MER-C Sayangkan Tindakan Represif Polisi terhadap Mahasiswa di AS

Medical Emergency Rescue Committtee (MER-C) menyayangkan tindakan represif polisi terhadap mahasiswa di Amerika Serikat yang menggelar aksi demo untuk mendesak dihentikannya genosida Israel di Jalur Gaza, Palestina. Ketua Presidium MER-C dr. Sarbini Abdul Murad hari Jumat (3/5/2024) mengatakan, demo mahasiswa di sejumlah kampus ternama AS untuk meminta negara tersebut menekan Israel menghentikan serangan di Gaza ini menandakan mahasiswa yang mewakili kaum muda melihat dengan mata hati sehingga meraka paham apa yang dilakukan Israel dan didukung penuh AS adalah genosida. “Tapi yang disayangkan adalah respon polisi yang represif dalam menangani para demonstran sebagai kampium demokrasi. Apa yang dilakukan aparat terhadap para demonstran tidak mencerminkan wajah negara demokrasi,” kata Sarbini. “Dalam hal ini MER-C sebagai organisasi yang konsen dengan kemanusiaan menyerukan agar AS lebih persuasif dan mendengar apa yang disuarakan oleh mahasiswa,” tambahnya. Ia mengatakan, cara pendekatan represif akan menjadi catatan buruk demokrasi yang dipertontonkan AS di etalase dunia. “Sudah selayaknya pemerintah AS mendengarkan aspirasi mereka dan melakukan langkah cepat menghentikan kekejaman Israel di Palestina. Apabila AS mengabaikan tuntutan mahasiswa, kami khawatir gelombang besar ini akan lebih menggema ke seluruh dunia,” ujarnya. Al Jazeera melaporkan, protes yang dilakukan mahasiswa berlangsung damai dan sebagian besar penuh rasa hormat, namun ditanggapi dengan tindakan keras oleh banyak universitas di tengah tuduhan anti-Semitisme. Pihak kampus memanggil petugas keamanan yang datang menyerang massa dan menangkap paksa mahasiswa. Polisi Amerika menangkap lebih dari 900 orang dalam demonstrasi pro-Palestina yang dimulai di beberapa universitas di Amerika sejak tanggal 18 April lalu.
Relawan MER-C, Faried Zanjabil Berbagi Cerita saat Saksikan Langsung Serangan Israel ke Jalur Gaza

Relawan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Faried Zanjabil Al Ayubi hari Sabtu (30/3) membagikan ceritanya kepada peserta “Gemma Ramadhan bersama Shafwah Group”, saat menyakiskan langsung serangan Israel ke Jalur Gaza, Palestina. Ia mengatakan, sejak serangan Israel 7 Oktober lalu sudah tidak ada lagi tempat aman di Jalur Gaza. Mulai dari Gaza utara, tengah, Kota Gaza semua sudah hancur. Kini hanya tersisa Gaza selatan, yang terkahir juga terus mendapat serangan dari Israel. Bahkan pemerintah pendudukan Israel terus menyerukan serangan darat ke wilayah tersebut. Ia mengatakan, bersama dua relawan MER-C lainya Fikri Rofiul Haq dan Reza Aldilla Kurniawan mereka melihat langsung saat roket Israel menghantam mobil operasional MER-C yang sedang terparkir di Rumah Sakit Indonesia. Serangan itu juga mengakibatkan satu orang relawan lokal MER-C meninggal dunia. “Tidak ada tempat aman di Gaza, karena bahkan rumah sakit yang tidak boleh diserang pun, mereka serang. Salah satunya Rumah Sakit Indonesia,” ujarnya. Ia menceritakan, saat terjadi pengepungan tentara Israel ke Rumah Sakit Indonesia yang merupakan tumpuan terkahir warga Gaza, ia dan dua relawan lainya berada di sana bersama ratusan pasien, tim medis serta puluhan ribu pengungsi. “Saat itu suasananya sangat kacau dan mencekam. Selama pengepungan, kami menyelamatkan diri ke basement Rumah Sakit. Puluhan ribu warga Gaza yang mengungsi di sana kemudian hanya tersisa ratusan saja karena keluar menyelamatkan diri,” kata Faried.Tentara Israel yang selama empat hari bertahan di tank-tanknya menembaki lantai dua dan tiga Rumah Sakit dan mengakibatkan 12 pasien meninggal dunia. Mereka juga memaksa untuk segera mengosongkan rumah sakit. “Mereka menggunakan alasan bahwa ada trowongan pejuang Palestina di bawah