MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

MER-C Adakan Pelatihan Jurnalistik untuk Relawan

Jakarta – Medical Emergency Rescue Committee ( MER-C) Indonesia pada Sabtu (8/2) mengadakan pelatihan Jurnalistik dan Pengelolaan Media Sosial untuk relawan.  “Tujuan pelatihan ini diadakan untuk peningkatan keahlian teman-teman relawan dalam membuat penulisan dan dokumentasi kegiatan MER-C yang mereka ikuti,” ujar Presidium MER-C Indonesia dr. Tonggo Meaty saat menyampaikan sambutan pada Pelatihan tersebut, yang digelar di Kantor Pusat MER-C, Jakarta Pusat.  Selain itu, ketua divisi relawan MER-C dr. Guntur juga mengatakan, pelatihan ini sangat membantu para relawan yang akan terjun langsung ke lapangan dan perlu membuat laporan atau berita.  Pelatihan Jurnalistik dan Pengolahan Media Sosial ini diisi oleh Redaktur Republika M. Nasih, Jurnalis Senior Fitra Ratory dan sejumlah jurnalis senior lainnya. 

MER-C akan Kirimkan Air Bersih ke Beit Hanoun, Gaza Utara

Gaza – Medical Emergency Rescue Committee (MER-) akan mengirim bantuan air bersih ke wilayah Beit Hanoun, Gaza Utara, yang berbatasan langsung dengan Israel.  Rencana bantuan air bersih ini menyusul kunjungan dua relawan Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-7 dr. Eka Budhi, SpBS dan Liaison Officer EMT MER-C Marissa Noriti, S.Farm ke wilayah tersebut pada 3 Februari 2025. Keduanya melakukan penilaian kondisi pasca genosida di Beit Hanoun, Gaza Utara, yang masih relatif terisolir dan sangat luas kerusakannya. Bantuan logistik juga belum masuk secara konsisten.  “Insya Allah kita akan merencanakan program untuk warga Beit Hanoun ini, karena mereka untuk mendapatkan air saja bisa berjalan lebih dari satu kilometer untuk sampai ke titik truk air biasanya ada,” kata Marissa.  “Mudah-mudahan kita bisa bantu lebih banyak lagi untuk warga Gaza terutama di daerah Beit Hanoun yang situasinya cukup parah, sangat dekat ke perbatasan dan tidak banyak organisasi atau lembaga yang mengirim bantuanya sampai ke sini,” tambahnya.  Daerah Beit Hanoun sendiri hanya berjarak 10 menit perjalanan menggunakan mobil dari Wisma dr. Joserizal Jurnalis di kompleks Rumah Sakit Indonesia di Beit Lahia.  “Pelayanan medis di Beit Hanoun sangat kurang, yang terdekat ya di RS Indonesia. Kalau dilihat sekilas kebutuhan air sangat kurang sekali karena aksesnya memang agak sulit, jalanan agak sempit,” ujar dr. Eka Budhi.  Kedua relawan MER-C juga menunjukkan situasi di Beit Hanoun yang hancur total. Namun warga yang kembali dari pengungsian masih berusaha menyisir puing-puing bangunan untuk mencari barang-barang yang  bisa diselamatkan.

MER-C Buka Layanan Poliklinik di RS Al Awda, Gaza Utara

Gaza – Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-7 berkoordinasi dengan manajemen Rumah Sakit Al Awda, Gaza Utara, untuk membuka layanan Poliklinik di Rumah Sakit bedah saraf dan manajemen nyeri. Tim EMT MER-C bertugas di RS Al Awda sejak 2 Februari 2025, dua kali dalam sepekan pada hari  Minggu dan Rabu, pukul 09.00-14.00. Sedangkan lima hari lainnya Tim bertugas di RS Indonesia.  dr. Eka Budhi, SpBS mengatakan, tujuan membuka layanan poliklinik bedah saraf di RS Al Awda adalah untuk meningkatkan akses masyarakat ke layanan spesialis dan mengurangi kunjungan kasus non-emergency ke UGD.  “Terkait bedah saraf saya hanya melakukan kontrol saja saat ini. Sedangkan untuk operasi sudah kita assessment untuk RS Indonesia insyaallah sudah bisa buka satu kamar, tinggal menambahkan alat anestesinya. Untuk RS Al Awda insyaallah juga sudah bisa melakukan operasi bedah saraf,” kata dr. Eka. “Insyaallah bisa terus berlanjut, minta doanya dan support dari teman-teman,” tambahnya.  Selain membuka layanan poliklinik bedah saraf dan manajemen nyeri, Tim EMT MER-C juga menangani pasien emergency di Rumah Sakit tersebut.  Karena fasilitas kesehatan lain belum berfungsi optimal, RS Al Awda sering mengalami kondisi penuh sesak. Kunjungan pasien UGD per hari bisa mencapai lebih dari 400 orang.  

