MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Bertemu Presiden PCOM, Ketua MER-C Ajak Semua Kelompok Perlawanan Palestina Bersatu

Ketua Presidium MER-C Indonesia, Sarbini Abdul Murad menerima kunjungan Presiden Palestinian Cultural Organization Malaysia (PCOM), Muslim Imran, Kamis/18 November 2021, di kantor pusat MER-C di Jakarta.    Ini adalah kunjungan ke-2 PCOM ke MER-C setelah sebelumnya pada 2019 pernah berkunjung untuk membahas perkembangan program Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza yang saat itu dalam proses pembangunan tahap ke-2.    Didampingi dua orang delegasi, Muslim Imran, menyampaikan undangan konferensi terkait Yerusalem dan Palestina yang akan diselenggarakan pada awal Desember tahun ini di Istanbul, Turki.    Ia juga menceritakan bagaimana perkembangan politik terkini di Palestina. Menurutnya, Indonesia mempunyai peranan sangat penting bagi perjuangan rakyat dan bangsa Palestina untuk mencapai kemerdekaan.   “Indonesia mempunyai peranan sangat penting bagi Palestina, karena Indonesia merupakan negara muslim terbesar di dunia, negara perjuangan, negara demokrasi terbesar ke-3 di dunia dan merupakan pusat dari kawasan Asia Tenggara,” ujarnya. Untuk itu, ia berharap Pemerintah serta rakyat Indonesia termasuk kelompok-kelompok masyarakat sipil peduli Palestina seperti MER-C dapat terus berperan dan memberikan dukungan bagi Palestina secara keseluruhan, baik kepada Tepi Barat maupun Jalur Gaza.   Menanggapi hal ini, Sarbini Abdul Murad menegaskan bahwa Palestina adalah ikon abadi MER-C. Ia menjelaskan bahwa selain melakukan pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza yang masih terus dilakukan pengembangan-pengembangan, saat ini MER-C tengah melakukan Safari Kemanusiaan kepada Tokoh Lintas Agama dan berbagai elemen bangsa Indonesia untuk mendukung kemerdekaan Palestina.   Sarbini juga mengajak semua kelompok perlawanan yang ada di Palestina untuk bersatu terutama faksi besar Fatah yang berada di Tepi Barat dan Hamas yang berada di Jalur Gaza. Menurutnya, dengan persatuan yang kokoh maka cita-cita kemerdekaan bisa dicapai.    “Memang ada perbedaan cara pandang antara Hamas dan Fatah, namun perbedaan ini jangan sampai mengganggu persatuan nasional Palestina dan melemahkan gerakan perjuangan dalam menghadapi Israel,” ujarnya. 

Dorong Kemerdekaan Palestina, MER-C Lakukan Safari Kemanusiaan

Dalam upaya mendorong dan mendukung kemerdekaan Palestina, lembaga sosial medis untuk kemanusiaan dan perdamaian, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia melakukan program yang diberi nama ‘Safari Kemanusiaan untuk Kemerdekaan Palestina’. Sarbini Abdul Murad, Ketua Presidium MER-C, memandang Safari Kemanusiaan perlu dilakukan untuk mengkomunikasikan permasalahan Palestina kepada semua pihak dan semua elemen anak bangsa untuk bersama-sama membantu dan mencari jalan keluar dalam mendukung terwujudnya kemerdekaan Palestina.   “MER-C mempunyai satu program yaitu ‘Safari Kemanusiaan Mendukung Kemerdekaan Palestina’. Ini untuk mengkomunikasikan dengan segenap pihak, dengan tokoh-tokoh lintas agama, tokoh-tokoh pers, pemuda dan aktifis-aktifis kemanusiaan agar masalah Palestina bisa bersama-sama kita bantu, bersama-sama kita tanggulangi,” ucap Sarbini dalam pernyataannya di Kantor Pusat MER-C di Jakarta, Jum’at/12 November 2021. Sarbini menyampaikan bahwa Palestina adalah salah satu negara peserta Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955 yang sampai hari ini belum merdeka. Menurutnya, Indonesia sebagai negara muslim terbesar yang sama-sama lahir dari penderitaan penjajahan dimana pada pembukaan UUD 1945 juga jelas menyatakan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, maka menjadi tanggung jawab konstitusi dan kewajiban semua untuk melakukan suatu kerja keras agar Palestina bisa merasakan kemerdekaan seperti negara-negara lain.  “Oleh sebab itu, ini menjadi tanggung jawab sejarah, tanggung jawab konstitusi, tanggung jawab kita bersama untuk mendorong semua pihak agar bisa memerdekakan Palestina,” tegasnya. Dalam pernyataannya, Sarbini mengajak semua pihak agar masalah Palestina menjadi fokus dan pemikiran bersama. “Banyak tokoh-tokoh yang selama ini mungkin sepi untuk berbicara tentang Palestina, senyap untuk berfikir untuk Palestina, kami mengajak semua kita agar masalah Palestina menjadi titik fokus kita, menjadi pokok pemikiran kita bersama, agar saudara-saudara kita di Palestina bisa mendapatkan kemerdekaan sebagaimana yang kita rasakan pada hari ini,” tambah Sarbini. Upaya Safari Kemanusiaan yang dilakukan MER-C saat ini menurutnya sejalan dengan apa yang pernah dikatakan Bung Karno, Presiden Republik Indonesia pertama. “Harus kita ingat, Bung Karno pernah mengatakan bahwa ‘Kami Bersama Palestina sampai Palestina Mendapatkan Kemerdekaan’. Ini adalah suatu hal yang MER-C lakukan. Mudah-mudahan ini didukung oleh semua pihak sehingga MER-C menjadi bahagian dari duta Palestina untuk mengkomunikasikan proses ini kepada semua lapisan masyarakat, semua elemen anak bangsa. Mudah-mudahan kita bisa bersama Palestina dalam mendorong dan mendukung kemerdekaan Palestina,” harap Sarbini. MER-C telah memulai program ini dengan bertemu dan mengkomunikasikannya ke Tokoh agama Katolik. Pertemuan dan komunikasi serupa akan terus dilakukan ke tokoh-tokoh lintas agama yang lain dan ke semua elemen anak bangsa.   Selengkapnya : https://youtu.be/BIr84-IubDI Jakarta, 12 November 2021Medical Emergency Rescue Committee

