Penggalangan Dana MER-C untuk RSI Gaza Tercapai

Presidium MER-C Indonesia, Dr. Joserizal Jurnalis (FOTO ANTARA/Reno Esnir) Dukungan dari rakyat Indonesia terhadap program Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza Palestina masih terus mengalir. Bogor (ANTARA News) – Target awal penggalangan dana yang dilakukan organisasi relawan kesehatan “Medical Emergency Rescue Committee” (MER-C) Indonesia untuk pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza, Palestina telah tercapai. “Dukungan dari rakyat Indonesia terhadap program Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza Palestina masih terus mengalir. Sampai dengan awal Maret 2013, dana yang sudah terkumpul untuk program ini sebesar Rp31 miliar,” kata Presidium MER-C dr Joserizal Jurnalis, SpOT kepada ANTARA News, di Bogor, Sabtu. Joserizal pada Jumat (15/3) malam melepas keberangkatan sebanyak tujuh orang relawan, tiga di antaranya adalah insinyur ke Kairo, Mesir untuk selanjutnya menuju ke Jalur Gaza. “Saat ini, fokus pengglangan dana adalah untuk pengadaan alat kesehatan dan bangunan pendukung RS. Semoga menjadi amal baik bersama,” katanya. Sementara itu, keberangkatan tim dipimpin langsung oleh Ketua Divisi Konstruksi MER-C Ir Faried Thalib kali ini adalah untuk melakukan supervisi pembangunan tahap kedua RS Indonesia yang masih berlangsung di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina. Tim dijadwalkan akan tiba di Kairo, Mesir pada Sabtu (16/3) pukul 09.30 waktu setempat atau pukul 14.30 WIB. Dari bandara Kairo, tim akan langsung menuju perbatasan Rafah untuk mencoba langsung masuk ke Gaza berbekal surat izin yang sudah didapat. Editor: Ella Syafputri Sumber : http://www.antaranews.com/berita/363573/penggalangan-dana-mer-c-untuk-rsi-gaza-tercapai
MER-C kirim Lagi Tim Pemantau RSI Ke Gaza

Jakarta, 3 Jumadil Ula 1434/16 Maret 2013 (MINA) – Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) memberangkatkan lagi tim pemantau (supervisi) ke Jalur Gaza, Palestina untuk memonitor pekerjaan pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI). Tugas tim pemantau RSI untuk memonitor dan menentukan hal-hal penting seperti dalam memutuskan perubahan-perubahan kecil yang terjadi tanpa diduga dalam jalannya pembangunan RSI tahap dua ini, kata Kepala Divisi Kontruksi MER-C, Ir. Faried Thalib saat dihubungi Miraj News Agency (MINA) di Jakarta. Faried menyatakan, pemantauan pekerjaan pembangunan RSI di Gaza oleh tim khusus Divisi Kontruksi MER-C itu dilaksanakan rutin setiap empat bulan sekali. Terakhir Tim Pemantau RSI diberangkatkan pada akhir Oktober 2012 lalu, kata Faried. Tim pemantau yang akan diberangkatkan kali ini terdiri dari 7 orang relawan, 3 diantaranya adalah insinyur yang dipimpin oleh Faried Thalib, Wahyuni Faried, Farida Faried, Idrus Muhammad Alatas, Ahmad Syauqi, Zulkifli dan Munarman. Tim Pemantau RSI dikhususkan untuk memantau kontruksi fisik RSI. Sementara itu, keberangkatan Zulkifli dan Munarman untuk melihat kondisi terkini Gaza, melihat secara langsung kontruksi RSI serta bertemu dengan tokoh-tokoh di sana, kata Faried. Tim pemantau RSI berangkat pada Jumat sore (15/3) pukul 17.00 WIB dengan maskapai penerbangan Singapore Airlines dan dijadwalkan akan tiba di Kairo, Mesir hari ini Sabtu (16/3) pukul 9.30 waktu setempat atau pukul 14.30 WIB. Dari bandara Kairo, tim akan langsung menuju perbatasan Rafah untuk mencoba langsung masuk ke Gaza berbekal surat izin yang sudah didapat. Dari Kairo tim akan melangsungkan perjalanan menuju perbatasan Rafah dan bertemu dengan tim penjemput. Insya Allah, Sabtu Sore sudah masuk di Jalur Gaza-Palestina, jelas Faried. Sementara itu, Presidium MER-C, dr. Joserizal Jurnalis, SpOT mengatakan, keberangkatan Tim pemantau RSI ke Gaza merupakan bentuk jihad professional. Ini adalah bentuk jihad para profesional, ungkap Joserizal yang turut mengantar keberangkatan Tim di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jumat sore (15/3) dalam rilis web resmi MER-C yang dipantau Miraj News Agency (MINA). Jihad para professional yang terpenting adalah pengorbanan waktu dan pengamalan ilmu-teknologi untuk perjuangan, tambahnya. Sebelumnya, MER-C memberangkatkan seorang relawan Ir. Edy Wahyudi untuk membantu mengawasi pekerjaan pembangunan tahap II RS Indonesia (RSI) berupa pekerjaan arsitektur dan ME (Mechanical Electrical) pada 16 Februari 2013 lalu. Ia berangkat beserta tiga utusan pesantren Al-Fatah (Ustad M.Sholeh Iskandar, Reza Addila Kurniawan dan Muqorrobin Al-Fikri), yang akan mengikuti program Tahfidzul Quran metode Tajul Waqar di Mahad Tahfidzul Quranul Karim was Sunnah Gaza. Pembangunan RSI Gaza Tahap Dua Capai 65 Persen Menurut Faried, pembangunan RSI tahap dua diperkirakan sudah mencapai 65%. Sementara itu, menurut