Lima Hari Bertugas, Relawan MER-C Beri Sejumlah Bantuan kepada Korban Banjir Sumbar

Tim Relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) bertugas selama lima hari di lokasi bencana banjir lahar dingin dan tanah longsor di Padang, Sumatera Barat untuk memberikan sejumlah bantuan kepada para korban. Tim bertugas dari tanggal 15-20 Mei 2024. MER-C mengirimkan empat relawan dari pusat yaitu Iis Islamiah (Ketua Tim), dua dokter umum yaitu dr. Asfianti Eka Pratiwi dan dr. Ilham Wahyu, serta satu perawat Rina Hertanti, AMK. Di Padang, bergabung Tim lokal yang juga berjumlah empat orang; dr. Yusri Dianne, SpA(K) yang juga merupakan Pembina MER-C Padang, Ir. Zirma Juneldi, Msi, Hanifah Farhatal ‘Aisy dan Melky Anggara. Selama bertugas Tim berkordinasi dengan Dinas Kesehatan setempat untuk memberikan bantuan pengobatan yang dilakukan di posko atau bergerak mengunjungi rumah-rumah warga. Banyak korban memilih untuk tinggal di rumah kerabat nya daripada pengungsian yang telah disediakan. Selain itu, Tim juga melakukan kegiatan trauma healing di Nagari Parambahan, Kecamatan Lima Kaum yang diikuti sekitar 40 anak-anak di pengungsian. Kegiatan dipimpin langsung oleh dr. Yusri Dianne, SpA(K). Salah satu relawan, dr. Ilham Wahyu mengatakan, berdasarkan hasil assestment di lapangan saat ini para korban sangat membutuhkan bantuan psikolog karena banyak yang mengalami trauma pasca terjadinya bencana.Sedangkan untuk pengobatan baik luka-luka dan penyakit lainya sudah terpenuhi oleh tenaga dari dinas kesehatan setempat. Lebih lanjut, dr. Ilham mengatakan tantangan saat menjalankan misi kali ini adalah luasnya wilayah yang harus dijangkau oleh Tim, sehingga dibutuhkan lebih banyak relawan. Banjir bandang dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah Sumatera Barat pada Sabtu (11/5/2024) dan Minggu (12/5/2024). Banjir dipicu oleh hujan lebat dan meluapnya aliran sungai yang sebagian besar berhulu di Gunung Marapi. Banjir diperparah dengan terbawanya material vulkanik dari Gunung Marapi melalui sungai karena hujan lebat di sekitar puncak. Terdapat lima kabupaten/kota di Sumatera Barat yang terdampak banjir lahar, yakni Kabupaten Agam, Kabupaten Tanah Datar, Kota Padang Panjang, Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Padang.
Relawan MER-C Berangkat ke Mentawai untuk Bangun Sarana Ibadah dan Sekolah

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mengirim tim untuk menindak lanjuti program kemanusiaan pembangunan sarana Ibadah, renovasi sarana pendidikan serta fasilitas pendukungnya di Dusun Muara Sikabaluan, Desa Sikabaluan, Kecamatan Siberut Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Tim yang beranggotakan tujuh orang berangkat dari Jakarta pada hari Senin (20/5/2024) dan akan bertugas kurang lebih selama dua bulan. “Hari ini, Senin 20 Mei 2024 kami bersama 6 orang relawan MER-C akan melaksanakan program kemanusiaan dalam negeri pembangunan sarana ibadah dan renovasi sekolah bersama fasilitas pendukungnya,” ujar Ketua Tim Khoirul Mustofa. “Inshaa Allah kita akan tempuh dari Jakarta menuju Padang, kemudian dari Padang menuju Desa Sikabaluan tepatnya di Dusun Muara Sikabaluan Kecamatan Siberut Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai menggunakan Kapal Mentawai Fast kurang lebih 3-4 jam perjalanan laut,” tambahnya. Ia mengatakan, pembangunan akan langsung dimulai begitu tim tiba. Material untuk pembangunan sudah tersedia karena sudah dipesan dari jauh hari. Selain itu, Tim juga membawa sejumlah peralatan pembangunan yang dibutuhkan di lapangan. Ia mengungkapkan, karena wilayah ini rawan gempa bumi, maka material yang dipilih adalah kayu yang lebih tahan dan aman saat terjadi gempa. “Mohon doa urusan ini diberi kelancaran oleh Allah dan kami kembali dengan selamat,” ujar Mustofa. Sebelumnya, MER-C menandatangani nota kesepahaman (MOU) dengan Yayasan Pembina Islam Mentawai (YAPISMEN) untuk bantuan renovasi sekolah, pembangunan sarana ibadah, dan bangunan pendukung lainnya yang berada di MTs.S. Al Muhtadin, di Dusun Muara Sikabaluan, Desa Sikabaluan, Kecamatan Siberut Utara, Kab. Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Jumat (05/01/2024). Kemudian MER-C mengrimkan dua orang relawannya pada akhir 2023 selama hampir dua pekan, untuk meninjau lokasi pembangunan.
