MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Bagaimana Setting Isolasi Mandiri di Rumah ?

Covid-19 ramai lagi, jangan terperosok masuk lubang yang sama. Belajar dari pengalaman lalu. Psikotrauma yang ditimbulkan oleh Covid-19 banyak mengenai nakes dan masyarakat. Nakes cenderung stress apabila praktik atau RS-nya dibanjiri oleh pasien Covid-19, sehingga sering terbawa situasi panik dan irrasional. Adanya media sosial berkontribusi menyebarkan keresahan dan ketakutan terhadap Covid-19 ini sehingga masyarakat juga akan panik. Salah satu indikatornya adalah angka okupasi tempat tidur RS dan penuhnya IGD atau kegagalan tutupnya IGD dan RS akibat nakesnya banyak tertular. Tentu saja akan menyebabkan gagal pelayanan terhadap masyarakat. Hal ini disebabkan KURANGnya manajemen kontrol komunitas dalam hal DISASTER TRIAGE dan DISTRIBUSI PASIEN Covid-19. Kontrol komunitas BUKAN hanya terpaku pada 3T dan LOCKDOWN saja. Tapi juga manajemen massal korban dan upaya mitigasi.   Satu yang dilupakan adalah ISOLASI MANDIRI TERPANTAU (Isomantau), yang sudah terbukti AMAN dan NYAMAN bagi pasien dan nakes. Memang ada kriteria yang harus dipenuhi untuk tempat isolasi, tetapi upaya mitigasi itu dinamis bisa dilakukan di berbagai setting tempat, yaitu: 1. Kalau rumah Anda ada 2 lantai, maka Isomantau bisa dilakukan di lantai 2; 2. Kalau rumah anda tidak 2 lantai, maka anda bisa melakukan di dalam kamar (kalau bisa ada jendela) dan Anda harus selalu memakai masker. Secara psikologi Anda akan merasa lebih nyaman, bisa dekat dengan keluarga, bisa masak mie, bisa ngopi bahkan bisa berjemur. Dan yang lebih penting adalah “viral load” atau kadar virus di ruangan tersebut akan lebih rendah ketimbang di RS dimana banyak pasien Covid-19. Untuk memantau perkembangan kesehatan Anda, maka laporkan ke RS atau faskes terdekat dengan WA atau video call.   Jaga kesehatan fisik, minum vitamin, cukup istirahat, jaga kesehatan psikis. Kalau ada perburukan baru Anda ke RS atas instruksi dokter. Salam Cerdas Kemanusiaan, Dr. Yogi Prabowo, SpOTPendiri, Relawan & Presidium MER-C