MER-C & MUHAMMADIYAH: Perkuat Sinergi Misi Kemanusiaan

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) pada Kamis (6/2) bertemu pengurus Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk membahas peluang kerja sama serta memaparkan sejumlah program kemanusiaan yang telah dilakukan oleh MER-C.  Kehadiran MER-C disambut oleh Ketua PP Muhammadiyah Dr. Agus Taufiqurrahman, Gunawan Hidayat dari Muhamamdiyah Aid, Direktur Utama LAZISMU Pusat Ibnu Tsani dan Shofia Khoerunisa serta dr. Slamet Budiarto dari Majelis Pembinaan Kesehatan Umum (MPKU).  Dalam kesempatan itu, Presidium MER-C dr. Zecky Eko Triwahyudi, Sp.OT.Subsp.Co(K), MARS, menyampaikan sejumlah program yang dikerjakan oleh MER-C. Pertama, terkait pengiriman Emergency Medical Team (EMT) ke Jalur Gaza yang saat ini sudah sampai tahap ketujuh.  “Alhamdulillah sejak Februari tahun lalu, Tim medis kita bisa masuk Gaza di bawah EMT, karena memang sebelum gencatan senjata hanya WHO yang bisa masuk,” ujar dr. Zecky.  MER-C sendiri berharap, pasca genjatan senjata akan banyak lembaga yang bisa masuk Gaza, termasuk Muhammadiyah yang juga memiliki Tim EMT karena saat ini masih sedikit relawan yang masuk dari Asia Tenggara dibandingkan dengan negara-negara Eropa. Ia juga menjelaskan kondisi RS Indonesia di Gaza Utara yang saat ini sudah dapat diakses oleh Tim EMT MER-C ke-7, di mana pelayanan UGD 24 jam sudah dibuka kembali meski masih mengalami kerusakan berat.  MER- juga terus berkomunikasi dengan Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza (MoH) terkait rencana pembangunan kembali RS Indonesia.  Selain itu, MER-C juga mengelola klinik spesialis di Gaza Selatan, di mana biaya operasional dan tenaga kesehatannya ditanggung oleh MER-C.  Kedua, MER-C juga menyampaikan terkait upaya pembangunan rumah sakit di Galela, Halmahera Utara, yang saat ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat setempat. Terkait ini MER-C mengajak Muhammadiyah untuk bisa bekerja sama mewujudkan keinginan masyarakat memiliki rumah sakit. Selain itu, dr. Zecky juga menyampaikan beberapa program MER-C di Afghanistan. Terbaru, MER-C telah membangun sumur bor di Provinsi Herat, untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga terdampak gempa bumi 7 Oktober 2023 lalu.  “Semoga kita bisa bersinergi dan melakukan komunikasi lebih lanjut terkait hal yang mungkin bisa kita kerjasamakan ini,” kata dr. Zecky.  Ketua PP Muhammadiya Dr. Agus Taufiqurrahman mengatakan, Muhammadiyah dan MER-C memiliki kesamaan dalam hal kepedulian terhadap umat. Untuk itu, ia berharap banyak hal yang nantinya dapat dikerjakan bersama.  Ia juga memberikan apresiasi atas kerja kemanusiaan yang telah dilakukan oleh MER-C, di mana relawannya memiliki keberanian untuk hadir di tempat-tempat atau wilayah konflik yang biasanya justru dihindari.  Dalam kesempatan itu, LAZISMU dan Muhammadiyah Aid juga menyatakan siap untuk bersinergi dengan MER-C.

