In loving memory of dr. Joserizal Jurnalis,Sp.OT

Today marks 5 years after the passing of dr. Joserizal Jurnalis, Sp.OT, the Founder of MER-C and The Initiator behind the existence of Indonesia Hospital in Gaza. We are expressing our fond memories that keep us connected through all his ultimate sacrifices for this organization. In the remembrance of his strength and resilience, dr. Jose wisdom lives on with us. May Allah have mercy on his soul, accept him, raise his rank among those who are guided, and help us continuing the trust and legacy he leaves behind. ———————————————————————————————————— In Memoriam dr. Joserizal Jurnalis, Sp.OT Hari ini menandai tepat 5 tahun kepergian dr. Joserizal Jurnalis, Sp.OT yang merupakan Pendiri MER-C dan Inisiator dari berdirinya Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Kami ingin mengenang perjuangan beliau, dan mengekspresikan rasa syukur dari banyak kenangan indah yang kami lewati bersama beliau, yang membuat kami tetap terhubung satu sama lain di dalam organisasi ini. Disetiap keteguhan dan ketangguhannya, kebijaksanaan dr. Jose akan tetap hidup bersama kami. Semoga Allah mengampuni beliau, menerima ruh nya, mengangkat derajatnya di antara orang-orang yang beriman, dan menuntun kami untuk terus melanjutkan amanah dan warisan yang ditinggalkannya sebaik-baiknya.
Loss of a Brave Journalist

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’unOur Deepest Condolences for the Loss of a Brave Journalist Ahlam courageously documented the genocide in north Gaza, residing in the Indonesia Hospital during its siege, taking evidence of war crimes and bearing witness to tell the story with her pictures and her words, many of which we shared with you here She was murdered on this bloody day by the IOF as she was walking to Al Shifa hospital The last message of Martyr Ahlam Al Nafed This is my duty to document all the attacks we are exposed to inside and outside the hospital so that the world can see the destruction we are exposed to by the occupation. And that we are innocent and not terrorists. We hope to God that the war will end, and that our message will reach the whole world about the injustice, destruction and genocide to which innocent people are being subjected. It is true that documentation and photography are a bit dangerous, but we do this so that the world can witness these crimes. ———– Ini adalah tugas saya untuk mendokumentasikan semua serangan yang kami hadapi di dalam dan luar Rumah Sakit sehingga dunia dapat melihat kehancuran yang kami hadapi akibat penjajahan. Bahwa kami tidak bersalah dan bukan teroris. Kami berharap kepada Allah agar perang ini berakhir, dan pesan kami akan sampai ke seluruh dunia tentang ketidakadilan, kehancuran, dan genosida yang dialami orang-orang yang tidak bersalah. Memang benar bahwa dokumentasi video dan foto-foto mengancam jiwa kami, tetapi kami (tetap) melakukannya agar dunia dapat menyaksikan kejahatan ini.
MER-C Hadiri Acara Solidraitas untuk Palestina di Kedutaan Besar Palestina di Jakarta

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) pada Rabu (8/1) menghadiri acara “Support dan Solidarity for Palestine” dari Kedutaan Besar Palestina di Jakarta. Acara ini digelar untuk mengingat penderitaan rakyat Palestina, khususnya di Gaza, yang selama lebih dari 15 bulan sampai hari ini masih menghadapi agresi penjajah Israel. Acara ini dihadiri oleh sejumlah NGO, kelompok mahasiswa Palestina di Indonesia hingga perwakilan dari Kementerian Luar Negeri RI dan DPR RI. Duta Besar Palestina untuk Indonesia, H.E Zuhair S.M. Al-Shun dalam kesempatan itu menyerukan aksi internasional yang serius untuk menghentikan agresi Zionis Israel yang terus dilancarkan terhadap Palestina. “Rakyat Palestina terus hidup dalam penderitaan akibat agresi yang tiada henti. Dunia harus mengambil langkah nyata untuk menghentikan tragedi kemanusiaan ini,” tegas Dubes Zuhair Al-Shun. Dalam pidatonya, Duta Besar Palestina menyerukan dua hal utama kepada komunitas internasional. Pertama, tekanan global yang efektif terhadap Israel untuk menghentikan agresinya dan menghormati hukum internasional. Kedua, peningkatan kesadaran global untuk mengakhiri penderitaan rakyat Palestina. Hal ini, menurutnya, dapat dicapai dengan mewujudkan hak-hak Palestina yang tidak dapat diganggu gugat, termasuk hak untuk kembali ke tanah air mereka, penentuan nasib sendiri, dan pembentukan negara Palestina yang merdeka dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya, sesuai hukum internasional dan resolusi PBB. Berbicara kepada MER-C, Duta Besar Zuhair dalam kesempatan itu juga menyampaikan apresiasi atas dukungan MER-C untuk warga Palestina, yang sampai saat ini masih terus mengirimkan bantuan hingga tim medis ke Jalur Gaza. Ia juga sangat menyayangkan situasi Rumah Sakit Indonesia di Gaza Utara yang saat ini tidak bisa beroperasi akibat agresi penjajah Israel. “Saya mendengar apa yang dilakukan MER-C, Anda juga sudah beberapa kali berkunjung ke sini dan sangat aktif mendukung Palestina. Indonesia memang secara keseluruhan sangat siap untuk memberikan dukungan untuk Palestina,” ujarnya.
Ketua Presidium MER-C: Apa yang Terjadi di Gaza adalah Kejahatan Kemanusiaan

Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) DR. dr. Hadiki Habib, Sp. PD., Sp.Em mengatakan apa yang saat ini terjadi di Gaza bukan hanya krisis kemanusiaan, tapi kejahatan kemanusiaan. “Kita harus menyuarakan mengenai kejahatan karena ini bukan lagi soal krisis kemanusiaan, tapi kejahatan kemanusiaan. Jadi kalau sudah kejahatan, isunya bukan lagi hanya medis tapi juga sosial, budaya dan politik,’ ujar dr. Hadiki dalam kesempatan Silaturahim Online Dunia Masjid Kubah 99 Makassar, Ahad (29/12). Untuk itu, ia mengungkap saat ini MER-C juga sedang berjuang di bidang budaya, untuk menjadikan RS Indonesia sebagai aset internasional, yang merupakan bukti kerja sama antar negara. Sehingga merusaknya bukan hanya terkena pasal hukum medis atau kemanusiaan, tapi juga cagar budaya. “Terkait hal ini kami butuh ahli-ahli dari semua bidang keilmuan untuk dapat memberikan narasi, bukti, serta argumen-argumen akademik supaya fakta tidak diputarbalikkan oleh penjajah,” ujarnya. Lebih lanjut ia mengatakan, saat ini secara fisik RS Indonesia masih berdiri dan digunakan sebagai shelter untuk warga Gaza. RS Indonesia terkahir digunakan di bulan Oktober 2024 oleh Tim EMT MER-C ke-5. Tim EMT ke-6 sempat berusaha ke (Gaza) Utara, namun hanya berhasil sampai Kamal Adwan, tidak bisa ke RS Indonesia karena di sekitarnya sudah ada check point. “Kemudian sumber-sumber energi yang memang diperlukan untuk sebuah rumah sakit beroperasi memang sengaja dilumpuhkan, ada generator, kita juga pasang panel surya sudah dirusak, terakhir sumber air, listrik dan pompa juga rusak,” ungkapnya. Terkait kondisi RS Indonesia ini, maka menurutnya perintah pemindahan pasien dan tenaga kesehatan yang ada di Kamal Adwan ke RS Indonesia oleh penjajah Israel adalah instruksi yang jelas-jelas tidak boleh dilakukan, karena ini bukan pindah rumah sakit tapi ke bangunan karena saat ini RS Indonesia tidak bisa beroperasi. Silaturahim Online Dunia Masjid Kubah 99 Makassar ini digelar secara daring atas kerja sama sejumlah lembaga di antaranya, Komite Makassar for Gaza, Komunitas Pejuang Subuh Masjid Raya Pondok Indah (PS MRPI), GEMMA 9, MER-C dan Yayasan Masjid Pantai Nusantara (YMPN), yang digelar untuk mengajak masyarakat luas mendukung program “Makassar for Gaza”.
MER-C Hadiri Seminar Nasional Perlindungan Pengungsi Luar Negeri dalam Perspektif Agama dan Hukum