laporan dari salah satu relawan RSI di Jalur Gaza, para relawan kini sedang melakukan fase Kissaroh atau plester dinding bagian dalam, setelah sebelumnya telah menyelesaikan pekerjaan pemasangan blok dinding samping dan blok sekat dalam seluruh ruangan RSI yang terdiri dari dua lantai dan satu lantai basement serta satu lantai middle area. Rencana pekerjaan selanjutnya adalah pengerjaan ME rumah sakit. Mohon doa agar para relawan disini selalu dalam keadaan sehat, diberikan kesabaran dan keikhlasan serta selalu istiqamah dalam mengemban amanah di jalan Allah ini, kata seorang relawan RSI-Gaza, Didi Karidi melalui pesan singkat kepada MINA. Lokasi RSI seluas 1,6 hektar sangat dekat dengan perbatasan wilayah Palestina yang dijajah Israel, yaitu sekitar 2,5 km dari pagar perbatasan di kawasan Beit Lahiya, Gaza utara, Palestina. Bahkan lokasi RSI itu sebelumnya adalah tempat latihan tempur para pejuang Gaza, sebelum akhirnya disetujui oleh Pemerintah Palestina di Gaza kepada MER-C sebagai pihak yang memprakarsasi pembangunannya atas dasar kemanusiaan. Dalam proyek tersebut, bekerja 32 relawan Indonesia dari berbagai keahlian pekerjaan, mulai dari tukang batu, ahli listrik, ahli air, mahasiswa hingga insinyur sipil. Seluruh relawan berasal dari Pondok Pesantren Al-Fatah berpusat di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat sebagai mitra dakwah dan ukhuwah MER-C. Rumah sakit itu menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina dimana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia. Total donasi dari rakyat Indonesia untuk program pembangunan RS Indonesia di Gaza sudah mencapai Rp 31 milyar. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Pembangunan RSI tahap konstruksi fisik kedua serta jaringan listrik akan memerlukan biaya total sebesar Rp 37 miliar. Usai pembangunan fisik, masih akan dibutuhkan dana untuk fasilitas pendukung dan medis, dari mebel, tempat tidur hingga perangkat medis. Kebutuhan dana itu, belum termasuk perangkat medis modern seperti MRI (magnetic resonance imaging) dimana dana yang diperlukan sekitar 30 miliar rupiah lagi. Pembangunan RSI-Gaza tahap kedua diharapkan akan selesai bulan Desember 2013 dan sudah mulai beroperasi pada tahun 2014, tambah Faried.(L/P02/P06/R2). Sumber : http://mirajnews.com/id/indonesia/3010-mer-c-kirim-lagi-tim-pemantau-rsi-ke-gaza.html
MER-C Berangkatkan Tim Konstruksi ke Gaza untuk Supervisi RSI

Jakarta MER-C kembali memberangkatkan relawannya ke Jalur Gaza, Palestina. Jumat sore (15/3), sebanyak 7 orang relawan, 3 diantaranya adalah insinyur bertolak ke Kairo Mesir dengan menggunakan maskapai penerbangan Singapore Airlines. Keberangkatan tim yang dipimpin langsung oleh Ketua Divisi Konstruksi MER-C, Ir. Faried Thalib ini adalah untuk melakukan supervisi pembangunan tahap 2 RS Indonesia yang masih berlangsung di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina. Tim dijadwalkan akan tiba di Kairo, Mesir hari ini Sabtu (16/3) pukul 9.30 waktu setempat atau pukul 14.30 wib. Dari bandara Kairo, tim akan langsung menuju perbatasan Rafah untuk mencoba langsung masuk ke Gaza berbekal surat izin yang sudah didapat. Ini adalah bentuk jihad para profesional, ungkap Presidium MER-C, dr. Joserizal Jurnalis, SpOT yang turut mengantar keberangkatan Tim di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Jihad para professional yang terpenting adalah pengorbanan waktu dan pengamalan ilmu-teknologi untuk perjuangan, tambahnya. Saat ini sebanyak 31 relawan Indonesia yang terdiri dari insinyur dan tenaga teknis tengah mewaqafkan waktu dan ilmunya di Gaza. Mereka semua tengah menunaikan tugas melakukan pembangunan tahap 2 RS Indonesia yang seluruh amanah dananya berasal dari rakyat Indonesia. Pembangunan tahap ini berupa pekerjaan arsitektur dan ME (Mechanical Electrical) RS memang akan dikerjakan sendiri oleh putra-putra bangsa Indonesia. Kedatangan Ketua Divisi Konstruksi MER-C dan Tim ke Gaza kali ini adalah untuk melakukan supervisi langsung proses pembangunan tahap 2 yang sudah dikerjakan oleh relawan selama 4 bulan lebih, sejak akhir awla November 2012. Pekerjaan yang sudah selesai adalah pemasangan blok dinding samping dan blok sekat dalam seluruh ruangan RSI yang terdiri dari 2 lantai dan 1 lantai basement serta 1 lantai middle area. Rencana pekerjaan selanjutnya adalah pengerjaan ME rumah sakit. Sementara itu, dukungan dari rakyat Indonesia terhadap program RS Indonesia di Gaza Palestina masih terus mengalir. Sampai dengan awal Maret 2013, dana yang sudah terkumpul untuk program ini sebesar Rp 31 milyar. Target awal penggalangan dana RSI telah tercapai. Saat ini, fokus pengglangan dana adalah untuk pengadaan alat kesehatan dan bangunan pendukung RS. Semoga menjadi amal baik bersama.