EMT MER-C ke-7 Dukung Pelayanan di UGD RS Al Awda, Gaza Utara

Setelah berkoordinasi dengan Direktur RS Al Awda, Mohammed Salha, 2 Februari 2025, EMT MER-C ke-7 turut membantu pelayanan di UGD RS Al Awda.  Tiga dokter spesialis dan satu perawat dari MER-C melakukan rotasi pelayanan di UGD RS Indonesia dan RS Al Awda.  “UGD RS Al Awda sering mengalami kondisi penuh sesak,karena fasilitas kesehatan lain belum berfungsi optimal, kunjungan pasien UGD per hari mencapai lebih dari 400 orang, dan tenaga medis yang ada terbatas,” ujar dr. Ni Nyoman Indira, SpPD, relawan EMT MER-C ke-7.  “Dokter dan perawat lokal masih berkomitmen melakukan pelayanan meskipun dengan keterbatasan fasilitas,” lanjut dr. Indira. “Beban kerja yang berat serta kondisi keluarga masing-masing nakes yang mengungsi menambah risiko burnout,” tambahnya. “Tim kita terdiri dari satu dokter spesialis penyakit dalam dan spesialis emergensi, satu dokter spesialis penyakit dalam, satu dokter spesialis bedah syaraf, dan satu perawat mendukung pelayanan UGD di RS Al Awda 2 kali seminggu, bersama dengan pelayanan rawat jalan untuk bedah syaraf” papar ketua EMT MER-C ke-7 yang juga Ketua Presidium MER-C, DR. dr. Hadiki Habib, Sp.PD., Sp.Em. Donation Account: Bank Central Asia (BCA), 686.0153678Bank Mandiri, 124.000.8111.925Bank Syariah Indonesia (BSI), 700.1352.061Bank Mega Syariah (BMS), 1000.209.400Bank Muamalat Indonesia (BMI), 358.000.1720Bank Rakyat Indonesia (BRI), 033.501.0007.60308 Account Name : Medical Emergency Rescue Committee    

Kondisi Terkini Gaza dan RS Indonesia Pasca Kesepakatan Gencatan Senjata

PRESS RELEASE  Jakarta, Rabu, 5 Januari 2025 – Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mengadakan konferensi pers untuk memberikan informasi terbaru mengenai situasi di Jalur Gaza dan kondisi Rumah Sakit Indonesia pasca gencatan senjata yang baru-baru ini disepakati, di Kantor Pusat MER-C, Jakarta Pusat. Konferensi pers ini dihadiri oleh Presidium MER-C DR. dr. Yogi Prabowo, Sp.OT, SubSp.Onk.Orth.R (K)., Sp.Em dan dr. Tonggo Meaty Fransisca, Ketua Emergency Medical Team (EMT) MER-C dr. Arief Rachman, SpRad serta Ketua Presidium MER-C Dr. dr. Hadiki Habib, Sp.PD., Sp.Em yang memberikan laporan langsung dari Jalur Gaza.   Situasi Terkini di Gaza Utara Dr. Hadiki bersama empat relawan MER-C lainya tiba di Jalur Gaza pada Selasa, 28 Januari 2025 dan berhasil masuk ke Gaza Utara, wilayah yang selama ini sulit dijangkau, bersama konvoi WHO pada Kamis, 30 Januari 2025.   Dr. Hadiki mengatakan saat ini sudah banyak warga Gaza yang sebelumnya berada di pengungsian mulai dari Rafah, Gaza Selatan dan Gaza City, kembali ke rumah mereka. Masyarakat yang kembali ini tidak lagi berkumpul di satu kamp pengungsian, sebagian besar tersebar di bekas-bekas rumah mereka, sebagian membangun shelter sederhana untuk tinggal. Ia mengatakan, sudah ada tanki-tanki air serta truk-truk bantuan yang membawa tenda sementara masuk ke Gaza Utara.  Seiring adanya kesepakatan gencata senjata, Tim MER-C langsung melakukan penilaian cepat, khususnya di bidang kesehatan dengan mengunjungi tiga Rumah Sakit di Gaza Utara, termasuk RS Indonesia. Dari hasil penilaian di sejumlah rumah sakit, kasus yang banyak dijumpai saat ini adalah kasus-kasus infekasi luka pasca perang, juga luka-luka baru yang timbul karena masyarakat mulai bekerja di puing-puing, tertusuk, tergores serta blast injury karena mereka terkena bom yang belum meledak, asma juga chicken pox tengah menyebar. Tim EMT MER-C ke-7 sendiri saat ini membagi tugas, lima hari di IGD RS Indonesia dan dua hari di RS Al-Awda, rumah sakit yang masih berfungsi dan sistemnya masih berjalan.   Kondisi Rumah Sakit Indonesia Dr. Hadiki mengatakan, saat ini layanan Unit Gawat Darurat (UGD) 24 jam Rumah Sakit Indonesia telah dibuka kembali atas permintaan Kementerian Kesehatan Palestina (MoH) khususnya untuk trauma minor. Hal ini mengingat semakin banyaknya warga yang kembali ke Gaza Utara pasca-gencatan senjata, dimana kebutuhan akan fasilitas kesehatan yang dapat beroperasi menjadi sangat mendesak.  Dr. Yogi Prabowo dalam kesempatan itu mengatakan, MER-C sendiri tengah melakukan persiapan pembangunan kembali RS Indonesia dan penambahan fasilitas baik gedung dan peralatan. Selain itu MER-C juga telah mengirimkan tim ke Yordania untuk melakukan assessment untuk melakukan penjajakan terkait alur keluar masuk barang serta pembelian semua yang diperlukan dalam proses rehabilitasi tersebut.   Harapan ke Depan MER-C meminta pemerintah Indonesia untuk bisa mendukung masuknya relawan ke Jalur Gaza, agar dapat bekerja dengan aman. Selain itu ke depannya MER-C tidak hanya akan mendatangkan tenaga kesehatan tapi juga tenaga-tenaga ahli di bidangnya dan akan membuka kerja sama dengan siapa saja. MER-C juga terus berkomitmen untuk menjadi jembatan rakyat Indonesia dengan masyarakat yang ada di Gaza terutama dalam bidang kesehatan.

