Sumbangan untuk RS Indonesia Masih Terus Mengalir

Jakarta – Kamis (2/10), Ikatan Bujang Gadis Kampus Sumatera Selatan (IBG KSS) menyerahkan donasi untuk Gaza sebesar Rp 45.435.000,- di kantor pusat MER-C Jakarta. Sebelumnya, IBG KSS mengadakan acara konser amal untuk Gaza bertema “Youth Symphony For Humanity”, Minggu/3 Agustus 2014. Pada saat acara tersebut, dilakukan juga video conference melalui skype antara Panitia di Palembang dengan Relawan MER-C di Gaza dan Presidium MER-C di Jakarta. Di hari yang sama MER-C juga menerima donasi dari Pembaca Republika senilai Rp 400 juta. Sebelumnya Pembaca Republika juga sudah menyumbang untuk alat kesehatan ruangan Poliklinik RS Indonesia senilai Rp 1 Milyar.
MER-C gelar Media Gathering di Waroeng Solo Kemang

Jakarta, 17/3, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menggelar Media Gathering di Waroeng Solo, Kemang, Jakarta Selatan. Acara ini dipandu oleh moderator Zulfatan Faizin dari Metro TV serta menghadirkan Dr. Henry Hidayatullah, Ketua Presidium MER-C serta Dr. Joserizal Jurnalis SpOT, Presidium MER-C. Acara dimulai dengan makan siang bersama, lalu menampilan video profil MER-C yang dibuat oleh Jurnalis Kompas TV, Silvano Hajid. Tayangan video menyorot mengenai berbagai aktivitas kemanusiaan yang digalang oleh MER-C sejak tahun 2004 hingga 2014, di dalam dan di luar negeri seperti aksi untuk Tsunami di Aceh, Rohingya di Myanmar, badai topan Haiyan, di Filipina, Somalia dan aksi perdamaian dengan kapal Mavi Marmara yang diserang oleh tentara Israel, bencana alam di Merapi, Yogyakarta, Sinabung, Medan dan Kelud, Jawa Timur. Selain itu, MER-C juga sudah membangun 28 klinik yang tersebar dari Aceh hingga Papua, 3 buah rumah sakit di dalam dan luar negeri, seperti RS Galela di Halmahera Utara dan RS Indonesia di Gaza, Palestina. Dr Henry memberi sambutan dan menuturkan sejarah MER-C yang tanpa sokongan dana dan sumber daya manusia yang besar namun berkat bantuan Allah SWT berhasil mengumpulkan dan membentuk tim medis serta donasi dari masyarakat. Ia juga menjelaskan bahwa seluruh relawan MER-C merupakan unpaid volunteers dan sama-sama memiliki tujuan bahwa aksi kemanusiaan ini merupakan ladang amal mereka. Sementara itu, Ir. Faried Thalib yang merupakan Presidium MER-C dan Ketua tim Konstruksi RS Indonesia di Gaza, Palestina memberikan laporan mengenai pembangunan RS Indonesia yang 100 persen secara fisik telah selesai. Ir. Faried yang merupakan salah satu Presidium MER-C dan baru saja pulang dari Gaza untuk melakukan equipment assessment untuk RS Indonesia mengatakan bahwa 95 persen bahan bangunan yang dibutuhkan untuk pembangunan RS Indonesia berasal dari Jerman dan Turki, yang masuk dan dijual ke Mesir dan Israel. Setelah kata sambutan dari para Presidium MER-C, diskusi dibuka dengan penuturan dari Subhan, Jurnalis TV One yang baru saja ikut misi medical equipment assessment untuk RS Indonesia di Gaza. Subhan menjelaskan kesulitan untuk masuk ke Gaza dari Rafah, Mesir dikarenakan perubahan jadwal pembukaan gerbang menuju Palestina yang hanya dibuka sekali dalam dua minggu selama tiga hari. Subhan juga menyatakan kekagumannya akan RS Indonesia yang telah dibangun oleh para relawan MER-C sebagai Rumah Sakit yang luar biasa besar dan bagus. Presidium MER-C Dr Sarbini menjawab pertanyaan dari moderator mengenai alas an MER-C juga melakukan aksi kemanusiaan di luar negeri, tak lain dan tak bukan adalah ingin membantu sesama manusia yang sangat membutuhkan bantuan, tanpa memandang suku bangsa, ras, dan agama. Seperti yang telah dikemukakan DR Joserizal, bahwa MER-C yang merupakan LSM yang merdeka, tidak tergantung pada suatu partai politik atau di bawah Negara, berusaha bersikap netral dalam memberikan bantuan kemanusiaan serta menjadi penyampai pesan-pesan politik kemanusiaan. Karenanya sangat diharapkan MER-C menjadi problem solver dari sebuah permasalahan. Acara ditutup dengan memberikan kenang-kenangan kepada jurnalis Kompas TV Silvano Hajid yang telah membuat video profil MER-C serta foto bersama dengan para Presidium dan relawan MER-C.
