MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Tim EMT MER-C ke-5 Tiba di Tanah Air Usai Dua Bulan Bertugas di Gaza

Tim Medis yang tergabung dalam Emergency Medical Team (EMT) MER-C ke-5 telah tiba di tanah air usai menjalankan tugas selama dua bulan di Rumah Sakit Indonesia, Gaza Utara. Tim EMT MER-C ke- 5 ini terdiri dari satu dokter spesialis bedah saraf, satu dokter spesialis bedah plastik dan rekonstruksi, satu dokter spesialis anastesi serta satu dokter spesialis penyakit dalam. “Kita bertugas selama kurang lebih dua bulan di sana, dan kepulangan ini perasaanya campur aduk ada senang ketemu saudara, temen, anak, istri tapi ada sedih juga karena meninggalkan saudara-saudara kita yang sampai saat ini masih saja menerima cobaan di Gaza,” kata dr. Dany K Ramdhan, SpBS, saat baru tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Sabtu (05/10/2024). “Berat meninggalkan Gaza tapi di sisi lain ada tugas yang tidak bisa ditinggalkan di sini. Kalau bisa lebih lama, ya sebenarnya ingin tapi tidak bisa,” tuturnya. Ia menegaskan bahwa perjuangan masih panjang dan bantuan yang diberikan sekecil apapun itu sangat berarti bagi warga Gaza. Untuk itu, Dany menyerukan agar bantuan terus berkelanjutan. “Kalau cuma sekali kemudian tidak ada kelanjutan lagi terus terang kurang optimal. Untuk itu bantuan ini harus diteruskan, yaitu bantuan tim dan alat-alat medis, dokter-dokter spesialis yang jarang di sana tapi kasusnya banyak, mereka juga sebenarnya meminta untuk dikirimkan. Mudah-mudahan kita bisa memenuhinya,” ujarnya. Dany menegaskan, jika ada kesempatan dia ingin kembali lagi, kalau bisa sambil membawa serta keluarganya. Selain Tim EMT MER-C ke-5, kepulangan kali ini juga ditambah satu dokter gigi, drg. Elisabeth L. Sarri yang bergabung dengan Tim EMT MER-C ke-4. Ia bertugas lebih lama, yaitu sekitar 14 pekan dan sempat tertahan untuk bisa masuk ke Jalur Gaza, akibat invasi darat Israel ke Rafah pada awal Mei lalu. “Saya ditugaskan di Tim EMT MER-C ke-4 beberapa bulan lalu, tapi baru kembali bersamaan dengan Tim 5 keluar, karena setelah bisa masuk ke Gaza ternyata saya ingin berbuat lebih banyak. Untuk itu saya memutuskan bertugas lebih lama,” ujarnya. Sama seperti dr. Dany, ia merasa senang bisa kembali ke Indonesia tapi juga berat dan sedih harus meninggalkan Gaza. Elisabeth mengucapkan terima kasih kepada MER-C yang telah memberinya kesempatan untuk berangkat ke Gaza, serta kepada masyarakat yang telah memberikan dukungan dan doa. “Terima kasih atas kesempatannya, tidak pernah menyangka karena dulu memang ingin kalau lagi ada yang berangkat misi, apalagi kalau ke Gaza. Alhamdulillah MER-C kasih saya kesempatan, membaktikan ilmu yang saya punya buat rakyat Gaza,” kata Elisabeth. Setelah kepulangan Tim ke-5 ini, MER-C akan melanjutkan misinya dengan mempersiapkan keberangkatan Tim ke-6 untuk bertugas di Jalur Gaza.