Solo Sumbang 100 Juta Lebih Untuk RSI Di Gaza

Solo, Jawa Tengah, 2 Jumadil Ula 1434/14 Maret 2013 (MINA) Dalam rangka menggalang dana untuk pembangunan RS Indonesia (RSI) di Gaza Palestina, baru-baru ini MER-C Cabang Surakarta mengadakan acara talkshow dan penggalangan dana, demikian seperti dilansir pada website resmi MER-C yang dipantau oleh MINA (14/3). Acara yang bertema Sejuta Cinta untuk Palestina digelar Ahad pagi (10/3) bertempat di Masjid Agung Surakarta. Henry Hidayatullah dan Abdul Mughni Rozy, dua relawan dokter MER-C yang pernah bertugas di wilayah konflik Gaza-Palestina hadir sebagai narasumber. Pada laporanya, Mughni, seorang relawan senior dari MER-C Cabang Semarang memaparkan pengalamannya ketika menjadi tim MER-C pada saat agresi Israel awal tahun 2009. Dokter spesialis bedah umum ini menyaksikan sendiri bagaimana kondisi kota Gaza yang luluhlantak akibat serangan bom dan rudal Israel. Serangan ini juga menyebabkan ribuan rakyat Gaza juga menjadi korban. Sementara Henry yang merupakan salah satu pendiri dan relawan senior MER-C membagi pengalamannya saat mengunjungi Gaza belum lama ini. Ia mengatakan, Saat ia datang, pembangunan struktur RSI sudah selesai dan pembangunan tahap 2 segera dimulai. Kedatangan Henry bersama Ketua Divisi Konstruksi MER-C dan 21 relawan teknis dari Indonesia menandakan siap dimulainya pembangunan tahap 2 RSI. Pembangunan tahap 2 memang akan dilakukan oleh relawan ahli dan teknis dari Indonesia, hal ini dalam rangka menghemat biaya pembangunan. Tidak hanya cerita, para jamaah yang hadir di Masjid Agung Surakarta juga disuguhkan dengan foto-foto dan film proses pembangunan RSI dari awal hingga update terakhir. Malam harinya, acara sosialisasi RSI di kota Solo masih berlanjut. Kali ini bertempat di kelompok pengajian ibu Siti Aminah pemilik Tiga Serangkai. Dari dua rangkaian acara ini, jumlah donasi cash semetara yang terkumpul dari warga Solo sebesar Rp 15.478.000 dan cek senilai Rp 100 juta.(T/P015/R2). Sumber : http://www.mirajnews.com/indonesia/2995-solo-sumbang-seratus-juta-lebih-untuk-rs-indonesia-di-gaza.html
Warga Solo Sumbang Rp 100 juta Lebih untuk RS Indonesia

Solo, Jawa Tengah Dalam rangka menggalang dana untuk pembangunan RS Indonesia (RSI) di Gaza Palestina, baru-baru ini MER-C Cabang Surakarta mengadakan acara talkshow dan penggalangan dana untuk program ini . Acara yang bertema Sejuta Cinta untuk Palestina digelar Ahad pagi (10/3) bertempat di Masjid Agung Surakarta. Dr. Henry Hidayatullah dan dr. Abdul Mughni Rozy, Sp.B, dua relawan dokter MER-C yang pernah bertugas di wilayah konflik Gaza-Palestina hadir sebagai narasumber. Dr. Mughni, seorang relawan senior dari MER-C Cabang Semarang memaparkan pengalamannya ketika menjadi tim MER-C pada saat agresi Israel awal tahun 2009. Dokter spesialis bedah umum ini menyaksikan sendiri bagaimana kondisi kota Gaza yang luluhlantak akibat serangan bom dan rudal Israel. Serangan ini juga menyebabkan ribuan rakyat Gaza juga menjadi korban. Sementara dr. Henry yang merupakan salah satu pendiri dan relawan senior MER-C membagi pengalamannya saat mengunjungi Gaza belum lama ini. Saat ia datang, pembangunan struktur RSI sudah selesai dan pembangunan tahap 2 segera dimulai. Kedatangan dr. Henry bersama Ketua Divisi Konstruksi MER-C dan 21 relawan teknis dari Indonesia menandakan siap dimulainya pembangunan tahap 2 RSI. Pembangunan tahap 2 memang akan dilakukan oleh relawan ahli dan teknis dari Indonesia, hal ini dalam rangka menghemat biaya pembangunan. Tidak hanya cerita, para jamaah yang hadir di Masjid Agung Surakarta juga disuguhkan dengan foto-foto dan film proses pembangunan RSI dari awal hingga update terakhir. Malam harinya, acara sosialisasi RSI di kota Solo masih berlanjut. Kali ini bertempat di kelompok pengajian ibu Siti Aminah pemilik Tiga Serangkai. Dari dua rangkaian acara ini, jumlah donasi cash semetara yang terkumpul dari warga Solo sebesar Rp 15.478.000 dan cek senilai Rp 100 juta.