Rumah Sakit untuk bisa melakukan serangan, padahal tujuan sebenarnya adalah mengusir paksa warga Gaza. Mereka melakukan Genosida” ujarnya. Akhirnya Faried bersama dua relawan lainya, para pasien, tim medis serta warga Gaza yang masih bertahan terpaksa keluar dan mengungsi ke Gaza selatan. Israel kemudian berhasil memasuki Rumah sakit dan menjadikanya markas selama 18 hari. Lebih lanjut ia mengatakan, Israel tidak pandang bulu saat melakukan serangan. Justru mereka menargetkan perempuan dan anak-anak yang merupakan kunci dari regenerasi bangsa Palestina. Ada banyak cerita bagaimana biadabnya Israel saat menargetkan perempuan dan anak-anak, yang menjadi korban terbanyak dalam perang ini. Namun setelah semua yang ia lewati dan beberapa perang yang dialami, Faried mengatakan tetap ingin kembali lagi ke Jalur Gaza. Menurutnya, sejak pertama kali tiba, Jalur Gaza sudah seperti kampung halaman, tidak terasa sebagai tempat asing.
MER-C: Bantuan Melalui Udara ke Gaza Tak Bermartabat

Droping bantuan melalui udara terpaksa dilakukan oleh sejumlah negara untuk dapat memberikan bantuan bagi warga di Jalur Gaza Palestina yang masih mengalami blokade dan agresi berkepanjangan. Penyaluran bantuan melalui udara sudah berhasil dilakukan oleh Yordania, UEA, Perancis dan Amerika Serikat. Yordania bahkan langsung Raja Abdullah yang turun mengkoordinasi droping bantuan melalui pesawat. Indonesia juga berencana mendrop bantuan kemanusiaan melalui udara ke Jalur Gaza. Hal ini disampaikan oleh Presiden RI, Joko Widodo setelah sulitnya menyalurkan bantuan kemanusiaan melalui jalur darat karena Israel tidak menginginkan bantuan kemanusiaan masuk ke Gaza. Namun, Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad justru menyayangkan penyaluran bantuan melalui udara ke Jalur Gaza dan tidak menyarankan hal serupa turut dilakukan oleh Pemerintah Indonesia. Ia berpendapat bahwa memberikan bantuan kemanusiaan melalui udara tidaklah bermartabat. “Langkah ini tidaklah bermartabat. Sangat memilukan nurani kita ketika melihat warga Gaza berkuruman dan berebut bantuan serta mempertaruhkan nyawa dengan mengejar parasut bantuan yang jatuh di laut serta saling kuat-kuatan dalam merebut bantuan yang tidak seberapa dibanding dengan kebutuhan mereka,” kata Sarbini.Bahkan pada Jumat (8/3/2024), setidaknya lima orang dikabarkan meninggal dunia dan 10 lainnya terluka akibat paket bantuan yang dijatuhkan dari udara menimpa warga di kamp Al Shati sebelah barat Kota Gaza. Untuk itu, Sarbini menyatakan bahwa cara seperti itu bukanlah suatu keputusan yang dapat membantu secara total persoalan kemanusiaan di Gaza. Tapi ironinya malah menggambarkan kekalahan dunia menghadapi sikap keras kepala Israel yang tidak peduli dengan tekanan dunia agar membuka akses bantuan kemanusiaan masuk ke Jalur Gaza.“Sampai kapan kita menonton drama kemanusiaan dengan Israel sebagai aktor dan Gaza sebagai korban,” ujarnya.Meski demikian, Sarbini menyampaikan bahwa niat Presiden patut diapresiasi namun perlu juga dikaji ulang efektifitas nya. Jangan sampai malah menimbulkan dan menambah korban di pihak warga Gaza.Sarbini malah menyarankan agar Indonesia mendirikan RS Lapangan di Rafah Mesir. “Mendirikan rumah sakit lapangan di Rafah Mesir adalah pilihan yang masuk akal dan memungkinkan dilakukan oleh Indonesia,” katanya. RS Lapangan menurut Sarbini dapat menjadi salah satu alternatif bantuan yang dapat diberikan Indonesia untuk turut mengatasi kelumpuhan sarana kesehatan di Jalur Gaza. Sarana kesehatan menjadi hal yang vital di tengah agresi yang masih terus berlangsung dan jumlah korban yang terus bertambah. Sementara rumah sakit di Mesir sebagai negara yang berbatasan langsung dengan Jalur Gaza juga sudah kewalahan menerima rujukan korban warga Gaza yang tak terbendung.