MER-C Bertemu Romo Magnis Bahas Palestina

Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia, dr. Sarbini Abdul Murad bertemu dengan Romo Frans Magnis Suseno untuk membahas konflik Palestina – Israel, Jumat (30/10). Pertemuan ini dalam rangka Safari Kemanusiaan MER-C dengan Tokoh-Tokoh Lintas Agama untuk Palestina. Langkah demikian sudah dilakukan MER-C sejak lama untuk mempersatukan bahwa persoalan Palestina bukan hanya masalah umat Islam, namun semua agama mempunyai kepentingan karena sisi kemanusiaannya. Menurut Sarbini, MER-C sebagai organisasi sosial untuk kemanusiaan dan perdamaian berupaya mengajak semua tokoh agama mendukung kemerdekaan Palestina karena ini panggilan konstitusi dan hutang sejarah kita dimana Palestina satu-satunya peserta Konferensi Asia Afrika tahun 1955 yang hingga saat ini belum merdeka. Pada pertemuan yang berlangsung sekitar 30 menit tersebut, Ketua Presidium MER-C berdiskusi dan meminta pandangan serta masukan dari salah satu Tokoh Agama Katolik senior Indonesia ini tentang konflik Palestina – Israel dan upaya bersama sebagai elemen bangsa dan warga dunia untuk menyelesaikan konflik ini. “Kita mengharapkan konflik ini bukan konflik agama, namun konflik ini bisa diselesaikan secara bersama-sama,” ujar Sarbini. “Orang ramai membahas Palestina ketika ada pengemboman di sana, namun setelah itu kita lupa. Padahal masalah konflik Palestina – Israel lebih besar dari itu dan luar biasa, sehingga perlu dukungan banyak pihak,” tambahnya. Sarbini juga memaparkan program yang telah dilakukan MER-C untuk Palestina selama lebih dari 12 tahun terakhir, yaitu pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza yang merupakan bantuan murni dari rakyat Indonesia melalui MER-C. Menanggapi hal ini, Romo Magnis memberikan pandangannya bahwa membantu orang-orang Palestina itu sangat terpuji karena rakyat Palestina mengalami penjajahan yang sangat serius. Ia juga sepakat dan mendukung langkah MER-C bahwa permasalahan di Palestina bukan hanya milik umat Islam karena di sana ada bermacam-macam agama. “Saya kira membantu orang-orang Palestina itu sangat terpuji karena mereka mengalami terjajah yang sangat serius. Kalau bantuan dalam bentuk rumah sakit, tentu saya sangat mendukung itu,” ujarnya. “Palestina itu bukan masalah Islam saja, karena orang Kristen di sana di Palestina, ada Katolik, Ortodoks, macam-macam, semua orang Arab, semua itu penduduk Palestina dan mereka sama. Saya kira itu penting sekali. Tapi tidak apa-apa kalau Islam sangat kuat mendukungnya,” tambahnya. Namun ia mengakui bahwa situasi di Palestina pada umumnya tidak mudah, masalahnya konflik politis kemanusiaan dan etis. Ia sepakat bahwa orang Palestina baik di Tepi Barat maupun di Jalur Gaza berhak atas kebebasan penuh dan itu berarti mempunyai negara berdaulat. Permasalahan Jerusalem menurutnya lebih kompleks sedikit. Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa eksistensi Israel jangan dipersoalkan lagi. “Saya bertolak dari anggapan bahwa eksistensi Israel jangan dipersoalkan lagi. Israel itu sendiri masuk dalam eksistensi yang tentu bisa sangat diragukan, tapi sudah lama diakui oleh PBB dan oleh umumnya masyarakat dunia, jadi policy bahwa Israel harus dibubarkan, itu salah besar,” katanya. “Saya tidak melihat hal lain daripada two-state solution. Israel tetap, Palestina West Bank tetap. Dulu termasuk Jordan, sebelum perang enam hari. Itu juga masih posisi mengapa bukan satu negara. Tapi kalau satu negara sesuai dengan prinsip-prinsip demokrasi itu tidak mungkin untuk Israel karena mayoritas di sana orang Arab. Israel tidak membangun negara Israel sebagai pelarian dari segala macam lalu mendapat mayoritas Arab, jadi itu tidak mungkin,” tambahnya. Namun ia menegaskan bahwa yang membuat two-state solution itu sulit dan menurutnya itu sabotase Israel adalah pemukiman-pemukiman, dimana menurutnya ada keterlibatan Amerika Serikat. Pemukiman dimulai sekitar tahun 1971 dan sekarang ada sekitar 2,8 juta orang Palestina Arab, juga banyak Kristen di situ walau mayoritas Islam. Namun agama menurutnya tidak menjadi masalah. Kini sudah lebih dari setengah juta Yahudi dengan 1.600 rumah baru akan didirikan. “Lalu bagaimana AS memberi semacam two-state solution, dimana lalu pemukiman itu termasuk Israel dan Israel juga menuntut sungai Jordan, lalu yang tinggal dari Palestina itu apa?” ujarnya. Ia menganalogikan hal ini membuat wilayah Palestina menjadi seperti keju Swiss, keju yang ada lubang-lubangnya. Itu tidak akan mungkin,” ujarnya. Jadi lepas dari masalah etika, menurutnya Israel mengira bisa selamanya menindas masyarakat Arab di Tepi Barat. Tentu tidak. Ia mencontohnya apartheid di Afrika yang juga tidak bisa dipertahankan untuk selamanya. Situasi ini diperparah lagi dengan dukungan terhadap Palestina di kalangan Arab Islam yang menurut pengamatannya semakin menipis. “Tahun-tahun terakhir ini beberapa negara Arab yang sudah membangun hubungan diplomatic dengan Israel dan membuat situasi lebih mantap bagi Israel. Israel mengira sekarang anginnya pro, dalam hal ini Amerika Serikat selaku mendukung. Eropa tidak begitu. Kalau negara-negara Timur Tengah diam-diam mendukung Israel. Indonesia menurut pandangannya tentu tidak mau mendukung Israel, karena manfaatnya sangat sedikit dan memberi senjata bagi golongan Islam terutama yang keras untuk bereaksi.” Romo Magnis menekankan bahwa meskipun Palestina bukan masalah Islam, tapi dalam kenyataan Islam penting di situ. “Saya lebih suka kalau Islam mainstream Indonesia yang moderat, yang pro NKRI membicarakan itu secara berani. Satu-satunya yang dulu berani itu Gusdur,” ujarnya. Menyinggung tentang AS dan Jerusalem, Romo Magnis menyatakan ketidaksetujuannya terhadap langkah yang diambil Amerika Serikat. Sikap dan posisinya menurutnya sesuai dengan posisi resmi Vatikan terhadap masalah ini. “Saya tidak mendukung posisi Amerika Serikat terhadap Israel karena Amerika Serikat sudah mengakui Jerusalem sebagai Ibukota Israel. Menurut saya itu tidak tepat, juga yang dilakukan Israel di Jerusalem belum lama ini sekitar setengah tahun yang lalu sehingga menyebabkan terjadinya kerusuhan. Kerusuhan itu muncul sebetulnya karena Israel mau mengosongkan beberapa rumah di suatu daerah tertentu dengan alasan dulu orang Yahudi tinggal disitu sebelum tahun 1947, dan Jerusalem sudah termasuk Israel sehingga mereka boleh kembali,” terangnya. Terkait hal ini, ia menceritakan pengalamannya sendiri ketika ia dan keluarga terusir akibat Perang Dunia ke-2. “Saya sendiri mengalami pengusiran juga sebagai hukuman terhadap Jerman karena Perang Dunia ke-2. Saat itu akhirnya kami ke Cekoslovakia, kami dibawa ke kamp pengungsi dsb. Tempat saya dulu diisi dengan orang-orang Polandia yang disuir dari Uni Soviet Barat waktu itu. Jadi hilang semua keluarga saya. Padahal kami keluarga bangsawan, kami punya tanah cukup banyak, itu hilang semua. Tapi Jerman sudah mengakui itu, tidak lagi menuntut,” kisahnya. “Saya mendukung posisi Vatikan mengenai Jerusalem untuk diinternalisasikan di bawah PBB, sebab Jerusalem merupakan kota suci tiga agama,” tegasnya. Menyinggung tentang bantuan Rumah Sakit Indonesia yang sudah dibangun rakyat Indonesia di Jalur Gaza, Palestina, Romo Magnis menyatakan dukungannya terhadap program RS Indonesia yang menurutnya sebuah langkah