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) pada Rabu (11/12) menghadiri Seminar Nasional terkait Perlindungan Pengungsi Luar Negeri dalam Perspektif Agama dan Hukum Indonesia, yang digelar oleh UIN Ar-Raniry Aceh. Seminar ini di menghadirkan tiga narasumber yaitu Akademisi Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Prof. Dr. Syamsul Rijal, M. Ag., Hendra Saputra dari JRS Indonesia, Mellana dari Yayasan Kemanusiaan Madani Indonesia, serta Ketua Prodi Sosiologi Musdawati, S. Ag., M.A. MER-C diwakili oleh Project Manager MER-C for Rohingya Ira Hadiati, yang saat ini tengah fokus menangani program bantuan MER-C untuk pengungsi Rohingya di sejumlah kamp Pengungsian di Aceh. MER-C sendiri telah menyerahkan sejumlah bantuan untuk pengungsi Rohingya berupa sembako, pembangunan sumur dan MCK, peralatan ibadah, perlengkapan self hygiene serta keperluan lainnya. Beberapa hal baik terkait penanganan pengungsi Rohingya yang dibahas dalam Seminar ini adalah sudah adanya surat edaran Kementerian Pendidikan nomor 75253/Α.Α.4/HK/2019 tentang Pendidikan bagi anak pengungsi luar negeri, sudah ada surat edaran dari Kementerian Tenaga Kerja, yang memberikan peluang bagi pengungsi untuk bisa terlibat dalam pelatihan kerja. Kemudian pencatatan kelahiran bagi anak pengungsi luar negeri yang lahir di Indonesia, kolaborasi pelatihan keahlian pengungsi dengan masyarakat lokal, pembentukan Satuan Tugas Penanganan Pengungsi Luar Negeri di Level Provinsi serta adanya kearifan lokal Aceh “Adat Pemulia Jame”. Adapun tantangan penanganan pengungsi antara lain, budaya literasi kita masih sangat lemah, koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah, Isu TPPO (Tindak Pidana Perdagangan Orang), smuggler versus kemanusian, pendekatan keamanan versus pendekatan kemanusiaan, ego sektoral, isu kewenangan dalam penanganan pengungsi, regulasi yang belum sepenuhnya berjalan serta kerjasama internasional untuk solusi jangka panjang belum terbaca.
Ketua Presidium MER-C Jadi Keynote Speaker dalam Seminar Internasional ICIPSY 2024

Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia Dr.dr. Hadiki Habib, SpPD, SpEm., menjadi keynote speaker dalam Seminar Internasional Psikologi The 2nd International COnference on Islamic Psychology (ICIPSY) 2024. Seminar Internasional ini digelar oleh Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta secara online, pada 16, 20-21 November 2024. Tahun ini, Seminar digelar dengan mengangkat tema “Psychology for the Ummah: Faith, Resilience, and Humanity”. Ketua Presidium MER-C Indonesia dalam acara tersebut menyampaikan permasalahan psikososial di Gaza yang semakin meluas karena pembantaian berkepanjangan oleh pihak penjajah. Dr. Hadiki mengatakan tatanan sosial kemasyarakatan di Jalur Gaza semakin rusak akibat kehancuran permukiman, kelaparan dan krisis air. Untuk itu, MER-C mengimbau agar forum-forum akademik terus dibuat guna mengkaji fenomena kejahatan kemanusiaan abad ini di Gaza, yang dilakukan oleh pihak Israel, agar sejarah dapat dicatat dengan akurat sesuai dengan fakta dan analisis ilmiah yang benar. MER-C sebagai lembaga kegawatdaruratan medis terus berkomitmen untuk dapat membantu dan menyalurkan bantuan kemanusiaan di Jalur Gaza. Sejak serangan 7 Oktober 2023, MER-C telah memberikan sejumlah bantuan seperti obat-obatan, sembako, makanan siap saji, air bersih dan kebutuhan dasar lainnya, hingga bantuan tim medis yang tergabung dalam Emergency Medical Team (EMT). Tim EMT MER-C pertama kali berhasil masuk ke Jalur Gaza pada 18 Maret 2024 dan sampai saat ini sudah ada enam tim yang dikirimkan, terdiri dari dokter umum dan spesialis, bidan serta perawat.
Relawan MER-C Berbagi Pengalaman saat Bertugas di Gaza dengan Mahasiswa FK UIN Jakarta

