MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Pelayanan Kesehatan Imigran Rohingya Dalam Upaya Peningkatan Kesehatan di Tempat Pengungsian

Dalam upaya menjaga kesehatan para imigran, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia melakukan kegiatan screening Hepatitis-B terhadap imigran asal Rohingya pada Selasa (17/12/2024). Kegiatan ini berlangsung di Aceh Timur dengan melibatkan kerjasama bersama International Organization for Migration (IOM) dan Puskesmas Aceh Timur. Screening ini dilakukan kepada 19 imigran Rohingya sebagai langkah pencegahan dini dalam mendeteksi penyakit Hepatitis-B. Dengan kondisi kesehatan yang kerap menjadi tantangan di tempat penampungan, upaya ini menjadi penting untuk memastikan penanganan kesehatan yang tepat bagi para imigran. Hasil dari pemeriksaan menunjukkan bahwa satu dari 19 imigran dinyatakan positif Hepatitis-B. MER-C kemudian merekomendasikan kepada IOM agar pasien tersebut segera diisolasi dan mendapatkan perawatan medis di fasilitas kesehatan yang memadai. Langkah ini dinilai krusial untuk mencegah penyebaran penyakit di tengah komunitas pengungsi yang berjumlah cukup besar. Saat ini, jumlah total imigran Rohingya yang berada di Aceh Timur mencapai 143 jiwa. Mereka datang dalam kondisi yang rentan, sehingga pengawasan kesehatan menjadi prioritas utama bagi organisasi kemanusiaan seperti MER-C. Selain pemeriksaan Hepatitis-B, MER-C juga mengadakan serangkaian layanan kesehatan dasar lainnya. Layanan tersebut meliputi pemeriksaan kehamilan bagi para ibu hamil dan pemeriksaan kesehatan umum untuk memastikan kondisi kesehatan para imigran tetap terjaga. Banyaknya ibu hamil di antara pengungsi Rohingya membuat pemenuhan kebutuhan gizi menjadi perhatian serius bagi MER-C dan mitranya. Dalam kegiatan ini, kebutuhan nutrisi khusus bagi ibu hamil pun dibagikan agar mereka dan janin yang dikandung tetap sehat. Selain nutrisi, bantuan berupa kebutuhan pokok dan obat-obatan juga disediakan untuk memastikan kesejahteraan para pengungsi selama masa tinggal mereka di Aceh Timur. “Project Manager MER-C for Rohingya Ira Hadiati (Relawan MER-C) beserta 1 perawat komunitas, 1 bidan dan 3 tim logistik berkomitmen untuk memberikan layanan kesehatan terbaik, terutama bagi kelompok rentan seperti ibu hamil dan mereka yang berisiko terkena penyakit menular”. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi risiko penyakit yang berpotensi menyebar di tengah keterbatasan fasilitas penampungan. Kegiatan kolaborasi antara MER-C, IOM, dan Puskesmas ini menunjukkan pentingnya sinergi antara berbagai lembaga untuk memastikan kondisi kesehatan imigran Rohingya terjaga. Dengan demikian, langkah-langkah pencegahan dan penanganan dini dapat dilakukan secara efektif. Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran akan pentingnya pemeriksaan kesehatan rutin di kalangan pengungsi semakin meningkat, sehingga potensi penyebaran penyakit menular dapat ditekan. Dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak diharapkan mampu meringankan beban para imigran yang membutuhkan perhatian dan perlindungan.    

