MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

MER-C dan BNI Syariah Kerjasama Galang Dana Alkes RSI

Jakarta – Dukungan dan partisipasi datang dari berbagai pihak untuk program pembangunan RS Indonesia (RSI) di Gaza Palestina yang kini sudah mencapai tahap akhir. Salah satunya dari BNI Syariah. Belum lama ini MER-C dan BNI Syariah menandatangani kesepakatan kerjasama penggalangan donasi khusus untuk Alat Kesehatan dan interior RSI melalui kartu kredit iB Hasanah Card. Bagi donatur yang ingin berdonasi melalui cara ini, cukup hubungi BNI call center di 500046 untuk informasi dan pendaftaran. Tersedia tiga pilihan nominal donasi mulai dari Rp 50ribu, Rp 100ribu dan Rp 200ribu per bulan. Untuk jangka waktu donasi pun bisa dipilih antara 6 bulan atau 12 bulan. Setelah itu, sistem melakukan pendebetan donasi sesuai dengan nominal dan jangka waktu yang diinginkan donatur. Selama ini donasi untuk RSI dilakukan melalui donasi langsung ataupun transfer. MER-C menyediakan tiga rekening amanah khusus RSI, yaitu BCA 686.0153678, BSM 7001352061 dan BNI Syariah 0811192973. Pembangunan gedung RSI diperkirakan selesai akhir tahun ini. Ikhtiar selanjutnya adalah penggalangan dana untuk alat kesehatan dan interior ruangan RSI. Dengan adanya kerjasama MER-C dan BNI Syariah ini, diharapkan bisa memberikan alternatif kemudahan bagi masyarakat yang ingin berdonasi.

MER-C Kunjungi Keluarga Relawan RSI

Jakarta – Pada tanggal 17 Desember 2013 tim medis MER-C mengadakan pemeriksaan kesehatan terhadap keluarga relawan Rumah Sakit Indonesia di daerah Bogor dan Cileungsi. Pemeriksaan dilakukan terhadap keluarga dari Edi Siswanto, Sulis Diantoro, Muhammad Arshad Ridho, Suyitno, Edi Wahyudi, Muhammad Husain, dan Muqorobin al Fikri. Tim yang terdiri dari dr Tonggo Meaty Fransisca dan Perawat bedah Lina P Munaf Harun memeriksa tekanan darah, gula darah dan asam urat dari keluarga relawan. Selain melakukan pemeriksaan kesehatan, MER-C juga memberikan album yang berisikan foto-foto relawan yang sedang membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza.

MER-C Fasilitasi Tempat Tinggal untuk Bayi Aqila

Jakarta – Bayi Aqilah Putri Azzahra (11 bulan) pengidap penyakit atresia billier dan orang tuanya, Selasa siang (10/12), tiba di kantor MER-C yang terletak di bilangan Senen, Jakarta Pusat. Umi Pipik Dian irawati, istri mendiang Ustadz Jefry Al Buchori dan beberapa rekannya turut mengantar bayi mungil yang saat ini tengah menjalani pengobatan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Berdasarkan permintaan Umi Pipik kepada MER-C beberapa hari yang lalu, bayi Aqilah dan orang tuanya akan tinggal sementara di salah satu kamar di kantor MER-C selama menjalani pengobatan dan rencana operasi transplantasi hati di RSCM yang dananya tengah digalang oleh Umi Pipik dan rekan-rekan. “Kami dari MER-C prinsipnya membantu dalam hal tempat tinggal dan juga transportasi bila diperlukan karena keluarga pasien berasal dari luar kota. Kebetulan kantor kami letaknya tidak jauh dari RSCM. Jadi kami dari relawan membantu dalam konteks kemanusiaan,” ucap dr. Henry Hidayatullah, Ketua Presidium MER-C ketika menerima kedatangan bayi Aqilah dan rombongan. “Mengenai pengobatan dan prosedur medis, kami serahkan kepada Tim Dokter Ahli di RSCM yang menangani selama ini,” lanjut Henry. Sebagai lembaga sosial medis, relawan MER-C telah membantu menjelaskan mengenai kondisi bayi Aqilah dan prognosisnya kepada keluarga serta Tim Umi Pipik. Bayi Aqilah dan orang tua akan menempati kamar tamu MER-C yang biasa menjadi tempat singgah para relawan dan tamu MER-C dari dalam dan luar negeri.

