Ombat dukung Penggalangan Dana untuk RS Indonesia Di Gaza

Jakarta, 11 Jumadil Awal 1435/12 Maret 2014 (MINA) – Vokalis grup band ‘Tengkorak’ Ombat yang biasa membawakan lagu-lagu underground (metal) mengajak penggemarnya dan seluruh rakyat Indonesia menyukseskan pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza Palestina. “Allahu Akbar, ayo kita dukung pengadaan alat kesehatan untuk penyelesaian pembangunan RS hdonesai Gaza Palestina,” katanya kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di Jakarta, Rabu (12/3). Ombat yang punya nama asli Muhammad Hariadi Nasution sebagai ‘komandan’ band ‘Tengkorak’ salah satu band metal yang mengusung tema islami dalam lagu-lagunya ini menunjukkan kepeduliannya dengan mendukung program Gerakan Rp 50 ribu per orang untuk pengadaan alat kesehatan (Alkes) RS Indonesia Gaza. “Ini amal nyata yang harus kita dukung untuk membantu saudara-saudara kita di Palestina,” kata Ombat yang juga menjadi ketua Lembaga Bantuan Hukum Muslim Indonesia (LBHMI). Ombat sangat mendukung pembangunan RS Indonesia di Gaza sebagai bentuk silaturahim, dukungan dan bantuan rakyat Indonesia pada rakyat Palestina. Dia juga ikut ambil bagian dalam pembuatan video untuk kampanye program Gerakan Rp 50 ribu per orang yang dimotori oleh Medical Emergency Rescue Comitte (MER-C). “Untuk kemanusian terlebih untuk Palestina kita harus dukung dan suskseskan pengadaan Alkes RS Indonesia di Gaza,” katanya. Sementara itu, Kepala Divisi Penggalangan Dana MER-C, Luly Larisa, mengatakan, pengadaan Alkes untuk RS Indonesia Gaza membutuhkan anggaran Rp 65 milyar, atau dua kali lipat lebih dari biaya pembangunan gedungnya. Untuk mendapatkan anggaran sebesar itu MER-C bekerja sama dengan berbagai pihak untuk program Gerakan Rp 50 ribu per orang. “Guna suksesnya program Gerakan Rp 50 ribu per orang ini untuk pengadaan Alkes RS Indonesia Gaza dan kami kerjasama dengan banyak pihak termasuk Ombat Tengkorak,” kata Luly. Pembangunan fisik RS Indonesia Gaza mulai dikerjakan sejak 14 Mei 2011, dibangun di atas tanah seluas 16.261 m2, berasal dari wakaf pemerintah Palestina di Gaza. Lahan untuk RS Indonesia Gaza itu diserahterimakan oleh Menteri Kesehatan Palestina Baseem Naem kepada Ketua Presidium Mer-C Joserizal Jurnalis sebagai pihak pembangun pada 23 Januari 2009 lalu. Lokasinya berada sekitar 2,5 km dari perbatasan Israel sehingga sering dipantau oleh pesawat tempur tanpa awak (drone) AU negara Yahudi tersebut, namun sejauh ini pembangunan RS Indonesia terus berjalan tanpa gangguan dan hambatan. RS Indonesia di Jalur Gaza ini menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia, sebagian besar dari kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke (L/P07/EO2 ). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/nasional/16129-ombat-tengkorak-dukung-galang-dana-untuk-alkes-rs-indonesia-di-gaza.html
Vadi Akbar Ajak Masyarakat Bantu Pengadaan Alkes RS Indonesia Di Gaza

Jakarta, 10 Jumadil Awal 1435/11 Maret 2014 (MINA) – Artis dan penyanyi muda berbakat, Vadi Akbar Kalamata mengajak masyarakat Indonesia mendukung pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza Palestina. Vadi mengajak untuk andil dalam dalam program Gerakan Rp 50 ribu per orang untuk pengadaan alat kesehatan (Alkes) RS Indonesia Gaza. “Pembangunan RS Indonesia Gaza merupakan kegiatan amal rakyat Indonesia untuk membantu saudara-saudara kita di Palestina,” katanya kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Selasa (11/3) di Jakarta. Vadi yang juga pendiri dan ketua Komunitas Suara Anak Bangsa ini mengatakan, kepeduliannya pada pembangunan