MER-C Berpartisipasi dalam Lokakarya Penanganan Pengungsi Rohingya di Aceh

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) berpartisipasi dalam Lokakarya bertajuk “Refleksi Penanganan Pengungsi Rohingya di Aceh: Praktik Baik, Tantangan dan Langkah ke Depan” yang digelar oleh Pemerintah Aceh bersama UNHCR, pada 12-13 Desember 2024, di Banda Aceh.  Workshops ini dihadiri oleh sejumlah pejabat Provinsi Aceh serta perwakilan NGO lokal dan internasional.  PJ Gubernur Aceh Safrizal dalam sambutannya mengatakan, tantangan dalam penanganan pengungsi tidaklah ringan. Kompleksitas isu ini melibatkan aspek hukum, sosial, ekonomi, hingga koordinasi antar berbagai pemangku kepentingan, baik di tingkat lokal, nasional, maupun internasional. Untuk itu, melalui Lokakarya ini diharapkan dapat dirumuskan rekomendasi-rekomendasi strategis yang mengintegrasikan hukum internasional, hukum nasional, dan hukum adat dalam tata kelola pengungsi.  “Pendekatan terpadu ini bertujuan untuk memastikan penanganan pengungsi yang optimal, berbasis pada prinsip-prinsip kemanusiaan, sekaligus memberikan perlindungan yang sesuai dengan standar hukum dan nilai-nilai lokal di Indonesia,” ujarnya.  Pada Lokakarya ini, Project Manager MER-C for Rohingya Ira Hadiati menyampaikan sejumlah rekomendasi, di antaranya ia menekankan pentingnya kordinasi dalam penanganan pengungsi Rohingya, mulai dari tingkat gubernur, sampai perangkat desa yang menjadi tempat kamp penampungan sementara, sehingga dapat ditetapkan kamp penampungan khusus di satu lokasi. Ira juga merekomendasikan pembuatan Standar Prosedur Operasional (SPO) terkait cara penangan pengungsi Rohingya yang mendarat di Aceh, sampai waktu tunggu mereka mendapatkan negara yang bersedia menerima mereka. Lokakarya ini menghasilkan sejumlah rekomendasi untuk penanganan pengungsi Rohingya di Indonesia, antara lain: 1. Percepatan revisi Perpres No. 125 tahun 2016 tentang penanganan pengungsi dari luar negeri untuk dapat mengakomodir segara permasalahan di lapangan; Penegasan kepada Pemerintah Daerah untuk melakukan penanganan pengungsi sesuai dengan Perpres No. 125 tahun 2016; 2. Penyediaan dan penetapan lokasi tempat penampungan pengungsi yang bersifat permanen, tertutup, dan jauh dari pemukiman warga; Perlu mengoptimalkannya pelibatan tokoh agama setempat dalam penanganan pengungsi Rohingya; 3. Peningkatan patroli laut dan udara di wilayah perairan Indonesia untuk mencegah masuknya kapal yang membawa pengungsi Rohingya; Perlu mengoptimalkannya pelibatan tokoh agama setempat dalam penanganan pengungsi Rohingya; 4. Peningkatan kerjasama di kawasan Asia Tenggara dan diplomasi bilateral dalam penanganan pengungsi; Kerjasama dengan resettlement country dalam menerima pengungsi dari Indonesia

MER-C Serahkan Sejumlah Bantuan untuk Pengungsi Rohingya di Tapaktuan dan Lhokseumawe

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menyerahkan sejumlah bantuan untuk pengungsi Rohingya di kamp pengungsian Tapaktuan dan Lhokseumawe pada Jumat, 15 November 2024. Pengungsi Rohingya di GOR Tapaktuan, Gampong Pasar, Kecamatan Tapaktuan, Aceh Selatan, menerima bantuan berupa 30 botol obat cacing, dan penjelasan tentang bahaya penyakit cacingan pada anak-anak usia 2-5 tahun. Peralatan mandi seperti ember untuk menampung air, alat kebersihan seperti sapu, autan, dan kain sarung serta 10 buah Al-Qur’an. “Penyakit cacingan ini akan sangat memungkinkan terjangkit pada anak-anak pengungsi Rohingya, dikarenakan tingkat kebersihan dan pola hidup yang kurang sehat di kamp pengungsian,” ujar Project Manager MER-C for Rohingya, Ira Hadiati. Ira mengatakan MER-C juga memberi bantuan tujuh tangki air bersih sebanyak 35 ribu liter bagi pengungsi Rohingya yang ditampung di bekas gedung Imigrasi Lhokseumawe, karena saat ini pengungsi Rohingya di kamp tersebut sedang mengalami kekurangan air bersih. Terkait rencana program bantuan lanjutan, Ira mengatakan hal ini tergantung situasi kondisi pengungsi. Ia juga mengatakan pekan ini akan fokus melakukan advokasi bersama UNHCR dan LSM lainnya untuk meminta pemerintah menentukan lokasi tetap bagi pengungsi Rohingya yang terdampar di Aceh, sehingga mereka dapat melanjutkan perjalanannya ke negara yang dapat menampung mereka.