Perang Tak Goyahkan Tekad Bapak dan Anak Jadi Relawan di Gaza

Bekerja sebagai relawan sudah menjadi candu bagi Edy Wahyudi. Aktivitasnya selama bertahun-tahun membantu sesama ‘menular’ ke putra pertamanya, Fikri Rofi’ul Haq. Bapak dan anak sempat bersama-sama menjadi relawan di Gaza, Palestina. VOA —  Edy Wahyudi sudah beberapa kali aktif menjadi relawan dan terjun dalam tim kemanusiaan ketika terbuka kesempatan ke Gaza, Palestina. Ia bergabung dengan Medical Emergency Rescue Committee, yang lebih dikenal dengan singkatannya MER-C, yang kala itu membutuhkan banyak relawan untuk pembangunan rumah sakit Indonesia di Gaza. “(Menjadi) relawan karena panggilan hati dan dalam perjalanan akhirnya kami terpanggil untuk memberi sumbangsih pemikiran, sumbangsih fisik untuk pengawasan rumah sakit Indonesia di Gaza,” ungkapnya. Edy yang sehari-hari berkecimpung dalam bisnis konsultan dan pembangunan berangkat ke Gaza pada 2011. Perannya adalah manajer proyek. Ketika pembangunan fisik rumah sakit belum tuntas pada 2014, Gaza berperang dengan Israel selama 52 hari. Edy mengenang ketakutannya kala itu. “Ya namanya orang sipil, gemetar juga lah mendengar suara bom. Kaget-kaget. Karena, waktu itu di seberang jalan masih ada lokasi pelatihan para pejuang. Sempat jatuh di situ berkali-kali, bom-bom besar dari F16, dan konstruksi rumah sakit sampai mengayun, saking dahsyatnya,” lanjutnya.  Ir. Edy Wahyudi di Gaza. Pengalaman menjadi relawan dan dalam binis pembangunan mengantarnya menjadi relawan selama 10 tahun di Gaza, mengawasi pembangunan rumah sakit Indonesia. (foto: courtesy) Tidak ada pihak yang menjamin keselamatan relawan. Walaupun diliputi ketakutan dan kekhawatiran, tidak ada satupun relawan yang meminta pulang. Memang ada imbauan agar relawan keluar tetapi Edy memilih berlindung dalam bangunan setengah jadi rumah sakit. Alasannya… “Kita secara akidah bahwa mati itu tidak akan maju, tidak akan mundur. Kita tawakal saja, pasrah, karena yang kita bangun juga rumah sakit, untuk kemanusiaan,” kata Edy. Setelah beberapa hari perang tak juga usai, ia dan tim yang terdiri dari 20an relawan melanjutkan pekerjaan yang tertunda di sela-sela guncangan dan dentuman bom. Kesadaran bahwa rumah sakit akan sangat dibutuhkan, mendorong semangat kerja mereka. Rumah sakit Indonesia akhirnya tuntas. Dari rencana tiga lantai, bangunan itu menjadi lima lantai. Seiring pertambahan bangunan, masa tugas Edy bertambah. Ia terus di sana meskipun rumah sakit itu tuntas, sudah dilengkapi alat-alat medis, dan sudah diresmikan wakil presiden ketika itu, Jusuf Kalla. Setelah berada di Gaza 10 tahun, Edy, usia 51 tahun, pulang. Yang membuatnya bertahan, walaupun sempat dilanda ketakutan semasa perang? “Sederhana saja, saya ingin bermanfaat untuk orang lain,” tuturnya. Selama bertugas di Gaza, Edy sempat pulang, menemui istri dan anak-anaknya. Ia tidak menyangka, anak pertamanya Fikri Rofi’ul Haq, akan mengikuti jejaknya.  Tiga pemuda Indonesia yang kini menjadi relawan MER-C di Gaza, Palestina. Fikri paling kiri. (foto: courtesy) Selepas Madrasah Aliyah, setingkat SMU, Fikri memenuhi kewajiban pondok pesantren, mengabdi pada masyarakat selama satu tahun. Setelah itu, seperti santri umumnya, Fikri mendaftar ke beberapa institusi di luar negeri untuk melanjutkan pendidikan. Ia mendaftar ke Sudan dan Mesir. Ia juga mendaftar menjadi relawan MER-C. Fikri kecewa karena tidak diterima di kedua institusi pendidikan yang diincar. “Nah, alhamdulillah-nya beberapa bulan kemudian ada berita kalau saya akan diberangkatkan (ke Gaza). Jadi, ya alhamdulillah banget. Jadi, takdir gitu yang membawa saya ke sini. Tidak pernah menyangka,” tukas Fikri. Fikri, yang ketika itu berusia 20 tahun, berangkat ke Gaza pada Februari 2020 sebelum dunia ‘lumpuh’ akibat pandemi virus corona. Di Gaza, ia sempat bertemu ayahnya. Selama beberapa bulan keduanya menjadi relawan untuk membangun rumah sakit Indonesia. Edy kembali ke Indonesia pada September 2020.  