MEDICAL EMERGENCY RESCUE COMMITTEE

Resiko Hazard dan Protokol Covid bagi Sukarelawan Bantuan Bencana Gempa Sulbar

Bencana bertubi-tubi menghantam negeri tercinta. Di tengah pandemi Covid-19 yang sedang menggila, kembali gempa besar meluluhlantakkan Sulawesi Barat.    Di tengah situasi seperti ini semangat sukarelawan tak padam dalam memberikan bantuan kemanusiaan. Saat ini resiko sukarelawan dalam menolong meningkat di tengah pandemi. Berikut analisa beberapa resiko dan hazard yang harus diwaspadai para relawan dalam menolong terkait Covid-19 :   1. Tidak nyaman menggunakan APD di lapangan, karena panas; 2. Kelelahan dan stres; 3. Kurang istirahat, karena belum tentu mendapatkan tenpat istirahat yang layak; 4. Kurang asupan gizi, karena makan seadanya di situasi bencana; 5. Sulit menghindari kerumunan.   Dengan adanya resiko-resiko tersebut, maka akan rawan terkena infeksi Covid-19. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya mitigasi antara lain ;   1. Seleksi sukarelawan yang berangkat harus kondisi sehat, tidak punya comorbid berat;   2. Membawa bekal APD yang adekuat, baiknya APD yang nyaman, jangan menggunakan baju coverall atau hazmat yang sangat tidak nyaman, juga membawa hand sanitizer;   3. Membawa cukup makanan dan air minum;   4. Membawa obat-obat covid bagi relawan seperti antivirus dan anti inflamasi, vitamin-vitamin;   5. Jangan tinggal di tenda-tenda yang tidak nyaman sehingga bisa beristirahat cukup, kalau perlu tinggal di desa atau kota yang tidak terkena dampak gempa. Tidur jangan kurang dari 6 jam;   6. Bertugas maksimal 1 minggu agar tidak lelah fisik dan fikiran;   7. Screening pasien yang mau diobati atau operasi minimal dengan swab antigen;   8. Screening relawan minimal dengan swab antigen, apabila ada relawan yang kena, segera diistirahatkan dan dipulangkan;   8. Lakukan triage dan damage control bagi pasien trauma.   Selamat bertugas para relawan   Salam Kemanusiaan,   Dr. Yogi Prabowo, SpOT Relawan MER-C (Medical Emergency Rescue Committee)

Silakan Kau Tangkap dan Hukumi Fisiknya, Biar Kami Obati Sakitnya (Tugas Mulia Tenaga Medis, Advokasi Kesehatan & Kemanusiaan Kritis)

Cuplikan Hadits Bukhari & Muslim mengatakan, “… penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, kalaupun tidak engkau akan mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi percikan apinya mengenai pakaianmu…..” Kaitannya dengan tugas mulia relawan tenaga medis dalam memberikan Advokasi dan Bantuan Medis Kritis, yaitu bantuan medis yang diberikan pada orang-orang yang terisolasi, terkucilkan, baik akibat peperangan, konflik, ketidakadilan, isolasi politik, isolasi dan stigmatisasi sosial yang mempunyai masalah kesehatan sehingga tidak bisa mendapatkan akses layanan kesehatan yang baik. Orang-orang ini masuk dalam kategori “The most neglected people & the most vulnerable people” karena tak ada seorang pun yang mau mendekat atau membantu akibat takut terkena imbas stigmatisasi dan masalah. Namun para sukarelawan MER-C telah membuktikan janji dan sumpah profesinya untuk tetap membantu siapapun yang membutuhkan, bersikap PROFESIONAL, NETRAL, AMANAH dan SUKARELA serta tetap berdiri tegak di tengah stigmatisasi, fitnah dan bahaya yang mengintai. Katakanlah bagaimana kisah relawan MER-C membawa dan mengobati keluarga salah seorang panglima GAM Teungku Ishak Daud yang mengalami sakit di hutan, kesulitan untuk mengakses pelayanan kesehatan akibat konflik lalu menghubungi MER-C. Kemudian MER-C bersurat kepada pihak-pihak yang berkonflik akan membawa orang yang sakit tersebut ke Jakarta untuk diobati, maka dibawalah ke Jakarta walaupun dibawah intaian intelijen. Merekapun berhasil disembuhkan. Kisah lain bagaimana MER-C memberikan advokasi kesehatan kepada terpidana teroris Ustadz Abu bakar Ba’asyir (ABB) yang sudah bertahun-tahun dipenjara dan MER-C tetap setia memberikan bantuan medis. Bahkan wafatnya pendiri MER-C dr. Joserizal Jurnalis pun tidak mensurutkan tekad relawan MER-C dalam memberikan advokasi kesehatan kritis kepada ABB. Mantan Kabareskrim Komjen Susno Duadji pun yang mengalami isolasi politik sempat merasakan layanan advokasi kesehatan MER-C. Demikian pula dengan Mantan Menkes Siti Fadilah Supari yang gagah melawan kekuatan WHO dalam hal virus. Teranyar adalah kasus HRS, yang meminta bantuan medis kepada MER-C, menimbulkan “collateral effect” bagi RS dan dokter yang menanganinya. Di saat para tenaga medis enggan untuk memberikan bantuan karena stigmatisasi yang terjadi. Para relawan MER-C tetap konsisten membantu dengan segala resiko. Barakallah, semoga Allah SWT senantiasa memberkati, melindungi, menjaga menguatkan niat-niat ikhlas dan suci para sukarelawan yang terus konsisten di bidang kemanusiaan dan kesehatan. Wahai para dokter dan tenaga medis…Bagaimana dengan jiwamu…Adakah panggilan itu ? Salam Kemanusiaan, Dr. Yogi Prabowo, SpOTPendiri, Presidium dan Relawan MER-C  

