MER-C ajak masyarakat Indonesia bekerja sama menangani COVID-19

Jakarta (ANTARA) – Lembaga medis dan kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committe (MER-C) mengajak seluruh elemen masyarakat dan para tenaga kesehatan untuk saling bahu membahu bekerja sama dalam menangani pandemi COVID-19 yang terjadi di Indonesia agar bisa segera terbebas dari penyakit virus corona baru tersebut. Pendiri sekaligus prresidium dan relawan medis MER-C Dr Yogi Prabowo, SpOT dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Selasa, mengatakan penanganan COVID-19 di Indonesia harus dilakukan dengan manajemen krisis yang baik agar tidak menimbulkan masalah baru di tengah perjuangan semua pihak dalam menghadapi pandemi.Terlebih lagi, kata Yogi, bangsa yang terpecah belah di dalam menghadapi suatu masalah dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk kepentingan golongan tertentu.“Sejatinya negara yang terdampak bencana sedang menjadi lokus minoris bagi kekuatan asing lain menginvasi negeri untuk dikuasainya. Mari kita sesama anak bangsa segera menyadarinya. Lebih baik bersatu menyelamatkan negeri ini dari keterpurukan dan ancaman pihak-pihak lain yang berusaha menguasai negeri,” kata Yogi. Dia mendorong agar proses pemeriksaan laboratorium untuk COVID-19 dipercepat agar tidak terjadi friksi antara masyarakat dengan tenaga kesehatan di lapangan.Yogi menerangkan kegelisahan masyarakat butuh kepastian akan anggota keluarganya yang sakit apakah terinfeksi COVID-19 atau bukan akan berdampak pada aspek sosial dan spiritual. Dari sisi tenaga medis yang sudah bekerja keras menangani pasien harus menjelaskan kepada keluarga pasien dalam situasi yang rumit dan menunggu hasil tes yang cukup lama bisa menjadi benturan.Selayaknya harus ada penjelasan aspek hukum kebencanaan oleh pemerintah kepada masyarakat, sehingga bukan hanya dibebankan kepada tenaga kesehatan yang dihadapkan pada keluarga pasien yang gelisah. “Di tengah situasi tersebut sangat rentan emosi para tenaga kesehatan menghadapi situasi,” kata dia.Namun Yogi mengajak agar seluruh pihak harus bekerja sama dan tidak menambah masalah baru di tengah kondisi yang masih terjadi pandemi.“Selayaknya kedua belah pihak bisa menahan diri, sebab dalam konsep manajemen bencana salah satu kunci keberhasilan adalah ‘jangan membuat masalah di tempat yang sedang bermasalah’ atau jangan memantik api di dekat bensin. Crisis management akan menentukan keberhasilan penanganan bencana. Hendaklah pemerintah, organisasi profesi, tokoh masyarakat bisa memberikan imbauan tentang pentingnya kerja sama dalam menangani bencana,” kata Yogi. Sumber : https://www.antaranews.com/berita/1542344/mer-c-ajak-masyarakat-indonesia-bekerja-sama-menangani-covid-19
Terus Bergerak Membantu Penanganan Wabah Covid-19

Hari ini, Rabu/20 Mei 2020, Tim MER-C kembali menyerahkan 200 paket APD (Alat Pelindung Diri) ke Posko Gugus Tugas Covid-19 di Balai Kota Provinsi DKI Jakarta. Ini merupakan bantuan tahap 2 yang telah diserahkan ke Posko Gugus Tugas Covid-19 dari 5 tahap yang direncanakan dengan total bantuan sebanyak 1.000 paket. Paket APD yang terdiri dari baju hazmat reuseable, face shield, kaca mata google, masker bedah, masker N95, nurse cap, sarung tangan, pelindung sepatu, sepatu boot dan alkohol 70% 5 liter, merupakan bantuan dari PT Repower Asia Indonesia bekerjasama dengan MER-C Indonesia. Semoga manfaat dan dapat membantu para tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan medis terbaik bagi masyarakat. #BersamaLawanCovid #LawanCorona #LawanCovid19 Info: www.mer-c.org 0811990176 /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:”Table Normal”; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-parent:””; mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; mso-para-margin-top:0cm; mso-para-margin-right:0cm; mso-para-margin-bottom:8.0pt; mso-para-margin-left:0cm; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:”Calibri”,sans-serif; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
