MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

MER-C Mengutuk Penghancuran Rumah Warga Palestina di Sheikh Jarrah

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mengutuk keras aksi brutal tentara Israel terhadap warga sipil Palestina di Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur yang masih terus berlanjut. Hal ini disampaikan oleh Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad sebagai respon atas aksi keji berupa pengusiran secara paksa, penghancuran rumah dan penyerangan serta penangkapan pada Rabu (19/1/2022) yang menimpa keluarga Salhiya di wilayah tersebut. “Untuk kesekian kalinya, kekuatan pendudukan Israel dan pasukannya melakukan aksi rasis dan brutal terhadap rumah warga sipil Palestina yang sudah ditempati sejak lama serta menahan pemiliknya,” ujar Sarbini. “Ini adalah kejahatan perang yang tidak bisa dibiarkan terus berlanjut,” tegas Sarbini. Menurutnya, aksi-aksi keji dan illegal yang dilakukan Israel dengan dalih yang mengada-ada akan merusak iklim perdamaian. Untuk itu, Sarbini mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa dan masyarakat Internasioanal melakukan langkah proaktif agar aksi brutal Israel bisa segera berhenti. “Apabila masyarakat Internasional diam dan hanya menjadi penonton, maka kebrutalan ini akan terus berlanjut. Untuk itu, kami MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) Indonesia meminta segera dikirim tim internasional untuk memantau dan mengawasi aktivitas ilegal Israel di Sheikh Jarrah agar pelanggaran hak sipil dan hak asasi warga Palestina bisa di minimalkan,” pungkas Sarbini.

Tokoh Hindu: Solusi Dua Negara untuk Konflik Palestina – Israel, Itu Win-Win Solution

MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) Indonesia terus bergerak melakukan safari kemanusiaan ke berbagai elemen anak bangsa dan tokoh lintas agama di Indonesia. Hal ini dilakukan dalam upaya untuk mendukung kemerdekaan Palestina. Kamis/16 Desember 2021, Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad melakukan kunjungan ke kantor Parisada Hindu Dharma Indonesia atau PHDI sebagai Majelis Tertinggi Agama Hindu di Indonesia. Safari ini dalam rangka mengajak seluruh rakyat Indonesia, khususnya umat Hindu di Indonesia untuk turut mendukung kemerdekaan Palestina, karena kemerdekaan adalah hak asasi setiap negara. Indonesia mempunyai tanggung jawab konstitusi serta tanggung jawab sejarah untuk mendukung upaya ini. Kunjungan Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad diterima oleh drg. Nyoman Suartanu, MPM selaku Ketua Bidang Kesehatan dan Sosial Kemanusiaan PHDI. Sebagai salah satu tokoh Hindu di Indonesia, drg. Nyoman merespon positif safari yang tengah dilakukan oleh MER-C karena beririsan di nilai kemanusiaan.                               “Melihat dari safari yang dilakukan oleh MER-C maka irisannya adalah di nilai-nilai kemanusiaan. Orang menderita, orang kena musibah tidak bisa kita pilah-pilah, semuanya adalah masalah kemanusiaan. Secara nilai baik itu dalam kitab-kitab manapun juga, kalau kita bicara masalah kemanusiaan, pasti itu yang tertinggi,” ujar Nyoman. Lebih lanjut Nyoman menjelaskan bahwa PHDI bernaung di bawah nilai-nilai Hindu dan ajaran kitab Weda. “Nilai-nilai dalam Weda, dalam ajaran agama Hindu adalah menyayangi kehidupan. PHDI menjunjung nilai-nilai itu, menjaga kehidupan dan menyayangi kehidupan, maka masuk ke human value atau nilai kemanusiaan.” Ia juga menyatakan keprihatinannya dengan konflik berkepanjangan Palestina – Israel yang menyebabkan banyak korban berjatuhan. “Kita sedih sepertinya tidak ada selesai-selesainya. Ini adalah masalah kemanusiaan tentu kita sebagai umat manusia di dunia memiliki tanggung jawab dan kewajiban untuk menghentikan seluruh konflik yang akhirnya menimbulkan korban kemanusiaan,” katanya. Menanggapi diskusi untuk upaya menghentikan konflik berkepanjangan ini dan adanya opsi soluasi dua negara yang juga didukung oleh pemerintah Indonesia, Drg. Nyoman Suartanu berpendapat hal ini sebagai win-win solution bagi kedua pihak yang bertikai.                             “Solusi dua negara itu adalah salah satu bentuk win-win solution. Kalau tadinya satu pihak ingin menguasasi, pihak lain ingin mempertahankan, win win solutionnya adalah ayo kita bagi, pilah jangan sampai terjadi seperti itu lagi,” ujar Nyoman. Namun bagaimana secara detailnya karena menyinggung kebijakan pemerintah, maka PHDI menurutnya sangat menjunjung bagaimana pemerintah Indonesia membuat sebuah keputusan yang bijak terhadap kondisi ini karena kita memiliki kewajiban dan tanggung jawab tentang hal tersebut. “Walau kami memiliki aturan, kami pasti akan tunduk dengan kebijakan positif hukum negara. Negara pun membuat keputusan tidak akan gegabah,” katanya. Di akhir pertemuan, sebagai kenang-kenangan dan untuk mempererat hubungan antara MER-C dan PHDI, dr. Sarbini Abdul Murad menyerahkan syal Indonesia – Palestina kepada drg. Nyoman Sanuarta dan plakat berlogo MER-C. Syal Indonesia – Palestina didisain khusus oleh MER-C dengan menyandingkan disain batik dari Indonesia dan disain kotak-kotak hitam putih dari Palestina sebagai simbol persahabatan Indonesia – Palestina.

