MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

MER-C Ikuti Workshop Civil-Military Collaboration in Emergency Preparedness

Lembaga kemanusiaand an kegawatdaruratan medis MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) menjadi salah satu peserta Workshop Civil-Military Collaboration in Emergency Preparedness yang digelar oleh Universitas Pertahanan (Unhan) RI dan WHO. Workshop diadakan pada Sabtu – Minggu/12 – 13 Agustus 2023 bertempat di Hotel Grand Mercure Kemayoran, Jakarta Pusat. Dalam workshop ini, MER-C diwakili oleh dr. Naenda Stasya, MARS selaku Ketua MER-C Training Center (MTC), lembaga pelatihan MER-C yang berfokus pada pelatihan kegawatdaruratan dan kebencanaan. Kolaborasi sipil-militer merupakan program inisiasi untuk berbagi wawasan dan langkah nyata menghadapi tantangan darurat kesehatan serta memperkuat kapasitas sistem kesehatan nasional. Workshop ini juga bertujuan meningkatkan kolaborasi dan koordinasi antarinstitusi, baik sipil maupun militer, dalam meningkatkan kapasitas dan kemampuan tanggap darurat mengatasi ancaman global. Kegiatan diadakan secara hybrid (daring dan luring) dan diikuti oleh 35 peserta yang terdiri dari 11 peserta perwakilan ASEAN dan Timor-Leste, serta 24 peserta nasional yang berasal dari Unhan RI, Kementerian Pertahanan, Kementerian Kesehatan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Basarnas, Pusat Kesehatan TNI, Ikatan Dokter Indonesia, Ikatan Apoteker Indonesia, Palang Merah Indonesia, POLRI, MER-C, MDMC Muhammadiyah, dan Universitas Indonesia.

MER-C Berikan Pelatihan Emergency First Response (EFR) kepada Komunitas Forum Potensi Tangerang Selatan

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), memberikan pelatihan Emergency First Response (EFR) kepada anggota Forum Potensi Tangerang Selatan, Sabtu/29 Juli 2023. Pelatihan diikuti oleh sekitar 50 orang peserta berasal dari berbagai latar belakang, termasuk anggota komunitas, relawan, dan para pemuda yang ingin berkontribusi positif dalam masyarakat.                         Pelatihan diadakan di Villa Darul Ikhlas – Sinergi Foundation, Tangerang Selatan, dan bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat awam dalam memberikan pertolongan pertama pada situasi darurat yang ditemukan sehari-hari. Instruktur MER-C yang berjumlah 8 orang yang terdiri dari para relawan medis terlatih dan berpengalaman baik di rumah sakit maupun lokasi bencana mengajarkan peserta mengenai berbagai aspek dalam pertolongan pertama. Pelatihan diberikan dalam bentuk pemaparan materi, diskusi interaktif dilanjutkan dengan praktek berkelompok. Hal ini untuk memastikan peserta memahami setiap materi yang telah dipaparkan.                           “Kami menyambut dengan tangan terbuka kerjasama ini. MER-C melalui MER-C Training Center dapat berbagi ilmu dan pengalaman melalui pelatihan EFR kepada anggota Forum Potensi Tangerang Selatan karena keterampilan dasar EFR penting untuk dimiliki oleh berbagai elemen masyarakat. Semakin banyak masyarakat awam yang memiliki kemampuan ini, maka semakin banyak orang yang dapat diselamatkan dari kematian maupun kecacatan. Selain itu, kolaborasi bersama dengan berbagai lembaga kerelawanan adalah langkah yang baik untuk terus dilanjutkan kedepannya. Hal ini berpotensi untuk dapat saling belajar dan bekerjasama satu sama lain” kata dr. Naenda Stasya, MARS, Ketua MER-C Training Center. Para peserta tampak bersemangat dan antusias mengikuti setiap materi pelatihan hingga akhir acara. Diharapkan dengan adanya pelatihan ini, anggota Forum Potensi Tangerang Selatan siap berperan aktif dalam memberikan pertolongan pertama di tengah-tengah masyarakat. Keahlian mereka dalam merespons situasi darurat diharapkan dapat meminimalkan dampak negatif dan menyelamatkan lebih banyak nyawa dalam berbagai keadaan krisis.                           Turut hadir dan memberikan sambutan pada acara pelatihan adalah Lurah dan TNI Bhabinkamtibmas Tangerang Selatan. Sementara, peserta pelatihan berasal dari perwakilan elemen Masyarakat Tangerang Selatan, diantaranya yaitu BPBD Kota Tangerang Selatan, BSI Maslahat, Cantigi Anawidri Indonesia, Pemadam KebakaranTangerang Selatan, ERDAMS FKM UMJ, Forum Pembauran Kebangsaan, Gencar, Helix Corps, HW UMJ, Kokam Tangerang Selatan, Komite Kemanusiaan Indonesia, Komunitas Ojol Tangerang Selatan, LKC Dompet Dhuafa, Menwa Universitas Pamulang, Pelopor Rescue Center, PMI Kota Tangerang Selatan, POSRAYA Indonesia, Relawan Nusantara (Jakarta Timur), Rufaidah Humanity Care, Rumah Zakat, Satpol PP Tangerang Selatan, Speed (Serikat Pengemudi Daring) Kota Depok, Mahasiswa UIN Jakarta, Wahana Muda Indonesia (WMI), Yayasan Cordova Syariah, RPAI Tangerang Raya, PKS Tangerang Selatan, BSMI Kota Depok, BSMI Kota Bogor, dan IEA Tangerang Selatan, dan beberapa peserta individu.  