MER-C Kirim Tim Bantu Korban Banjir dan Tanah Longsor Sumbar

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) hari Rabu (15/5) mengirimkan Tim untuk membantu korban banjir lahar dingin Gunung Marapi maupun banjir bandang di tiga wilayah di Padang, Sumatera Barat. Tim yang berangkat berjumlah empat relawan yang terdiri dari Iis Islamiah (Ketua Tim), dua dokter umum yaitu dr. Asfianti Eka Pratiwi dan dr. Ilham Wahyu, serta satu perawat Rina Hertanti, AMK. Di Padang, Tim akan bergabung dengan relawan lokal MER-C di sana salah satunya adalah dr. Yusri Dianne, SpA(K) yang juga merupakan Pembina MER-C Padang. Salah satu anggota Tim, dr. Asfianti mengatakan, Tim akan bertugas selama satu pekan untuk menolong para korban serta melakukan assessment untuk memutuskan bantuan lanjutan. “Keberangkatan Tim ini untuk melakukan assessment di lapangan, guna menentukan apa yang dibutuhkan, baik medis atau perlengkapan dan bantuan lainnya,” kata Asfianti. “Sekarang kita bawa obat-obatan dasar terlebih dahulu seperti obat diare, gatal-gatal dan batuk-pilek. Karena saat ini yang terjadi adalah bencana banjir, biasanya penyakit yang banyak ditemukan adalah diare dan gatal-gatal, untuk itu kita bawa semua obat-obatnya,” ujarnya. Terkait pengiriman tim berikutnya, ia mengatakan hal ini akan diputuskan setelah hasil assessment dan arahan dari Presidium MER-C. Banjir bandang dan tanah longsor melanda sejumlah wilayah Sumatera Barat pada Sabtu (11/5/2024) dan Minggu (12/5/2024). Banjir dipicu oleh hujan lebat dan meluapnya aliran sungai yang sebagian besar berhulu di Gunung Marapi. Banjir diperparah dengan terbawanya material vulkanik dari Gunung Marapi melalui sungai karena hujan lebat di sekitar puncak. Terdapat lima kabupaten/kota di Sumatera Barat yang terdampak banjir lahar, yakni Kabupaten Agam, Kabupaten Tanah Datar, Kota Padang Panjang, Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Padang. Dikutip dari laman resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), data mutakhir berdasarkan laporan Pusat Pengendalian dan Operasi (Pusdalops) BNPB hari ini per pukul 18.35 WIB, jumlah korban meninggal dunia tercatat 58 orang, sementara korban hilang bertambah dari 27 menjadi 35 orang dalam pencarian. Selain itu, untuk keluarga terdampak berjumlah 1.543 KK dan 33 orang mengalami luka-luka. Pusdalops dan BPBD setempat masih terus melakukan pengkajian dan pemutakhiran data menyusul masih dilaksanakannya proses pencarian dan evakuasi korban. Dukungan dan donasi bagi Misi Kemanusiaan ini dapat disalurkan melalui: BCA, 686.0099339 BSI, 701.565.8899 Atas nama: Medical Emergency Rescue Committee
MER-C Buka Program Qurban Peduli Papua, Targetkan Jangkauan Wilayah Lebih Luas