Relawan RSI Penuhi Undangan dari AILAH JARROD, Keluarga Terbesar dengan 100 Cucu

Gaza, Palestina – Nama ailah/marga di tanah Arab khususnya di Palestina dilestarikan hingga turun-menurun, setiap warga mencantumkan nama marga di belakang nama aslinya, contoh Muhammad Abu Samir, Nama Samir adalah nama ailah atau nama marga. Pada satu momen undangan makan siang yang biasa relawan pembangunan RSI terima minimalnya hampir sebulan sekali, momen kali ini terbilang istimewa bagi para relawan, karena hari Jumat 04 Maret 2013 relawan pembangunan RSI mendapatkan satu oleh-oleh yang berupa pengetahuan juga informasi penting. Kholid Abu Muhammad Abu Jarrod, pria yang dikaruniai anak lima inilah yang mengundang 30 relawan pembangunan RSI untuk makan siang di kebunnya nan asri di perbatasan Bayt Lahiya dan Bayt Hanuun, dengan membagi kelompok pejalan kaki dan pengendara mobil, para relawan pun dengan senang hati menuju lokasi makan siang setelah shalat Jumat. Ayah dari Kholid Abu Muhammad Abu Jarrod bernama Musa Abu Jarrod, beliau dikaruniai 14 anak di antaranya Kholid, tidak tanggung-tanggung 100 cucu dari keempat belas anak anaknya menghangatkan suasana kekeluargaan keluarga besar Musa. Tidak hanya itu, keluarga besar Musa adalah keturunan keluarga Jarrod yang mana keluarga Jarrod ini masyhur karena terbilang salah satu keluarga terbesar di Kota Gaza yang banyak memiliki keturunan. Musa Abu Jarrod yang berumur 74 tahun, hingga saat ini telah melaksanakan haji beserta umroh sebanyak 15 kali, mabruuk alaih kata orang sini untuk ucapan selamat sekaligus doa bagi orang yang menerima banyak nikmat semasa hidupnya.
RS Indonesia di Gaza Selesai Tahun Ini

Gaza, 10 Rabiul Akhir 1434/20 Februari 2013 (MINA) Relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Ir. Edy Wahyudi mengatakan, pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza ditargetkan selesai tahun ini. Kita coba kejar target waktu selesai insya Allah tahun ini, meskipun secara hitungan masih diperlukan biaya cukup besar, ujar Edy yang baru tiba dari Jakarta di RSI Gaza Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina. Total donasi dari rakyat Indonesia untuk program pembangunan RS Indonesia di Gaza sudah mencapai Rp 30,7 milyar. Semua donasi berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Estimasi dana yang diperlukan berkisar 30 miliar rupiah lagi, terutama untuk anggaran infrastruktur dan peralatan kesehatan, katanya kepada Miraj News Agency (MINA), Selasa malam (19/2). Menurut relawan yang pernah bertugas tahun lalu di Gaza, pembangunan RSI tahap kedua memerlukan ketelitian, karena lebih kompleks daripada tahap pertama. Edy bergabung dengan 27 relawan MER-C asal Indonesia lainnya yang sudah berada di Gaza. Seluruh relawan berasal dari Pondok Pesantren Al-Fatah berpusat di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat sebagai mitra dakwah dan ukhuwah MER-C. Seluruh relawan berkomitmen melaksankan amanah amal shalih di Gaza hingga pembangunan RSI selesai, ujarnya. Ia mengatakan, persiapan berikutnya setelah selesai bangunan, adalah mengadakan alat kesehatan beserta obat-obatan, yang memerlukan dana besar. Tahfidzul Quran Edy Wahyudi berangkat ke Gaza pada Jumat (15/2) dan tiba Sabtu (16/2) beserta tiga utusan pesantren Al-Fatah, yang akan mengikuti program Tahfidzul Quran metode Tajul Waqar di Mahad Tahfidzul Quranul Karim was Sunnah Gaza. Ketua delegasi Ustadz M.Sholeh Iskandar, Pengelola Tahfidzul Quran Pesantren Al-Fatah Natar, Lampung, dijadwalkan mengikuti Program Tajul Waqar di Gaza. Tajul Waqar (mahkota ketegaran, kemuliaan) merupakan jenis program akselerasi (percepatan) menghafal Al-Quran 30 juz yang dikemas dalam bentuk perkemahan liburan musim panas selama 1-2 bulan. Pada saat libur panjang, anak-anak di Gaza tidak melakukan acara bermain atau wisata liburan. Akan tetapi justru mengisi liburannya dengan berkumpul di masjid untuk mengikuti program menghafal Al-Quran. Program menghafal Al-Quran saat liburan musim panas ini merupakan program unggulan