Fikri Rafi’ul Haq dalam salah satu kegiatan sebagai relawan di Gaza, mengantar dan menanam pohon zaitun, salah satu sumber nafkah rakyat Palestina. (foto: courtesy) Ketakutan yang dialami Edy hampir tujuh tahun lalu dirasakan Fikri ketika Gaza dan Israel kembali terlibat perang, pertengahan Mei. “Takut banget. Hampir setiap jam kami mendengar suara roket dari pejuang Palestina. Kalau setiap malam, kami merasakan gempuran dari serangan Israel. Saat itu kami memang takut,” ujarnya. Fikri, usia 22 tahun, dan dua pemuda relawan Indonesia, tinggal di Wisma Indonesia di sebelah rumah sakit Indonesia. Mereka tidak pernah keluar selama 11 hari agresi. Itulah pertama kali mereka mengalami langsung peperangan.  Serangan udara Israel menghancurkan sebuah rumah di Gaza yang menewaskan satu keluarga (foto: dok). “Apalagi waktu itu yang menjadi salah satu target adalah rumah warga yang sekarang sudah rata dengan tanah, yang hanya beberapa ratus meter dari rumah sakit. Waktu itu kami sempat keluar, melihat jendela. Memang ledakannya sangat besar sampai-sampai anginnya itu membuat kuping sakit,” kenangnya. Ketakutan dan rasa sakit tidak menggoyahkan tekad Fikri untuk bertahan di Gaza. Persis sikap ayahnya, Edy pada 2014. Ia malah berfokus menyelesaikan tugas, menyiapkan dan mendistribusi bantuan yang dipercayakan masyarakat Indonesia melalui MER-C. Ia juga memusatkan perhatian sebagai mahasiswa semester kedua pada Islamic University of Gaza. Ia bertekad baru akan pulang kalau sudah meraih sarjana.  Fikri (kedua dari kanan) bersama para pemuda Indonesia yang menjadi relawan di Palestina. (foto: courtesy) Rima Manzanaris adalah manajer pelaksana MER-C di Jakarta. Sejauh ini, katanya, sudah dua bapak yang anaknya terjun juga sebagai relawan MER-C. Menurutnya, itu adalah suatu kebetulan. “Bapaknya memang relawan yang loyal, punya komitmen yang besar, dan ternyata anaknya juga punya keberanian,” puji Rima. Sebelum berangkat, kata Rima, semua relawan selalu diberi gambaran mengenai situasi di lapangan dan diingatkan bahwa mereka tidak setiap saat bisa pulang. Mereka juga diharuskan mengantongi izin orang tua. “Anak-anak ini walaupun masih muda, mereka sudah siap.”  Fikiri (paling kanan) bersama anak-anak dan pemuda Gaza yang akan membantunya menanam pohon zaitun bantuan masyarakat Indonesia. (foto: courtesy) Pasca serangan bulan lalu, relawan berdatangan ke Gaza. Mereka membersihkan puing-puing ribuan rumah dan bangunan dan mencoba memperindah kembali kota di pesisir Laut Tengah itu. Fikri tentu saja ikut membantu setelah menyempatkan diri pergi ke pantai bersama pemuda setempat pasca Idul Fitri. “Kan sekarang musim panas. Juga mereka biasanya ke pantai. Istirahat habis perang inilah, ibarat kata,” ujar Fikri. Sementara Edy, yang terus menjadi relawan sepulangnya dari Gaza, merasa terpanggil untuk kembali ke Palestina. Bukan untuk menemui putranya melainkan membantu perluasan RS Indonesia. [ka/ab] Sumber : https://www.voaindonesia.com/a/perang-tak-goyahkan-tekad-bapak-dan-anak-jadi-relawan-di-gaza/5914306.html

