RSI Gaza masuki Tahap Mechanical Electrical, Selesai Tahun Ini

Jakarta, 13 Rajab 1434/23 Mei 2013 (MINA) Presidium Medical Emergeny Rescue Committee (MER-C) dr. Joserizal Jurnalis,Sp.OT mengatakan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina, saat ini tengah memasuki tahap pembangunan Mechanical Elektrical (ME), dan dijadwalkan selesai tahun ini. Progres RSI Gaza, saat ini memasuki pembangunan mekanikal elektrikal, insya-Allah selesai tahun ini ujarnya kepada wartawan Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj News Agency), di Jakarta, Rabu, (22/5). Kita akan cari dana sekitar Rp65 miliar untuk penyedian alat kesehatan, sebagian peralatan rumah sakit seperti tempat tidur kita coba bawa dari Indonesia, dan peralatan lain kita beli dari Mesir dan Eropa, papar dr. Jose. Kita memiliki program gerakan Rp20 ribu, dan menjadi gerakan Rp50 ribu untuk penyediaan alat- alat kesehatan tersebut, tambahnya. MER-C melakukan kampanye penggalangan dana tersebut dari Sabang sampai Merauke, semua lapisan masyarakat turut andil dalam pembangunan RSI Gaza tersebut. Menurutnya, komitmen para relawan di Jalur Gaza sanat luar biasa, juga teman-teman di MER-C yang giat mencari pendanaan untuk pembangunan RSI Gaza tersebut. Para relawan berjibaku dalam pembangunan RSI Gaza, buktinya adalah mereka bertahan ketika terjadi perang pada bulan November lalu, walaupun mengalami kesulitan, mereka tetap bertahan ujarnya. Menurutnya, dana pembangunan RSI murni dari masyarakat Indonesia, menunjukan betapa tingginya semangat rakyat Indonesia terhadap persahabatan dengan rakyat Palestina. RSI Gaza ini adalah sesuatu yang mampu kami berikan terhadap rakyat Gaza, yang telah diisolasi oleh Zionis Israel selama lima tahun lebih, kata Jose. Persahabatan kita denga rakyat Palestina bukan tanpa sejarah, mereka adalah salah satu penyokong terhadap kemerdekaan negara Indonesia, jadi ini bukan persahabatan yang baru. Maka, apabila mereka menderita kita juga merasa menderita, dan kita ingin mengurangi rasa sakit mereka dengan memberikan hadiah RSI ini, tegasnya. Dalam pembangunan RSI Gaza, bekerja 33 relawan Indonesia dari berbagai keahlian pekerjaan, mulai dari tukang batu, ahli listrik, ahli air, mahasiswa hingga insinyur sipil. Seluruh relawan berasal dari Pondok Pesantren Al-Fatah binaan Jama’ah Muslimin (Hizbullah) berpusat di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat, sebagai mitra dakwah dan ukhuwah MER-C. (L/P015/P01/R1). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/5221-rsi-gaza-masuki-tahap-pembangunan-mekanikal-elektrikal.html
RSI di Gaza Pelipur Lara Muslim Palestina

Bandar Lampung, 10 Rajab 1434/20 Mei 2013 (MINA) – Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Jalur Gaza menjadi pelipur lara bagi warga muslim Palestina. Waleed Hasan Ahmad, anggota Haiah Ulama Filistine mengatakan hal itu kepada wartawan Kantor Berita Islam MINA (Mi’raj News Agency) di sela acara konser penggalangan dana untuk Palestina di Bandar Lampung, Ahad, (19/5). RSI di Gaza, seolah menjadi pelipur lara kami. Sehingga kami warga Palestina merasa sudah sembuh. Kami sangat bersyukur dan berterimakasih terhadap masyarakat Indonesia, kata Waleed. Waleed juga menekankan peran penting masyarakat Indonesia untuk pembebasan Palestina dan dalam memperhatikan Masjid Al-Aqsha. Warga Palestina mungkin hanya 12 juta jiwa saja, namun kami tidak takut, karena di belakang kami ada ratusan juta masyarakat Indonesia yang terus membantu kami, katanya. Yahudi terus melakukan Yahudisasi, mereka akan membagi Masjid Al-Aqsha menjadi dua bagian, selain itu mereka terus membangun permukiman penduduk Yahudi di sekitar Masjid Al-Aqsha dengan menghancurkan rumah-rumah warga Palestina, papar Waleed. Sementara itu, saat dihubungi MINA, Ir. Nur Ikhwan Abadi, Manajer