Selalu Ada Jalan Keluar

Catatan Dokter Ben Sejarah membuktikan bahwa MER-C berangkat dengan semangat dan ketulusan. Dua kata itulah yang telah menjadi energi MER-C dalam mengukir sebagian sejarah panjang anak bangsa ini. Banyak kisah-kisah inspiratif yang MER-C alami. Kisah ini saya angkat kembali untuk memotivasi kita semua dalam menapaki tantangan ke depan yang terus kita jalani. Sebagai NGO yang kenyang dengan asam garam perjuangan, sudah tentu memberikan terbaik dalam segenap aktivitas kemanusiaan baik suasana terencana ataupun tidak. Sering langkah berani yang MER-C ambil membuat mata susah merem. Langkah berani MER-C yang paling spektakuler adalah membangun rumah sakit di Palestina. Bangunan Tahap 1 RS Indonesia di Gaza, Palestina Awalnya banyak yang menyebutkan ini langkah impossible, membangun sebuah rumah sakit di tanah yang penuh pergolakan yang tidak berujung penyelesaian. Keputusan sudah diambil, janji sudah dibuat, MOU sudah ditandatangani dengan Palestina. Layar sudah dikembangkan, bahtera pantang berlabuh. Pak Faried Thalib dan Pak Idrus M. Alatas, komandan lapangan yang nekat dan inspiratif membuat kami yakin pekerjaan besar ini akan bisa dan mungkin diselesaikan. Dalam perjalanan suka duka bersama kami alami. Bagaimanapun dana menjadi penyambung proyek besar ini. Dengan modal hanya Rp 10 Milyar dan biaya rumah sakit diperkirakan mencapai Rp 110 M, sungguh membuat jantung berdegub kencang. Sebagai orang lapangan, Pak Faried yang langsung berinteraksi dengan kontraktor Palestina dan mereka tidak mau tahu tentang kesulitan keuangan yang MER-C alami. Dalam kepusingan tiba-tiba beliau meminta rapat presidium mendadak karena ada hal krusial yang harus diputuskan saat itu juga. Dengan pasti dan tanpa panjang lebar beliau menegaskan, “Saya mau hutang Rp 15 milyar ke seorang pengusaha besar, dia sahabat dekat saya. Nanti MER-C yang bayar, kalau MER-C tidak sanggup, saya dan dr. Jose yang akan tanggung jawab.” Terjadi diskusi antara kami apakah menerima tawaran ini atau tidak. Keputusan rapat akhirnya menerima keinginan ini dengan segenap pertimbangan. Tapi sejarah berkata lain. Takdir Allah, rencana itu tidak pernah terwujud sampai rumah sakit diresmikan. Lima hari kemudian tiba-tiba Israel menyerang Gaza. Serangan begitu dahsyat dan lama. Pemberitaan perang begitu masif. Korban sipil berjatuhan. Dunia internasional mengutuk kebiadaban Israel. Simpati dalam negeri begitu besar. Tak disangka donasi rumah sakit yang awalnya lambat dan sedikit, tiba-tiba donasi masif. Di Gaza, hanya ada relawan MER-C yang sedang membangun rumah sakit, maka mayoritas donasi rakyat Indonesia ditujukan ke Rumah Sakit Indonesia (RSI) di Gaza. Dalam waktu singkat, dana yang dibutuhkan untuk bangun RSI tercukupi. Jadi ingat firman Allah SWT dalam Al-Qur’an : “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS. 94:5). Sejarah membuktikan bahwa MER-C berangkat dengan semangat dan ketulusan. Dua kata itulah yang telah menjadi energi MER-C dalam mengukir sebagian sejarah panjang anak bangsa ini. 26 November 2020dr. Sarbini Abdul MuradKetua Presidium MER-C
MER-C Kawal Kesehatan Habib Rizieq dan Advokasi Kemanusiaan