di Gaza. Puluhan ribu siswa siswi dari berbagai tingkatan sekolah bahkan pemuda dan orang tua, mengikuti program yang bernama Tajul Waqar ini. Mereka berkumpul dari pagi hingga sore hari di masjid-masjid di Gaza, kemudian menghafal Quran selama dua bulan penuh. Selama dua bulan tersebut, sebagian besar dari mereka berhasil mengahafal Al-Quran 30 juz. Program ini sudah ada sejak lama di Gaza. Namun baru ditertibkan dengan dibentuk sebuah lembaga formal bernama Dar Al-Quranul Karim was Sunnah sejak 2006. Sejak saat itulah lahir puluhan ribu hafidz dan hafidzah (penghafal Al-Quran). Tercatat tahun 2010 diwisuda 24.000 hafidz dan hafidzah, tahun 2011 sebanyak 10.000 hafidz dan hafidzah, serta tahun 2012 sekitar 10.000 hafidz dan hafidzah Al-Quran. Menurut Syekh Abdurrahman Yusuf Al-Jamal, disebut Tajul Waqar karena mereka para penghafal Al-Quran akan mendapatkan mahkota kemuliaan dari Allah kelak di hari akhirat. Mahkota tersebut kemudian disematkan oleh penghafal Al-Quran kepada orang tua masing-masing, untuk bersama-sama masuk ke dalam syurga, ujar Syeikh Al-Jamal. Pimpinan program Tajul Waqar Gaza, Syeikh Aburrahman Yusul Al-Jamal Al-Hafidz, pernah berkunjung ke Pesantren Al-Fatah Lampung guna melaksanakan program Tajul Waqar periode Januari-Februari 2012 lalu. Dalam waktu dua bulan saja, anak-anak usia SD-SLTA di Lampung waktu itu, dapat menghafalkan Al-Quran rata-rata antara 1-5 juz. Bahkan ada yang lebih, ujar Ustadz Sholeh. Untuk itu, lembaganya ingin melanjutkan program Tajul Waqar lebih intensif lagi dengan mengadakan studi banding dan melihat langsung pelaksanaannya di Gaza, paparnya. Pesantren Al-Fatah ditunjuk oleh Dar Al-Quranul Karim was Sunnah Gaza sebagai perwakilan dan koordinator pengembangan Tajul Waqar di Indonesia. Relawan Indonesia di Gaza juga memanfaatkan waktu-waktu di luar pekerjaan rutin RSI, dengan mengadakan kegiatan belajar bahasa Arab dan mengikuti program Tahfidzul Quran secara sederhana. Tercatat, ada relawan yang sudah hafal lima juz selama sekitar setahun bertugas di Gaza, karena mengikuti program Tajul Waqar musim liburan lalu khusus kelas karyawan. Ikut serta dalam rombongan relawan ke Gaza, Reza Addila Kurniawan dan Muqorrobin Al-Fikri, alumni Pesantren Al-Fatah untuk melanjutkan kuliah di Universitas Islam Gaza. (L.P03/R1). Sumber : http://www.mirajnews.com/palestina/2394-rs-indonesia-di-gaza-selesai-tahun-ini.html
Satu Lagi Relawan Insinyur MER-C Berangkat ke Gaza

Jakarta Jum’at/15 Februari 2013, tepatnya pukul 20.20 wib, MER-C memberangkatkan lagi tambahan satu relawan insinyur ke Gaza, Palestina. Keberangkatan relawan insinyur ini adalah untuk membantu mengawasi pekerjaan pembangunan tahap 2 RS Indonesia (RSI) berupa pekerjaan arsitektur dan ME (Mechanical Electrical). Pekerjaan pembangunan tahap dua RSI memang dilakukan sendiri oleh insinyur dan tenaga teknis dari Indonesia yang semuanya adalah relawan (unpaid volunteers) dari Pesantren Alfatah yang tergabung dalam Divisi Konstruksi MER-C. Kedatangan tambahan insinyur, yaitu Ir. Edy Wahyudi diharapkan bisa melakukan pemantauan yang lebih baik terhadap proses pembangunan RS Indonesia, amanah dari rakyat Indonesia untuk Palestina yang mulai memasuki tahap lebih rumit dan detail, apalagi pembangunan tahap dua seluruhnya akan dikerjakan oleh tenaga ahli dan pendukung dari Indonesia. Bersama Ir. Edy Wahyudi, berangkat juga 3 relawan dari Pesantren Alfatah. Selain turut membantu dalam program pembangunan RS Indonesia, mereka juga akan menimba ilmu di Gaza melalui program kerjasama beasiswa antara Universitas Islam Gaza dan Pesantren Alfatah. Keempat relawan tiba di Kairo Sabtu (16/2) sekitar pukul 9 pagi waktu setempat. Dari Kairo, semua relawan langsung menuju perbatasan Rafah dan dengan surat izin yang ada, semua relawan bisa masuk ke Gaza pada hari Sabtu sorenya. Bagi Ir. Edy Wahyudi ini adalah keberangkatan keduanya ke Gaza. Sebelumnya, Ir. Edy pernah bertugas selama 1,5 tahun di Gaza. Tugasnya bersama 2 relawan insinyur lainnya saat itu, Ir. Nur