Bagaimana Menyalurkan Solidaritas dan Membangun RS di Palestina ?

Serangan Israel di penghujung bulan Ramadan dan Idul Fitri terhadap Palestina membangkitkan reaksi warga negara Indonesia dan Internasional. Solidaritas dunia diwujudkan dalam bentuk kepedulian ingin membantu donasi kepada Palestina. Hal tersebut membutuhkan wadah penyaluran bantuan yang amanah dan memastikan bahwa bantuan benar-benar sampai. Untuk menyalurkan bantuan ke Palestina tidaklah mudah, apalagi ke Gaza. MER-C membutuhkan waktu 5 tahun untuk merampungkan pembangunan RS Indonesia di Gaza sampai diresmikan pada tahun 2016 oleh Pak Jusuf Kalla sebagai wakil dari pemerintah. Hingga kini genap 5 tahun RS Indonesia di Gaza memberikan banyak manfaat bagi warga Gaza untuk menolong korban-korban konflik dan peperangan. Suka duka pembangunan RS Indonesia di Gaza begitu mewarnai perjuangan relawan MER-C. Mulai dari pengumpulan donasi yang berasal dari seluruh rakyat Indonesia baik yang miskin hingga yang kaya, dari majlis taklim, ibu-ibu arisan, tabligh akbar, hingga gereja-gereja ikut mendonasikan. Kisah-kisah anak-anak sekolah SD, SMP yang mengumpulkan uang recehan untuk disumbangkan, tukang-tukang kaki lima yang ikut menggalang dana demi terwujudnya RS Indonesia di Gaza. Pembangunan RS Indonesia adalah pertolongan Allah SWT semata, bukan karena kehebatan manusia. Tak terbayangkan membangun RS di Gaza, suatu tempat yang diisolasi dan penuh dengan konflik. Untuk masukpun tidak mudah apalagi membangun RS. Untuk datangnya pertolongan Allah SWT tersebut tentu ada syaratnya, keikhlasan, kesungguhan, upaya keras, menjaga amanah harus dilakukan. Para sukarelawan harus “stay” di dalam 1 – 2 tahun untuk melakukan dan mengawal proses pembangunan. Proses pembangunan dimulai dengan melakukan lobi yang alot kepada pemerintah Palestina di Gaza. Rasa curiga warga Gaza yang tinggi terhadap orang asing yang baru masuk membuat upaya tidak mudah. Bisa dipahami mengapa rasa curiga mereka tinggi. Selain banyak spionase yang menyamar organisasi kemanusiaan, juga banyaknya orang-orang yang “jualan” penderitaan rakyat Gaza untuk menarik donasi tanpa jelas penyaluran amanahnya. Mereka ini para broker, bisa perorangan solo karir, bisa juga berupa organisasi. Sementara itu mereka tahu bahwa animo warga dunia untuk membantu Palestina sangat besar, namun tidak bisa masuk ke Gaza atau Palestina. Alhamdulillah MER-C sudah melalui ujian tersebut dan mendapatkan tempat di hati warga Gaza, karna wujud nyata bantuan berupa RS megah di Gaza. Untuk mendapatkan tanah tempat dibangunnya RS juga memerlukan lobi yang alot. Tidak akan bisa kalau kita hanya transfer dana mempercayakan kepada orang lokal untuk mewujudkan RS. Tarik menarik, tawar menawar mulai dari posisi tanah, status tanah, tender pekerjaan dll harus dihadapi dengan keteguhan hati dan tekad membaja. Setiap pekerjaan harus dikawal sendiri oleh para sukarelawan, walaupun ada juga memperkerjakan orang lokal Akhirnya alhamdulillah di penghujung tahun 2015 RS tersebut rampung, menjadi kebanggaan rakyat Indonesia. Jadi sebagai hikmah pelajarannya dalam mendonasikan dan membangun apapun di Palestina : 1. Harus “stay” di dalam Palestina, mengawal2. Jangan menggunakan broker-broker solo karir tanpa audit atau organisasi yang banyak beriklan sementara tidak ada wujud nyata bantuan3. Mengetahui situasi geopolitik di Palestina, status kepemilikan tanah dll4. Berjamaah, bahu membahu dengan para sukarelawan5. Niat ikhlas, tangguh dan istiqomah Semoga niat-niat baik rakyat Indonesia dalam membantu warga Palestina bisa terealisasikan dengan baik dan amanah. Dan mudah-mudahan para dermawan yang mendonasikan untuk pembangunan RS Indonesia di Gaza mendapat pahala selayaknya para pejuang Palestina Aamiin YRA Salam Kemanusiaan Dr. Yogi Prabowo, SpOTPendiri, Presidium dan Relawan MER-C

Klarifikasi MER-C Terkait Pencantuman Nama MER-C & Logo Lembaga dI Pamflet Penggalangan Dana Palestina