MER-C Bangun Networking Lewat Konferensi Pembangunan Kembali Fasilitas Kesehatan Gaza di Yordania
MER-C mengirimkan tiga relawan ke Yordania untuk berpartisipasi dalam konferensi internasional membangun kembali fasilitas kesehatan di Jalur Gaza. Melalui konferensi ini, MER-C membangun networking dengan NGO internasional dan asosiasi profesi medis dari berbagai negara serta pejabat pemerintahan. Networking ini nantinya akan dibutuhkan untuk program-program MER-C di Gaza dalam rangka membantu warga Palestina. Tidak hanya dalam hal pembangunan kembali Rumah Sakit Indonesia di Gaza, tetapi juga program kemanusiaan lainnya. “Pada saat konferensi, kami berdiskusi, memformulasikan bagaimana memobilisasi bantuan medis semaksimal mungkin pada saat perang dan mempersiapkan untuk membangun sistem kesehatan di Gaza setelah perang berakhir,” kata Ketua Tim dr. Arief Rachman. “Tetapi kita semua sadar hal yang paling utama saat ini adalah gencatan senjata, agar kita dapat memberikan bantuan medis atau bantuan kemanusiaan lainnya kepada warga Palestina. Konferensi ini adalah inisiasi awal untuk membangun fasilitas kesehatan di Gaza dan hasil dari konfrensi dituangkan dalam The Amman Declaration to Rebuild Health Sector in Gaza,” ujarnya. The 1st International Conference to Rebuild Health Sector in Gaza merupakan konferensi Internasional pertama untuk membangun kembali sektor kesehatan di Gaza yang diinisiasi oleh The Jordan Medical Association and the National Arab American Medical Association (NAAMA). Konferensi ini diselenggarakan bekerja sama dengan asosiasi, entitas dan serikat pekerja profesi, serta lembaga dari berbagai sektor yang mewakili lebih dari 25 negara. Konferensi ini menyoroti sektor kesehatan di Gaza pasca-konflik, menyajikan laporan rinci, studi lapangan dan rencana komprehensif untuk rekonstruksi dan pengoperasian sektor kesehatan di Gaza. Misi dari konferensi ini adalah memobilisasi dan membimbing komunitas medis global dalam memberikan dukungan ekstensif untuk menghidupkan kembali sistem layanan kesehatan yang tangguh di Gaza. “Kami memperkirakan adanya kebutuhan mendesak akan rumah sakit dan klinik lapangan segera setelah keadaan memungkinkan, mengingat konflik yang sedang berlangsung, ” kata Arief. “Pada tahap berikutnya, penekanan kami akan beralih ke pembangunan kembali rumah sakit, sekolah kedokteran dan berbagai fasilitas kesehatan yang telah dibongkar. Tujuan utama kami adalah menciptakan lingkungan yang aman dan terpelihara bagi penduduk lokal. Secara kolaboratif, kami berkomitmen untuk membangun kembali infrastruktur layanan kesehatan di Gaza demi masa depan yang lebih sehat dan tangguh,” tambahnya. Konferensi ini diakhiri dengan seruan untuk mengadakan pertemuan internasional kedua yang akan menggali lebih dalam kebutuhan dan persyaratan sektor kesehatan di Gaza secara kuantitatif, sembari membahas lebih lanjut inisiatif penggalangan dana dan sumber daya. Pertemuan kedua ini juga akan fokus pada tantangan dan kondisi khusus terkait perang, dengan mempertimbangkan tantangan unik lainnya terhadap ekosistem layanan kesehatan di Gaza.