Ketua Presidium MER-C Kutuk Serangan Israel ke Jenin

Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murad peringatkan Israel agar segera menghentikan serangannya ke kamp pengungsi di Jenin, Tepi Barat. Hal ini disampaikan Sarbini menyusul eskalasi serangan pasukan pendudukan Israel yang terus meningkat dan telah menimbulkan korban sipil berjatuhan, termasuk anak-anak. Berdasarkan data terkini, serangan agresif Israel ke Jenin yang mengerahkan sekitar 1.000 tentara telah menyebabkan sedikitnya 10 warga Palestina meninggal dan 100 lainnya mengalami luka-luka. “MER-C mengutuk keras serangan militer Israel ke kamp pengungsi Jenin. Kami meminta Israel agar segera menghentikan serangan dan menarik mundur seluruh pasukannya. Hal ini untuk mencegah korban sipil yang lebih banyak,” ucap Sarbini. Pimpinan Lembaga kegawatdaruratan medis untuk kemanusiaan dan perdamaian ini juga meminta Dewan Keamanan PBB agar mengadakan rapat darurat untuk menghentikan serangan Israel. Lebih lanjut menurut Sarbini, Dewan Keamanan PBB perlu mengirim pengamat untuk mengawasi proses ini. “Dewan Keamaan PBB perlu mengirimkan tim pengamat untuk mengawasi serta memastikan Israel menarik mundur pasukannya dari kamp Jenin dan tidak memulai serangannya kembali,” ujar Sarbini.