Lapangan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Pembangun RSI di Gaza menjelaskan, kemajuan pembangunan RSI di Gaza sekarang memasuki tahap penyelesaian akhir, berupa pemasangan hajar Qudsi (batu alam yang didatangkan khusus dari Hebron, Tepi Barat Palestina), pengerjaan pemasangan AC, kamar jenazah dan sumur bor. Dengan mohon pertolongan Allah dan jika tidak ada halangan insya-Allah akhir tahun 2013 ini pekerjaan bangunan fisik selesai, kata Ikhwan. Ia juga menambahkan, untuk menyelesaikan pembangunan Rumah Sakit persembahan umat Islam Indonesia tersebut, masih memerlukan dana sekitar Rp65 miliar, terutama untuk pengadaan peralatan medis. (L/K1/R2). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/5103-rsi-gaza-pelipur-lara-muslim-palestina.html
Relawan RS Indonesia Hadiri Acara Kunjungan Yusuf Qordhowy

Gaza Palestina. Persatuan Ulama Muslimin Dunia dengan pimpinan masyhur Syeikh Doktor Yusuf Qordhowy dengan didampingi 50 delegasi ulama dari berbagai negara seperti Libya, Suriah, Arab Saudi sampai Australia mengadakan kunjungan ke kota Gaza-Palestina untuk mengadakan Konferensi Pembebasan Al-Aqsha dan para tahanan. Relawan RS Indonesia berkesempatan mengikuti selama dua hari acara kunjungan cendekiawan muslim asal Mesir ini. Rabu (8/5) sekitar pukul 21.00 waktu Gaza, rombongan Syeikh Doktor Yusuf Qordhowy tiba di Jalur Gaza dan disambut langsung oleh PM Palestina Ismail Haniya. Keesokan harinya, Kamis (9/5), bertempat di Katibah kota Gaza, Syeikh Doktor Yusuf Qordhowy menyampaikan bahwa ummat Islam jangan pernah berhenti melawan musuh dalam rangka pembebasan Al-Aqsha. Di tengah kesibukan para relawan MER-C dalam program pembangunan RS Indonesia di Gaza, sebanyak 30 relawan turut menghadiri momen penting ini. Hal ini atas izin dari Ir. Edy Wahyudi selaku Ketua program pembangunan RS Indonesia di Gaza. Ir. Edy Wahyudi memberikan liburan khusus selama satu hari untuk refreshing fisik para relawan RSI yang setiap harinya bekerja untuk pembangunan RS Indonesia. Liburan khusus seperti ini diberikan 1 hari dalam jangka waktu 4 bulan. Pada hari itu para relawan dibagi menjadi dua kelompok untuk menuju Katibah kota Gaza. Relawan RSI tiba di lokasi dua jam sebelum acara dimulai. Dengan penjagaan yang sangat ketat dari pemerintahan kota Gaza, para relawan RSI berhasil menempati kursi di barisan paling depan. Pada hari Jumat (10/5), rombongan Syeikh Yusuf Qordhowy melaksanakan shalat Jumat bersama di masjid Umari, sebuah masjid berusia 4.000 tahun yang terletak di Distrik Darj, Gaza City. Dengan penjagaan yang sangat ketat dan jamaah yang melimpah ruah sejak dua jam sebelum adzan dikumandangkan. Alhamdulillah, hari Jumat adalah hari libur untuk kawasan Palestina dan sekitarnya, sehingga para relawan RS Indonesia kembali dapat menghadiri khutbah dan melaksanakan shalat berjamaah bersama rombongan Asy-Syeikh dengan mendapatkan shaf terdepan. Selama dua hari berturut-turut para relawan memanfaatkan waktunya untuk mengikuti acara kunjungan Syeikh Yusuf Qordhowi, tentulah bukan tidak merasa lelah, tetapi semua terbayar dengan hasil yang mereka peroleh. Keesokan harinya mereka kembali bekerja seperti biasa dengan agenda pekerjaan RS Indonesia di Gaza yang terdiri dari pembangunan gedung utama dan gedung pelengkap. Bidang-bidang pekerjaan antara lain pemasangan instalasi listrik (cable tray, stop kontak, saklar), Pekerjaan Sanitair dan Plumbing (Pemipaan saluran: air bersih, air panas, air kotor dan air hujan) serta Pekerjaan Plesteran dan Blok. Dengan mengucap syukur kepada Allah SWT kami berterimakasih kepada seluruh rakyat Indonesia atas doa dan dukungan baik moral maupun materilnya. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan balasan yang lebih baik atas keikhlashan rakyat Indonesia dalam membantu pembangunan RS Indonesia di Gaza-Palestina.