Catatan Tahun 2020

CATATAN DOKTER BEN   Selamat datang tahun 2021. Semoga tahun yang akan kita lalui menjadi tahun yang penuh keberkahan dan lebih baik dari tahun sebelumnya. Itu asa kita semua. Kita mesti menyakini bahwa langkah dan harapan pada tahun 2021 adalah menjadikannya sebagai tahun perjuangan untuk memperoleh kemenangan dan kemajuan bagi bangsa kita.     Ada beberapa catatan di tahun 2020 yang patut kita belajar dan ambil hikmahnya.   Pertama, ujian berat bagi kita adalah merebaknya wabah Covid-19. Di awal pandemi kita gugup dan panik  menghadapi serangan wabah yang begitu cepat. MER-C dengan cepat melakukan langkah darurat dengan membuat APD (Alat Pelindung Diri) sederhana tapi aman bagi Nakes. APD buatan MER-C diburu oleh institusi kesehatan di seluruh Indonesia, ada yang kita kirim sesuai dengan permintaan, tapi ada juga yang datang ke kantor MER-C untuk mengambil sendiri.   Langkah cepat MER-C di awal pandemi diapresiasi oleh banyak pihak. Banyak donatur yang simpati dan terus berpartisipasi menyumbang dana untuk menolong Nakes. Kami ucapkan terima kasih kepada para donatur.   Disamping itu, MER-C juga membuka _call center_ dan membentuk tim monitoring terdiri dari relawan dokter spesialis dan umum yang setiap harinya menerima keluhan warga atau pasien yang terkena covid atau terduga covid. Langkah ini merupakan wujud dari partisipasi MER-C membantu masyarakat mengatasi wabah pandemi.   Kedua, kepulangan teman-teman relawan konstruksi dari Jalur Gaza, Palestina. Selama dua tahun mereka menjadi relawan di tanah para nabi untuk melakukan pembangunan dua lantai tambahan RS Indonesia.   Mereka meninggalkan keluarga dan kerabat yang penuh harap dan cemas di tanah air, karena mereka datang ke tanah yang tiap saat terjadi serangan Israel, dan nyawa mereka selalu berada di ujung tanduk.   Alhamdulillah mereka bisa pulang dengan selamat dan bisa berkumpul kembali dengan keluarga.   Ketiga, sebelum tutup tahun MER-C dipanggil oleh pihak Kepolisian. Ini ujian yang mesti kita hadapi dengan tenang dan berharap agar semua bisa berlalu dengan manis. Inilah kehidupan, inilah dunia. Kata ALLAH dunia tempat senda gurau dan permainan. Kita tak perlu marah dan kesal. Semua ini sudah menjadi takdir kita dan kita mesti berprasangka baik kepada ALLAH.   Akhirnya kepada semua relawan MER-C, tetap semangat dan terus berbuat kebajikan untuk bangsa dan negara. Doa dan harapan kita semoga tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya.   Jakarta, 2 Januari 2021