Ketua Presidium MER-C Berikan Orasi pada Aksi Damai Solidaritas untuk Palestina

Ketua Presidium MER-C Indonesia, dr. Sarbini Abdul Murad, memberikan orasi pada acara Aksi Damai Solidaritas untuk Palestina yang digelar oleh Aqsa Working Group (AWG) di Kedutaan Besar Palestina di Jakarta, Senin/29 Mei 2023. Dalam orasinya, Sarbini menyampaikan dua hal yang menurutnya perlu diperjuangkan bersama untuk Palestina. “Pertama, adalah memperjuangkan tanggal 15 Mei, yaitu Hari Nakba menjadi hari libur nasional di Indonesia,” ujar Sarbini. Menurutnya hal ini merupakan tanggung jawab rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina. Artinya rakyat Indonesia mengingat pengusiran rakyat Palestina. “Ini akan kita perjuangkan terus, semoga tahun depan 15 Mei bisa menjadi hari libur nasional,” harapnya. Lebih lanjut Sarbini mengatakan bahwa hal kedua yang perlu diperjuangkan untuk Palestina adalah adanya kurikulum sejarah tentang Palestina. Hal ini menurutnya agar penderitaan, pengusiran, penindasan terhadap bangsa Palestina akan menjadi sejarah yang diingat terus oleh generasi penerus dan pelajar-pelajar Indonesia, sehingga mereka mempunyai energi dan semangat untuk berjuang membebaskan Palestina. Pada kesempatan tersebut, Sarbini juga mengecam kekerasan yang terjadi di Tepi Barat dan di Jalur Gaza yang menurutnya diakibatkan oleh koalisi antara ultra nasionalis dan pemerintah Israel. Bahkan beberapa hari lalu, salah satu Menteri Israel, Itamar Ben-Gvir melakukan provokasi di Baitul Maqdis.   Oleh sebab itu, di hadapan ratusan peserta Aksi Damai Solidaritas untuk Palestina, Sarbini mengajak agar rakyat Indonesia yang mempunyai tanggung jawab sejarah dan tanggung jawab konstitusi untuk terus mengingat bahwa ada satu negara yang sampai hari ini belum merdeka. “Kita harapkan, kita perjuangkan bersama sehingga Palestina merdeka sama seperti kita bangsa Indonesia,” pungkasnya. Aksi Damai Solidaritas untuk Palestina digelar untuk mengecam pertemuan Kabinet Pemerintahan Benjamin Netanyahu dan klaim Perdana Menteri Israel tersebut atas seluruh Yerusalem yang dipandangnya sebagai ibu kota abadi Israel dan tidak terbagi. Turut hadir memberikan sambutan dan orasi pada Aksi Damai Solidaritas untuk Palestina diantaranya adalah HE. Dr. Zuhair SM Al Shun (Duta Besar Palestina untuk Indonesia), KH. Yakhsyallah Mansur, MS. (Pembina Utama Aqsa Working Group), Dubes Bunyan Saptomo (Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerjasama Internasional MUI), dan Astrid Nadya Rizqita (President OIC Youth Indonesia).

Ketua Presidium MER-C: Hari Nakba Jadikan Kurikulum

Dr. Sarbini Abdul Murad, Ketua Presidium MER-C meminta kepada Pemerintah RI agar sejarah tentang Nakba dimasukkan ke dalam kurikulum sejarah di tingkat sekolah menengah. Tujuannya adalah agar siswa-siswi Indonesia memahami bahwa sampai saat ini masih ada salah satu negara peserta Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 yang belum mendapatkan kemerdekaan, bahkan justru semakin tertindas oleh penjajah. Negara itu adalah Palestina. Hal ini disampaikan Sarbini pada acara seminar Peringatan hari Nakba ke-75 Tahun yang diselenggarakan oleh Aqsa Working Group (AWG) di Aula Munif Chatib, Cibubur, Bekasi, Kamis/18 Mei 2023. Di samping itu, Ketua Presidium MER-C juga menyerukan agar ada koalisi besar di segala elemen anak bangsa untuk menghambat pergerakan kelompok-kelompok pro-Israel yang berupaya mendorong Pemerintah RI untuk membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Indikasi ini sudah semakin terang-benderang dengan banyaknya pelajar Indonesia yang dikirim ke Israel untuk sekolah di sana. Selain itu, ada hubungan perdagangan Indonesia-Israel secara tertutup. Lebih lanjut Sarbini mengatakan bahwa jika Pemerintah RI tidak tegas dalam hal ini, akan terjadi perubahan opini masyarakat dalam melihat penjajahan Israel di Palestina. Ia juga mengusulkan kepada Pemerintah agar tanggal 15 Mei atau hari Nakba dijadikan hari libur nasional sebagai bentuk pertanggungjawaban konstitusi yang menghendaki terhapusnya penjajahan di atas dunia.Seminar bertajuk “Peringatan Hari Nakba, Momentum Gaungkan Dukungan atas Nestapa Bangsa Palestina Akibat Penjajahan Zionis Israel” turut dihadiri oleh Duta Besar Palestina untuk Indonesia H.E. Zuhair Al Shun sebagai pembicara kunci bersama para narasumber dari dalam dan luar negeri, yakni Atallah Hanna (Uskup Agung Gereja Yerusalem), Issa Amro (Advokat & Aktifis Palestina), Muhammad Sahrul Murajjab (Fungsional Diplomat Madya di Direktorat Timur Tengah Kementerian luar Negeri RI), Dr. Abdul Muta’ali (Akademisi Dosen FIB UI), dan A. Syalabi Ichsan (Redaktur Republika).

