Gugurnya 3 Personel TNI di Lebanon, MER-C dan TPM Soroti Pelanggaran HAM dan Serukan Perlindungan Misi Kemanusiaan

Para pahlawan yang gugur adalah: • Praka Farizal Rhomadhon (gugur 29 Maret 2026 akibat serangan artileri), • Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar (gugur 30 Maret 2026 saat memimpin misi pengawalan), • Sertu Muhammad Nur Ichwan (gugur 30 Maret 2026 dalam insiden ledakan kendaraan). Peristiwa ini merupakan tragedi kemanusiaan yang sangat memprihatinkan. Para prajurit TNI yang gugur tengah mengemban amanah mulia sebagai bagian dari misi internasional untuk menjaga perdamaian dunia. Gugurnya mereka menjadi bukti nyata bahwa situasi konflik di Lebanon semakin memburuk dan tidak lagi menghormati prinsip-prinsip dasar hukum humaniter internasional. PERNYATAAN TEGAS: INI ADALAH KEJAHATAN PERANG MER-C Indonesia dan TPM dengan tegas menyatakan bahwa serangan yang dilakukan terhadap personel penjaga perdamaian UNIFIL, termasuk gugurnya tiga prajurit TNI, merupakan KEJAHATAN PERANG (WAR CRIME) . Berdasarkan Pasal 8 ayat (2) huruf b angka (iii) Statuta Roma Mahkamah Pidana Internasional (ICC), serangan yang sengaja ditujukan terhadap personel, instalasi, material, unit, atau kendaraan yang terlibat dalam misi pemeliharaan perdamaian sesuai dengan Piagam PBB dikategorikan sebagai kejahatan perang. Selain itu, Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 (2006) dan Konvensi Jenewa IV juga secara tegas melindungi pasukan penjaga perdamaian dari segala bentuk serangan. Dengan demikian, tindakan militer Israel yang secara berulang menyasar personel UNIFIL tidak hanya merupakan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional, tetapi juga merupakan kejahatan yang dapat diadili di hadapan Mahkamah Pidana Internasional. MER-C Indonesia dan TPM mengecam keras segala bentuk serangan terhadap personel penjaga perdamaian serta fasilitas misi internasional. Tindakan tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia dan norma-norma internasional yang seharusnya dijunjung tinggi oleh semua pihak yang berkonflik. TUNTUTAN DAN SERUAN Kami menyerukan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam konflik, khususnya pihak Israel sebagai pemicu eskalasi kekerasan di wilayah tersebut, untuk segera menghentikan serangan dan menghormati keberadaan serta netralitas tim internasional yang bertugas menjalankan misi kemanusiaan. MER-C dan TPM menuntut: 1. Akuntabilitas penuh dari pemerintah Israel, termasuk investigasi independen, penindakan pelaku di lapangan sebagai pelaku kejahatan perang, dan kompensasi kepada keluarga korban serta Pemerintah Indonesia. 2. Pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Pertahanan dan Kementerian Luar Negeri, untuk mengambil langkah diplomatik tegas, membawa kasus ini ke Mahkamah Internasional (ICJ) dan Mahkamah Pidana Internasional (ICC), serta mengevaluasi protokol perlindungan personel TNI di zona konflik. 3. Dewan Keamanan PBB untuk mengutuk serangan terhadap UNIFIL, membentuk mekanisme investigasi independen, memperkuat mandat perlindungan bagi pasukan penjaga perdamaian, dan segera merujuk kasus ini ke ICC jika diperlukan. 