PT Repower Asia Indonesia Menggandeng MER-C untuk Pengadaan 1.000 Paket Bantuan APD

Dalam rangka berpartisipasi dalam penanganan wabah Covid-19, PT Repower Asia Indonesia Tbk sebuah perusahaan public yang bergerak di bidang property menggandeng MER-C untuk pengadaan dan penyaluran bantuan 1.000 paket Alat Pelindung Diri (APD) yang diperuntukkan bagi para tenaga kesehatan khususnya di DKI Jakarta yang tengah berjuang di garda terdepan. Serah terima bantuan simbolis dilakukan pada hari Selasa/5 Mei 2020 bertempat di Balai Kota disaksikan langsung oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan beserta jajaran dan dihadiri oleh Direksi PT Repower Asia Indonesia serta Tim MER-C (Medical Emergency Rescue Committee). Aulia Firdaus selaku Direktur Utama PT Repower Asia Indonesia menyampaikan bahwa bantuan ini sebagai respon atas seruan Gubernur DKI Jakarta mengenai KSBB (Kolaborasi Sosial Berskala Besar). “Sebagai perusahaan public kami merasa terpanggil untuk merespon seruan Bapak Gubernur dan kami berharap bisa berpartisipasi memberikan bantuan kepada masyarakat khususnya tenaga medis yang tengah berjuang melawan pandemi Covid-19. Dari hasil konsolidasi internal, alhamdulillah kami berhasil mengumpulkan dana total senilai Rp 1 Milyar yang berasal dari kas perusahaan, karyawan yang menyisihkan gajinya dan warga dalam hal ini pembeli properti kami yang turut terpanggil memberikan bantuannya.” Aulia menyadari tidak bisa sendiri melakukan hal ini. Untuk itu perusahaannya menggandeng MER-C sebagai lembaga yang sudah aktif berkiprah memberikan bantuan medis di berbagai wilayah bencana, untuk membantu pengadaan dan penyaluran bantuan dalam bentuk APD kepada pihak-pihak terkait yang membutuhkan. MER-C sendiri sejak awal wabah merebak sudah melakukan diantaranya pembuatan face shield dan penyaluran bantuan APD ke lebih dari 125 fasilitas kesehatan dari Aceh sampai Papua serta membentuk Tim Monitoring Pasien-pasien dalam Pemantauan Covid-19 bekerjasama dengan Dinas Kesehatan DKI Jakarta. Mewakili MER-C, Dr. Sarbini Abdul Murad selaku Ketua Presidium menyampaikan terima kasih atas kepercayaan PT Repower Asia Indonesia kepada lembaganya dan berharap kolaborasi yang ada serta bantuan yang diberikan dapat bermanfaat dalam mendukung langkah-langkah Pemerintah Daerah DKI Jakarta untuk bersama-sama menangani dampak wabah ini. Bantuan yang diberikan berisi APD lengkap terdiri dari baju hazmat reusable, face shield, masker bedah, masker N95, sarung tangan, nurse cap, sepatu boot, dan alkohol sebanyak 5 liter per paket. Sebagai tahap awal bantuan yang diserahkan sebanyak 200 paket dan akan terus disalurkan secara bertahap. Info :www.mer-c.orgCall Center : 0811990176 #LawanCorona#LawanCovid19#MERCIndonesia
MER-C Terus Melanjutkan Monitoring Pasien Dalam Pemantauan Covid-19

