Marwah Filindo, Anak Pertama Pasangan Indonesia-Palestina yang Lahir di Gaza

GAZA, PALESTINA Kebahagiaan tengah menyelimuti pasangan suami istri Abdillah Onim (Relawan MER-C Indonesia di Gaza) dan Rajaa Al Hirthani (seorang Muslimah Gaza) karena baru saja dikaruniai anak pertama. Kamis (3/5), sekitar pukul 11.50 waktu Gaza tangis seorang bayi memecah keheningan ruangan operasi di RS Asy-Syifa, Gaza City, Jalur Gaza. Semua yang hadir menemani proses kelahirannya, khususnya Abdillah Onim, sang ayah berkali-kali mengucap syukur karena anak pertamanya lahir dengan selamat di Bumi Syam yang diberkahi, Palestina. Bayi mungil cantik dengan wajah kemerah-merahan itupun diberi nama Marwah Filindo, bayi pertama keturunan Indonesia-Palestina yang lahir di Gaza. Selain bangunan RS Indonesia yang akan menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan Palestina, kelahiran Marwah Filindo juga akan menjadi satu bukti ikatan, hubungan darah yang kuat antara dua negara, Indonesia dan Palestina. Abdillah Onim adalah seorang relawan MER-C Indonesia yang bertugas di Gaza sejak Juli 2010. Kepergian Abdillah ke Gaza beserta sejumlah relawan MER-C lainnya adalah untuk mengawal proses pembangunan RS Indonesia, amanah dari rakyat Indonesia untuk Palestina. Ketika tengah menunaikan tugas sebagai relawan di Gaza, pada awal Februari 2011, Abdillah menemui jodohnya seorang muslimah Gaza, Rajaa Al-Hirthani. Mereka pun resmi menikah pada 17 Februari 2011. Pernikahan ini merupakan pernikahan pertama antara warga negara Indonesia dan warga negara Palestina di Gaza. Para relawan, relasi dan sejumlah pejabat pemerintahan setempat turut hadir dalam moment pernikahan bersejarah ini. Pada usia pernikahan kurang dari 2 bulan, Rajaa sempat hamil, namun mengalami keguguran. Tidak berapa lama kemudian Rajaa hamil lagi dan akhirnya kehamilan ini bisa bertahan hingga lahirlah Marwah Filindo di tengah-tengah kondisi Jalur Gaza yang masih memprihatinkan. Blockade terhadap Jalur Gaza yang masih terus berlangsung. Hal ini mengakibatkan terjadinya kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang sudah berlangsung sejak 5 bulan lalu sampai dengan sekarang. Hal ini diperparah lagi dengan pemadaman listrik yang tidak menentu. Hal inilah yang turut dirasakan Abdillah dan para relawan MER-C Indonesia di Gaza yang rata-rata sudah setahun lebih tinggal dan bertuags di Gaza. Mereka turut merasakan langsung bagaimana kondisi dan penderitaan rakyat Gaza. Kelahiran anak pertama tentu diselimuti rasa was-was dan kekhawatiran, aku Abdillah. Apalagi saya pribadi sebagai orang asing yang hidup di negara orang harus ektra hati-hati dan pintar-pintar beradaptasi dengan kebiasaan dan budaya setempat. Terlebih lagi seperti yang kita ketahui bersama bahwa wilayah yang saya diami saat ini, yaitu Jalur Gaza, masih diblokade oleh zionis Isarel, tambah pemuda kelahiran Galela, Maluku Utara ini. Abdillah yang saat ini diamanahi sebagai Ketua MER-C Cabang Gaza juga mengungkapkan bahwa proses kehamilan sampai kelahiran putrinya, Marwah Filindo mengiringi proses pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza. Awal kehamilan istriku, Rajaa Al-Hirthani bertepatan dengan dimulainya pembangunan RSI, kini lahirnya anakku Marwah Filindo bertepatan juga dengan selesainya 100 % pembangunan tahap I untuk struktur RS Indonesia. Alhamdulillah¦ ungkapnya penuh syukur.