MER-C selenggarakan Talkshow “Palestina Fokus Pemersatu Perjuangan Umat Islam” di Islamic Book Fair

Jakarta, 9/3, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mengadakan Talkshow bertopik “Palestina Fokus Perjuangan Pemersatu Umat Islam pada acara Islamic Book Fair di Panggung Selasar, Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Acara ini menghadirkan narasumber Mantan Menteri Koperasi dan anggota ICMI, Adi Sasono dan Presidium MER-C Dr Joserizal Jurnalis SpOT. Talkshow berdurasi satu setengah jam yang dimoderatori oleh Angga Aminudin dari Radio Silaturahim 720 am mendiskusikan tentang mengapa Palestina menjadi pemersatu umat Islam di dunia. Dr Jose sebagai salah satu pendiri MER-C dan pelopor Rumah Sakit Indonesia di Gaza mengemukakan bahwa perjuangan terhadap pembebasan Palestina merupakan perjuangan manusia yang cinta akan perdamaian dan kemaslahatan umat. Selanjutnya Dr Jose juga menambahkan bahwa pembebasan tanah Jerusalem ini didukung oleh umat non Muslim, seperti umat Katholik dan Paus, sebagai perwakilan dari umat Katholik di dunia serta warga Yahudi yang tidak menyetujui Zionisme Israel. Sementara itu, Adi Sasono juga menyebutkan, peranan penting MER-C dalam membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina menjadi tolak ukur akan penegakan keadilan dan kemanusiaan di dunia. Ditambahkannya lagi, hal tersebut juga merupakan sebuah komitmen yang kuat dari rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina dan Gaza khususnya, bahwa perjuangan ini harus tetap berlangsung dan mendapat dukungan sepenuhnya dari masyarakat Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Ketika ditanyakan lebih lanjut mengenai atas dasar apa MER-C membangun Rumah Sakit di Gaza dan bukan dalam bentuk rumah ibadah, Dr Jose menjelaskan bahwa dengan dibangunnya rumah sakit di Gaza ini diperlukan program berkesinambungan, seperti keperluan akan keahlian dari para relawan, manajemen rumah sakit, dan sebagainya yang nantinya akan lebih bermanfaat bagi rakyat Gaza. Dr Jose juga mengemukakan pembangunan rumah sakit ini 100 persen disokong oleh dana dari warga Indonesia, serta dibangun dengan spirit dan semangat rakyat Indonesia untuk perjuangan rakyat Palestina. Talkshow ini juga menghadirkan AbdelRahim Shihab dari Islamic Society of Gaza yang merupakan warga Palestina, yang mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada rakyat Indonesia atas perjuangan dan bantuannya untuk masyarakat Palestina. Acara ditutup dengan acara tanya jawab dengan peserta yang hadir serta foto bersama dengan nara sumber.