Tim EMT ke-5 MER-C telah Selesaikan Tugas di Jalur Gaza

Emergency Medical Team (EMT) ke-5 Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang selama dua bulan membantu penanganan korban di Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara, telah menyelesaikan tugasnya. TIM EMT 5 yang terdiri dari satu dokter spesialis bedah saraf, satu dokter spesialis bedah plastik dan rekonstruksi, satu dokter spesialis anastesi serta satu dokter spesialis penyakit dalam, pada hari Sabtu (28/9) berpamitan dengan Direktur RS Indonesia dr. Marwan Al-Sultan dan staf lainya. “Ada banyak kasus yang kami tangani di sini, dari pagi sampai tengah malam, juga banyak kenangan yang kami lewati selama dua bulan. Semoga jika punya kesempatan, kami akan ke sini lagi insya allah,” kata Ketua TIM EMT 5 dr. Dany K Ramdhan, SpBS. “Kami mohon maaf jika kami memiliki kesalahan. Kami mencintai kalian semua, semoga kita bertemu lagi dilain waktu,” tambahnya. Direktur RS Indonesia dr. Marwan Al-Sultan dalam kesempatan itu juga mengucapkan terima kasih atas dukungan dan kerja yang dilakukan oleh TIM EMT 5. “Terima kasih banyak atas bantuan dan kerja kalian, apa yang kalian lakukan ini sangat luar biasa. kalian telah melakukan banyak hal untuk kami dan menjadi bagian dari kami, karena tim kalian adalah yang terlama bertugas di sini,” kata dr. Marwan. “Tidak ada kalimat yang bisa menggambarkan kerja kalian saat ini. Perasaan saya campur aduk. Waktu berlalu sangat cepat seperti baru kemarin kami menyambut kalian dan sekarang kita harus berpisah,” tuturnya. Ia menyampaikan, RS Indonesia masih memerlukan dukungan yang berkelanjutan dari MER-C untuk mengirimkan tim medis. Setelah berpamitan, keempat relawan kemudian bertolak ke Gaza City menuju Deir Al Balah dan bergabung dengan konvoi WHO menuju Yordania untuk kemudan kembali ke Indonesia. Saat ini, MER-C sedang mempersiapkan keberangkatan TIM EMT ke-6 untuk melanjutkan tugas di Jalur Gaza.