Malaysia Ucapkan Selamat Atas Berdirinya RSI Gaza

GAZA, PALESTINA Sebanyak 11 orang dari LSM Haluan Malaysia mengunjungi lokasi pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Jalur Gaza, Palestina, Sabtu (28/4). Delegasi yang dipimpin oleh Dr. Syed Muhamad Haleem ini menyatakan kekagumannya kepada bangunan RSI . Tiga dari 11 orang delegasi Malaysia tersebut merupakan alumni Mavi Marmara. Mereka adalah pimpinan rombongan Dr. Syed haleem, Dr. ArbaI dan Azman . Rasa haru dan bahagia terlihat di wajah para relawan saat pertama kali bertemu kembali setelah tragedi berdarah mavi marmara Mei 2010 yang lalu. Tidak disangka setelah dua tahun ALLAH mempertemukan kembali kami dengan para relawan tersebut, ujar Nur Ikhwan Abadi, relawan MER-C yang juga mengikuti misi Mavi Marmara. Dalam kunjungan ke RSI yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza utara, terlihat para relawan dari Haluan Malaysia takjub dan antusias melihat perkembangunan pembangunan RSI. Mereka menyampaikan selamat kepada MER-C Indonesia dan rakyat Indonesia pada umumnya atas berdirinya RS Indonesia di Jalur Gaza.
Rakyat Indonesia Berperan Besar atas Berdirinya RSI Gaza

Gaza, Palestina Suksesnya tahap pertama pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) untuk pekerjaan struktur tidak lepas dari peran berbagai pihak. ALLAH SWT adalah faktor utama yang berkehendak sehingga proyek ini berjalan dengan lancar. Pihak lain yang berperan penting dalam pelaksanaan pembangunan RSI ini adalah rakyat Indonesia yang telah menyumbangkan donasinya rupiah demi rupiah sebagai tanda cintanya terhadap saudara-saudara mereka yang sedang dalam penderitaan di Gaza. Peran besar yang dimainkan oleh rakyat Indonesia ini tercermin dari donasi yang masuk ke MER-C yang mencapai milyaran rupiah. Tiada kata lain selain kami mengucapkan syukur dan terima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia yang telah memberikan sumbangsih yang begitu besar. Kami mendoakan semoga ALLAH SWT memberikan balasan yang lebih baik. Rakyat Gaza juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada rakyat Indonesia atas bantuan ini. Hampir di setiap sudut Gaza, mengetahui adanya rumah sakit ini, rumah sakit yang unik, berbentuk segi delapan seperti Masjid Qubbah Sakhra yang ada di Masjid Al-Aqsha, dan bentuk seperti ini belum pernah ada sebelumnya di Gaza. Selain itu, program RSI juga tidak terlepas dari peran relawan yang pertama kali memunculkan ide pembangunan bantuan Rumah Sakit Indonesia ini. Peran media, baik cetak maupun elektronik yang ada di Indonesia juga tak kalah pentingnya. Mereka senantiasa membantu dengan menyebarkan setiap informasi terkait pemabangunan RSI Gaza. Semoga semua bantuan dalam bentuk apapun dalam program ini menjadi sebuah amal baik bersama. Ir. Nur Ikhwan Abadi Salah satu relawan MER-C Indonesia di Gaza, Palestina
Dukungan para Relawan Turki dan Gaza untuk RSI

Gaza, Palestina – Peran berbagai pihak di Gaza sendiri tidak kalah pentingnya terhadap program pembangunan RS Indonesia (RSI). Di tengah wilayah Gaza yang sempit dan lahan yang terbatas, Pemerintah Gaza menyambut baik rencana program pembangunan RS di wilayah mereka dengan mewakafkan lahan seluas 16.000 m2 kepada MER-C Indonesia untuk pembangunan RSI. Selain itu, temen-teman seperjuangan dari negeri Khalifah Utsmaniyah Turki, juga memberikan dukungannya. Salah satunya Muhammad Kaya, Ketua IHH Turki Cabang Gaza. Ia memberikan dukungan penuh dari awal hingga akhir demi terlaksananya pembangunan RSI ini. Bahkan tatkala terjadi perbedaan pendapat antara Tim MER-C Gaza dan Pihak Kementrian Kesehatan Gaza, Muhammad Kaya tampil terdepan membela kami. Kemudian beliau juga merekomendasikan insinyur lokal Jomah Al-Najjar untuk menjadi sharing partner kami dalam proses pembangunan RSI ini. Beliau membantu kami siang dan malam dalam membantu berdirinya RSI ini. Tak jarang pula Muhammad Kaya memberikan