RS Indonsia di Gaza atas dasar kemanusian semata. Terlebih pembangunannya dilakukan oleh putra-putra Indonesia yang dimotori oleh Medical Emergency Rescue Comitte (MER-C) yang selama ini banyak kiprah dalam membantu sesama. “Saya percaya dengan MER-C yang amanah dan profesional dalam setiap program amalnya,” kata adik kandung dari vokalis Vidi Aldiano ini. Dukungan penyanyi yang telah merilis single perdananya, “Jangan Salah” ini juga dibuktikan pada kesediaannya terlibat dalam pembuatan video kampanye program Gerakan Rp 50 ribu per orang yang dibuat MER-C. “Sebaik-baik orang adalah yang bisa memberi manfaat pada sesama, mari kita bantu pengadaan alat kesehatan Rumah Sakit Indonesia di Gaza,” kata Vadi saat pengambilan gambar. Sementara itu, Kepala Divisi Penggalangan Dana MER-C, Luly Larisa, mengatakan, pengadaan Alkes untuk RS Indonesia Gaza membutuhkan anggaran Rp 65 milyar, atau dua kali lipat lebih dari biaya pembangunan gedungnya. Untuk mendapatkan anggaran sebesar itu MER-C bekerja sama dengan berbagai pihak untuk program Gerakan Rp 50 ribu per orang. “Guna suksesnya program Gerakan Rp 50 ribu per orang ini untuk pengadaan Alkes RS Indonesia Gaza dan kami kerjasama dengan banyak pihak termasuk artis Vadi Akvar,” kata Luly. Pembangunan fisik RS Indonesia Gaza mulai dikerjakan sejak 14 Mei 2011, dibangun di atas tanah seluas 16.261 m2, berasal dari wakaf pemerintah Palestina di Gaza. Lahan untuk RS Indonesia Gaza itu diserahterimakan oleh Menteri Kesehatan Palestina Baseem Naem kepada Ketua Presidium Mer-C Joserizal Jurnalis sebagai pihak pembangun pada 23 Januari 2009 lalu. Lokasinya berada sekitar 2,5 km dari perbatasan Israel sehingga sering dipantau oleh pesawat tempur tanpa awak (drone) AU negara Yahudi tersebut, namun sejauh ini pembangunan RS Indonesia terus berjalan tanpa gangguan dan hambatan. RS Indonesia di Jalur Gaza ini menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia, sebagian besar dari kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke (L/P07/R2). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/nasional/16085-vadi-akbar-ajak-masyarakat-bantu-pengadaan-alkes-rs-indonesia-di-gaza.html
MER-C Bicara di IBF

WALI Ajak Penggemarnya Bantu Alkes RS Indonesia Gaza

Jakarta, 26 Rabi’ul Akhir 1435/26 Februari 2014 (MINA) – Grup musik terkenal, Wali, yang memiliki jutaan penggemar di kalangan anak muda, mendukung pembangunan Rumah Sakit (RS) Indonesia di Gaza, Palestina, dan penggemarnya atau yang lazim disebut para wali untuk menyumbang dana melalui Medical Emergency Rescue Comitte (MER-C). “Pembangunan RS Indonesia Gaza merupakan kegiatan amal yang wajib didukung karena jelas untuk kepentingan ummat khususnya saudara-saudara kita di Palestina,” ujar Apoy salah satu perosnil Wali, kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA), Selasa (25/2) di Jakarta. Menurutnya, kepedulian dan dukungan Wali untuk membantu pembangunan RS Indonesia di Gaza yang kini memasuki tahap pengadaan alat kesehatan (Alkes) didasarkan pada kepentingan ummat. Besarnya grup musik Wali yang kini memiliki jutaan penggemar tidak lepas dari doa dan dukungan ummat pula. “Tidak ada alasan bagi Wali untuk tidak membantu pembangunan RS Indonesia di Gaza, Wali sangat mendukung penggalangan dana yang dilakukan oleh MER-C untuk melanjutkan pembangunan dengan pengadaan Alkes,” kata Apoy. Dikatakan, dukungan penggalangan dana oleh MER-C melalui program Gerakan Rp 50 ribu per orang untuk pengadaan Alkes RS Indonesia Gaza diwujudkan dengan mengajak para wali ikut menyumbang. Dukungan grup musik Wali yang memiliki empat