Khidmat MER-C bersama anak bangsa di Gunung Semeru

siapapun yang membutuhkan akan kami layani Jakarta (ANTARA) – Letusan Gunung Semeru, yang secara administratif berada di dua daerah, yakni Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang, Jawa Timur, dan terjadi sejak Sabtu(4/12) 2021 hingga kini masih menyisakan duka mendalam. Warga di sekitar gunung tertinggi di Pulau Jawa itu, dengan puncaknya Mahameru setinggi 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl), yang menjadi korban, baik luka maupun belum ditemukan, masih membutuhkan bantuan, baik kesehatan maupun logistiknya. Baik pemerintah, organisasi kemanusiaan, perusahaan negara dan swasta, anak sekolah dan mahasiswa, bahkan partai politik, lembaga swadaya masyarakat (LSM) hingga kini terus melakukan kegiatan dan sumbangsihnya dalam ragam bentuknya. Dari beragamnya para pihak yang bersama-sama membantu masyarakat korban letusan Semeru itu, salah satunya yang ikut bergabung adalah organisasi sosial kemanusiaan untuk korban perang, konflik dan bencana alam yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan kesehatan “Medical Emergency Rescue Committee” (MER-C) Indonesia. “Bersama anak bangsa lainnya, kami masih terus bergerak untuk membantu korban erupsi Semeru,” kata Ketua Presidium MER-C dr Sarbini Abdul Murad. Selain mengirim tim kesehatan, yang terdiri atas sukarelawan dari unsur dokter spesialis, dokter umum, perawat, bidan, dan bagian logistik, pihaknya juga mengirimkan tim pemulihan trauma (trauma healing). Pada Jumat (10/12) 2021, MER-C kembali memberangkatkan tim sukarelawannya, yakni tim ketiga ke wilayah yang terdampak bencana erupsi Gunung Semeru di Lumajang, yakni 13 orang, yakni dokter umum, perawat, bidan, bagian logistik serta trauma healing. Sebelumnya, sejak satu hari usai bencana, MER-C telah menurunkan dua tim sukarelawan. Tim ke-1 adalah tim advance sebanyak 5 sukarelawan yang dipimpin oleh Ketua MER-C Cabang Jawa Timur dr M Hardian Basuki, SpOT (K), untuk melakukan assessment ke beberapa titik pengungsian dan fasilitas kesehatan.                               Anggota tim sukarelawan kesehatan MER-C sedang mendata dan memeriksa warga terdampak bencana erupsi Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. ANTARA/HO-Humas MER-C   Tim bedah Tim ke-2 yang diterjunkan adalah tim medis yang terdiri atas dokter spesialis bedah plastik rekonstruksi, dokter umum, perawat dan bagian logistik berjumlah tujuh orang yang merupakan gabungan dari sukarelawan MER-C Cabang Yogyakarta, Solo dan Jawa Timur. Tim bedah plastik melayani pasien luka bakar di Rumah Sakit Dr Haryoto Lumajang. Sementara tim medis lainnya melakukan pelayanan mobile clinic ke titik-titik pengungsian yang masih minim bantuan medis. Korban luka bakar menjadi fokus tim bedah plastik karena jumlahnya cukup banyak. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)Abdul Muhari, Ph.D melalui keterangan yang disampaikan pada Sabtu (12/12) menyatakan sepekan upaya pencarian dan pertolongan korban dampak awan panas guguran (APG) Gunung Semeru, tim gabungan telah menemukan total 45 korban jiwa dalam kondisi meninggal dunia. Jumlah tersebut bertambah dari yang sebelumnya yakni 43, setelah pada Jumat (10/12), tim kembali menemukan dua korban di wilayah Dusun Kamar Kajang, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang. Merujuk Dansatgas Penanggulangan Dampak APG Gunung Semeru dari Posko Tanggap Darurat Kecamatan Pasirian, Kolonel (Inf) Irwan Subekti, Jumat (10/12), BNPB merinci jumlah orang hilang yang sampai saat ini dilaporkan ada 9 orang, 19 orang luka berat dan 19 lainnya luka ringan. Adapun sebanyak 19 orang yang luka ringan ini juga memiliki luka atau penyakit lain di luar luka bakar akibat APG Gunung Semeru. Sementara, jumlah orang yang mengungsi ada sebanyak 6.573 pengungsi yang tersebar di 124 titik pengungsian. Sebanyak 124 titik pengungsian itu terbagi sebanyak 24 titik di lokasi pengungsian terpusat dan sisanya yakni 102 titik merupakan pengungsian mandiri maupun di lokasi kerabat para warga terdampak.                                Tim dokter kesehatan MER-C sedang memberikan layanan kesehatan warga terdampak bencana erupsi Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. ANTARA/HO-Humas MER-C Prioritas keselamatan Saat meninjau RSUD Pasirian Lumajang, Ahad (5/12), Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menegaskan bahwa pemerintah berfokus menyelamatkan korban. Sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo, kata dia, setiap ada bencana seperti ini yang diprioritaskan adalah keselamatan korban, terutama mereka yang cedera. Korban cedera akibat erupsi Gunung Semeru di RSUD Pasirian banyak yang mengalami luka bakar parah. Bahkan ada korban yang mengalami luka bakar sampai 80 persen sehingga perlu penanganan khusus dengan bantuan dokter spesialis,  dokter sub spesialis dan dokter bedah plastik. Selain itu, ada pula korban cedera yang tertimpa reruntuhan bangunan. Ketua Tim ke-3 MER-C untuk erupsi Semeru dr Mustofa Siddik menyatakan bahwa kegiatan tim tidak langsung berkaitan dengan evakuasi, melainkan pendampingan kesehatan. “Targetnya siapapun yang membutuhkan akan kami layani sesuai dengan kapasitas kami sebagai tim kesehatan,” katanya. Namun apabila dirasa tim menemukan satu kasus yang tidak dapat ditangani oleh tim, maka akan merujuk ke fasilitas kesehatan terdekat yang memadai. Tim MER-C dengan menggunakan dua armada “double cabin” akan bertugas selama sepekan ke depan dan rolling dengan tim ke-2 yang sudah bertugas, dan selanjutnya tim sukarelawan akan terus dikirimkan secara rotasi sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Pada Rapat Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana (Rakornas PB) Tahun 2021 di Jakarta pada Rabu (10/3) 2021, MER-C mendapat penghargaan dari negara, melalui BNPB. Anugerah penghargaan kepada MER-C diberikan atas intensitas, konsistensi, dan inovasi MER-C dalam penanggulangan bencana di Indonesia, khususnya di masa pandemi COVID-19 saat ini. Khidmat membantu korban di Gunung Semeru adalah kesinambungan kerja-kerja senyap kemanusiaan dari Sabang hingga Merauke, yang tidak segegap-gempita jika misi kemanusiaan berlangsung di mancanegara. Oleh Andi JauharyEditor: Budhi Santoso Sumber : https://www.antaranews.com/berita/2581121/khidmat-mer-c-bersama-anak-bangsa-di-gunung-semeru