MER-C dan Pembaca Republika Bantu Perlengkapan Sekolah untuk Anak-anak Palestina

MER-C dan Republika kembali bekerjasama menyalurkan bantuan untuk rakyat Palestina. Kali ini bantuan yang diberikan dalam bentuk perlengkapan sekolah untuk anak-anak.                             Paket bantuan berisi perlengkapan sekolah lengkap yang terdiri dari tas, sepatu, seragam (kemeja/atasan), celana panjang jeans, buku tulis, buku gambar, pensil warna, tempat pensil, dan alat-alat tulis. Sasaran penerima bantuan adalah anak-anak tingkat Sekolah Dasar di Jalur Gaza yang membutuhkan seperti yatim, anak dari keluarga dhuafa, dan dari keluarga syuhada. Sebanyak total 300 paket perlengkapan sekolah didistribusikan secara langsung oleh Relawan MER-C Cabang Gaza ke sekolah-sekolah di Jalur Gaza. Sebanyak 200 paket diantaranya merupakan donasi dari Pembaca Republika dan sisanya sebanyak 100 paket merupakan donasi dari masyarakat Indonesia melalui MER-C.      Bantuan ini diharapkan dapat menambah semangat anak-anak Gaza untuk sekolah dan mengejar cita-cita mereka. Keceriaan terpancar dari wajah polos dan suci anak-anak Gaza saat menerima bantuan. Ungkapan terima kasih Indonesia, terima kasih MER-C dan terima kasih Pembaca Republika mereka sampaikan atas perhatian yang tak pernah berhenti dari rakyat Indonesia. Bantuan dan Donasi untuk Program-program Kemanusiaan Gaza – Palestina dapat disalurkan melalui: BSI – BSM, 700.290.5803 BCA, 686.033.5555 Bank Mandiri, 124.000.3753.754 Semua rekening atas nama:Medical Emergency Rescue Committee   Simak tayangannya di MER-C Indonesia https://youtu.be/l8kDPPY-OYI    Info : MER-C IndonesiaCall Center : 0811990176FB dan Youtube : MER-C IndonesiaIG dan Twitter : @mercindonesia