MER-C Beri Bantuan dan Layanan Kesehatan untuk Pengungsi Rohingya

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) memberikan sejumlah bantuan dan layanan Kesehatan untuk pengungsi Rohingya yang berada di penampungan sementara di Lapangan Sepak Bola Desa Seuneubok Rawang, Kecamatan Peureulak Timur, Kabupaten Aceh Timur. Tim dipimpin Project Manager MER-C for Rohingya, Ira Hadiati, S.H., yang secara langsung menyerahkan bantuan pada Kamis, 7 November 2024.  Saat ini, jumlah pengungsi Rohingnya di penampungan sementara tersebut sebanyak 63 orang termasuk anak-anak, yang mendarat di Aceh pada 31 Oktober 2024. Di lokasi tersebut terdapat 29 orang pengungsi yang telah 9 bulan di Aceh Timur sejak 1 Februari 2024. Ira mengatakan, bantuan diberikan MER-C berupa 31 kain sarung laki-laki, 32 mukena untuk perempuan, 63 psc/lembar sajadah, 10 mushaf ⁠Alquran, 5 psc pakaian anak-anak, 15 botol obat kutu peditox, 5 sisir kutu, 20 test pack (tespek), 50 cup tespek, dan 12 botol inai. Sejumlah pengungsi Rohingya laki-laki langsung menggunakan kain sarung dan sajadah yang diberikan MER-C untuk shalat. Mereka juga mengaji atau membaca ayat-ayat suci Alquran menggunakan mushaf bantuan MER-C. Melihat hal itu, Ira merasa bahagia dan bersyukur karena bantuan yang diberikan bermanfaat untuk pengungsi Rohingya. “Salah satu bagian dari rehabilitasi mental mereka adalah mengembalikan mereka untuk berserah diri (tawakal) kepada Allah,” ujar Ira Hardiati.    Sebagai bentuk kepedulian, MER-C telah beberapa kali menyalurkan bantuan untuk pengungsi Rohingya yang tersebar di beberapa pengungsian di Aceh. Sejumlah bantuan yang diberikan antara lain sembako dan obat-obatan, bantuan paket higienis untuk dewasa dan anak-anak, perlengkapan ibadah, pembanguan sumur dan fasilitas sanitasi. Ira sebelumnya mengatakan, program bantuan dan layanan kesehatan dari MER-C dilakukan karena masih banyak pengungsi Rohingya yang mendarat di Aceh dengan kondisi memprihatinkan.

MER-C Beri Bantuan untuk Pengungsi Rohingya Terdampak Banjir di Aceh Timur

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) pada Selasa (24/9), memberikan bantuan untuk Pengungsi Rohingya terdampak banjir di Aceh Timur. Total bantuan yang diberikan adalah 51 paket, 26 paket untuk orang dewasa berisi sarung/mukenah, sandal jepit, handuk dan goody bag. 25 paket untuk balita dan anak-anak berisi sabun mandi, pasta gigi, bedak salicyl/caladine botol, kue kering, susu cair, handuk serta goody bag. Bantuan ini diserahkan oleh Presidium MER-C dr. Tonggo Meaty Fransisca kepada Penanggung Jawab Kamp Pengungsi di Aceh Timur. Sebelumnya, MER-C juga memberikan bantuan MER-C berupa iqra dan Al Quran, tikar besar untuk mushalla dan solar cell portable untuk penerangan tenda pengungsi Rohingya di Aceh Timur. MER-C melalui perwakilanya di Aceh, yang dikoordinir oleh Ira Hadiati terus memberikan perhatian kepada pengungsi Rohingya yang tersebar di sejumlah wilayah di Aceh. Para pengungsi ini memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Untuk itu, MER-C berusaha untuk memberikan bantuan sesuai kebutuhan di lapangan. Pada bulan Agustus, MER-C menyalurkan bantuan sembako berupa beras sebanyak 34 karung dengan berat 15 kg per karung dan minyak goreng sebanyak 50 kg, untuk Pengungsi Rohingya di Lhoksumawe. Kemudian MER-C juga membangun sumur dan fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) darurat untuk pengungsi Rohingya di Gampong Kulee, Kabupaten Pidie, Aceh.  Selain itu, MER-C juga menggelar pelayanan kesehatan yang juga sangat dibutuhkan, mengingat kondisi mereka hidup di tengah pengungsian yang kurang memadai.  