Kunjungan dan Pemeriksaan Keluarga Relawan RSI di Lampung

Lampung – Selasa, 19 November 2013 MER-C mengirimkan 3 orang relawannya yang terdiri dari dr. Zacky Eko Wahyudi MARS, dan dr. Hadiki Habib, perwakilan MER-C ini untuk menghadiri acara Grand launching Suffah Al Quran Abdullah bin Masud Online di desa Muhajirun, Negarabatu, Natar, Lampung. Selain menghadiri acara grand launcing, tim juga mengadakan pemeriksaan kesehatan salah satu anggota pondok pesantren Al Fattah dengan diagnosa Bening Prostat Hiperlapsia. Presidium MER-C Ir. Faried thalib ikut bergabung dengan tim MER-C mengadakan kunjungan ke keluarga dari Bukhori Muslim Sadeli dan Syuhada Busyro, yang merupakan relawan MER-C dari pondok pesantren al Fattah yang saat ini sedang bertugas  merampungkan pembangunan RSI di Gaza, Palestina. Selain mengadakan pemeriksaan para dokter juga memberikan edukasi medis di salah satu rumah relawan RSI.

Berita Duka Untuk Relawan RSI Gaza

Berita duka datang untuk salah satu relawan Mer-C yang sedang berada di jalur Gaza Palestina, Karidi. Karidi adalah relawan MER-C yang sedang menjalankan amanah membangun RS Indonesia di jalur Gaza, Palestina.    Ayahanda Karidi berpulang ke Rahmatullah pada Minggu 10/11/13 di Wonogiri Jawa Timur. Pada usia 70 tahun, Marino, Almarhum menghembuskan nafas terakhirnya di RSUD Wonogiri Jawa Timur, dengan diagnosa dokter pembengkakan pada jantung. Karidi sudah satu tahun lebih menjadi relawan di Gaza, Palestina sejak 21/10/12 hingga saat ini, Karidi adalah anak ketiga dari tiga bersaudara, putra dari Sisum dan Almarhum Marino.   Karidi yang sedang di jalur Gaza, Palestina di beritakan oleh sang istri yang juga merupakan sekertaris Mer-c, Tina Leonard dan kakak ipar Mba Yani. Karidi sendiri tidak mempunyai firasat apapun atas kepergian ayahanda tercinta, dan baru berhubungan via telepon dengan ayah tercinta satu minggu sebelum wafat. Ayahnya memang sudah beberapa waktu terakhir sakit di sebabkan usia lanjut dan keadaannya kemudian menjadi kritis 2 minggu terakhir ini.   Keadaan Karidi saat ini Alhamdulillah sehat dan terus menjalankan tugas sebagai ketua mechanical electrical pembangunan Rs Indonesia di Gaza, Palestina. Almarhum Marino meninggalkan sang istri Sisum, tiga orang anak dan tiga cucu.

Dokter Indonesia Bersatu (DIB): Berbenah Diri untuk Indonesia Yang Sehat

Jakarta – Sabtu sore yang sejuk diiringi oleh gerimis kecil tanggal  16 November 2013 pukul 16.00 perwakilan Dokter Indonesia Bersatu (DIB) mengunjungi kantor MER-C. Dialog hangat berlangsung dalam pertemuan itu. Perwakilan DIB antara lain dr. Agung Sapta, dr. Feny Ramadiana, dan dr. Yuliani, parwakilan ini disambut oleh dr. Yogi Prabowo, dr, Joserizal Jurnalis, dr. Rizky Adriansyah, dr, Hadiki Habib, dan dr. Zecky Eko, dari MER-C. Membicarakan masalah kesehatan di Indonesia, memang agak sulit dicari ujung pangkalnya, oleh karena itu, dalam forum sederhana itu diskusi ditujukan untuk sosialisasi latar belakang dan aktivitas yang dilakukan DIB. Dr. Yogi mengawali diskusi dengan menjelaskan bahwa MER-C sebagai organisasi dengan latar belakang medis tentu tetap harus mengikuti perkembangan dunia kesehatan di Indonesia. Secara pribadi, beliau berpendapat bahwa tenaga kesehatan di Indonesia khususnya dokter masih kurang mau bekerjasama untuk memperjuangkan hak-hak profesi mereka. Bahwa profesi kedokteran secara kolektif saat ini telah menjadi kelompok pekerja dalam satu bisnis kesehatan, dan dalam menyikapi BPJS, beliau mengharapkan dokter ditempatkan di posisi yang layak sebagai pemberi pelayanan kesehatan dan diberikan keleluasaan untuk menangani pasien sesuai dengan standar pelayanan medis. Dr. Agung dari DIB menjelaskan sejarah dan latar belakang berdirinya DIB berasal dari keresahan pada dokter terhadap berbagai masalah kesehatan, aspirasi yang mereka punya saat itu tidak tersalurkan dan mereka menganggap belum ada advokasi yang kuat untuk membantu menyelesaikan masalah kedokteran, mulai dari pendidikan dokter, internship, BPJS, sampai persoalan hukum. Dijelaskan juga bahwa DIB merupakan gerakan sosial, dan mereka tetap berhadap Ikatan Dokter Indonesia masih bisa dijadikan saluran aspirasi dan perjuangan agar tercipta sistim kesehatan yang mampu menyehatkan masyarakat (dokter dan pasien). Beberapa pendapat dan tanggapan hadir dalam forum diskusi, dan akhirnya tercipta beberapa sintesis, antara lain diperlukan dialog berkelanjutan dan sistimatis bila perlu menghadirkan narasumber dari pihak Ikatan Dokter Indonesia, Departemen Kesehatan, dokter yang bertugas  dan dibutuhkan data-data valid, sebelum melakukan argumentasi mengenai suatu masalah Untuk melaksanakan diskusi, divisi kajian MER-C melalui dr Rizky  menyampaikan kesiapan untuk memfasilitasi tempat dan sosialisasi melalui jaringan MER-C yang ada, sedangkan Dr. Joserizal memberikan usul agar DIB menjadi organisasi resmi sehingga memiliki Legal Standing untuk melakukan peninjauan kembali terhadap beberapa point yang dianggap rancu dalam undang-undang kesehatan dan praktik kedokteran.