Dorong Kemerdekaan Palestina, MER-C Lakukan Safari Kemanusiaan

Dalam upaya mendorong dan mendukung kemerdekaan Palestina, lembaga sosial medis untuk kemanusiaan dan perdamaian, Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia melakukan program yang diberi nama ‘Safari Kemanusiaan untuk Kemerdekaan Palestina’. Sarbini Abdul Murad, Ketua Presidium MER-C, memandang Safari Kemanusiaan perlu dilakukan untuk mengkomunikasikan permasalahan Palestina kepada semua pihak dan semua elemen anak bangsa untuk bersama-sama membantu dan mencari jalan keluar dalam mendukung terwujudnya kemerdekaan Palestina.   “MER-C mempunyai satu program yaitu ‘Safari Kemanusiaan Mendukung Kemerdekaan Palestina’. Ini untuk mengkomunikasikan dengan segenap pihak, dengan tokoh-tokoh lintas agama, tokoh-tokoh pers, pemuda dan aktifis-aktifis kemanusiaan agar masalah Palestina bisa bersama-sama kita bantu, bersama-sama kita tanggulangi,” ucap Sarbini dalam pernyataannya di Kantor Pusat MER-C di Jakarta, Jum’at/12 November 2021. Sarbini menyampaikan bahwa Palestina adalah salah satu negara peserta Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955 yang sampai hari ini belum merdeka. Menurutnya, Indonesia sebagai negara muslim terbesar yang sama-sama lahir dari penderitaan penjajahan dimana pada pembukaan UUD 1945 juga jelas menyatakan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, maka menjadi tanggung jawab konstitusi dan kewajiban semua untuk melakukan suatu kerja keras agar Palestina bisa merasakan kemerdekaan seperti negara-negara lain.  “Oleh sebab itu, ini menjadi tanggung jawab sejarah, tanggung jawab konstitusi, tanggung jawab kita bersama untuk mendorong semua pihak agar bisa memerdekakan Palestina,” tegasnya. Dalam pernyataannya, Sarbini mengajak semua pihak agar masalah Palestina menjadi fokus dan pemikiran bersama. “Banyak tokoh-tokoh yang selama ini mungkin sepi untuk berbicara tentang Palestina, senyap untuk berfikir untuk Palestina, kami mengajak semua kita agar masalah Palestina menjadi titik fokus kita, menjadi pokok pemikiran kita bersama, agar saudara-saudara kita di Palestina bisa mendapatkan kemerdekaan sebagaimana yang kita rasakan pada hari ini,” tambah Sarbini. Upaya Safari Kemanusiaan yang dilakukan MER-C saat ini menurutnya sejalan dengan apa yang pernah dikatakan Bung Karno, Presiden Republik Indonesia pertama. “Harus kita ingat, Bung Karno pernah mengatakan bahwa ‘Kami Bersama Palestina sampai Palestina Mendapatkan Kemerdekaan’. Ini adalah suatu hal yang MER-C lakukan. Mudah-mudahan ini didukung oleh semua pihak sehingga MER-C menjadi bahagian dari duta Palestina untuk mengkomunikasikan proses ini kepada semua lapisan masyarakat, semua elemen anak bangsa. Mudah-mudahan kita bisa bersama Palestina dalam mendorong dan mendukung kemerdekaan Palestina,” harap Sarbini. MER-C telah memulai program ini dengan bertemu dan mengkomunikasikannya ke Tokoh agama Katolik. Pertemuan dan komunikasi serupa akan terus dilakukan ke tokoh-tokoh lintas agama yang lain dan ke semua elemen anak bangsa.   Selengkapnya : https://youtu.be/BIr84-IubDI Jakarta, 12 November 2021Medical Emergency Rescue Committee