Sejak merebaknya wabah Covid-19 di Indonesia, selain menyalurkan bantuan APD (Alat Pelindung Diri) bagi tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan, sejak Maret 2020, MER-C membentuk Tim Relawan untuk Monitoring Pasien dalam Pemantauan Covid-19. Pasien-pasien yang dipantau oleh Tim Relawan MER-C saat ini adalah pasien yang sudah pulang dari rumah sakit dan melanjutkan isolasi mandiri di rumah. Program ini dilakukan untuk membantu penderita Covid-19 mendapatkan edukasi terkait isolasi mandiri, pelaporan ke pihak puskesmas, dan melaporkan hasil pemeriksaan laboratorium yang masih sering belum diketahui pasien. Monitoring Pasien dalam Pemantauan Covid-19 dilakukan selama kurang lebih 14 hari sejak pulang dari RS atau disesuaikan dengan kondisi pasien. Sebanyak 25 relawan medis tergabung dalam Tim, yang terdiri dari 3 orang dokter spesialis, 21 orang dokter umum dan 1 orang perawat. Salah satu relawan dalam Tim, dr. Tasykuru Rizka, memaparkan bahwa Tim Relawan MER-C tetap berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dalam hal program monitoring ini. Data sementara jumlah pasien yang dimonitoring sebanyak 101 orang. Lebih lanjut Iis, sapaan akrabnya, memaparkan bahwa Tim Relawan MER-C melakukan monitoring melalui whatsapp, SMS dan telepon yang dilakukan setiap 3 hari sekali kepada pasien, setiap relawan memantau 2 – 4 orang pasien. Tim akan menanyakan kondisi pasien serta memantau keluhan lain yang disampaikan, dilanjutkan dengan memberikan edukasi terkait isolasi mandiri, keharusan untuk melapor ke puskesmas, indikasi harus ke rumah sakit, dan membantu menyampaikan hasil swab kepada pasien dan puskesmas setempat untuk melakukan contact tracing. Lebih lanjut dokter yang tengah menempuh pendidikan akhir Spesialis Penyakit Dalam FK UI ini menjelaskan bahwa data yang didapat akan diolah secara Deskriptif dan Analitik sebagai informasi Epidemiologi. Laporan hasil selanjutnya akan diserahkan kepada Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta untuk membantu mengambil keputusan yang Evidence-Based. Kepedulian dan Donasi anda dapat di salurkan melalui : BCA, 686.0099.339BSM, 701.565.8899BNI Syariah, 303.2000.922 An. Medical Emergency Rescue Committee Info :www.mer-c.orgCall Center : 0811990176 #LawanCorona#LawanCovid19#MERCIndonesia
Catatan Tim Medis MER-C 30 September 2019

Mengantisipasi informasi rencana aksi massa pada tanggal 30 September 2019, MER-C kembali mempersiapkan diri. Kami berharap tidak ada korban. Namun sebagai elemen masyarakat yang berfokus pada pertolongan kegawatdaruratan medis kami turut bersiap diri, mensiagakan ambulans dan tim medis ketika ada pengumpulan massa (mass gathering) seperti saat ini, melengkapi kembali oksigen, obat-obatan dan alat-alat medis serta mengkoordinir relawan yang akan turun. Kemarin MER-C menurunkan Tim sebanyak 14 relawan yang terdiri dari dokter, perawat, logistik medis dan lainnya. Ambulans MER-C menuju ke arah pengumpulan massa di sekitar DPR RI. Macet ke arah lokasi mewarnai jalanan yang akan dilalui tim. Namun selalu ada orang-orang yang tergerak hatinya untuk membantu dengan apapun yang mereka bisa. Melihat ambulans tertahan oleh kemacetan di sekitar Tanah Abang, pengendara motor langsung menawari untuk membuka jalan bagi ambulans. Dengan sigap mereka mengatur mobil-mobil untuk bergeser dan membuka jalan, ambulans kami pun bisa lewat sampai akhirnya bertemu kerumunan massa di sekitar perempatan Slipi. Begitu tiba, ambulans dan Tim Medis MER-C langsung didatangi massa yang berlarian dari arah Palmerah. Mereka mengetuk-ngetuk kaca dan badan ambulans meminta pertolongan akibat terkena gas air mata. Tim MER-C yang sudah dilengkapi kacamata google dan masker keluar dari ambulans untuk memberikan penanganan gas air mata dan pemberian oksigen. Walau sudah memakai pelindung, kami saja masih merasakan perih di