MER-C Apresiasi Langkah Denmark Membantu Palestina

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia menyampaikan apresiasinya yang tinggi atas langkah Denmark memberikan bantuan kepada Palestina. Bantuan Denmark berupa dana hibah dan kemitraan dilakukan dalam rangka mendukung upaya Palestina memperjuangkan kemerdekaannya. Apresiasi ini disampaikan oleh Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad secara tertulis kepada Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen melalui surat yang dikirimkan ke Kedutaan Besar Denmark di Jakarta, Selasa/12 Oktober 2021. “Kami memberikan apresiasinya setinggi-tingginya kepada Pemerintah dan rakyat Denmark atas langkah yang telah diambil untuk membantu Palestina. Kesepakatan bantuan yang diberikan berupa dana hibah dan kemitraan antara Denmark dan Palestina adalah sebuah langkah berani dan nyata dalam upaya mendukung upaya Palestina memperjuangkan kemerdekaannya. Hal ini menunjukkah sikap tegas Denmark yang berpihak kepada kemanusiaan dan keadilan serta menolak bentuk penjajahan yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina,” tulisnya.    Bantuan dan kemitraan seperti ini, tulisnya, tentu akan membantu rakyat Palestina meningkatkan kapasitas rakyatnya, meningkatkan perekonomian, memperluas pembangunan di berbagai bidang, sehingga Palestina dapat menjadi bangsa yang mandiri, merdeka dan berdaulat, sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.   Sarbini berharap langkah yang telah dilakukan Denmark bisa diikuti oleh banyak negara lainnya di dunia. “Kami berharap langkah yang telah dilakukan Denmark bisa diikuti oleh banyak negara lainnya di dunia sebagai bentuk dukungan terhadap kemanusiaan dan perdamaian serta perlawanan terhadap penjajahan,” tambahnya.   “Negara-negara peduli Palestina seperti Denmark, kami harapkan dapat memberikan tekanan kepada Israel untuk menghentikan tindakan ilegalnya di Tepi Barat, yaitu perampasan dan penghancuran properti warga Palestina, dsb,” tegas dokter yang sudah berpengalaman di berbagai wilayah perang dan bencana.   Lebih lanjut, mengenai perdamaian antara Palestina dan Israel melalui solusi dua negara, dalam suratnya, Sarbini juga sangat mengapresiasi hal ini dimana Denmark menjadi salah satu negara yang mendukung solusi ini. “Semoga Denmark dapat terus menyuarakan hal ini di forum-forum internasional, sehingga solusi dua negara bisa segera terwujud.”   MER-C sendiri adalah NGO Indonesia yang memiliki concern terhadap masalah Palestina terutama dalam aspek kemanusiaan dan kesehatan. Salah satu bentuk komitmen MER-C untuk Palestina adalah dengan membangun Rumah Sakit di Bayt Lahiya, Jalur Gaza yang diberi nama Rumah Sakit Indonesia. Pembangunan Rumah Sakit Indonesia yang sudah berlangsung sejak tahun 2009, sampai saat ini masih terus dilakukan pengembangan-pengembangan yang diperlukan untuk meningkatkan dan memperluas kapasitas pelayanannya.   Jakarta, 12 Oktober 2021 MER-C Indonesia

Wakil Ketua MPR RI : Konflik Palestina Bukan Perang Agama, Ini Masalah Kemanusiaan

Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat menekankan bahwa apa yang terjadi di Palestina bukanlah perang agama, bukan pertikaian muslim dan non muslim, namun ini adalah masalah kemanusiaan. Ia juga mengapresiasi apa yang telah dilakukan MER-C di Palestina sebagai wujud dari pelaksanaan konsensus kebangsaan yang menjadi amanah dari para pendiri bangsa, yaitu menjaga perdamaian dunia. Hal ini disampaikannya saat menerima kunjungan Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad dan Tim di rumah dinasnya, Kamis/23 September 2021.                           Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar 45 menit tersebut, kedua belah pihak berdiskusi mengenai masalah Palestina. Mewakili MER-C, Sarbini Abdul Murad menyampaikan progress program MER-C di wilayah Jalur Gaza serta kendala yang dihadapi saat ini yaitu masih sulitnya perizinan masuk ke Jalur Gaza untuk menindaklanjuti program pengembangan RS Indonesia di sana. Menanggapi paparan Ketua Presidium MER-C, Wakil Ketua MPR RI periode 2019 – 2024 ini mengapresiasi apa yang telah dilakukan oleh MER-C di Palestina yang menurutnya merupakan pelaksanaan konsensus kebangsaan dan UUD 1945 dalam rangka ikut mewujudkan perdamaian dunia. Ia juga menekankan bahwa masalah Palestina bukan pertikaian muslim dan nonmuslim, namun merupakan masalah kemanusiaan yang menjadi tanggung jawab semua. “Saya sendiri mengikuti perjalanan program MER-C di Palestina dari pembicaraan awal sejak 3-4 tahun lalu sejak saya masih di Media Grup. Saat ini ada dua saya melihat apa yang dilakukan MER-C dalam konteks kapasitas saya sekarang. Kita mengenal yang namanya konsensus kebangsaan. Salah satu yang jelas-jelas ada di dalam konsensus kebangsaan, ada dalam pembukaan UUD 1945 adalah ikut melaksanakan tercapainya perdamaian dunia. Itu tugas dan tanggung jawab kita menurut saya. Sebagai warga negara yang baik, yang memegang teguh janji-janji kita terhadap konsensus kebangsaan, yang dilakukan MER-C sesungguhnya melaksanakan betul apa yang menjadi amanah dari para founding fathers, amanah kita dan tugas kita sebagai warga negara untuk ikut menjaga terciptanya perdamaian dunia dalam konteks negara. Saya betul-betul mengapresiasi rekan-rekan semua yang tergabung di MER-C yang terpanggil untuk bergerak,” ujarnya. “Gaza bukan pertikaian muslim dan nonmuslim, ini betul-betul masalah politik. Tapi di atas itu semua saya melihat ini masalah kemanusiaan. Dengan cara kita masing-masing memiliki tugas untuk bisa mengambil peran dan tanggung jawab. Saya kira kehadiran MER-C sangat baik, membantu kita semua untuk meluruskan berbagai isu yang beredar atau terutama memberikan pemahaman sehingga kita bisa meletakkan permasalahan yang ada di Gaza Palestina ini pada konteks yang tepat. Kehadiran MER-C merepresentasikan keberadaan bangsa kita, menjalankan apa yang diamanahnya kepada kita sebagai warga negara dan juga sebagai manusia,” tambahnya. Mengenai peran pemerintah, ia juga menjelaskan bahwa Pemerintah sudah mengambil posisi dan peran, Menlu RI juga sudah aktif berbicara dan mengambil peran. Namun menurutnya, konflik Palestina bukan sebuah konflik yang sederhana, cukup kompleks dan merupakan sebuah perjuangan kemanusiaan. “Pemerintah dalam konteks politik luar negeri kita, sepanjang yang saya ketahui sudah mengambil posisi dan peran. Saya rasa Menlu kita sudah cukup aktif berbicara. Tapi kita juga tahu bahwa konflik Palestina ini bukan sebuah konflik yang sederhana, ini cukup kompleks, sekali lagi ini sebuah perjuangan kemanusiaan. Ini salah satu tugas kita semua, bukan hanya pemerintah, yaitu memberikan pemahaman yang tepat dan benar kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk bisa melihat dan menempatkan masalah Palestina sesuai konteksnya. Saya kira ini baru bisa selesai kalau memang seluruh bangsa bersama-sama bersatu menyelesaikannya,” tegasnya.                               Untuk itu, Lestari berharap dan mengajak agar semua pihak tidak lelah menyuarakan hal ini sehingga gerakan membela Palestina bisa lebih luas tidak terbatas sekat-sekat agama. “Marilah kita tidak lelah menyuarakan ini kepada saudara-saudara kita seluruh masyarakat Indonesia bahwa sekali lagi ini bukan perang agama, ini betul-betul murni masalah kemanusiaan, sehingga dengan demikian gerakan-gerakan untuk membela Palestina bisa kita rangkul secara lebih luas tidak terbatas sekat-sekat agama. Seluruh warga Indonesia yang memiliki perhatian dan simpati bisa terlibat. Yang kita kedepankan adalah peran kita sebagai warga dunia dan tugas kita untuk menjaga perdamaian dunia,” ujarnya. Sebelumnya pada 10 Juli 2019, Lestari Moerdijat dalam kapasitasnya saat itu sebagai Deputy Chairman Media Group telah menyerahkan donasi dari Media Group kepada MER-C sebesar Rp 6.507.911.514,- sebagai wujud dukungan untuk pembangunan tahap 2 RS Indonesia di Gaza, Palestina. Berkat dukungan dari seluruh rakyat Indonesia, pembangunan tahap dua untuk membangun lantai 3 dan 4 RS Indonesia di Gaza sudah selesai pada pertengahan tahun 2020 lalu dan kini dalam proses pengadaan alat-alat kesehatan. MER-C sejak beberapa waktu lalu telah mempersiapkan Tim relawannya untuk bertugas selanjutnya ke Gaza Palestina untuk mengawasi proses pengadaan alat kesehatan serta rencana pengembangan RS Indonesia ke depan. Namun keberangkatan Tim hingga saat ini belum bisa terlaksana karena masih terkendala izin masuk. Jakarta, 24 September 2021Medical Emergency Rescue Committee