MER-C Open Letter to Organization of Islamic Cooperation (OIC) Regarding the Israeli Attack

May 10th, 2023 HE. Hissein Brahim TahaSecretary GeneralOrganization of Islamic CooperationIn Jeddah, Kingdom of Saudi Arabia Subject: MER-C Open Letter to Organization of Islamic Cooperation (OIC) Regarding the Israeli Attack Your Excellency, MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) Indonesia is a humanitarian and peace emergency medical organization. One of MER-C’s long-term humanitarian missions is in Palestine. In Palestine, particularly in Gaza Strip, with the prayers and support of the Indonesian people, we have established a health facility named RS Indonesia. RS Indonesia, located in Bayt Lahiya, Northern Gaza Strip, has been built since 2011 and is still being developed according to the needs of the Gaza population. In addition to providing support in the form of humanitarian aid, MER-C also strives to provide support in the form of Humanitarian Politics. MER-C is committed to continue accompanying and supporting the Palestinian people’s struggle until they attain their independence. As it is evident to all of us, during the last sacred month Ramadhan, Israel has carried out an attack on the Palestinian worshippers at Al-Aqsa Mosque and launched airstrikes on Gaza Strip. Children, women, and the elderly were also attacked and many of them have been arrested. This brutal and inhumane action continues and seems to have become the routine agenda of the Zionists. What Israel is doing not only hurts the Palestinian people, but also Muslims around the world. And most recently, on May 9th 2023, Israel again launches airstrike to several area in Gaza Strip. According to the Palestinian Ministry of Health, only on that day, at least 15 Palestinians were murdered, including 4 children and 4 women, and 20 others were injured during the ongoing Israeli aggression on Gaza Strip. Therefore, the OIC (Organization of Islamic Cooperation), as an organization which initial establishment was driven by the concerns of Islamic countries about various issues faced by Muslims, especially after the burning of part of Al-Aqsa Mosque on August 21, 1969, should be the strongest party in opposing Israel’s arbitrary actions against the Palestinian people and Al-Aqsa Mosque. The OIC should be a powerful force that Israel must take into account if it truly fulfills its commitment to its establishment, which is to enhance Islamic solidarity among member countries, to coordinate cooperation among member countries, to support international peace and security, to protect Islamic holy sites, and to assist the struggle of the Palestinian people. However, we are aware and disappointed that some Islamic countries are normalizing their relations with Israel, which contradicts the existing commitments. Therefore, we request the OIC to return to the initial spirit of its establishment and its commitment to Palestine to take decisive action, and to take more strategic steps to prevent Israel from repeating its humanity crimes. We hope that our open letter will be taken into consideration by HE Secretary General of OIC. Yours sincerely,MER-C Indonesia Sarbini Abdul MuradChief Presidium