Adi Sasono : Berikan Yang Terbaik Bantu Palestina

Jakarta, 7 Jumadil Awal 1435/8 Maret 2014 (MINA) – Mantan Menteri Koperasi dan UKM pada era Presiden BJ Habibie, Adi Sasono mengimbau bangsa Indonesia untuk memberikan yang terbaik bagi rakyat Palestina dengan tindakan-tindakan dan sumbangan yang nyata. Adi merujuk pada wujud bantuan masyarakat Indonesia melalui Medical Emergency Rescue-Comittee (MER-C) kepada Palestina berupa Rumah Sakit Indonesia di Gaza yang baru saja dibangun. Saat ini, MER-C tengah mencoba menggalang dana untuk pengadaan alat kesehatan untuk melengkapi fasilitas RS Indonesia. “Pembangunan RS Indonesia ini menjadi bukti solidaritas rakyat Indonesia dalam bentuk nyata,” ungkap Adi kepada Mi’raj Islamic News Agency (MINA) saat ditemui di Jakarta, Jumat (7/3). RS Indonesia, ujarnya, menjadi bukti sejarah bahwa masyarakat Indonesia bisa mewujudkan solidaritas dalam bentuk yang nyata. Karena itu kita harus menyempurnakan apa yang sudah dicapai dengan melengkapi melalui pengadaan peralatan mutakhir agar bisa berfungsi secara optimal untuk membantu kemanusiaan. “Ini wujud semangat ke-Islaman yang harus kita jaga, sekarang kita ditantang oleh kolonialisme Israel sehingga kita harus buktikan dengan langkah nyata,” lanjut Adi. Sementara itu, Kepala Divisi Penggalangan Dana MER-C, Luly Larisa mengatakan, pengadaan alat kesehatan untuk RS Indonesia Gaza membutuhkan anggaran Rp 60 milyar lebih atau dua kali lipat dari biaya pembangunan gedungnya. Untuk mendapatkan anggaran sebesar itu pihaknya bekerja sama dengan berbagai pihak termasuk grup band Slank untuk program Gerakan Rp 50 ribu per orang. “Untuk suksesnya program Gerakan Rp 50 ribu per orang ini untuk pengadaan alat kesehatan RS Indonesia Gaza dan kami kerjasama dengan Slank dan juga lainnya,” katanya. Pembangunan fisik RS Indonesia Gaza mulai dikerjakan sejak 14 Mei 2011, dibangun di atas tanah seluas 16.261 m2, berasal dari wakaf pemerintah Palestina di Gaza. Lahan untuk RS Indonesia Gaza itu diserahterimakan oleh Menteri Kesehatan Palestina Baseem Naem kepada Ketua Presidium Mer-C Joserizal Jurnalis sebagai pihak pembangun pada 23 Januari 2009. Lokasinya berada sekitar 2,5 km dari perbatasan Israel sehingga sering dipantau oleh pesawat tempur tanpa awak (drone) AU negara Yahudi tersebut, namun sejauh ini pembangunan RS Indonesia terus berjalan tanpa gangguan dan hambatan. RS Indonesia di Jalur Gaza ini menjadi bukti silaturahim jangka panjang antara rakyat Indonesia dan rakyat Palestina di mana seluruh dananya berasal dari masyarakat Indonesia, sebagian besar dari kalangan menengah ke bawah, dari Sabang hingga Merauke. (L/P01/EO2). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/nasional/15980-adi-sasono-berikan-yang-terbaik-bantu-palestina.html
“Suara Anak Bangsa” Salurkan bantuan Korban Kelud Melalui MER-C