MER-C Salurkan Bantuan Sembako untuk Pengungsi Rohingya di Lhoksumawe

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menyalurkan bantuan sembako berupa beras sebanyak 34 karung dengan berat 15 kg per karung dan minyak goreng sebanyak 50 kg, untuk Pengungsi Rohingya di Lhoksumawe, Senin (20/8). Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Koordinator MER-C Aceh Ira Hadiati kepada Kepala Desa Ulee Blang Mane M Khalis Munadi, yang mengelola dapur umum untuk kebutuhan makanan pengungsi Rohingya di Desanya. Ira mengatakan, saat ini pengungsi Rohingya di Aceh tersebar di beberapa wilayah dan setiap kamp pengungsian memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Untuk itu, MER-C dalam hal ini berusaha memberikan bantuan sesuai kebutuhan dilapangan.   “Sebelumnya saya juga sudah memberikan bantuan di dua lokasi, yaitu di Mina Raya dan di Pidi. Pada tiap kamp pengungsi itu terdapat kebutuhan yang masing-masing berbeda. Di Mina Raya mereka butuh pakaian, di Pidi mereka butuh sanitasi, air bersih dan kamar mandi, kemudian di Lhoksumawe, saya dapat info karena mereka pindahan dari Sabang mereka membutuhkan makanan,” kata Ira. Sementara untuk pengungsi Rohingya di Aceh Timur, MER-C juga akan membagian bantuan berupa iqra dan Al Quran, tikar besar untuk mushalla dan solar cell portable untuk penerangan tenda pengungsi.   Kepala Desa Ulee Blang Mane mengatakan, dapur umum untuk Pengungsi Rohinya ini sudah berlangsung selama delapan bulan. Dapur umum ini dikelola Desa dengan 120 orang bergantian memasak untuk ratusan Pengungsi Rohingya. “Jadi sekarang yang bekerja disini lebih kurang 120 orang, kita buat shift sehingga dalam sehari bisa bekerja 18 orang,” kata Khalis. https://mer-c.org/images/2024/IMG-20240824-WA0008.jpg Saat ini sekitar 370 Pengungsi Rohingya dari dewasa hingga anak-anak masih ditempatkan di kamp penampungan sementara di gedung bekas kantor imigrasi Lhoksumawe.      

MER-C Bangun Sumur dan MCK Darurat untuk Pengungsi Rohingya di Kabupaten Pidie

Medical Emergency Rescue Committtee (MER-C) membangun sumur dan fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) darurat untuk pengungsi Rohingya di Gampong Kulee, Kabupaten Pidie, Aceh.  Pembangunan sumur dan MCK darurat dilakukan oleh warga Gampong Kulee bersama dengan beberapa orang pengungsi pada sabtu pagi (10/8).  Sumur dan MCK dibangun di bagian belakang tenda pengungsian yang berlokasi di bibir pantai Desa Kulee, Kecamatan Batee, yang telah dihuni oleh 172 pengungsi selama hampir satu tahun. Mereka terdiri dari anak-anak, orang dewasa hingga lansia.  Koordinator MER-C Aceh Ira Hadiati mengatakan, akibat kurangnya air bersih dan tidak memadainya fasilitas MCK, saat ini banyak pengungsi yang mengalami gangguan penyakit kulit seperti scabies dan beberapa penyakit kulit lainnya.  Sebelumnya telah ada sumur yang dibangun namun tercemar karena terlalu berdekatan dengan sumur limbah, sehingga tak lagi bisa digunakan karena kondisi airnya sudah tak layak. Ira mengatakan, MCK darurat dibangun menggunakan terpal, untuk menambah fasiltas kamar mandi, yang selama ini belum dibangun secara permanen dikawasan pengungsian ini.  MER-C mengajak masyarakat agar bisa membantu membangun fasilitas MCK dan fasilitas Mandi Cuci Sumur (MCS), sebagai sebuah kebutuhan dasar yang harus dipenuhi untuk para pengungsi. Sebelumnya, MER-C juga mengadakan pelayanan kesehatan serta penyaluran bantuan kemanusiaan bagi ratusan pengungsi Rohingya di Pengungsian Mina Raya, Kota Pidie, Aceh. MER-C membagikan bantuan berupa sembako, obat-obatan, bantuan paket higienis untuk dewasa dan anak-anak serta peralatan ibadah.