Ketua Presidium MER-C: Israel Menjebak Indonesia

Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murad, menanggapi pernyataan Duta Besar Israel untuk Singapura, Sagi Karni yang menyebutkan bahwa Indonesia sebenarnya tidak begitu banyak membantu Palestina terlepas dari sikap vokal RI selama ini. Hal tersebut disampaikan Karni saat wawancara daring bersama CNN Indonesia yang ditayangkan beberapa waktu lalu. Bagi Sarbini, pernyataan Sagi Karni dalam video wawancara bertajuk “Israel Beberkan Alasan RI Tak Bisa Bantu Palestina Terlalu Jauh”, adalah upaya Israel menjebak Indonesia. “Sebagai NGO yang sudah berpengalaman di Palestina, pernyataan Dubes Israel ini tidaklah asing dan merupakan jebakan untuk Indonesia,” tutur Sarbini. “Bahasa terangnya, kalau Indonesia mau berkontribusi lebih kepada Palestina maka bukalah hubungan diplomatik dengan Israel agar Indonesia bisa menjadi juru damai yang baik,” ujarnya. Menurutnya, narasi serupa juga digaungkan sebagian elit Indonesia. Lebih lanjut Sarbini mengungkapkan bahwa pernyataan Sagi Karni adalah narasi yang melecehkan Indonesia. “Dalam wawancara tersebut, Sagi Karni secara khusus menyampaikan bahwa Indonesia tidak punya peran yang signifikan dalalam membantu Palestina dibandingkan dengan negara Arab. Ini narasi yang melecehkan Indonesia, seakan apa yang di lakukan Indonesia terhadap Palestina tak dianggap oleh Israel. Jelas bahwa kita membantu Palestina bukan untuk mendapat apresiasi dari Israel. Tak penting bagi kita dianggap kecil kontribusi dibanding negara Arab,” kata Sarbini. Menurutnya pernyataan Duta Besar Israel tersebut juga membalikkan fakta dan menyebarkan narasi bohong. Apa yang diberikan Indonesia tidak sekecil apa yang di katakan Israel. “Kalau kita tanya ke pemerintah atau rakyat Palestina tentang kontribusi Indonesia terhadap Palestina, pasti jawabannya bertolak belakang dari apa yang dikatakan Sagi Karni,” ujar Sarbini. Ia mengemukakan bahwa kontribusi Indonesia baik bidang ekonomi, politik dan diplomasi adalah sesuatu yang tak bisa dihitung dengan materi. Belum lagi pembelaaan rakyat Indonesia terhadap Palestina sangat nyata, contoh penolakan Timnas U-20 Israel yang akan berlaga di Indonesia, terjadi resistensi yang bergelombang dari lapisan bawah sampai dengan elit politik. Bagi Indonesia, lanjut Sarbini, yang penting bukan retorika yang berputar-putar duluan ayam atau telur. Yang utama bagi Indonesia adalah solusi dua negara, Israel akui Palestina sebagai sebuah entitas negara dengan Jerusalem timur ibukotanya. “Tanpa kejelasan dan kepastian sikap Israel terhadap Palestina, Indonesia akan konsisten tidak akan membuka komukasi politik dan hubungan diplomatik dengan Israel,” tegas Sarbini.   Link Vidio wawancara : https://www.cnnindonesia.com/internasional/20230412173438-124-936918/video-israel-beberkan-alasan-ri-tak-bisa-bantu-palestina-terlalu-jauh  

MER-C Mengutuk Israel atas Penyerbuan ke Al Quds

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia mengutuk keras aksi keji Israel yang kembali melakukan penyerbuan ke Al-Quds saat bulan Ramadhan. Sebagaimana diketahui, pasukan keamanan Israel pada Selasa malam hingga Rabu dini hari (4-5 April 2023) menyerbu Masjidil Aqsa dan menembakkan gas air mata, granat kejut dan juga peluru baja berlapis karet kepada para jamaah warga negara Palestina baik pria, wanita, orang tua dan anak-anak yang tengah beribadah di masjid suci umat Islam tersebut. Penyerangan ini mengakibatkan banyak warga Palestina yang tengah menunaikan itikaf Ramadhan di Masjid Al Aqsa terluka dan ratusan lainnya ditangkap. “Kami prihatin dan mengutuk keras tindakan Israel yang kembali menyerang warga Palestina yang sedang beribadah di masjid Al Aqsa. Tindakan ini telah menodai bulan suci Ramadhan dan menyakiti umat Islam seluruh dunia,” ujar Sarbini. Ia mengatakan MER-C sudah memberi peringatan sejak awal sebelum Ramadhan agar Israel menghormati bulan suci ini dan tidak membuat gaduh di Al Quds. Tapi untuk kesekian kalinya Israel melanggar itu semua. Israel kembali mempertontonkan kepongahan, melakukan kejahatan kemanusiaan, melabrak semua aturan yang ada. Lebih lanjut ia menyerukan agar Israel segera menghentikan semua kebrutalannya, membebaskan para jamaah yang ditahan dan memberikan akses bagi umat muslim di Palestina untuk beribadah di Masjid Al Aqsa. Sarbini juga mendesak Dewan Keamanan PBB untuk segera bertindak menekan Israel. Begitupun dengan negara-negara OKI untuk bersama-sama menekan Israel. Hal ini untuk mencegah eskalasi konflik meningkat dan meluas.