4. Masyarakat internasional untuk tidak tinggal diam terhadap kejahatan perang yang terus berulang ini. Solidaritas global diperlukan untuk memastikan bahwa tidak ada impunitas bagi pelaku kejahatan terhadap pasukan penjaga perdamaian. Di sisi lain, kondisi di Lebanon saat ini telah memasuki fase krisis kemanusiaan yang semakin parah. Konflik berkepanjangan telah memperburuk situasi warga sipil yang membutuhkan perlindungan dan bantuan mendesak. Oleh karena itu, MER-C Indonesia menegaskan pentingnya solidaritas global untuk meningkatkan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak di Lebanon. Sebagai bentuk kepedulian dan tanggung jawab moral, MER-C Indonesia akan terus berkomitmen untuk memberikan perhatian serta dukungan terhadap upaya-upaya kemanusiaan di wilayah konflik, termasuk Lebanon. TPM juga menyatakan kesiapan untuk memberikan pendampingan hukum dan advokasi bagi keluarga korban serta mendukung upaya pemerintah dalam memperjuangkan hak-hak hukum korban di forum internasional. Bersama, kami mengajak seluruh elemen bangsa dan masyarakat internasional untuk bersatu mendukung perlindungan terhadap misi kemanusiaan dan menuntut keadilan bagi para pahlawan yang gugur, serta memastikan bahwa kejahatan perang ini tidak dibiarkan begitu saja tanpa pertanggungjawaban. Jakarta, 01 April 2026 1. DR. Dr. Hadiki Habib, Sp.PD., Sp.Em (Ketua Presidium MER-C Indonesia) 2. H. Achmad Michdan, S.H.(Wakil Ketua Pembina TPM/Tim Pengacara Muslim) Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/reel/DWlWrrBEzZZ/?igsh=aGowamo5ZmhqM2hw https://www.facebook.com/share/v/1BBhFewcZ1/?mibextid=wwXIfr https://x.com/mercindonesia/status/2039262137873572288?s=46 https://youtu.be/fXzxeoU1J44?si=bNqBJJpaU-qucx-7 https://vt.tiktok.com/ZSHMS1fpD/
Berpulangnya KH. Muhammad Adnan Arsal, Salah Satu Tokoh Perdamaian di Poso

Bagi MER-C, KH. Adnan Arsal memiliki tempat tersendiri. Ia merupakan sosok teladan dalam pengabdian kepada masyarakat, serta perjuangannya yang konsisten dalam menyerukan perdamaian di Poso. Hubungan MER-C dengan KH. Adnan Arsal telah terjalin cukup lama. Dalam berbagai kegiatan kemanusiaan MER-C di Poso, beliau kerap terlibat dan memberikan dukungan. Beliau juga banyak membantu serta memberikan arahan kepada relawan MER-C, sehingga program-program yang dijalankan dapat berlangsung dengan baik. Ada satu kenangan yang membekas bagi relawan MER-C. Setiap kali menjawab telepon, beliau langsung mengenali dan menyapa dengan hangat, “Apa kabar, Dokter?” Dan ketika ditanya apakah masih mengingat MER-C, beliau langsung menjawab, “Tentu saja ingat, karena MER-C selalu di hati.” Sosoknya kini mungkin telah tiada, namun jasa-jasanya dalam menghadirkan perdamaian dan kemanusiaan di Poso akan selalu dikenang. Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/p/DWgOmVxEy3h/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==
Pekan Keempat Respons Bencana Sumatra: MER-C Perluas Jangkauan Layanan Kesehatan

Aceh – Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) pada Rabu (17/12) kembali menyampaikan update terkait penanganan bencana banjir dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Memasuki pekan keempat, tim MER-C terus bergerak memberikan pelayanan kesehatan melalui pos kesehatan dan mobile clinic ke wilayah-wilayah yang masih terisolir. Berdasarkan hasil penilaian tim MER-C sejak awal bencana, terdapat sejumlah rekomendasi yang disampaikan kepada pemerintah guna mempercepat proses pemulihan. Salah satu kebutuhan paling mendesak adalah penyediaan air bersih. Hingga saat ini, akses air bersih masih didapatkan oleh masyarakat terdampak, padahal air bersih merupakan kebutuhan vital. Selain itu, MER-C juga menyoroti perlunya percepatan