mata dan hidung. Tidak berselang lama, di lokasi tempat kami berada, massa dipukul mundur oleh aparat dengan gas air mata yang dijatuhkan dari atas fly over untuk menghalau dan membubarkan mereka yang masih berkumpul dan melakukan perlawanan. Seketika pandangan ambulans tertutup oleh asap gas air mata yang jatuh, perih makin terasa di mata dan hidung, tenggorokan juga seperti kering tercekik. Dengan kepungan gas air mata, semua anggota tim mencoba masuk ke dalam ambulans dan bergeser ke tempat yang lebih terang dan aman agar tetap bisa memberikan pertolongan lebih lanjut. Kami stanbdy di belakang barisan barikade tentara di sekitar Jl. KS Tubun Petamburan. Satu tim yang terdiri dari 4 relawan kemudian dipecah untuk melakukan mobile ke titik-titik sekitar yang terdapat korban dengan dipandu warga, sementara relawan lainnya tetap standby di ambulans. Setelah kondisi kondusif kami bergerak menuju masjid Al Falah Pejompongan yang dikabarkan masih banyak korban yang belum tertangani. Sulitnya menuju lokasi karena banyak blokade jalan, sampai akhirnya kami kembali dipandu pengendara motor sampai ke masjid Al Falah. Satu tim masuk ke masjid Al Falah dan berkoordinasi dengan pengurus dan tim medis yang ada. Karena saat itu tim medis sudah cukup dan korban sudah dapat tertangani, Tim memutuskan untuk mencari wilayah lain yang masih minim medis. Ambulans dan tim MER-C kemudian menyusuri arah Slipi, Palmerah, Simprug, FX, Senayan, Semanggi. Sepanjang jalan yang kami lalui, kerumunan massa sudah tidak terlihat, jalanan lengang. Yang terlihat hanya sisa-sisa aksi di sepanjang jalan, seperti bekas-bekas pembakaran di beberapa titik di tengah jalan, batu-batu berserakan, pembatas jalan yang berjatuhan dan aparat yang terduduk dan berbaring di pinggir jalan. Sekitar pkl 23.45 kami pun memutuskan kembali ke markas MER-C. #mercindonesia
Konferensi Pers MER-C Tentang Aksi Massa 21-23 Mei 2019: Ini Masalah Kemanusiaan

Pada tanggal 25 Mei 2019, MER-C mengadakan konferensi pers untuk kesian kalinya mengenai insiden pasca pilpres terkait dengan aksi tanggal 21-23 Mei 2019, di kantor pusat MER-C, Kramat Lontar, Jakarta. Pendiri MER-C, Dr Joserizal Jurnalis SpOT menyatakan kesedihannya akan terjadinya peristiwa berdarah yang terjadi tersebut. “ Rasa sedih masih bergelayut di wajah kita semua atas kekerasan yang terjadi pada tanggal 21-23 Mei 2019 kemarin pada waktu sahur”. Ia menyatakan bahwa korban yang meninggal dalam demonstrasi tersebut merupakan kejahatan kemanusiaan. Secara tegas, Dr Jose menyatakan, dalam peristiwa perang sekalipun, warga sipil harus dihormati walau dia terlibat dalam proses evakuasi korban, apalagi hanya di dalam demonstrasi. Terutama, lanjutnya, anak kecil, wanita, tokoh agama harus dihormati dan dilindungi, sebagaimana ditetapkan dalam Konvensi Jenewa. “Konvensi Jenewa juga mengatur perlindungan dalam peperangan, misalnya ambulance, petugas medis, tidak boleh diserang,” kutipnya, seraya menambahkan bahwa dalam tragedi aksi demonstrasi kemarin, ada beberapa petugas medis dan ambulance yang diserang secara brutal oleh pihak aparat. “Kemarin, sesuai dengan laporan video, foto-foto dari staf medis dan relawan MER-C di lapangan, bisa dilihat bahwa tidak berimbang alat, misalnya, batu, yang dibawa oleh demonstran dengan senjata api yang digunakan aparat,” ujarnya. Kejadian kemarin ternyata juga menunjukkan bukti bahwa pihak aparat menggunakan senjata tajam, tambah Jose lagi, sembari menunjukkan bukti berupa timbal hitam yang sepertinya mengenai tulang korban, peluru karet dan peluru tajam. Ia