personil, yakni: Faank (vokal), Apoy (gitar), Tomi (drum), dan Ovie (keyboard) nantinya tidak sebatas ajakan pada penggemarnya saja, tapi dapat terus berlanjut dengan program-progam kemanusiaan lainnya. “Dukungan Wali pada MER-C akan terus berlanjut, tidak hanya ikut mengajak Para Wali untuk menyumbang saja, tapi alan terus berlanjut denang program kemanusian,” kata Apoy. Sementara itu, Kepala Divisi Penggalangan Dana MER-C, Luly Larisa, mengatakan, pengadaan alat kesehatan untuk RS Indonesia Gaza membutuhkan anggaran Rp 65 milyar dua kali lipat lebih dari biaya pembangunan gedungnya. Untuk mendapatkan anggaran sebesar itu pihaknya bekerja sama dengan berbagai pihak termasuk grup musik Wali juga lainnya untuk program Gerakan Rp 50 ribu per orang. “Guna suksesnya program Gerakan Rp 50 ribu per orang ini untuk pengadaan Alkes RS Indonesia Gaza dan kami kerjasama dengan Wali dan juga lainnya,” kata Luly. Pembangunan fisik RS Indonesia Gaza mulai dikerjakan sejak 14 Mei 2011, dibangun di atas tanah seluas 16.261 m2, berasal dari wakaf pemerintah Palestina di Gaza. Lahan untuk RS Indonesia Gaza itu diserahterimakan oleh Menteri Kesehatan Palestina Baseem Naem kepada Ketua Presidium Mer-C Joserizal Jurnalis sebagai pihak pembangun pada 23 Januari 2009. Lokasinya berada sekitar 2,5 km dari perbatasan Israel sehingga sering dipantau oleh pesawat tempur tanpa awak (drone) AU negara Yahudi tersebut, namun sejauh ini pembangunan RS Indonesia terus berjalan tanpa gangguan dan hambatan. RS Indonesia di Jalur Gaza ini menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia, sebagian besar dari kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke.(L/P07/EO2). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia-mb/15519-wali-ajak-penggemarnya-bantu-pengadaan-alkes-rsi-gaza.html
SLANK Ajak Jutaan Slankers Bantu Pembangunan RSI Gaza

Jakarta, 23 Rabi’ul Akhir 1435/23 Februari 2014 (MINA) – Grup musik terkenal, Slank, menyatakan mendukung pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza, Palestina, dengan mengajak jutaan fansnya atau yang lazim disebut Slankers untuk menyumbang dana melalui Medical Emergency Rescue Committee (MER-C). “Kami sangat mendukung penggalangan dana MER-C ini dengan mengumpulkan sumbangan Rp. 50 ribu per orang, untuk pembangunan RSI di Gaza yang saat ini memasuki tahap akhir yakni pengadaan alat kesehatan,” kata Bimbim, salah satu personil Slank kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA) di Hotel Sulthan, Jakarta, Ahad (23/2). Menurutnya, Slank sangat mendukung pembangunan RSI di Gaza sebagai bentuk silaturahim, dukungan dan bantuan rakyat Indonesia pada rakyat Palestina. Pembangunan RSI di Gaza kini memasuki tahap pengadaan alat kesehatan membutuhkan biaya dua kali lipat dari pembangunan fisik yang menghabiskan biaya Rp 30 milyar lebih. “Kami mengajak para penggeramar Slank atau Slankers untuk ikut berpartisipasi menyumbang dana Rp 50 ribu per orang untuk pengadaan alat kesehatan tersebut,” kata Bimbim sang drumer Slank ini. Grup band Slank yang memiliki lima personil, yakni: Bimbim (drum), Kaka (vokal), Ivanka (bass), Ridho (gitar) dan Abde (gitar), mendukung MER-C dan bersedia menjadi bintang dalam pembuatan video kampanye untuk program Gerakan Rp 50 ribu per orang untuk pembelian Alat Kesehatan RSI Gaza. Kerja sama antara MER-C dan Slank juga telah lama terjalin, sebelumnya Slank juga pernah menyalurkan sumbangan sosialnya lewat MER-C. “Dari tahun 2000 kita sudah kenal dengan MER-C dan kita dukung untuk terus membantu. Program MER-C juga jelas dan profesional, ada bukti kerjanya tidak hanya