MER-C Mulai Renovasi Wisma dr. Jose Rizal Jurnalis di Jalur Gaza

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mulai melakukan renovasi Wisma Indonesia dr. Joserizal Jurnalis di Jalur Gaza, yang ikut terdampak saat penjajah menyerang Rumah Sakit Indonesia. Tim Engineer MER-C yang sebelumnya bertugas di selatan pada awal September bergerak menuju utara dan berhasil masuk kembali ke RS Indonesia setelah sempat tertahan selama satu hari. Tim kemudian melakukan pengecekan kerusakan secara detail dari yang besar hingga kecil, baik di dalam maupun di luar bangunan untuk menentukan rencana perbaikannya. Renovasi dilakukan Tim Engineer MER-C di Gaza setelah penyusunan rencana anggaran dan rencana kerja kemudian berkoordinasi dengan MER-C Pusat di Jakarta. Segera setelah menerima konfirmasi persetujun, Tim bergerak mencari lokasi-lokasi yang masih tersedia bahan bagunan dan material.  Relawan MER-C di Jalur Gaza Edy Wahyudi mengatakan, kondisi perang yang belum juga berhenti dan langkanya bahan yang dicari mengakibatkan harga naik hingga 10 kali lipat dari harga normal. Tapi itu adalah sebuah pilihan pahit yag harus diputuskan untuk tetap dibeli. Ia mengatkan, saat ini banyak penduduk Gaza Utara yang evakuasi ke selatan dan banyak pula yang syahid sementara untuk mendatangkan relawan pembangunan dari Indonesia masih belum memungkinkan. Maka MER-C mencari tenaga kerja yang tersisa di sekitar RS Indonesia dengan tetap melalui seleksi dalam prinsip keahlian yang dimiliki.  “Kini Wisma dr. Joserizal Jurnalis sudah siap menerima kembali para relawan MER-C baik medis maupun non-medis untuk beraktivitas dan beristirihat di dalamnya. Kebersihan insyaa Allah sudah terkondisikan mulai dari lantai satu hingga atap berkat para relawan yang saat ini bertugas di Wisma bekerja keras mencuci seluruh peralatan tidur siang dan malam,” kata Edy. “Kenyamanan beraktivitas juga sudah dilengkapi penerangan dan internet yang aktif insyaa Allah 24 jam bila tidak ada gannguan,” tambahnya. Wisma dr. Joserizal Jurnalis menjadi saksi saat RS Indonesia diserang dan sempat diduduki tantara penjajah Israel sebanyak dua kali, hingga meninggalkan banyak kerusakan di Wisma tersebut.  Edy mengungkap, di luar bangunan Wisma banyak tumpukan reruntuhan dari bangunan lain, bangkai-bangkai kendaraan yang hacur saat perang terjadi, area depan dan samping termasuk pagarnya semua hancur.  “Dinding depan Wisma juga dirobohkan mungkin untuk jalan masuk tantara ke dalam Wisma. Hampir seluruh jendela kaca pecah bahkan bingkainya terlepas. Sementara atap Wisma yang sudah kami cek, ada sekitar 120 buah genteng yang perlu diganti,” ujarnya. Lebih lanjut ia mengatakan, instalasi plambing atau jalur air sebagian rusak termasuk torent air di atap wisma bolong-bolong terkena serpihan bom. Instalasi listrik pun ikut berantakan akibat plafon yang hampir seluruhnya ambruk akibat getaran-getaran bom yang dijatuhkan pesawat dan artileri tank Israel di sekitar RS Indonesia.  Untuk kerapihan dokumen pembangunan dan pengadaan peralatan, Edy mengungkap masih memerlukan waktu cukup panjang untuk menyeleksi dan menata kembali.  “Bisa terbayang dokumen mulai dari tahun 2011 hingga saat ini tahun 2024,” tuturnya.  Edy juga mengunggkap hal menarik saat proses renovasi berlangsung, di mana ia menemukan Al Quran di tiang tempat membaca dalam kondisi masih terbuka dengan baik padahal di sekelilingnya hancur berantakan diacak-acak. Berbagai peralatan elektronik, peralatan kantor bahkan peralatan dapur dilempar keluar dan berserakkan di luar Wisma.

MER-C Beri Bantuan untuk Pengungsi Rohingya Terdampak Banjir di Aceh Timur

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) pada Selasa (24/9), memberikan bantuan untuk Pengungsi Rohingya terdampak banjir di Aceh Timur. Total bantuan yang diberikan adalah 51 paket, 26 paket untuk orang dewasa berisi sarung/mukenah, sandal jepit, handuk dan goody bag. 25 paket untuk balita dan anak-anak berisi sabun mandi, pasta gigi, bedak salicyl/caladine botol, kue kering, susu cair, handuk serta goody bag. Bantuan ini diserahkan oleh Presidium MER-C dr. Tonggo Meaty Fransisca kepada Penanggung Jawab Kamp Pengungsi di Aceh Timur. Sebelumnya, MER-C juga memberikan bantuan MER-C berupa iqra dan Al Quran, tikar besar untuk mushalla dan solar cell portable untuk penerangan tenda pengungsi Rohingya di Aceh Timur. MER-C melalui perwakilanya di Aceh, yang dikoordinir oleh Ira Hadiati terus memberikan perhatian kepada pengungsi Rohingya yang tersebar di sejumlah wilayah di Aceh. Para pengungsi ini memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Untuk itu, MER-C berusaha untuk memberikan bantuan sesuai kebutuhan di lapangan. Pada bulan Agustus, MER-C menyalurkan bantuan sembako berupa beras sebanyak 34 karung dengan berat 15 kg per karung dan minyak goreng sebanyak 50 kg, untuk Pengungsi Rohingya di Lhoksumawe. Kemudian MER-C juga membangun sumur dan fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) darurat untuk pengungsi Rohingya di Gampong Kulee, Kabupaten Pidie, Aceh.  Selain itu, MER-C juga menggelar pelayanan kesehatan yang juga sangat dibutuhkan, mengingat kondisi mereka hidup di tengah pengungsian yang kurang memadai.  