Dari Jarak Ribuan Kilometer Relawan MER-C Sambut Kelahiran Anaknya

Gaza, Palestina Bukan pekerjaan yang mudah di kala seseorang meninggalkan istri, anak-anak maupun keluarga dengan jarak yang jauh dan jangka waktu yang lama. Sakti Wibowo bin Wakijo, salah seorang relawan MER-C asal Wonogiri (Jawa Tengah) yang saat ini bertugas membantu pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza menempuh tantangan di atas demi memunaikan amanah rakyat Indonesia dan menggapai ridho-Nya. Tidak tanggung-tangung jarak dan waktu yang ditempuh adalah ribuan kilometer dari Indonesia ke Jalur Gaza. Masa tugas yang harus dilalui pun tidak sebentar, bisa mencapai 1 tahun bahkan lebih tergantung selesainya pembangunan fisik RS Indonesia yang akan menjadi sebuah persembahan dari rakyat Indonesia untuk rakyat Palestina. Namun berkat keteguhan doa dari seluruh keluarga, membuat pahit manis masa tugas yang dilalui relawan yang akrab dipanggil Abu Zaki ini terasa lebih banyak sisi kesenangan. Inilah nikmat yang menurutnya berhasil menyempurnakan pola hidup yang ia rangkai hingga saat ini, Pada hari Selasa (23/4), relawan asal Wonogiri (Jawa Tengah) ini mendapat kabar gembira dari keluarga di tanah air. Telah lahir putrinya yang ke-4 sekitar pukul 04.00 wib dalam keadaan sehat dengan berat 3.8 kg dan panjang 51 cm. Mendengar kabar tersebut, pria yang dikenal periang ini langsung mengucap syukur dengan menengadahkan kepala dan kedua tangannya ke langit Gaza. Dengan bangga pria yang juga pernah menjadi relawan ke wilayah gempa Padang (Sumbar) tahun 2009 lalu, telah menyiapkan nama yang istimewa bagi buah hati yang baru saja lahir. Dibantu Muhammad Husein, rekan sesama relawan yang juga salah satu mahasiswa di Universitas Islam Gaza (UIG), sepakat memberi nama istimewa KHANSA AL-GHOZIYAH, yang bermakna Khansa (nisbat kepada shohabiyah) wanita Gaza yang anggun.
