Mengapa Pembangunan Tahap 2 RS MER-C di Galela Halmahera Utara Harus Terus Berjalan Hingga Rampung

Part 2 Pembangunan sempat terhenti sehingga bangunan yang telah berdiri belum dapat sepenuhnya dimanfaatkan sebagai fasilitas rumah sakit. Lebih dari dua dekade setelah hubungan itu pertama kali terjalin, MER-C kembali melanjutkan ikhtiar tersebut. Kali ini, harapannya bukan hanya menghadirkan bangunan rumah sakit, tetapi juga layanan kesehatan yang lebih dekat dan mudah dijangkau oleh masyarakat Galela dan wilayah pesisir utara Halmahera. Harapan tersebut kembali hadir pada Agustus 2026. Bertepatan dengan Milad ke-27, MER-C kembali bertolak ke Galela untuk melanjutkan pembangunan rumah sakit. Kedatangan MER-C menandai dimulainya pembangunan tahap kedua sekaligus dimulainya operasional klinik dasar di bagian depan bangunan. Klinik ini untuk memanfaatkan fasilitas yang sudah tersedia agar dapat segera memberikan manfaat bagi masyarakat, sambil pembangunan rumah sakit terus dilanjutkan. Bagi MER-C, pembangunan Rumah Sakit Galela bukan sekadar pembangunan sebuah fasilitas kesehatan. Proyek ini merupakan bagian dari perjalanan panjang bersama masyarakat Galela, dimulai sejak masa sulit ketika relawan datang membawa pertolongan medis, berlanjut melalui pengobatan gratis, hingga akhirnya masyarakat mempercayakan tanah wakafnya untuk dibangun sebuah rumah sakit. Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/p/Ddi2rzikwjj/?stkn=eTY5bmNsMXh2eGdx https://www.facebook.com/share/p/1Hx4d52HR6/?mibextid=wwXIfr https://vt.tiktok.com/ZSqTVdFjp
Pertukaran Perspektif Kemanusiaan, Mahasiswa University of Chicago Kunjungi MER-C

Bagaimana sebuah organisasi kemanusiaan bekerja di tengah keterbatasan akses, merespons kebutuhan masyarakat, dan membangun kolaborasi untuk menghadirkan bantuan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian dari pertemuan 24 mahasiswa/i undergraduate University of Chicago bersama pendamping mereka, Paige Williams dan Erick Amick, saat berkunjung ke Markas MER-C Indonesia, Jakarta, Rabu (16/9/2026). Dalam suasana dialog yang hangat dan terbuka, para mahasiswa yang disambut oleh perwakilan Presidium dr. Tonggo Meaty Fransisca, Kepala Divisi Humas Diana Caroline, S.E, Manajer Operasional Rima Manzanaris, perwakilan relawan juga jajaran staff MER-C, berkesempatan mengenal lebih dekat kiprah MER-C dalam berbagai misi kemanusiaan. Mereka berdiskusi mengenai pengalaman di lapangan, pendekatan dalam membangun dukungan dan kolaborasi, hingga berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat dalam memperoleh akses layanan kesehatan. Bagi para mahasiswa, kunjungan ini menjadi kesempatan untuk melihat lebih dekat bagaimana kerja-kerja kemanusiaan berlangsung di dunia nyata—bukan hanya melalui teori dan pembelajaran di ruang akademik, tetapi melalui pengalaman, cerita, dan praktik langsung di lapangan. Sementara bagi MER-C, pertemuan ini menjadi ruang untuk berbagi pengalaman, bertukar perspektif, dan membuka dialog lintas negara tentang kemanusiaan serta akses kesehatan bagi masyarakat yang membutuhkan. Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/reel/DddCtQ9TmcC/?stkn=MXBhaDBnODdha2E5Zg== https://www.facebook.com/share/v/1Duh7AR2jK/?mibextid=wwXIfr https://vt.tiktok.com/ZSqnweUvE
Mengapa Pembangunan Tahap 2 RS MER-C Di Galela – Halmahera Utara Harus Terus Berjalan Hingga Rampung