Relawan MER-C Jadi Pembicara di MICOHEDMED 2024

Relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Cabang Medan dr. Ahmad Handayani Sp.JP menjadi pembicara dalam Malikussaleh International Conference on Helath and Disaster Medicane (MICHOHEDMED) 2024, yang digelar pada 17-19 September 2024. Konferensi MICOHEDMED merupakan kegiatan dua tahunan yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh, Aceh. Tema besar konferensi tahun ini adalah “Improving Preparedness and Response in Emergency Care”. Konferensi yang digelar secara daring ini menghadirkan pembicara dari berbagai negara yaitu Prof. Yi-Hsuan Lee dari Taiwan, Prof. Mehmet Sever dari Turkiye, Nelson Tsuno, Ph.D, dari Jepang, Dr. Wittawat Wattanasiriporn dari Thailand, dr. Radi Muharris Mulyana, Sp. OT (K), Sp.EM, dr. Adirizka, Sp.B (K) Onk, serta dr. Ahmad Handayani, Sp.JP dari Indonesia. Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh mengundang MER-C sebagai pembicara karena  menilai sebagai sebuah lembaga kemanusiaan internasional, MER-C memiliki pengalaman dan kontribusi signifikan dalam penanganan kegawatdaruratan medis di daerah konflik maupun daerah terdampak bencana. Dr. Yani dalam kesempatan itu menyampaikan materi mengenai “Peran Lembaga Kemanusiaan dalam Penanganan Kegawatdaruratan Medis di Daerah Konflik atau Terdampak Bencana.” Ketua MER-C Cabang Medan Periode 2012-2018 itu mengatakan bahwa pada beberapa kondisi dapat terjadi korban, MER-C mengenali ini sebagai kelompok orang-orang yang the most neglected and vulnerable people di mana kondisi ini termasuk diantaranya adalah korban bencana alam, korban perang atau konflik, korban kebijakan pembangunan yang berdampak pada kesehatan pada orang-orang lemah, dan penduduk dunia tanpa kewarganegaraan.  Menurutnya, organisasi kemanusian memiliki peranan penting untuk menolong kelompok ini. Dan ciri khas MER-C dalam menjalankan misinya yaitu sifat amanah, profesional, netral, mandiri, sukarela, dan mobilitas tinggi.