Program Covid Semesta

Menjelang akhir tahun, resiko terjadinya kerumunan perayaan tahun baru dikhawatirkan banyak kalangan. Kita lihat di berbagai wilayah Jabodetabek, kepatuhan masyarakat menjalan Prokes masih minim. Di jalan-jalan, di rumah ibadah, di pasar banyak yang belum patuh menggunakan masker dan masih banyak tempat-tempat makan restoran yang belum menjalankan protokol kesehatan.  https://republika.co.id/berita/qi1gt5380/perda-akb-diberlakukan-banyak-warga-tidak-pakai-masker Informasi tentang covid kurang infiltratif ke daerah-daerah pedesaan. Dokter-dokter, ahli-ahli kesehatan hanya banyak melakukan edukasi di medsos saja, itupun banyak informasi yang simpang siur tentang covid yang membuat masyarakat kurang dapat mencerna apa yang disampaikan atau bahkan malah nakes bertolak belakang pemahamannya dengan masyarakat. Akibatnya masyarakat kurang mau kerjasama atau terlibat dalam penanganan covid. https://www.kompas.com/tren/read/2020/04/30/201304865/alasan-seseorang-kerap-menutupi-covid-19-yang-dideritanya?fbclid=IwAR13kRgR6CSNEPA7g3RXfhF8jLRYXL6WDKu_2Jo_KanStXY1j6w0vCfkOW4 Peluang yang ada untuk mensukseskan program covid semesta belum digarap dengan baik yaitu: 1.    Melibatkan pemuka-pemuka agama, tokoh-tokoh masyarakat untuk mengkampanyekan penanggulangan covid dan pentingnya menjalankan protokol kesehatan. Contoh teranyar adalah kasus kerumunan yang melibatkan seorang ulama. Begitu yg bersangkutan menyadari pentingnya protokol kesehatan, maka para pengikutnya langsung membatalkan acara-acara yang akan menimbulkan kerumunan. Masyarakat akan cenderung lebih patuh kepada ulama atau pemuka agama atau tokoh masyarakat ketimbang omongan nakes atau pemerintah. Bahkan juga mereka kurang takut dengan ancaman peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu, pemerintah justru harusnya merangkul para ulama dan tokoh agama untuk mengkampanyekan penganggulangan covid dan protokol kesehatan. 2.    Penguasaan Jalur Informasi dan KomunikasiMedia dan perundang-undangan kurang digunakan secara maksimal untuk mengkampanyekan penanggulangan covid, memberikan informasi covid yang benar dan protokol kesehatan. Kecenderungannya media, informasi dan hukum lebih banyak digunakan untuk kepentingan politik dan kekuasaan ketimbang untuk penanggulangan pandemi covid. 3.    Organisasi Pemda, Organisasi Masyarakat dan Pamong Praja.Adanya struktur organisasi di pemerintahan daerah dan masyarakat kurang dimanfaatkan secara optimal untuk penanggulangan pandemi covid-19. Atensi yang diberikan masih meliputi pentingnya tracing dan mendata saja ketimbang menyelesaikan dan mengelola aspek-aspek yang timbul akibat covid seperti aspek psikososiekonomi pada masyarakat. Sehingga, pada akhirnya masyarakat kurang merasakan manfaatnya atau bahkan merasa terganggu dengan pendataan dan tracing yang menimbulkan stigmatisasi penderita covid di masyarakat. Ditambah lagi cara komunikasi petugas kesehatan yang kurang berempati kepada masyarakat yang terkena covid. Program covid semesta adalah suatu upaya mengajak dan melibatkan partisipasi masyarakat dalam penanggulangan pandemi covid sehingga meningkatkan kepedulian untuk mensukseskan program. Salam Dr. Yogi Prabowo, SpOTPemerhati & Penyintas Covid-19Pendiri, Presidium dan Relawan MER-C