PART 1 Rumah Sakit MER-C di Galela tidak lahir dalam waktu singkat. Pembangunannya berakar dari ikatan emosional yang panjang antara MER-C Indonesia dengan masyarakat Galela, pasca-tragedi kemanusiaan di Maluku Utara pada 1999. Tim dokter dan relawan medis MER-C menembus medan konflik demi memberikan bantuan kegawatdaruratan tanpa memandang latar belakang korban. Setelah konflik mereda, MER-C tidak lantas pergi dan melupakan Galela. MER-C masih kembali untuk mengadakan pengobatan gratis berkala. Kedekatan ini melahirkan rasa percaya yang luar biasa dari masyarakat setempat. Hubungan itu kemudian berkembang menjadi sebuah harapan yang lebih besar. Puncaknya pada tahun 2010, seorang warga lokal dengan sukarela mewakafkan tanah seluas 4.000 m² di Desa Towara kepada MER-C, dengan satu permohonan tulus: meminta MER-C membangun sebuah rumah sakit di sana. Harapan itu kemudian menjadi awal dari proyek Rumah Sakit MER-C Galela, sebuah fasilitas kesehatan yang dibangun melalui semangat swadaya dan dukungan masyarakat untuk menjawab keterbatasan akses layanan kesehatan di wilayah pesisir utara Pulau Halmahera. Pada 18 Desember 2010, peletakan batu pertama dilakukan sebagai tanda dimulainya pembangunan. Rumah sakit ini terletak di Desa Towara, yang diharapkan menjadi “oase”, memangkas jarak perjalanan warga pesisir utara Halmahera agar tidak perlu selalu bertolak ke Tobelo untuk mendapatkan pertolongan pertama. Namun ternyata, perjalanan pembangunan rumah sakit tidak selalu berjalan mudah. Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/p/Ddbh-Qyk1C6/?stkn=MW9oNTIzM3lqaW9kbQ== https://www.facebook.com/share/p/1E4e1M9VRY/?mibextid=wwXIfr https://vt.tiktok.com/ZSqtmnnmt
Tim Bedah MER-C dan ILUNI FKUI Kembali Operasi Pasien di Rumah Sakit Kapal Kesatria Airlangga

Tim bedah Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) bersama Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (ILUNI FKUI) dan satu dokter ortopedi TNI kembali menggelar operasi di atas Rumah Sakit Kapal Kesatria Airlangga (RSKKA) yang berlabuh di perairan Kecamatan Lamba Leda Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (05/09/2026). Layanan kesehatan lanjutan ini ditangani langsung oleh tim gabungan. Tim tersebut terdiri dari seorang dokter spesialis ortopedi dan traumatologi (bedah tulang), seorang dokter spesialis bedah anak, dua dokter umum, satu perawat, serta satu petugas dokumentasi. Proses penanganan dimulai saat pasien dijemput dari Rumah Sakit Lapangan Kolaboratif Dampek menggunakan ambulans menuju tepi pantai. Dari pantai, pasien diseberangkan menggunakan sekoci untuk dinaikkan ke atas kapal RSKKA. Di atas kapal, dokter bedah anak dari MER-C mengoperasi sekaligus melakukan prosedur sirkumsisi (sunatan) terhadap tiga anak warga setempat. Pada saat yang sama, dokter ortopedi juga melakukan tindakan bedah tulang pada pasien lainnya. Setelah seluruh proses operasi selesai, tim medis memantau kondisi para pasien secara ketat di ruang perawatan kapal. Setelah dinyatakan stabil, pasien diantar kembali ke RS Lapangan Kolaboratif Dampek untuk menjalani rawat inap hingga pulih. Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/reel/DdTLeSTT-VR/?stkn=aTZpbmwzZGc1YjM2 https://www.facebook.com/share/v/1Hdvr8AoBV/?mibextid=wwXIfr https://vt.tiktok.com/ZSqXX4fQK
Tim MER-C Gelar Mobile Clinic dan Pendampingan Psikososial Bagi Pengungsi Gempa di Lamba Leda Utara