MER-C dan Kitabisa Lakukan Kerja Sama Pengadaan Kendaraan untuk RS Indonesia

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dan Kitabisa melakukan kerja sama pengadaan kendaraan untuk Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara dan resmi diserahkan pada 10 September 2024. RS Indonesia sendiri telah beroperasi kembali sejak 1 Juni, setelah diserang penjajah pada November 2023 dan sempat diduduki tentara penjajah selama dua pekan. Meski pengoperasian masih secara terbatas, RS Indonesia terus berupaya memberikan pelayanan terbaik.  “Diantara pelayanan yang diperlukan adalah untuk menjemput dan mengantar pulang sebagian besar tenaga medis dan non-medis ke RS Indonesia sehingga diperlukan pengadaan sebuah bis sebagai sarana transportasi. MER-C bersama Kitabisa berinisiasi untuk memberikan bantuan sebuah bis dengan kapasitas 20 tempat duduk,” kata Relawan MER-C di Jalur Gaza, Edy Wahyudi, Kamis (19/9). Edy mengatakan, kondisi RS Indonesia yang sempat diduduki dan beberapa kali diserang pasukan penjajah saat ini masih menyisakan bangkai-bangkai kendaraan yang terbakar, hancur dan rusak. Relawan MER-C yang bertugas di Jalur Gaza juga banyak mengalami kendala dalam situasi perang yang masih terus berlangsung. Mulai dari terbatasnya lokasi yang dapat dikunjungi, harga yang jauh lebih mahal dari situasi normal hingga suku cadang kendaraan yang langka. Hal ini juga mempersulit pencarian bis untuk RS Indonesia. Namun Edy mengungkap, setelah melakukan survei beberapa pekan dari beberapa alternatif jenis bis dan dengan variasi harganya, ia dapat menemukan bis yang sesuai. Tak hanya sulit dalam proses mencari, perjalanan membawa bis dari Gaza Tengah ke RS Indonesia di Gaza Utara juga tidak mudah. Relawan MER-C bersama konvoi WHO harus menempuh waktu hingga dua hari untuk tiba di sana karena beberapa kali status “Green Light” dibatalkan. “Perjalanannya sangat berat karena sebagian besar jalan dirusak dan jembatan diruntuhkan oleh penjajah. Insiden lain juga kami alami saat melewati suatu kawasan, di mana ada seorang yang melemparkan batu ke sisi kanan sebuah jendela hingga hancur berkeping-keping,” ujar Edy. “Setelah perjalanan panjang, akhirnya Relawan MER-C dan konvoi WHO dapat tiba dengan selamat di RS Indonesia dan disambut gembira oleh staf Rumah Sakit dan warga Gaza,” tambahnya. Direktur RS Indonesia dr. Marwan Al-Sultan menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas bantuan bis dari rakyat Indonesia yang diberikan melalui MER-C dan Kitabisa ini. “Semoga Allah membalas dengan yang lebih baik kepada MER-C, Kitabisa dan seluruh rakyat Indonesia,” kata dr. Marwan. “Setiap putaran roda menjadi balasan kebaikan dan setiap debu yang menempel akan menjadi saksi dan tameng di hari akhir, insyaa Allah menjadi jariyah yang terus mengalir bagi para donatur,” ujarnya.

Kitabisa Serahkan Donasi Rp 1,5 Miliar kepada MER-C

Wadah galang dana, sedekah, zakat maal dan fitrah secara online, Kitabisa, menyerahkan donasi yang digalang melalui aplikasi Kitabisa untuk warga Palestina, kepada Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) sebesar Rp 1.521.325.000,-. CEO Kitabisa Vikra Ijas melakukan penyerahan donasi secara simbolis kepada Ketua Presidium MER-C, DR. dr. Hadiki Habib, Sp.PD., Sp.Em di Kantor Pusat MER-C di Jakarta pada Rabu (18/9). Penyerahan donasi juga dihadiri Head of Islamic (zakat) Kitabisa Ahmad Mujahid, Partenership Account Kitabisa Muhammad Hibatur Rahman, Ketua Divisi Penggalangan Dana MER-C Ir. Luly Larissa dan Manajer Operasional MER-C Rima Manzanaris. “Alhamdulillah hari ini kita silaturahim ke Kantor MER-C ketemu Mba Luly, Mba Rima dan Ketua Presidium baru MER-C, dr. Hadiki Habib, serta penyerahan simbolis donasi dari para donatur yang menyumbangkan dan menitipkan amanah melalui Kitabisa,” kata Vikra. “Alhamdulillah kami juga bersyukur dipercaya menjadi rekanan dari MER-C untuk penyaluran donasi Palestina. Kita sudah sama-sama tahu MER-C adalah lembaga yang sangat kredibel dan juga menjadi Lembaga satu-satunya yang ada di dalam Palestina di Jalur Gaza, turut mengoperasikan RS Indonesia di Gaza. Jadi kami bersyukur dengan kemitraan ini para donatur yang menitipkan amanah dan harapan mereka, bisa melihat bagaimana dana mereka tersalurkan khususnya untuk penanganan medis di Jalur Gaza,” tambahnya. Ia juga mengapresiasi kerja relawan MER-C yang turun langsung untuk membantu warga Palestina di Jalur Gaza, Palestina. “Masyaallah teman-teman MER-C, kami hanya bisa memberikan rasa takzim untuk para dokter, para relawan, para engineer yang turun langsung ke lapangan, serta teman-teman di belakang layar yang juga bekerja agar inisiatif dan program-program dari MER-C berjalan,” tuturnya. Vikra juga menyerukan agar masyarakat tetap berisik dan menjaga harapan untuk Palestina, karena ini menjadi simbol perjuangan bukan hanya sebagai umat muslim tapi juga sebagai umat manusia. “Apapun yang kita lihat di berita, ini ada bukti lembaga dari Indonesia yang terus berjuang, yang menjadi ‘alat diplomasi’ Indonesia untuk perjuangan kemerdekaan Palestina,” katanya.