Safari Kemanusiaan, MER-C Bertemu Pengamat Timur Tengah dari UI

Depok, MINA – Lembaga medis dan perdamaian, Medical Emergency Rescue – Committee (MER-C) dipimpin dr. Sarbini Abdul Murad bertemu Ketua Program Studi Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam SKSG Universitas Indonesia (UI), Yon Machmudi di Depok, Ahad (7/11). Dalam pertemuan yang merupakan rangkaian Safari Kemanusiaan MER-C itu, Sarbini menyampaikan pentingnya semua pihak berdiskusi tentang kondisi Palestina. Ia menegaskan, penderitaan Palestina tidak boleh dimanfaatkan dalam bentuk apa pun. “Orang-orang hanya respek ketika ada peristiwa besar, tapi begitu peristiwa besar itu hilang, maka lupa itu tentang Palestina. Jadi saya ingin mencoba mengkomunikasi bahwa kita punya dua tanggung jawab terhadap Palestina, yaitu tanggung jawab konstitusi dan tanggung jawab sejarah. Ini yang ingin kita sampaikan melalui Safari Kemanusiaan,” ujar Sarbini. Menurut Sarbini, aksi-aksi kemanusiaan yang selama ini dilakukan belum mampu membuka mata Israel terkait penderitaan bangsa Palestina. Maka, kata dia, Indonesia sebagai rumah umat Islam yang besar perlu bersikap lebih nyata dalam mendukung Palestina. Sementara itu, Ketua Program Studi Pascasarjana Kajian Timur Tengah dan Islam SKSG Universitas Indonesia (UI), Yon Machmudi membenarkan apa yang disampaikan Sarbini. Menurutnya, memang Palestina membutuhkan dukungan lebih dari banyak pihak. “Negara yang mengakui Israel sudah banyak, dari Amerika hingga Uni Eropa. Yang mengakui Palestina belum terlalu banyak. Sementara yang mengakui keduanya sejauh ini hanya Rusia atau Cina saja. Jadi dukungan terhadap Palestina masih jauh,” katanya. Menurut Yon, Palestina bisa memunculkan kekuatan yang besar apabila dua fraksi besar di negara itu bisa bekerja sama, yakni Hamas di Jalur Gaza dan Fatah di Ramallah. Hanya saja, kata dia, rekonsiliasi kedua fraksi tersebut tidak mungkin dibiarkan begitu saja oleh Israel. “Memang untuk berhadapan dengan Israel itu ada dua sisi, berinteraksi dengan perlawanan atau diplomasi. Dan dua-duanya sudah dilakukan oleh Palestina, tetapi memang terpisah, yakni Hamas dengan perlawanannya, kemudian PLO dengan diplomasinya,” tuturnya. Yon menjelaskan, selama Hamas dan Fatah belum bersatu, maka akan sulit untuk berhadapan dengan Israel. Ia pun menyarankan pihak eksternal, khususnya dari Indonesia untuk memediasi rekonsiliasi antara Hamas dan Fatah. “Minimal masyarakat akar rumput di Palestina bersatu. Mungkin kalau langsung tokoh sentralnya ini akan sulit, tetapi kalau dimulai dari masyarakat, minimal sampai ke tokoh-tokoh menengah, ini bisa dilakukan,” katanya. Terkait kepedulian terhadap Palestina, Yon mengapresiasi langkah MER-C yang melakukan Safari Kemanusiaan ke semua kalangan. Hal itu, menurutnya, bisa menjadi langkah awal memberikan dukungan yang besar kepada Palestina. Sumber : https://minanews.net/safari-kemanusiaan-mer-c-bertemu-pengamat-timur-tengah-dari-ui/

MER-C Apresiasi Langkah Denmark Membantu Palestina

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia menyampaikan apresiasinya yang tinggi atas langkah Denmark memberikan bantuan kepada Palestina. Bantuan Denmark berupa dana hibah dan kemitraan dilakukan dalam rangka mendukung upaya Palestina memperjuangkan kemerdekaannya. Apresiasi ini disampaikan oleh Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad secara tertulis kepada Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen melalui surat yang dikirimkan ke Kedutaan Besar Denmark di Jakarta, Selasa/12 Oktober 2021. “Kami memberikan apresiasinya setinggi-tingginya kepada Pemerintah dan rakyat Denmark atas langkah yang telah diambil untuk membantu Palestina. Kesepakatan bantuan yang diberikan berupa dana hibah dan kemitraan antara Denmark dan Palestina adalah sebuah langkah berani dan nyata dalam upaya mendukung upaya Palestina memperjuangkan kemerdekaannya. Hal ini menunjukkah sikap tegas Denmark yang berpihak kepada kemanusiaan dan keadilan serta menolak bentuk penjajahan yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina,” tulisnya.    Bantuan dan kemitraan seperti ini, tulisnya, tentu akan membantu rakyat Palestina meningkatkan kapasitas rakyatnya, meningkatkan perekonomian, memperluas pembangunan di berbagai bidang, sehingga Palestina dapat menjadi bangsa yang mandiri, merdeka dan berdaulat, sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia.   Sarbini berharap langkah yang telah dilakukan Denmark bisa diikuti oleh banyak negara lainnya di dunia. “Kami berharap langkah yang telah dilakukan Denmark bisa diikuti oleh banyak negara lainnya di dunia sebagai bentuk dukungan terhadap kemanusiaan dan perdamaian serta perlawanan terhadap penjajahan,” tambahnya.   “Negara-negara peduli Palestina seperti Denmark, kami harapkan dapat memberikan tekanan kepada Israel untuk menghentikan tindakan ilegalnya di Tepi Barat, yaitu perampasan dan penghancuran properti warga Palestina, dsb,” tegas dokter yang sudah berpengalaman di berbagai wilayah perang dan bencana.   Lebih lanjut, mengenai perdamaian antara Palestina dan Israel melalui solusi dua negara, dalam suratnya, Sarbini juga sangat mengapresiasi hal ini dimana Denmark menjadi salah satu negara yang mendukung solusi ini. “Semoga Denmark dapat terus menyuarakan hal ini di forum-forum internasional, sehingga solusi dua negara bisa segera terwujud.”   MER-C sendiri adalah NGO Indonesia yang memiliki concern terhadap masalah Palestina terutama dalam aspek kemanusiaan dan kesehatan. Salah satu bentuk komitmen MER-C untuk Palestina adalah dengan membangun Rumah Sakit di Bayt Lahiya, Jalur Gaza yang diberi nama Rumah Sakit Indonesia. Pembangunan Rumah Sakit Indonesia yang sudah berlangsung sejak tahun 2009, sampai saat ini masih terus dilakukan pengembangan-pengembangan yang diperlukan untuk meningkatkan dan memperluas kapasitas pelayanannya.   Jakarta, 12 Oktober 2021 MER-C Indonesia