pembersihan lumpur serta material sisa banjir dan longsor. Banyak akses jalan yang masih tertutup, sehingga menghambat distribusi bantuan. Kondisi ini juga berdampak pada meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), karena lumpur yang mengering berubah menjadi debu. MER-C Incident Commander, dr. Zecky Eko Triwahyudi, Sp.O.T., menyampaikan MER-C akan melanjutkan misi kemanusiaan di Aceh dengan mengirimkan tim tambahan dari berbagai cabang MER-C di Indonesia. Pada pekan keempat ini, MER-C juga akan membuka dua pos utama di Aceh Tamiang dan Lhokseumawe. “Dengan dibukanya dua basecamp tersebut, diharapkan pelayanan kesehatan dapat menjangkau wilayah terdampak yang lebih luas,” ujar dr. Zecky. Ia menambahkan, MER-C berkomitmen untuk memberikan bantuan tanggap darurat dan pemulihan di Aceh hingga dua bulan pascabencana. Sementara itu, untuk wilayah Sumatra Utara dan Sumatra Barat, MER-C tetap bersiaga. Apabila kondisi memburuk, tim akan kembali diterjunkan. MER-C mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk terus memberikan dukungan kepada masyarakat Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, agar mereka mampu melewati masa sulit ini, serta mencegah terjadinya bencana kedua pascabanjir dan tanah longsor. Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/reel/DSbhQ4iE5_T/?igsh=MW05YnI1YnB1eHJjaA== https://www.facebook.com/share/v/17ky6MiaJY/?mibextid=wwXIfr https://x.com/mercindonesia/status/2001860125662023949?s=46 https://vt.tiktok.com/ZSPX1Nmkw/ https://youtu.be/yZdK9nkBVfY?si=QU6jmiY7_nUeo1EP ——————————————— Donation Account: Bank Central Asia (BCA), 686.0099339Bank Syariah Indonesia (BSI), 701.565.8899 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee #MariBersamapulihkanSumatra #mercindonesia #relawanmerc #tim_medis_merc #misi_kemanusiaan #bencana_banjir_longsor_Aceh_Sumatra
MER-C kerahkan relawan nasional dukung penanggulangan bencana Hidrometeorologi di Sumatra

Jakarta, 2 Desember 2025 – MER-C Indonesia menyampaikan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada seluruh korban bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat sejak akhir November. Sampai hari ini, kondisi di tiga provinsi tersebut masih belum pulih, masih banyak daerah yang terisolir karna akses jalan yang putus total. Berdasarkan data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), estimasi total warga terdampak di tiga provinsi tersebut mencapai 3,2 juta jiwa. MER-C Indonesia telah mengerahkan relawan nasional di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat dengan fokus kepada pelayanan medis, dan bantuan bahan pokok dan alat hygiene ke kantong-kantong pengungsi MER-C menghimbau Dukungan bersama kita sebagai bangsa agar tiap provinsi dapat bangkit dan mengantisipasi bencana hidrometeorologi susulan. MER-C Indonesia berkomitmen untuk terus membersamai masyarakat di wilayah terdampak melalui pelayanan medis, pendampingan, serta penyaluran bantuan kemanusiaan. Jakarta, 2 Desember 2025MER-C INDONESIA Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/p/DRyjnlEE6Xz/?igsh=cW1zOHFkMWhsdDdq https://www.facebook.com/share/p/17V6BC82at/?mibextid=wwXIfr https://x.com/mercindonesia/status/1996093330565075016?s=46 https://vt.tiktok.com/ZSftE5Cs9/ http://youtube.com/post/UgkxS8S_6RIr1NMRPoHKYhP4st454PbHQwYn?si=RkfoEnk1bTwqL56w
Ketua Presidium MER-C Hadiri FGD UGM, Bahas Peran Indonesia dalam Isu Palestina