Relawan MER-C : Musim semi datang lebih dini di hati masyarakat gaza utara

Puncak musim dingin di Gaza, Akhir Januari 2025, Berbondong warga palestina keluar dari kantong-kantong pengungsian di selatan menuju utara, pasca gencatan senjata tahap 1 dan tentara penjajah keluar dari check point Netzarim, sebuah area yang dibuat oleh penjajah untuk membagi gaza menjadi wilayah utara dan selatan. Masyarakat Gaza Utara pulang kampung, setelah mengungsi berpindah-pindah selama 15 bulan akibat genosida, hanya untuk melanjutkan pengungsiannya di puing-puing rumah keluarga yang di bom rata. Alaa, mahasiswa kedokteran di Gaza, yang berdomisili di Gaza Utara, menceritakan bagaimana keluarganya sangat bersemangat kembali ke kampungnya di utara. “Keluargaku bergegas kembali ke utara begitu mengetahui penjagaan sudah dilonggarkan, mereka menggunakan kenderaan apa saja, meskipun semua tahu saat ini di Utara makanan dan air sangat terbatas” Warga gaza yang kembali ke Utara, saling bertemu, berpelukan, menanyakan keberadaan saudara, keponakan atau tetangga, ada yang wafat, ada yang masih mengungsi, ada yang tidak jelas nasib nya.  Muhammed, seorang guru yang harus kehilangan pekerjaannya akibat genosida, menceritakan warga gaza sering bercanda dengan cara membandingkan foto mereka sebelum perang dan pasca perang, “ada yang kehilangan berat badan 10 kilogram, bahkan sampai 30 kilogram”  ujarnya “kita sampai tidak kenal karena perubahan penampilan ini” lanjut Muhammed dengan bahasa inggris terbata sambil tertawa menunjukkan foto dirinya sebelum perang yang tampak jauh lebih berisi.Iya juga menyampaikan kebutuhan pokok sudah mulai tersedia di pasar dengan jumlah terbatas, “sebelum perang, 1 kg ayam seharga 13 shekel, saat ini harganya mencapai 25 shekel” tutup Muhammed Dr. Mahmud, warga Gaza Utara yang menjadi relawan di RS Indonesia, baru saja mendapatkan gelar dokter dan harus mengungsi dari utara, mengatakan, “Selama mengungsi, ada masa dimana kami harus bersaing berebut rumput liar dengan keledai, rumput-rumput ini direbus untuk kemudian dimakan, karena tidak tersedia bahan makanan apapun” lanjutnya, dia merupakan salah satu dari sekian banyak warga Gaza Utara yang pulang dengan berjalan kaki dari Selatan. Dr. Marwan, warga Gaza Utara dan direktur RS. Indonesia menyampaikan “Kami akan mensyukuri hari demi hari selama masa 42 hari ini (gencatan senjata fase 1), karena tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi setelah fase 1 selesai”  Di jalan-jalan berpasir Gaza Utara, warga hilir mudik, mencari sisa-sisa barang diantara puing-puing, truk-truk logistik mulai masuk, ada yang membawa pasokan air, tenda, dan makanan, warung kaki lima bermunculan, bahkan sudah ada yang menjual makanan. Sekarang puncak musim dingin, namun musim semi tiba lebih awal di hati masyarakat Gaza.