Tim MER-C Berangkat ke Yordania untuk Ikuti Konferensi Pembangunan Kembali Fasilitas Kesehatan Gaza

Senin/5 Februari 2024, Tim MER-C bertolak ke Yordania untuk mengikuti konferensi terkait pembangunan kembali fasilitas kesehatan di Jalur Gaza yang hancur akibat serangan Israel. Tim yang berangkat terdiri dari tiga orang, yaitu Presidium MER-C Dr. Arief Rachman, SpRad, Relawan MER-C Marissa Noriti, S.Farm dan Relawan MER-C Cabang Medan Kipa Jundapri, S.Kep., Ners., M.Kep. “Insyaallah kita akan berangkat ke Amman, Yordania dalam rangka menghadiri konferensi membangun kembali fasilitas kesehatan di Jalur Gaza. Jadi konferensi ini diikuti berbagai organisasi internasional yang memang mempunyai concern membangun kembali fasilitas kesehatan di Gaza,” kata Marissa, salah satu anggota Tim yang berangkat ke Yordania. Ia mengatakan, di sana Tim akan melakukan kordinasi dengan berbagai pihak, sehingga diharapkan dengan mengikuti konferensi ini bisa membantu membuka jalan pembangunan kembali Rumah Sakit Indonesia di Gaza yang juga mengalami kerusakan akibat serangan Israel. “Sebenarnya kita ada agenda lain juga yaitu koordinasi dengan berbagai NGO, serta melihat situasi di sana. Kita juga sedang mencari jalan untuk masuk ke Gaza,” ujarnya. Marissa menambahkan, Tim sendiri rencananya berada di Yordania sekitar 1- 2 minggu, kemudian akan menyusun strategi kembali apa yang akan dilakukan setelah konferensi. “Nanti kita atur strategi lagi, apakah kita langsung kembali ke Indonesia atau bagaimana, nanti kita akan putuskan,” katanya.
Presidium MER-C: Boikot Produk Terafiliasi Israel Bagian dari Diplomasi Kemanusiaan
Presidium MER-C dr. Henry Hidayatullah mengatakan, pemboikotan terhadap produk-produk yang terafiliasai dengan Zionis Israel merupakan bagian dari diplomasi kemanusiaan untuk Palestina. Hal itu ia sampaikan saat menjadi pembicara dalam acara Milad Indonesia Halal Watch ke-11 dan Launcing Pemaparan Hasil Survei Pengetahuan, Sikap dan Efektivitas Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor 83 Tahun 2023 Tentang Boikot Produk Terafiliasi Israel terhadap Masyarakat Indonesia, Selasa (23/1) di Jakarta. “Boikot produk menjadi bagian dari diplomasi kemanusiaan, karena kita harapkan dengan boikot produk ini kemudian terjadi kerugian, sehingga suplai-suplai senjata menurun dan paling tidak agresi berhenti,” ujar dr. Henry. Ia mengatakan, MER-C sendiri telah melakukan upaya diplomasi kemanusiaan ini dengan mendirikan Rumah Sakit Indonesia di Jalur Gaza, dari bantuan masyarakat Indonesia. “Rumah Sakit ini kita dirikan dan menjadi Rumah Sakit Indonesia, untuk menunjukkan kepada dunia bahwa rakyat Indonesia bersama rakyat Palestina, dengan harapan Palestina akan Merdeka. Ini adalah diplomasi kemanusiaan,” ungkapnya. Rumah Sakit Indonesia yang resmi diserahkan untuk rakyat Palestina