rakyat-indonesia-untuk-palestina.html        

Relawan RS Indonesia Kembali

Tanggerang – pada tanggal 13 Maret 2014 sebanyak enam orang relawan pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza telah kembali ke tanah air. Karidi, Edy Wahyudi, Luthfi Paimin, M. Arsyad Ridho, Tata Lukita S dan Rochman tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta pada Pukul 22.20 Wib dengan menaiki maskapai Etihad Airways. Ke enam relawan kembali ke tanah air bersama-sama dengan tim yang diberangkatkan MER-C untuk melakukan Assessment terhadap alat kesehatan untuk RS Indonesia, yang terdiri dari Ir. Faried Thalib, Ahya Sodri, serta wartawan Yoebal Ganesha Rasyid dari Republika dan Subhan Hariadi Putra TV One.   Saat ini fisik RS Indonesia telah dapat dikatakan rampung, akan tetapi selain pembangunan Wisma Rakyat Indonesia  dan renovasi masjid yang terletak di dekat RS Indonesia, MER-c juga masih menggalang dana untuk pengadaan alat kesehatan yang berjumlah sekitar 65 miliar rupiah              

Silahkan bertanya?