juga menyayangkan penyerangan terhadap jurnalis dalam peristiwa kemarin, karena, menurut dokter yang sudah berpengalaman menjadi dokter di perang Irak dan Afghanistan, menyerang jurnalis di medan perang saja merupakan sebuah kejahatan, apalagi hanya untuk skala yang lebih rendah seperti demonstrasi. Lebih lanjut lagi, Jose menyatakan bahwa tim MER-C akan akan berdiskusi dengan tim hukumnya untuk melapor tindak kriminal ini ke institusi di luar Indonesia. ”Karena MER-C adalah NGO bersifat universal, maka kami akan menempuh jalur ICC atau ICJ dan UNHRC” Akhirnya, Jose menutup konferensi pers dengan mengatakan bahwa hal ini adalah masalah kemanusiaan yang harus dihargai, dan ia melihat, nilai kemanusiaan tidak dihormati pada kejadian kemarin. Berikut Siaran Pers MER-C : *Hargai Sebuah Nyawa,* *Catatan Aksi Demonstrasi 21 – 23 Mei 2019 dari Sisi Medis dan Kemanusiaan* Peristiwa tanggal 21 sampai 23 Subuh- Mei 2019 telah meninggalkan luka yang dalam bagi rakyat Indonesia, terutama bagi yang sangat menghargai nyawa manusia lepas dari persoalan politik, latar belakang etnis, dll. Korban tewas berjatuhan, begitupun yang trauma ringan sampai berat. Harga dari penyelenggaraan Pemilu kali ini teramat mahal, belum usai dan terungkap masalah tewasnya lebih dari 600 petugas KPPS dan ribuan lainnya yang mengalami sakit, kini rakyat Indonesia sebagai pemegang kedaulatan bangsa kembali harus berduka dengan bergugurannya anak-anak bangsa yang ingin menyuarakan aspirasinya. Gubernur Provinsi DKI Jakarta merilis bahwa jumlah korban meninggal dalam kerusuhan aksi massa 21 – 22 Mei 2019 lalu mencapai 8 orang dan sebanyak 737 orang mengalami luka-luka (data per Kamis/23 Mei 2019, pukul 11.00). Dengan perincian, sebanyak 93 orang mengalami luka non trauma dan 79 orang luka berat. Kemudian, 462 orang mengalami luka ringan dan 95 orang masih dalam pemeriksaan dan belum teridentifikasi luka yang dialami. Dilihat dari usia, para korban kebanyakan berusia muda, yaitu 20 hingga 29 tahun sebanyak 294 orang dan berusia di bawah 19 tahun mencapai 170 orang. MER-C sebagai sebuah lembaga social kegawatdaruratan medis, kemanusiaan dan kebencanaan menurunkan Tim Relawan Medisnya sejak tanggal 21 – dini hari 23 Mei 2019. Lebih dari 30 relawan yang terdiri dari dokter, perawat dan logistic medis serta 4 unit kendaraan operasional disiagakan untuk turut memberikan bantuan medis bagi para korban baik dari pihak masyarakat maupun aparat. MER-C mengecam keras tindakan represif pemerintah dan aparat dalam menangani demonstran yang tidak mengindahkan nilai-nilai kemanusiaan dan Konvensi Internasional. Berikut catatan kami pada Aksi Demonstrasi 21 – 23 Mei 2019 dari Sisi Medis dan Kemanusiaan: 1. Penanganan demonstran dilakukan dengan siksaan dan senjata api. – menembak anak kecil – aparat masuk ke dalam masjid mengejar demonstran – menembak jarak dekat – orang sudah jatuh masih ditembak – tidak memakai water canon tapi langsung menggunakan gas airmata, peluru karet dan peluru tajam 2. Relawan Medis Dalam Konvensi Jenewa, petugas medis adalah pihak yang harus dilindungi keberadaannya dalam situasi perang dan konflik. Aparat juga seharusnya menjadi pelindung ketika petugas medis tengah menunaikan tugasnya. Konvensi Jenewa I Pasal 24 Konvensi Jenewa I 1949 menyatakan: Personel medis yang secara eksklusif terlibat dalam pencarian, atau pengumpulan, pengangkutan atau perawatan orang yang terluka atau sakit, atau dalam pencegahan penyakit, staf yang secara eksklusif terlibat dalam administrasi unit medis dan perusahaan … harus dihormati