Relawan medis Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dr. Reyfal Khaidar pada Jumat (15/11) menjadi pembicara dan membagikan pengalaman saat bertugas di Jalur Gaza dalam acara Rehat Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Rehat sendiri adalah program mentoring rutin dua kali sebulan bagi mahasiswa baru muslim Fakultas Kedokteran UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Program ini dirancang untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperdalam ilmu tahsin, murojaah, hingga diskusi integrasi kedokteran dan Islam. Dalam kesempatan tersebut, dr. Reyfal yang juga dosen FK UIN Jakarta menyampaikan materi tentang sejarah Palestina dan peristiwa genosida yang terjadi hingga saat ini. Dr. Reyfal berbagi pengalaman nyatanya selama di Palestina dan bertugas sebagai tim medis, di mana ia menyaksikan secara langsung kondisi Masyarakat yang sangat menderita di bawah blokade dan agresi. Ia juga menekankan akan pentingya peran umat Islam dan masyarakat secara umum dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Dr. Reyfal bergabung dengan Emergency Medical Team (EMT) MER-C pertama dan berhasil masuk ke Jalur Gaza pada hari Senin, 18 Maret 2024 bersama sepuluh relawan medis MER-C lainya. Tim EMT MER-C ke-1 bertugas di Jalur Gaza selama hampir satu bulan dan kembali ke Indonesia pada 11 April 2024.
MER-C Apresiasi Langkah Spanyol, Irlandia dan Norwegia Akui Negara Palestina

Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Sarbini Abdul Murad menyampaikan apresiasi kepada Spanyol, Irlandia dan Norwegia yang pada Selasa (28/5), secara resmi mengakui Palestina sebagai sebuah negara. “Keputusan Spanyol, Irlandia dan Norwegia mengakui kemerdekaan Palestina patut diapresiasi. Langkah berani ketiga negara Eropa tersebut tak lepas dari kekejaman dan kebrutalan Israel dalam membunuh penduduk sipil yang tak berdosa. Ketiga negara tesebut sejak awal memang sudah menentang serangan Israel ke Gaza Palestina karena memang akan memiliki dampak kemanusiaan begitu dahsyat dan memang kelak terbukti,” kata Sarbini, Rabu (29/5). “Terutama Irlandia yang memang punya pengalaman pahit di bawah penjajahan Inggris. Pengalaman kelam tersebut yang buat mereka empati dan simpati terhadap kesusahan dan kepedihan masyarakat Palestina terutama Gaza,” tambahnya. Ia juga mengatakan, Spanyol sendiri sejak awal agresi Israel ke Gaza telah secara tegas menentang serangan tersebut. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengatakan langkah negaranya adalah tepat untuk mencapai perdamaian antara Israel-Palestina. Keputusan ini, menurutnya, tidak akan merugikan siapapun, termasuk Israel Menurutnya, pengakuan ketiga negara Eropa ini atas kemerdekaan Palestina bisa jadi pintu awal negara Eropa lainnya dapat mengikuti jejak mereka. “Pada sidang umum PBB, mayoritas negara anggota mendukung resolusi untuk mengakui Palestina menjadi anggota PBB, meski di Dewan Keamanan AS menolak resolusi tersebut. MER-C memandang ini kesempatan dunia untuk segera mengakui Palestina sebagai sebuah negara Merdeka,” ujarnya.
Hadiri Halal Bihalal HMI, dr. Sarbini Ceritakan Perjuangan Membangun RS Indonesia di Gaza

Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) dr. Sarbini Abdul Murad menceritakan perjuangan membangun Rumah Sakit Indonesia di Gaza, Palestina, saat menghadiri Halal Bihalal Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). “Ini adalah mission impossible, karena kita membangun di tempat yang diblokade. Tidak hanya orang yang sulit masuk, bahkan uang pun sulit masuk Gaza,” katanya di Halal Bihalal dengan tema ‘Kemerdekaan Palestina, Amanah UUD 1945 dan Khittah Perjuangan HMI MPO’, yang digelar di Gedung Djoeang 45, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (25/5). “Dulu kami datang ke Gaza, kemudian terdengar ledakan bom, saat itu yang kami rasakan bukan takut. Kami justru sangat marah karena tidak ada yang bisa dilakukan menyaksikan hal tersebut. Maka dari itu kita berusaha membangun Rumah Sakit yang sangat monumental, hadiah rakyat Indonesian untuk bangsa Palestina,” ujarnya. Ia mengungkap, Rumah Sakit yang dibangun dari sumbangan masyarakat Indonesia ini dibangun sebaik mungkin, dengan peralatan dan fasilitas terbaik, karena MER-C sangat menghargai usaha pembangunan RS ini. Sarbini mengatakan, untuk itu RS Indonesia memiliki fasilitas terbaik dan terbesar kedua di Jalur Gaza. Terakhir sebelum diserang Israel karena tuduhan adanya terowongan Hamas, RS Indonesia menjadi rujukan korban-korban serangan Israel dan tempat berlindung bagi ribuan warga Palestina di Gaza. “Di dalamnya pun kita rancang dengan baik, ruangannya kita beri nama-nama Indonesia seperti Pulau Sumatra, Jawa, Sulawesi ada pahlawan seperti Cut Nyak Dhien, Cut Dik Tiro karena kita ingin mengenakan Indonesia kepada Bangsa Palestina,” tambahnya. “Warga Gaza sendiri saat awal Rumah Sakit ini dibangun mengatakan, ” Kami tidak tahu di mana Indonesia. Yang kami tahu itu negara sangat jauh” untuk itu warga Gaza sangat menghargai kehadiran dan bantuan kita,” kara Sarbini. Lebih lanjut, Sarbini menyerukan dukungan kepada warga Gaza yang saat ini masih terus diserang Israel. Ia sendiri menyayangkan di Indonesia masih ada orang yang mendukung tindakan Israel setelah menyaksikan apa yang terjadi. Rumah Sakit Indonesia berlokasi di atas bukit dekat Jabaliya, kamp pengungsi terbesar di Gaza yang dibangun dari sumbangsih rakyat Indonesia melalui Medical Emergency Rescue Committee (MER-C). Serangan pasukan pendudukan Israel pada Kamis (23/11) malam telah menyebabkan kerusakan parah di RS Indonesia dan menyebabkan tiga relawan MER-C, staf Rumah Sakit, serta seluruh pasien dan warga Gaza yang berada di sana terpaksa mengungsi ke Gaza Selatan.
Ketua Presidium MER-C: Nakba Ingatkan Kita Israel Lahir Lewat Pembantaian dan Pengusiran Rakyat Palestina

Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), dr. Sarbini Abdul Murad saat menghadiri peringataan Hari Nakba ke-76 di Kedutaan Besar Palestina di Jakarta hari Rabu (15/5) mengatakan, Nakba mengingatkan bahwa negara Israel lahir dengan membantai mengusir rakyat Palestina. “Nakba ini memperingati hari dukanya bangsa Palestina yang diusir ketika negara Israel hadir dan lahir. Oleh sebab itu, ini adalah upaya untuk mengingat sejarah bahwa kita tidak pernah lupa dengan peristiwa ini,” kata Sarbini. “Untuk itu, hari ini kita diundang oleh Kedutaan Palestina untuk mengenang kekejaman Israel. Artinya bahwa Israel hadir dan lahir di Palestina dengan melakukan pembantaian dan mengusir rakyat Palestina sampai dengan mereka mengungsi pada hari ini dan tidak tahu kapan mereka harus kembali,” ujarnya. “Maka sebab itu ini mengingatkan kita bahwa sejarah tidak boleh kita lupa dan kita tidak akan pernah lupa peristiwa itu,” tegasnya. Kedutaan Besar Palestina di Jakarta menggelar Peringatan hari Nakba ke-76 yang dihadiri oleh Duta Besar Palestina H.E. Zuhair Al Shun, Duta Besar Suriah, Yordania dan negara sahabat lainnya, komunitas Palestina di Indonesia. Kedutaan juga mengundang NGO dan Ormas yaitu Medical Emergency Rescue Committee, Aqsa Working Group, PP Muhammadiyah dan PB NU. Warga Palestina di seluruh dunia memperingati Hari Nakba setiap tanggal 15 Mei. Nakba berarti malapetaka yang merujuk pada peristiwa eksodus massal di Palestina setelah perang Arab-Israel 1948. Diperkirakan sekitar 700.000 warga Palestina melarikan diri atau dipaksa meninggalkan rumah mereka. Banyak pengungsi Palestina di luar negeri tetap tanpa kewarganegaraan hingga hari ini.