nasihat-nasihat berharga kepada kami selama di Gaza. Salah satu nasehat yang masih kami ingat selalu adalah ketika beliau mengatakan bahwa, dalam menjalankan amanah orang turki memiliki prinsip, Pantang kembali atau mundur kebelakang jika amanah yang diemban belum selesai dilaksanakan. Karena ketika berangkat menunaikan amanah, kapal yang akan membawa kami kembali sudah kami bakar, tidak ada kata lain selain maju terus meraih kemuliaan disisi ALLAH Subhanahu wa Taala. Prinsip ini lah yang selalu beliau pegang teguh dan sampaikan kepada setiap relawan. Apa yang disampaikannya senantiasa menjadi semangat dan motivasi buat kami para relawan Indonesia di Gaza. Tiada kata yang pantas selain doa kami semua, semoga kebaikan mereka mendapat balasan berkali lipat. Kami para relawan di Gaza pun tidak pernah menyangka pembangunan RSI ini akan terlaksana. Kami hanya manusia dhoif yang tidak lebih baik dari yang lain, yang hanya menjalankan amanah yang begitu besar di pundak kami. Berangkat dengan hanya bermodalkan ketaatan semata, tanpa ilmu dan pengetahuan yang memadai. Bekal minimum, seperti penguasaan bahasa asing yang harus ada pada setiap relawan pun tidak kami kuasai. Dalam satu tim relawan Indonesia ini, kami saling melengkapi, ada relawan insinyur, ada relawan yang mempunyai kemampuan bahasa dan lainnya. Teringat nasihat seorang Ustadz yang senantiasa memberikan semangat kepada kami ketika akan berangkat menunaikan amanah di Gaza dengan mengatakan, Berangkat saja dahulu, nanti diperjalanan ALLAH yang akan memberikan ilmu. Subhanallah benar saja, pertolongan ALLAH memang sangat dekat, pada awalnya kami tidak bisa berkomunikasi dengan bahasa Arab sama sekali. Ketika awal datang, seseorang menanyakan Kayfa Haluka? kami hanya terbengong karena tidak mengerti apa yang ditanyakan. Namun saat ini, kami semua relawan Indonesia di Gaza sudah bisa dengan fasih berbahasa Arab harian karena setiap hari kami kontak dengan masyarakat dan para pekerja bangunan lokal di proyek RSI. Ini salah satu contoh nikmat yang berikan-NYA dan masih banyak nikmat-nikmat lainnya yang begitu besar yang diberikan kepada kami. Sungguh kesempatan dan pengalaman menunaikan amanah tugas di Gaza mengawal pembangunan RSI adalah hal yang luar biasa yang tidak bisa kami ungkapkan dengan kata-kata. Ir. Nur Ikhwan Abadi Salah satu relawan MER-C Indonesia di Gaza
Pembangunan Tahap 2 RSI Gaza Segera Dimulai

Gaza, Palestina – Dengan selesainya pembangunan tahap pertama untuk struktur RS Indonesia (RSI), bukan berarti pekerjaan selesai sampai disini. Pembangunan tahap kedua untuk pekerjaan Arsitektur dan ME (Mekanikal Elektrikal) sudah menanti diepan mata dan memiliki tantangan yang tak kalah besarnya dari tahap pertama. Jika tahap pertama pembangunan RSI ini material yang dibutuhkan hanya berupa beton dan besi, maka di tahap kedua proses akan lebih rumit dan memerlukan konsenterasi dan tenaga yang lebih besar. Pembangunan tahap kedua untuk Arsitektur dan ME akan memerlukan banyak material yang di-supply dari luar Gaza. Terlebih lagi material-material tersebut hampir semua diimpor melalui terowongan Gaza. Namun demikian kami sangat yakin akan pertolongan ALLAH. Dulu RSI ini awalnya adalah sebuah khayalan, namun dengan pertolongan ALLAH khayalan itu kini sudah berbentuk nyata dan berdiri tegak di Gaza. Demikian juga dengan semua relawan MER-C yang mengawasi pembangunan RSI Gaza, insha ALLAH senantiasa berkomitment akan mengerahkan segenap kemampuan dan tenaga yang dimiliki untuk menyelesaikan pembangunan RSI Gaza ini. Kurangnya dana menjadi salah satu kendala Direncanakan pembangunan tahap II RSI Gaza akan dimulai pada bulan Juni 2012. Sementara itu kendala pendanaan juga menjadi salah satu faktor penghambat dilanjutkanya tahap kedua. Sejatinya, setelah selesai tahap pertama RSI ini dilanjutkan langsung dengan pembangunan Tahap kedua, namun karena dana yang dibutuhkan belum memadai, maka