Komunitas Pejuang Subuh Masjid Raya Pondok Indah Salurkan Donasi Palestina 10.000 USD Melalui MER-C

Komunitas Pejuang Subuh Masjid Raya Pondok Indah menyalurkan donasi untuk warga Palestina di Jalur Gaza sebesar 10.000 USD melalui Medical Emergency Rescue Committee (MER-C). “Alhamdulillah hari ini kami menyerahkan donasi dari jamaah Pejuang Subuh Masjid Raya Pondok Indah dalam bentuk cash 10.000 USD, untuk diserahkan dan disampaikan kepada sahabat-sahabat kita di Gaza,” kata Pengurus Pejuang Subuh Masjid Raya Pondok Indah, Fadian Paham, saat menyerahkan donasi di Kantor Pusat MER-C di Jakarta, Rabu (18/9). Penyerahan donasi ini diterima langsung oleh Presidium MER-C dr. Zecky Eko Triwahyudi, Sp.OT., MARS, Ketua Divisi Penggalangan Dana MER-C Ir. Luly Larissa dan Manajer Operasional MER-C Rima Manzanaris. Fadian mengatakan, jamaah mempercayakan penyaluran donasi untuk warga Gaza ini melalui MER-C karena terbukti memiliki program nyata, bahkan MER-C memiliki bangunan nyata, RS Indonesia. “Terima kasih kepada MER-C yang bisa memberikan kepercayaan kepada jamaah Komunitas Pejuang Subuh Masjid Raya Pondok Indah,” tuturnya. “Mari kita doakan bahwa apa yang bisa kita lakukan selain berdoa, mungkin ada harta kita yang bisa diberikan. Doa-doa itu juga dilakukan dengan cara kita melakukan banyak kegiatan. Insya Allah kita dari Masjid Raya Pondok Indah akan selalu membantu MER-C dengan mengumpulkan donasi-donasi dari jamaah kita,” tambahnya. Fadian mengungkapkan, saat ini Komunitas Pejuang Subuh Masjid Raya Pondok Indah tidak hanya memiliki jamaah di Jakarta, tidak hanya skala nasional, tapi juga di luar negeri. “Kita sudah ter-conncet dengan 20 kota dunia. Insya Allah syiar kami untuk MER-C dan saudara-saudara kita di Gaza bisa dilaksanakan dengan lancar,” ujarnya.  Sebelumnya, Komunitas Pejuang Subuh Masjid Raya Pondok Indah juga telah menyerahkan donasi kemanusiaan tahap 4 untuk Gaza, Palestina, sebesar Rp 100 juta.