Siaran Pers : Kemenangan taliban dan Rencana MER-C untuk Afghanistan

Peristiwa penguasaan wilayah dan pengambil alihan kepemimpinan oleh Taliban di Afghanistan turut menjadi perhatian MER-C. Dr. Sarbini Abdul Murad, selaku Ketua Presidium MER-C memberikan pernyataan pers terkait hal ini dan rencana MER-C ke depan sebagai sebuah organisasi yang mempunyai pengalaman melakukan misi kemanusiaan di Afghanistan pada tahun 2001 dan 2002. “Kita ketahui bersama bahwa baru-baru ini Taliban telah menguasai Kabul dan tanggal 31 Agustus Amerika meninggalkan bandara dan praktis pada kesempatan ini semua dikuasai oleh Taliban. Kami perlu memberikan keterangan pers karena MER-C mempunyai pengalaman bekerja di Afghanistan dalam aktivitas kemanusiaan pada tahun 2001 dan 2002,” ungkap Sarbini. “Oleh sebab itu, kami akan memberikan beberapa hal penting. Ini adalah masukan untuk kita semua dan kita harapkan Afghanistan lebih bagus, lebih stabil dan lebih berwajah kemanusiaan,” tambahnya. Sarbini yang pernah bertugas sebagai relawan medis MER-C untuk Afghanistan membahas mengenai stigma yang dilabelkan pada Taliban yang terkesan kurang baik dan menjelaskan pendapatnya mengenai Taliban. “Perlu diketahui bahwa dunia internasional atau sebagian dari Indonesia melabelkan Taliban dengan stigma yang kurang baik, kurang bagus, dan ada beberapa hal yang menurut pandangan kami Taliban sendiri harus memperhatikan masukan atau kritikan dari dunia internasional atau beberapa pihak. Yang pertama adalah dunia internasional mengkhawatirkan terjadinya diskriminasi terutama pada etnis minoritas, kemudian terjadi penekanan terhadap kebebasan sipil, kebebasan wanita dan demokratisasi. Ini yang dikhawatirkan oleh pihak-pihak internasional,” ujarnya. Menurutnya, kekhawatiran ini karena ada trauma sejarah yang dialami sekitar tahun 2000-an dimana ketika Afghanistan dikuasai oleh Taliban terjadi kekerasan. Ini yang menjadi trauma sampai dengan hari ini. Lebih lanjut Sarbini menyampaikan bahwa kita harus memberikan kesempatan kepada Taliban dan menjauhkan framing. “Kita harus memberikan kesempatan kepada Taliban untuk membentuk pemerintahannya dan kita menjauhkan framing yang seakan-akan Taliban sama seperti yang pernah mereka lakukan pada tahun 2000,” ungkapnya. Sarbini mengharapkan adanya pemerintahan yang inklusif dan juga menyebutkan bahwa Taliban mesti belajar dari Indonesia karena Indonesia mempunyai pengalaman yang cukup dalam melakukan manajemen konflik sehingga menurutnya Indonesia bisa bekerja sama dengan Taliban. “Oleh sebab itu, kita mengharapkan adanya pemerintah yang inklusif dimana Taliban harus melibatkan semua pihak, semua tokoh, dan semua etnis. Sehingga kita harapkan ada stabilitas politik di Afghanistan, ada stabilitas ekonomi di Afghanistan sehingga berjalan pemerintah yang efektif. Selanjutnya, Taliban mesti belajar dari Indonesia. Kita ketahui bahwa Indonesia punya pengalaman yang cukup dalam melakukan manajemen konflik. Oleh sebab itu, saya pikir pemerintah Indonesia bisa bekerja sama dengan Taliban untuk mengirimkan tim asistensi diplomat-diplomat kita yang hebat untuk memberikan masukkan kepada Taliban sehingga nanti mereka dalam mengelola negara atau mendirikan pemerintahan akan melibatkan semua pihak dan pemerintahan akan dijalankan lebih efektif,” ujarnya. Dalam pernyataan persnya, Sarbini juga menjelaskan mengenai keikutsertaan dan rencana MER-C ke depan sebagai organisasi kemanusiaan yang pernah bekerja di Afghanistan dalam membantu Afghanistan apabila pemerintahan telah terbentuk dan berjalan secara efektif. “Selanjutkan MER-C sebagai organisasi kemanusiaan yang pernah bekerja di Afghanistan dan pernah diminta oleh pihak Afghanistan terutama pihak departemen kesehatan untuk mendirikan rumah sakit di Afghanistan, maka apabila pemerintahan telah terbentuk dan efektif, insya Allah MER-C akan membantu Afghanistan di bidang kesehatan, apakah itu ambulans, klinik atau rumah sakit. Insya Allah ini menjadi perhatian MER-C ke depan,” tambahnya.   Berikut link Vidio Siaran pres : https://youtu.be/0QSpAJN877g   Jakarta, 3 September 2021 MER-C Indonesia