Jakarta – Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia, DR. dr. Hadiki Habib, SpPD., SpEm, ikut berpartisipasi dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar oleh Institute of International Studies, Departemen Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Gadjah Mada (UGM), di Jakarta, Senin (6/10). FGD ini merupakan rangkaian dari kegiatan penelitian berjudul “Diplomasi Indonesia dalam Merespons Krisis Kemanusiaan di Palestina” yang dipimpin oleh Dr. Ririn Tri Nurhayati, dengan peneliti Muhadi Sugiono, MA. Dalam kesempatan itu, dr. Hadiki memperkenalkan serta menjelaskan kiprah MER-C dalam berbagai misi kemanusiaan, khususnya di Palestina. Ia menekankan pentingnya dukungan Indonesia dalam merespons krisis kemanusiaan yang terus berlangsung di Gaza. Penelitian tersebut berupaya menelaah sejauh mana diplomasi kemanusiaan Indonesia berkontribusi dalam penyelesaian krisis kemanusiaan di Palestina, sekaligus memberikan rekomendasi kebijakan untuk merumuskan strategi diplomasi yang lebih efektif dan berkelanjutan di masa depan. Selain MER-C dan tim peneliti UGM, hadir pula berbagai lembaga dan organisasi, di antaranya Muhammadiyah (LAZISMU), NU CARE-LAZISNU, BRIN, BAZNAS, Kementerian Luar Negeri, Hubungan Internasional Universitas Indonesia, serta perwakilan The Boycott, Divestment, Sanctions (BDS). Kehadiran berbagai pihak ini diharapkan dapat memperkaya diskusi dan menghasilkan gagasan konkret untuk memperkuat peran Indonesia dalam diplomasi kemanusiaan, khususnya mendukung perjuangan rakyat Palestina. Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/p/DPi1L6BE70y/?igsh=MTB3MjEzZ2czYzc2dg== https://www.facebook.com/share/p/1BEbm5ACKi/?mibextid=wwXIfr https://x.com/merc_indonesia/status/1975865495594397901?s=46 https://vt.tiktok.com/ZSU2KMhev/ http://youtube.com/post/UgkxJnd-uGIwuEbCNg3fLb_u9m52ptlq9glx?si=J81iR8y-QNnBSfQo ——————————————— Donation Account: Bank Central Asia (BCA), 686.0153678Bank Mandiri, 124.000.8111.925Bank Syariah Indonesia (BSI), 700.1352.061Bank Mega Syariah (BMS), 1000.209.400Bank Muamalat Indonesia (BMI), 358.000.1720Bank Rakyat Indonesia (BRI), 033.501.0007.60308 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee #mercindonesia #relawanmerc #relawangaza #JanganLupakanPalestina #BerdiriBersamaPalestina #StopGenocide #FreePalestina #bantuanpalestina #donasipalestina
Ucapan Selamat Dubes Palestina Dr. Zuhair Al Shun untuk Milad ke-26 MER-C Indonesia

Jakarta, Duta Besar Negara Palestina untuk Republik Indonesia, Dr. Zuhair Al Shun, dengan rasa hormat dan kasih sayang tulus, menyampaikan ucapan selamat yang terhangat atas peringatan 26 tahun Medical Emergency Rescue Committe (MER-C) Indonesia. Selama lebih dari dua dekade, MER-C telah menunjukkan dedikasi yang luar biasa dan menyalurkan bantuan kemanusiaan tidak hanya di Indonesia tetapi juga di berbagai belahan dunia, termasuk tanah suci kita tercinta, Palestina. Kami, rakyat Palestina, tidak akan pernah melupakan keberanian, pengorbanan, dan solidaritas yang ditunjukkan oleh para relawan MER-C, terutama dalam pembangunan Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Rumah sakit ini merupakan simbol nyata persaudaraan dan cinta antara rakyat Indonesia dan Palestina. Semoga MER-C terus berjaya, tetap kuat, dan selalu menjadi mercusuar harapan bagi mereka yang membutuhkan. Terima kasih atas semua yang telah dan akan terus Anda lakukan. Selamat ulang tahun ke-26 MER-C Indonesia. -Dr. Zuhair Al ShunDuta Besar Palestina untuk Republik Indonesia Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/p/DN5Yn1TE_jD/