Jajaran Presidium MER-C Silaturahim ke Sejumlah Tokoh dan Ulama Solo

Jajaran Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia pada 15 September 2024 melakukan silaturahmi ke Kota Solo untuk bertemu dengan sejumlah tokoh dan ulama.  Kunjungan silaturahmi ini merupakan bentuk komitmen MER-C Indonesia dalam menggalang dukungan untuk Palestina dan agenda kemanusiaan lainnya baik didalam maupun luar negeri.  “Selain bertemu dengan MER-C Cabang Yogja dan Pembina MER-C, Presidium MER-C juga bertemu sejumlah tokoh dan ulama Kota Solo antara lain Pimpinan Majelis Tafsir Al Quran (MTA), Al Ustadz Nur Kholid Syaifullah., Lc., M.Hum dan Pimpinan Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS), Ustaz. Abdul Rochim Ba’asyir,” ujar Ketua Presidium MER-C dr. Hadiki Habib.  Ia mengatakan, dalam pertemuan yang diselenggarakan di Kantor MTA dan DSKS tersebut, Presidium MER-C mengabarkan hasil musyawarah besar MER-C dan program-program kemanusiaan yang terus berjalan, khususnya di Jalur Gaza, Palestina, serta rencana strategis MER-C untuk Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara. Pertemuan ini juga menghasilkan rencana kerjasama antara MER-C Yogja dan unit kesehatan MTA dan DSKS.  Selain itu, Tim MER-C menerima arahan dan nasehat dari kalangan ulama di Kota Solo yang sangat berarti bagi MER-C dalam mengemban amanah masyarakat Indonesia. MER-C berharap, forum silaturahmi ini semakin memperkuat solidaritas kemanusiaan untuk Palestina dari kalangan ulama hingga masyarakat secara luas.

Atasi Krisis Bahan Bakar, MER-C Pasang Panel Surya di RS Indonesia

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mulai melakukan pemasangan panel surya di Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara, untuk mengurangi dampak krisis bahan bakar dan listrik yang masih terus berlangsung akibat agresi dan blokade Israel. Pada 8 September, sebanyak 30 lembar panel surya tahap pertama dengan kapasitas 20 kV yang memback up 16 persen dari kebutuhan telah terpasang. Rencananya, pemasangan panel surya ini akan dilakukan dalam tiga tahap.  Pemasangan panel surya ini dipantau langsung oleh relawan MER-C di Jalur Gaza. Mereka juga bertemu dengan Direktur RS Indonesia dan berdiskusi terkait pentingnya pemasangan panel surya ini. “Panel surya yang telah dipasang oleh MER-C mencakup 30 lembar panel surya, dengan kapasitas 20 kV yang memback up 16 persen dari kebutuhan. Sebelumnya, sudah ada panel surya yang terpasang sejak sebelum perang, yang tersisa 30 persen dari total kebutuhan 130 kV. Artinya saat ini RS Indonesia masih memerlukan 46 persen lagi dari kebutuhan,” kata Relawan MER-C di Jalur Gaza, Edy Wahyudi, Kamis (12/9). Saat ini, 30 panel surya yang baru dipasang sudah bisa digunakan dan difokuskan untuk kebutuhan ruang operasi dan ICU. Edy mengatakan, RS Indonesia terdampak pasokan bahan bakar yang sangat terbatas. Kapasitas bahan bakar yang dikirimkan dari selatan ke utara, yang tadinya satu unit tanki solar untuk satu atau dua rumah sakit, saat ini terpaksa dibagi ke banyak rumah sakit karena dibatasi oleh Israel. “Akibatnya, operasional RS Indonesia mengalami banyak kendala. Banyak lampu yang harus dipadamkan dan hanya menggunakan lampu-lampu yang memang sangat emergency,” ujarnya. Panel surya tahap pertama yang sudah terpasang, semuanya masih berasal dari dalam Gaza. Hal ini dikarenakan pemesanan dari luar Gaza masih terkendala izin. Langkanya barang serupa di dalam Gaza membuat harga menjadi cukup mahal. Namun mempertimbangkan kebutuhan listrik yang mendesak di RS Indonesia dan adanya dukungan donasi dari rakyat Indonesia, membuat program ini dapat terwujud meski bertahap.        

Silahkan bertanya?