Ikhwan Abadi dan Ir. Ahmad Fauzi adalah untuk menindaklanjuti dan mengawasi proses pembangunan tahap 1 berupa pekerjaan struktur RSI. Ia baru kembali ke Indonesia setelah pembangunan struktur RSI selesai. Kini, keahliannya kembali dibutuhkan, untuk mengawasi pembangunan tahap 2 RSI yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara. Ir. Edy Wahyudi dan 3 relawan akan bergabung dengan 27 relawan Indonesia yang sudah berada di Gaza. Semua relawan berkomitmen akan bertugas di Gaza hingga pembangunan RSI selesai dan amanah donasi dari rakyat Indonesia yang disalurkan melalui MER-C tertunaikan. Berdasarkan laporan dari Ir. Nur Ikhwan Abadi di Gaza, Pekerjaan pemasangan blok dinding samping dan blok sekat-sekat ruangan dalam untuk lantai 1 dan 2 RSI sudah selesai. Yang masih berlangsung adalah pemasangan blok lantai basement yang tersisa sekitar 50% lagi. Donasi Rakyat Indonesia untuk RSI Capai Rp 30,7 Milyar Sementara itu, total donasi dari rakyat Indonesia untuk program pembangunan RS Indonesia di Gaza sudah mencapai Rp 30,7 Milyar. Semua donasi murni berasal dari rakyat Indonesia yang sebagian besar dari kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. Alhamdulillah perkiraan awal biaya pembangunan sebesar Rp 30 Milyar, yang sebelumnya sulit terbayangkan akhirnya tercapai bahkan sudah melebih dari target. Kini kebutuhan selanjutnya adalah biaya untuk pengadaan alat-alat kesehatan dan pengembangan kompleks RS Indonesia, yaitu pembangunan infrastruktur, masjid, gedung manajemen dan juga wisma rakyat Indonesia. papar Ir. Faried Thalib, Ketua Divisi Konstruksi MER-C. ***
Satu Tahun Lebih Bertugas di Gaza, 3 Relawan MER-C Tiba di Tanah Air

JAKARTA Raut muka bahagia terpancar dari wajah tiga relawan MER-C Indonesia ketika menginjakkan kaki di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Senin (7/5), sekitar pkl. 22.00 wib. Mereka adalah Ir. Ahmad Fauzi, Ir. Edy Wahyudi dan Darusman Abdul Hamid. Ketiganya adalah relawan yang telah bertugas lebih dari 1 tahun di Gaza mengawasi proses pembangunan RS Indonesia (RSI) di sana. Para keluarga, kerabat, Imaam Muhyidin Hamidy (Pimpinan Pesantren Alfatah), dr. Sarbini Abdul Murad (Ketua Presidium MER-C) dan dr. Joserizal Jurnalis, SpOT (Presidium MER-C) turut hadir malam itu untuk menyambut kedatangan para relawan. Kepulangan tiga relawan ini menyusul telah selesainya pembangunan tahap pertama untuk struktur RSI yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina. Sementara, tiga relawan lainnya, yaitu Abdillah Onim, Ir. Nur Ikhwan Abadi dan Muhammad Husein masih melanjutkan tugas di Gaza guna mempersiapkan pembangunan tahap 2 untuk Arsitektur dan ME (Mekanikal Elektrikal) RSI. Selamat datang kepada para relawan, kalian adalah para putra terbaik bangsa. Perjuangan teman-teman selama ini di Gaza meninggalkan keluarga dan pekerjaan serta semua yang dicintai di Indonesia untuk menunaikan amanah mengawasi pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza adalah hal yang sangat luar biasa, ungkap Presidium MER-C pada acara penyambutan sederhana yang digelar di Terminal Kedatangan luar negeri Bandara Soekarno Hatta. Ir. Ahmad Fauzi, Ir. Edy Wahyudi dan Darusman Abdul Hamid, ketiganya adalah relawan MER-C yang berasal dari Pesantren Alfatah. Mereka bisa mencapai Gaza setelah mengikuti konvoi darat pembukaan blokade Gaza Asia to Gaza Solidarity Caravan pada bulan Desember 2010 hingga Januari 2011. Setelah 1 bulan menempuh jalur darat melalui sejumlah negara untuk mengkampanyekan pembukaan blokade Gaza, akhirnya konvoi ini berhasil menginjakkan kaki di Gaza, termasuk ketiga relawan tersebut. Sejak saat itu, mereka berkomitmen menetap di Gaza bergabung sebagai Tim relawan MER-C Indonesia untuk mengawal proses pembangunan RS INDONESIA di Jalur Gaza. Terlebih lagi Ahmad Fauzi dan Edy Wahyudi memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman sebagai Insinyur yang memang sangat dibutuhkan untuk program pembangunan RS Indonesia di Gaza, Palestina. Setelah hampir 1,5 