Jakarta, 15 Rabi’ul Akhir 1435/15 Februari 2014 (MINA) – Komunitas Suara Anak Bangsa menyerahkan bantuan kemanusiaan melalui lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Comitte (MER-C) untuk diteruskan pada korban bencana alam letusan Gunung Kelud. Sumbangan dana yang disalurkan sebesar Rp 37 juta, diserahkan oleh penyanyi sekaligus pendiri komunitas Suara Anak Bangsa, Vadi Akbar Kalamata, kepada Kepala Divisi Penggalangan Dana MER-C, Luly Larisa, Sabtu (15/2) malam di FX Sudirman Jakarta. Dana tersebut adalah hasil penggalangan selama satu jam pada malam itu, dalam rangkaian acara soft launching komunitas Suara Anak Bangsa dengan mengusung tema “Kita Peduli”. “Dana kami kumpulkan untuk membantu korban-korban bencana letusan Gunung Kelud,” kata Vadi. Menurutnya, sumbangan diserahkan melalui MER-C karena ia mengetahui MER-C selama ini, sebagai lembaga yang bergerak di bidang kegawatdaruratan, selalu transparan dan profesional dalam penyaluran dana bantuan. MER-C juga selalu menerjunkan para relawannya untuk membantu korban bencana di beberapa daerah, bahkan di beberapa daerah konflik luar negeri. “MER-C adalah organisasi sosial kemanusiaan yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan medis dan mempunyai sifat amanah, professional dan netral,” kata penyanyi yang belum lama ini me-release singlenya yang berjudul “Jangan Salah”. Sementara itu, Luly dari MER-C menyambut langkah yang telah diambil oleh Suara Anak Bangsa yang menurutnya memiliki prinsip yang sama dengan MER-C. “Dana yang disumbangkan akan masuk ke rekening MER-C untuk bencana dan akan disalurkan khusus untuk korban Gunung Kelud dalam bentuk obat-obatan dan lainnya,” kata Luly. Gunung Kelud yang terletak di perbatasan Kediri-Blitar, Jawa Timur, telah meletus sekitar pukul 22.50 WIB, Kamis malam (13/2). Hujan abu akibat dampak letusan Gunung Kelud telah menerpa hingga sejumlah wilayah di Jawa Tengah dan Yogyakarta, yang berjarak lebih dari 200km dari gunung Kelud. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan, hujan abu menyebar di beberapa wilayah, seperti Kediri, Malang, Blitar, Surabaya, Ponorogo, Pacitan, Solo, Yogya, Boyolali, Magelang, Purworejo, serta Temanggung. Total ada tujuh orang meninggal akibat erupsi Gunung Kelud. Korban tewas akibat tertimpa bangunan dan penyakit yang disebabkan abu vulkanik. Rata-rata mereka menderita penyakit infeksi saluran pernafasan akut (Ispa). (L/P09/K02/IR). Sumber : http://mirajnews.com/indonesia/15167-mer-c-dipercaya-salurkan-bantuan-untuk-korban-gunung-kelud.html
Pelatihan Jurnalistik Bersama MER-C

Jakarta – Di era yang haus dengan segala macam jenis informasi ini, kemampuan mengolah berita menjadi sangat penting. Bahkan saat ini semua orang bisa menulis apapun, biasa dikenal dengan istilah citizen journalism. Didukung dengan begitu banyaknya pilihan media sosial yang dapat diakses dengan mudah, maka bentuk penyampaian berita menjadi sangat luas dan bahkan bisa menjadi kebablasan. Dilatarbelakangi dengan kondisi tersebut, MER-C pada hari minggu tanggal 2 Februari 2014 mengadakan Pelatihan Jurnalistik yang ditujukan bagi relawan MER-C. Bertempat di kantor MER-C pusat, jalan Kramat Lontar J 157, Fitra Ratory selaku salah satu pengisi acara, berbagi pengalaman dan ilmunya berkaitan dengan latar belakangnya yang pernah menjadi free lancer journalist di TV One. Hadir pula Silvano Hajid dari Kompas TV dan Hery Alamsyah dari MNCTV yang melengkapi khazanah pengetahuan jurnalistik pada hari itu. 15 peserta yang hadir diharapkan dapat selalu menyampaikan berita yang dapat dipertanggung jawabkan serta dapat memenuhi konsep dasar jurnalistik, yaitu 5W+1H yaitu What, Who, Where, When, Why, and How.