pada Januari 2016 ini mengalami kerusakan parah akibat serangan Israel pada Oktober lalu. Namun MER-C berkomitmen akan segera melakukan perbaikan saat situasinya memungkinkan. Lebih lanjut, dr. Henry mengatakan masyarakat masih membutuhkan adanya aturan turunan dari fatwa MUI terkait pemboikotan terhadap produk terafiliasi Israel, yaitu membuat daftar produk-produk tersebut. karena saat ini masyarakat mengidentifikasi sendiri produk yang diboikot termasuk MER-C. Namun menurutnya, fatwa ini telah membawa dampak positif dengan lahirnya kesadaran umat secara lebih luas untuk membeli produk alternatif dan menciptakan potensi untuk memproduksi produk seperti produk yang diboikot. dr. Henry juga menyerukan konsistensi untuk terus menggaungkan aksi boikot ini, karena selama ini boikot masih bersifat temporer. Ini tidak hanya konsistensi MUI tapi konsistensi masyarakat secara umum. Ia juga meminta Langkah serupa dari pemerintah. “Seluruh dunia sudah berteriak tapi Israel tidak bergeming, masih terus melancarkan agresinya. Oleh sebab itu, maka sepanjang hayat pula kita harus mendedikasikan diri untuk Palestina, sebagaimana Bung Karno (Presiden Pertama Indonesia) menyatakan, selagi rakyat Palestina belum Merdeka, maka rakyat Indonesia bersama rakyat Palestina,” ujarnya.
MER-C Apresiasi IAEA yang Tetapkan Palestina sebagai Sebuah Negara

MER-C mengapresiasi keputusan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) yang mengakui Palestina sebagai entitas negara. Keputusan ini muncul dalam pertemuan Konferensi Umum Tahunan IAEA (International Atomic Energy Agency) ke-67 yang berlangsung di Wina, Austria pada 25-29 September 2023 lalu. Konferensi Umum IAEA ke-67 dihadiri sekitar 2.000 delegasi dari 177 negara anggota. IAEA telah melakukan pemungutan suara mengenai rancangan resolusi penetapan negara Palestina terutama Republik Arab Mesir, yang mengajukan permintaan atas nama Negara Palestina. Resolusi ini diadopsi setelah dilakukan voting dengan suara mayoritas 92 negara mendukung, termasuk Indonesia, sementara 5 negara abstain dan 21 negara menolak. Menanggapi hal tersebut, Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad memberikan apresiasinya. Ia juga mengatakan bahwa ini adalah sebuah kemenangan diplomasi kemanusiaan. “Kami mengapresiasi keputusan IAEA dan seluruh anggota IAEA yang telah memberikan dukungan terhadap resolusi ini, termasuk Indonesia yang secara konsisten menunjukkan dukungannya pada Negara Palestina. Ini adalah sebuah kemenangan diplomasi kemanusiaan,” ujar Sarbini. Lebih lanjut Sarbini mengharapkan agar langkah ini diikuti oleh lembaga internasional lainnya. “Langkah berani ini mesti diikuti oleh lembaga internasional lainnya sebagai bentuk perlawanan dunia kepada apartheid dan penjajahan, khususnya yang telah dilakukan Israel terhadap Palestina,” tambahnya.