1. Kami mengapresiasi kepedulian, dukungan dan bantuan masyarakat Indonesia termasuk dalam bentuk penggalangan donasi untuk membantu rakyat Palestina yang sedang mengalami agresi Israel; 2. Terkait sebaran pamflet penggalangan donasi untuk Palestina mengatasnamakan organisasi tertentu yang mencantumkan logo dan rekening MER-C, kami menyatakan bahwa ini adalah inisiatif murni dari pihak penyelanggara dan bukan dalam rangka kerjasama dengan MER-C; 3. Kepada masyarakat Indonesia yang peduli dan akan melakukan kerjasama penggalangan dana untuk Palestina dengan MER-C, pencantuman logo dan nama MER-C harap menghubungi Call Center MER-C 0811990176 untuk penjelasan prosedur dan pembuatan MOU kerjasama. Hal ini kami lakukan demi penyaluran amanah yang optimal. 4. Semoga semua niat baik dan upaya yang kita (rakyat Indonesia) lakukan untuk membantu Perjuangan dan Kemerdekaan Palestina dimudahkan dan diberkahi oleh ALLAH SWT. Jakarta, 16 Mei 2021 Wassalam,MER-C Indonesia

Kami Bersama Palestina, Stop Agresi Israel Sekarang Juga

Siaran Pers Penghujung bulan suci Ramadhan yang mulia sedianya dilalui dengan khidmat dan sukacita menyambut hari kemenangan. Namun, bulan yang sakral bagi umat muslim di seluruh dunia kembali dinodai dengan serentetan aksi brutal yang dilakukan pasukan Israel terhadap warga sipil Palestina. Jum’at/7 Mei 2021, pasukan zionis Israel melakukan penyerangan terhadap jamaah sholat tarawih di kompleks situs suci Masjid Al-Aqsa dan pengusiran serta penggusuran pemukiman warga Palestina di Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur. Aksi brutal ini telah menyebabkan ratusan warga sipil mengalami luka-luka. Kami mengutuk keras aksi brutal Israel dan menyatakan bahwa tindakan ini sebagai penghinaan terhadap umat muslim di dunia dan penghinaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Tidak hanya wilayah Palestina di Tepi Barat, Senin/10 Mei 2021 di kala warga Gaza bersiap untuk berbuka puasa, pasukan zionis Israel membombardir Jalur Gaza, Palestina. Serangan merata pada wilayah Gaza Utara hingga Gaza Selatan. Sampai dengan Selasa malam/11 Mei 2021, Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza merilis jumlah korban akibat serangan Israel mencapai 28 orang, termasuk 10 orang diantaranya adalah anak-anak dan satu wanita, semantara 152 orang lainnya mengalami luka-luka. Rumah Sakit Indonesia yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara, Palestina, yang berjarak sekitar 2,5 km dari perbatasan Israel menjadi rumah sakit rujukan untuk korban-korban agresi Israel di Gaza Utara. Korban jiwa dan luka sejak Senin malam (10 Mei 2021) berdatangan ke RS Indonesia untuk mendapatkan penanganan medis. Pagi hari ini (12 Mei 2021) kami mendapat informasi dari Kementerian Kesehatan Palestina di Jalur Gaza bahwa serangan Israel menyasar sebidang tanah di sebelah Rumah Sakit Indonesia di provinsi utara Jalur Gaza yang berdampak kerusakan sebagian pada ruang administrasi Rumah Sakit Indonesia.Untuk itu, MER-C Indonesia menyatakan : 1.    Mengutuk serangan Israel terhadap warga sipil di Jalur Gaza dan Tepi Barat, Palestina, terlebih serangan ini dilakukan di bulan suci Ramadhan; 2.    Mengutuk serangan terhadap Palestina yang berdampak pada kerusakan, khususnya Rumah Sakit Indonesia di Gaza yang merupakan darah bangsa Indonesia yang diperuntukkan bagi rakyat Palestina; 3.    Menuntut dihentikannya segala bentuk agresi terhadap Palestina; 4.    Jika eskalasi terus meningkat, MER-C siap mengirimkan Tim Bedah ke Jalur Gaza, Palestina untuk memberikan bantuan kepada para korban. Jakarta, 12 Mei 2021 Dr. Sarbini Abdul MuradKetua Presidium MER-C   Pernyataan Pers selengkapnya : https://youtu.be/CpB-ht6AdBQ Info:www.mer-c.orgCall Center : 0811 99 0176Facebook & Youtube : MER-C IndonesiaInstagram & Twitter : @mercindonesia #savealaqsa#savesheikhjarrah#savegaza#savepalestine#mercgaza#mercindonesia#rsindonesiagaza —————— Rekening Donasi Amanah Kemanusiaan Gaza, Palestina : BCA, 686.033.5555 Bank Mandiri, 124.000.3753.754 Bank Syariah Mandiri (BSM), 700.290.5803 Bank Mega Syariah (BMS), 1000.209.400 Semua rekening atas nama : Medical Emergency Rescue Committee