Medical Emergency Rescue Committtee (MER-C) kembali membuka program Qurban Peduli Papua 2024, dengan target wilayah pembagian lebih luas dan penerima daging kurban lebih banyak. Harga hewan kurban untuk program ini, satu ekor sapi Rp. 22.4 juta dengan program patungan tujuh orang, Rp 3.2 juta per orang. Masyarakat Indonesia yang berniat berqurban di Papua dapat menghubungi Call Center MER-C di no 0811990176. Batas akhir program ini Rabu, 12 Juni 2024. “Tahun ini MER-C menargetkan lebih banyak sapi yang bisa dibagikan, sehingga lebih banyak orang yang menerima manfaat dari Program Qurban ini,” kata Koordinator MER-C Cabang Papua dr. Zackya Yahya, SpOk. Qurban Peduli Papua merupakan program tahunan MER-C untuk membantu warga Muslim di wilayah Papua. Tahun ini rencananya akan dibagikan ke sejumlah kampung muslim dan pesantren di wilayah Papua Barat Daya. Zackya mengatakan, salah satu tempat yang ditargetkan menerima kurban adalah Pesantren Baitul Mualaf, yang saat ini membina sekitar 300 mualaf. “Karena targetnya lebih banyak yang bisa kita bagikan, untuk itu kita informasikan lebih awal sehingga kita masih punya waktu bagi para sohibul qurban atau donatur yang mau membagikan qurbannya di wilayah Papua Barat Daya ini,” ujarnya. MER-C terus melanjutkan dan mengembangkan bantuannya di Papua, khususnya Papua Barat Daya yang telah berjalan hampir 18 tahun, baik bantuan kesehatan seperti program “Sehat untuk Papua”, Mobile Clinic ke wilayah-wilayah terpencil, maupun program kemanusiaan lainya seperti paket bantuan sembako, bantuan Ramadhan dan Idul Fitri serta program kurban.
Cerita Sehat untuk Papua MER-C yang Telah Berjalan 18 Tahun

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) terus berbkomitmen menjalankan misi kemanusiaan baik di luar negeri hingga ke pelosok Indonesia. Hadir di tengah masyarakat membutuhkan, yang terdampak akibat bencana alam, perang ataupun konflik. Salah satu program kemanusiaan MER-C yang telah berjalan sejak 2006 atau selama 18 tahun adalah “Sehat untuk Papua”. Relawan medis MER-C hadir langsung di tengah masyarakat Papua untuk memberikan pelayanan kesehatan. Salah satu pelayanan yang rutin dilakukan MER-C di Papua adalah pengobatan mobile clinic ke kampung-kampung yang membutuhkan secara rutin setiap bulannya. Salah satu Kampung yang menjadi sasaran mobile clinic MER-C adalah Kampung Arar, di Pulau Arar, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. Pada awal mobile clinic tahun 2008 di Kampung ini, pengobatan masih dilakukan di rumah salah seorang warga. Namun sejak beberapa tahun terakhir pengobatan sudah bisa dilakukan di balai desa, sumbangan dari salah satu CSR perusahaan yang ada di wilayah Kabupaten Sorong. Perjalanan yang dilakukan relawan dari posko sampai ke lokasi memerlukan waktu sekitar 30 menit via darat dengan motor untuk sampai ke pelabuhan dan dilanjutkan 30 menit dengan perahu sampai ke lokasi Kampung Arar. MER-C dalam menjalankan misinya memiliki prinsip bahwa semua orang memiliki hak yang sama. Untuk itu, saat memberikan pelayanan MER-C tidak membedakan ras, suku atau agama. Begitupun selama melakukan pelayanan di Kampung Arar yang masyarakatnya terbagi di dua lokasi yaitu kampung muslim dan non-muslim. Keduanya mendapatkan pelayanan yang sama dari MER-C. Tidak hanya di Kampung Arar, mobile clinic yang dilakukan MER-C Papua terus memperluas jangkauan pelayanan kesehatan di wilayah Kabupaten Sorong dan Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat. Tantangan yang dihadapi di sejumlah wilayah hampir sama, yaitu akses dan medan yang dilalui cukup