Sejumlah Alat Kesehatan Tiba di Rumah Sakit Indonesia Gaza

Organisasi sosial kemanusiaan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) selesai melaksanakan pembangunan tahap 2 Rumah Sakit Indonesia yang berlokasi di Bayt Lahiya, Gaza, Palestina. Pembangunan tahap 2 tersebut dilakukan untuk menambah daya tampung dikarenakan kepadatan pasien di Rumah Sakit terbesar kedua di Jalur Gaza itu. Setelah selesainya pembangunan tahap 2 tersebut, saat ini sejumlah alat kesehatan sudah mulai tiba di Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza. Perlu diketahui bahwa pembangunan tahap 2 Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza telah selesai pada Agustus tahun lalu, pembangunan tahap 2 untuk membangun lantai 3 dan lantai 4 sendiri memakan waktu sekitar 1,5 tahun. Site Manajer Rumah Sakit Indonesia, Ir. Edy Wahyudi Darta mengatakan bahwa ada beberapa alat kesehatan yang sudah tiba di Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza dan Edy juga menyebutkan bahwa sebagian besar alat-alat kesehatan tersebut berasal dari Turki dan sebagian kecilnya berasal dari China. “Alat-alat kesehatan yang sudah sampai di Rumah Sakit Indonesia di jalur Gaza itu adalah alat dari jenis medical dan office furniture package, yaitu ada beberapa cabinet, diantaranya cabinet farmasi, cabinet linen, kemudian juga cabinet instrument untuk endoscopy, kemudian trolley instrument, trolley laundry, kemudian trolley medicine, dan table bedside dan untuk yang sudah saya sebutkan, yang sudah sampai itu sebagian besar berasal dari Turki dan ada yang sebagian kecil dari China. Dan alat-alat yang belum sampai ada tiga paket, yang terdiri dari paket endoscopy, kemudian paket ICCU, dan juga paket untuk medical equipments,” katanya. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa untuk masuk ke Jalur Gaza saat ini bukanlah hal yang mudah. Hal ini tentu saja menjadi salah satu hambatan bagi alat-alat kesehatan untuk bisa sampai dengan cepat ke Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza. Kendati demikian, Edy Wahyudi selaku Site Manajer Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza terus melakukan pemantauan kepada alat-alat kesehatan lain yang sampai saat ini belum sampai di Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza tersebut. “Sebagian memang masih dalam perjalanan dan memang perlu kita ketahui bahwa izin masuk untuk peralatan-peralatan medis di Jalur Gaza Palestina ini cukup rumit, karena kita harus melalui pemeriksaan border atau melalui perbatasan Israel. Semua harus melalui Israel, baik pengajuan izinnya ataupun pemeriksaannya. Untuk pengajuan izin dan pemeriksaannya saja itu kalau tahap pertama yang lalu itu bisa mencapai 4 – 6 bulan dan itu di luar waktu perjalanan, Jadi misalkan peralatan sudah sampai di Israel, maka itu harus tunggu sampai 4-6 bulan pemeriksaannya. Dan untuk pemantauannya, kita memang terus pantau, baik dari Jakarta maupun dari Gaza dan memang di Gaza sendiri itu sudah menggunakan tenaga engineer dibidang medical, dibidang peralatan medis. Beliau masih terus memantau tentang kedatangan peralatan tersebut,” ujarnya. Selain itu, Edy Wahyudi juga mengatakan bahwa hambatan lain mengenai keterlambatan kedatangan alat-alat kesehatan juga dipengaruhi oleh side effect dari pandemi Covid-19 ini. “Kita tahu bahwa dunia sedang mengalami wabah, sehingga side effect atau dampaknya itu mendunia. Termasuk pelabuhan-pelabuhan yang sekarang itu berkurang aktivitasnya. Kemudian di industri medisnya sendiri itu juga kan mereka mengurangi aktivitas, baik dari segi personalnya maupun dari segi waktu mereka bekerja,” tambahnya. Dalam wawancara yang dilakukan melalui telepon tersebut, Edy Wahyudi juga mengatakan bahwa kondisi Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza ini pasiennya cukup padat setelah mengalami pembangunan tahap 2 dan walaupun belum dibuka secara resmi dan belum difungsikan secara maksimal karena belum lengkapnya peralatan medis, namun beberapa ruangan sudah diminta oleh Kementerian Kesehatan untuk bisa dipakai. “Rumah sakit Indonesia di Jalur Gaza, Palestina. Alhamdulillah menjadi Rumah Sakit rujukkan dan menjadi Rumah Sakit utama dan terbesar kedua di Jalur Gaza, Wilayah bagian Utara. Kondisi Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza saat ini, pasiennya cukup padat dan setelah mengalami pembangunan kembali lantai 3 dan lantai 4 dan memang belum berfungsi karena peralatan-peralatan medis masih dalam perjalanan. Tetapi ada sebagian ruangan yang sudah diminta oleh Kementerian Kesehatan untuk bisa dipakai sementara untuk kegiatan-kegiatan mereka,” ujarnya. Jakarta, 21 September 2021Medical Emergency Rescue Committee