dan dilindungi dalam segala keadaan. Konvensi Jenewa I Pasal 25 Konvensi Jenewa I 1949 menyatakan: Anggota angkatan bersenjata yang dilatih secara khusus untuk pekerjaan, jika perlu muncul, ketika petugas rumah sakit, perawat atau pengangkut tandu tambahan, dalam pencarian atau pengumpulan, pengangkutan atau perawatan orang yang terluka dan sakit juga harus dihormati dan dilindungi jika mereka sedang melakukan tugas-tugas ini pada saat mereka melakukan kontak dengan musuh atau jatuh ke tangannya. Konvensi Jenewa IV Pasal 20, paragraf pertama, Konvensi Jenewa IV 1949 menyatakan: Orang-orang yang secara teratur dan semata-mata terlibat dalam operasi dan administrasi rumah sakit sipil, termasuk personel yang terlibat dalam pencarian, pemindahan dan pengangkutan dan perawatan warga sipil yang terluka dan sakit, kasus yang lemah dan bersalin, harus dihormati dan dilindungi. Protokol Tambahan I Pasal 15 (1) dari Protokol Tambahan I 1977 memberikan: “Tenaga medis sipil harus dihormati dan dilindungi.” Artikel 15 – Perlindungan tenaga medis dan keagamaan sipil 1. Tenaga medis sipil harus dihormati dan dilindungi. 2. Jika diperlukan, semua bantuan yang tersedia harus diberikan kepada saluran medis sipil di daerah dimana layanan medis sipil terganggu oleh alasan aktivitas pertempuran. 3. Ambulans Penyerangan ambulans dan tindakan represif aparat kepada petugas ambulans. Semua peristiwa ini akan menjadi jejak sejarah yang sulit bagi bangsa ini untuk melupakan dan menghilangkannya, akan selalu tercatat dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Tentu sangat penting mengambil pelajaran agar kejadian ini tidak terulang dan terulang lagi. Mulailah dengan sikap-sikap persuasif dan bijak serta penghormatan terhadap
Tim Mobile Clinic MER-C Rujuk Korban Patah Tulang

#Update Misi Kemanusiaan MER-C untuk Palu – Donggala# Jum’at/5 Oktober 2018, Tim MER-C memulai program mobile clinic dan case finding menyusuri wilayah-wilayah terdampak gempa di Palu yang belum terjangkau bantuan. Tim yang terdiri dari Dr Lia Rahmarini, Dr. Ahmad Azam Hisabullah, Islamiyah Samaun, Rita Tambunan, Shaleh Obew dan Mochamad Gurhana menuju wilayah tujuan _mobile clinic_ yaitu desa Sidera, kecamatan Sigi Sidomaru, kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Selain membawa bantuan obat-obatan, tim juga membawa bantuan makanan dan minuman. Desa Sidera berada sekitar 30 km dari kota Palu. Perjalanan ke desa ini ditempuh sekitar 1 jam dari posko MER-C di RSU Sis Aljufri. Tim melakukan pengobatan di tiga dusun, yaitu dusun Satu, dusun Dua dan dusun Tiga di desa Sidera. Jumlah pasien di desa ini mencapai 50 orang. Selain memberikan bantuan pengobatan, Tim juga menemukan warga korban gempa yang mengalami patah tulang. Terdapat tiga pasien kasus patah tulang yang kemudian dirujuk ke RSU Sis Aljufri. Desa Sidera bersebelahan dengan desa Petobo, Jonooge dan Kabobona yang hancur 100 persen akibat likuifaksi. Kepala desa Sidera, Al-Maswir mengatakan korban yang meninggal di desanya berjumlah 6 orang. Sementara ratusan lainnya mengalami luka berat dan ringan. Disela-sela kegiatan pengobatan, salah satu warga, bernama Ibu Dewi, sempat menuturkan kisah dukanya kehilangan suami tercinta saat gempa menerjang desanya Jum’at pekan lalu. Kisah selengkapnya :https://minanews.net/selamatkan-istri-dan-anaknya-dari-gempa-zaenal-abidin-rela-syahid/ Bantuan dan donasi bagi Korban Gempa Bumi dan tsunami di Palu – Donggala dapat disalurkan melalui: BCA, 686.0099339BSM, 701.5658.899BNI Syariah, 303.2000.922 Semua rekening atas nama :Medical Emergency Rescue Committee Info :Webiste : www.mer-c.orgFB : MER-C IndonesiaCall Center : 0811990176IG : @mercindonesia #mercpedulipaludonggala#rssisaljufricrisiscenter
