MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Relawan MER-C, Faried Zanjabil Berbagi Cerita saat Saksikan Langsung Serangan Israel ke Jalur Gaza

  • Home
  • >
  • Feature
  • >
  • Opini
  • >
  • Relawan MER-C, Faried Zanjabil Berbagi Cerita saat Saksikan Langsung Serangan Israel ke Jalur Gaza

Relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Faried Zanjabil Al Ayubi hari Sabtu (30/3) membagikan ceritanya kepada peserta “Gemma Ramadhan bersama Shafwah Group”, saat menyakiskan langsung serangan Israel ke Jalur Gaza, Palestina.

Ia mengatakan, sejak serangan Israel 7 Oktober lalu sudah tidak ada lagi tempat aman di Jalur Gaza. Mulai dari Gaza utara, tengah, Kota Gaza semua sudah hancur. Kini hanya tersisa Gaza selatan, yang terkahir juga terus mendapat serangan dari Israel. Bahkan pemerintah pendudukan Israel terus menyerukan serangan darat ke wilayah tersebut.

Ia mengatakan, bersama dua relawan MER-C lainya Fikri Rofiul Haq dan Reza Aldilla Kurniawan mereka melihat langsung saat roket Israel menghantam mobil operasional MER-C yang sedang terparkir di Rumah Sakit Indonesia. Serangan itu juga mengakibatkan satu orang relawan lokal MER-C meninggal dunia.

“Tidak ada tempat aman di Gaza, karena bahkan rumah sakit yang tidak boleh diserang pun, mereka serang. Salah satunya Rumah Sakit Indonesia,” ujarnya.

Ia menceritakan, saat terjadi pengepungan tentara Israel ke Rumah Sakit Indonesia yang merupakan tumpuan terkahir warga Gaza, ia dan dua relawan lainya berada di sana bersama ratusan pasien, tim medis serta puluhan ribu pengungsi.

“Saat itu suasananya sangat kacau dan mencekam. Selama pengepungan, kami menyelamatkan diri ke basement Rumah Sakit. Puluhan ribu warga Gaza yang mengungsi di sana kemudian hanya tersisa ratusan saja karena keluar menyelamatkan diri,” kata Faried.

Tentara Israel yang selama empat hari bertahan di tank-tanknya menembaki lantai dua dan tiga Rumah Sakit dan mengakibatkan 12 pasien meninggal dunia. Mereka juga memaksa untuk segera mengosongkan rumah sakit.

“Mereka menggunakan alasan bahwa ada trowongan pejuang Palestina di bawah Rumah Sakit untuk bisa melakukan serangan, padahal tujuan sebenarnya adalah mengusir paksa warga Gaza. Mereka melakukan Genosida” ujarnya.

Akhirnya Faried bersama dua relawan lainya, para pasien, tim medis serta warga Gaza yang masih bertahan terpaksa keluar dan mengungsi ke Gaza selatan. Israel kemudian berhasil memasuki Rumah sakit dan menjadikanya markas selama 18 hari.

Lebih lanjut ia mengatakan, Israel tidak pandang bulu saat melakukan serangan. Justru mereka menargetkan perempuan dan anak-anak yang merupakan kunci dari regenerasi bangsa Palestina. Ada banyak cerita bagaimana biadabnya Israel saat menargetkan perempuan dan anak-anak, yang menjadi korban terbanyak dalam perang ini.

Namun setelah semua yang ia lewati dan beberapa perang yang dialami, Faried mengatakan tetap ingin kembali lagi ke Jalur Gaza. Menurutnya, sejak pertama kali tiba, Jalur Gaza sudah seperti kampung halaman, tidak terasa sebagai tempat asing.

Berita Terkait

Bagikan:

Silahkan bertanya?