MER-C Jalankan Misi Kemanusiaan Dengan Prinsip ‘Rahmatan Lil Alamin’

Jakarta, 25 Rabi’ul Awwal 1435/27Januari 2014 (MINA) – Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Comitte (MER-C), Dr. Henry Hidayatullah, menyatakan Ahad malam di kantor pusatnya, Jakarta, bahwa MER-C memegang prinsip Islam yang rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam) dengan cara bersikap dan berposisi netral di setiap daerah bencana. Dan itu disebut sebagai cara MER-C berdakwah. Berikut ini adalah petikan wawancara ekslusif reporter MINA Rudi Hendrik dengan Dr. Henry: MINA: Sebagai lembaga kemanusiaan dalam bidang medis, apakah MER-C bisa masuk ke semua wilayah bencana dan semua kalangan? Dr. Henry: Kita usahakan untuk bisa masuk ke semua daerah bencana. Dalam konteks pertolongan, kita sebisa mungkin menempatkan diri dalam posisi yang netral. Bencana itu ada dua: bencana alam dan bencana konflik atau perang. Kita harus netral, karena kita menolong. Jika kita sudah memihak, berarti tidak netral lagi, tentunya akan terbedakan. Sementara, kita tahu bahwa nilai-nilai ke-Islaman adalah nilai-nilai yang universal, bisa semuanya. Inilah yang kita angkat dari apa yang Rasul ajarkan, sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam), kita adopsi nilai-nilai itu dalam konteks menolong korban bencana. MINA: MER-C cenderung religius, apa pertimbangan MER-C hingga mengirim tim ke Filipina untuk korban Topan Haiyan (Yolanda), padahal mereka negeri yang mayoritas penduduknya beragama Katolik? Dr. Henry: Orang mendapat hidayah tidak selalu dalam konteks yang sakral atau nilai-nilai religi yang pakem seperti dari shalat atau puasa saja. Tapi bisa juga dari nilai-nilai kemanusiaan yang lain, nilai-nilai keadilan, nilai-nilai kejujuran, dari nilai-nilai yang memang ada di Islam. Sebenarnya kita juga dai. Dai itu bisa juga mengajak, tapi juga bisa berupa prilaku. Dan kami dalam konteks membantu, seperti itulah yang diajarkan Islam. Pintu hidayah itu banyak, mudah-mudahan dengan membantu, hidayah masuk dari pintu itu. Dalam konteks Filipina yang negerinya notabene mayoritas non-Muslim, mereka welcome dengan kita. Mereka ada menujukkan rasa terima kasih yang sangat besar kepada kita. Tapi kita tidak mengharapkan terima kasihnya, melainkan agar jalinan kemanusiaan dan nilai-nilai Islam bisa tersampaikan. Kita Islam, tapi dengan cara seperti itu kita bisa menghilangkan stigma bahwa Islam itu teroris. Dengan itu sangat bisa. Ketika stigma itu gembar-gembor di media, mereka pastinya juga menerima stigma bahwa Islam teroris. Mudah-mudahan dengan hadirnya kita kemarin, bisa mengubah gambaran itu. MINA: Pernah memberi sumbangsih saat konflik Ambon. Bagaimana tim menempatkan diri dalam wilayah konflik dua keyakinan yang siap saling bunuh atas dasar agama? Dr. Henry: Atas dasar-dasar itulah, kita harus menunjukkan. Identitas kemusliman harus muncul dengan nilai-nilainya universal, itu yang harus tampil. Pada konteks di Ambon, kebetulan kita Muslim, sedangkan konfliknya Muslim dan non-Muslim, maka yang paling aman pada saat itu, kita ditempatkan di masjid. Kebetulan, korban yang banyak terlantar, adalah Muslim. Nasrani di Ambom punya rumah sakit sendiri. Di Tual, Maluku Tenggara, mereka punya rumah sakit sendiri. Dan Muslim tidak punya. Sisi-sisi ini seharusnya menjadi tanggungjawab Muslim bersama, kenapa bisa terjadi ketimpangan seperti ini. Ketika kita ke tempat pengungsi, ada yang terkena panah dan lainnya, sehingga harus dioperasi. Karena dia mengungsinya di masjid, itu tidak tertangani. Di lain pihak, kita mengunjungi rumah sakit Langgur milik Nasrani. Korban-korban mereka secara medis sudah tertangani. Sekali lagi, kita memposisikan diri kita netral, sebagai seorang dokter dan sebagai seorang Muslim. Lalu kami tanya kepada pihak rumah sakit Nasrani: Adakah korban yang perlu dioperasi dan bisa kami operasi? Akhirnya ada satu. Walaupun di