pembanguanan tahap kedua menjadi molor. Dari total dana yang dibutuhkan sekitar 30 milyar rupiah, dana yang sudah terkumpul sumbangan dari rakyat Indonesia sekitar 21 milyar rupiah, masih diperlukan 9 milyar rupiah lagi untuk selesainya pembangunan tahap kedua ini. RSI Gaza sangat berperan mengangkat nama baik Indonesia di dunia international, terlebih lagi sudah banyak rekan-rekan dari luar negeri seperti Turki dan Malaysia yang pernah mengunjungi dan melihat langsung proses pembangunan RSI di Gaza. Mereka mengatakan kekagumannya terhadap perjuangan rakyat Indonesia dalam memberikan bantuan kepada rakyat Gaza. Mohon doa dan dukungan dari seluruh rakyat Indonesia. Ir. Nur Ikhwan Abadi Salah satu relawan MER-C Indonesia di Gaza
Talkshow Progress RSI Gaza di Universitas Trisakti

JAKARTA Talkshow mengenai progress RS Indonesia (RSI) Gaza kembali digelar. Kali ini bertempat di Masjid As-Syuhada, Kampus Universitas Trisakti, Jakarta Barat, Sabtu (28/4). Talkshow di isi oleh Presidium MER-C dr. Joserizal Jurnalis, SpOT atas undangan UKM Hudzaifah. Awalnya acara dijadwalkan mulai pukul 14.00, namun harus bergeser sedikit ke jam 14.30 wib. Hal ini disebabkan kesibukan Dr. Joserizal yang masih harus menangani pasiennya di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta. Namun keterlambatan ini tidak mengurangi semangat para mahasiswa peserta Talkshow RSI, mereka tetap setia menunggu sampai acara Talkshow dimulai. Sambil menunggu kedatangan Dr. Joserizal, Tim MER-C yang sudah tiba lebih dulu memutarkan beberapa film dokumentasi MER-C seperti Film 2 Tahun Penyerangan Israel ke Gaza, Misi Konvoi Darat Tim MER-C pada Global March To Jerussalem, Film Profil MER-C, dan sejumlah liputan di TV Nasional seputar progress pembangunan RSI di Gaza Palestina. Peserta tampak terkesan dan takjub menyaksikan film-film tersebut. Terlihat wajah mereka yang serius bahkan ngeri melihat kondisi para korban dan adegan operasi yang dilakukan Tim Dokter MER-C di daerah konflik dan juga perang. Ketika Dr. Joserizal tiba di lokasi, acarapun langsung dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Quran oleh Fadli, salah satu Mahasiswa FTSP Jurusan Arsitektur, dilanjutkan dengan kata sambutan oleh Ketua UKM Hudzaifah, Ahmad Haikal. Usai kata sambutan, MC mempersilahkan Dr. Joserizal untuk tampil di depan para peserta. Selama 1 jam pertama, dokter yang berpengalaman di berbagai wilayah perang konflik dan bencana baik di dalam maupun di luar negeri memaparkan tentang kondisi Palestina dan Progress RSI di Gaza. Salah satu pesan yang disampaikan dr. Joserizal kepada para mahasiswa agar mahasiswa jangan bermental inferior karena mahasiswa adalah penerus generasi bangsa yang akan memimpin bangsa ini kelak di tengah bangsa-bangsa lain. Pada acara ini peserta juga diajak berkomunikasi secara langsung melalui skype dengan Tim relawan MER-C di Gaza. Nur Ikhwan Abadi salah satu relawan insinyur MER-C di Gaza menyampaikan progress RSI. Alhamdulillah pembangunan tahap I untuk struktur RSI sudah selesai 100% dan hari ini (Sabtu/28 April 2012) sedang dilakukan pengecoran tangga ram yang menandakan berakhirnya pekerjaan struktur RSI Gaza, papar Nur Ikhwan relawan yang saat ini diamanahi sebagai Wakil Ketua MER-C Cabang Gaza sekaligus Pimpinan Proyek Pembangunan RSI di Gaza. Suksesnya pembangunan RSI ini adalah berkat dukungan semua pihak termasuk peran besar rakyat Indonesia yang telah menyumbangkan donasinya melalui MER-C, juga peran teman-teman mahasiswa yang mengadakan acara ini. Mohon doanya karena sebentar lagi kita akan mulai pembangunan tahap kedua RSI Gaza, tambahnya. Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar dan para peserta tampak senang dengan informasi dan pemaparan dr. Joserizal. Acara ini telah menambah ghiroh dalam beraktifitas, ujar salah satu peserta. Panitia berencana akan mengundang MER-C kembali untuk mempresentasikan tentang progress RSI.