Asosiasi Ikatan Insinyur Gaza Lakukan Studi Banding ke RS Indonesia

Gaza, Palestina Salah satu asosiasi ikatan insinyur Gaza Association of Engineers, Gaza Governorates Palestine, Sabtu (27/04) siang sekitar pukul 15.00 waktu Gaza, dengan anggota sekitar 15 orang datang berkunjung ke RS Indonesia yang terletak di kota Bait Lahiya Gaza Utara. Tujuan kunjungan mereka dalam rangka melakukan studi banding ke RS Indonesia. Di dampingi Ir. Edy Wahyudi sebagai perwakilan dari MER-C, salah satu perwakilan dari asosiasi insinyur, Mr. Wahid, mengungkapkan tujuan mereka memilih studi banding ke RS Indonesia. Keunikan konstruksi bangunan Rumah Sakit Indonesia yang berbeda dengan bangunan-bangunan di Gaza pada umumnyalah yang membuat asosiasi yang didirikan pada 19 Desember 1976 ini memilih Rumah Sakit Indonesia sebagai objek yang menantang untuk dipelajari. Sangat terlihat jelas antusiasme dari raut muka kelima belas orang insinyur ini menerima arahan dan penjelasan baik dari Mr. Wahid selaku pimpinan kelompok maupun dari Ir. Sulis Dian serta Ir. Edy Wahyudi yang dengan gamblang menjelaskan hal-hal yang perlu diketahui oleh para insinyur ini. Mereka mengelilingi semua ruangan di RS Indonesia yang mereka anggap wajib untuk mereka gali pengetahuannya. Berawal dari meneliti bagian basement RS Indonesia, kelompok insinyur ini melanjutkan kunjungan ke lantai satu, kemudian ke lantai dua dan kunjungan berakhir di sumur bor RS Indonesia yang baru saja selesai proses pengeborannya sehari sebelumnya. Mengakhiri kunjungannya ke RS Indonesia para insinyur ini memperlihatkan senyum dan salam hangat yang menandakan kepuasan mereka selama sekitar satu setengah jam lebih berkeliling di RS Indonesia. Dengan menggunakan tansportasi mobil carry ala Gaza dan motor mereka kemudian berpamitan untuk pulang. Seperti kepuasan para rekan-rekan insinyur Gaza ini, kami sebagai relawan Indonesia yang mengemban amanah pembangunan RS Indonesia juga puas atas pelayanan kami menjamu tamu-tamu yang datang silih berganti ke RS Indonesia baik siang maupun malam.
Sarana Pendukung RS Indonesia di Gaza Terus Dilengkapi

Gaza, Palestina – Jum’at (19/4) atau bertepatan dengan 8 Jumadil Akhir 1434 H MER-C sebagai organisasi yang memikul amanah dari rakyat Indonesia kembali menapakkan penambahan sebuah bangunan di bumi para nabi Palestina Gaza. Bangunan tersebut adalah Mortuary and Technical Room atau Bangunan Kamar Mayat dan Teknis dengan luas bangunan 356 m2 sebagai sarana pelengkap RS Indonesia (RSI) di Gaza. Bangunan yang terletak di sebelah Barat RSI tersebut juga dilengkapi dengan berbagai ruangan yang akan menjadi satu kesatuan fungsi yang terdiri dari beberapa ruang, yaitu gas, pumpa, R.O (Reverse Osmosis), workshop, 4 ruang toilet, 2 ruang kantor, kantor utama, penyimpanan mayat, washing gowning dan administrasi. Ruang pumpa adalah untuk menghisap air dari ground tank kemudian dialirkan menuju tangki-tangki penampung air rumah sakit yang diletakkan pada lantai atap. Kamar Mayat dipersiapkan untuk tempat menyimpan atau meletakkan sementara jenazah sebelum diambil oleh keluarganya.
Progres Pembangunan Deep Well RS Indonesia Di Gaza Dimulai