SIARAN PERS MER-C sudah berpengalaman dalam memberikan bantuan medis dan kesehatan terhadap siapa saja yang mengalami kondisi kemanusiaan kritis. Konsep kemanusiaan MER-C yg Rahmatan Lil Alamin, independen, menjaga netralitas, untuk menolong yang paling membutuhkan “The most vulnerable people & the most neglected people” akibat kondisi peperangan, ketidakadilan, stigmatisasi, isolasi politik yang menimbulkan masalah kesehatan dan medis. MER-C menolong siapa saja tanpa membedakan latar belakang masalahnya. Sebut saja Panglima GAM, alm Ishak Daud, Komjen Polisi Susno Duadji, Ust Abu Bakar Baasyir, para terduga terorisme, dsb. Masalah kesehatan di era pandemi Covid-19 sering menimbulkan polemik, akibat selalu dikaitkan dengan Covid-19. Sering terjadi perbedaan persepsi antara masyarakat dan tenaga kesehatan dalam menyikapi covid-19. Stigmatisasi, kurangnya empati dan menghormati hak privasi pasien menimbulkan jurang yang cukup besar diantara masyarakat dan petugas pemerintah. Oleh karena itu perlu kembali kepada profesionalitas dan etika dan hukum kedokteran dimana menjunjung tinggi hak-hak pasien. Terkait dengan Habib Rizieq yang mempercayakan kepada MER-C untuk melakukan pemeriksaan dan pengawalan kesehatan. MER-C mengirim beliau untuk beristirahat di RS. Namun mendapatkan perlakuan yang kurang beretika dan melanggar hak pasien dari Walikota Bogor dengan melakukan intervensi terhadap tim medis yang sedang bekerja, sehingga menganggu pasien yang sedang beristirahat. Selain itu Walikota Bogor juga tidak beretika dalam mempublikasi kondisi pasien kepada publik, sehingga menimbulkan kesimpangsiuran dan keresahan bagi masyarakat. Walikota Bogor perlu belajar etika kedokteran tentang independensi tenaga medis dalam bekerja dan hak pasien untuk menerima atau menolak atas semua upaya pemeriksaan dan pengobatan yang akan diberikan tanpa ada intervensi atau tekanan pihak manapun. Jangankan dalam situasi normal, di daerah bencana dan peperangan saja wajib kita selaku tenaga medis tetap menjaga profesionalitas dan menghormati hak-hak pasien. Seharusnya Walikota Bogor mempercayakan hal ini kepada RS dan Tim Medis yang menangani karena tim medis mengetahui langkah-langkah apa yang perlu dan tidak perlu dilakukan untuk menangani pasien. MER-C sebagai Tim Medis independen yang diminta keluarga untuk turut menangani kesehatan HRS dengan ini menyatakan : 1. Menyayangkan sikap Walikota Bogor yang melakukan intervensi dan tekanan kepada RS, Tim Medis dan pasien. 2. Saat ini semua pemeriksaan yang perlu dilakukan tengah berjalan dan pengobatan akan dijalankan sesuai dengan masalah kesehatan yang ditemukan; 3. Agar semua pihak tidak membuat kegaduhan, menjaga privasi pasien dan mempercayakan kepada tim medis yang menangani. 4. Perihal menyampaikan kondisi kesehatan adalah domain keluarga. Bahkan pihak RS/ dokter yang merawat tidak memiliki hak untuk menyampaikan tanpa seijin keluarga. Jakarta, 28 November 2020 dr. Sarbini Abdul Murad Ketua Presidium MER-C Info www.mer-c.org 0811990176 @mercindonesia
Joe Biden dan Harapan Palestina

Terpilihnya Joe Biden sebagai Presiden AS menjadi secercah harapan bagi Palestina. Harapan yang pernah redup akibat kebijakan Trump yang secara vulgar memihak Israel. Keberpihakan Presiden-Presiden AS sebelumnya masih “malu-malu”, tetapi keberpihakan Trump kepada negara zionis ini begitu membabi buta. Jelas ini membuat Palestina berang dan menganggap perundingan yang selama ini dilakukan menjadi sia-sia. Merasa tidak dianggap oleh AS maka secara sepihak Palestina menarik diri untuk berunding dengan Israel karena kepercayaan yang tersisa kepada AS telah lenyap. Trump membuat lubang kekecewaan yang begitu menganga. Pemindahan Kedubes AS ke Jerussalem menjadi titik nadir kemarahan Palestina dan