berat. Beberapa akses ke kampung-kampung masih harus menggunakan perahu atau kapal. Melalui program “Sehat untuk Papua”, MER-C juga memberikan berbagai bantuan lainnya seperti sunat masal, pembagian paket sembako Ramadhan dan qurban untuk Papua. Masyarakat juga bisa ikut berkontribusi dalam program Sehat untuk Papua dengan cara berdonasi, sehingga lebih banyak wilayah terpencil di Papua khususnya Papua Barat Daya yang masyarakatnya bisa mendapatkan bantuan medis secara rutin dan terus menerus. Dukungan & Donasi Program “Sehat untuk Papua” melalui: BCA, 686.066.6608 BSI, 8111 929.620 Atas nama: Medical Emergency Rescue Committee
Bantu Korban Bencana Banjir dan Longsor di Pesisir Selatan Sumbar, MER-C Turunkan Tim Relawan dari Dua Cabang

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) kembali mengirimkan dua Tim Relawan ke lokasi bencana banjir dan longsor di Pesisir Selatan, Sumatera Barat pada hari Ahad (10/3). Tim MER-C Cabang Padang yang diketuai Dr. dr. Yusri Dianne Jurnalis, SpA(K) bersama Ir. Zirma Juneldi, MSi, Isra Monalisa, S.Psi dan Furqon berangkat lebih dulu menuju lokasi dengan membawa berbagai bantuan logistik dan obat-obatan. Kemudian menyusul Tim MER-C Cabang Medan yang terdiri dari 9 orang relawan medis. Sementara Tim yang diterjunkan membawa bantuan logistik berupa air mineral, kasur matras, selimut, mantel hujan, serta bahan makanan seperti beras, mie instan, minyak goreng, gula, cabe, ikan asin, kentang, teh dan minuman serta biskuit. dr. Riri mengatakan, Kabupaten Pesisir Selatan, merupakan daerah paling terdampak, di mana posko MER-C didirikan di Nagari Lubuk Nyiur, yang sekaligus menjadi posko pengobatan. Ia menuturkan, perjalanan menuju lokasi bencana sempat terhambat macet selama tiga jam di Barung-barung, Belantai dan Duku. “Tadi malam sudah ada yang sakit dan minta obat, kami sampai di Posko setelah maghrib. Pagi ini mulai jam 9 kami buka posko pengobatan dan pembagian logistik berupa beras, gula, minyak, biskuit, air mineral, selimut, matras untuk tidur, dan lainnya,” ujar dr. Riri. Ia mengungkap, karena jembatan putus dan belum ada bantuan logistik dari Pemerintah, sedangkan banyak kasur dan beras warga terendam air maka bantuan bagi yang membutuhkan segera dibagikan oleh Tim MER-C. dr. Riri juga mengatakan, saat ini air PDAM mati dan jarang penduduk yang memiliki sumur jadi ketersediaan air bersih sangat terbatas. Salah satu daerah, Lubuk Nyiur Batang Kapeh, terisolir karena akses jalan keluar hanya bisa jalan kaki atau menggunakan motor akibat jembatan putus “Air bersih sulit didapat, saat ini pemerintah fokus pembersihan lumpur dan jalan yang rusak oleh banjir,” katanya. Selain banjir, hujan lebat juga memicu terjadi tanah longsor. BPBD setempat menyebutkan material longsor telah menghambat akses jalan. Sementara BNPB mencatat setidaknya 26 orang warga meninggal dunia 11 lainnya masih dilaporkan hilang akibat banjir dan longsor yang melanda 9 kabupaten 3 kota di Sumbar pada Kamis (7/3) lalu. Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, Sumbar, telah menetapkan masa tanggap darurat bencana banjir bandang selama 14 hari terhitung sejak 8 Maret 2024.