tahun meninggalkan keluarga untuk mengabdi sebagai relawan (unpaid volunteers) di wilayah perang dan terblokade seperti Gaza Palestina, adalah suatu anugerah yang sangat disyukuri bisa kembali ke tanah air dengan selamat tanpa kurang suatu apapun. Kami bersyukur bisa kembali ke Indonesia dengan selamat, bertemu dengan keluarga dan sahabat yang lain. Namun, kami juga rindu dan siap apabila mendapat amanah serta kesempatan untuk kembali bertugas di Gaza, ujar ketiganya. Proses pembangunan RS Indonesia tidak lepas dari berbagai kendala dan hambatan. Namun yang kami rasakan bila ada satu kesulitan yang kami temui di sana, selalu diikuti dengan banyak kemudahan. Hal inilah yang membuat kami tetap semangat menghadapi segala tantangan, karena kami yakin setelah tantangan ini Allah akan memberikan banyak kemudahan, ungkap Ahmad Fauzi, relawan yang berasal dari Samarinda, Kalimantan Timur. Senada dengan Ahmad Fauzi, insinyur lainnya, yaitu Edy Wahyudi juga mengungkapkan bahwa berbekal taat, Allah SWT memberikan banyak sekali kemudahan dan kekuatan selama mereka mengawal proses pembangunan RSI yang mulanya dianggap sebagian orang sebagai sebuah program Mission Impossible. Sementara Darusman, relawan yang paling senior dan mempunyai 11 anak ini juga menyatakan sangat bersyukur diberi kesempatan berharga terlibat dalam proses pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza. Menyambut kedatangan para murid-muridnya, Imaam Pesantren Alfatah, Muhyidin Hamidy menyampaikan bahwa kepulangan ini adalah buah dari perjuangan dan kesabaran. Kalian telah lulus. Kepulangan ini adalah buah dari perjungan dan kesabaran kalian. Namun ingat, kepulangan ini bukanlah akhir dari segalanya, tapi merupakan awal dari tugas dan amanah-amanah baru. Sementara itu, Divisi Konstruksi MER-C di Jakarta saat ini tengah mempersiapkan pembangunan tahap selanjutnya untuk Arsitektur dan ME (Mekanikal Elektrikal) RSI. Apabila tidak ada halangan, pembangunan tahap 2 akan dimulai pada bulan Juni 2012. Sejumlah relawan yang berlatar belakang Arsitektur dan ME akan ditugaskan ke Gaza untuk mengawal pembangunan tahap 2. Sampai saat ini dari Rp 30 Milyar dana yang dibutuhkan untuk pembangunan fisik RSI, donasi yang sudah terkumpul dari rakyat Indonesia sudah mencapai Rp 21 Milyar lebih. Sosialisasi dan penggalangan dana RSI akan terus dilakukan sambil berjalannya pembangunan. Semoga RS Indonesia, persembahan dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina bisa selesai dalam waktu secepatnya. Tiga Relawan kembali ke Indonesia Dilepas Tangisan Haru rakyat Gaza Saat yang sangat mengharukan ketika harus berpisah dengan orang-orang yang sudah seperti saudara kandung sendiri. Setelah berhari-hari selalu bersama, susah dan senang bersama, merasakan blokadeGaza bersama-sama, inilah yang terjadi terhadap tiga relawan Indonesia saat harus kembali ke Indonesia setelah berakhirnya pembangunan tahap I RSI Gaza. Kepulangan mereka dilepas haru oleh masyarakat Gaza. Masalahnya kalian adalah bagian dari keluarga kami, kita bertemu bukan sehari atau dua hari, satu minggu atau dua minggu, tapi lebih dari satu tahun kita bersama, kita sedih bersama, kita tertawa bersama, kita menghadapi masalah bersama, dan kita diblokade bersama. Kita mengalami masa-masa sulit di daerah blokade ini, sungguh sangat berat melepas kepulangan kalian. Jangan lupakan kami, kami sangat berharap kaliansemua bisa kembali lagi kemari melanjutkan perjuangan bersama kami, ungkapJomah Al-Najjar, Ketua PWH (Palestine Welfare House) yang selama ini turut membantu proses pembangunan RSI di Gazamenyampaikan rasa harunya kala melepas kepulangan para relawan. Lain lagi dengan Abu Walid, yang selalu membantu relawan MER-Cdalam membuat laporan ke Pemerintahan Gaza. Kedatangan muslimin dari luar ke Palestina untuk berkhidmat membantu Palestina sungguh sangat luar biasa. Terlebih lagi dari Indonesia, yang berada di ujung dunia bagian timur. Kedatangan kalian memberikan pesan berharga kepada kami bahwa kami tidak sendiri ditengah