Ketua EMT MER-C Soroti Tantangan Evakuasi Warga Gaza ke Pulau Galang

Jakarta – Ketua Emergency Medical Team (EMT) MER-C, dr. Arief Rachman, menyampaikan sejumlah pertimbangan terkait wacana pemerintah untuk mengevakuasi 2.000 warga Gaza ke Pulau Galang, Batam, sebagaimana diumumkan Presiden RI Prabowo Subianto dalam sidang kabinet di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (6/8). Menurut dr. Arief, ide ini patut diapresiasi, namun implementasinya sangat menantang. Ia mengatakan, pasien yang bisa dibawa ke Indonesia kemungkinan hanya pasien dengan kasus ringan karena pasien trauma harus distabilisasi dan diselamatkan nyawanya terlebih dahulu sebelum mendapat perawatan lanjutan. “Kalau membawa pasien dalam kondisi darurat justru akan membuang waktu, tenaga, dan sumber daya,” ujarnya dalam diskusi Merah Putih di Nusantara tv, Rabu (13/8). Ia menekankan, tantangan besar lainnya adalah perizinan. Evakuasi pasien dari Gaza bukan hanya berkoordinasi dengan otoritas Palestina, tetapi juga harus mendapat persetujuan Israel. “Saat ini banyak pasien yang sudah kami koordinasikan untuk dievakuasi dengan WHO ditolak Israel. Penolakan ini bukan hanya terhadap pasien tapi juga pendamping pesien untuk ikut. Karena pasien tidak mungkin keluar sendiri,” jelasnya. Selain jumlah pasien, pemerintah juga perlu menghitung jumlah pendamping yang akan dibawa. Dr. Arief kemudian mempertanyakan kesiapan fasilitas di Pulau Galang, khususnya untuk menangani kasus trauma atau rehabilitasi pascatrauma. “Kalau bicara stabilisasi trauma, prinsipnya makin dekat, makin cepat, makin baik,” tegasnya. Ia mengingatkan agar Pulau Galang tidak menjadi “penjara kedua” bagi warga Gaza. Menurutnya, evakuasi ideal adalah ke negara atau wilayah terdekat demi pertimbangan jarak, bahasa, dan budaya. “Kalau ke Pulau Galang, mereka bisa terisolasi dan mengalami culture shock,” tambahnya. Dr. Arief mengungkap, isu ini juga mengganggu kerja lapangan tim medis. “Riaknya bukan hanya di dalam negeri. Warga Gaza memantau dan mempertanyakan mengapa Indonesia justru mendukung rencana Israel untuk mengosongkan Gaza. Pemerintah harus mendengar aspirasi ini,” katanya. Ia menegaskan, tindakan yang paling mendesak saat ini adalah menghentikan genosida dan membuka blokade bantuan kemanusiaan. “Rencana evakuasi harus dilakukan dengan perencanaan yang tepat. Kami sebagai tim medis akan fokus pada bagaimana menangani korban, mengaktifkan kembali rumah sakit, dan memastikan pasien sembuh tanpa cacat,” tutup dr. Arief. Selengkapnya di link ini https://www.youtube.com/live/b9bWDPOtcm4?si=HwLgEzo-xucqnkx6 https://www.instagram.com/p/DNkJGJWzRsJ/?img_index=1
Pesan Tokoh untuk Milad ke-26 MER-C: Meneguhkan Semangat Kemanusiaan

Memasuki usia 26 tahun, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia kembali mendapat doa, harapan, dan dukungan dari berbagai tokoh bangsa. Semangat kemanusiaan yang telah menjadi jati diri MER-C terus digaungkan agar senantiasa memberi manfaat, baik di dalam negeri maupun di berbagai belahan dunia. Menteri Kesehatan RI periode 2004-2009, Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K) menyampaikan apresiasi mendalam atas kiprah MER-C. Ia berharap agar semangat pengabdian kemanusiaan yang telah ditunjukkan selama ini tidak pernah surut. “MER-C diharapkan untuk tetap istiqomah dalam