Konferensi Pers Bersama MER-C, AWG, KISDI:Jangan Lengah, Tolak Timnas Israel

MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) bersama AWG (Aqsa Working Group) dan KISDI (Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam) kembali menggelar Konferensi Pers Bersama “Jangan Lengah, Tolak Timnas Israel”, Rabu/29 Maret 2023. Konferensi Pers diadakan di Kantor Pusat MER-C di bilangan Senen, Jakarta Pusat dan bertujuan untuk menguatkan gerakan penolakan Timnas Israel serta terus mendorong pemerintah untuk berani menolak kedatangan Timnas Isarel sesuai dengan amanat konstitusi RI. Dalam pernyataannya, Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murad menyampaikan pandangannya yang menyayangkan sikap ragu Presiden RI, Joko Widodo, dalam memutuskan penolakan terhadap Timnas Israel. “Sama-sama kita telah mendengarkan pernyataan Presiden, beliau ragu untuk menolak Timnas Israel. Keraguan Presiden yang kita sayangkan. Kami fikir bahwa beliau sebagai anak biologis Bung Karno, sudah sepatutnya dan selayaknya untuk mengikuti langkah-langkah yang dilakukan Bung Karno pada tahun 60 an lalu,” ujar Sarbini “Presiden harus kuat, harus berani dan harus yakin. Karena aspirasi masyarakat hari ini berkembang untuk menolak Timnas Israel, jadi sebenarnya Bapak Presiden punya amunisi dan argumentasi yang cukup untuk menolak Timnas Israel,” lanjutnya. Sarbini juga menyampaikan apresiasinya kepada pihak-pihak yang telah tegas dan berani menolak Timnas Isarel. “Kami mengapresiasi terutama Gubernur Bali, Wayan Koster yang telah menolak Timnas Israel untuk bermain di Bali. Kami juga mengapresiasi teman-teman dari PDIP yang benar-benar menjadikan Bung Karno sebagai rujukan. Kami bangga kepada mereka yang secara tegas menolak Timnas Israel. Kepada elemen anak bangsa, PKS, Muhammadiyah, MUI, kemudian tokoh-tokoh dari NU dan masyarakat yang lain. Kami mengapresiasi keberanian tersebut,” tambahnya. Menurutnya, pihak-pihak yang mencoba untuk mengatakan bahwa jangan menyatukan olah raga dengan politik adalah orang-orang yang minus argumentasi dalam menolak Timnas Israel. “Kepada anak bangsa yang tidak setuju dengan apa yang kami lakukan, cobalah perhatikan dengan baik bagaiamna penderitaan saudara kita di Palestina. Jangan kita campur baurkan hal-hal yang tidak perlu di dalam perjuangan ini,” ungkapnya. Sementara itu, Presidium AWG (Aqsa Working Group), M. Anshorullah, menyatakan bahwa penolakan Timnas Israel adalah ujian bagi komitmen anti penjajahan bangsa Indonesia sesuai konstitusi. “Penolakan terhadap Timnas Israel adalah konsekuensi Indonesia menaati konstitusi. Hal ini akan menaikkan harga diri Indonesia serta membuktikan Indonesia tidak bisa tunduk kepada kekuatan asing yang ingin memaksakan kehendaknya,” jelas Anshor. Penolakan terhadap Timnas Israel juga menurutnya bukan baru dilakukan mendekati waktu Piala Dunia U-20. “Sejak awal kabar Timnas Israel akan dijamin kehadirannya di Indonesia pada Juni 2022, penolakan sudah kami lakukan,” ujarnya. Ia juga memaparkan konsekuensi jika Timnas Israel datang ke Indonesia adalah bendera Israel akan dikibarkan, lagu kebangsaan Israel akan diperdengarkan. “Padahal, sebagai informasi, lirik lagu kebangsaan Israel termuat seruan hanya untuk bangsa Yahudi (rasis). Pada bait terakhir Hatikvah menyebutkan bahwa bangsa Yahudi bercita-cita untuk merdeka di tanah mereka: Sion dan Yerusalem. Padahal Presiden Jokowi sendiri telah menentang klaim Israel bahwa Yerusalem adalah ibukota Israel,” tambah Anshor. Ia menambahkan bahwa Timnas Israel ditolak bukan karena salah Gubernur Bali, MUI atau ormas-ormas yang berdemonstrasi, ataupun Palestina dan lainnya, namun karena salah negara Israel sendiri yang menjajah Palestina, menjadi negara rasis, membunuhi dan memenjarakan anak-anak dan wanita yang tak berdosa, dsb. Presidium AWG ini juga mengingatkan agar jangan sampai penolakan terhadap Timnas Israel membuat bangsa Indonesia menjadi bertengkar sendiri saling menyalahkn bahkan terpecah belah karena apabila ini terjadi, maka tujuan Israel telah berhasil. Ketua KISDI, H.M. Mursalin juga memberikan pernyataan senada bahwa meluasnya penolakan tim sepakbola Israel ke Indonesia dalam kegiatan Piala Dunia U-20 merupakan bukti keinginan masyarakat untuk taat berkonstitusi. Namun ia mengingatkan bahwa yang ditolak adalah Timnas Israel bukan Piala Dunia U-20. “Yang perlu digaris bawahi di sini adalah yang ditolak Timnas Israelnya bukan Piala Dunia U-20. Sehingga Indonesia harus menjadi tuan rumah sesuai ketetapan, namun tanpa kehadiran Timnas Israel di Indonesia,” kata Mursalin. “Posisi Indonesia terkait Israel juga memiliki kekhasan bahkan sudah mensejarah dan termaktub dalam konstitusi seperti sikap anti penjajahan israel terhadap Palestina. Dan fakta Indonesia mempunyai Permenlu No. 3/2019 yang tidak membolehkan menerima negara penjajah Israel di tempat resmi, secara resmi, tidak boleh mengumandangkan lagu kebangsaan serta mengibarkan bendera Israel atau mengenakan atribut-atribut apapun terkait Israel,” jelasnya. Lebih lanjut Mursalin menambahkan bahwa KISDI menilai FIFA tidak peka. “FIFA seharusnya tahu jika Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik. Seharusnya mereka mencari solusi, yaitu khusus grup yang ada tim Israel mainnya di Singapura, bukan di Indonesia,” lanjutnya. “Jargon FIFA ‘jangan campuradukkan politik dengan olahraga’ itu sudah digugurkan sendiri oleh FIFA dengan adanya keputusan FIFA yang mencoret Rusia dari perhelatan kualifikasi Piala Dunia 2022 di Qatar karena invansi Rusia ke Ukraina yang hanya baru satu tahun,” pungkasnya.