MER-C Mengutuk Aksi Brutal Israel di Masjid Al Aqsa

Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) mengutuk keras aksi brutal tentara Israel terhadap warga sipil Palestina yang terjadi di kompleks Masjid Al Aqsa dan distrik Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur, Jumat (7/5) malam. Hal ini disampaikan oleh Ketua Presidium MER-C, dr. Sarbini Abdul Murad. “Kami mengutuk keras aksi brutal tentara Israel kepada warga Palestina yang sedang menunaikan sholat tarawih di kompleks Masjid Al Aqsa yang telah menyebabkan ratusan orang terluka,” ujar Sarbini. “Bulan puasa adalah bulan penuh kedamaian dan Israel telah merusak kesakralan bulan suci Ramadhan. Ini adalah bentuk penghinaan terhadap umat Islam dan terhadap nilai-nilai kemanusiaan,” tambahnya. Selain penyerangan di Masjid Al Aqsa, Ketua Presidium MER-C itu juga mengecam pengusiran warga Palestina oleh tentara Israel di wilayah Sheikh Jarrah dan perampasan secara ilegal rumah-rumah mereka. “Untuk kesekian kalinya, Israel telah melakukan pelanggaran hukum internasional. Dunia tidak boleh diam. Kami menyerukan agar Dewan HAM PBB jangan hanya jadi penonton dalam hal ini,” tegas Sarbini. “Perlu langkah tegas dan konkrit dalam menahan ambisi Israel mencaplok dan menghancurkan pemukiman Palestina di Sheikh Jarrah,” tambahnya. Menyikapi ketegangan yang terjadi di Tepi Barat, Ketua Presidium MER-C juga berharap Presiden Amerika Serikat terpilih, Joe Biden dapat membuktikan langkah kronkritnya dalam menahan aksi ilegal Israel di pemukiman Sheikh Jarrah.