umat Islam. Jared Kushner, menantu Trump sekaligus konseptor dan negosiator untuk memuluskan proposal besar Trump dengan “halus” menawarkan proposal ini kepada negara-negara Arab yang memiliki pengaruh politik kuat di Timur Tengah. Strategi merangkul negara-negara Arab bertujuan untuk menekan dan memaksa Palestina agar suka atau tidak mesti menerima proposal sesat tersebut. Begitu besar tekanan yang dialami oleh Palestina selama Trump menjadi presiden. Belum lagi rencana aneksasi Israel terhadap Tepi Barat dan Lembah Yordan yang sudah lama menjadi incaran Israel karena tanahnya yang subur. Ditambah persoalan negara-negara Arab yang begitu rumit. Lantas isu Palestina menjadi tidak menarik dan dianggap hanyalah persoalan internal Palestina vs Israel. Namun sebaliknya, kekuatan internal menjadi solid pada titik nadir kekecewaan dan lenyapnya harapan solusi dua negara. Tak disangka, kekuatan perlawanan yang dominan di Palestina, dalam hal ini Hamas dan Fatah, kembali merajut persatuan nasional yang selama ini selalu ada kendala untuk mewujudkannya. Menurut saya, persatuan Hamas dan Fatah menjadi hadiah besar bagi perjuangan ke depan. Beberapa kali Persatuan Nasional digelar, tetapi ujungnya justru terjadi perpecahan. Sulit mengajak dua pihak tersebut untuk duduk dan berdiskusi dalam menempuh jalan menuju kemerdekaan. Ketika kami diundang oleh Kedubes Palestina, selalu kami sampaikan tentang Persatuan Nasional yang dapat menjadi senjata dan kekuatan perlawanan oleh Palestina terhadap penjajahan Israel. Dengan adanya Persatuan Nasional, jalan menuju kemerdekaan akan jauh lebih mudah. Segala kendala dapat dipikul bersama. Joe Biden Harapan Baru Banyak analis politik yang agak skeptic terhadap Joe Biden. Berbagai argumen dibedah. Bagaimanapun, Joe Biden adalah sahabat lama Israel berdasarkan pengakuan Benyamin Netanyahu. Selain itu, selama menjadi Wapres Obama, mereka digadang-gadang menjadi harapan bagi Palestina. Namun, dalam perjalannnya mereka juga tidak mampu berbuat banyak untuk solusi dua negara. Akan tetapi, mungkin kali ini kita bisa berharap akan ada cerita baru bagi Palestina. Bagaimanapun, Joe Biden terpilih sebagai Presiden AS karena didukung oleh mayoritas umat Islam AS. Kita akan lihat apakah dia akan memindahkan Kedubes AS kembali ke Tel Aviv atau tidak. Memang saat kampanye, dia mengatakan bahwa Kedubes AS tidak akan dipindahkan ke Tel Aviv. Namun, bisa jadi ini hanya trik untuk menenangkan Israel. Jika Biden mengembalikan Kedubes AS ke Tel Aviv, ini merupakan isyarat kuat AS untuk menjadi perunding yang serius dalam mendorong perdamaian di Timur Tengah. Tetapi sebaliknya, jika Biden tetap membiarkan Kedubes AS di Jerussalem, jelas kebijakannya ke depan tidak jauh berbeda seperti saat dia menjadi Wapres Obama. Memang dalam Pemilu AS kali ini, Israel habis-habisan mem-back up Trump karena dianggap berjasa mendukung semua permintaan Israel dan tutup mata atas segala risiko yang mesti diterima AS. Solusi dua negara dianggap tidak ada oleh Trump. Jadi, wajar sekarang harapan tertuju pada Biden. Kita semua berharap agar Biden bisa mengembalikan marwah dan kepercayaan Palestina terhadap AS yang selama ini lenyap. Semoga …. Hati-hati Trik Licik Israel Ada hal yang dikhawatirkan Israel ketika kelompok perlawanan, seperti Fatah, Hamas, Jihad Islam, dan kelompok perlawanan lain menyatukan langkah dalam menghadapi tekanan Israel. Tak dipungkiri, figur Trump yang sangat memihak Israel menimbulkan