bicara,” kata Bimbim. Sementara itu, Kepala Divisi Penggalangan Dana MER-C, Luly Larisa, mengatakan, pengadaan alat kesehatan untuk RSI Gaza membutuhkan anggaran Rp 60 milyar lebih atau dua kali lipat dari biaya pembangunan gedungnya. Untuk mendapatkan anggaran sebesar itu pihaknya bekerja sama dengan berbagai pihak termasuk grup band Slank untuk program Gerakan Rp 50 ribu per orang. “Untuk suksesnya program Gerakan Rp 50 ribu per orang ini untuk pengadaan alat kesehatan RSI Gaza dan kami kerjasama dengan Slank dan juga lainnya,” katanya. Pembangunan fisik RSI Gaza mulai dikerjakan sejak 14 Mei 2011, dibangun di atas tanah seluas 16.261 m2, berasal dari wakaf pemerintah Palestina di Gaza. Lahan untuk RSI Gaza itu diserahterimakan oleh Menteri Kesehatan Palestina Baseem Naem kepada Ketua Presidium MER-C Joserizal Jurnalis sebagai pihak pembangun pada 23 Januari 2009. Lokasinya berada sekitar 2,5 km dari perbatasan Israel sehingga sering dipantau oleh pesawat tempur tanpa awak (drone) AU negara Yahudi tersebut, namun sejauh ini pembangunan RS Indonesia terus berjalan tanpa gangguan dan hambatan. RSI di Jalur Gaza ini menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia, sebagian besar dari kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. (L/P07/IR ) Sumber : http://mirajnews.com/indonesia-mb/15416-slank-ajak-slankers-bantu-bangun-rsi-gaza.html
Keluarga Relawan RSI Mengaku Senang Dan Bangga

Jakarta, 17 Rabi’ul Akhir 1435/17 Februari 2014 (MINA) – Keluarga terdekat para relawan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza mengaku sedih ditinggalkan, tetapi mereka senang dan bangga karena orang-orang yang dicintai itu berangkat untuk membantu saudaranya di Palestina. Ungkapan perasaan itu dikatakan oleh anggota keluarga relawan yang Senin pagi (17/2) turut melepas keberangkatan lima relawan ke Gaza dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta. “Alhamdulillah senang dan bangga, karena Bapak bisa membantu saudara-saudara kita yang di sana (Gaza). Kami mendukung sejak awal, sebab itu perjalanan ibadah yang bagus,” kata Wahyuni, isteri pemimpin rombongan relawan, Ir. Faried Thalib. Wahyuni mengaku ingin kembali mendampingi suaminya ke Jalur Gaza, sebagaimana dua dari tiga keberangkatan sebelumnya, namun ia terlambat mengurus beberapa persiapan. Faried yang juga pemilik Radio Silaturahim dan Anggota Presidium MER-C adalah Ketua Tim Pembangunan Konstruksi RSI di Gaza Palestina. Seiring itu, anak kedua Faried yang ikut mengantar ayahnya ke bandara juga merasa bersyukur dan bangga. “Alhamdulillah, selalu yakin kepada Allah, karena misi ke Gaza adalah untuk umat. Secara pribadi pasti akan ada rasa rindu, tapi saya lebih merasa bersyukur dan bangga, punya sosok orang tua atau ayah yang mementingkan kepentingan umum,” kata Farida Thalib kepada wartawan Mi’raj Islamic News Agency (MINA). Di tempat yang sama, Siti Muthmainnah – isteri relawan RSI Nur Ikhwan Abadi – mengatakan dirinya sangat mendukung dengan langkah yang tempuh oleh suaminya. “Saya sangat mendukung, karena ini misi kemanusiaan yang baik, jihad yang tujuannya akhirat,” kata Siti yang untuk ketiga kalinya ikhlas melepas keberangkatan sang suami, relawan yang sudah pernah berhadapan langsung dengan tentara penjajah Israel dalam rombongan kemanusiaan Kapal Mavi Marmara. Maryati, ibu Nur Ikhwan meski mengaku sedih, namun tetap merasa bangga dengan jalan yang dipilih oleh puteranya. “Ada kesenangan dan kebanggaan meskipun sedih itu pasti ada,” kata Maryati yang sempat menitikkan air mata. Sembari menggendong cucunya, Maryati berpesan untuk ibu-ibu para