awal, mereka sempat menyatakan: Mohon maaf, kami tidak menerima pasien Muslim. Mereka menyangka kami ingin menolong orang Muslim yang kemudian dilakukan penanganan di rumah sakit itu. Saya tahu alasannya kenapa, karena alasan keamanan. Yang pasien Muslim ke mana? Awalnya di pengungsian, kemudian kami mengoperasinya di rumah sakit umum yang notabene kosong, karena tenaga-tenaga medisnya juga mengungsi. Bisa saja pasien Muslim ditangani di sana (rumah sakit Nasrani), tapi bisa saja karena mereka emosi atau lainnya, sehingga tidak bisa membuat mereka tetap netral. MINA: Apakah tim medis Nasrani bersikap netral? Dr. Henry: Nah, itu dia masalahnya. Netral atau tidak netral, ditampakkan dengan statement atau dengan sikap. Kalau dari segi statement, jelas mereka tidak netral, karena mereka katakan “kami tidak terima pasien Muslim”. Itu pun saya coba memahaminya sebagai suatu kewajaran. Pengurus Rumah sakit itu dominan Nasrani. Akan menjadi kerepotan sendiri jika ada pasien Muslim datang ke sana, bisa jadi bentrok. Sebab kesalahpahaman sangat tinggi. Karena kita pun, ketika menjalankan operasi bagi pasien Nasrani, dijaga oleh aparat. MINA: Kesulitan apa yang dijumpai jika memasuki wilayah konflik dua agama, apa lagi MER-C lebih Islami? Dr. Henry: Pertama, Kesulitan yang jelas adalah kurangnya SDM. Untuk mendapatkan SDM yang mau masuk ke daerah konflik, relatif lebih susah dibandingkan dengan daerah bencana alam. Kedua, memilih relawan pun harus yang trusted (yang terpecaya), artinya tidak akan membuat yang macam-macam di daerah yang penuh kecurigaan tinggi. Kita memang harus membawa relawan yang paham dengan situasi itu dan benar-benar kita percaya. Ketiga, transportasi. Tidak semua transportasi bisa menjangkau daerah tersebut. MINA: Sejauh mana kepercayaan kalangan Nasrani terhadap tim? Dr. Henry: Kita bicara apa adanya, bahwa kita punya niatan untuk menolong. Bentuk kepercayaannya adalah ketika ada pasien yang di rumah sakit Langgur, memberikan kepercayaannya dengan pasien yang bisa kita operasi di rumah sakit umum, itu pun dengan resiko yang tinggi. Mungkin saja seandainya ada yang menyebarkan isu, itu sangat bahaya. Makanya, ketika kita melakukan operasi, dijaga oleh aparat TNI AD. Jadi ada beberapa yang bisa kita bantu dalam hal humanity (kemanusiaan), dalam konteks rahmatan lil ‘alamin, tapi juga harus dengan strategi. MINA: Untuk Banjir Manado, apakah ada cerita bernuansa SARA ditemukan? Dr. Henry: Sejauh ini tidak, saya belum menerima laporan lengkapnya. Kita di sana juga membuat pos di gereja, di masjid, karena kita mobile (bergerak terus dari satu tempat ke tempat lainnya). MINA: Apakah ada pemisahan penanganan pasien Muslim dengan non-Muslim di daerah dua agama? Dr. Henry: Itu situasional. Yang pernah saya lakukan di Tual Ambon, operasi di rumah sakit umum, setelah pasien Nasrani dioperasi, dikembalikan lagi ke rumah sakit Langgur milik Nasrani. Ini dilakukan dalam rangka keamanan. Jika tidak, justeru akan merepotkan dan membahayakan semuanya. Hal seperti itu juga pernah dilakukan oleh teman-teman di Ternate, menangani pasien Nasrani. Hanya mekanisme detailnya saya tidak tahu. MINA: MER-C sudah pernah memasuki perang Irak, bencana di
MER-C Periksa Kesehatan keluarga Relawan RSI

Wonogiri – Pada tanggal 21-22 Januari 2013 dr Tonggo Meaty fransisca didampingi oleh dr Ambar dari MER-C cabang Solo melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap keluarga dari tujuh relawan Rumah Sakit Indonesia yang berada di Wonogiri. Selain melakukan pemeriksaan kesehatan, MER-C juga mengabarkan bahwa inshallah tidak lama lagi para relawan Akan kembali ke tanah air untuk bertemu dengan keluarga yang telah ditinggal lebih dari satu tahun lamanya. Sementara itu, pada tanggal 22 Januari 2014 dr Anggraini SpPD dan Islamiyah Samaun melakukan pemeriksaan kesehatan kepada keluarga dari Tata Lukita, salah seorang relawan RSI di Ciwidey.