Gaza, Palestina – Salah satu agenda pelaksanaan pembangunan RS Indonesia di Gaza adalah tahapan pembangunan pekerjaan Deep Well. Tahapan ini merupakan rangkaian Pekerjaan Mekanikal. Deep Well adalah sumur bor yang mengambil sumber air tertekan dari lapisan Aquifer atau Zona Jenuh di bawah tanah. Kedalaman pengeboran di Gaza umumnya berkisar antara 60 s.d 200 meter atau tergantung dari kondisi hidrogeologi. Keuntungan menggunakan Deep Well adalah ketersediaan airnya yang lebih banyak dari sumur pantek atau sumur dangkal. Selain itu, lapisan akifer yang mengandung air asin maupun payau dapat dihindari. Keberadaan jalur air yang disalurkan oleh pemerintahan Gaza melalui pipa-pipa kecil ke lokasi pembangunan RS Indonesia tidak lagi dapat memenuhi kebutuhan air di lokasi proyek. Selain keperluan air untuk pembangunan, air juga untuk memenuhi keperluan air sehari-hari 30 relawan RS Indonesia di Gaza Palestina. Pelaksanaan pekerjaan Deep Well RS Indonesia di Gaza dimulai pada hari Rabu/17 April 2013 yang sampai dengan hari Jum’at 19 April 2013 pengeboran sudah mencapai 47 meter dari 80 meter yang direncanakan. Casing steel deep well RS Indonesia di Gaza menggunakan pipa steel berdiameter 8 inch direncanakan mencapai kedalaman 70 meter kemudian dianjutkan dengan Pipa Nurustho berdiameter 8 inch sedalam 10 meter. Pada bagian pipa Nurustho dilengkapi dengan pengisian hasma sebanyak tiga ton sebagai filter. Pompa yang digunakan adalah jenis Pompa Submersible yang ditempatkan pada kedalaman 70 meter. Sedangkan pipa air dari pompa ke Groundtank melalui manhole menggunakan pipa Galvanis dua inch. Seiring perkembangan progress Pembangunan RS Indonesia, kebutuhan air bersih kian meningkat. Musim panas di Gaza pernah mencapai suhu antara 38 sampai dengan 43 derajat celcius membuat jalur-jalur air dari pemerintahan Gaza biasanya akan terhenti atau dipadamkan secara bergilir setiap tiga hari. Kesulitan warga Gaza tidak hanya listrik yang hanya menyala 8 jam/harinya, ketersediaan gas dan termasuk juga untuk mendapatkan air bersih disebabkan oleh aksi Israel yang menempatkan mesin-mesin penyedot air tanah di sekitar perbatasannya dengan Jalur Gaza.
Kelangkaan Gas Kembali Terjadi Di Gaza

Gaza – Penutupan kembali perlintasan Gaza oleh zionis Israel sejak Senin (8/4) pada jalur Karem Shalom berimbas dengan kembalinya kelangkaan gas melanda Gaza. Abu Ali sebagai pemilik pangkalan Gas terbesar di Gaza tepatnya di daerah Sijaiah juga telah menutup pangkalan gasnya setelah pangakalan-pangkalan gas yang lebih kecil lainnya tutup. Kelangkaan gas di Gaza sudah berjalan 7 hari ini sehingga salah seorang relawan RS Indonesia saudara Abdurrahman belum juga mendapatkan gas walaupun sudah setiap hari terus mencari hingga seluruh Gaza. Syuhada salah seorang relawan RSI yang bertugas memimpin tim dapur relawan RS Indonesia mengatakan bahwa beberapa hari kedepan gas stok dapur relawan akan habis sehingga perlu dicari alternatip penggantinya untuk masak di dapur umum relawan. Dalam waktu satu bulan dibutuhkan delapan sampai dengan sembilan tabung 12 kilogram. Kebutuhan gas itu untuk penyediaan konsumsi 30 relawan RS Indonesia di Gaza. Harga setiap tabung gas ukuran 12 kg di Gaza sekitar 65 sheikel atau setara dengan Rp. 169.000,- Sementara kebutuhan gas dua juta penduduk di Gaza memerlukan tujuh kontainer per harinya. Bila satu kontainer gas menampung 21.800 kg gas maka berarti Gaza memerlukan 152.600 kg gas perharinya. Sampai saat ini militer Israel masih menahan tidak kurang dari seribu armada truk pengangkut pangan dan kebutuhan sandang milik organisasi bantuan internasional di perbatasan. Akibatnya, jutaan sipil di Gaza terancam kekurangan pangan dan kebutuhan sehari-hari.