Serba-Serbi Donatur RSI¦.

Penjelasan dari dr. Jose sangat bagus, menyentuh dan tidak memprovokasi sehingga berhasil membuat kami para karyawan rela potong gaji untuk infaq ke Palestina, ungkap seorang ibu usai mendengar penyampaian dr. Joserizal tentang Palestina pada acara pengajian di kantornya. Memang sebelum acara ditutup, sang MC sempat mengumumkan kepada para karyawan bahwa bagi yang ingin berinfaq untuk RS Indonesia di Palestina, harap mengisi form pemotongan gaji, ungkap salah seorang staf MER-C yang mendampingi dr. Jose presentasi pada pagi itu. ——– Lain lagi dengan kisah seorang Bapak tua yang usianya sekitar 70-an tahun, yang kami terima dari teman di Rasil 720 AM (Radio Silaturahim 720 AM salah satu radio yang selama ini menjadi media partner MER-C). Dengan agak susah payah Bapak tua itu berusaha melangkahkan kaki tuanya menyusuri jalan Masjid Silaturahim yang sebelumnya telah menempuh jalan jauh dari rumahnya dengan bergonta-ganti angkot. Setibanya di depan studio Rasil, Bapak tua itu bertemu dengan Krisna, salah seorang penyiar Rasil, kemudian menyerahkan uang Rp 20.000,-. Untuk infaq pembangunan RS Indonesia di Gaza, katanya lirih. Saya tidak punya ATM dan saya ingin melihat studio Rasil. Dari sini rupanya suara yang menemani sisa hidup saya sehari-hari,” lanjutnya. Subhanallah¦ yang seperti itu menambah energi kami mengelola dakwah di Rasil 720 AM, ungkap Gheiz Chalifah, salah seorang pengelola radio tersebut. Donasi Rp 20ribu,- per orang untuk RS Indonesia (RSI) di Gaza memang program yang diluncurkan oleh MER-C sejak pembangunan RSI dimulai, tepatnya bulan Juni 2011. Jumlah donasi yang ditetapkan sengaja tidak besar agar siapapun bisa ikut berpartisipasi. Sosialisasi pun dilakukan baik melalui penyebaran brosur, poster, spanduk, pesan melalui email, jejaring sosial, sms, bbm, dll. Berbagai Media, termasuk Rasil juga gencar membantu sosialisasi program donasi Rp 20ribu orang hingga menggerakkan para pendengarnya untuk ikut berdonasi, termasuk Bapak tua tadi. ——- Pertolongan dan bantuan Allah untuk pembangunan RS Indonesia di Gaza juga sering datang dari arah yang tak disangka-sangka. Masih kisah dari teman di Rasil 720 AM yang menerima email dari seorang Ibu. Ibu itu mendapat amanah dari ayahnya, seorang pendengar setia Rasil yang sudah wafat pada bulan Januari 2012 lalu. Ayahnya berwasiat untuk memberi sumbangan bagi pembangunan RS Indonesia di Gaza sebesar Rp 150 juta. Usai memberi informasi nomor rekening donasi Pembangunan RS Indonesia di Gaza, tidak selang berapa lama, sumbangan itu pun ditransfer. Alhamduliilah dana sudah diterima oleh MER-C, kata Faried, salah seorang pengelola Rasil yang juga merupakan Ketua Divisi Konstruksi MER-C. . Sampai saat ini saya bahkan belum pernah bertemu dengan orangnya, hanya sempat berbicara di telpon saja, tambahnya, ——– Tidak hanya orang tua atau yang sudah berekonomi mapan, anak-anak pun ingin ikut berperan dan beramal untuk pembangunan RS Indonesia di Gaza Palestina. Sebut saja Nufa, seorang siswi SD sengaja datang ke Sekretariat MER-C sepulang sekolah. Saat itu, masih nuansa bulan Syawal. Nufa kemudian mengutarakan niatnya kepada staf MER-C yang menerimanya. Saya mau nyumbang untuk Rumah Sakit di Palestina. Gadis kecil itupun menyerahkan dua buah amplop bertuliskan namanya, dan satu amplop lagi titipan dari kakaknya. Bagian keuangan MER-C membuka amplop dan menghitung lembar demi lembar ribuan dalam kedua amplop itu. Jumlahnya