MER-C Salut dan Apresiasi Sikap Tegas Gubernur Bali Tolak Timnas Israel

Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murad memberikan apresiasi yang tinggi atas sikap tegas Gubernur Bali, Wayan Koster, yang menolak Timnas Israel bertanding di Pulau Dewata pada ajang Piala Dunia U-20, tanggal 20 Mei – 11 Juni 2023 mendatang.    Apresiasi ini disampaikan oleh Sarbini menyusul surat yang dilayangkan Gubernur Bali kepada Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali, No. T.00.426/11470/SEKRET, yang berisi penolakan Timnas Israel bertanding di Bali, satu dari 6 provinsi di Indonesia yang ditunjuk menjadi tempat penyelenggaraan Piala Dunia U-20. Alasannya, kebijakan politik Israel terhadap Palestina tidak sesuai dengan kebijakan politik Pemerintah Indonesia. “Kami salut dengan Gubernur Bali yang secara tegas menolak Timnas Israel untuk bertanding di Bali dimana konstitusi dan anti penjajahan menjadi dasar penolakannya. Ini langkah tepat yang patut diapresiasi,” ujar Sarbini. Lebih lanjut Sarbini mengungkapkan bahwa surat dari Gubernur Bali agar bisa menjadi perhatian dan pertimbangan Presiden RI. Ia juga berharap sikap ini bisa diikuti oleh Gubernur lainnya di Indonesia sehingga bisa menguatkan Presiden dalam bertindak dan membuat keputusan. Sikap menolak Timnas Israel menurut Sarbini bukan berarti Indonesia anti Yahudi, namun menunjukkan bahwa Indonesia anti terhadap penjajahan. “Penolakan kita ke Timnas Israel bukan berarti kita anti Yahudi. Ini penting dicatat dan digarisbawahi bahwa kita menolak Timnas Israel bukan karena anti Yahudi, namun karena Israel bangsa penjajah dan bangsa apartheid kepada bangsa Palestina,” tegasnya. Untuk itu, Sarbini mengingatkan bahwa sudah sepatutnya bangsa Indonesia sebagai bangsa yang lama mengalami penjajahan oleh Belanda dan Jepang, maka kita mesti mengobarkan semangat anti penjajahan.  “Apabila Indonesia memberikan izin ke Timnas Israel dengan dalih apapun, berarti kita kalah dengan bangsa penjajah!” pungkasnya.

Silahkan bertanya?