MER-C sebut pondok pesantren miliki mekanisme isolasi mandiri terbaik

Jadi, ketika pimpinan pesantren melakukan kebijakan tidak ada kunjungan orang tua santri atau pihak luar, sebenarnya itulah wujud isolasi mandiri yang terbaik Bogor, Jabar (ANTARA) – Ahli kesehatan yang juga Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia, dr Sarbini Abdulmurad mengemukakan bahwa pondok pesantren (ponpes) sejatinya memiliki mekanisme isolasi mandiri terbaik. “Jadi, ketika pimpinan pesantren melakukan kebijakan tidak ada kunjungan orang tua santri atau pihak luar, sebenarnya itulah wujud isolasi mandiri yang terbaik,” katanya saat menjadi narasumber Pesantren Kilat Ramadhan 1422 Hijriah secara daring di Pesantren Al-Fatah, Kompleks MA-SMK Ma’arif NU Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ahad (25/4). Penyelenggaraan Pesantren Kilat Ramadhan 1442 Hijriah kali ini bertema “Pesantren Kilat Nasional Strategi Multibudaya Cegah COVID-19” secara daring (online) dan luring (offline) digarap secara kolaboratif antara Komunitas Wartawan Jabodetabek, Yayasan At-Tawasuth, Portal Berita Serambi Nusantara, dan Pondok Pesantren Al-Fatah dan mitra kerja sama pendukung. Mitra pendukung itu di antaranya, PT Indocement Tunggal Prakarsa, Yayasan Baitul Maal (YBM) BRI, Tatajabar Private Power Company, BUMN PT Pupuk Kaltim, Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor, dan Batamindo Investment Cakrawala dan Perusahaan Listrik Negara (PLN) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan (UP3) Cikarang.                   Ahli kesehatan yang juga Ketua Presidium Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) Indonesia, dr Sarbini Abdulmurad memberikan pemaparan pada Pesantren Kilat Ramadhan 1442 Hijriah bertema “Pesantren Kilat Nasional Strategi Multibudaya Cegah COVID-19” secara daring (online) dan luring (offline) kerja sama kolaboratif Komunitas Wartawan Jabodetabek, Yayasan At-Tawasuth, Portal Berita Serambi Nusantara, dan Pondok Pesantren Al-Fatah, Ciomas-Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ahad (25/4/2021). (FOTO ANTARA//M Fikri Setiawan) Menurut dr Ben — sapaan akrab Sarbini Abdulmurad — mekanisme isolasi mandiri yang dimiliki pesantren, yang merupakan lembaga pendidikan, sebenarnya sudah cukup terbukti ampuh untuk meminimalisasi potensi penularan dan penyebaran COVID-19. “Bahwa ada pesantren yang santri dan pendidiknya terkena, memang ada, namun sebagian besar pesantren terhindar dari terpapar COVID-19,” katanya. Karena itu, ia mengapresiasi kebijakan pimpinan pondok pesantren yang mengurangi interaksi dengan pihak luar, termasuk kunjungan-kunjungan orang tua santri sekalipun, kepada anak-anaknya yang sedang “nyantri”. Kebijakan tersebut, kata dokter pertama Indonesia yang bisa masuk jalur Gaza, Palestina, saat konflik Palestina-Israel 2008-2009 itu, perlu terus dilanjutkan pesantren guna memutus mata rantai COVID-19. Selain pesantren, kata dia, pada masyarakat tradisionil seperti di Badui, Provinsi Banten, Suku Anak Dalam di Provinsi Jambi, yang juga punya mekanisme seperti di pesantren yakni meminimalisasi interaksi dengan pihak luar, juga ampuh untuk mengurangi penularan.                 Wali Kota Semarang, Jateng, Hendrar Prihadi, memberikan pemaparan pada Pesantren Kilat Ramadhan 1442 Hijriah bertema “Pesantren Kilat Nasional Strategi Multibudaya Cegah COVID-19” secara daring (online) dan luring (offline) kerja sama kolaboratif Komunitas Wartawan Jabodetabek, Yayasan At-Tawasuth, Portal Berita Serambi Nusantara, dan Pondok Pesantren Al-Fatah, Ciomas-Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ahad (25/4/2021). (FOTO ANTARA//HO-Said Abdullah) Karena itu, kata dia, apa yang sudah dilakukan pihak pesantren dan juga komunitas tradisional itu, perlu terus dijaga, hingga suatu saat pandemi COVID-19 dinyatakan telah selesai oleh pihak berwenang. Khusus kepada santri, yang kemungkinan pulang saat Idul Fitri (Lebaran), ia menyarankan menjaga protokol kesehatan (prokes) COVID-19, yakni isolasi mandiri di rumah guna mengurangi potensi menularkan virus corona jenis baru penyebab COVID-19 itu. “Karena, pada dasarnya kita semua adalah berstatus orang tanpa gejala (OTG) sehingga tetap berpotensi untuk tertular atau menulari,” kata Sarbini Abdulmurad. Ketua Panitia Pelaksana Sanlat Ramadhan 1422 H itu, ustadz Ahmad Fahir, M.Si menjelaskan kegiatan yang berlangsung sejak pukul 09.00 WIB hingga menjelang buka puasa itu juga menghadirkan unsur kepala daerah, yakni Bupati Bogor Hj Ade Yasin, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, dan budayawan Sunda. Pewarta: M Fikri SetiawanEditor: Andi Jauhary Sumber : https://www.antaranews.com/berita/2120674/mer-c-sebut-pondok-pesantren-miliki-mekanisme-isolasi-mandiri-terbaik

KRI Nanggala 402 “On Eternal Patrol”

Innalillaahi wa inna ilaihi roojiuun Turut Berduka Cita Mendalam atas Tenggelamnya KRI Nanggala 402 dan Gugurnya 53 Patriot Putra Terbaik Bangsa Semoga seluruh awak yang gugur husnul khotimah dan diberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga seluruh keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan. Selamat Bertugas dalam Keabadian, dalam limpahan kasih sayang-Nya. InfoWebsite : www.mer-c.orgCall Center : 0811990176FB : MER-C IndonesiaIG : @mercindonesiaTweeter : @mercindonesiaYoutube : MER-C Indonesia