belasan ribu rupiah. Kenapa Nufa ingin menyumbang untuk RS di Palestina? tanya staf MER-C sambil membuatkan bukti tanda terima donasi untuknya. Saya ingin membantu teman-teman saya di Palestina yang terkena bom Israel, jawabnya. Mungkin jumlah belasan ribu rupiah tidak besar menurut kita. Tapi niat seorang gadis kecil yang dengan ikhals menyisihkan sebagian dari uang Lebaran-nya untuk bisa ikut membantu Palestina hendaknya bisa menjadi inspirasi dan penyemangat bagi kita untuk lebih giat beramal dan berbuat baik. ——- Masih banyak lagi kisah-kisah nyata yang mungkin mewarnai ikhtiar pembangunan RS Indonesia. Yang pasti, setiap rupiah yang terkumpul untuk program pembangunan RS Indonesia di Gaza betul-betul merupakan rizki yang disisihkan oleh rakyat Indonesia sesuai dengan kemampuannya. Baik seribu rupiah, puluhan ribu rupiah, ratusan ribu rupiah bahkan ratusan juta rupiah. Berapapun atau bahkan apapun yang dimilikinya, mereka ingin terlibat dalam program yang memang diharapkan bisa menjadi sebuah amal baik bersama. Untuk itu, sampai saat ini MER-C masih menutup bantuan-bantuan asing karena ingin dana pembangunan RS Indonesia murni dari rakyat Indonesia. Dengan jumlah muslim terbesar di dunia, kami yakin akan bisa menyelesaikan monumen persahabatan dua negara ini, Indonesia Palestina. Hingga tanggal 11 April 2012, dari total Rp 30 Milyar yang dibutuhkan untuk pembangunan RS Indonesia di luar biaya alkes sudah terkumpul sebesar Rp 20.937.327.882,-. Terima kasih kami ucapkan kepada para donatur, relasi, relawan (dimanapun berada, khususnya di Gaza) dan seluruh rakyat Indonesia yang sudah mendukung dan dengan ikhlas membantu program ini dalam bentuk apapun. Terima kasih juga kami ucapkan kepada rekan-rekan media baik cetak, elektronik maupun online yang sudah gencar membantu mengkampanyekan dan mensosialisasikan setiap progress pembangunan RSI ini kepada masyarakat luas mulai awal hingga saat ini. Semoga keikhlasan semua pihak mendapat balasan yang berkali lipat dari NYA. Salam, MER-C Indonesia
Pembangunan Tahap I RSI Gaza Selesai 100 %

Gaza, Palestina – Setelah hampir satu tahun sejak dimulainya proses pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza pada Mei 2011, akhirnya pembangunan tahap 1 untuk struktur RSI selesai 100 %. Pekerjaan yang semula ditargetkan selama 9 bulan, sempat molor selama 3 bulan dikarenakan beberapa hal antara lain, susahnya relawan masuk ke Gaza dalam rangka mengawal pembangunan RSI, pengadaan material yang senantiasa dikirimkan melalui terowongan, kondisi cuaca pada akhir tahun 2011 dan awal tahun 2012 yang senantiasa turun hujan lebat. Selain itu, kondisi keamanan di Gaza yang tidak menentu akibat serangan-serangan zionis Israel juga menyebabkan beberapa kali pekerjaan harus terhenti, serta beberapa item pekerjaan tambahan memerlukan waktu tambahan pula dalam pengerjaannya. Namun demikian hambatan-hambatan di atas masih terbilang sangat wajar, terlebih di daerah yang diblokade ketat bak penjara terbesar di dunia, seperti Gaza, pekerjaan bisa berjalan seperti ini memang sudah sangat luar biasa. Akhir pekerjaan RSI Gaza ini ditandari dengan pengecoran akhir tangga ramp yang dilaksanakan pada hari Sabtu 28 April 2012. Dua minggu sebelumnya diadakan pengecoran middle area dari RSI ini setinggi 1 lantai, dan beberapa item lain seperti pintu masuk basement dan lantainya. Dengan demikian 100 % selesai sudah pembangunan RSI tahap pertama ini yang selanjutnya akan diikuti oleh pembangunan tahap kedua untuk Arsitektur dan ME (Mekanikal Elektrikal) RSI. Terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan, dukungan baik moril maupun materiil untuk program ini, dukungan anda semua sangat berarti besar demi terbangunnya RSI sebagai persembahan nyata dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina. Ir. Nur Ikhwan Abadi Salah satu relawan MER-C Indonesia di Gaza Palestina