relawan yang ia sebut “mujahid“ agar selalu merasa bangga jika seandainya anak mereka pergi berjihad. “Dalam setiap shalat, saya selalu berdoa, semoga apa yang dikerjakan Nur Ikhwan selama ini tulus ikhlas dan apa yang dikerjakan di sana berjalan lancar,” katanya. Kelima relawan itu terdiri dari tiga tim RSI dan dua wartawan dari media nasional. Mereka akan melanjutkan tugas pembangunan RSI di Gaza, di mana menurut rencana ke 25 relawan RSI sebelumnya akan kembali ke Indonesia. Secara fisik, pembangunan RSI Gaza sudah selesai dan kini memasuki tahap pengadaan alat-alat kesehatan sehingga bisa masuk ke tahap operasional. Pembangunan RSI di Gaza selama ini murni didanai oleh rakyat Indonesia sebagai bentuk cinta dan kepedulian kepada rakyat Palestina. MER-C selaku pihak yang melaksanakan pembangunan, tidak pernah menerima dana dari pihak luar Indonesia. (L/P09/P07/R2). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia-mb/15208-keluarga-relawan-rsi-mengaku-senang-dan-bangga.html
RSI Gaza Dibangun Bermodalkan Ketulusan Hati

Jakarta, 28 Rabi’ul Awwal 1435/30 Januari 2014 (MINA)-Rampungnya pelaksanaan konstuksi fisik Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza yang dibangun di lokasi sulit, dinilai oleh Ketua Tim Konstruksi Pembanguan, Ir. Faried Thalib sebagai pertolongan Allah melalui hati-hati dan tangan-tangan yang tulus. “Kita tidak pungkiri,ini pertolongan Allah melalui hati-hati yang ikhlas dan tangan-tangan yang tulus dari rakyat Indonesia,” kata Faried saat di temui oleh Mi’raj Islamic News Agenc,y (MINA) di Jakarta, Rabu malam (29/1). Menurut insinyur yang mengomandani pembangunan RSI di Gaza itu, dana pembangunan murni berasal dari rakyat Indonesia yang membantu dengan menyisihkan sebagian rezekinya dan donatur lebih banyak berasal dari kalangan menengah ke bawah. Faried yang juga menukangi pembangunan Rumah Sakit Galela di Maluku, mengaku sangat bersyukur kepada Allah yang memberikan kesempatan kepadanya untuk ikut ambil bagian dalam tim pembangunan RSI di Gaza. “Rumah sakit Indonesia di Gaza, Palestina, tidak berdiri sendiri atau karena saya, tapi ini kerja tim semuanya, MER-C, Ponpes Al-Fatah, dan banyak pihak, terutama rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke,” ujar Faried yang sedang menunggu ijin keberangkatannya ke Gaza bersama tim RSI selanjutnya. Menurut salah satu Anggota Presidium MER-C ini, RSI di Gaza adalah bukti tanda mata kasih dan cinta dari rakyat Indonesia kepada Palestina. “Inilah suatu ungkapan, bukan sekedar sebuah rumah sakit, tapi lebih dari itu. Indonesia akan memberikan yang terbaik untuk Palestina, in syaallah.” Lebih murah dibandingkan di Indonesia “Di akhir pembangunan ini, saya coba menghitung biaya pembangunan permeternya. Subhanallah. Jika saya bangun di Indonesia, jauh lebih mahal. Itu relatif murah dengan kualitas bangunan yang lebih baik,” kata Faried. Untuk daerah konflik, harga tanah relatif normal dan harga material murah, dapat dikategorikan sama dengan di Indonesia. “Perbandingannya, di Gaza pembangunannya permeter bisa tiga atau empat jutaan Rupiah, tapi di Indonesia, tidak mungkin di bawa lima juta.” /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,”sans-serif”; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;} Karena di sana daerah konflik, ada tingkat-tingkat kesulitan yang dialami di awal-awal pembangunan. Namun setelah tim dari Indoensia lebih mengetahui medan di lapangan, tidak terlalu sulit mendapatkan barang-barang tersebut. Walaupun daerah konflik, ternyata suplai material tidak terlalu sulit. Bahan-bahan dibeli di Gaza, suplierrnya