Tim Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) kembali menggelar aksi Mobile Clinic untuk memberikan pelayanan kesehatan serta dukungan psikososial bagi para pengungsi gempa di Kampung Tumbak, Desa Satar Pundak, Kecamatan Lamba Leda Utara, Jumat (4/9/2026). Langkah pelayanan keliling ini dilakukan guna merespons kondisi psikologis masyarakat dan anak-anak yang masih terdampak trauma akibat gempa bumi, terlebih dengan masih dibayangi hadirnya gempa susulan di wilayah tersebut. Dalam penanganan medis, tim berhasil melayani sebanyak 26 warga. Penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi temuan dominan untuk kategori penyakit menular, sementara Hipertensi mendominasi kategori penyakit tidak menular. Selain itu, psikolog MER-C mencatat banyak warga yang mengalami Gangguan Stres Akut (Acute Stress Disorder/ASD). Untuk meredakan kecemasan anak-anak, Psikolog Klinis merancang sesi trauma healing interaktif melalui kegiatan bernyanyi bersama. Pendekatan ini terbukti efektif menciptakan suasana aman dan keceriaan bagi anak-anak di tengah situasi darurat pascabencana. Aksi kemanusiaan ini menerjunkan lima personel yang terdiri dari satu dokter Spesialis Kedokteran Keluarga dan Pelayanan Primer (Sp.KKLP), satu dokter umum, satu perawat, satu Psikolog Klinis, serta satu personil dokumentasi. Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/reel/DdFtq-FTJjh/?stkn=a3J2eWg3YTFkMTZv https://www.facebook.com/share/v/1EeJ65kqzi/?mibextid=wwXIfr https://vt.tiktok.com/ZSqD82AR4
Klinik MER-C Hadir Dukung Layanan Kesehatan Pengungsi Rohingya di Lhokseumawe

Lhokseumawe – Sejak relokasi pengungsi Rohingya pada 25 Juni 2026, Klinik MER-C Indonesia terus hadir untuk memberikan layanan kesehatan bagi para pengungsi, rekan-rekan NGO, serta masyarakat sekitar yang bertugas dan beraktivitas di Kamp Pengungsi Montujuh, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe. Layanan ini merupakan bagian dari respons kemanusiaan MER-C dalam memberikan pertolongan kesehatan bagi pengungsi Rohingya yang transit di Aceh, khususnya di Kota Lhokseumawe. Berdasarkan hasil pemeriksaan di lapangan, keluhan kesehatan yang paling banyak ditemukan meliputi infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), gangguan pencernaan, dan hipertensi. Tim Medis MER-C, Khairiah A.Md.Kep., mengatakan keterbatasan asupan nutrisi membuat pengungsi lebih rentan terserang penyakit. Kondisi tersebut juga dapat meningkatkan risiko stunting, terutama pada anak-anak. “Pengungsi masih kesulitan memenuhi kebutuhan nutrisi dan membeli obat secara mandiri. Di sisi lain, ketersediaan obat gratis juga belum mencukupi kebutuhan pengungsi,” ujarnya. Koordinator MER-C Indonesia di Aceh, Ira Hadiati, bersama Pemerintah Kota dan Dinas Kesehatan Kota Lhokseumawe mengajak sejumlah NGO lokal yang bergerak di bidang kesehatan untuk bersama-sama menangani persoalan kesehatan para pengungsi, khususnya mereka yang berada di Kamp Terpadu Lhokseumawe. Pemerintah Kota Lhokseumawe sebelumnya merelokasi 28 pengungsi Rohingya dari bekas Gedung Kantor Imigrasi Punteut ke shelter baru yang lebih layak. Shelter tersebut dilengkapi sejumlah fasilitas yang dibangun oleh berbagai NGO, termasuk Klinik MER-C yang menjadi salah satu fasilitas pelayanan kesehatan bagi para pengungsi. Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/p/DdEAolkE6kG/?stkn=MTEyaTlzeXVpaTFsaQ== https://www.facebook.com/share/p/14owAd2VXw6/?mibextid=wwXIfr https://vt.tiktok.com/ZSqSh6grX
Langkah Siaga Hadapi Sebaran Abu Vulkanik

Partikel halus abu vulkanik sangat berisiko mengiritasi saluran pernapasan, terutama pada anak-anak dan penderita asma. Tetap waspada dengan menerapkan langkah proteksi diri: ⚠️ Segera bawa ke fasilitas kesehatan jika anak mengalami batuk terus-menerus, sesak nafas yang bertambah, atau terlihat lemas.Salam sehat bersama MER-C! 🩺❤️ Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/reel/DdDP1MQTyzc/?stkn=d2lhMHVtOTQ4aTN6 https://www.facebook.com/share/r/1Fe9ongzSS/?mibextid=wwXIfr https://vt.tiktok.com/ZSqBks5Kk
Tim Bedah MER-C Kembali Lakukan Operasi Korban Gempa NTT di RS Kapal Kapal Ksatria Airlangga