Tangani Gempa dan Tsunami Palu, MER-C Koordinir RS SIS Aljufri Crisis Center

Gempa 7,7 SR yang terjadi di Palu pada tanggal 28/9/2018, membuat MER-C segera mengirimkan Tim Initial Assessment of Disaster untuk menembus Palu dan melakukan penilaian awal bencana. Tim yang ditugaskan sebanyak empat relawan dengan pimpinan dr. Andi Fajar Wela. Menempuh jalur darat, Tim melalui rute Mangkutana – Poso – Napu – Palu. Minggu/30 September 2018, sekitar pukul 05.00 pagi berhasil mencapai Palu dan segera melaporkan diri ke BNPB dan Dinas Kesehatan setempat. Usai berkorodinasi, Tim segera bergerak melakukan penilaian ke wilayah dan fasilitas terdampak gempa. Dr. Andi Fajar Wela, Ketua Tim Advance MER-C melaporkan hasil temuan tim di lapangan, yaitu koordinasi yang ada masih sangat kurang, listrik mati, sulitnya bahan bakar sulit dan air bersih serta rumah sakit yang ada juga rusak berat. “Koordinasi penanganan gempa masih sangat kurang, listrik mati, bahan bakar sulit, air bersih sulit. Rumah sakit di Palu juga rusak berat yang mengakibatkan pelayanan medis lumpuh,” ungkapnya. “Rusaknya fasilitas dan banyaknya sumber daya kesehatan yang turut menjadi korban menyebabkan korban dilayani apa adanya,” tambahnya. Selain itu, menurutnya banyak korban akibat gempa, tsunami, dan likuifaksi tidak dapat ditangani di Rumah Sakit. Berdasarkan temuan tersebut, MER-C menetapkan prioritas kegiatan di tahap awal pasca bencana, yaitu mencari rumah sakit yang masih layak dan memfungsionalkannya untuk dapat memberikan pelayanan bagi para korban. Prioritas lainnya adalah pengadaan air minum dan bahan bakar untuk listrik rumah sakit serta mobilisasi tim. Survai ke beberapa rumah sakit yang ada di Palu pun dilakukan bekerjasama dengan Tim Disaster RSCM, seperti RS Undata, RS Anutapura, RS Budi Agung dan RS Sis Aljufri. Mempertimbangkan kondisi rumah sakit yang ada, tim memutuskan bahwa RS Sis Aljufri adalah rumah sakit yang kondisinya paling baik dan memungkinkan untuk dijadikan rumah sakit rujukan trauma. Bangunan RS pacsa gempa dahsyat masih kokoh dan hanya hanya sekitar 10% bangunan yang mengalami kerusakan dengan kondisi kamar operasi serta peralatan medis yang mencukupi. RS ini akan menjadi RS rujukan pasien-pasien kasus orthopaedi (bedah tulang) dan trauma. Pemilik dan pengelola RS SIS ALJUFRI, yaitu Yayasan Al Khaerat, menyambut baik rencana ini dan menyerahkan sepenuhnya RS SIS ALJUFRI untuk dikelola dalam situasi darurat oleh Tim MER-C. Menindaklanjuti rencana ini, MER-C segera menggelar rapat bersama antara Tim MER-C, Tim Disaster RSCM, dan SDM RS Sis Aljufri yang tersisa. Rapat dipimpin oleh Ketua Tim Advance MER-C, dr. Andi Fajar Wela yang kemudian ditunjuk menjadi Kordinator Umum RS Sis Aljufri. Hasil rapat bersama memutuskan bahwa nama operasi tim bersama ini adalah RS SIS ALJUFRI CRISIS CENTER dimana tim yang tergabung didalamnya adalah TIM MER-C, TIM RSCM, dan Relawan RS Sis Aljufri yang siap membantu. Target tim adalah sesegera mungkin RS dapat melayani dan menjadi rujukan trauma, mengadakan dapur umum untuk kebutuhan relawan dan pasien rumah sakit, melakukan evakuasi dan case finding melalui program mobile clinic ke wilayah-wilayah terdampak gempa yang belum terjangkau bantuan. Semoga ikhtiar ini dapat turut membantu mempercepat pemulihan dampak gempa dan tsunami Palu – Donggala. ———– Bantuan dan donasi bagi Korban Gempa Bumi dan tsunami di Palu – Donggala dapat disalurkan melalui: BCA, 686.0099339 BSM, 701.5658.899 BNI Syariah, 303.2000.922 Semua rekening atas nama : Medical Emergency Rescue Committee Info : Webiste : www.mer-c.org FB : MER-C Indonesia Call Center : 0811990176 IG : @mercindonesia #mercpedulipaludonggala