MER-C Cabang Medan Gelar Sunatan Massal

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Cabang Medan bersama Yayasan Batak Islam Nauli (BIN), HMI Komisariat Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) pada 26 Januari 2025 menggelar sunatan massal.  Sunatan massal digelar di Masjid Al-Ikhlas Desa Sukandebi, Kecamatan Tigaligga, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, yang merupakan daerah Minoritas Muslim dan Terpencil.  Tim medis dan relawan berangkat menggunakan 3 mobil dengan personil sebanyak 17 orang, terdiri dari lima orang dokter, lima orang mahasiswa kedokteran, tiga orang keperawatan, dua orang mahasiswa keperawatan dan dua tenaga administrasi.  Total peserta sunatan massal sebanyak 64 orang, 59 orang anak-anak dan 5 orang dewasa.  MER-C Cabang Medan menyampaikan terima kasih kami kepada para donatur dan pihak-pihak yg berpartisipasi demi suksesnya acara sunatan massal ini.     

MER-C Bersama Wakaf Salman Bagikan Bantuan Makanan untuk Warga Gaza

Medical Emergency Rescue Committte (MER-C) bersama Masjid Salman ITB pada Minggu (2/2/2025) membagikan bantuan 2000 porsi makanan siap saji untuk warga Gaza di Abu Zaitun Shelter, Jabalia Camp, Gaza Utara.  Ini merupakan bantuan tahap ketiga MER-C bersama Wakaf Salman. Sebelumnya pada 14-15 Januari 2025, relawan MER-C di Jalur Gaza bersama relawan lokal juga telah membagikan bantuan makanan siap saji di Gaza City.  Salah satu relawan Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-7 Puren Prasetiyadi, Amd.Kep mengatakan, ada lebih dari 1000 orang di Kamp tersebut yang mengungsi akibat genosida penjajah Israel. Ia mengatakan, warga Gaza di kamp pengungsian hidup ditengah kekurangan tanpa air dan listrik. Puren juga menuturkan, selama hampir satu tahun mereka tidak pernah mengkonsumsi nasi, untuk itu pada bantuan tahap tiga ini dipilih menu Makluba, hidangan khas Palestina semacam nasi yang dicampur dengan potongan kentang dan daging ayam.  Bantuan ini disambut gembira oleh warga Gaza yang ada di kamp pengungsian.  “Semoga ini bermanfaat untuk warga Gaza dan bantuan bisa lebih berkelanjutan lagi sehingga masyarakat Gaza merasa senang,” ujar Puren.     

Keluarga dokter Hussam Abu Safiyah : Kami terus berdoa atas pembebasan ayah, Insya Allah

Jumat sore, 31 Januari 2025, tim MER-C berkunjung ke area Syekh Radwan, Jabaliya, Gaza Utara, tempat tinggal sementara Istri dan Anak-anak dr. Hussam Abu Safiyah, direktur RS Kamal Adwan yang saat ini ditawan. Dalam kunjungan ini, keluarga dr. Hussam menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian dan dukungan masyarakat Indonesia atas penangkapan dr. Hussam oleh tentara penjajah, keluarga terus menjaga semangat dan optimisme bahwa dr. Hussam akan dibebaskan, meskipun sampai saat ini tidak pernah bisa berkomunikasi langsung. Tim EMT MER-C menjelaskan  bahwa dr. Hussam telah menjadi role model banyak dokter tentang bagaimana memperjuangkan kehidupan pasien-pasiennya, relawan MER-C masih terus melanjutkan kampanye agar dr. Hussam dibebaskan dan terhindar dari kejahatan kemanusiaan selama proses penahanan ilegal tersebut.

Silahkan bertanya?