Mobil Sumbangan Ini Dilelang untuk RS Indonesia

Jakarta – Membeli mobil Yaris keluaran tahun 2008 ini berarti anda ikut menyumbang untuk program pengadaan alat kesehatan RS Indonesia di Gaza, Palestina. Mengapa? Karena mobil sumbangan dari sepasang suami istri dermawan asal Bintaro ini, kini dijual oleh MER-C dengan cara dilelang selama 1 bulan sampai dengan akhir Januari 2014 nanti. Hasil lelang seluruhnya akan disumbangkan untuk program pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza. Cara lelang dilakukan oleh MER-C untuk menambah nilai sumbangan mobil sekaligus mengajak pembeli ikut beramal dalam program ini. “Harga lelang dibuka mulai Rp 125 juta,” ujar dr. Henry Hidayatullah, Ketua Presidium MER-C. “Saat ini sudah ada yang mengajukan untuk membeli seharga Rp 131 juta. “Semua penawaran kami catat dan tampung sampai masa lelang berakhir pada tanggal 31 Januari 2014 nanti,” tambahnya. Bagi pembeli sekaligus dermawan yang berminat, silahkan datang ke kantor MER-C yang terletak di Jalan Kramat Lontar No. J-157 Senen Jakarta Pusat mulai Senin – Sabtu pada jam kerja untuk melihat langsung kondisi mobil. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi MER-C di 081199 0176.
Siswa SMP Islam Al-Azhar 19 Serahkan Donasi untuk RSI

Jakarta – Pagi ini, Kamis (19/12), perwakilan siswa dan guru SMP Islam Al-Azhar 19 yang terletak di Cibubur menyambangi Kantor Pusat MER-C. Maksud kedatangan kali ini adalah untuk menyerahkan sumbangan bagi program pembangunan RS Indonesia di Jalur Gaza, Palestina yang tengah dilakukan oleh MER-C. Kunjungan ini juga dalam rangka memberikan motivasi dan medidik para siswa untuk peduli terhadap sesama khususnya permasalahan Palestina karena Palestina termasuk negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Sumbangan yang diserahkan dari SMP Islam Al-Azhar 19 sebesar Rp 11.630.000,-. “Sumbangan ini dikumpulkan dari kotak amal yang diedarkan ke seluruh siswa selama 2 minggu,” tutur Muchson Muhamad Anasy, salah satu guru yang mendampingi. “Mohon jangan dilihat jumlahnya,” tambahnya. Sumbangan diterima oleh Manajer Operasional MER-C yang menyampaikan bahwa perhatian dan dukungan seperti ini yang semakin menambah semangat MER-C dan khususnya 28 relawan Indonesia di Gaza untuk terus fokus menyelesaikan amanah pembangunan RS Indonesia, sebagai bukti silaturahim jangka panjang rakyat Indonesia dan rakyat Palestina.