Layanan operasional RS Indonesia di Myanmar kado HUT Kemerdekaan

Jakarta (ANTARA) – Tonggak sejarah ditancapkan ketika digagas pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Myaung Bwe, Mrauk U, Rakhine State, Myanmar, pada November 2017. Pembangunan RSI di Myanmar itu sarat makna, baik secara kemanusiaan maupun diplomasi hubungan antarbangsa, serta tentu saja kesehatan. Lebih mendasar lagi, karena RSI itu dibangun di tengah komunitas yang sedang berkonflik, yakni pihak Muslim dan Budha. Sejarah perjalanan RSI di Myanmar bantuan dari rakyat dan pemerintah Indonesia itu, bermula dari ide organisasi sosial kemanusiaan untuk korban perang, konflik dan bencana alam yang bergerak dalam bidang kegawatdaruratan kesehatan “Medical Emergency Rescue Committee” (MER-C) Indonesia. MER-C kemudian mengomunikasikannya dengan Wakil Presiden saat itu M Jusuf Kalla, yang juga menjabat Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI). JK, panggilan karib Jusuf Kalla, kemudian mengundang Perwakilan Umat Buddha Indonesia (WALUBI) untuk menjalin kerja sama dengan MER-C, hingga akhirnya bekerja bersama untuk mewujudkannya. Kedutaan Besar RI di Myanmar melengkapi penjelasan perjalanan RSI itu dengan menyatakan pembangunan RS bantuan Indonesia itu bermula dari hasil kesepakatan antara Presiden Myanmar U Htin Kyaw dan Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla di sela-sela KTT Asia-Europe Meeting (ASEM) di Mongolia pada pertengahan 2016. Pembangunan RS ini adalah proyek kolaborasi antara MER-C dan PMI, dan didukung oleh Pemerintah Indonesia. Dana proyek berasal dari komunitas Muslim Indonesia, komunitas Buddha Indonesia, khususnya dari WALUBI, dan dermawan lain. Rancangan RS dan konstruksi dilakukan oleh MER-C dan kontraktor lokal. Selama konstruksi, MER-C menempatkan empat orang di lokasi sebagai pengawas. Sementara itu PMI memimpin proses pengadaan alat kesehatan untuk RS. Peletakan batu pertama dilakukan pada Minggu (19/11/2017) dihadiri Duta Besar RI untuk Myanmar saat itu Ito Sumardi dan menteri urusan Rakhine, perwakilan Kementerian Kesehatan Myanmar, perwakilan MERC, tokoh masyarakat setempat dan masyarakat agama Budha dan Islam. Semestinya, Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi akan hadir di acara tersebut, namun batal karena imbauan pemerintah Myanmar yang menyatakan lokasi pembangunan RSI berada di wilayah utara Rakhine, yang dipandang rawan, dan Pemerintah Myanmar sendiri tidak bisa memberikan pengamanan optimal sesuai standar untuk tamu resmi pemerintah setingkat menteri. Terlebih, saat itu pasukan keamanan Myanmar sedang difokuskan menjaga pertemuan tingkat menteri Asia-Eropa di Nay Pyi Taw, yang juga dihadiri Menlu Retno Marsudi. Menteri Luar Negeri Retno L.P. Marsudi (empat dari kiri) saat menerima delegasi MER-C Indonesia, yang dipimpin Ketua Presidium dr Sarbidi Abdul Murad (tiga dari kiri) saat melaporkan perkembangan pembangunan Rumah Sakit Indonesia (RSI) tahap II di Gaza, Palestina dan RSI di Myanmar pada 2020. (FOTO ANTARA/HO-Humas MER-C) Singkat cerita, pembangunan RSI itu, yang semula direncanakan selesai satu tahun molor hingga dua tahun disebabkan situasi dan berbagai kendala di lapangan, antara lain isu keamanan, musim hujan terus menerus yang menyebabkan banjir, sulitnya mencari pekerja dan bahan material bangunan, serta kinerja kontraktor lokal. Namun tantangan tersebut dapat dihadapi dengan baik oleh Tim MER-C di lapangan sehingga kendala-kendala teknis dapat diatasi. Akhirnya, pada 10 Desember 2019 di Kantor Kementerian Kesehatan dan Olahraga Myanmar, Nay Pyi Taw, Pemerintah Indonesia, yang diwakili oleh Duta Besar RI untuk Myanmar, Prof Dr Iza Fadri menyerahkan secara teknis RSI bantuan Indonesia di Myaung Bwe, Mrauk U, Rakhine State, kepada Pemerintah Myanmar, yang diwakili oleh Wakil Direktur Jenderal, Departemen Pelayanan Kesehatan, Dr Thida Hla. Kegiatan technical handover RS tersebut disaksikan oleh Menteri Kesehatan dan Olahraga Myanmar Dr Myint Htwe dan para pejabat tinggi dari Kementerian Kesehatan dan Olahraga Myanmar serta perwakilan dari PMI pusat dan MER-C Indonesia. RSI tersebut terdiri atas bangunan utama seluas 2.214 meter persegi di atas tanah 4.644 meter persegi yang mencakup ruang operasi, ruang gawat darurat, ruang X-Ray dan pendukung lain, bangunan rumah generator seluas 11,25 meter persegi bersama dengan satu unit generator, bangunan kamar jenazah seluas 24 meter persegi, bangunan ground tankbeserta empat unit pompa air otomatis, lansekap dan dua jembatan beton. Kado indah Menjelang HUT Ke-76 Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2021, tepatnya pada Jumat (13/8), RSI di Rakhine State itu — di tengah pandemi COVID-19 — sudah mulai memberikan pelayanan kesehatan bagi warga Muslim dan Budha setempat. Ketua Presidium MER-C dr Sarbini Abdul Murad mengaku bersyukur mendapat kabar baik bahwa Rumah Sakit Indonesia di Myaung Bwe, Mrauk U, Rakhine State, Myanmar, sudah dibuka dan operasional. RS itu dinilai punya dua makna yang berarti, yakni hadiah ulang tahun ke-22 MER-C dan HUT Ke-76 Kemerdekaan Indonesia. Pada hari pertama itu, ada delapan warga Muslim dan enam warga Budha mendapatkan perawatan di RSI Myanmar. Berita tersebut dinilainya sangat menggembirakan karena RSI di Mynamar itu sudah difungsikan oleh pemerintah setempat guna memberikan layanan kesehatan warganya. RSI tersebut kini bisa bermanfaat bagi kedua belah pihak, dan sekaligus menjadi sarana berbaur, antara masyarakat Budha dan Muslim di sana, yang selama ini terhambat karena adanya konflik. Kolaborasi beragam unsur di Tanah Air, kembali mengukuhkan bahwa kerja sama, baik kalangan non-pemerintah dengan pemerintah, kembali bisa diwujudkan. Melalui diplomasi jalur kedua (second track diplomacy) , aktor non-negara, seperti MER-C, WALUBI bersama PMI dan pemerintah mampu membangun gotong royong untuk kinerja-kinerja kemanusiaan, sekaligus kesehatan dan diplomasi. Tak hanya itu, untuk wilayah konflik, diplomasi non-formal ini juga bisa menjadi model ke depan untuk proses-proses mendamaikan para pihak dengan sentuhan yang lebih lembut. RSI di Rakhine State, Myanmar itu merupakan bagian dari diplomasi kemanusiaan, dan keberadaan RS yang dibangun oleh umat Muslim dan Budha Indonesia itu diharapkan dapat mendorong terciptanya perdamaian di Myanmar.   Oleh Andi Jauhary COPYRIGHT © ANTARA 2021   Sumber : https://www.antaranews.com/berita/2335242/layanan-operasional-rs-indonesia-di-myanmar-kado-hut-kemerdekaan