MER-C Adakan Layanan Kesehatan dan Bantuan Kemanusiaan untuk Pengungsi Rohingya di Aceh

ER-C Indonesia pada hari Sabtu (13/7) mengadakan pelayanan kesehatan serta penyaluran bantuan kemanusiaan bagi ratusan pengungsi Rohingya di Aceh.  Kordinator MER-C Aceh Ira Hadiati mengatakan, program bantuan dan layanan kesehatan ini dilakukan karena masih banyak pengungsi Rohingya yang mendarat di Aceh dengan kondisi memprihatinkan. “Terlepas dari masalah politik atau isu internasional tentang manusia kapal ini, MER-C selaku lembaga kemanusiaan yang bersifat netral tergerak untuk ikut serta menangani masalah ini. MER-C sendiri sudah pernah terjun langsung ke Rakhine, Myanmar, saat membangun Rumah Sakit Indonesia, jadi tahu bagaimana kondisi mereka di sana,” ujarnya. Terkait program bantuan lebih lanjut untuk pengungsi Rohingya ini, Ira mengatakan akan berkoordinasi dengan jajaran Presidium MER-C di Jakarta. Layanan kesehatan dilakukan oleh relawan dari MER-C Cabang Medan yang terdiri dari dua dokter umum yaitu dr. Miftahul Masruri sebagai Koordinator Lapangan dan dr. Aulia Rachman, tiga perawat Ade Andrian, S.Kep, Ns, M.Kep, Aspri Darmawan, S.Kep, Ns dan Bima Anggara, S.Kep serta satu dokter muda Norman Hakim, S.Ked. Kordinator Lapangan untuk pelayanan kesehatan pengungsi Rohingya, dr. Miftahul, mengatakan tim mendapati para pengungsi banyak mengalami penyakit kulit dan pernafasan karena kondisi lingkungan memang kurang bersih, di mana satu tempat pengungsian diisi oleh ratusan orang. “Para pengungsi sendiri menyambut hangat kedatangan Tim MER-C, karena memang mereka mengharapkan adanya bantuan. Kami sendiri tadi cukup kewalahan karena memang hampir semua ingin berobat dan hampir semua dari anak-anak hingga dewasa mengalami penyakit kulit atau pencernaan,” ujarnya. dr. Miftahul mengungkap, sudah ada tim medis yang memang ditugaskan untuk memberikan pelayanan bagi pengungsi Rohingya. Mereka bertugas dalam tiga shift dari Senin-Jumat, jadi saat relawan MER-C datang tim yang biasa bertugas sedang libur. Selain memberikan pelayanan kesehatan, relawan MER-C bersama Fakultas Bisnis Islam UIN Ar-Raniry juga membagikan bantuan berupa sembako dan obat-obatan, bantuan paket higienis untuk dewasa dan anak-anak yang berisi sikat gigi, handuk, sabun mandi, shampoo, serta pakaian bayi dan makanan tambahan untuk anak-anak, dengan total 237 paket. MER-C juga menyerahkan bantuan 7 buah kipas angin agar sirkulasi udara di pengungsian bisa lebih baik, serta peralatan ibadah seperti iqra dan Al Quran, mukenah, sarung, dan buku pengayaan agama. Saat ini para pengungsi membutuhkan fasilitas sanitasi yang lebih baik, karena yang ada sekarang masih belum memadai.  PBB menggambarkan etnis Rohingya sebagai kelompok yang paling teraniaya di dunia dan kelompok hak asasi manusia menyebut mereka menghadapi genosida. Menurut Amnesty International, lebih dari 750.000 pengungsi Rohingya, sebagian besar perempuan dan anak-anak, meninggalkan Myanmar dan menyeberang ke Bangladesh setelah pasukan Myanmar melancarkan tindakan keras pada Agustus 2017, sehingga menambah jumlah pengungsi Rohingya di Bangladesh menjadi lebih dari 1,2 juta orang. Setiap tahun, ribuan warga Rohingya juga meninggalkan Myanmar, mempertaruhkan nyawa dalam perjalanan laut yang panjang dengan kondisi kapal yang buruk, untuk bisa mencapai Malaysia atau Indonesia.