RSI Gaza Bukukan Rekor untuk Kedua Kalinya

Gaza Palestina: RS Indonesia (RSI) Gaza, kembali memecahkan rekor pengecoran terbesar yang pernah terjadi di Gaza. Beton sejumlah 500 m3 (meter cubic) yang dimuntahkan dalam satu waktu selama 8 jam proses pengecoran lantai 3 RSI pada Selasa (20/03) ini menjadikannya sebagai pengecoran terbesar yang pernah terjadi di Gaza. Jika di Indonesia atau negara lainnya, pengecoran sejumlah tersebut terbilang biasa, namun berbeda dengan Gaza, negeri yang terblokade ini belum pernah melakukan pengecoran sebesar itu. Rekor pertama dipecahkan pada saat pengecoran lantai 2 RSI sekitar 2 bulan yang lalu, pengecoran sejumlah 484 m3 (meter cubic) berhasil dilakukan. Belum pernah sebelumnya dilakukan pengecoran sebesar ini dalam satu waktu. Awalnya para insinyur di Gaza tidak yakin bisa melakukan pengecoran ini dalam sekali waktu. Berkali-kali mereka meminta kepada Tim Insinyur MER-C yang tergabung dalam Divisi Konstruksi MER-C untuk melakukan pengecoran tidak dalam satu waktu. Banyak alasan yang mereka kemukakan, mulai dari bahan yang terbatas yang harus masuk melalui terowongan, hingga kekhawatiran akan terjadi keruntuhan ketika dicor dalam satu waktu. Tapi para relawan insinyur MER-C di Gaza menyarankan dan mengatakan bahwa hal ini sudah biasa dan insha ALLAH tidak akan terjadi masalah. Seperti kata pepatah, pengalaman merupakan guru yang terbaik, para relawan insinyur MER-C yang telah berpengalaman di bidangnya membuktikan hal itu dan Alhamdulillah tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Dengan luas hanya 365 km2 (kilometer persegi) dan kepadatan penduduk 4.400 jiwa per satu kilometer persegi, menyebabkan Gaza sangat sempit dan kekurangan lahan, sehingga banyak bangunan bertingkat. Namun umumnya bangunan di Gaza hanya berbentuk segi empat. Berbeda dengan RSI Gaza yang berbentuk segi delapan, sehingga menjadikannya sangat unik dan berbeda dari yang lain. Semoga Rumah Sakit Indonesia di Gaza Palestina ini membawa kebaikan bagi rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di Gaza serta semakin mempererat rasa ukhuwah dan kecintaanya satu sama lain. Insha ALLAH. Ir. Nur Ikhwan Abadi Salah satu Relawan Insinyur MER-C di Gaza
Pengecoran Lantai 3 Selesai, Progress RSI Gaza Capai 97 %

Gaza Palestina: Pekerjaan tahap I Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza Palestina mendekati akhir. Tanggal 20 Maret 2012, pengecoran lantai 3 menandai semakin dekatnya penyelesaian tahap I ini. RSI Gaza berbentuk segi delapan yang terinspirasi dari Masjid Qubbah Sakhra, di Al-Quds ini sudah berdiri tegak di atas bumi Syam penuh berkah ini. Rasa haru dan bahagia tampak di wajah setiap relawan Indonesia. Haru karena mimpi itu menjadi nyata. Lebih dari satu tahun sebanyak 6 orang relawan MER-C Indonesia meninggalkan tanah air, meninggalkan pekerjaan dan keluarga untuk menunaikan amanah di pundak mereka. Dengan izin-NYA semata, para relawan bisa mengatasi berbagai masalah yang ada satu persatu. Waktu berlalu terasa begitu cepat, sejak ide ini