dari Mesir dan Israel. Memang saat terjadi ketegangan usai pemboman, baik di Israel maupun di Gaza, barang-barang agak sulit diperoleh untuk beberapa waktu. Namun, dua atau tiga minggu kemudian, kembali normal lagi. Pasca kudeta Mesir, suplai material terkendala sejak tertutupnya jalur-jalur tidak resmi dari Mesir,tidak seperti pada era pemerintahan Muhammad Mursi memerintah, sehingga suplai hanya tinggal dari satu pihak, yaitu Israel. Keunikan Israel, meski pun militernya berperang dengan Gaza, perdagangan barang ke wilayah yang dikuasai Hamas tetap berjalan. Rumah sakit yang membidangi bidang traumatologi tersebut bangunannya berbentuk segi delapan yang seluruh bagian luarnya ditutup dengan marmer. Marmer yang tebalnya lima centimeter, akan menjadi pelapis untuk menangkal cuaca ekstrim. Ketika musim panas, bahan marmer mampu meredam suhu menjadi dingin dan ketika musim dingin, suhu tetap hangat. Tebal tembok bangunan sekitar 27 centimeter. Tahapan pembangunan fisik RSI sudah selesai dan memasuki tahap pengadaan peralatan kesehatan. Menurut Faried, anggaran yang diperlukan sekitar Rp60 – 75 milyar, atau meningkat dua kali lipat dari jumlah yang semula dianggarkan. (L/P09/E02/Mi’raj News). Sumber : http://mirajnews.com/palestina/14554-rsi-di-gaza-dibangun-oleh-tangan-tangan-yang-tulus.html
MER-C Joins Indonesian National Radio Station (RRI) for Jakarta Cares for Disaster Social Event

Jakarta – On Sunday, January 26, 2014, MER-C together with Indonesian National Radio Station (RRI), invited many parties who are also concerned including BRI, PT Dexa Medika, PT Kalbe Farma to hold a social event for flood victims in Jakarta. The event started from 10 am until its completion. MER-C sent 1 pediatrics, 3 General Practitioners, 5 Nurses and 2 Non-Medical Staffs by using 2 vehicles, that were one operational vehicle and one ambulance. From MER-C headquarter, the team gathered at RRI Medan Merdeka Barat to stay in touch at first with RRI Top Management and other cooperation partners. Of the meeting point, all team departed with a convoy of vehicles, heading to RRI Cares for Flood point, at Gg. Mesjid I, Kp Melayu Besar, Kebon Baru, Tebet, South Jakarta. It was recorded that there were 118 patients at the flood point.
MER-C Periksa Kesehatan keluarga Relawan RSI

Wonogiri – Pada tanggal 21-22 Januari 2013 dr Tonggo Meaty fransisca didampingi oleh dr Ambar dari MER-C cabang Solo melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap keluarga dari tujuh relawan Rumah Sakit Indonesia yang berada di Wonogiri. Selain melakukan pemeriksaan kesehatan, MER-C juga mengabarkan bahwa inshallah tidak lama lagi para relawan Akan kembali ke tanah air untuk bertemu dengan keluarga yang telah ditinggal lebih dari satu tahun lamanya. Sementara itu, pada tanggal 22 Januari 2014 dr Anggraini SpPD dan Islamiyah Samaun melakukan pemeriksaan kesehatan kepada keluarga dari Tata Lukita, salah seorang relawan RSI di Ciwidey.
MER-C Examines Families’ Health of Indonesian Hospital Volunteers

Wonogiri – On January 21-22, 2014, dr Tonggo Meaty Fransisca, accompanied by dr Ambar of MER-C Solo branch, conducted examination on families’ health from the seven volunteers of Indonesian Hospital, that have been staying in Wonogiri. Apart from the examination, MER-C also informed that, Inshallah, volunteers will soon return home to meet their families that have been left for more than a year long. Meanwhile, on January 22, 2014, dr Anggraini SpPD and Islamiyah Samaun conducted health examination to the family of Tata Lukita, a volunteer of Indonesian Hospital, in Ciwidey.