diamnya dunia Arab disekitar kami, ujarnya. Sampaikan salam dan ucapan terima kasih kami kepada rakyat Indonesia, tambahnya. Abu Abdallah Shanti, seorang pemuka masyarakat di Gaza Utara, juga turut melepas kepergian para relawan di lokasi RSI. Beliau menyampaikan salam kepada masyarakat Indonesia dan mengucapkan terima kasih kepada MER-Cyang telah berusaha membuat sebuah RS di Gaza. Kami tidak bisa membayangkan jika kami seperti kalian, membantu kami di sini dengan meninggalkan segalanya di tanah air kalian, maafkan kami jika kami tidak bisa memuliakan kalian sebagai tamu disini, ujarnya penuh haru. Memang kehadiran relawan Indonesia di Gaza sedikit banyak memberikan isnpirasi dan semangat tersendiri untuk rakyat Gaza khususnya. Mereka sangat merasakan dukungan moril yang begitu besar dari rakyat Indonesia. Dibangunnya sebuah Rumah Sakit di Gaza bantuan dari rakyat
Dilepas Tangisan Haru Rakyat Gaza, Tiga Relawan Kembali ke Indonesia

Gaza, Palestina Setelah sekitar 1.5 tahun berada di Gaza guna mengawal pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza Palestina, tiga orang relawan MER-C Indonesia kembali ke tanah air Indonesia. Ketiga orang relawan tersebut adalah Ir. Edy Wahyudi, Ir. Ahmad fauzi dan Darusman. Moment yang sangat mengharukan dimana ketika kita harus terpisah dengan seorang yang sudah seperti saudara kandung sendiri. Setelah berhari-hari selalu bersama, susah dan senang bersama, merasakan blokade Gaza bersama-sama, Inilah yang terjadi terhadap tiga relawan Indonesia saat harus kembali ke Indonesia. Kepulangan mereka ini setelah berakhirnya pembangunan tahap I RSI Gaza, dilepas haru oleh masyarakat Gaza. Masalahnya kalian adalah bagian dari keluarga kami, kita bertemu bukan sehari atau dua hari, satu minggu atau dua minggu, tapi lebih dari satu tahun kita bersama, kita sedih bersama, kita tertawa bersama, kita menghadapi masalah bersama, dan kita diblokade bersama. Kita mengalami masa-masa sulit di daerah blokade ini, sungguh sangat berat melepas kepulangan kalian. Jangan lupakan kami, kami sangat berharap antum semua bisa kembali lagi kemari melanjutkan perjuangan bersama kami. Demikian Jomah Al-Najjar menyampaikan rasa haru nya melepas kepulangan para relawan. Lain lagi dengan abu walid, yang selalu membantu relawan MER-C dalam membuat laporan keuangan ke pemerintahan Gaza, mengatakan kedatangan muslimin dari luar ke Palestina untuk berkhidmat membantu Palestina sungguh sangat luar biasa. Terlebih lagi dari Indonesia, yang berada di ujung dunia bagian timur. Kedatangan kalian memberikan pesan berharga kepada kami bahwa kami tidak sendiri, ditengah diamnya dunia arab disekitar kami. Sampaikan salam dan ucapan terima kasih kami kepada rakyat Indonesia. Abu Abdallah Shanti, seorang pemuka masyarakat di Gaza Utara, melepas pula kepergian para relawan di lokasi RSI. Beliau menyampaikan salam kepada masyarakat Indonesia, dan mengucapkan terima kasih kepada MER-C yang telah berusaha membuat sebuah RS di Gaza. Kami tidak bisa membayangkan jika kami seperti kalian, membantu kami disini dengan meninggalkan segalanya di tanah air kalian, maaf kan kami jika kami tidak bisa memuliakan kalian sebagai tamu disini ujarnya penuh haru. Memang sedikit banyak, kehadiran relawan Indonesia di Gaza memberikan inspirasi dan semangat tersendiri untuk rakyat Gaza khususnya, mereka sangat merasakan dukungan moril yang begitu besar dari rakyat Indonesia. Dibangunnya sebuah Rumah Sakit di Gaza, bantuan dari rakyat Indonesia merupakan sesuatu yang sangat berarti bagi mereka. Terlebih lagi pembangunan tersebut diawasi langsung oleh insinyur-insinyur dari Indonesia, sehingga membuat bantuan ini terasa berbeda dari yang lainnya. Turut pula melepas kepulangan para relawan rekan dari Turki, Matin Abu Talha. Ketiga relawan yang tetap berkomitment untuk terus membantu mengawal pembangunan RSI Gazatersebut, kini telah tiba di Indonesia pada tanggal 7 mei 2012. Semoga ALLAH menerima setiap amal Ibadah yang mereka lakukan selama di Gaza. (nia/gz)