Layanan operasional RS Indonesia di Myanmar kado HUT Kemerdekaan

Jakarta (ANTARA) – Tonggak sejarah ditancapkan ketika digagas pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Myaung Bwe, Mrauk U, Rakhine State, Myanmar, pada November 2017. Pembangunan RSI di Myanmar itu sarat makna, baik secara kemanusiaan maupun diplomasi hubungan antarbangsa, serta tentu saja kesehatan. Lebih mendasar lagi, karena RSI itu dibangun di tengah komunitas yang sedang berkonflik, yakni pihak Muslim dan Budha. Sejarah perjalanan RSI di Myanmar bantuan dari rakyat dan pemerintah Indonesia itu, bermula dari ide organisasi sosial kemanusiaan untuk korban perang, konflik dan bencana alam yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan kesehatan “Medical Emergency Rescue Committee” (MER-C) Indonesia. MER-C kemudian mengomunikasikannya dengan Wakil Presiden saat itu M Jusuf Kalla, yang juga menjabat Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI). JK, panggilan karib Jusuf Kalla, kemudian mengundang Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) untuk menjalin kerja sama dengan MER-C, hingga akhirnya bekerja bersama untuk mewujudkannya. Kedutaan Besar RI di Myanmar melengkapi penjelasan perjalanan RSI itu dengan menyatakan pembangunan RS bantuan Indonesia itu bermula dari hasil kesepakatan antara Presiden Myanmar U Htin Kyaw dan Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla di sela-sela KTT Asia-Europe Meeting (ASEM) di Mongolia pada pertengahan 2016. Pembangunan RS ini adalah proyek kolaborasi antara MER-C dan PMI, dan didukung oleh Pemerintah Indonesia. Dana proyek berasal dari komunitas Muslim Indonesia, komunitas Buddha Indonesia, khususnya dari WALUBI, dan dermawan lain. Rancangan RS dan konstruksi dilakukan oleh MER-C dan kontraktor lokal. Selama konstruksi, MER-C menempatkan empat orang di lokasi sebagai pengawas. Sementara itu PMI memimpin proses pengadaan alat kesehatan untuk RS. Peletakan batu pertama dilakukan pada Minggu (19/11/2017) dihadiri Duta Besar RI untuk Myanmar saat itu Ito Sumardi dan menteri urusan Rakhine, perwakilan Kementerian Kesehatan Myanmar, perwakilan MERC, tokoh masyarakat setempat dan masyarakat agama Budha dan Islam. Semestinya, Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi akan hadir di acara tersebut, namun batal karena imbauan pemerintah Myanmar yang menyatakan lokasi pembangunan RSI berada di wilayah utara Rakhine, yang dipandang rawan, dan Pemerintah Myanmar sendiri tidak bisa memberikan pengamanan optimal sesuai standar untuk tamu resmi pemerintah setingkat menteri. Terlebih, saat itu pasukan keamanan Myanmar sedang difokuskan menjaga pertemuan tingkat menteri Asia-Eropa di Nay Pyi Taw, yang juga dihadiri Menlu Retno Marsudi. Singkat cerita, pembangunan RSI itu, yang semula direncanakan selesai satu tahun molor hingga dua tahun disebabkan situasi dan berbagai kendala di lapangan, antara lain isu keamanan, musim hujan terus menerus yang menyebabkan banjir, sulitnya mencari pekerja dan bahan material bangunan, serta kinerja kontraktor lokal. Namun tantangan tersebut dapat dihadapi dengan baik oleh Tim MER-C di lapangan sehingga kendala-kendala teknis dapat diatasi. Akhirnya, pada 10 Desember 2019 di Kantor Kementerian Kesehatan dan Olahraga Myanmar, Nay Pyi Taw, Pemerintah Indonesia, yang diwakili oleh Duta Besar RI untuk Myanmar, Prof Dr Iza Fadri menyerahkan secara teknis RSI bantuan Indonesia di Myaung Bwe, Mrauk U, Rakhine State, kepada Pemerintah Myanmar, yang diwakili oleh Wakil Direktur Jenderal, Departemen Pelayanan Kesehatan, Dr Thida Hla. Kegiatan technical handover RS tersebut disaksikan oleh Menteri Kesehatan dan Olahraga Myanmar Dr Myint Htwe dan para pejabat tinggi dari Kementerian Kesehatan dan Olahraga Myanmar serta perwakilan dari PMI pusat dan MER-C Indonesia. RSI tersebut terdiri atas bangunan utama seluas 2.214 meter persegi di atas tanah 4.644 meter persegi yang mencakup ruang operasi, ruang gawat darurat, ruang X-Ray dan pendukung lain, bangunan rumah generator seluas 11,25 meter persegi bersama dengan satu unit generator, bangunan kamar jenazah seluas 24 meter persegi, bangunan ground tankbeserta empat unit pompa air otomatis, lansekap dan dua jembatan beton. Kado indah Menjelang HUT Ke-76 Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2021, tepatnya pada Jumat (13/8), RSI di Rakhine State itu — di tengah pandemi COVID-19 — sudah mulai memberikan pelayanan kesehatan bagi warga Muslim dan Budha setempat. Ketua Presidium MER-C dr Sarbini Abdul Murad mengaku bersyukur mendapat kabar baik bahwa Rumah Sakit Indonesia di Myaung Bwe, Mrauk U, Rakhine State, Myanmar, sudah dibuka dan operasional. RS itu dinilai punya dua makna yang berarti, yakni hadiah ulang tahun ke-22 MER-C dan HUT Ke-76 Kemerdekaan Indonesia. Pada hari pertama itu, ada delapan warga Muslim dan enam warga Budha mendapatkan perawatan di RSI Myanmar. Berita tersebut dinilainya sangat menggembirakan karena RSI di Mynamar itu sudah difungsikan oleh pemerintah setempat guna memberikan layanan kesehatan warganya. RSI tersebut kini bisa bermanfaat bagi kedua belah pihak, dan sekaligus menjadi sarana berbaur, antara masyarakat Budha dan Muslim di sana, yang selama ini terhambat karena adanya konflik. Kolaborasi beragam unsur di Tanah Air, kembali mengukuhkan bahwa kerja sama, baik kalangan non-pemerintah dengan pemerintah, kembali bisa diwujudkan. Melalui diplomasi jalur kedua (second track diplomacy) , aktor non-negara, seperti MER-C, WALUBI bersama PMI dan pemerintah mampu membangun gotong royong untuk kinerja-kinerja kemanusiaan, sekaligus kesehatan dan diplomasi. Tak hanya itu, untuk wilayah konflik, diplomasi non-formal ini juga bisa menjadi model ke depan untuk proses-proses mendamaikan para pihak dengan sentuhan yang lebih lembut. RSI di Rakhine State, Myanmar itu merupakan bagian dari diplomasi kemanusiaan, dan keberadaan RS yang dibangun oleh umat Muslim dan Budha Indonesia itu diharapkan dapat mendorong terciptanya perdamaian di Myanmar.   Oleh Andi Jauhary COPYRIGHT © ANTARA 2021   Sumber : https://www.antaranews.com/berita/2335242/layanan-operasional-rs-indonesia-di-myanmar-kado-hut-kemerdekaan