MER-C: Jangan Khianati Konstitusi dan Sejarah

SIARAN PERS Menghembus isu Indonesia akan berdamai dengan Israel. Presiden Jokowi kepada Presiden Mahmoud Abbas dengan tegas mengatakan bahwa Indonesia mendukung solusi 2 negara dan tidak akan mengikuti beberapa negara Arab yang berdamai dengan Israel. Langkah tegas Indonesia yang tidak mengakui Israel semakin mempertegas posisi Indonesia sebagai penyokong utama kemerdekaan Palestina. Tapi dibalik itu, disayangkan ada sebagian dari kelompok warganegara yang mengabaikan dan menutup mata realita penjajahan Israel atas tanah Palestina. Dengan intens mereka membina hubungan dengan Israel baik di bidang perdagangan, pendidikan dan lain-lain. Apapun argumentasi yang diutarakan terutama sektor ekonomi, menggambarkan tidak ada empati sama sekali, apalagi kita bangsa yang mengalami penindasan oleh penjajah. Seharusnya kita mesti memahami bahwa menjalin hubungan intens dengan pihak Israel berarti mengkhianati sejarah dan konstitusi. Sebaiknya pemerintah melarang kunjungan warga negara ke Israel, kecuali untuk kunjungan ziarah mungkin masih bisa diterima. Tidak heran kenapa Benjamin Netanyahu yakin Indonesia akan mengikuti langkah beberapa negara Arab yang mengakui Israel, karena ada warga negarayang intens berhubungan baik dengan Israel dan menutup mata akan kebrutalan Israel atas Palestina. Bila tidak dihentikan hubungan gelap ini, tinggal menunggu waktu kita akan takluk dengan tekanan Israel. Dalam hal ini, MER-C mengapresiasi akan konsistensi Indonesia untuk tidak mengakui Israel. Jakarta, 30 Desember 2020 MER-C Indonesia www.mer-c.org

MER-C Selalu Bersama Palestina

Catatan Dokter Ben MER-C sejak tahun 2008 tetap konsisten membantu Palestina. Peristiwa Mavi Marmara yang hampir merenggut nyawa relawan MER-C menjadi saksi sejarah betapa MER-C sungguh-sungguh mengirim Tim Kemanusiaan ke Palestina. Kemudian, MER-C secara kontinu mengirimkan relawan-relawan terbaiknya yang bertugas untuk membangun rumah sakit, bernama Rumah Sakit Indonesia. Tidak hanya membangun rumah sakit, MER-C juga membantu kesulitan lain yang mendera rakyat Palestina. Penderitaan panjang rakyat Palestina menjadi semangat MER-C untuk bisa mengurangi beban berat yang mesti dipikul oleh mereka. Kehadiran panjang relawan MER-C di Palestina secara tidak langsung mewakili 250 juta rakyat Indonesia. Tak terasa sudah lebih 1 dekade MER-C hadir di relung sejarah perjuangan Palestina. Perjuangan panjang untuk memperoleh sebuah negara. Kami mohon doa kepada segenap rakyat Indonesia agar MER-C tetap istiqamah dalam membantu rakyat Palestina. Rumah Sakit Indonesia yang telah berdiri di Gaza Palestina sebagai simbol abadi dukungan rakyat Indonesia kepada rakyat Palestina. Kepada rakyat Palestina, percayalah bahwa kami selalu ada dalam setiap nafas perjuangan kalian. Jakarta, 28 Desember 2020