segala kegiatan kemanusiaan sebagaimana yang telah dilakukan selama ini baik di Indonesia maupun di luar negeri,” pesannya. Doa dan Harapan dari Pemimpin Redaksi Republika Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyiddin, turut menyampaikan ucapan selamat ulang tahun ke-26 untuk MER-C. Dalam pesannya, ia menegaskan pentingnya semangat kemanusiaan yang senantiasa menyala di tubuh MER-C. “Selamat Milad ke-26 MER-C. Semoga semangat kemanusiaan ini menginspirasi dan menguatkan bangsa,” ungkapnya. Pesan Penasihat MER-C, Ahmad Michdan Sebagai salah satu penasihat MER-C, Ahmad Michdan berpesan agar para relawan tetap menjaga spirit perjuangan meski menghadapi berbagai tantangan di usia yang semakin matang. “Usia 26 tahun adalah usia yang penuh cobaan. Mudah-mudahan anggota MER-C akan terus melakukan kegiatannya, darma baktinya, ibadahnya, serta melanjutkan cita-cita MER-C,” ucapnya. https://www.instagram.com/p/DNhbic8z28b/ Rois DSKS, Ustaz Abdul Rochim Ba’asyir: Seiring Bertambahnya Usia MER-C, maka semoga semakin bertambah pula kebermanfaatannya untuk Ummat https://www.instagram.com/p/DNW63B0zFqY/ Pesan Ketua MUI Bidang Dakwah dan Ukhuwah, KH Cholil Nafis, untuk Milad MER-C ke-26 “Mudah-mudahan MER-C istiqomah di jalan kemanusiaan, semua upayanya menjadi amal baik dan diridhoi Allah Swt.” https://www.instagram.com/p/DNXM5EVTbvf/ Direktur Jenderal Kementerian Kesehatan Palestina dr. Munir Al-Bursh dan dr Yousif Salaf Alfarra selaku Direktur Klinik Al Aqsa B, menyampaikan doa dan harapan untuk Milad MER-C ke-26 “MER-C Indonesia, lembaga hebat yang menginisiasi berdirinya RS Indonesia di Gaza, Kami mendoakan semoga sukses, dan Kami berharap semoga MER-C melanjutkan perjuangan dan kontribusnya untuk Palestina. Rakyat Palestina mengucapkan selamat untuk MER-C pada hari peringatan Milad ke-26” https://www.instagram.com/p/DNe9oewzJl8/
Selamat Jalan dr. Marwan Al-Sultan, Sosokmu Abadi di Hati Kami

Gaza — Langit Gaza kembali berselimut duka ketika serangan udara brutal pasukan pendudukan Israel merenggut nyawa dr. Marwan Al-Sultan, Direktur Rumah Sakit Indonesia, bersama keluarganya pada Rabu (2/7). Kabar syahidnya beliau mengguncang relung hati, terutama mereka yang pernah bertugas bersama dr. Marwan di garda depan kemanusiaan. Di mata MER-C Indonesia, dr. Marwan bukan sekadar rekan kerja. Ia adalah saudara seperjuangan, pribadi hangat yang teguh, dan simbol semangat tak kenal lelah dalam melayani kemanusiaan di tengah kecamuk konflik. “Welcome to your embassy” Sebagai spesialis kardiologi intervensi, dr. Marwan adalah pemimpin aktif RS Indonesia di Gaza Utara. Relawan Emergency Medical Team (EMT) MER-C banyak berinteraksi dengan beliau. Dr. Hadiki Habib, Ketua Presidium MER-C, mengingat jelas kebiasaan khas dr. Marwan menyambut setiap pagi. “Setiap kali bertemu di pagi hari, ucapannya selalu sama: ‘Welcome doctor Habib, welcome to your embassy in Indonesia Hospital, this is YOUR home’,” kenang dr. Hadiki. Saat bertugas, EMT MER-C ke-7 dan ke-8 rutin melakukan morning meeting harian pada pukul 09.00 pagi. Meski di tengah cuaca yang dingin, dr. Marwan selalu datang satu jam lebih awal. “Kami sering berdebat, karena beliau keras kepala dan penuh prinsip. Tapi akhirnya selalu berakhir dengan kopi hangat dan saling traktir makanan,” ujar dr. Hadiki. Desember 2024, saat RS Indonesia dikepung penjajah, beliau terusir dari rumah sakit. Tapi ia tidak pernah meninggalkan Gaza