Berpulangnya Ir. Ahmad fauzi Salah satu Insinyur Pembangunan RS Indonesia di Gaza dan Myanmar

Siap sedia ketika tugas kemanusiaan datang memanggil…Kapanpun…Dimanapun…Menunaikan tugas-tugas kemanusiaan yang diberikan dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab… Hal ini dibuktikan dengan…Sekian tahun menjadi relawan di wilayah konflik dan terblokade Gaza Palestina untuk Pembangunan RS Indonesia…Dilanjutkan dengan sekian tahun menjadi relawan di wilayah konflik Rakhine State Myanmar untuk Pembangunan RS Indonesia di sana. Inna lillaahi wa inna ilaihi roojiuun Di hari yang baik dan bulan yang mulia, Rabb mu memanggilmuSalah satu sahabat terbaik dan relawan terbaik yang pernah kami miliki Ir. Ahmad Fauzi Relawan untuk Pembangunan Tahap 1 RS Indonesia di Gaza – Palestina Relawan untuk Pembangunan RS Indonesia di Rakhine State, Myanmar Pada hari Jum’at/23 April 2021, pkl. 13.15 waktu setempatdi ICU RS Kanuyoso, Balikpapan, Kalimantan Timur Engkau telah menyelesaikan tugasmu di duniaKami menjadi saksi atas kebaikan-kebaikan yang telah engkau lakukanSemoga akan terus bermunculan sosok-sosok sepertimu yang selalu peduli kepada sesama yang membutuhkan Insya Allah Rumah Sakit Indonesia yang telah kau bangun akan terus memberi manfaat dan menjadi amal jariyah yang terus mengalir Hanya doa yang dapat kami panjatkan semoga Allah SWT merahmatimu dan memberikan tempat yang mulia di Syurga-Nya InfoWebsite : www.mer-c.orgCall Center : 0811990176FB : MER-C IndonesiaIG : @mercindonesiaTweeter : @mercindonesiaYoutube : MER-C Indonesia

Ukhuwah Al-Fatah Rescue: Warga Naiman NTT Kekurangan Air Bersih

Malaka Tengah, MINA – Warga Naimana Kecamatan Malaka Tengah, Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menjadi korban paska Banjir Bandang saat ini mengalami kekurangan air bersih. Demikian laporan Ketua Koordinator Ukhuwah Al-Fatah Rescue (UAR) NTT Jawir Julfikar kepada MINA, Kamis (15/4). “Selain itu, (di lokasi terdampak parah) rawan kelaparan karena penyimpanan hasil panen hampir semuanya rusak akibat air banjir menghantam rumah-rumah warga,” kata Jawir. Dia mengatakan, UAR bersama lembaga kegawatdaruratan medis Medical Emergency Rescue Committe (MER-C) mendirikan dua posko dan memberikan bantuan kemanusiaan kepada korban bencana banjir. Sebelumnya, MER-C dan UAR memberikan pelayanan kesehatan untuk 100 Kartu Keluarga desa Naimana NTT, korban banjir yang menghantam warga. “UAR dan MER-C memberikan pelayanan kesehatan untuk 100 KK, rata-rata warga Naimana mengalami sakit batuk, flu, gatal-gatal karena lumpur dan demam dialami anak-anak,” ujarnya. Lanjut kata Jawir, mereka merasa tertolong dengan bantuan Sembako tapi tidak menjamin untuk memenuhi kebutuhan dalam waktu yang lama.Tim UAR dan MER-C difungsikan penanganan medis, UAR mendampingi MER-C untuk bantuan medis. Tim MER-C berjumlah 5 relawan terdiri dari 1 orang Dokter Bedah, 1 orang dokter umum, bersama 3 perawat, sedangkan team UAR menerjunkan 2 relawannya. (L/R4/R1) Sumber : https://minanews.net/ukhuwah-al-fatah-rescue-warga-naiman-ntt-kekurangan-air-bersih/

Silahkan bertanya?