kesadaran kolektif dari faksi perlawanan untuk saling bergandengan tangan dalam menghadapi tekanan dari pihak AS dan Israel. Memang selama ini sulit mengikat faksi-faksi perlawanan tersebut dalam wadah persatuan. Telah berkali-kali diadakan perdamaian, tetapi dalam waktu relatif singkat, ikatan perdamaian itu putus dan saling bertentangan lagi. Seruan Persatuan Nasional yang kerap diserukan oleh negara-negara yang bersimpati pada perjuangan Palestina, termasuk juga Indonesia, menjadi mantra rutin. Tokoh-tokoh muslim dunia juga tak kalah gencarnya menyerukan soliditas antarfaksi di Palestina. Namun, cara pandang kelompok-kelompok perlawanan tersebut berbeda dalam mencapai kemerdekaan, ditambah ideologi islamis-nasionalis, nasionalis-sekuler,bahkan juga sosialis-nasionalis. Warna-warni ideologi menjadi sandungan yang tidak ringan dalam menyusun barisan menghadapi tekanan Israel. Sekali lagi kami sampaikan bahwa solusinya adalah Persatuan Nasional yang permanen karena kami meyakini dengan persatuan yang kokoh tak ada rintangan yang tak bisa diatasi. Beberapa hal yang menurut kami mesti diperhatikan untuk mengantisipasi langkah Biden ke depan. 1. Kampanye Biden lebih-kurang sama dengan Obama: tetap pro-Israel, tetapi masih menimbang perasaan Palestina. Ujung proses perdamaian akan dimulai lagi dengan catatan Palestina harus memutuskan hubungan politik dengan Hamas. Pasti ini syarat yang akan diminta Israel. Andai Palestina mengikuti, akan masuk skenario selanjutnya, yaitu mempermainkan perdamian dengan mencari kesalahan Palestina yang ujung-ujungnya tidak ada hasil. 2. Ekspektasi harus terukur dan tidak menggantung berlebihan pada Biden. Walau bagaimanapun, Biden adalah sahabat Israel. Kepentingan Israel tetap menjadi prioritas kebijakan politik luar negeri AS. 3. Melakukan rekonsiliasi nasional di Palestina dengan mengadakan pemilu. Kepada semua pihak, diharapkan dapat menerima hasil pemilu karena pemilu adalah pilihan demokrasi untuk rujuk nasional. dr. Sarbini Abdul MuradKetua Presidium MER-C Ditampilkan di : https://www.republika.id/posts/11866/biden-dan-harapan-palestina Versi Cetak di : Harian Republika, Edisi Senin 23 November 2020
Condolences From MER-C Indonesia
MER-C Indonesia would like to express our simpathy and deepest condolences at this most difficult moment to the Goverment, the people of Palestine and the grieving family on the passing away of: Dr. Saeb Erekat Secretary General of the Palestine Liberation Organization Executive Committee On 10 November 2020 May Allah the Almighty forgive him, bless him with mercy and rest his soul in jannah. His contribution and dedication to freedom and rights for Palestine and peace in middle east will always be remembered. Jakarta, 11 November 2020 Dr. Sarbini Abdul Murad Chief Presidium of MER-C Indonesia
Ketua Presidium MER-C : Hentikan Penghancuran Rumah Palestina

Kebrutalan militer Israel melakukan pembongkaran ilegal dan penggusuran paksa terhadap warga Palestina terus berlanjut. Ketika perhatian dunia disibukkan dengan Pemilihan Presiden Amerika Serikat, militer Israel kembali melakukan penghancuran besar-besaran bangunan warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki termasuk rumah-rumah dan fasilitas lainnya. Lokasi penghancuran terjadi di Desa Khirbet Hamsa al-Fawqa, bagian utara Lembah Yordan, sebelah timur Tepi Barat. Tindakan ini seperti dilaporkan mengakibatkan sebanyak 73 warga Palestina kehilangan tempat berlindung dan