Ketua Presidium MER-C Berikan Orasi pada Aksi Damai Solidaritas untuk Palestina

Ketua Presidium MER-C Indonesia, dr. Sarbini Abdul Murad, memberikan orasi pada acara Aksi Damai Solidaritas untuk Palestina yang digelar oleh Aqsa Working Group (AWG) di Kedutaan Besar Palestina di Jakarta, Senin/29 Mei 2023. Dalam orasinya, Sarbini menyampaikan dua hal yang menurutnya perlu diperjuangkan bersama untuk Palestina. “Pertama, adalah memperjuangkan tanggal 15 Mei, yaitu Hari Nakba menjadi hari libur nasional di Indonesia,” ujar Sarbini. Menurutnya hal ini merupakan tanggung jawab rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina. Artinya rakyat Indonesia mengingat pengusiran rakyat Palestina. “Ini akan kita perjuangkan terus, semoga tahun depan 15 Mei bisa menjadi hari libur nasional,” harapnya. Lebih lanjut Sarbini mengatakan bahwa hal kedua yang perlu diperjuangkan untuk Palestina adalah adanya kurikulum sejarah tentang Palestina. Hal ini menurutnya agar penderitaan, pengusiran, penindasan terhadap bangsa Palestina akan menjadi sejarah yang diingat terus oleh generasi penerus dan pelajar-pelajar Indonesia, sehingga mereka mempunyai energi dan semangat untuk berjuang membebaskan Palestina. Pada kesempatan tersebut, Sarbini juga mengecam kekerasan yang terjadi di Tepi Barat dan di Jalur Gaza yang menurutnya diakibatkan oleh koalisi antara ultra nasionalis dan pemerintah Israel. Bahkan beberapa hari lalu, salah satu Menteri Israel, Itamar Ben-Gvir melakukan provokasi di Baitul Maqdis. Oleh sebab itu, di hadapan ratusan peserta Aksi Damai Solidaritas untuk Palestina, Sarbini mengajak agar rakyat Indonesia yang mempunyai tanggung jawab sejarah dan tanggung jawab konstitusi untuk terus mengingat bahwa ada satu negara yang sampai hari ini belum merdeka. “Kita harapkan, kita perjuangkan bersama sehingga Palestina merdeka sama seperti kita bangsa Indonesia,” pungkasnya. Aksi Damai Solidaritas untuk Palestina digelar untuk mengecam pertemuan Kabinet Pemerintahan Benjamin Netanyahu dan klaim Perdana Menteri Israel tersebut atas seluruh Yerusalem yang dipandangnya sebagai ibu kota abadi Israel dan tidak terbagi. Turut hadir memberikan sambutan dan orasi pada Aksi Damai Solidaritas untuk Palestina diantaranya adalah HE. Dr. Zuhair SM Al Shun (Duta Besar Palestina untuk Indonesia), KH. Yakhsyallah Mansur, MS. (Pembina Utama Aqsa Working Group), Dubes Bunyan Saptomo (Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional MUI), dan Astrid Nadya Rizqita (President OIC Youth Indonesia).
Ketua Presidium MER-C: Hari Nakba Jadikan Kurikulum

Dr. Sarbini Abdul Murad, Ketua Presidium MER-C meminta kepada Pemerintah RI agar sejarah tentang Nakba dimasukkan ke dalam kurikulum sejarah di tingkat sekolah menengah. Tujuannya adalah agar siswa-siswi Indonesia memahami bahwa sampai saat ini masih ada salah satu negara peserta Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 yang belum mendapatkan kemerdekaan, bahkan justru semakin tertindas oleh penjajah. Negara itu adalah Palestina. Hal ini disampaikan Sarbini pada acara seminar Peringatan hari Nakba ke-75 Tahun yang diselenggarakan oleh Aqsa Working Group (AWG) di Aula Munif Chatib, Cibubur, Bekasi, Kamis/18 Mei 2023. Di samping itu, Ketua Presidium MER-C juga menyerukan agar ada koalisi besar di segala elemen anak bangsa untuk menghambat pergerakan kelompok-kelompok pro-Israel yang berupaya mendorong Pemerintah RI untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Indikasi ini sudah semakin terang-benderang dengan banyaknya pelajar Indonesia yang dikirim ke Israel untuk sekolah di sana. Selain itu, ada hubungan perdagangan Indonesia-Israel secara tertutup. Lebih lanjut Sarbini mengatakan bahwa jika Pemerintah RI tidak tegas dalam hal ini, akan terjadi perubahan opini masyarakat dalam melihat penjajahan Israel di Palestina. Ia juga mengusulkan kepada Pemerintah agar tanggal 15 Mei atau hari Nakba dijadikan hari libur nasional sebagai bentuk pertanggungjawaban konstitusi yang menghendaki terhapusnya penjajahan di atas dunia.Seminar bertajuk “Peringatan Hari Nakba, Momentum Gaungkan Dukungan atas Nestapa Bangsa Palestina Akibat Penjajahan Zionis Israel” turut dihadiri oleh Duta Besar Palestina untuk Indonesia H.E. Zuhair Al Shun sebagai pembicara kunci bersama para narasumber dari dalam dan luar negeri, yakni Atallah Hanna (Uskup Agung Gereja Yerusalem), Issa Amro (Advokat & Aktifis Palestina), Muhammad Sahrul Murajjab (Fungsional Diplomat Madya di Direktorat Timur Tengah Kementerian luar Negeri RI), Dr. Abdul Muta’ali (Akademisi Dosen FIB UI), dan A. Syalabi Ichsan (Redaktur Republika).