Utara. Saat gencatan senjata, beliau kembali, memimpin reaktivasi RS Indonesia. Bahkan pada Mei 2025, ketika dr. Marwan kembali terusir, ia tetap memilih bertahan di utara, bukti cinta dan dedikasinya terhadap RS Indonesia. “Syukur, Kami Pernah Bertemu Dengannya” Rasa kehilangan juga dirasakan oleh dr. Tonggo Meaty Fransisca, anggota Presidium MER-C yang juga pernah bertugas di Jalur Gaza. ”Hanya mau ucap syukur sama Allah, Kami semua diberi kesempatan di perkenankan bertemu dengannya, dan dekat dengannya,”tutur dr. Mea. “Semoga energi kebaikan dan keberanian dr. Marwan tidak hanya dirasakan oleh kami yang pernah mengenalnya, tapi juga oleh seluruh relawan MER-C dan masyarakat Indonesia,” tambahnya. Sosok yang Abadi dalam Kenangan dan Perjuangan Kepergian dr. Marwan Al-Sultan meninggalkan duka mendalam di tengah tragedi kemanusiaan yang terus berkecamuk di Gaza. Namun, jejak pengabdian, senyum ramah, dan semangat perjuangannya akan terus hidup dalam hati para relawan, pasien, dan rakyat Gaza. Ia bukan hanya syahid dalam bom penjajah, tapi juga syahid dalam perjuangan kemanusiaan. Seorang dokter, pemimpin, sahabat, dan pejuang. Gaza kehilangan salah satu sosok terbaiknya. MER-C kehilangan saudara seperjuangan. Dan dunia kehilangan simbol keberanian dan keteguhan. Selamat jalan, dr. Marwan. Tempatmu kini adalah tempat terbaik di sisi-Nya. Sosokmu abadi di hati kami.
MER-C Indonesia Official Statement Condemnation of the Killing of Dr. Marwan Al Sultan Director of Indonesia Hospital, North Gaza, Palestine

On Wednesday, July 2, 2025, MER-C Indonesia received the devastating news of the death of our esteemed colleague, Dr. Marwan Al Sultan—a consultant in interventional cardiology and the Director of Indonesia Hospital in North Gaza. He, along with his wife and children, was killed in a direct aerial bombardment on their temporary residence in northern Gaza. Since the onset of the 2023 Gaza genocide, Dr. Al Sultan relentlessly led Indonesia Hospital under grave circumstances, providing essential medical services to the Palestinian people despite the constant threat of Israeli airstrikes and severe resource limitations. After the hospital blockade in December 2024, which forced him out of the facility, he remained in northern Gaza and returned to reactive operations during the January 2025 ceasefire. Known for his openness and cooperative spirit, Dr. Al Sultan worked closely with numerous international humanitarian teams serving in northern Gaza, including those from the UK, France, the Netherlands, Belgium, Spain, Canada, and Morocco. Under his leadership, Indonesia Hospital became a vital hub for healthcare—not a military target as falsely accused by Israeli narratives. Between January and March 2025, MER-C Indonesia’s EMT team collaborated directly with Dr. Al Sultan in reviving emergency services and restoring full hospital operations. He was known for his candor, spontaneity, and firm leadership—traits that shaped daily hospital management meetings, often filled with rigorous debates and always ending with camaraderie over coffee and shared meals. The killing of Dr. Marwan Al Sultan and his family is a flagrant violation of humanitarian principles and a grave act of injustice that must be held accountable. This is a day of mourning for all of humanity. We refuse to remain silent. Jakarta, July 2, 2025MER-C Indonesia More Info https://www.instagram.com/p/DLo9K32zjSx/?img_index=1