Badan Pengelola Migas Aceh Serahkan Donasi untuk Palestina kepada MER-C

Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) menyerahkan bantuan untuk rakyat Palestina yang hingga kini masih terus digempur pasukan Zionis Israel, kepada Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) sebesar 150 juta rupiah. Penyerahan donasi dilakukan langsung oleh Wakil Kepala BPMA Muhammad Najib kepada koordinator MER-C Aceh Ira Hadiati Senin pagi (19/2) di gedung BPMA. Penyerahan bantuan kemanusiaan juga dihadiri oleh para pimpinan sejumlah perusahaan migas yang beroperasi di wilayah Aceh serta disaksikan utusan dari Persatuan Wartawan Indonesia Aceh dan Ikatan Jurnalis Tv Indonesia (IJTI) Aceh. Muhammad Najib mengatakan, pengumpulan donasi dimulai dari keprihatinan para pegawai BPMA atas penderitaan yang dialami masyarakat Palestina akibat Agresi yang dilakukan oleh Zionis Israel. Inisiatif pengumpulan donasi ini akhirnya disebarkan ke sejumlah perusahaan migas lainnya, hingga berhasil mengumpulkan donasi sebesar 150 juta. Ia berharap, bantuan ini diharapkan akan terus berlanjut dan menular ke perusahaan lainnya mengingat kehancuran yang dialami Palestina sangat besar. Najib mengungkapkan, dipilihnya MER-C untuk menyalurkan bantuan dikarenakan Lembaga Kemanusiaan ini dianggap sudah memiliki komitmen tinggi menangani misi kemanusiaan di Jalur Gaza. MER-C memiliki rekam jejak yang cukup luas dan dikenal amanah dalam menjalankan bantuan kemanusia
Lhokseumawe Peduli Pengungsi Palestina, Sumbang 300Juta

Pemerintah Kota (Pemko Lhokseumawe) bersama Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) berhasil mengumpulkan dana bantuan kemanusiaan bagi pengungsi Palestina di Gaza Utara. Selasa (13/03/2024) serah terima berlangsung di Ruang Kerja Wali Kota Lhokseumawe. Dalam penandatanganan berita acara tersebut, secara simbolis diserahkan dana sumbangan yang telah dikumpulkan sebesar Rp. 300.728.500,- masing-masing sebesar Rp. 40.132.000,- dari jajaran ASN Pemko Lhokseumawe, Rp. 191.415.000,- dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, dan Rp. 69.181.500,- dari kantor Cabang Dinas Aceh di Kota Lhokseumawe. Penjabat (Pj) Walikota Lhokseumawe A Hanan, SP, MM menyampaikan rasa terima kasih kepada jajaran seluruh ASN Kota Lhokseumawe, Cabang Dinas Aceh Kota Lhokseumawe, dan semua yang memberikan kontribusi dan perhatian khusus terhadap masyarakat Palestina. “Kita doakan sumbangan ini dapat mengurangi sedikit beban daripada rakyat Palestina, semoga menjadi amal jariyah untuk kita semua” harap Pj Wali Kota. Dr. Damanhur, LC, MA relawan MER-C Kota Lhokseumawe sebagai penghubung tim MER-C GAZA sampaikan bahwa bantuan tersebut akan diberikan ke jalur Gaza Utara yang saat ini masih terisolasi. Dr. Damanhur sebutkan seluruh bantuan tersebut diserahkan kepada masyarakat Gaza Palestina, sedangkan biaya operasional para relawan MER-C bersumber dari founder MER-C dan hibah lainnya. “Inilah alasan kita memilih MER-C karena ketepatan dana yang diterima dari masyarakat disalurkan langsung kepada rakyat Palestina” imbuhnya.Saat ini pengungsi tidak punya apa-apa. Bantuan sepiring makanan siang yang diberikan sangat bermakna untuk mereka. Selain tidak punya makanan dan minuman, Damanhur mengungkap pengungsi di sekitar RS Indonesia di Gaza Utara juga memerlukan kasur, tikar, selimut atau pakaian hangat karena Gaza sedang memasuki musim dingin.