terlantar, dimana 41 orang diantaranya adalah anak-anak. Wabah Covid-19 yang tengah berlangsung ditambah cuaca yang mulai memasuki musim dingin, membuat kondisi mereka semakin memprihatinkan. Ketua Presidium MER-C, Sarbini Abdul Murad secara tegas meminta PBB agar turut campur menghentikan kebrutalan Israel menghancurkan rumah-rumah warga Palestina di Lembah Yordan. Penghancuran rumah Palestina oleh Israel terjadi dengan alasan yang tidak masuk akal. Hal ini sudah berlangsung sejak lama. Israel menduduki Tepi Barat saat perang Timur Tengah pada 1967. Sejak saat itu penghancuran dan penggusuran bangunan-bangunan warga Palestina kerap terjadi. Otoritas Israel berdalih bangunan-bangunan yang dihancurkan karena tidak memiliki izin. Sementara pihak yang berwenang mengeluarkan izin adalah otoritas Israel itu sendiri. Dengan kondisi demikian, sangat sulit bagi warga Palestina memperoleh izin bangunan. Dunia seakan bungkam akan kebrutalan demi kebrutalan yang dilakukan Israel. Diamnya dunia menjadi pembenaran bagi Israel dan mengakibatkan mereka semakin berani menghancurkan rumah-rumah warga Palestina. Selanjutnya warga Palestina terusir dan Israel akan membangun properti di wilayah-wilayah tersebut. Persoalan regional Arab yang begitu rumit yang menguras tenaga dalam negeri masing-masing negara juga menyebabkan masalah Israel dan Palestina diabaikan olah negara-negara Arab. Isu aneksasi Tepi Barat mungkin tengah mereda, namun realita di lapangan Israel terus melakukan pencaplokan-pencaplokan wilayah. Untuk itu, Ketua Presidium MER-C juga mengajak warga dunia ditengah pandemi dan berbagai masalah-masalah internal dalam negeri agar terus bersuara memberikan tekanan kepada Israel. — Info :www.mer-c.org0811990176@mercindonesia
MER-C : Macron Mesti Bijak Menilai Islam dan Minta Maaf

Pimpinan Lembaga Kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C), dr. Sarbini Abdul Murad, turut bersuara menanggapi pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang menyebutkan Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis di seluruh dunia. Sarbini menyayangkan sekaligus mengecam pernyataan ini sebagai pernyataan yang tidak bertanggung jawab dan memecah belah kerukunan umat beragama di dunia. “Kami turut menyayangkan sekaligus mengecam pernyataan Presiden Prancis, Emmanuel Macron. Itu adalah pernyataan yang tidak bertanggung jawab. Macron telah menyebarkan kesalahpahaman terhadap Islam. Sebuah penyataan yang dapat memecah belah kerukunan umat beragama di dunia,” ungkap Sarbini. “Macron mestinya bijak dalam menilai Islam,” tambahnya. Ia menjelaskan Macron mestinya bisa belajar dari sosok Vladimir Putin, Presiden Rusia yang bijak dalam melihat Islam. Meski di Rusia terjadi pemberontakan separatis Chechen, tak berarti Putin menyudutkan Islam secara keseluruhan. Sementara Macron sebagai orang nomor satu di Prancis memilih membiarkan dan menolak untuk melarang keputusan media di negara tersebut, Charlie Hebdo yang menerbitkan kembali kartun Nabi Muhammad pada September 2020 lalu dengan alasan kebebasan berekspresi. Suatu sikap pemimpin negara yang sangat melukai dan menuai reaksi keras dari berbagai kalangan umat Islam di seluruh dunia. Hal ini berbahaya karena menjadi modus menyebarkan kebencian terhadap Islam. “Untuk itu, MER-C meminta kepada Presiden Prancis Emmanuel Macron untuk segera meminta maaf kepada umat Islam dunia. Kami pikir meminta maaf adalah jalan yang bijak, serta melarang kartun yang menghina Nabi Muhammad,” tegas Sarbini. Sementara itu, Pimpinan MER-C juga berharap Pemerintah Indonesia dapat segara merespon dan mengambil sikap atas pernyataan Presiden Prancis dengan mendorong permintaan maafnya kepada umat Islam. Hal ini agar polemik yang dapat menimbulkan perpecahan kerukunan umat beragama tidak berlarut. Jakarta, 27 Oktober 2020 MER-C Indonesia www.mer-c.org Call Center : 0811990176