Dimulainya Pemasangan Granit Tangga RSI Gaza Palestina

Gaza – Rumah sakit Indonesia di Gaza adalah Rumah Sakit Traumatology dan bagian integral dari organisasi MER-C yang fungsi menyediakan pelayanan komprehensif, penyembuhan penyakit (kuratif) dan pencegahan penyakit (preventif) kepada masyarakat Gaza Palestina. Nantinya rumah sakit ini juga direncanakan sebagai pusat pelatihan bagi tenaga kesehatan para dokter di Palestina. Desain bentuk Rumah Sakit ini dibuat menyerupai kubahtuh sakhrah di Kompleks Masjidil Aqsha sebagai wujud rasa cinta kaum muslimin terhadap masjid tersebut, untuk menghubungkan ruangan-ruangan yang berada pada segi delapan maka ditempatkan empat sisi tangga yaitu di bagian Utara, Selatan, Timur dan Barat yang memiliki luas tangga 350 m2 yang akan dilapis dengan Granit. Granit adalah jenis batuan yang umum dan banyak ditemukan di daerah Tepi Barat Palestina. Granitnya kebanyakan besar, keras dan kuat, dan oleh karena itu banyak digunakan sebagai batuan untuk konstruksi. Kepadatan rata-rata granit adalah 2,75 gr/cm³ dengan jangkauan antara 1,74 dan 2,80. Selain dilengkapi dengan tiga jalur Lift RSI juga dilengkapi dengan tangga utama yang dimulai pelapisan Granitnya pada hari Selasa tanggal 2 April 2013 atau bertepatan dengan tanggal 21 Jumadil Awal 1434 Hijriyah. Semoga tangga utama ini dapat memberikan kenyamanan pemakainya dalam kondisi keseharian karena menjadi sirkulasi utama. Dan yang terpenting dari satu bagian ini saja dapat mengalirkan jariyah atau balasan yang berlipat ganda dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada para donatur pembangunan RSI ini hingga hari Qiyamat, seperti halnya janji Allah dalam Al Qur’an yang artinya : Dan mereka tiada menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula) karena Allah akan memberi balasan kepada mereka yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. [At Taubah 121]
Relawan RSI Gaza Berlomba Mencari Ridla Allah

Gaza – Ditengah penat dan letih, ditengah udara panas yang mulai merayap menggantikan musim semi di Gaza, ditengah suasana Gaza yang belum kondusif akan tetapi para relawan RSI masih menyempatkan diri untuk berpuasa sunah Senin dan Kamis bahkan ada yang berpuasa sunah Daud (sehari puasa sehari tidak). Semua yang mereka lakukan hanya semata untuk berlomba menggapai dan mencapai Ridla Ilahi. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menjelaskan bahwa surga diliputi dengan perkara-perkara yang tidak disenangi, dan neraka diliputi dengan syahwat. Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya): Tidaklah seorang hamba yang puasa di jalan Allah kecuali akan Allah jauhkan dia (karena puasanya) dari neraka sejauh tujuh puluh musim” [Hadits Riwayat Bukhari 6/35, Muslim 1153 dari Abu Sa’id Al-Khudry, ini adalah lafadz Muslim. Sabda Rasulullah: “70 musim” yakni: perjalanan 70 tahun, demikian dikatakan dalam Fathul Bari 6/48]. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): Puasa adalah perisai, seorang hamba berperisai dengannya dari api neraka” [Hadits Riwayat Ahmad 3/241, 3/296 dari Jabir, Ahmad 4/22 dan Utsman bin Abil ‘Ash. Ini adalah hadits yang shahih]. Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda (yang artinya): Barangsiapa yang berpuasa sehari di jalan Allah maka di antara dia dan neraka ada parit yang luasnya seperti antara langit dengan bumi” [Dikeluarkan oleh Tirmidzi no. 1624 dari hadits Abi Umamah]. Masyarakat Gaza sempat terperanjat saat mengetahui sebagian besar para relawan RSI berpuasa sunah secara rutin. “Bagaimana bisa kalian bekerja keras sambil berpuasa?” demikian salah satu ungkapan mereka kepada para relawan. Atas ijin dan karunia Allah semata sebagian masyarakat yang mengetahui kondisi semangat para relawan RSI di bumi para nabi di Palestina ini berusaha secara bergantian mengundang para relawan RSI untuk futhur buka puasa dengan makanan-makanan ala Gaza di rumah-rumah mereka atau secara bersama di Masjid walau dalam hati kecil para relawan berkata Subhanallah bahwa masyarakat Gaza Palestina yang sedang terblokade masih ingin menghormati tamu-tamunya yaitu para relawan RSI Gaza Palestina. Sangat terasa kasih sayang antara masyarakat Gaza Palestina dengan masyarakat Indonesia karena mereka memang bersaudara dalam ikatan Allah Subhanahu wa Ta’ala Yaa Allah penguasa langit dan bumi jadikanlah puasa para relawan yang berada di jalan Mu dan Al-Qur’an yang dibaca oleh mereka akan memberikan syafaat kepada mereka di hari Kiamat.