dilontarkan sekitar 3 tahun yang lalu tidak terbayang akan menjadi kenyataan. Terlebih lagi rakyat Indonesia, yang memberikan dukunagn penuh terhadap pembangunan RSI Gaza, dengan menyumbangkan rupiah demi rupiah untuk saudaranya di Gaza Palestina. Walaupun terkadang mereka sendiri membutuhkan bantuan, tapi kecintaan mereka terhadap sesama, kecintaan mereka mendahulukan kepentingan yang paling membutuhkan menjadikanya sebuah kekuatan yang begitu dahsyat. Jika rakyat sudah bersatu padu maka rintangan apapun akan mudah dihadapi dengan izin-NYA. Dengan dibangunnya RSI ini, nama Indonesia pun sudah begitu menggema di setiap sudut kota Gaza. Jika rakyat Gaza bicara tentang Indonesia, maka akan teringat dengan jumlah muslim terbesar di dunia. Begitu juga ketika bicara tentang muslimin maka akan teringat Indonesia yang mempunyai penduduk muslim terbesar di dunia. Setiap rakyat Gaza yang bertemu relawan menyatakan terima kasihnya kepada rakyat Indonesia dan mendoakan semoga program ini menjadi sebuah amal kebaikan. Bangunan RSI ini merupakan bangunan pertama di Gaza yang dibangun dari nol sejak agresi Israel ke Gaza 2008-2009 yang lalu. Bentuknya yang unik, desainnya yang sangat asing membuat bangunan RSI ini menjadi bangunan terunik di Gaza. Tidak pernah ada bangunan seperti ini sebelumnya di Gaza, bahkan setiap orang yang datang melihat terheran-heran, hingga para insinyur di Gaza pun heran melihat disain seperti ini. Bangunan apa ini? Kokoh sekali? Bagaimana mereka membuatnya? Tidak ada bangunan seperti ini sebelumnya di Gaza? tanya mereka penuh keheranan. Pengecoran 500 m3 Lantai 3 RSI Gaza Hanya 8 Jam Setelah melakukan supervisi terhadap seluruh pekerjaan lantai 3, mulai dari pekerjaan shuttering, pembesian hingga kebersihan selama kurang lebih 1 bulan penuh akhirnya dilakukan pengecoran lantai terakhir RSI Gaza. Persiapan pekerjaan pengecoran dilakukan sejak pukul 03.00 dini hari waktu Gaza. Pukul 02.00 dini hari para relawan yang berada di Posko MER-C Gaza City telah bersiap berangkat ke lokasi RSI di Bayt Lahiya Gaza Utara, tiba di lokasi sekitar pukul 02.50 waktu Gaza, Nampak para kerja sudah mulai bersiap-siap melakukan pengecoran, pengecekan terakhir dan beberapa persiapan segera dilaksanakan, Tidak butuh waktu lama, sekitar pukul 04.10 waktu Gaza pengecoran dimulai. Dengan menggunakan 2 concrete pump dan puluhan pekerja, pengecoran pun dimulai. Seluruh relawan berkumpul dan mengawasi bersama-sama proses pengecoran ini. Tiga orang relawan insinyur dari Indonesia ditambah dua orang insinyur lokal Gaza mengawasi berjalannya pekerjaan, sedangkan relawan lainnya membantu tim insinyur dan mendokumentasikan pekerjaan. Ketika waktu subuh tiba, para relawan bergiliran melakukan shalat subuh untuk kemudian kembali melakukan pengawasan. Suhu udara di Gaza yang sudah mulai menghangat menambah semangat para pekerja dan relawan. Pekerja yang terdiri dari 2 grup dimana setiap grup terdiri dari 15 orang ini, dengan semangat melakukan pengecoran. Bentuknya yang segi delapan memang cukup memudahkan para pekerja, karena terdiri dari delapan panel dan setiap panel memerlukan waktu sekitar satu jam untuk dicor. Hanya dalam waktu 8 jam proses pengecoran sebesar 500 m3 ini pun selesai pada pukul 12.00 waktu Gaza. Setiap orang mengucapkan selamat dan bersyukur karena telah menyelesaikannya dengan baik tanpa kendala yang berarti. —————————– Ir. Nur Ikhwan Abadi Salah satu relawan MER-C Indonesia di Gaza – Palestina