Flores – Tim Bedah MER-C kembali melakukan tindakan operasi korban terdampak gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) di atas Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga (RSKKA), di wilayah Lamba Leda Utara, Manggarai Timur. Tim MER-C terdiri dari satu dokter spesialis bedah anak, satu dokter spesialis ortopedi, satu dokter umum, serta relawan dan petugas dokumentasi. Tim MER-C memperoleh informasi dari RS Lapangan Kolaboratif Dampek mengenai empat pasien yang membutuhkan penanganan operasi, yaitu tiga anak dan satu orang dewasa. Keempat pasien tersebut memerlukan penanganan oleh dokter spesialis bedah anak dan dokter spesialis ortopedi MER-C. Pasien kemudian dibawa dari daratan menuju RSKKA. Tim dokter melanjutkan perjalanan melalui laut menggunakan sekoci untuk mencapai kapal yang dilengkapi ruang operasi dan berbagai peralatan penunjang tindakan bedah. Pelaksanaan operasi dilakukan bersama tim dokter dari Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI) Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Setelah menjalani operasi, para pasien dibawa kembali ke daratan untuk mendapatkan perawatan dan pemantauan lebih lanjut di RS Lapangan Kolaboratif Dampek. Sebelumnya, Tim Bedah MER-C juga berhasil melakukan sejumlah operasi korban terdampak gempa di atas RSKKA sebagai bagian dari respons kemanusiaan di NTT. Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/reel/DdBCs66zT9k/?stkn=c2lyYTE0OHBuZXM= https://vt.tiktok.com/ZSqrTJubU
MER-C Kembali Kirim Tim Medis dan Psikolog Bantu Korban Gempa NTT

Jakarta – MER-C kembali mengirimkan tim medis ke lokasi terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (1/9/2026). Dalam misi kali ini, MER-C turut mengirimkan psikolog klinis untuk memberikan layanan psikososial kepada para penyintas bencana. Tim berjumlah empat relawan, terdiri dari satu dokter spesialis bedah anak, satu dokter spesialis ortopedi, satu perawat, dan satu psikolog klinis. Psikolog Klinis MER-C, Nida Nur Rahmawati, mengatakan layanan psikososial akan diberikan kepada penyintas dari berbagai kelompok usia, khususnya anak-anak. “Untuk anak-anak, kami membantu menangani trauma agar tidak berdampak berkepanjangan. Sementara untuk orang dewasa dan lansia, kami membantu menangani stres agar tidak berkembang menjadi gangguan yang dapat memengaruhi kondisi fisik maupun aspek lainnya,” ujar Nida. Dalam memberikan pendampingan kepada anak-anak, tim juga membawa sejumlah perlengkapan sederhana untuk mendukung kegiatan bermain dan membantu proses pemulihan psikologis, seperti krayon dan karet gelang. Selain memberikan layanan psikososial, tim medis MER-C juga akan memberikan pelayanan kesehatan di sejumlah wilayah terdampak gempa, bekerja sama dengan Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga dan Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI). Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/reel/Dc-8PH2zHWC/?stkn=eDNvbHB1bDJpcDBy https://www.facebook.com/share/v/1EcTZP32o2/?mibextid=wwXIfr https://vt.tiktok.com/ZSq6qPDAC
Tim Medis MER-C Layani 223 Warga Dusun Terpencil di Reo Barat

Manggarai Tengah— Tim medis MER-C menggelar pelayanan kesehatan di Dusun Nggalak dan Dusun Jong, Desa Way Kajong, Kecamatan Reo Barat, Kabupaten Manggarai Tengah, Minggu (1/9/2026). Tim yang terdiri dari 1 dokter spesialis KKLP, 1 spesialis bedah tulang (Sp.OT), 3 dokter umum, 1 perawat, dan 1 dokumentasi ini sempat mendapat prioritas pengisian BBM di Reo sebelum menempuh perjalanan 2,5 jam melintasi jalan rusak. Sebanyak 223 warga antusias memeriksakan kesehatan. Antusiasme tinggi ini dipicu oleh ketiadaan tenaga dokter di puskesmas yang menaungi desa setempat. Dari hasil pemeriksaan di lapangan, tiga penyakit terbanyak yang ditemukan pada pasien meliputi tuberkulosis (TB), infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), dan hipertensi. Aksi medis ini menjadi bentuk respons MER-C dalam menjangkau wilayah terpencil yang minim akses fasilitas kesehatan pascabencana. Selengkapnya di link ini https://www.instagram.com/reel/Dc9-8S9Trty/?stkn=NXo0NGE4a3Q1ZW44 https://www.facebook.com/share/v/19hsz2Wr6F/?mibextid=wwXIfr https://vt.tiktok.com/ZSqjoLEJR