Reshuffle di Tengah Pandemi

Pergantian kepemimpinan di Kemenkes menimbulkan pertanyaan; Apa langkah dan strategi Menkes dan Wamenkes baru dalam menghadapi pandemi di tengah situasi penuhnya dan sulitnya masyarakat mencari RS dan tempat isolasi untuk perawatan covid? Lalu bagaimana menghentikan atau mengurangi penyebaran covid di masyarakat? Proposal yang bisa diajukan untuk menghadapi tantangan tersebut antara lain: 1.    Program Isolasi Mandiri Terpantau (Isotau) Selama ini yang digaungkan adalah Isolasi Mandiri atau Isoman, yang konotasinya adalah swadaya masyarakat tanpa ada pantauan rawat tim Rumah Sakit. Pemerintah dan Dinas Kesehatan masih gamang menjalankan program isoman ini karena ada resiko perburukan dan datang ke RS dalam kondisi terlambat. Masyarakat sendiri banyak yang masih takut menjalankan isoman karena informasi-informasi yang diterima tentang covid ini cukup menakutkan, sehingga kebanyakan datang ke RS atau penampungan minta perawatan. Sementara itu program isoman itu sendiri sempat dilarang dan dihentikan oleh Pemda karena ditengarai menyebabkan kluster keluarga. https://www.suara.com/news/2020/09/15/223950/isolasi-mandiri-dilarang-110-tempat-karantina-disiapkan-ini-lokasinya Saat ini, wisma atlet dan tempat penampungan pun sudah penuh dan tidak bisa lagi menerima pasien. https://www.metrotvnews.com/play/NQAC3W10-kapasitas-wisma-atlet-semakin-penuh-pasien-tanpa-gejala-covid-19-akan-dirujuk-ke-tempat-lain. Penulis mempunyai pengalaman pribadi sebagai penyintas covid, yang mungkin bisa dijadikan model penanganan pasien covid gejala ringan dan sedang. Penulis pernah menderita covid-19 dan kluster keluarga. Covid yang diderita termasuk dalam kategori ringan-sedang dengan adanya gejala-gejala seperti demam mengigil, batuk pilek, mual, mencret, sakit kepala dan sedikit ada pneumonia pada gambaran x-ray. Diputuskan melakukan isolasi mandiri dengan pantauan tim medis dengan beberapa pertimbangan seperti derajat covid yang diderita ringan-sedang, RS juga sudah mulai penuh oleh penderita, karena kluster keluarga yang juga mengenai anak-anak yang sedang melaksanakan ujian-ujian daring. Tim yang memantau terdiri dari perawat, dokter PPDS IPD yang beberapa kali datang ke rumah untuk memeriksa dan mengambil darah, dan pantauan dokter spesialis penyakit dalam secara telemonitoring. Dilakukan pemeriksaan lab darah beberapa kali, rekam jantung (EKG) dan pemberian obat-obatan antivirus, steroid, antikoagulan, antipiretik, anti diare, dan vitamin-vitamin. Kemudian kami juga diberikan alat pemantauan berupa pemantauan saturasi oksigen dan pengukur suhu. Tiap hari kami dipantau melalui wa dan telepon, termasuk ketika ada gangguan fungsi hati akibat konsumsi obat antivirus avigan segera terpantau dengan telemonitoring dan obat antivirus segera dihentikan. Penulis dan keluarga merasakan ketenangan dan kenyamanan psikis dengan model isolasi terpantau ini, sehingga bisa berfikir positif dan memimpin keluarga menuju kesembuhan. Ditengah sulitnya mencari RS, model isolasi terpantau (Isotau) bisa menjadi solusi tanpa membahayakan pasien, dan bisa menangani pasien covid secara lebih dini untuk mencegah perburukan. Model isolasi terpantau juga dilakukan oleh Belanda dalam sebuah studi yang dilaporkan oleh Universitas Leiden, membuat model isolasi mandiri terpantau. https://www.researchgate.net/publication/341887197_Telemonitoring_for_patients_with_COVID-19_The_COVID_Box_Preprint Namun memang Isotau ini memerlukan persyaratan kelayakan rumah untuk isolasi untuk mencegah terjadinya penularan kepada sekitar. Dan juga memerlukan adanya Tim Pelayanan Pra Rumah Sakit (pra hospital) dimana belum banyak RS yang mempunyai layanan tersebut. Yang penulis tahu RSCM sudah mempunyai SK pelayanan Pra Rumah Sakit dan memiliki tim serta armada ambulance. Dengan adanya program Isotau ini, maka RS bisa fokus untuk menangani pasien covid sedang-berat dan menambah kemampuan fasilitas ICU serta perawatan intensif lainnya. 