Taman Iskandar Muda Serahkan Donasi untuk Palestina dari Masyarakat Aceh Melalui MER-C

Pengurus Pusat Taman Iskandar Muda (PPTIM) menyerahkan donasi dari masyarakat Aceh yang menetap di Jakarta dan sekitarnya, sebesar Rp 401.100.000. untuk rakyat Palestina di Gaza melalui MER-C. Penyerahan secara simbolis dilakukan Ketua Umum PPTIM Muslim Armas didamping Sekretaris Umum PPTIM Yusra Huda kepada Ketua Presidium MER-C dr. Sarbini Abdul Murad di Wisma TIM, Jalan Perahu, Guntur, Setiabudi, Jakarta Selatan, Sabtu (3/2/2024). Muslim Armas mengatakan, pihaknya menyalurkan bantuan melalui MER-C karena merupakan lembaga yang terdepan dalam membantu masyarakat Palestina. “Memang ini proses diskusi yang cukup panjang, jadi paling utama kita ingin menyalurkan bantuan ini kepada lembaga yang sudah terbukti, yang sudah eksis. Kita tidak berani menyalurkan kepada lembaga yang ternyata nanti tidak pernah berbuat di Palestina,” kata Armas. Ia juga mengatakan, sebelum rapat Pengurus TIM untuk memutuskan penyaluran dana, mereka mengundang MER-C untuk menjelaskan terkait penyaluran dana ke Palestina. “Kami mendapat penjelasan terkait pendirian Rumah Sakit Indonesia. Salah satu yang juga membuat kita terdorong karena MER-C telah mendirikan Rumah Sakit Indonesia dan waktu itu bantuan dari masyarakat Aceh cukup besar dan ada dua ruangan di Rumah Sakit itu yang diberi nama Teuku Cik Ditiro dan Cut Nyak Dien. Nah ini kita lanjutkan lagi donasi melalui MER-C,” tuturnya.Ia berharap bantuan yang diberikan ini dapat meringankan penderitaan masyarakat Palestina. Ketua Presidium MER-C dalam sambutanya mengucapkan terima kasih dan juga rasa bangga kepada masyarakat Aceh yang telah mengumpulkan donasi untuk warga Palestina. Sarbini mengungkap, hal ini juga pernah dilakukan Provinsi Aceh yang diserahkan Gubernur saat itu, Zaini Abdullah untuk pembangunan Rumah Sakit Indonesia. “Untuk itu bantuan ini akan kami salurkan untuk Pembangunan RS Indonesia yang pada hari ini secara biadab dilumpuhkan oleh Israel. Maka kebiadaban ini harus kita ganti nanti,” ujarnya.“Saya percaya kita semua cinta Palestina, kita semua siap membantu Palestina. Insyaallah genjatan senjata bisa terwujud secara permanen dan insyaallah kita bisa mendapatkan akses ke jalur Gaza,” tambahnya. “Sekali lagi saya ucapkan terima kasih kepada TIM semoga ini menjadi amal soleh kita bersama, jihad kita bersama,” kata Sarbini. Taman Iskandar Muda merupakan paguyuban masyarakat Aceh yang berdomisili di Jakarta dan sekitarnya. Paguyuban ini sudah aktif selama lebih dari 70 tahun.