Tim MER-C Tembus Lokasi Bencana Palu

Tim Advance MER-C akhirnya berhasil menembus lokasi bencana gempa bumi di Palu, Minggu/30 September 2018. Tim yang terdiri dari 4 relawan (2 dokter dan 2 perawat) tiba di Palu pada pukul 7 pagi ini setelah menempuh perjalanan darat melalui Poso – Napu – Palu. Target tim adalah melakukan penilaian awal bencana (initial assessment of disaster) untuk menilai secara langsung kerusakan infrastruktur pasca bencana, dampak bencana ke makhluk hidup (manusia) dan identifikasi kebutuhan di lapangan. Ketua Tim Advance MER-C untuk bencana gempa bumi Palu – Donggala, dr. Andi Fajar Wela melaporkan selain membawa bantuan obat-obatan, di Poso tim menyempatkan membeli bantuan air mineral untuk dibagikan kepada warga karena sulitnya air minum di lokasi bencana. Diinformasikan juga bahwa mulai kabupaten Sigi memasuki kota Palu, kondisi listrik masih mati dan di sepanjang jalan terdapat beberapa posko pengungsian. Setiba di lokasi Tim MER-C langsung menuju kantor SAR Palu untuk berkoordinasi dan mendapatkan update informasi pasca bencana gempa bumi dan tsunami yang menerjang wilayah Palu, Donggala dan sekitarnya. Berdasarkan data yang didapat, hingga Minggu pagi ini/30 September 2018 pukul 08.23 waktu setempat, korban meninggal mencapai 396 orang, korban luka berat 184 orang, , korban hilang 29 orang dengan konsentrasi masyarakat yang mengungsi tersebar di beberapa titik. Seperti Lombok, serangkaian gempa susulan juga terjadi sebanyak +- 95 kali Sementara itu, setelah bertugas selama 2 bulan di Lombok, pagi ini MER-C juga mengirimkan salah satu armada operasional lapangan (kendaraan ford ranger double cabin) dan 3 relawan untuk bergerak ke Palu. Tim membawa bantuan obat-obatan dan perlengkapan untuk pendirian Posko Kesehatan Lapangan MER-C di lokasi bencana Palu – Donggala. Rute yang akan dilalui adalah Mataram – Surabaya – Makassar – Palu. Tim Medis lanjutan dan bantuan medis saat ini juga sedang disiapkan di MER-C Pusat Jakarta untuk diberangkatkan pada hari Senin besok. Kepedulian dan bantuan Bapak/Ibu/Sahabat bagi korban gempa bumi dan tsunami di Palu, Donggala & sekitarnya dapat disalurkan melalui: BCA, 686.0099339BSM, 701.5658.899BNI Syariah, 303.2000.922 Semua rekening atas nama :Medical Emergency Rescue Committee Info :www.mer-c.orgCall Center : 0811990176FB : MER-C IndonesiaIG : @mercindonesia #mercpedulipaludonggala
MER-C for PALU & DONGGALA

Lombok belum lagi pulih, ujian bencana menerpa belahan bumi Indonesia lainnya. Jum’at/28 September 2018, gempa bumi berkekuatan 7,7 SR disertai tsunami menerjang wilayah Palu, Donggala dan sekitarnya. Jumlah korban jiwa dan luka masih terus diverifikasi. MER-C melalui Cabangnya di Makassar hari ini (Sabtu/29 September 2018) telah bergerak ke lokasi bencana untuk melakukan Initial Assessment of Disaster. MER-C juga menyiapkan Tim Nasional untuk diberangkatkan sebagai tim medis lanjutan. Kepedulian dan bantuan Bapak/Ibu/Sahabat bagi korban gempa bumi dan tsunami di Palu, Donggala & sekitarnya dapat disalurkan melalui : BCA, 686.0099339BSM, 701.5658.899BNI Syariah, 303.2000.922 Semua rekening atas nama :Medical Emergency Rescue Committee Info :www.mer-c.orgFB : MER-C IndonesiaCall Center : 0811990176 #mercpedulipaludonggala#mercpedulilombok