Kecerdasan Sosial Diperlukan untuk Pengelolaan Bencana Pandemi Covid-19

Banyak permasalahan sosial timbul akibat kegagalan dalam melakukan pendekatan kepada masyarakat, sehingga antara masyarakat, pemerintah dan nakes tidak bisa berjalan sinergis bahkan sering bertolak belakang. Sikap dan pandangan mereka tidak sama, ada yang sangat ketakutan, ada yang biasa-biasa saja dan malah ada yang “menantang” Covid-19 itu sendiri. Polarisasi sikap-sikap ini adalah hasil pengelolaan yang sudah keliru sejak awal, sehingga antara nakes, masyarakat dan pemerintah memiliki keyakinan masing-masing. Nakes keseharian bertemu dengan pasien Covid-19 mulai dari yang ringan hingga yang berat. Banyaknya nakes yang wafat cukup menimbulkan psikotrauma bagi nakes. Untuk ini sikap nakes pun terbelah tergantung pada level dampak psikotrauma yang ditimbulkan. Nakes yang sudah lelah menghadapi pasien Covid-19 yang tidak berhenti-berhenti mengalir ke prakteknya akan bertambah psikotraumanya ketika melihat masyarakat abai dalam menjalankan prokes dan akan cenderung merekomendasikan LOCKDOWN ketimbang solusi yang lain. Namun ada juga nakes yang berupaya meraba rasakan kesulitan yang terjadi di masyarakat itu sendiri dan memahami untuk mencari solusi. Di sisi lain masyarakat juga terbelah sikapnya. Ada yang ketakutan berlebihan akibat melihat kerabat, teman yang terkena Covid-19 yang berat lalu meninggal. Sementara ada yang menganggap Covid-19 itu biasa saja karena mereka melihat kerabat, kawan kena Covid-19 yang ringan akan sembuh sendiri, hngga malah ada yang menantang karrna menganggap Covid-19 itu bohong, sebab mereka melihat yang kena Covid-19 baik-baik saja. Apalagi mereka disuruh lokdon yang akan mengganggu ekonomi mereka, maka timbullah “perlawanan”, berkembanglah pemikiran-pemikiran “liar”  ke berbagai arah mengkait-kaitkan dengan berbagai aspek seperti politik, dll. Situasi pelayanan medis diperburuk dengan sikap-sikap ketakutan dan panik yang membuat mereka dikit-dikit datang berbondong-bondong memenuhi IGD dan RS, menyebabkan overload RS dan gagal pelayanan. Sebenarnya bagi penderita Covid-19 yang ringan akan banyak bahaya dan kerugiannya bila datang ke IGD atau RS, yaitu: 1. Apabila pasien Covid-19 banyak berkumpul, akan menyebabkan “viral load” di ruangan tersebut tinggi, malah akan bisa memperburuk resiko infeksinya; 2. Nakes akan kehilangan fokus dalam mengelola pasien karena banyaknya pasien sehingga bisa timbul kelalaian; 3. Pasien-pasien yang non Covid-19 bisa tertular Covid-19; 4. Resiko nakes terinfeksi akan lebih tinggi sehingga akan membahayakan pelayanan menyebabkan gagal atau kolapsnya pelayanan. Egoisme yang timbul hanya akan berdampak buruk dan menyebabkan KARAMnya kapal pelayanan. Membiarkan situasi “head to head” antara nakes dan masyarakat ini dimana keduanya adalah termasuk “korban bencana” yang sama-sama mengalami psikotrauma, hanya akan menimbulkan konflik berkepanjangan, perang medsos berkepanjangan. Contoh teranyar adalah kisruh Covid-19 di Madura. https://nasional.tempo.co/read/1474052/posko-penyekatan-suramadu-dirusak-warga-satgas-covid-19-mereka-tak-sabar https://amp.kompas.com/regional/read/2021/06/18/110250478/viral-video-kericuhan-di-posko-penyekatan-suramadu-warga-rusak-meja-dan Sejatinya secara etika para “korban bencana” ini jangan dibiarkan “head to head” yang akan menyebabkan SECONDARY DISASTER. Namun perlu dikelola dengan kecerdasan sosial yang mumpuni. Kisruh seperti di atas harusnya bisa dijembatani