MER-C Salurkan Kurban Ke Panti Asuhan, Pesantren dan Masjid di Papua Barat Daya

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) melalui Program Kurban Peduli Papua menyalurkan total 8 ekor sapi di Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. Tempat penyaluran hewan kurban di antaranya; Panti Asuhan Putra Putri Papua Muslim, Masji Al Muttaqin, Pondok Pesantren Darul Istiqomah, Hj. Aliyah Baswedan Al Munawwarah HBM Islamic Center, Pondok Pesantren Hidayatullah, Pondok Pesantren Roudlotulkhuffadz dan Pondok Pesantren Baitul Mualaf. Penerima hewan kurban adalah pesantren dan panti asuhan yang selama ini mendapatkan pelayanan mobile clinic rutin setiap bulan dari MER-C. Koordinator MER-C Papua dr. Zackya Yahya mengucapkan terimakasih kepada para sohibul kurban yang telah menyalurkan kurbannya untuk warga Papua. “Kepada sohibul qurban saya sebagai Koordinator MER-C Papua menyampaikan terimakasih, jazakumullah khoir wa barakallahu fiikum semoga kita semua tetap istiqomah dalam memberikan kemanfaatan buat ummat, serta dapat meneladani  ketaatan Nabi Ibrahim dan Ismail terhadap perintah Allah,” ujarnya. Kurban untuk Papua merupakan program tahunan MER-C untuk membantu Muslim di wilayah Papua. MER-C terus melanjutkan dan mengembangkan bantuannya di Papua khususnya Papua Barat Daya yang telah berjalan hampir 18 tahun melalui program “Sehat untuk Papua”, seperti Mobile Clinic ke wilayah-wilayah terpencil, khitanan massal maupun program kemanusiaan lainnya seperti paket bantuan sembako, bantuan Ramadhan dan Idul Fitri serta bantuan kurban.

MER-C Papua Lakukan Mobile Clinic ke Pesantren Baitul Muallaf

Tim Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) di Papua terus melakukan program mobile clinic, salah satunya ke Pesantren Baitul Mualaf di Kabupaten Sorong. Mobile clinic di pesantren yang membina sekitar 300 mualaf beserta keluarganya itu telah dilakukan Tim MER-C sejak dua bulan lalu. Pimpinan Pesantren Baitul Muallaf, Hono Salendro, mengucapkan terima kasih atas kehadiran MER-C. Ia mengatakan pengobatan melalui mobile clinic yang digelar setiap bulan ini sangat membantu. Dengan adanya mobile clinic, kini mereka tidak lagi pergi jauh dan mengantre ke puskesmas ketika ada yang sakit. “Adanya pemeriksaan MER-C setiap bulan saya sangat sangat senang dan terbantu, khususnya jama’ah kami,” katanya. Ia mengungkap, tidak hanya santri Baitul Muallaf, banyak warga sekitar yang juga merasakan manfaat dari mobile clinic ini. Untuk itu mereka juga sangat berterima kasih kepada MER-C.Hono mengaku, setiap ia keluar dan bertemu warga, banyak yang menanyakan kapan lagi pemeriksaan dari MER-C dilakukan. Selain di Baitul Muallaf, Tim MER-C di Papua juga rutin menggelar mobile clinic di sejumlah tempat yaitu, Pesantren Alam Inspirasi, Pesantren Darul Istiqomah, Pesantren Raudatul Khufaz, Pesantren Hidayatullah dan Panti Asuhan Sinar Kasih. Mobile clinic juga dilakukan hingga ke pelosok wilayah Papua Barat Daya seperti klalin 4, klalin 6, klalin 2, Arar kampung, Katapop 1, Modan 1, Modan 2 dan Rawa Sugi.MER-C telah hadir di Papua selama 18 tahun melalui program Sehat untuk Papua. Tidak hanya mobile clinic, MER-C juga mengadakan kegiatan sunatan masal, kurban untuk Papua, bantuan paket sembako, bantuan Ramadhan dan Idul Fitri,  serta program kemanusiaan lainnya. Rekening Donasi Sehat untuk Papua:BSI, 8111 929.620BCA, 686.066.6608Atas nama:Medical Emergency Rescue Commmittee

Silahkan bertanya?