Berita Duka Untuk Relawan RSI Gaza

Berita duka datang untuk salah satu relawan Mer-C yang sedang berada di jalur Gaza Palestina, Karidi. Karidi adalah relawan MER-C yang sedang menjalankan amanah membangun RS Indonesia di jalur Gaza, Palestina.    Ayahanda Karidi berpulang ke Rahmatullah pada Minggu 10/11/13 di Wonogiri Jawa Timur. Pada usia 70 tahun, Marino, Almarhum menghembuskan nafas terakhirnya di RSUD Wonogiri Jawa Timur, dengan diagnosa dokter pembengkakan pada jantung. Karidi sudah satu tahun lebih menjadi relawan di Gaza, Palestina sejak 21/10/12 hingga saat ini, Karidi adalah anak ketiga dari tiga bersaudara, putra dari Sisum dan Almarhum Marino.   Karidi yang sedang di jalur Gaza, Palestina di beritakan oleh sang istri yang juga merupakan sekertaris Mer-c, Tina Leonard dan kakak ipar Mba Yani. Karidi sendiri tidak mempunyai firasat apapun atas kepergian ayahanda tercinta, dan baru berhubungan via telepon dengan ayah tercinta satu minggu sebelum wafat. Ayahnya memang sudah beberapa waktu terakhir sakit di sebabkan usia lanjut dan keadaannya kemudian menjadi kritis 2 minggu terakhir ini.   Keadaan Karidi saat ini Alhamdulillah sehat dan terus menjalankan tugas sebagai ketua mechanical electrical pembangunan Rs Indonesia di Gaza, Palestina. Almarhum Marino meninggalkan sang istri Sisum, tiga orang anak dan tiga cucu.

Selamat Jalan Bang Din!

Jakarta – Bang Din, begitu biasa kami memanggilnya, adalah salah satu relawan MER-C di Aceh yang juga merupakan korban tsunami. Pasca tsunami dahsyat menerjang kampung halamannya di Panga, Aceh Jaya pada penghujung tahun 2004 silam, pemilik nama lengkap Syarifudin ini mewakafkan sebidang tanah miliknya kepada MER-C untuk pembangunan sarana kesehatan. Gelombang tsunami memang telah menyapu hampir semua bangunan di daerahnya. Bekerjasama dengan NGO asal Malaysia, MER-C membangun sebuah Klinik Rawat Inap di atas tanah wakaf tersebut. Dengan adanya donasi dari masyarakat Indonesia untuk amanah Aceh, MER-C kemudian melengkapi Klinik tersebut dengan berbagai peralatan medis. Kini, Klinik Rawat Inap Panga yang telah beroperasi sejak Maret 2006 telah dinaikkan statusnya oleh Pemda setempat menjadi Puskesmas Rawat Inap dan sampai saat ini masih menjadi sentra pelayanan kesehatan bagi masyarakat Panga dan sekitarnya. Senin (30/9), Bang Din tiba di Jakarta setelah mendapat rujukan dari Aceh. Bang Din menderita penyakit kanker leukemia akut sehingga harus mendapatkan pengobatan lebih lanjut di RS Dharmais Jakarta. Selama dirawat di pusat kanker nasional ini, beberapa relawan medis MER-C secara bergantian memantau kondisi kesehatannya. Namun, baru beberapa hari mendapat pengobatan, kondisi Bang Din terus menurun. Pada hari Kamis (10/10), sekitar pukul 18.00, Bang Din menghembuskan nafas terakhirnya dan kembali menghadap Sang Maha Pencipta setelah berjuang keras melawan penyakit kankernya. Pagi ini Jum’at (11/10), jenazah Bang Din telah diterbangkan ke Aceh untuk dikembalikan kepada keluarga dan dimakamkan di tanah kelahirannya. Selamat jalan Bang Din… Doa kami menyertaimu…. Semoga tanah yang sudah engkau wakafkan, yang diatasnya telah berdiri sebuah Puskesmas Rawat Inap bisa menjadi ladang amal ibadah yang tidak putus untukmu… Aamiin…

Silahkan bertanya?