ABAIKAN RESIKO KEMANUSIAAN JATUH KORBAN JIWA, PILKADA DITENGAH PANDEMI COVID ADALAH KEJAHATAN KEMANUSIAAN. (PELAJARAN PILPRES 2019 TANPA COVID YANG TIMBULKAN 800 LEBIH KORBAN JIWA KPPS)

Press Release Pandemi covid-19 masih melanda dunia dan Indonesia, angka kasus positif yang semakin bertambah dari hari ke hari hingga mencapai angka 300 ribu, dengan angka kematian akibat covid mencapai lebih dari 10.000. Hal ini harusnya membuat kita semua lebih berhati-hati menyusun langkah. Segala upaya pencegahan dilakukan untuk mengurangi transmisi penularan dan mencegah kematian baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Kegiatan sehari-hari, mulai dari kegiatan Pendidikan, keagamaan, bahkan bekerja dilakukan secara virtual. Pilkada serentak yang akan diselenggarakan akhir 2020 mengancam keselamatan warga, meningkatkan resiko transmisi penularan Covid-19. Kegiatan pilkada masih belum bisa dilakukan secara virtual, sehingga masih terjadi pengumpulan orang baik kegiatan kampanye ataupun kegiatan pencoblosan itu sendiri. Masih segar dalam ingatan kita tentang penyelenggaraan Pilpres 2019 yang menimbulkan lebih dari 800 korban jiwa dan ribuan yang jatuh sakit. Harga yang begitu mahal untuk sebuah resiko penyelenggaraan pesta demokrasi. Banyak spekulasi berkembang mengenai penyebab kematian ratusan petugas kpps, namun yang tampak kasat mata adalah faktor beratnya dan lamanya pekerjaan yang diemban oleh kpps sehingga menyebabkan kesakitan dan kematian. Situasi diperburuk dengan kesiapan penanganan medis yang kurang. Sistem rujukan kegawatdaruratan medis yang dipersiapkan belum mampu menangani para kpps yang mendadak sakit. Banyak kpps yang mengeluh sakit dada yang disinyalir sebagai gangguan jantung, lalu dibawa ke fasilitas kesehatan seperti pukesmas, RS kecamatan atau bahkan tidak berobat, namun tidak berhasil diselamatkan karena fasilitas kesehatan tidak memiliki fasilitas yang memadai untuk menangani gangguan jantung. Kemudian juga tidak adanya call center dan sistem ambulance yang bisa bergerak cepat apabila ada kpps yang jatuh sakit. Kesimpulannya adalah sistem kegawatdaruratan medis yang dibangun belum siap. Pilkada 2020 yang akan digelar ini akan melibatkan 600 ribu TPS yang akan berpotensi menjadi kluster penularan Covid-19 diseluruh Indonesia. MER-C menilai memaksakan penyelenggaraan Pilkada ditengah situasi Pandemi Covid-19 yang masih berlangsung berpotensi menimbulkan korban yang signifikan karena 2 hal penting, yaitu situasi pandemic yang belum menunjukkan tanda-tanda usai dan ketidaksiapan sistem rujukan kesehatan dan kegawatdaruratan. Bahkan Covid-19 sudah menginfeksi bebrapa calon kepala daerah, ketua KPU dan petingginya, ini harus dijadikan peringatan dan sinyal bahwa Pilkada harus ditunda. Apabila KPU tidak mengindahkan kondisi pandemic dan resiko jatuhnya korban, artinya adalah mengabaikan nyawa manusia dan bisa menjadi kejahatan kemanusiaan dan tentu saja akan menambah catatan hitam KPU yang harus dipertanggung jawabkan di kemudian hari. Maka MER-C merekomendasikan :1. Penundaan Pilkada sampai