MER-C – YAPISMEN Tanda Tangani MoU Bantuan Renovasi Sekolah dan Pembanguan Sarana Ibadah di Mentawai

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) menandatangani nota kesepahaman (MOU) dengan Yayasan Pembina Islam Mentawai (YAPISMEN) untuk bantuan renovasi sekolah, pembangunan sarana ibadah, dan bangunan pendukung lainnya yang berada di MTs.S. Al Muhtadin, di Dusun Muara Sikabaluan, Desa Sikabaluan, Kecamatan Siberut Utara, Kab. Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Jumat (05/01/2024). Penandatanganan dilakukan oleh Dr. dr. Yusrie Dianne Jurnalis, Sp.A (K) mewakili MER-C selaku Pembina MER-C Sumatera Barat, dengan Ustadz Bayu Pringadi selaku Pembina YAPISMEN. Selain sarana ibadah (musala) dan renovasi sekolah, MER-C juga akan membangun fasilitas pendukung lainya seperti posko kesehatan serta rumah singgah, yang akan digunakan menjadi pusat kegiatan kemanusiaan MER-C di wilayah Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. *Latar Belakang Program Bantuan Mentawai* Presidium MER-C Ir. Faried Thalib mengatakan, program bantuan ke Mentawai dibuka saat terjadi gempa tahun 2007. “Program ini cukup panjang perjalanannya. Jadi 2007 ada gempa kita coba membantu. Itu gempa yang cukup dahsyat ya. Setelah itu tsunami tahun 2010, kita berbulan-bulan di wilayah Pariaman, di Koto Tinggi. Kita siapkan rumah sebanyak puluhan unit kemudian merenovasi masjid, memperbaiki sekolahan, madrasah, puskesmas. Saya sendiri ketika itu tiga sampai empat bulan bolak-balik ke wilayah itu,” ujarnya. Faried mengatakan, gempa di Mentawai ini cukup sering terjadi. Potensi gempa di Kepulauan Mentawai bersumber dari zona megathrust maupun pada zona sesar Mentawai. “Akhirnya MER-C mulai fokus ke sana dan tim relawan sudah beberapa kali melakukan pengobatan untuk yang terdampak sampai ke daerah-daerah terpencil. Tim relawan datang berkala dan saat itu tidak punya tempat. Untuk posko bekerjasama dengan penduduk atau puskesmas setempat. Kemudian donasi untuk Mentawai masih dibuka dan kami masih terus aktifkan MER-C cabang Padang,” katanya. “Akhirnya sebelum pandemi, sekitar tahun 2018 kami mulai memikirkan bantuan yang nantinya bisa berkelanjutan dan berkepanjangan. Apakah itu rumah ibadah, puskesmas atau tempat-tempat pendidikan,” tutur Faried. Sampai tahun 2023, ia mengatakan MER-C sudah mulai aktif dimana sebelumnya fokus terpecah ke beberapa isu dan program internasional. Kemudian diputuskan untuk mengirimkan relawan ke Mentawai selama hampir dua pekan untuk meninjau lokasi pembangunan. “Kita kirim dua orang, Khoirul Mustofa dan Rohmat, relawan yang memang sudah berpengalaman untuk melakukan survei dan mencari lokasi pembangunan. Setelah sampai di Mentawai dan meninjau sejumlah lokasi, akhirnya diputuskan dibangun di Desa Sikabaluan, Kecamatan Siberut Utara, Kab. Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, di atas tanah wakaf seluas 5.000 m². *Target Pembangunan dan Renovasi* “Kondisi bangunan sekolah saat ini sangat memprihatinkan. Kalau kata tim konstruksi, ini sudah stadium empat. Hampir roboh,” ujarnya. Lebih lanjut ia menjelaskan, MER-C akan merenovasi bangunan sekolah yang berada di atas lahan wakaf, membangun musala di lahan tersebut seluas 150 m², lalu rumah singgah dengan luas lahan sekitar 150 m², dan juga pembangunan posko kesehatan dengan luas lahan sekitar 100 m². “Kita sepakat untuk membangun dari kayu karena ini yang paling ideal. Selain harganya cukup murah, ketika ada gempa juga lebih elastis dan lebih tahan,” ungkapnya. Faried memperkirakan total biaya pembangunan ini sekitar 1 miliar rupiah. Ia juga mengatakan, saat ini para relawan di divisi konstruksi sudah bersiap dan sedang menunggu tahap pengerjaan kayu yang diperkirakan selesai dalam waktu 45 hari, terhitung sejak MOU ditandatangani. “Targetnya pembangunan musala dapat segera selesai sehingga bisa digunakan pada bulan Ramadhan. Kami ingin segera selesai karena dari pihak pengurus sekolah juga merasa sangat bersyukur dan terharu, sebab sejak 20 tahun berdiri belum pernah ada perbaikan. Namun nanti kita lihat lagi perkembangannya,” tambahnya. Donasi untuk Misi Kemanusiaan Mentawai dapat disalurkan melalui:BSI, 3032000922Atas nama:Medical Emergency Rescue Committee Konfirmasi donasi dapat melalui Call Center MER-C (0811990176) dengan mengirimkan bukti transfer dan nama donatur.