dengan melibatkan ulama, karena karakter orang madura yang taat kepada ulama. Harusnya ulama jangan hanya didekati dan dilibatkan ketika menjelang pilpres, tetapi juga libatkan, masukkan ke dalam satgas Covid-19. Pertanyaannya siapa yang mengelola tersebut? Harusnya pemerintah bisa memposisikan diri, organisasi profesi, organisasi masyarakat, dll. Mereka harusnya menahan ego, bersatu, bahu membahu menyusun langkah strategis dan nyata dalam menghadapi situasi. “Dilalah“nya malah diantara mereka juga sering tidak sejalan. Pemerintah dengan “tugas politik” nya kerap mengabaikan masukan-masukan dari para pakar. Di sisi lain organisasi profesi kerap mengambil sikap “All or None” tak mau kompromi terhadap situasi, memberikan anjuran ekstrim tanpa mencermati aspek lain dalam masyarakat. Misalnya; polemik sekolah tatap muka, tanpa solusi cerdas. Para organisasi profesi ini harusnya jangan berperan hanya sebagai WAKIL yang mewakili suara para nakes yang terdampak bencana, tapi harus bisa lebih menjadi JEMBATAN komunikasi baik itu ke masyarakat ataupun pemerintah. Sehingga bisa duduk bareng, mengukur resiko dan menghasilkan solusi jalan tengah yang nyata. Oleh karena itu, mari kita kedepankan “kecerdasan sosial”  kita dalam mengelola pandemi ini. Salam Cerdas Kemanusiaan, Dr. Yogi Prabowo, SpOTPendiri, Relawan dan Presidium MER-C

MER-C Lantik Pengurus Cabang Surakarta periode 2021-2023

MER-C Indonesia menggelar acara Pelantikan Pengurus MER-C Cabang Surakarta periode 2021-2023, Sabtu/19 Juni 2021. Di tengah situasi pandemi, pelantikan pengurus dilakukan secara virtual melalui aplikasi zoom meeting. Acara dihadiri oleh perwakilan MER-C Pusat dan pengurus baru serta relawan MER-C Cabang Surakarta . Mewakili Presidium MER-C Indonesia, dr. Arief Rachman, SpRad memberikan ucapan selamat mengemban amanah tugas kepada para pengurus MER-C Cabang Surakarta yang baru dilantik. Dalam sambutannya, salah satu anggota Presidium MER-C ini mengingatkan bahwa setiap pengurus akan memiliki periode up and down dan tugas besar bersama adalah masalah kaderisasi. “Setiap pengurus ada periode up and down. Ada pengurus yang bagus dalam capaian kerja dan pengkaderan, ada yang flat saja dengan kegiatan rutin dan kaderisasi yang terhambat. Ini menjadi PR dan perhatian kita bersama baik di pusat maupun cabang,” tandasnya. Ia juga menyampaikan bahwa di MER-C sendiri ada kategori relawan yang turun lapangan dan tidak turun lapangan. “Di kala lama kita tidak bisa ikut turun lapangan karena kesibukan kuliah, kerja, dan sebagainya, tetaplah menjadi relawan dan membantu serta mendukung kegiatan kemanusiaan dalam bentuk lainnya, jangan malah merasa tidak enak untuk aktif kembali,” tambahnya. Sementara itu, dr. Panji Arga Bintara selaku Ketua Umum MER-C Cabang Surakarta yang baru dilantik, dalam kesempatan tersebut mengajak pengurus dan relawan MER-C Cabang Surakarta untuk bersama-sama membangun MER-C Cabang Surakarta sehingga bisa memberikan manfaat untuk umat pada umumnya. “Seiring berjalannya waktu, ada periode up and down tadi, tinggal bagaimana kita kembalikan pada niat awal kita sebagai relawan. Karena niat adalah pegangan utama bagi kita untuk melakukan suatu perbuatan. Ketika kita merasa lemah, jenuh, bosan, dan sebagainya, kembalikan lagi kepada niat awal kita masuk MER-C. Mari kita bersama-sama membangun MER-C Cabang Surakarta dan memberikan manfaat bagi umat pada umumnya,” ungkapnya. Acara pelantikan ditutup dengan doa bersama.

Silahkan bertanya?