kondisi pandemic membaik2. Menyiapkan sistem rujukan kegawatdaruratan dan kesehatan yang memadai sebagai upaya mitigasi jatuhnya korban jiwa seperti Pilpres 20193. KPU dan pemerintah bisa menahan diri, demi keselamatan masyarakat4. KPU mempersiapkan sistem Pilkada yang mengurangi pengumpulan massa dan kerja berat para kpps, KPU harus mengikuti protokol kesehatan yang sudah ditetapkan dan melakukan modifikasi sistem pilkada Jakarta, 30 September 2020 Medical Emergency Rescue Committee Selengkapnya : https://youtu.be/MA2Bd22TEP8
RS Indonesia di Gaza jadi Rujukan Pasien COVID-19

Gaza, MINA – Melonjaknya jumlah kasus Covid-19 di jalur Gaza menyebabkan Rumah Sakit Indonesia yang belum rampung pembangunannya menjadi rumah sakit rujukan bagi pasien positif COVID-19. Ir. Edy Wahyudi Site Manager Pembangunan RS Indonesia tahap dua yang saat ini berada di Gaza mengatakan, sejak meletusnya serangan berupa virus secara tiba-tiba dan jatuhnya 100 korban positif hanya dalam waktu satu malam di luar karantina di jalur gaza yaitu pada hari Selasa 25 Agustus lalu, maka pihak Manajemen Rumah Sakit meminta lantai tiga RS Indonesia yang belum diserahterimakan oleh Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) kepada Kementrian Kesehatan Gaza. “Awalnya hanya dua ruangan yang diminta tetapi begitu ada ledakan jumlah korban serangan virus COVID-19 yang begitu besar akhirnya hampir seluruh lantai tiga RS Indonesia diminta untuk digunakan,” ujar Edy kepada MINA pada Jumat (4/9). “Petugas RS Indonesia baik dokter dan paramedis terus bekerja siang dan malam menerima masyarakat yang sempat berinteraksi dengan korban meninggal akibat COVID-19,” tambahnya. Edy juga mengatakan, saat ini petugas kesehatan RS Indonesia sedang mengalami kelelahan karena harus menangani pasien selama 24 jam. Setidaknya dua dokter, satu paramedis dan satu petugas kebersihan dari RS Indonesia juga terinfeksi COVID-19. Data dari Kementerian Kesehatan Sektor Gaza per Kamis (3/9), Jumlah sampel baru yang diperiksa ada 1421 sampel, sekitar 98 orang terinfeksi dalam 24 jam terakhir, total kumulatif terinfeksi 581 kasus orang, pasien sembuh 76 orang dan Kematian 5 orang (4 dari dalam masyarakat dan 1 dari yang kembali). RS Indonesia di Gaza merupakan inisiasi Lembaga kemanusiaan Medical Emergency Rescue Committee (MER-C) yang dalam pembangunannya bekerjasama dengan Pondok Pesantren Al-Fatah Indonesia. Pada Pembangunan tahap kedua, sebanyak 31 relawan dikirimkan ke Jalur Gaza. (L/R7/P2) Sumber : https://minanews.net/rs-indonesia-di-gaza-jadi-rujukan-pasien-covid-19/
Laporan Ir. Edy Wahyudi: Suasana Idul Adha di Jalur Gaza

Gaza, MINA – Gema takbir terdengar dari pengeras suara di masjid-masjid yang bersahutan sejak Kamis Subuh, atau sehari sebelum Idul Adha. Tepatnya sejak 9 Dzulhijjah atau pagi hari Arafah. Demikian Ir. Edy Wahyudi, seorang relawan Indonesia yang merupakan Site Manager Pembangunan RS Indonesia di Gaza, memberikan informasi terkait suasana Idul Adha di Jalur Gaza, Palestina, Jumat (31/7). Edy menyampaikan hal ini dalam laporan pada program info terkini Gaza, Palestina, yang disiarkan Radio Silaturahim AM 720, edisi 10 Dzulhijjah 1441 H atau bertepatan pada Jumat pagi (31/7). Dia mengatakan selanjutnya, pelaksanaan sholat Idul Adha di Gaza dilakukan di masjid-masjid, namun ada juga yang melaksanakan di tanah lapang atau jalan raya yang ditutup sementara waktu saat sholat Id berlangsung. “Bagaimana dengan suasana ibadah kurban di Gaza