2.    Program Covid Semesta Program ini adalah mengajak partisipasi masyarakat dalam menghadapi Covid. Sudah sering kita dengar BNPB dan Kemenkes menggaungkan perlunya partisipasi masyarakat, kolaborasi pemerintah dengan masyarakat dalam menangani pandemi covid-19. Namun gaung tersebut kurang atau bahkan tidak sesuai implementasinya di masyarakat. Karena ada aspek non medis, aspek psikososioekonomi masyarakat yang tidak terkelola. https://m.liputan6.com/health/read/4409332/perang-semesta-lawan-covid-19-idi-bantu-kami-tidak-perberat-situasi Kesimpangsiuran informasi, kebingungan masyarakat dalam mencari informasi RS atau tempat rawat ketika terkena covid. Kurang pedulinya masyarakat terhadap protokol kesehatan. Bagaimana mengelola keluarga yang sedang menderita covid, bagaimana nafkahnya, bagaimana pendidikan anak-anaknya dan lain-lain belum terkelola oleh pemerintah. Adanya gap informasi antara nakes dengan masyarakat tentang bahaya covid kurang sinkron dan menimbulkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap bahaya covid ini, akibat penjelasan tentang covid yang kurang proporsional, cenderung hiperbolik. Sementara itu, pemerintah kurang atau tidak menggunakan kekuatan media, informasi, dan undang-undang tentang perlunya menjalankan prokes setiap saat. Media dan undang-undang lebih cenderung digunakan sebagai instrumen politik ketimbang menyelesaikan pandemi ini.  Jadi usulan penulis agar pemerintah dapat mengelola covid-19 ini secara komprehensif berbagai aspek kehidupan masyarakat (psikososioekonomi) dan membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat agar masyarakat mau berpartisipasi penuh membantu pemerintah dalam menghadapi Covid. Termasuk dalam program vaksinasi covid-19 harus dilakukan secara transparan, memberikan informasi yang terbuka tentang perkembangan vaksin serta memilihkan vaksin yang terbaik bagi masyarakat. Penulis sangat yakin masyarakat juga merindukan proteksi vaksin terhadap covid ini, walaupun cuma segelintir kecil orang saja yang benar-benar antivaksin. Namun karena pengelolaan informasi kurang terbuka dan menimbulkan kesimpangsiuran sehingga banyak pertanyaan di masyarakat. Kebebasan memilih vaksin juga harus dilindungi undang-undang. Pendekatan psikososial juga harus dilakukan untuk mensukseskan program vaksin 3.    Buat, fungsikan dan kelola Call Center Covid sebagai distributor pasien-pasien covid dengan melakukan Disaster Triage Sudah berulang kali penulis mengemukakan tentang pentingnya disaster triage ini, dan juga sudah pernah memberikan masukan kepada Kemenkes serta Dinkes, namun implementasinya belum terlihat dilakukan serius. Padahal call center covid dan disaster triage ini bisa menyelesaikan masalah sulitnya masyarakat mencari tempat perawatan covid dan mencegah RS overload pasien covid yang akan beresiko terhadap nakes tertular. https://republika.co.id/berita/q7ywre282/saatnya-emdisaster-triageem-pasien-covid19  https://www.antaranews.com/berita/1387710/mer-c-kelompokkan-pasien-covid-19-sesuai-tingkat-keparahan https://id.scribd.com/document/472914913/Disaster-Triage-Forgotten-Lessons-in-Pandemic-Covid-19-Management-dr-Yogi-Prabowo-SpOT-K Kedatangan Menkes dan Wamenkes baru ke RSCM untuk menggali informasi mudah-mudahan menjadi pertanda baik bagi perkembangan penanganan pandemi covid-19 yang sudah hampir setahun melanda dunia dan Indonesia. Minimal mau mendengarkan aspirasi, berfikir positif, dan bersikap kolaboratif antar kementerian, dengan masyarakat dan para pelaku kesehatan.  Salam, dr. Yogi Prabowo, SpOT(Pendiri, Presidium dan Relawan MER-C)