Ketua Presidium MER-C: Israel Menjebak Indonesia
Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murad, menanggapi pernyataan Duta Besar Israel untuk Singapura, Sagi Karni yang menyebutkan bahwa Indonesia sebenarnya tidak begitu banyak membantu Palestina terlepas dari sikap vokal RI selama ini. Hal tersebut disampaikan Karni saat wawancara daring bersama CNN Indonesia yang ditayangkan beberapa waktu lalu. Bagi Sarbini, pernyataan Sagi Karni dalam video wawancara bertajuk “Israel Beberkan Alasan RI Tak Bisa Bantu Palestina Terlalu Jauh”, adalah upaya Israel menjebak Indonesia. “Sebagai NGO yang sudah berpengalaman di Palestina, pernyataan Dubes Israel ini tidaklah asing dan merupakan jebakan untuk Indonesia,” tutur Sarbini. “Bahasa terangnya, kalau Indonesia mau berkontribusi lebih kepada Palestina maka bukalah hubungan diplomatik dengan Israel agar Indonesia bisa menjadi juru damai yang baik,” ujarnya. Menurutnya, narasi serupa juga digaungkan sebagian elit Indonesia. Lebih lanjut Sarbini mengungkapkan bahwa pernyataan Sagi Karni adalah narasi yang melecehkan Indonesia. “Dalam wawancara tersebut, Sagi Karni secara khusus menyampaikan bahwa Indonesia tidak punya peran yang signifikan dalalam membantu Palestina dibandingkan dengan negara Arab. Ini narasi yang melecehkan Indonesia, seakan apa yang di lakukan Indonesia terhadap Palestina tak dianggap oleh Israel. Jelas bahwa kita membantu Palestina bukan untuk mendapat apresiasi dari Israel. Tak penting bagi kita dianggap kecil kontribusi dibanding negara Arab,” kata Sarbini. Menurutnya pernyataan Duta Besar Israel tersebut juga membalikkan fakta dan menyebarkan narasi bohong. Apa yang diberikan Indonesia tidak sekecil apa yang di katakan Israel. “Kalau kita tanya ke pemerintah atau rakyat Palestina tentang kontribusi Indonesia terhadap Palestina, pasti jawabannya bertolak belakang dari apa yang dikatakan Sagi Karni,” ujar Sarbini. Ia mengemukakan bahwa kontribusi Indonesia baik bidang ekonomi, politik dan diplomasi adalah sesuatu yang tak bisa dihitung dengan materi. Belum lagi pembelaaan rakyat Indonesia terhadap Palestina sangat nyata, contoh penolakan Timnas U-20 Israel yang akan berlaga di Indonesia, terjadi resistensi yang bergelombang dari lapisan bawah sampai dengan elit politik. Bagi Indonesia, lanjut Sarbini, yang penting bukan retorika yang berputar-putar duluan ayam atau telur. Yang utama bagi Indonesia adalah solusi dua negara, Israel akui Palestina sebagai sebuah entitas negara dengan Jerusalem timur ibukotanya. “Tanpa kejelasan dan kepastian sikap Israel terhadap Palestina, Indonesia akan konsisten tidak akan membuka komukasi politik dan hubungan diplomatik dengan Israel,” tegas Sarbini. Link Vidio wawancara : https://www.cnnindonesia.com/internasional/20230412173438-124-936918/video-israel-beberkan-alasan-ri-tak-bisa-bantu-palestina-terlalu-jauh