Palestina? Gaza, negeri ini miskin dan diblokade darat, laut dan udara yang sudah 13 tahun lamanya,” ujar Edy. Pengangguran mencapai 60 persen, Jalur Gaza sudah mengalami tragedi ekonomi. Kehidupan dan kemanusiaan yang dahsyat akibat blokade sampai datang krisis pandemi Corona yang sampai memperburuk keadaan. “Akan tetapi Allah memenuhi Gaza dengan penuh keberkahan. Terbukti, puluhan sapi sudah masuk dalam daftar pemotongan kurban apalagi domba lebih banyak lagi ditambah lagi binatang kurban lainnya yaitu unta yang biasa dipotong untuk kurban di Gaza,” kata Edy. Para relawan di Gaza aktif untuk penyembelihan hewan kurban pada tahun 1441 H ini, walau pun tidak sebanyak tahun lalu. Tahun ini tercatat ada tujuh ekor domba/kambing yang disalurkan melalui Jama’ah Muslimin (Hizbullah), kemudian yang disalurkan oleh MER-C di Gaza Palestina terdiri dari 31 domba/kambing ditambah satu ekor sapi dan satu ekor unta. “Idul Adha atau hari raya kurban adalah hari libur keagamaan di Gaza, di mana umat Islam memperingati hari ujian iman Nabi Ibrahim dengan menyembelih hewan dan ternak, serta membagikan daging kepada orang-orang yang miskin,” katanya. Edy menambahkan, warga Gaza mempunyai kebiasaan melakukan silaturahim usai sholat Idul Adha, biasanya pada hari pertama sikaturahim dilakukan kepada keluarga terdekat seperti orangtua dan mertua, hari berikutnya baru mengunjungi kerabat lainnya. “Saat bertemu silaturahim mereka saling mengucapkan ‘kullu am wa antum bi khoir’ yang berarti semoga sepanjang tahun ini Anda mendapatkan kebaikan. Ucapan itu dijawab dengan ‘Kullu am wa antumun toyyibin’ itulah Idul Adha dengan cita rasa Gaza,” ucap Edy. (L/R6/P1) Sumber : https://minanews.net/laporan-ir-edy-wahyudi-suasana-idul-adha-di-jalur-gaza/
MER-C Appreciates the Step Taken by Fatah and Hamas to Unite Against Israel’s Annexation

Behind Israel’s annexation plan of the West Bank and the Jordan Valley, there is relieving and pleasing news in which Fatah and Hamas pledge to unit in fighting against the annexation. The statement was conveyed by senior officials of both parties, Jibril Rajub from Fatah in Ramallah and Saleh Al-Arouri representing Hamas in Beirut, Lebanon in a joint-teleconference, Thursday (2/7). During the teleconference, both parties have agreed to unite in establishing a mutual agreement in facing Israel’s brutal annexation steps of the West Bank and the Jordan Valley. In response to the historical event, MER-C Head Presidium, dr. Sarbini Abdul Murad expressed his appreciation and support to the steps taken by Fatah and Hamas. “We welcome and support the joint agreement of Fatah and Hamas, which hopefully can become an energy and national strength for Palestine to face Israel, that is fully backed by the United States,” said Sarbini. He believes that the national unity of every element would turn into a power that would force Israel to reconsider its plan from annexing the West Bank. “We highly welcome this step. May this mutual understanding and unity would not stop in facing the West Bank annexation but also in other matters,“ he continued. Sarbini said that despite the differences in views held by Fatah and Hamas in gaining Palestine’s independence, he truly wished that this would not hamper the unity of both parties, particularly in the midst of regional conflicts faced by Arab countries that caused the abandonment of Palestinian issues. Jakarta, July 15th 2020MER-C Indonesiawww.mer-c.org0811990176