MER-C Penuhi Panggilan Kedua Polres Kota Bogor

Bogor, MINA – Lembaga Kemanusiaan Medical Emergency Rescue – Committee (MER-C) memenuhi panggilan kedua dari Polres Kota Bogor, Rabu, 16 Desember 2020. Mereka dimintai keterangan selama enam jam.   Ketua Presidium MER-C dr. Sarbini Abdul Murad mengatakan, pihaknya datang memenuhi panggilan sebagai saksi. Relawan MER-C, kata dia, mendapat 38 pertanyaan soal posisi dan kedudukan tim medis MER-C dan hubungannya dengan pimpinan FPI. “Kami datang sebagai saksi. Saya dalam hal ini bersama relawan MER-C dipanggil untuk memberikan kesaksian. Ada sekitar 38 pertanyaan yang menyangkut tentang tugas dan fungsi saya sebagai Ketua Presidium, juga hubungan MER-C dengan FPI,” kata Sarbini usai pemeriksaan. Sarbini mengatakan, pihaknya terbuka memberikan informasi yang dibutuhkan kepolisian. MER-C, kata dia, akan selalu transparan, independen, dan tidak pernah ragu untuk melaksanakan tugas dan profesi selama dalam jalur yang benar. “Kami mendukung apa yang mereka lihat, mereka periksa, dan mereka lakukan. Kami terbuka untuk semua itu. Kami juga meminta semua pihak untuk menghormati independensi dokter, sehingga tidak mengganggu independensi dokter dari arah hal yang bisa menimbulkan kegaduhan,” katanya. Dia menegaskan, dokter bekerja sesuai dengan Undang-Undang (UU), kode etik, dan juga sumpah sebagai dokter. “Ini pelajaran bagi semua agar bisa melihat sesuatu secara proporsional, terutama menghormati setiap profesi,” katanya. (L/R2/RI-1) Sumber : https://minanews.net/mer-c-penuhi-panggilan-kedua-polres-kota-bogor/

Maklumat MER-C : Pendampingan Medis HRS dan Penanganan Bencana Covid-19 di Indonesia

MAKLUMAT MER-C Tentang Pendampingan Medis HRS dan Penanganan Bencana Covid-19 di Indonesia     Assalamu’alaikum Wr Wb Relawan MER-C di seluruh Indonesia,   Terima kasih atas dukungan relawan MER-C semua. Harap dipahami, kegiatan kita adalah selalu dalam konteks pandemi Covid-19, yang merupakan bencana kemanusiaan di Indonesia.     Semua relawan MER-C, baik secara personal maupun melalui MER-C, diharapkan aktif berpartisipasi mengatasi bencana ini.   Terkait Habib Rizieq Shihab (HRS), sikap kita adalah membantu beliau yang sekarang ini menjadi individu yang vulnerable dan terabaikan, banyak yang takut membantu beliau ketika memang membutuhkan.   Penanganan pandemi Covid-19 juga harus proporsional, tujuan kita adalah menurunkan transmisi di masyarakat dan mencegah kematian.   Di komunitas, dua isu yang harus dilawan adalah: ABAI terhadap protokol kesehatan dan STIGMA bagi yang sakit.   Dua kondisi ini semakin meruncing dengan pengelolaan kasus HRS yang tidak proporsional, menggunakan perangkat medis dalam pandemi untuk menyerang martabat individu, dan menghilangkan semangat partisipatif. Di sini letak misi kemanusiaan MER-C dijalankan.   Sekali lagi, semua relawan MER-C, baik secara personal maupun melalui MER-C, diharapkan aktif berpartisipasi mengatasi bencana Covid-19. Uluran tangan dan ide-ide konstruktif dalam misi kemanusiaan sangat diharapkan.    Wassalam   Jakarta, 12 Desember 2020 MER-C (Medical Emergency Rescue Committee)   www.mer-c.org

MER-C Bantah Hasil Lab HRS yang Beredar

Terkait beredarnya hasil swab test (tes usap) atas nama Muhammad Rizieq Shihab, pada Selasa/1 Des 2020, dengan ini MER-C membantah hal tersebut. Hasil swab test bukan berasal dari MER-C.     Dalam melakukan misi-misi kemanusiaannya termasuk advokasi Kesehatan, MER-C bekerja secara professional dan menjunjung kode etik kedokteran. Demikian pula dalam memberikan advokasi kesehatan kepada Muhammad Rizieq Shihab, MER-C juga menerapkan prinsip-prinsip tersebut.    Hasil laboratorium adalah salah satu hal yang dilindungi kerahasiaannya. Hasil hanya diinformasikan dan diserahkan kepada pasien dan pihak keluarga, kemudian hanya pasien dan pihak keluarga yang berhak mengumumkannya, bukan MER-C.   Jakarta, 2 Desember 2020 MER-C Indonesia

Silahkan bertanya?