RS Indonesia di Rakhine State Myanmar Mulai Beroperasionalisasi

Rumah Sakit Indonesia yang dibangun di wilayah rawan konflik Rakhine State Myanmar mulai beroperasionalisasi dan memberikan perawatan bagi warga dari kedua belah pihak baik Muslim maupun Budha. Hal ini disampaikan oleh Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad. “Kami bersyukur mendapat kabar baik bahwa Rumah Sakit Indonesia yang berada di Myaung Bwe, Mrauk U, Rakhine State, Myanmar yang dibangun atas upaya bersama Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), Palang Merah Indonesia (PMI) dan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) sudah dibuka dan beroperasionalisasi,” ujar Sarbini.                     “Berita ini tentu sangat menggembirakan bahwa RS Indonesia sudah difungsikan oleh pemerintah setempat. RS Indonesia bisa bermanfaat bagi kedua belah pihak, menjadi sarana berbaur masyarakat Budha dan Muslim di sana. Inilah yang kita harapkan. Bagi kami, ini hadiah ulang tahun MER-C ke-22 dan ulang tahun Indonesia ke-76,” tambah Sarbini. Pada hari Jumat/13 Agustus 2021, Rumah Sakit Indonesia sudah mulai memberikan pelayanan bagi warga Muslim dan Budha. Hari itu, sekitar delapan warga Muslim dan enam warga Budha mendapatkan perawatan di RS Indonesia. Rumah Sakit Indonesia yang didirikan atas kerjasama Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), Palang Merah Indonesia (PMI) dan Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) mulai dibangun pada November 2017. Hal ini ditandai dengan peletakan batu pertama atau ground breaking bangunan utama pada 19 November 2017. Acara tersebut dihadiri oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Republik Myanmar, Dirjen Kementerian Kesehatan Myanmar, Secretary of State Rakhine, Perwakilan MER-C serta warga sekitar dari komunitas Budha dan komunitas Muslim.                               Pembangunan RS Indonesia memakan waktu 2 tahun dari rencana satu tahun yang diperkirakan. Hal ini dikarenakan situasi dan berbagai kendala di lapangan. Diawasi langsung oleh dua insinyur dan dua relawan teknis dari Divisi Konstruksi MER-C, pembangunan akhirnya selesai pada November 2019. Pada 10 Desember 2019, bangunan RS Indonesia yang sangat kental nuansa merah dan putih diserahterimakan kepada pemerintah Myanmar melalui Kementerian Kesehatan dan Olahraga Myanmar di Ibukota Myanmar, Nay Pyi Taw. Usai pembangunan, pengadaan alat kesehatan menjadi proses selanjutnya yang dilakukan oleh Palang Merah Indonesia (PMI). RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar merupakan bagian dari diplomasi kemanusiaan MER-C di Rakhine State, Myanmar. Keberadaan rumah sakit yang dibangun oleh umat Muslim dan Budha Indonesia diharapkan dapat mendorong terciptanya perdamaian di Myanmar.*

Terima Daging Qurban, Warga Gaza Doakan Indonesia

MER-C Indonesia kembali mengadakan program qurban di Jalur Gaza, Palestina. Situasi pandemi tidak menyurutkan perhatian dan kepedulian masyarakat Indonesia untuk turut berqurban dan berbagi kebahagiaan dengan saudara-saudara mereka di wilayah terblokade ini. Pada Hari Raya Idul Adha tahun 1442 H/2021 M ini, MER-C menerima amanah hewan qurban dari masyarakat Indonesia sebanyak tiga ekor sapi dan 29 ekor domba.                                    “Kami mengucapkan terima kasih kepada masyarakat Indonesia yang telah mempercayakan amanah qurban untuk masyarakat Gaza melalui lembaga MER-C. Meski di tengah situasi pandemic yang cukup berat di negara kita, ternyata perhatian serta kepedulian masyarakat Indonesia terhadap saudara-saudara mereka di Jalur Gaza Palestina senantiasa ada,” ujar Rima Manzanaris, Manajer Operasional MER-C.   Pelaksanaan program qurban dilakukan langsung oleh relawan Indonesia yang bertugas di Jalur Gaza. Tiga relawan Indonesia di sana memimpin pelaksanaan program qurban dari Indonesia untuk Palestina, dibantu oleh warga lokal. Seluruh hewan qurban amanah dari masyarakat Indonesia sudah selesai didistribusikan kepada warga Gaza yang berhak menerimanya.                         Sasaran penerima daging qurban adalah keluarga faqir dan keluarga syuhada yang tersebar di Gaza bagian utara, tengah, selatan, barat, timur serta di lingkungan RS Indonesia.   Masyarakat Gaza, Palestina penerima daging qurban sangat berbahagia dan antusias dalam menerima daging qurban dari saudara-saudara mereka di Indonesia. “Mereka menitipkan salam untuk saudara-saudara mereka di Indonesia dan mendoakan semoga warga Indonesia bisa segera diberikan kemampuan melalui cobaan pandemi Covid-19 yang saat ini sedang melanda,” ujar Rima.                         Qurban adalah salah satu program rutin tahunan yang diselenggarakan MER-C melalui cabangnya di Jalur Gaza. Program qurban dan program-program kemanusiaan lainnya seperti bantuan Ramadhan, musim dingin, bantuan sekolah dan bantuan insidental lainnya sudah berjalan sekitar 10 tahun, sejak MER-C memulai melakukan pembangunan Rumah Sakit Indonesia di wilayah ini.    Program Rumah Sakit Indonesia sampai saat ini masih terus berjalan dan terus mengalami pengembangan sesuai dengan kebutuhan yang ada. Begitupun program-program kemanusiaan akan terus dilakukan sebagai bentuk dukungan nyata dan berkesinambungan bagi rakyat Palestina, hingga Palestina meraih kemerdekaannya.  

Silahkan bertanya?